Meskipun program SAP2000 yang beredar sudah sampai versi 10, tetapi tidak berarti bahwa program-program versi lama adalah program yang sudah out-of-dated. Pengalaman menunjukkan bahwa program-program baru memang memberikan option-option unggulan yang state-of-the-art (terkini) tetapi hal tersebut belum tentu dipakai, apalagi dalam pembelajaran tingkat S1.
Bahkan ada kemungkinan karena option yang ada terlalu canggih tetapi tidak dipahami dengan benar maka hasilnya dapat saja membingungkan atau menyesatkan sehingga menghasilkan output yang salah. Hal tersebut merupakan suatu kenyataan yang dapat saja terjadi. Salah satu kasus yang menunjukan bahwa hasil program SAP2000 versi ini lebih “benar” dibanding versi yang lebih baru sudah pernah penulis presentasikan di lokakarya dosen-dosen teknik sipil yang diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Sipil ITS tanggal 13 – 14 Juli 2005 tahun kemarin (lebih detail), selanjutnya kasus serupa penulis ulas kembali dalam seminar bersama dengan Prof. Wiratman Wangsadinanata yang diselenggarakan Departemen PU tanggal 2 Desember 2006 (lebih detail).
Adanya kasus tersebut sehingga sampai dapat diangkat dalam suatu forum resmi menunjukkan bahwa program komputer rekayasa masih terbatas sebagai alat saja, hasilnya tergantung dari siapa pemakainya. Tidak ada jaminan bahwa jika digunakan versi yang terbaru maka hasilnya akan lebih baik dari versi yang lama.
Selain itu, umumnya versi yang terbaru masih sulit ditemui yang gratisan (kalau ada info ya), sehingga apabila dalam pembelajaran tersebut penyelenggara harus ngotot untuk membeli program versi yang terbaru, maka diperlukan anggaran yang sangat banyak. Kalau punya duit sih nggak apa-apa (tetapi mestinya dapat dialokasikan ke hal yang lain sehingga lebih bervariasi) , sedangkan kalau memakai program bajakan, ini akan memberi contoh moral yang kurang baik. Bagaimanapun jika anda di dunia pendidikan maka cobalah mulai menghargai hak-cipta (copy-rights) . Untuk itulah mengapa di Jurusan Teknik Sipil UPH, program SAP2000 yang digunakan adalah versi berikut :

Program tersebut terbatas hanya dapat menangani jumlah nodal kurang dari 100. Sedikit ya ? Kalau untuk komersil, ya memang iya, tetapi untuk pembelajaran lebih dari cukup. Ah masa ? Iya, kecuali anda tidak bisa membikin modul untuk mengekplorasi program tersebut secara benar.
Untuk pembelajaran tentang Structural Analysis Program maka program versi ini sangat cocok jika digabung dengan modul pembelajaran yang terdapat pada buku karangan saya yang telah diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo. Belum tahu ? Klik aja ini.
Versi SAP2000 Student Version 7.40 di atas dapat anda down-load secara bebas dan digunakan sesuai dengan maksud pembuatnya yaitu untuk sarana belajar dan bukan untuk maksud komersil (misal proyek). Karena ukurannya relatif cukup besar maka dibagi dalam beberapa bagian dalam bentuk file *.zip sebagai berikut :
-
SAP2000 Student#1.zip (49,073 kb) , file asli terlalu besar sehingga perlu di split (http://www.spadixbd.com/freetools/) menjadi file-file kecil sebagai berikut :
-
SAPS.1 (4,883 kb)
-
SAPS.2 (4,883 kb)
-
SAPS.3 (4,883 kb)
-
SAPS.4 (4,883 kb)
-
SAPS.5 (4,883 kb)
-
SAPS.6 (4,883 kb)
-
SAPS.7 (4,883 kb)
-
SAPS.8 (4,883 kb)
-
SAPS.9 (4,883 kb)
-
SAPS.10 (4,883 kb)
-
SAPS.11 (245 kb)
-
SAPS.bat (1 kb) –> setelah ke dua belas (12) file SAPS.* ini berhasil di down-load dan tersimpan dalam satu direktori yang sama, maka jalankan file SAPS.bat (klik dua kali). Otomatis file-file split taid akan digabung membentuk file baru dengan nama file SAPS.zip (49,073 kb) yang setara (identik) dengan file SAP2000 Student#1.zip (49,073 kb).
-
-
SAP2000 Student#2.zip (2,702 kb)
-
System.zip (4,172 kb)
-
Tutorial.zip (15,903 kb) - optional , berisi fil-file multimedia untuk belajar SAP2000, file tersebut juga di split menjadi tujuh (7) file Tuto.* , yaitu:
-
Tuto.1 (2,930 kb)
-
Tuto.2 (2,930 kb)
-
Tuto.3 (2,930 kb)
-
Tuto.4 (2,930 kb)
-
Tuto.5 (2,930 kb)
-
Tuto.6 (1,254 kb)
-
Tuto.bat (1 kb) –> setelah ke tujuh file berhasil di down-load dan disimpan pada direktori yang sama maka jika file Tuto.bat di RUN akan menghasilkan file Tuto.zip (15,903 kb) yang identik dengan file Tutorial.zip (15,903 kb)
-
-
Manual.zip (19,056 kb) - optional, berisi file-file pdf dan multimedia, di split menjadi delapan (8) file berikut :
-
Manu.1 (2,930 kb)
-
Manu.2 (2,930 kb)
-
Manu.3 (2,930 kb)
-
Manu.4 (2,930 kb)
-
Manu.5 (2,930 kb)
-
Manu.6 (2,930 kb)
-
Manu.7 (1,928 kb)
-
Manu.bat (1 kb) –> setelah ke delapan file berhasil di down-load dan disimpan pada direktori yang sama maka jika file Manu.bat di RUN akan menghasilkan file Manu.zip (19,056 kb) yang identik dengan file Manual.zip (19,056 kb)
-
-
Example.zip (38 kb) - optional
Untuk menjalankan program SAP2000 maka anda harus men-down-load file No.1 yang terdiri dari dua belas file SAPS.* , file No.2 yaitu SAP2000 Student#2.zip dan file No.3 yaitu System.zip. Ke-empat-belas file tersebut harus ditempatkan pada satu direktori yang sama.
Langkah pertama tentu saja anda harus menggabungkan fle-file split dengan menjalankan file SAPS.bat (klik dua kali file tersebut) sehingga dihasilkan file SAPS.zip (50 Mb).
Langkah ke-dua extract-lah file-file *.zip tersebut dalam direktori yang sama.
Langkah ke-tiga : cari file setup.exe. Jalankan. Beres.
Catatan : file yang besar perlu di split menjadi file-file kecil, karena server gratis ( https://www.box.net ) tidak dapat menyimpan file tunggal >> 10 mb (bisa, tetapi harus versi yang berbayar).
**up-dated 19 April 2007**
Jika anda membeli buku SAP2000 Edisi Baru (detail lihat di sini) maka anda tidak perlu mendown-loadnya karena software yang sama telah saya sisipkan pada CD yang disertakan. Memang dari luarnya tidak ada tulisan yang menunjukkannya, tapi silahkan mengekplore-nya maka anda akan memperolehnya.








156 tanggapan so far ↓
FAUZI // 11 Februari 2007 pada 08:43 |
Pak Wir beberapa bulan ini (kira2 dua bln lalu) saya berusaha mencari buku Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP2000, tapi di toko buku gramedia baik di malang maupun di surabaya tidak dapat saya temukan. Apa betul buku tsb dicetak ulang kembali? Bisa ndak saya mendapatkan buku tersebut via blog ini, karena saya telp ke gramedia Jkt juga kosong waktu itu. Mudah2 an bisa ya Pak.
Fauzi
(Probolinggo, Jawa Timur)
wir // 11 Februari 2007 pada 12:01 |
Mas Fauzi di Probolinggo, buku lama tidak dicetak ulang, tetapi jangan kawatir EDISI BARU-nya akan segera diterbitkan.
Disebut edisi baru karena ada tambahan 3 Bab lagi (nambah sekitar 170 halaman), serta ada bab lama yang dibongkar tuntas, total halaman buku tersebut kira-kira sekitar 590 halaman, dan rasanya belum ada buku serupa setebal itu yang didedikasikan secara khusus untuk program SAP2000. Jadi untuk itu saya merasa bahwa buku tersebut adalah buku SAP2000 berbahasa Indonesia yang paling lengkap di dunia.
Selain masih tetap pakai program SAP2000 v 7.4 di atas, versi sap yang paling bandel, jg akan dibahas SAP2000 v 10.0 untuk analisa struktur tingkat lanjut.
Lihat info lengkap di blog ini
Edi Supriyanto // 28 Februari 2007 pada 16:13 |
Beberapa buku sudah saya saya beli, tapi kok isinya banyak yang cuma nerjemahin file helpnya saja yah untuk soal-soalnya… Kapan buku ini terbit pak ??? Tolong sajikan juga contoh perhitungan yang lengkap dari awal sampai akhir dalam mendesain sebuah bangunan… ::)
wir // 28 Februari 2007 pada 21:55 |
He, he ini sdr Edi Supriyanto “hebat” !
**Beberapa buku sudah saya saya beli, tapi kok isinya banyak yang cuma nerjemahin file helpnya**
Bukunya siapa mas ? Bukunya Wiryanto Dewobroto ?
Kebetulan ini forum terbuka, mas ! Silahkan tampilkan , tunjukkan kepada rekan-rekan di Indonesia bagian dari “buku saya” yang anda bilang “cuman nerjemain file help-nya”. Bila menurut anda, ada, berapa prosentasinya, coba bandingkan dengan pengarang lain.
Ngomong aja gampang mas, typical indonesia (hrp kecil). **tersinggung**
**Tolong sajikan juga contoh perhitungan yang lengkap dari awal sampai akhir dalam mendesain sebuah bangunan…
**
materi saya memang tidak mengarah ke situ mas, karena itu sudah biasa dikerjakan siswa saya. Nanti mereka pada nggak beli. Anda perlu ya ?
Anto // 1 Maret 2007 pada 02:44 |
Mas Wir,
Kok dibuku Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP 2000 tidak dibahas tentang Constraint and Weld ( CMIIW) dan aplikasinnya dalam pemodelan……
Terus pemodelan shear wall pada blast building apakah dengan Mesh Shell??karena harus kaku terhadap lentur juga. kdang masih bingung untuk mennetukankan typenya, apakah Shell, membran atau plate….untuk pemodelan plate???
Anto
Solo
wir // 1 Maret 2007 pada 03:51 |
Ya mas, jumlah halaman buku dibatasi penerbit. Tapi untung untuk edisi baru saya bisa menyakinkan mereka sehingga buku lama bertambah sekitar 150 halaman, jadinya buku edisi baru ini ketebalannya jadi 590 halaman (tebal nggak sih).
Jika buku EDISI baru ini laku keras (habis kurang dari 6 bulan) maka mereka mau menjanjikan cetak ulang, jika itu laku lagi maka tentunya buku tersebut dapat dikembangkan lagi materinya. Maunya sih sampai 1000 halaman. **mimpi nggak apa-apa khan**
Tapi yang penting adalah laku tidaknya buku tersebut. Nanti bantu promosi bagi rekan-rekan di solo ya mas.
Tentang Constraint dan Weld
Utk Weld saya belum familiar, sedang untuk Constraint saya udah memakainya yaitu untuk memodelkan lantai diagframa (gedung high-rise 3D). Untuk yang lain saya belum melihat kegunaannya yang signifikan. Karena itu menyangkut jumlah nodal yang banyak , jadi kayaknya nggak cocok untuk SAP versi student.
Sedangkan kalau mau membahas model analysis gedung high-rise 3D maka rasanya program yang cocok adalah ETABS dan bukan SAP2000. Oleh karena itu tidak saya bahas. Ada masukan dari anda, shg mungkin kesimpulan tsb salah dan dimungkinakan utk dibahas (di buku selanjutnya).
**shear wall pada blast building **
apa maksud blast building, saya kurang jelas (belum tahu).
Tapi kalau shear wall jelas, itu merupakan model plane-stress, jadi yang dipakai adalah element membran (jumlah dof lebih sedikit). Konsep yang sama dipakai juga oleh ETABS.
Dibuku EDISI baru ada bahasan sebanyak 80 halaman berkaitan dengan aplikasi element SHELL untuk pemodelan elemen membran. Siapa tahu berguna.
O ya, semua materi baru yang terdapat pada EDISI BARU adalah benar-benar ORISINIL dan bukan sekedar menerjemahkan file help-nya saja.
Anto // 2 Maret 2007 pada 06:49 |
Mas Wir,
Terima kasih atas tanggapannya. Kebetulan saya sekarang bekerja di EPC Company untuk project oil & gas and bangunan Industri.
1. Dalam scope pekerjaan kami ada suatu item tentang design “Blast resistant Building” misalnya design untuk Control Buiding di sekitar hazardous area. Kebetulan clientnya itu meminta design menggunakan software, dalam hal ini kita memakai SAP V. 9. Padahal dalam buku Blast resitant building terbitan ASCE hanya dalam bentuk manual saja alias memakai spread sheet sudah bisa ( diasumsikan SDOF kena beban dinamik ). Dan disekeliling building itu designnya memakai shearwall termasuk roofnya (desain plat).
Pertama saya asumsikan pemakaian elemen membran, terus saya pikir lagi…karena ada beban dinamik(akibat blast) itu memungkin bahwa wall itu harus kaku terhadap lentur..makainya saya memakai elemen shell…..CMIIW.
Bisa minta advice mas Wir….
2. Apakah untuk bangunan yg nggak high rise building , untuk constraints bisakah kita abaikan..karena dengan constraints kita mengurangi persamaan dalam sistem dan bisa eficient di computasinya ( CMIIW ) dan memastikan bahwa joint yg diconstraint berperilaku turun bersama jika ada beban diatasnya.Fungsi dari constraints itu sebenarnya apa sih mas??? Karena di program lain seperti STAAD PRO atau SACS 5.1..tidak ada istilah constraints ( CMIIW). Kebetulan di perusahaan saya tidak mempunyai software ETABS…….
3. Ditunggu ya mas..buku edisi barunya. kira-kira kapan ya…???? Emang kalo saya bandingkan buku yg membahas tentang SAP….buku mas Wir yg paling bagus…..karena kalo yg lain it’s very simple dan basic knowledge tentang ilmu civilnya itu kurang.
Sorry mas…kebanyakan nih
Anto
solo
wir // 2 Maret 2007 pada 07:22 |
**disekeliling building memakai shearwall termasuk roofnya**
O itu tho yang anda maksud sebagai shearwall, istilah itu anda dapat dari mana ? Kayaknya beda lho dengan shearwall yang saya maksud.
Menurut pengertian saya, shearwall adalah struktur pelat (jika horizontal) atau dinding (jika vertikal) yang mekanisme kerjanya mengandalkan perilaku geser dan bukan perilaku lentur. Oleh karena itu gaya diberikan pada arah sejajar bidang pelat atau wall tersebut, jadi bukan tegak lurusnya.
Kalau begitu maka elemen membran yang saya usulkan sebelumnya nggak akan bekerja.
Yang disebut elemen membran, jika arah gaya sejajar dengan bidang element tersebut, sedangkan disebut pelat jika arah gaya tegak lurus bidang element tersebut, sedangkan disebut shell jika itu merupakan gabungan dari mekanisme membran dan pelat.
Jika struktur pelatnya datar (bidang) dan diberi beban tegak lurus maka yang bekerja adalah mekanisme lentur (elemen pelat). Jika diinginkan bekerja sebagai shell maka pakailah bentuk kubah atau sejenisnya.
**Fungsi dari constraints itu sebenarnya apa sih mas ???**
secara prinsip uraian anda sudah tepat. Constraint sangat terkenal untuk membikin pelat lantai dapat bekerja sebagai Rigid Body Motion, menjadi satu kesatuan pada arah sebidang pelat tersebut. Yang lain apa ya, saya belum pernah pakai constraint selain utk pelat seperti itu.
**Ditunggu ya mas..buku edisi barunya.**
Trim mas Anto. Besok pagi saya baru mau ke Elex di Palmerah untuk mengambil print hasil evaluasi editornya, mbak Elly, yang berupa hardcopy, lalu saya baca dan periksa lagi, jika beres, maka baru bisa masuk percetakkan. **itu kata editornya**
haris kotala // 5 Maret 2007 pada 21:37 |
salam kenal mas wir,
saya jalan-jalan dan ketemu ini blog yang bagus. udah beberapa kali saya baca-baca di blog mas dan isinya memang mantap.
ini mas ini ada link untuk download NEW ETABS v9.0.7 Nonlinear (june 2006) with crack (tapi ilegal mas), mungkin mas anto butuh:
http://rapidshare.de/files/30735323/l-ce97.rar.html
Password: http://www.devilived.com
saya juga punya kumpulan link-link untuk download buku-buku teknik dan software-software teknik khususnya civil yang bisa di akses di http://mybookmarks.com/public/harisk
untuk sementara itu aja mas. semoga bisa berguna (tapi ilegal loh mas!)
:
Fikri Pahlevi // 6 Maret 2007 pada 12:46 |
**blog yang bagus, isinya memang mantap**
Betul sekali
Yoga Marta A // 16 Maret 2007 pada 02:34 |
Yth. Pak Wiryanto
Terimakasih atas perhatiannya, setelah saya pelajari dari buku karangan bapak dan saya mendapatkan kesimpulan dengan mengganti nilai Scale Factor sesuai dengan nilai perkalian untuk sumbu x dan sumbu y, mohon di koreksi jika saya salah pak, dengan begitu nilai gravitasi menjadi lebih besar. mohon klarifikasi nya Pak.
wir // 16 Maret 2007 pada 11:52 |
Klarifikasi apa mas Yoga, surat sebelumnya koq nggak ada ya. Kayaknya pernah diskusi, dimana ya ?
Kalau nggak salah ttg gempa ya, analisa dinamik response spectrum. Kalau gitu, itu bukan scale factor untuk nilai gravitasi, itu untuk ningkatin nilai base-shear akibat beban dinamik. Anda check aja, dan dibandingin antara sebelum dan sesudah scale factor diberikan. Gitu.
Yoga Marta A (Lampung) // 18 Maret 2007 pada 15:12 |
Maaf Pak Wiryanto mungkin bapak lupa tentang surat, tentang pertanyaan saya di jurnal teknik sipil (Program Doktor) Aplikasi Struktur Baja, menurut ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah nilai Scale Factor itu adalah nilai Gravitasi seperti 9.81m/dt2 (benar ga pak) atau satuan lainnya, jika benar berarti nilai gravitasi sangat berpengaruh terhadap Base Share sedikit tidak Logic
Would u mind give more explenation
Pada jurnal teknik itu bapak tulis pada analisa dinamis bahwa penyebaran beban pada kedua arah sb X. dan sb. Y perbandingannya adalah 100% dan 30% dan program SAP sudah default me RUN nya (benar Ga PAk)
Di option mana saya dapat melihat nilai kombinasi ini perlu diketahui saya pakai SAP 2000 V 9.0.3, namun jika saya membuat kombinasi pembebanan sendiri dengan memasukan nilail pengali 0.3 pada masing” arah dapat dikatakan benar tidak
Masalahnya saya pernah mencoba membandingkan hasil nya terlalu berbeda jauh
Selanjutnya pada struktur baja kita dapat menentukan titik plastis pada balok baja pada daerah mana pak mungkin ada rumus praktis seperti di struktur beton.
Mungkin ini dulu pak yang saya tanyakan. (mohon alamat E-mail bapak juga bisa kan)
wir // 18 Maret 2007 pada 22:40 |
Ok sdr. Yoga.
Sy mencari pertanyaa awal koq belum ketemu. Tapi baiklah kelihatannya anda ingin menanyakan konsep tulisan saya yang ada di Jurnal UPH. Makalah tsb juga pernah saya presentasikan di seminar teknik sipil di Unika Sugiyapranata semarang.
Ini ya yang membuat anda bingung :
Jadi kuncinya khan tentang analisa spektrum respon dinamik khan ?
Selanjutnya kebingungan anda khan tentang scale factor yang dipakai pada program untuk memenuhi pernyataaan saya tersebut khan.
Scale factor di sini adalah yang dipakai untuk memasukkan Response Spectrum curve. Disitu anda dimintai memasukkan scale factor yang fungsinya adalah (sy kutip dari manualnya ya):
Memang sih ada kaitannya dengan g seperti yang anda jelaskan di depan, tetapi yang jelas g tidak diubah-ubah.
**100% dan 30% dan program SAP sudah default**
apa iya, kayaknya nggak lho. Itu khan kesepakatan, tergantung peraturan apa yang kita pakai.
**Masalahnya saya pernah mencoba membandingkan hasil nya terlalu berbeda jauh**
mulai aja dari kasus yang sederhana, jangan masukkan beban gravitasi. Untuk analisa responses spectrum yang penting hanya K (kekakuan) yaitu representasi geometri dan material bangunan (beban belum masuk) dan m (massa) definisi massa, maka gaya-gaya akibat analisa responses spectrum udah bisa keluar.
**pada struktur baja kita dapat menentukan titik plastis pada balok baja pada daerah **
Pihak program yang menentukan sesuai dengan FEMA 273. Pelajari lagi tentang push-over analysis pada sap yang dapat dikerjakan.
Sebelum anda melangkah ke push-over analysis (menentukan titik plastis) kuasai dulu analisa dinamik dengan response spectrum. Push-over ini agak advance, dan juga baca dan pahami dulu FEMA 273. Rasanya di blog ini ada link yang pernah saya berikan. Dimana ya, coba deh lihat , kayaknya ke mhsi UGM ya.
**mohon alamat E-mail bapak juga bisa kan**
diskusi teknik di blog ini aja, biar yang lain juga bisa mempelajarinya bersama-sama. Eh siapa tahu ada masukan yang berharga.
Selamat bekerja.
Yoga Marta A // 20 Maret 2007 pada 01:22 |
Thanks a lot Mr. Wir maybe next time we can discuss more clearly, but your suggest for learning FEMA 2.7.3 it is good but for me.
I will try find about Push Over analysis and FEMA link too, I wish i could ask to you more question. Thanks.
Ryu // 2 April 2007 pada 06:31 |
salam kenal Pak.saya mahasiswa semester akhir teknik sipil ITS.saya tertarik melihat profil Bapak di website. saya perlu buku atau tutorial SAP / ETABS mengenai pushover,khususnya untuk pelat datar prategang. selain itu saya jg kesulitan mencari tutorial software ADAPT PT. kira2 di mana saya bisa dapatkan?dan berapa harganya?
atas bantuannya saya ucapkan terimakasih ya Pak.
wir // 2 April 2007 pada 10:59 |
**… pushover, khususnya untuk pelat datar prategang**
Apa itu, saya kurang maksudnya.
Tentang pushover , CSI mempunyainya : http://www.csiberkeley.com/Tech_Info/Pushover%20paper.pdf
Tutorial ADAPT PT, saya kurang tahu. Itu bikinan Biyan O Alami ya, wah jadi teringat waktu di PT. Wiratman hampir 15 tahun yang lalu. Waktu itu masih DOS, kayak apa ya sekarang.
**berapa harganya ? **
Lho apa saya punya tampang pedagang ya
Achmad Taufik // 17 April 2007 pada 07:11 |
Yth Pa Wir,
Saya seorang karyawan konsultan engineer swasta di Bandung, saya lihat blog bapak bagus sekali, membuat saya ikut termotifasi untuk juga ikut mengembangkan keilmuan dibidang teknik sipil. Kemarin saya download salah satu artikel bapak yang berjudul “Masih perlukah mempelajari Mekanika Teknik Klasik dalam Era Serba Komputer ?”, disitu membahas tentang “Kasus Rangka Batang dengan Masalah Ketidak-Stabilan”.
Saya coba membuat modelnya dan melakukan analisis dengan SAP versi 8.28, dan option analysis optionnya telah saya set sebagai frame. Tetapi hasil yang saya dapat tidak ada error sama sekali tidak seperti yang bapak tunjukan di artikel.
Error baru muncul jika seluruh rangka saya release, dan memang hasilnya seperti yang bapak tunjukan. Tapi mungkin struktur bisa diakali dengan cara:
1. Membuat seluruh joint menjadi moment connection (di las misalnya), memang sih umumnya konsultan menghindari pengelasan di lapangan dengan banyak alasan diantaranya mutu pengelasan yang mungkin tidak memenuhi persyaratan.
2. Membuat beberapa rangka secara fabrikasi, baru sisanya disusun dilapangan dengan shear connection
demikian komentar saya mohon komentar.
wir // 17 April 2007 pada 11:01 |
mas Ahmad,
Paper saya membahas tentang ‘rangka batang’ atau ‘truss’, dan bukan ‘frame’, jadi tanggapan anda merupakan materi lain yang baru, misalnya :
Paper yang saya sampaikan di atas sebenarnya ingin mengungkapkan falfasah pemahaman mekanika dan hasil komputer, yaitu dengan memberi contoh kasus. Intinya bahwa sebagai engineer jangan terpukau dengan hasil komputer, kita yang kendalikan koq.
Berkaitan dengan usulan anda, jika kita tetap commit pada truss. Apa sih truss, adalah sistem struktur yang paling efisien karena seluruh penampang menyalurkan gaya-gaya dalam arah aksial. Bandingkan dengan frame, karena ada momen maka bagian tengah penampang (garis netral) tegangan nol, yang besar hanya dipinggir-pinggir aja (nggak efisien khan), maka usulan anda bahwa seakan-akan merubah truss menjadi frame hanya sekedar merubah sambungan pin menjadi sambungan momen. Kayaknya nggak seperti itu mas. Ingat dalam kenyataannya, banyak struktur truss mempunyai sistem sambungan yang kaku (misalnya sambungannya las penuh) tapi mengapa perilakunya tetapi struktur truss. Jadi kenapa bisa truss dan kenapa bisa frame, ya itulah yang kita pelajari dengan mekanika klasik.
Selanjutnya kita dapat memahami apa sih keunggulan truss dan frame, ingat istilah itu hanya ada pada analisa klasik. Jika pakai komputer, pakai metode matrik maka semua rangka yang stabil sama saja hitungannya. Struktur truss dan struktur frame aja bentuk penampang yang dipakai sudah berbeda.
Dengan memahami apa itu truss, apa itu frame, grid, space truss atau space frame selanjutnya dapat dilakukan penyederhanaan dalam pemodelan sehingga dapat diperoleh model yang optimal. Ingat suatu model yang paling baik adalah jika bisa diberikan model yang paling sederhana yang memberi hasil yang mendekati aktual.
Jika pemahaman itu semua sudah kita resapi, maka kita dapat dengan mudah menganalisis dari suatu bangunan yang ada, kira-kira bagaimana perilakunya yang dominan jika dikasih beban di situ (misalnya) tanpa harus terlebih dahulu menghitung dengan komputer. Akhirnya kita mempunyai apa yang prof. Wilson sebut sebagai ENGINEERING JUDGEMENT. He, he, istilah ini saya jadikan satu bab khusus dalam buku saya yang terbaru yang telah terbit.
Usulan yang kedua berlaku baik untuk struktur truss maupun struktur frame.
Catatan : engineer yang masih tergantung komputer (ikut apa aja yang dikatakan komputer) sebenarnya belum tepat disebut engineer tetapi operator komputer.
iwan // 20 April 2007 pada 13:26 |
salam kenal…
pak Wir… saya barusan beli buku anda yg terbaru.. dan cd bonusny udah say copy ke hardisk komputer saya…tapi kenapa setelah saya buka.. semua latihan tidak bisa terbaca oleh software sap 2000 versi student yang telah saya instal yaaa??? saya vcoba buka dengan sap2000 v8 yg saya punya juga tetep gak bisa tuh..??? apakah cd bonus dari buku pak Wir itu harus dibukanya lewat sap2000 v10 yaa????
wir // 20 April 2007 pada 14:02 |
Nggak lho Wan, saya pakai SAP2000 7.4 Versi Student koq, kecuali Bab 7 (sebagian) dan Bab 9 yang membahas ttg Buckling.
Sudah di copy semua ke hardisk ya, nggak pakai CD khan, kalau begitu coba ikuti petunjuk yang memakai file *.S2K, pakai fasilitas import. Sedangkan kalau ada file *.SBK itu yang baru dapat dipanggil langsung dengan program.
Coba deh lagi, moga-moga beres. O ya, di CD aku sisipin SAP2000 versi Student juga, ketemu nggak.
Zulfadli // 22 April 2007 pada 09:32 |
Sore pak Wir, sebelumnya saya udah ninggalin komentar tapi saya lupa dimana..Nama saya Zulfadli, semester VI di Universitas Komputer Indonesia. saya berencana untuk mengambil TA tentang struktur tahan gempa yang akan saya aplikasikan ke ETABS..masalahnya nih pak, bisa gak saya minta perhitungan manual untuk :
- analisa statik ekivalen
- analisa respon spektrum
- pusat masa ltiap antai (eksentritas rencana)
- simpangan antar lantai
kala bisa beserta contohnya ya pak..
saya juga udah coba mempelajari beberapa jurnal bapak dan buku SAP2000 bapak, serta SNI 2002 tentang gempa..tapi kayaknya saya belum terarahkan.
mohon bantuannya…thank be 4
wir // 22 April 2007 pada 12:47 |
Saya sudah lama nggak pegang ETABS dik, juga belum pernah bikin makalah tentang program tersebut. Kebetulan riset saya tidak banyak membahas tentang kegempaan, jadi ya belum ada.
Mungkin ada teman-teman lain yang bisa membantu ?
Zulfadli // 22 April 2007 pada 14:08 |
Oh, Makasih ya pak..
Achmad Taufik // 24 April 2007 pada 11:50 |
Terimakasih Pak Wir atas komentarnya, sebenernya saya hanya ingin menunjukan bahwa struktur tersebut tidak selamanya tidak stabil, tapi menurut saya tergantung dari bagaimana kita memperlakukan sambungannya, karena kami seringkali mendesain rangka kuda-kuda baja dengan pola tersebut dan itu so far itu bekerja dengan baik, tapi saya rasa bapak benar, jika kita tetap memperlakukan pola tersebut sebagai truss, maka itu akan tidak stabil.
Btw ada hal lain yang ingin saya tanyakan, pada SAP2000, apakah program tersebut menyimpan hasil desain framenya di satu file database khusus ?, kalo iya mungkin bapak tau file yang manakah itu, dan bagaimana cara mengaksesnya, karena berkaitan dengan itu saya sekarang sedang mencoba menterjamahkan hasil desain dari SAP2000 (untuk struktur beton), dimana SAP2000 kan hanya mengeluarkan luas tulangan yang diperlukan, saya ingin coba menterjemahkannya secara otomatis ke dalam bentuk jumlah tulangan dengan diameter tulangan yang kita tentukan sendiri. Sementara program yang ingin saya coba buat basisnya Visual Basic.
Terimakasih
Djatmiko // 2 Mei 2007 pada 06:25 |
saya senang dengan situs ini. Jadi tahu banyak hal tentang teknik sipil. Proficiat pak Wir. Tuhan memberkati.
Achmad Taufik // 7 Mei 2007 pada 10:24 |
Pa Wir….., kok message saya nda di respon, pa Wir Pundung ya…..,=). btw ada yang ingin saya tanyakan, selama ini kan kita menghitung momen pelat kita pake faktor momen dari SNI atau dari tabel bares., sebenernya metode apakah yang dipakai untukmencari momen pelat tersebut (Selain Menggunakan metode Finite Elemen Mungkin), mungkin bapak bisa tunjukan referensi yang bisa saya baca, karena sering kali hasil output SAP atau etabs untuk momen pelat hasil nya aga berbeda cukup jauh jika dibandingkan dengan hasil perhitungan dengan menggunakan tabel bares.
Lalu yang kedua, di ETABS itu kan option plate load distribution, lalu di option itu kita bisa pilih one way slab, tapi knp momen slabnya ga keluar sama sekali ya…, apa memang etabs tidak bisa menghitung momen pelat 1 arah atau ada faktor lain ya…
Terimakasih sebelumnya atas Responnya.
wir // 7 Mei 2007 pada 10:57 |
**file database khusus ?, **
wah kalau itu saya nggak tahu itu. Jadi waktu itu belum saya respon biar teman lain yang tahu, yang merespon. O ternyata di tunggu-tunggu. Sorry ya. Ini tanggapan saya.
Pertama : pertanyaannya, apa rencana anda itu bermanfaat, capek-capek bikin program sendiri. Salah satu keuntungan pakai program yang sudah jadi adalah bahwa kita tidak perlu meyakinkan ke orang lain bahwa program kita sudah benar. Kalau anda bikin sendiri untuk anda sendiri sih boleh-boleh aja, tapi kalau bikin untuk misalnya disampaikan ke TPKB, lalu ada pertanyaan apakah program yang anda bikin sudah pasti reliable. Wah kerja tambah lagi.
Tabel Bares khan cocoknya jika punya pelat persegi (two-ways) dengan beban terpusat atau pelat bulat dsb yang sifatnya setempat. Tabel tersebut diderifasi dari perhitungan pelat elastis yang pada masa itu memang perlu penyelesaian persamaan differensial. Jadi dibuat tabel biar praktis hitungnya.
Tabel bares belum tentu cocok untuk pelat beton bertulang, karena ada retak, timbul redistribusi momen khususnya untuk pelat-pelat menerus. Padahal pelat pada umumnya adalah menerus. Oleh karena itulah mengapa pada SNI dan ACI hanya menyediakan metode DDM (direct design method) dan Portal Equivalent, juga telah menghilangkan sistem pelat pada tabel PBI.
O ya, sebagai informasi tabel PBI itu mungkin lebih banyak dipakai untuk perencanaan pelat di Indonesia dibanding dengan tabel Bares lho.
O ya , ttg SAP atau ETABS dan Bares berbeda, ya bisa saja, karena pada prinsipnya perhitungan pelat dua dimensi sebenarnya cukup kompleks, padahal kita tahu sendiri bahwa pelat hanya memikul beban gravitasi aja (struktur sekunder, maksudnya bukan yang utama) jadi pada prinsipnya sebaiknya pelat setipis mungkin (persyaratan khan untuk lantai 12 cm). Kalau tebal khan nambah massa, pengaruh ke beban gempa. Jadi selama nggak ada batasan dari arsitek atau ME maka sistem balok-induk-anak dengan pelat yang pendek-pendek itulah yang paling optimal. O ya tapi ada argument lain, sistem balok-induk-anak menambah tinggi bangunan, pengaruh juga ke gaya gempa dan biaya ME (lift, escalator dsb). Memang perlu studi cari yang optimum. Itu tugas perencana struktur.
Sekarang ini khan ada apartemen lagi booming. Konsep balok-induk-anak dengan pelat tipis nggak bisa diterapkan. Tinggi balok (induk dan anak) mengganggu sehingga maunya pakai flat-slab. Lha kalau udah gitu maka metode yang bisa dipakai adalah DDM dan Portal Eqivalent. Itu lho yang ada di buku SNI. Kenyataannya konsultan-konsulta perencana lebih suka pakai SAFE (lebih praktis) atau programnya PCA.
Bagaimana dengan program SAP dan ETAB, kelihatannya tidak didedikasikan untuk perencanaan pelat, lebih kearah memudahkan penempatan pembebanan. Jadi ya begitulah. Nanti kalau secanggih SAFE, program SAFE nggak ada yang beli. Gitu lho.
Alief // 9 Mei 2007 pada 12:19 |
mampir lewat mas, saya di bidang mechanical, sampean punya gak software yang cocok buat saya?
makasih sebelumnya….
wir // 9 Mei 2007 pada 12:46 |
SAP2000 untuk analisa struktur makro, misalnya seperti rangka pesawat pengangkat dsb.
Untuk analisa struktur mikro kelihatannya yang paling sip adalah ABAQUS dan ANSYS, sedang detail gambar solid 3D kayaknya yang bagus dan gampang adalah SOLIDWORKS, cara pakainya lebih gampang dari SOLID EDGE.
Ini aku sedang nyoba mas, tapi nggak bisa disharing karena illegal (bajakan). Yang bisa disharing hanya versi student yang legal, dan belum punya.
arif // 10 Mei 2007 pada 15:09 |
Selamat malam Pak wir……………..
Beberapa hari yang lalu saya baru beli buku bapak yg berjudul “Aplilasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP2000, Edisi Baru. Saya rasa sebagai seorang pemula banyak sekali terbantu. Terima kasih atas dedikasi anda. Untuk contoh perhitungan mohon lengkapi lagi.
Btw bisa carikan pekerjaan ga pak? Saya lulusan sipil 2006 belum dapat kerja tetep.
THKS.
wir // 11 Mei 2007 pada 00:59 |
**Bisa carikan pekerjaan ga pak ? **
Arif anda sudah melihat situs cari kerja berikut ?
http://infokerjas.blogspot.com/
http://karirkerja.blogspot.com/
http://kerja.wordpress.com/
Moga-moga cepat deh, dapet kerjanya. Jangan patah semangat, cari kegiatan yang positip. Ingat jika engkau tabah dan selalu berusaha keras, serta dibantu doa yang khusuk dan berserah diri, maka semua akan berubah menjadi baik.
Sukses untuk anda Arif.
Ary // 11 Mei 2007 pada 08:40 |
Pak kalo mau coba coba midas..
more powerful than sap2000..
ini versi trial 1 bulannya..
http://eng.midasuser.com/download/program/files/Civil701_Trial.exe
sebaiknya sih diinstall di virtual pc, biar kalo habis nggak perlu format 1 komputer…
wir // 11 Mei 2007 pada 08:51 |
Agentnya di Indonesia khan di UNPAR, pak Joni. Saya khan sering ketemu beliau. Juga tempo hari sudah punya dikasih beberapa CD , yah mungkin versi studentnya. Tapi sampai sekarang belum sempet sih kesentuh.
Ini lagi fokus ke ABAQUS 6.5.1, lumayan transfer dari Solidworks ke file IGES dari situ baru di analysis. Hebat, ternyata yang dari m2m dapat bekerja dengan baik.
Ansys Multiphisics 10 , juga jalan, tetapi kenapa ya, menurut saya kontrol grafiknya lebih canggih (smoth) pakai ABAQUS. Jadi sekarang fokus ke ABAQUS dulu.
Sayang, padahal literatur tentang Ansys tentang cara belajarnya di internet lebih banyak di banding Abaqus.
Tapi kalau jurnal kebanyakan orang pakai abaqus.
Bingung ….
Ary // 11 Mei 2007 pada 09:05 |
General FEM 1source code dengan Abaqus
MARC dengan Mentat pre/post Student Version.
Versi Windows
http://www.enhydralutris.de/Linux/design_nt.exe
Versi Linux
http://www.enhydralutris.de/Linux/designer110-linux.tar.gz
Ary // 11 Mei 2007 pada 09:15 |
GUInya Abaqus emang cakep abis untuk solid.
Tapi soal kecepatan GUI, Ansys masih lebih cepat..di pentium II saja aja masih jalan..{ansys 6}, kalo abaqus/cae no hope
Tapi untuk pemodelan solid [bukan import] ansys masih lebih mudah.. bikin kotak dibolongin, dan boundary bisa di permukaan, garis apapun meshnya.
Coba bandingkan mesh quality abaqus/cae dan ansys..laen lho..
wir // 11 Mei 2007 pada 09:23 |
Iya, aku pakai Intel Core 2 Duo, dengan memori 2 Gb, jadi ya kelihatannya nggak lambat-lambat juga.
Ary // 11 Mei 2007 pada 09:33 |
Kapan ya bisa punya komputer secanggih itu…he he he
Mantab emang UPH…
Apalagi Abaqus, Ansys, Marc, Nastran bisa paralel computing…
tinggal kasih gigabit ethernet, terus semua komputer Lab Komputer UPH dihubungin….udah deh jadi super-komputer….
mak nyuss….
Nicholas // 11 Mei 2007 pada 15:50 |
Halo mas wir,
Ada kabar bagus nih buat mas Wir, buku SAP2000 karangan mas Wir yang edisi baru udah abis mas di toko-toko buku Gramedia Semarang, wuih…siip banget deh mas, sampe-sampe saya ngga kebagian tuh hahaha. Karena kemaren-kemarin belum sempet ke Gramedia, akhirnya yah gini deh gigit jari..hehehe.
Kapan mas wir ada stock lagi di semarang ? Tolong konfirmasi di forum ini untuk pengiriman stock berikutnya ya mas…
Viva Indonesian Civil Engineering
wir // 11 Mei 2007 pada 16:38 |
Komentar anda langsung saya cc-khan ke mas Arisubagijo di Elexmedia. Moga-moga dapat ditindak-lanjuti segera.
**senang**
pras // 14 Mei 2007 pada 02:21 |
hallo pak wir,
salam kenal saya mahasiswa teknik sipil. saya mau menanyakan untuk program sap 2000 ataupun etab mengenai cara input data beban gempa untuk portal 2 dimensi jika diberikan kombinasi beban gempa arah x(100%), arah y(30%) secara bersamaan menurut arah tinjaunya dan sebaliknya.
thanx
wir // 14 Mei 2007 pada 04:21 |
**untuk portal 2 dimensi**
anda harus menyiapkan portal arah x dan portal arah y secara tersendiri-sendiri. Selanjutnya kombinasi tersebut di atas hanya berlaku pada kolomnya saja, yaitu perlu analisis bi-aksial.
Konsep dua dimensi di atas umumnya dilakukan sebelum era SAP2000 dan ETABS. Sekarang sudah dapat digunakan analisis 3D sehingga kombinasi dapat langsung diberikan, hasilnya lebih teliti.
Nono Iskandar // 17 Mei 2007 pada 23:22 |
Salam kenal Pak. Saya ingin sekali memiliki software Nastran dan sudah lama mencarinya tetapi sampai detik ini saya tidak mendapatkannya. Melalui email ini, saya mohon bantuan Bapak. Barang kali Bapak bisa menunjukkan link Nastran yang full versi. Terima kasih pak atas bantuannya.
wir // 17 Mei 2007 pada 23:32 |
di FEMAP v 9.0.1 yang saya install ada NX Nastran-nya. Apa itu yang anda maksud. Program dapat berjalan tanpa masalah, tapi saya belum mengeksplore keseluruhan. Saat ini sedang asyik belajar ABAQUS, selevel dengan Nastran, program tsb telah menjalankan program verifikasi dan berhasil dengan baik. Tapi itu semua bukan dari on-line. Dapetnya off-line di m2m.
Zulfadli // 6 Juni 2007 pada 15:21 |
Selamat pak..buku SAP2000 NEW EDITION-nya udah terbit, saya harus pesan 1 minggu di gramedia bandung (he2)…Pak, kira2 menurut bapak langkah-langkah apa aja untuk memastikan bahwa hasil hitungan kita menggunakan program (mis pake SAP2000) udah sesuai dengan yang kita inginkan? sedangkan inputnya udah kita masukin dengan data yang ada/sebenarnya (yah kalau di buku bapak “ENGINEERING JUDGEMENT”)..Bisa dijelaskan dikit ya pak..
Zulfadli // 6 Juni 2007 pada 15:26 |
Nah maksud saya kalau bapak di beri suatu pekerjaan menghitung konstruksi pada gedung(mis: 3 lantai), nah langkah apa yang bapak lakukan terlebih dahulu untuk memastikan hitungan make program udah benar..thank.
wir // 6 Juni 2007 pada 21:36 |
He, he, he, terima kasih. Kenapa harus pesan dulu ya ? Apa nggak ada stock ? Di Gramedia Merdeka ya, tempo hari ke sana koq nggak ada ?
Pertanyaan anda sederhana, tetapi esensial sekali. Jawabannya tergantung dari cara memandang program tersebut.
Bagi saya, program komputer, apakah SAP2000, GTStrudl atau apapun, juga ABAQUS adalah hanya sekedar tools atau alat saja. Yang menentukan bahwa hasilnya betul atau tidak adalah dari kita pemakainya.
Lho lalu gimana ?
Ya gimana lagi, kita diwajibkan mempunyai pemahaman, kalau kita kasih data ini maka programnya akan ke sini dsb. Seperti kita dengan mobil, jika gas ditekan maka kecepatan bertambah, mobil akan maju, jika setir di puntir ke kiri maka mobil akan berbelok ke kiri, jika memuntirnya terlalu cepat pada kecepatan yang terlalu cepat maka dapat diperkiraan mobil akan terguling dsb. Jika anda dengan mobil (tools) sudah menyatu maka anda akan tahu bahwa jalannya mobil telah benar.
Demikian juga dengan program komputer.
Langkah pertama adalah anda memahami permasalahannya, misalnya untuk kasus di atas adalah anda harus tahu yang dimaksud dengan pekerjaan menghitung konstruksi pada gedung. Apa yang sebenarnya akan dihasilkan dengan pekerjaan tersebut. Jika dikerjakan tanpa komputer bagaimana, jika dipakai komputer apa keunggulannya, dsb.
Langkah kedua, adalah memahami karakter dari program itu sendiri. Tidak setiap mobil, sama. Bahkan untuk mobil yang ber-merk sama-pun, kadang-kadang ada perbedaan (gas-nya terlalu dalam, rem-nya terlalu pakem, dsb). Pahami hal tersebut.
Untuk memahami tentu harus memakainya terlebih dahulu, membiasakannya untuk menyelesaikan kasus-kasus yang mudah dipahami bahwa hasilnya salah atau benar. Jadi harus banyak latihan. Untuk itulah mengapa di buku saya yang baru terbit tersebut selalu ada contoh latihannya. Menurut Prof. J.M. Gere, mengerjakan latihan memang salah satu cara mempelajari problem-problem rekayasa.
Tujuan utama kami memakai SAP2000 di Jurusan Teknik Sipil UPH adalah untuk memahami atau menguasai atau memperkuat mahasiswa saya di mata kuliah Analisa Struktur. Pada setiap mata kuliah tersebut (saya pegang Analisa Struktur I di semester 2 dan Analisa Struktur III di semester 5) saya selalu mendemokan bahwa setiap penyelesaian analisa struktur klasik adalah sama dengan hasil komputer. Ini nggak gampang lho, kalau anda nggak tahu setiap parameter yang diperlukan, bisa-bisa hasilnya berbeda, maksud hati ingin mempermudah dan memperjelas tapi hasilnya tambah bingung.
Jadi dengan cara tersebut, tiap mahasiswa yang mengikuti kuliah saya akan paham bahwa mereka juga mempunyai ilmu yang hasilnya sama bahkan dengan program sekalipun. Jadi jika suatu saat dia menjumpai sesuatu analisis antara pemahamannya yang dulu dengan hasil komputer sekarang koq berbeda maka pasti “ada sesuatu”. Check lagi sampai yakin dan tidak ada keraguan lagi hasilnya. Jika itu dilakukan terus menerus maka akhirnya jika memakai program komputer tersebut kita secara otomatis dapat merasakan : yah ini sudah OK.
zaki habibie // 7 Juni 2007 pada 02:02 |
Pagi Pak Wir.
Sekedar informasi buat temen-temen, untuk design 3D untuk struktur baja yang sangat bagus menurut saya StruCad dan Tekla (X-Steel), diprogram ini sangat lengkap dalam mendesign struktur baja, baik kekuatan maupun gambar fabrikasi.
Dari program tersebut akan keluar output kekuatan dalam bentuk seperti SAP2000 (Strucad) dan Staad Pro (Tekla-Xsteel), dan akan keluar gambar 3D dengan profil dan joint yang sangat lengkap sesuai design yang kita ingin kan( UK, Jepang, Amerika, Korea, dll), dan juga gambar fabrikasi baja yang sudah tergambar secara otomatis oleh program dengan sangat detail untuk semua profil baja yang kita design dalam suatu struktur baja.
Untuk Design kekuatan baja saya masih suka memakai Sap 2000 dan Etabs kerana pengoprasiaannya mudah, dan Saya masih harus banyak belajar dari bapak. Saya Belajar Sap 2000 dari Buku Bapak juga, tahun 2002.
Saya mau menanyakan tentang fungsi dan maksud tiap poin dari steel frame design overwrites (tool bar : steel frame design – view/revise overwrites). Terima kasih Pak Wir, sebelum saya minta maaf ada kalimat yang salah dalam pengetikan ini
hormat saya Zaki
marni // 7 Juni 2007 pada 08:40 |
Siang Pak Wir,
saya sedang mengerjakan TUGAS AKHIR tentang rangka kuda-kuda baja, saya mau nanya tentang “release untuk rangka”. penjelasan singkat mengenai release itu apa dan mengapa momen 3-3 saja yg diberi tanda seperti yang dijelaskan dalam buku karangan bapak?
Terimakasih
wir // 7 Juni 2007 pada 09:51 |
Rasanya panjang lebar telah saya utarakan di buku saya. Mohon baca baik-baik pada Bab 2, selanjutnya berlatihlah dengan contoh-contoh yang telah disiapkan.
Dengan membaca latar belakang teori dan mempraktekkannya, saya yakin anda memahami maksudnya.
Zulfadli // 14 Juni 2007 pada 07:38 |
Iya pak harus nunggu, walaupun buku terbitan lama bapak udah saya miliki tetapi saya gak mau ketinggalan untuk memiliki versi yang baru.
Wah..bagus banget kalau gitu pak…saya kini jadi mengerti bahwa untuk mendapat hasil tepat dan teliti didukung sejauh mana kita mengenal program yang kita gunakan.
Oh untuk sekedar informasi kepada teman2 kemaren saya udah nyoba bandingin desain tulangan Balok SAP2000 (buku pak wir) dan MIDAS v.6.3 hasilnya sama dan gak beda jauh.
ary // 15 Juni 2007 pada 08:00 |
Robot millenium nggak kalah wahid sama sap2000. Contoh yang make: COWI.
Versi Freeware
ROBOT Millennium Freeware
http://www.robobat.com/n/en/212/
wir // 15 Juni 2007 pada 11:48 |
Menarik sih. Sebenarnya udah lama tahu, bahkan sudah pernah down-load. Tetapi waktu menjalankan ada perintahnya yaitu :
koq ribet banget, kayaknya yang ngasih nggak rela gitu.
ary // 18 Juni 2007 pada 08:35 |
He he…
mereka ngasih freeware seperti mencari kail [baca:alamat] untuk pemasaran non-freewarenya.
Achmad Taufik // 23 Juli 2007 pada 07:02 |
Siang Pa Wir., tampak sudah lama ga buka2 webnya pa Wir….,
Ada yang ingin saya tanyakan nih pa…,
1. Di SAP2000 ketika kita akan mendefinisikan beban gempa, disitu ada option excitation angle.
Sebenarnya option itu fungsinya apa sih pa?, apakah itu menunjukan arah gempa atau gimana?
2. Pada option frame design overwrites, ada option frame type, dimana didalamnya ada sway special, intermediate, ordinary, non sway. yang ingin saya tanyakan, kapan kita tentukan bahwa struktur kita sway special, intermediate, ordinary, atau non sway?
Terimakasih sebelumnya atas commentnya.
Sukses selalu pak…..
wir // 23 Juli 2007 pada 11:04 |
Acmad Taufik
ya arah percepatan yang diberikan, jika modelnya 3D
**kapan kita tentukan bahwa struktur kita sway special, intermediate, ordinary, atau non sway?**
ya itu khan post-procesingnya sap2000, tepatnya model DESIGN, yang tergantung code yang akan dipakai. Jadi anda harus paham code-nya terlebih dahulu. Ingat analisis dan design nggak berhubungan, jadi jangan bayangkan bahwa jika di analisis sudah ok berarti tinggal ok di design. Ada parameter-parameter tertentu yang perlu dipilih.
Jadi kapan anda milih, ya anda sendiri yang menentukan. Baca code-nya dengan baik. Ok.
Achmad Taufik // 24 Juli 2007 pada 03:44 |
Wah tampak belum begitu jelas, mungkin saya aga lemot..
1. mengenai excitation angle, saya pernah baca di handoutnya training etabs punya-nya Pa. Djoni Simanta, disitu bangunan yang dimodelkan bentuknya L, kemudian untuk gempa arah X, beliau memasukan arah U1 dengan excitation angle 45 deg, kemudian arah U2 dengan excitation angle 135 deg, kemudian angka itu munculnya dari mana ya?, apa karena sumbu simetrinya seperti itu?, lalu jika bangunanya bentuknya bujur sangkar, apakah kita juga harus menginput U1 dgn excitation angle 0 deg kemudian U2 dgn excitation angle 90 deg?, lalu bagaimana jika bangunannya tidak simetri?.
Salah satu teman saya yang kerja di Wiratman pernah menunjukan perhitungan untuk menentukan excitation angle, tampak perhitungannya begitu panjang dan rumit. Mungkin Pa Wir ada bahan yang bisa menunjukan perhitungan tersebut?
2. mengenai sway special, intermediate, ordinary, atau non sway. Saya sudah coba jika suatu design kita ubah2 frame type-nya, ternyata bedanya cukup signifikan pada tulangan.
Dulu seingat saya frame type hanya ada dua type yaitu sway dan non sway. Mungkin pa Wir bisa memberikan sedikit pencerahan
Trims atas komentarnya Pa…..
Donny B Tampubolon // 24 Juli 2007 pada 07:38 |
Boleh ikut urun rembug?
Dear Taufik,
Umumnya bangunan yang simetri ukuran, beban dan geometri bangunannya, mempunyai excitation angle = 0 (nol) degree, artinya Garis Netral bangunan letaknya berhimpit dengan garis titik berat bangunan.
Untuk bangunan berbentuk L, Garis Netral bangunan letaknya TIDAK berhimpit dengan garis titik berat bangunan namun ditransformasikan sebesar excitation angle tadi. Artinya U1 = Arah X’ dan U2 = Arah Y’ nya ditransformasikan sebesar excitation angle dari Sumbu X dan Sumbu Y.
Inersia bangunan Ix dan Iy dan Ixy juga akan berubah, dipengaruhi besarnya excitation angle tadi. Jadi untuk bangunan yang tidak simetris, nilai tegangan maksimum pada struktur bukan lagi berdasarkan Sumbu X dan Sumbu Y melainkan berdasarkan Sumbu X’ dan Sumbu Y’ .
Masih ingat kuliah mekanika bahan dan penampang bahan?
Kalau salah, mohon dikoreksi..
Syallom..
nb: mohon maaf pa Wir belum sempat kirim, kan bapa tau “kesibukan” saya sekarang..hehehe..
Zulfadli // 17 Agustus 2007 pada 07:34 |
Siang Pak Wir..
Pak Saya udah nyoba aplikasikan Analisa P-delta yang dibuku bapak ke SAP2000, saya ada pertanyaan kenapa analisanya dipakai yang 3D ya pak?mohon sedikit penjelasan Pak…
Zulfadli // 17 Agustus 2007 pada 07:44 |
Pak Beda damped structure (Redaman ) & Undamped structure itu seperti apa ? Makasih..
Deddi Iskandar // 18 Agustus 2007 pada 01:45 |
Dear Pak, Wir.
Akhirnya saya bisa mendapatkan buku anda di Gramedia tempat saya tinggal walaupun harganya sih lumayan mahal. Buku anda bagus. Membuat pengetahuan saya tentang desain struktur semakin nambah.
Oya Pak Wir. Saya mau tanya. Ini masalah saya yang dari dulu ngak pernah tahu gimana solusinya.
Bagaimana cara membuat profil HONEY COMB di SAP2000. atau yang mendekatinya lah.
Cuma itu saja Pak Wir. Tolong banget ya di jawab.
Makasih
Rafid ibnu shina // 24 Agustus 2007 pada 02:29 |
Selamat atas diterbitkannya buku sap yang luar biasa
Langsung saja saya seorang mahasiswa, saat ini saya sedang mempelajari buku sap anda dengan menginstal sap yang ada didalamnya
Yang ingin saya tanyakan pada saat proses run
kadang terjadi error
lalu muncul “EXCESSIVE LOSS OF ACCURACY DURING THE SOLUTION OF EQUATION, THE STRUCTURE IS UNSTABLE OR ILL-CONDITIONED”
apa yang salah dalam proses yang saya lakukan
Mohon bantuan
Trmakasih sebelumnya
Endrik // 12 September 2007 pada 06:08 |
Pak Wir tolong dong bilangin ke Penerbitnya, buku SAP karangan Pak Wir sudah susah carinya……hebat lho pak. Di Gramedia Depok saja sudah habis bulan February….
Agus Setiyawan Mas Moelyono // 9 Oktober 2007 pada 02:02 |
Malang, 09 – 10 – 2007
Dengan Hormat,
Salut dan simpati buat bapak untuk perihal tersebut khusus buat bapak (mohon maaf bukan untuk yang lainnya) kami ingin menghadiahkan copy cd tentang ISO, SM-K3, GMP, 5S, Plastics, Sanitation dan HVAC. Guna menambah wawasan + ilmu yang kami kemas dalam bentuk CD (jumlah 1 keping) isi 675 MB/100Files, dengan format semuanya powerpoint (mudah dipelajarinya), dengan isi sebagai berikut :
I. 5S :
1. Penerapan 5-S
2. 5S PRODUKTIVITAS, KETENAGAKERJAAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
3. Presentasi_5S
4. 5R sosialisasi lomba 5 S
5. Tatapapan Yang Baik
6. 5S TPM activity
II. c-GMP :
1. Standar Pakaian kerja
2. Contoh Pemahaman Global
3. Gbr Cuci Tangan
4. Training GMP K3 & SMK3
III. HVAC :
1. Clean Room Std
2. Clean Room Seminar-Trane
3. HVAC Concept & Design for Cleanroom
4. Introduction to LPM & CF
5. Why Air Filter
6. HVAC & CR Air Filtration
IV. ISO 9001 :
1. MANAJEMEN PERSEDIAAN
2. Strategi Manajemen Pembelian dan Supply Chain
3. ISO Presentation umum
4. Pengenalan ISO 9001 & Dokumnetasi
5. Ketentuan Penggandaan dokumen
6. Presentasi SNI 19-9001-2000
7. Process FMEA
8. M7-Risk-Anlysis-FMEA-HACCP
9. Presentasi ISO 9001-2000
10. Audit Internal_Trainer
V. ISO 14001 :
1. Pelatihan Internal Auditor
2. OGSM pelatihan ISO 14001
3. ISO 14001- OHSAS – SMK3 – Audit modifikasi
4. OHSAS 18000
5. 14001_certification
6. Internal Audit Training ISO 14001
VI. K3 or OHSAS :
1. Perbandingan Penawaran ISO 14001
2. PENGOLAHAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN
3. B-3 Training
4. Handling B-3
5. Presentation Penyebab kecelakaan
6. Modul A-09 Performance Based Design
7. Sistem Pengawasan K3
8. RTM SMK3 & ISO KK
9. P2K3
10. Upaya Management K-3
11. Rencana Tanggap Darurat
12. Identifikasi Bahaya
13. SMK3 – Manajemen Resiko (IBPR)
14. Modul A-08 Evaluasi Sistem Proteksi Kebakaran
15. Evaluasi Potensi Bahaya
16. H 2 S
17. POLWIL MALANG
18. Modul A-02 Proteksi Bahaya Peledakan
19. seminar_safety
20. Modul Forklift Linde Yang Rusak
21. Biomechanics of Spine
22. ERGONOMI
23. Prosedur K3 Khusus HIVAIDs
24. Prinsip-Prinsip Ergonomi
25. Ubaya OHSM _Accident & Insident Investigation
26. Pelatihan Anggota BK-3 MODIFIKASI
27. Defensif Driving
28. Hazard Communication
29. Sistem Pelaporan Kecelakaan
30. K3 Listrik
31. Hazard Communication ( MSDS )
32. FIRE PROTECTION FACILITIES
33. Modul AK3 Pengenalan SMK3___slide_6_20
34. Konsep Emergency Response
35. 18001_OHSAS
36. Acccident & Behaviour
37. Bapedalda Emisi B3
38. Refresh K3L (Sifht Paradigm)
39.IR Inspection
40. Paradigma Baru Safety
41. Fire Safety Management
42. Organisasi Tanggap Darurat
43. Modul A-03 Sistem Pengendalian Asap
44. presentasi PENANGANAN BAHAN BERBAHAYA1
45. K3 di Industri Farmasi
46. Perilaku Manusia Menghadapi Kebakaran
47. Ubaya OHSM (Fenomena Kebakaran)
48. Safety Training for family
49. Modul A-06A Pengujian Sifat Bahan
50. keselamatan & keamanan kerja
VII. Plastics :
1. Basic Molding Issues With Copolyesters
2. Basic Design Issues With Copolyesters
3. Keys to Successful Molding
4. MOULD MATERIAL DOLPHIN
5. Hot & Cold Runner
6. Chem Eng Plastic
7. General Medical
8. ESPBU General
9. MOLDING
10. 2_Elements of the mold
11. Applications
12. EBM Mkt Tech Presentation
VIII. Sanitation :
1. Initial Healthcare
2. SARS for Medixair
3. Food Medixair
4. Medical – Medixair
5. WMMC Presentation
6. Discreet presentation
7. Presentation DCM
8. calmic&sanitact product
9. calmic&sanitact product rev
10. Presentation for Caltex
IX. Others :
Sebagai bonus (pengetahuan ringan), terdiri 29 files.
Demikian yang kami sampaikan, semoga bisa memberikan manfaat dan menjadikan ilmu yang berguna. Terima kasih banyak, dan sekali lagi mohon maaf bila tidak berkenan. Kami tunggu alamat lengkap bapak untuk segera kami kirimkan kebapak (free off charge).
Hormat Kami,
Agus Setiyawan MM, agus@fact.otsuka.co.id
Tel. 0341 426 244 ext 100
Fax 0341 426 644 (direct)
wir // 9 Oktober 2007 pada 14:30 |
Terima kasih mas Agus,
Materi yang anda sampaikan tentu sangat menarik untuk ditelaah lebih lanjut.
Alamat sudah saya sampaikan via email ke Bapak. Tapi jika mau maka dapat juga dikirim via UPH. Info lengkap ttg sy ada di sini
salam
zulkarnaen // 10 Oktober 2007 pada 00:19 |
salam kenal pak,
saya adalah salah seorang yang sedang mempelajari SAP2000 melalui buku yang bapak tulis..
saya ingin tau bisakah SAP2000 menganalisa struktur kabel seperti jembatan cable stayed atau jembatan gantung, pak? dan apakah bapak ada referensi mengenai konstruksi tersebut? misalnya prosedur perhitungan dan standar yang biasa digunakan? saya berencana untuk menjadikan konstruksi tersebut sebagai bahan TA.
Sebelumnya terimakasih atas kehadiran blog ini, dan terimakasih kepada pak wiryanto yang pasti sudah mengorbankan banyak waktu dan tenaga untuk selalu mengupdate dan menjawab pertanyaan2 pengunjung..
salam
Johanes Rendra // 10 Oktober 2007 pada 19:12 |
Malam Pak Wir,
Saya baru gabung nih, biasanya saya cuma ambil file-file tentang konstruksi aja dari blog ini. Tapi sekarang mau pesan nih buat pak wir, kalo bisa setelah pak agus kirim cd nya langsung bagi-bagi di sini yah pak.
Makasih sebelumnya
salam
Jo’ rendra
Radhi // 8 November 2007 pada 09:16 |
Pak Wir…..Tutorial SAP2000 lengkap versi PDF ada ngga Pak? Sekalian Tutorial SAP2000 v.10 versi PDF pak..
Gr. // 26 November 2007 pada 03:22 |
Selamat siang pak,
Saya sudah membeli buku SAP2000 karangan bapak atas saran Pak Djoni (Unpar). Saya (mahasiswa Unpar) sedang menyusun skripsi dengan bimbingan ibu Winarni tentang Analisis Balok Beton Prategang dengan SAP2000. Mungkin bapak sudah tahu dari Pak Djoni tentang hal ini.
Hmm, saya mengalami kesulitan karena pada SAP2000 ver. 7 atau 8 ini option untuk tendon sangat terbatas. Option tersebut adalah P, dan bentuk tendon. Pada SAP2000 ver. 10 atau 11 (bajakan tentunya). Option untuk tendon lebih detail, dan sangking detailnya saya jadi bingung sendiri. Saya punya beberapa pertanyaan dan mungkin pertanyaan ini dasar seperti:
Pada SAP2000 ver.7 atau 8, tendon prestress bekerja sebagai apa? karena pada SAP 2000 ver. 10 dan 11 tendon prestress bs bekerja “As element” atau “As load”. Saya sudah membuat model yang sederhana dengan SAP2000 ver.8 (bajakan), SAP2000 ver.11 (bajakan). Hasil yang diperoleh berbeda dan sangat drastis. Saya pun bingung dengan hasil output tersebut, karena saya masih “pemula” dan hanya mengerti kulitnya saja (seperti bentuk bidang momen yang sudah benar). Tapi valid atau tidaknya sistem struktur yang saya buat itu bila ditinjau dari segala bidang saya kurang mengerti.
Maka dari itu saya mohon petunjuk dari bapak. Hmm, saat ini bapak berdomisili bandung? Kl ada waktu apa kita bisa bertemu untuk berdiskusi tentang SAP2000 pak?
(maaf pak bila terkesan saya terburu2, karena memang saya dikejar2 deadline >..<)
Gr. // 26 November 2007 pada 03:27 |
(wew, message saya terpotong, aneh)
Terima Kasih pak.
Gary “Gr.”
Sipil 2004 Unpar
wir // 26 November 2007 pada 06:00 |
Wah komentarnya yang terakhir ini, kesannya sekedar memenuhi persyaratan formalitas aja.
Ah, apa memang sekarang mahasiswa seperti itu ya.
“ngono yo ngono tapi ojo ngono”
Formalitas ya penting, tapi yang lebih penting ini adalah pengalaman ilmiah yang anda dapat pada saat mengerjakan TA. Itu penting.
Penjelasan anda saja, cukup meragukan. Misalnya anda melakukan uji coba dua program dan hasilnya berbeda satu sama lain. Dengan kondisi itu saja ada suatu pertanyaan yang perlu di jawab. pasti ada salah satu yang salah, yang mana ?
Program lama atau yang baru.
Jika itu saja tidak dapat diberikan berarti anda tidak bisa melangkah lebih lanjut. hasilnya fifty-fifty. Kalau diteruskan bisa-bisa salah, khan berabe.
Kemampuan anda atau kita memakai program adalah bukannya bisa mendapat hasilnya, tetapi mampu menyatakan ini yang benar atau salah, minimal kalaupun salah bisa menunjukkan penyebabnya. Kenapa begitu.
Anda sudah bisa mendefinisikan penyebabnya, misalnya yang lama menganggap sebagai “as load” sedang yang satu “as element”.
Tentunya dari situ anda harus tahu, kapan pakai yang “as load” dan kapan pakai “as element”. Apa keuntungan satu dengan yang lainnya.
Anda tahu nggak artinya ?
Coba deh tanya pak Joni.
Apakah cara “as load” seperti pada program yang lama adalah sudah ketinggalan ?
Siapa bilang ?
Statement ke-2, jangan menghakimi jika anda belum tahu. Pastikan itu terlebih dahulu. Logika saya mestinya mengatakan bahwa untuk kasus standar dengan batasan-batasan yang sama maka penyelesaian dengan “as load” dan “as element” mestinya menghasilkan hal yang sama.
Seperti cara cross dengan sap2000, bilamana opsi yang dipakai sama maka hasilnya pasti sama.
Saran saya, cobalah pahami dahulu hal-hal tadi (as load atau as element), ya pokoknya seperti yang saya urai di atas.
Coba ambil penyelesaian yang ada di buku-buku PC yang sudah baku. Coba selesaikan itu dengan program, bandingkan hasilnya. Tanya kenapa, jika ada perbedaan.
Sebagai bantuan,
cara “as load” adalah cara-cara lama penyelesaian PC seperti yang ada di bukunya Naaman misalnya. Karena pengaruhnya hanya sebagai beban maka tendon tidak menyumbang kekakuan pada strukturnya. Untuk struktur-strutur elastis linier, rasanya konsep seperti ini sudah cukup.
cara “as element” berarti dianggap sebagai komponen struktur, menyumbang kekakuan struktur. Mestinya sangat berguna jika digunakan pada kasus non-linier, misalnya geometri non-linier.
Ada tambahan lagi, PC pada SAP2000 yang terbaru sudah bisa memasukkan loss of friction dari kabel, sehingga bisa dianalisis apakah ujung PC berupa angkur hidup atau angkur mati.
Ya itu sedikit yang saya tahu tentang PC di program SAP terbaru.
Terus terang belum sempat utak-atik, belum ada waktu khusus.
salam untuk pak Joni dan bu Winarni.
pesan : jangan dikemukakan kesan dikejar-kerjar dead-line. Malu. Anak unpar khan terkenal hebat.
Gr. // 26 November 2007 pada 10:43 |
Hehehe, thx pak atas quick reply-nya. Kl dibilang hebat2 jg ga sih pak :p.
Ya pak, saya setuju sekali dengan hal ini.
Saya juga setuju dengan hal ini, program lama belum tentu ketinggalan jaman. Malah biasanya lebih stabil daripada program versi baru. Tetapi option dan update baru pasti ada di program versi baru, seperti “As Element dan As Load” pada SAP2000v.11 dimana saya coba kedua option tersebut di SAP2000 v.11 menghasilkan nilai yang tidak jauh berbeda.
Hanya saja yang saya bingung, bila “as element” diskritisasi (output stationnya) tidak dapat saya rubah, menyebabkan penampilan hasil bidang momen banyak sekali. (untuk sekedar preview saya beri link gambar.)
(as element)
(as load)
terima kasih atas sarannya pak.
Ya pak, saya coba tanya pak Djoni, belakangan ini beliau sangat super sibuk. Hal ini membantu saya sekali. terima kasih pak.
Oke pak, terima kasih atas masukannya, saya merasa terbantu sekali.
Terima Kasih
Gary “Gr.”
Gr. // 26 November 2007 pada 10:48 |
Oh iya pak, seandainya saya sudah posting, bs saya edit tdk pak? saya memasukkan link salah (sehingga 1album di photobucket saya bisa dilihat>.<) :p
Audrie // 27 November 2007 pada 01:54 |
Slamat pagi, pak..
Saya sudah membeli buku Aplikasi SAP 2000 karangan Bpk.
Saya sedang mengerjakan TA tentang analisis dan desain kubah baja (Lamella Dome).
Untuk memasukkan beban angin secara 3D, saya mengalami kesulitan. Apakah saya hrs memasukkan “include area object” atau “include frame object”? karena pada SAP v 8 tidak ada “include frame object”.
Lalu pada output apakah perbedaan antara M2-2 dan M3-3 hsl analysis dengan Mmajor dan Mminor hsl desain?
Untuk joint displacement, apakah yang dipakai hsl show table atau dengan klik kanan pada joint yang dituju? Karena hslnya berbeda..
Makasi bgt y pak…
Leo // 27 November 2007 pada 13:17 |
Salam Kenal pak.
Saya mo bertanya tentang SAP. Saya kesulitan dengan cara memasukkan beban gempa dinamis dengan respons spectrum di sap 2000 versi 11.
mohon bapak bisa menjabar kan langkah-langkahnya. bagaimana define mass load nya..?? dan bagaimana output nya yang benar.??
saya mo meminta referensi tentang buku yang membahas desain tulangan atap cangkang. Karena selama ini pustaka yang saya dapat sulit untuk dimengerti.
Terima kasih pak, mohon sarannya.
Claudio // 10 Desember 2007 pada 10:43 |
Salam kenal pak…
Tahu program finite element Plaxis pak?
Studi kasusnya untuk sungai bawah tanah yang di bendung beton seluruhnya.jadi bendung tersebut benar2 menutupi aliran sungai bawah tanah (tidak hanya menaikkan tinggi muka air)
Bagaimana proses inputnya?
tibin // 12 Desember 2007 pada 14:42 |
pak wir. saya sudah lama memiliki buku sap karangan sampean dari yang warna biru jilid I dan warna merah.
Tetapi karena dasar saya mengenai teknik sipil dangkal ( maklum kami kuliah di universitas lokal, di kampus kami belum mengenal aplikasi komputer untuk teknik ) sehingga hingga saat ini saya masih kesulitan.
terbitkan juga dong buku yang isinya latihan total, dimulai dari studi kasus sampai penyelesaiannya, dan disesuaikan dengan peraturan yang berlaku di Indonesia, misalkan kita merancang suatu gedung, apa aja prosesnya, terus penjelasan beban – bebannya, hingga cara membaca output data sap, tulangan tarik yang mana tulangan tekan yang mana. kami belum paham soal itu.
saya kira temen temen, di daerahpun sama dengan saya kesulitannya, insya alloh bukunya pasti laris.
tibin_banyuwangi // 12 Desember 2007 pada 14:47 |
pak wir kalo ada berkas berkas sampean, yang udah gak kepakai, mengenai latihan menganalisa gedung, jembatan,pake struktur baja ato beton minta dong buat latihan saya,
tibin_banyuwangi // 14 Desember 2007 pada 10:24 |
makasih pak wir, oh ya jangan lama lama terbitnya buku barune, saya pasti beli. tentunya isinya sangat jelas dan sesuai dengan pemikiran temen- temen S1, jangan sulit pak wir’s bahasanya. yang penting sesuai dengan peraturan yang berlaku dan kalo bisa ada perbandingan manualnya, (secara analitis)……..
detail gambarnya juga dibuat, selama ini khan gak ada buku yang kayak gitu, jadi ada kasusnya, terus pemecahannya, terus ada gambarnya juga ( penulangan) kalo beton, kalo Baja (dimensi Penampangnya………..
Maklum Pak wir’s, saya anak desa, kuliah didesa heheheh. yang ngajar dosen lokal, heheheh… bukunya lokal.heheheheh. hubungannya lokal heheheheh. kalo gak aktif nyari sendiri. pemikirannya ya jadi lokal heheheh……
semoga dengan bimbingan pak wir.. pemikiran saya jadi interlokal. terus main di tingkat lokal jadi bebas roming deh………
deddi iskandar // 6 Januari 2008 pada 11:07 |
Salam hangat pak wir
Kapan buku SAP2000 bapak yang terbaru akan keluar. Saya sudah tidak sabar . Kalau bisa pak beserta sampel2x nya.
Oya pak, saya boleh nanya kan. Tolong dijawab ya. Saya sering sekali mendapatkan pesan seperti dibawah ini ketika memasukan input CONSTRAINT untuk struktur plat lantai (SAP2000 ataupun ETABS).
* * * W A R N I N G * * *
THE SOLUTION LOST 8.8 DIGITS OF ACCURACY FOR DOF U1 OF CONSTRAINT 1
LOCATED AT X = 1350.000, Y = 1500.000, Z = 850.000000,
STIFFNESS MATRIX DIAGONAL VALUE = 5.8991E+13
* * * W A R N I N G * * *
THE SOLUTION LOST 8.7 DIGITS OF ACCURACY FOR DOF U2 OF CONSTRAINT 1
LOCATED AT X = 1350.000, Y = 1500.000, Z = 850.000000,
STIFFNESS MATRIX DIAGONAL VALUE = 3.7695E+13
Pesan diatas itu artinya apa ya pak. Pesan itu sering sekali saya temui kalau saya membuat pemodelan pelat lantai yang ada voidnya. Gimana ya pak Solusinya. Padahal saya akan menganalisa beban gempa.
Segitu dulu ya Pak Wir. Matur Nuhun. Terima kasih.
ujang // 23 Januari 2008 pada 18:09 |
pak wir, kok sekarang sap2000 student ga bisa di download?
wir // 23 Januari 2008 pada 23:26 |
@Tibin – Banyuwangi
Yang sedang di desa, kebetulan ada seminar di UPH tentang SAP2000 dan murah lho, yaitu mahasiswa cuma Rp 50 ribu. Silahkan pikirkan untuk ikut. Toh suatu saat anda mesti ke pusat (jakarta). Iya khan.
@Deddi Iskandar
**Warning** itu berarti model yang anda analisis ada d.o.f yang di restraint secara otomatis oleh program SAP2000 karena jika tidak menyebabkan program tidak stabil. Kondisi seperti ini harus dipahami pemakai, karena kadang-kadang caranya memberi restraint sudah ok, tetapi kadang-kadang nggak sesuai dengan maksud pemakai. Jadi **Warning** gitu.
@Ujang.
Pesennya kayak gini khan “This user is out of bandwidth”.
Itu khan penyakit lama, jatah bandwith yang maksimum 1 Gb per bulan telah dilewati, karena terlalu banyak yang download via http://www.box.net dari blog ini. Banyak lho yang link blog ini di copy-paste artikel orang-orang lain. Jadi meski nggak mampir ke blog ini tapi mereka makai jatah yang 1 Gb tersebut, jadi ya begitulah rebutan. Anda-anda yang jadi korban.
Strategi, cobalah mampir pada tanggal bulan muda. Moga-moga masih kebagian.
andri // 4 Februari 2008 pada 04:07 |
Rekan2x saya menggunakan etabs original V.8 dan saya butuh sekali file update terbaru ver 8.57 , tetapi pihak TBK(agen resmi etabs) katanya sudah tidak punya lagi file updatenya ,apakah rekan2x masih ada yang menyimpan file update etab V.8 terbaru yaitu V8.57, klu ada tolong di email japri ke frans@saag-utama.co.id ,toong yah
terimakasih
arisa // 20 Februari 2008 pada 04:07 |
pak wir, saya mahasiswa teknik sipil ITS. Ada buku tentang perencanan pelabuhan ga ? seperti buku Technical Standard for Port and Harbour in Japan. klo ada tolong ditampilkan filenya. soalnya saya mencari cari buku itu di perpustakaan kok belum ketemu.
terima kasih sebelumnya.
Gr. // 28 Februari 2008 pada 06:00 |
Hello Pak wir, terima kasih atas sarannya waktu itu, sekarang saya sudah lulus dan telah di yudisium tgl 6 Februari kemarin. Tanggal 1 Maret ini saya akan di wisuda dan tanggal 3 Maret saya mulai kerja.
Terima kasih banyak pak atas nasehat dan masukannya yang sangat berarti bagi saya.
Gr.
Cun // 1 Maret 2008 pada 17:28 |
Salam kenal Pak Wir,
Saya termasuk penggemar Pak Wir nih. Karena 2 buku pertama Pak Wir sudah saya baca lumayan lama.
Setelah mempelajarinya saya tidak menjumpai pembahasan ttg sebaran stress pada elemen shell atau plat. Mungkin di buku edisi ke 2 Aplikasi SAP (?).
Setelah mempelajari Problem S (kalo tidak salah) pada menu help SAP versi 9, ttg profil WF yang berlubang pada web, saya ingin memodelkan sambungan span WF ke tiang WF seperti pada model portal talang tinggi, kalo pernah mendengarnya.
Portal talang tinggi adalah model solusi agar talang pada portal cukup dalam untuk menampung air hujan limpahan dari atap, dimana span WF disambung ke tiang WF yang relatif pendek ( kurang dari 1 mtr) kemudian tiang WF pendek ini disambungkan ke tiang WF utama, dalam posisi yang sejajar, flange WF pendek berimpit dgn flange tiang utama.
Di sini saya kesulitan memodelkan flange yang berimpit karena tidak tahu bagaimana menentukan restraint pada pd flange tsb.
Mohon pencerahannya. Terima kasih sebelumnya.
wir // 1 Maret 2008 pada 17:47 |
sdr Cun,
Memang di Edisi Terbaru saya membahas sedikit tentang pemakaian element SHELL, sebagai introduction aja. Tapi lumayan untuk memperlihatkan bahwa strategi penyelesaian dengan element Frame dan element Shell beda, yaitu adanya persyaratan konvergensi.
Bahwa jumlah element, atau kehalusan penempatan elemen Shell menentukan ketelitian hasil.
Selanjutnya melihat menu dan fasilitas yang ada pada program tersebut maka rasanya program SAP2000 hanya cocok untuk analisis struktur secara makro, dan bukan mikro (detail).
Kalau masih ngotot untuk mendapat solusi mikro, cobalah pakai program ABAQUS atau ANSYS, disitu interprestasi tegangan dan regangan yang terjadi akan sangat-sangat canggih.
Analisis mikro cenderung menampilkan output dalam bentuk tegangan dan regangan , tetapi analisis makro cenderung menampilkan gaya dan displacement.
Kalau melihat kasus anda, silahkan analisis dengan makro pakai SAP2000, lalu dari gaya-gaya yang dihasilkan bisa dicheck tegangan dengan cara mekanika bahan. Toh kondisinya elastis aja khan.
wi2n // 24 Maret 2008 pada 17:33 |
salam kenal pak Wir…
wuih..setelah saya baca dari A-Z tentang pak Wir saya jadi terkesima..mungkin agak terlambat bagi saya untuk mengenal pak Wir.. tapi masih lebih baik kan daripada tidak sama sekali? he he he…
Saya mahasiswi PTS di jkt yang sedang bingung dalam menyusun skripsi S-1 saya..niatnya saya mau menulis tentang analisis dan desain balok beton prategang pada rangka portal dengan cara “klasik” dan dengan SAP..tapiiii, saya gak bisa pake SAP untuk menghitung balok beton prategangnya..
saya sudah cari kemana-mana buku SAP yang berisi tentang perhitungan beton prategang tapi gak ada.. cuma ada di buku-nya “pak Wir” tapi saya masih bingung..
tolong pak bantu saya.. saya pake SAP2000 V.11 (bajakan).. menurut bapak, terlalu “canggih” ga kalo saya ambil tema itu untuk skripsi S-1 saya ?? karena saya ga mau terlalu nekat, nanti kejebak ! sama seperti kasus Gr. saya cuma tau covernya aja.. jadi,bisa tolong jelaskan step-by-stepnya pak?
Saya jadi nyesel ga ikut seminar SAP-nya padahal kampus saya diundang..(bukan penyesalan namanya kalo datang duluan.. hehe) maaf ya pak baru kenal tapi udah banyak permintaan…
saya sangat berterima kasih jika bapak berkenan merespon…
wir // 24 Maret 2008 pada 21:14 |
sdr Wi2n (wiwin ?)
tentang
untuk level S1, o ya bagus, nggak apa-apa!
Saya baru aja selesai mbimbing seorang mahasiswa saya, Budi, untuk nulis tema seperti itu (udah lulus sih, dapet A). Lumayan, dapat pengetahuan baru yang belum aku masukkan di buku karanganku. Yah untuk buku edisi baru nanti.
Apa itu ?
Ada dua hal pokok, bahwa :
1. Pada rangka portal, keberadaan kolom juga dapat menyerap gaya prategang, jadi proses stressing dipengaruhi. Kalau kolomnya kaku, bisa-bisa gaya stressing tidak lari ke balok, tetapi ke kolom. Nggak efisien.
2. Pengaruh beda dimensi pada balok menerus, juga berpengaruh. Ingat pemodelan anda tentang balok adalah pakai elemen 1 D, jadi beda tinggi suatu balok tidak terlihat, apakah rata atas, atau segaris pada sumbu netralnya atau apa gitu, padahalan posisi tendon ditentukan oleh jaraknya terhadap grs netralnya. Jadi perlu trik khusus agar perilaku stressing sesuai nature-nya.
Jadi banyak variabel yang dapat dibahas dalam penelitian tersebut.
Jadi jika di bukuku yang tebalnya 500 halaman saja anda masih bingung, lalu bagaimana anda bisa memahami yang baru saya ceritain di atas. Sebaiknya diskusi dulu dengan pembimbing anda, kira-kira beliau ok tidak.
Menarik sih, menarik, apalagi digabung dengan “as load” atau “as element” yang telah saya ceritain ke Gr di UNPAR itu.
Ingat, menarik itu bagi sebagian orang, bagi yang lain itu bisa jadi sumber stress.
b4dda // 25 Maret 2008 pada 13:51 |
Salam kenal pak..
Saya seorang karyawan disebuah perusahaan pengembang. Saya selalu ingin mengembangkan kemampuan saya dalam memahami SAP2000, yang saya pergunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dalam pekerjaan.
Saya tertarik untuk membeli buku sap2000 versi baru, akhirnya bisa mendapatkannya di Gramedia MetMall, setelah saya susah payah cari-cari dibeberapa toko Gramedia.
ngudiyono // 28 Maret 2008 pada 03:49 |
Yth Mas Wir,
Mas saya tertarik dengan program ABAQUS 6.5, bagaimana cara dapatkanya ya mas, kalau beli berapa harganya? dari beberapa artikel yang sy baca program tsb bisa untuk memodelkan tulangan dalam beton. Kalau SAP kayaknya belum bisa? bisa ngak mas balasnya ke email sy aja, ngudiyono@gmail.com
thank infonya ya mas
suhaimi // 1 April 2008 pada 10:03 |
Yth pak wir
saya ingin bertanya bagaimana cara memodelkan elemen link di sap2000? thanks
dimas // 4 April 2008 pada 07:53 |
Yth pak wir..
saya S-1 teknik sipil. saya pengemar buku2 karangan anda.. buku anda”Aplikasi Rekayasa Konstruksi Dengan SAP 2000″ sangat membantu saya dalam penyelesaian SKRIPSI saya tahun 2005.
Sekarang saya telah bekerja di salah satu perusahaan kontraktor di batam. walaupun agak terlambat, saya akhirnya menemukan blog bapak, yang isinya sangat berguna bagi komunitas sarjana teknik.
dan tentunya kita bisa saling berbagi informasi di blog ini.
terima kasih.
khairil // 6 April 2008 pada 15:32 |
YTh Pak Wir.
Terima kasih buat tutorial SAP nya.
tibin // 21 April 2008 pada 12:40 |
yth.
pak wiryanto
pak saya kesulitan dengan sap pada cara memasukkan data bahannya, misal pake beton mutu. k275 ,kalo pake satuan N/m, terus tulangan utama pake mutu 32, sengkangnya mutu 24, pada
berapa yang harus saya isi pada materialnya? Fc, Fy dan lain lain, trus kalo pake satuan Kg/m berapa pak? mohon bantuannya,
deni // 21 April 2008 pada 13:23 |
DH Pak Wir,
Salut berat sama blogsnya Pak Wir, jadi pusat informasi dan komunikasinya para CE nih pantesnya….
Pak saya mau tanya, mudah2an Pak Wir Gak keberatan….
Saya pernah dengar tentang pondasi sistem jaring laba2….
Sama gak ya pak kalo saya coba modeling dengan menggunakan Tie beam tinggi, dengan kombinasi suspended slab, dan tanah yang ada di dalam web( jaring laba2) itu saya asumsikan spring area untuk memberi tambahan daya dukung tanah pada slab yang connect dengan tie beam….
kebetulan saya pernah lihat satu proyek yang menggunakan sistem tersebut…saya agak lupa namanya, tapi kalo gak salah tu Pak Sucipto ya penemunya….(maaf..dan koreksi kalo saya salah..ya pak)
dan yang saya lihat sistem tersebut menggunakan beam tinggi (untuk tie beam) dan ditengahnya diisi tanah dan kemudian dicompact….
yang ada dalam pikiran saya apakah tanah tersebut akan dikondisikan menjadi slab dengan ketebalan asumsi setinggi tie beam tersebut ya pak?
mohon penjelasannya ya Pak Wir…atau Bapak2 yang lain…
maklum saya hanya berandai2 saja…dan saya takut hayalan saya ini menyalahi pakem2 CE
BR
trisno // 11 Mei 2008 pada 16:25 |
Yth. Pak Wiryanto
Mohon bantuannya Pak.
saya sedang belajar software ansys di bidang contact mechanics. Dimana saya bisa mendapatkan mendownload tutorialnya, buku2nya ato yg berhubungan dg itu yang lengkap. saya sangat mengharapkan infonya jika Bapak tahu.
terima kasih
wi2n // 13 Mei 2008 pada 04:42 |
sebelumnya trima kasih atas penjelasan bapak waktu itu…maaf telat!hehehe…
tapi saya mau tanya lagi…di buku bapak (contoh soal hal. 233) dijelaskan bahwa data penampang tidak berpengaruh terhadap desain balok prategang (masing2 b’diri sendiri), sementara pada perhitungan manual (sumber:buku Edward G. Nawy), data penampang berpengaruh besar terhadap perhitungan desain balok prategang..
saya jadi bingung.
padahal dalam TA ini saya ingin membuat simulasi dengan berbagai perubahan data penampang dengan bantuan SAP yang kemudian akan saya bandingkan dengan perhitungan manual yag sudah saya kerjakan dalam format excel…
selain itu,bagaimana menampilkan tegangan serat atas (ft) dan bawah (fb) penampang melintang jika menggunakan SAP ? mohon penjelasannya pak..
trima kasih banyak…
bambang rahmantyo // 13 Mei 2008 pada 06:57 |
pak wir.
perkenalkan saya adalah mahasiswa arsitektur semester 6 di semarang. saya sedang mengerjakan tugas sebuah bank 2 lantai.dan saya ingin melakukan pengujian apakah konstruksi saya itu tahan gempa atau tidak.
pertanyaan saya :
1. software apakah yang paling mudah untuk menganalisa hal tersebut? apakah SAP2000?
2. apakah SAP2000 dapat menampilkan hasil analisa secara grafis? jika tidak apakah ada software yang bisa menganalisa struktur secara grafis? (kalau bisa motion) sehingga nantinya saya mudah untuk mempresentasikannya.
*dosen saya agak ngeyel mengenai struktur, jadi harus bener2 diyakinkan hehe*
merna surani // 17 Mei 2008 pada 06:54 |
Yth. Pak Wiryanto, salam kenal..
Saya ada pertanyaan mengenai PC..
Dalam mendesain balok prestress,biasanya saya pakai software lain selain SAP..
Jika saya ingin memodelkan bangunan 3D (RC) di SAP dimana hanya terdapat satu elemen balok saja yang merupakan balok prategang, apa saja yang perlu saya ‘assign’ di balok tersebut agar perilakunya menjadi seperti ‘balok prategang’?
Yang saya tahu, beban imbang hasil desain PC saya, harus saya ‘assign’ ke balok tersebut,namun selain itu,apa ada hal2 lain (beban lain? seperti momen akibat beban sekunder?atau momen akibat beban balance?mana yang harus saya inputkan, dan apakah stiffness modifier PC sama dengan RC?)
Lalu mengenai elastic shortening pada kolom akibat PC, bagaimana mengaplikasikannya dan menganalisisnya di software SAP?
Terima kasih sebelumnya Pak Wir…
Bila teman2 lain ada yang bersedia sharing n membantu saya mencari jawabannya, saya ucapkan terima kasih yang sedalam2nya…
=>
wi2n // 27 Mei 2008 pada 08:22 |
kalo gitu,SAP versi berapa donk pak yang sudah bisa digunakan untuk menganalisis sekaligus mendesain balok prategang..terima kasih pak
eia, kalo ada temen-temen lain yang bisa membantu saya, saya ucapkan terima kasih..
boyfirman // 27 Mei 2008 pada 19:36 |
Pak Wir..
perkenalkan saya mahasiswa Teknik Pertanian Universitas Syiah Kuala Aceh, yang sekarang sedang menyelesaikan Tugas Akhir, kebetulan saya mengambil TA (Tugas Akhir) mengenai “Analisa Tegangan dengan menggunakan Finite Element Method dibantu dengan Software Ansys 9.0″, dengan pembimbing Utama Dosen dari Teknik Mesin.
Sebenarnya tidak ada masalah dalam menjalankan program Ansys tersebut, hanya saja yang membuat saya kebingungan adalah saya harus bisa membuktikan bahwa apa yang saya jalankan dengan program Ansys harus sama hasilnya dengan perhitungan manual yang saya kerjakan dengan (hitungan tangan), tetapi dalam kenyataannya sampai sekarang ini saya belum bisa membuktikan dengan benar dan sesuai hasilnya selalu beda pangkat sampai 2 digit, nah yang ingin saya tanyakan kepada bapak adalah :
1. Bagaimana cara saya untuk mengetahui parameter apa digunakan di ansys, karena di ansys, user hanya diminta untuk memasukkan angka-angka saja tanpa kita tahu satuan apa yang digunakan, sehingga jujur saja sedikit menyulitkan saya untuk membuktikan paramater yang saya gunakan adalah sudah benar.
Sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak atas bantuan bapak, maaf pak kalau pada kasus saya agak berbeda sedikit dengan Topik bapak.
afif // 10 Juni 2008 pada 03:16 |
slam kenal mas wir,.,
mau tanya nie mas boleh g??,gmna contoh perencanaan angkur untuk jembatan gantung??
roy // 14 Juni 2008 pada 02:25 |
Salam Pak Wir..
Pak saya mahasiswa magister teknik sipil di Jakarta. Saya sudah beberapa kali melihat halaman ini, isinya sedikit banyak dapat membantu sekali bagi teman-teman teknik sipil. LAngsung deh ke pokoknya… hee.hee… Saya sudah beberapa kali n muter – muter cari program Ansys for finite element untuk pendukung laporan saya mengenai keretakan pada balok post tension namun sampai sekarang tidak dapat. Mungkin Pak Wir bisa bantu kasih info saya mendapatkan program tersebut.
terima kasih banyak sebelumnya PAk Wir.
Yoga // 23 Juni 2008 pada 07:41 |
Yth.
Pak. Wiryanto
Mohon penjelasan pak, jika saya akan memodelkan struktur baja dari file *.dxf aotucad berbentuk lingkaran kemudian saya import ke SAP 2000, pertanyaannya jika model struktur kita berbentuk lengkung (memiliki radius) hasil import SAP hasilnya dalam bagian terpisah pisah sehingga dan membentuk utuh kesatuan bentuk lengkung, jika dibandingkan dengan buku bapak SAP 2000 Bab.4.5.3 dalam pemodelannya kubah gedung bundar memiliki R 2500 bpk bagi per 5 mtr menjadi 3 segmen, kemudian jointnya dibresing, bagaimana seandainya kita buat lengkung R nya dibuat seperti apa adanya apakah nilai gaya dalam (TEKAN/TARIK) akan sama pak ?
kemudian Saya ingin bertanya masalah balok prismatik pak, jika saya menggunakan SAP 2000 v.9.03 keatas ada menu insertion point pada perintah Assigan/Frame-cable/insertion point. jika kita buat balok kantilever bentuk prismatik seperti bentuk Bab 4.2.4 anggap bentang 5 mtr tetapi tidak dimodelkan Diskrit dimodelkan seperti aslinya memakai insertion poin, apakah akan berpengaruh nilai gaya dalamnya, trima kasih.
Nasyiin Fq // 27 Juni 2008 pada 08:55 |
Salam kenal pak.
Saya dosen teknik sipil di Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo, ingin tanya :
1. Bagaimana cara mengetahui momen maksimum dalam satu bangunan gedung bertingkat (5) secara cepat.
2. Apa yang dimaksud dengan P, Vu pada hasil output sap 2000.
3. Mohon dijelaskan output yang keluar bila kita klik details (yang muncul gambar penampang kolom / balok), karena saya belum pernah mendapatkan buku yang mengulasnya.
Trim, maaf pertanyaan saya cukup mendasar.
Nasyiin Fq
faqihn@yahoo.co.id
Handi // 1 Juli 2008 pada 03:48 |
Pak Kalau saya mau beli SAP2000 yang asli, dimana ya Pak?
dian arif // 3 Juli 2008 pada 02:05 |
Yth Pak Wir…
Saya mau tanya apa buku bapak yang terbaru tentang SAP2000 sudah diterbitkan??apa buku itu juga diedarkan di wilayah sumatra??
Mengingat saya sekarang berdomisili di Aceh
Terima kasih atas jawaban bapak…
Ario Hidayat // 25 Juli 2008 pada 12:14 |
salam kenal Pak Wir..
Saya Ario dari UNPAR, saat ini saya sedang skripsi dengan bimbingan dari pak Djoni (mudah2an bapak kenal)…
skripsi saya menggunakan program Tekla Structures 14..terus terang saya belum familiar dengan program ini pak, saya lebih familiar dengan ETABS & SAP…
saya mau tanya pak, secara garis besar apa beda tekla dengan etabs ??….
oiya pak, apa bapak punya file pdf tutorial tekla 14 ?? kalau ada mohon bantuannya pak…
Terima Kasih Pak Wir….
s // 24 Agustus 2008 pada 07:09 |
Bagaimana cara mengetahui besarnya lendutan pada analisis sebuah balok?
analisis tsb menggunakan SAP 2000 versi 9
terimakasih …
widyantoro // 25 Agustus 2008 pada 05:27 |
Dengan hormat,
Pak mau tanya nih, kata teman dimensi balok beton itu tingginya 1/12 bentang. Mohon informasi berapa ukuran lebar baloknya dan bagaimana pembesiannya? Selain itu bagaimana memperkirakan dimensi kuda-kuda beton (balok datar/miring dan balok tegak) dan pembesiannya serta perletakkannya pada ring balk? Mohon contoh untuk bentang 9m dan 6m ya Pak sebab saya awam sekali untuk hal ini.
Terima kasih sebelumnya.
Hormat saya,
Widyantoro
widyantoro // 26 Agustus 2008 pada 05:12 |
Terima kasih Pak.
yoyo // 8 September 2008 pada 23:35 |
makasih pak .. semoga dipuasa ini menjadikan amal bagi bapak..
Haris // 26 Oktober 2008 pada 16:19 |
Salam kenal Pak Wir…..
ada yang mau saya tanyakan, berhubung saya belum sempat membeli buku sap 2000 di gramedia bandung karena stok sedang kosong dan saya masih pemula di program sap ini.
Pertanyaan saya adalah bagaimana cara input beban angin pada struktur 3D gedung bertingkat? apakah harus membuat dinding atau input beban anginnya hanya di frame saja. mohon bantuannya, terima kasih
ferry // 29 Oktober 2008 pada 07:34 |
pak wir
saya mahasiswa tehnik sipil. pak saya mau mengdownload sap 2000 version student kok nggak bisa ya pak ! tolong kasih tahu ya pak, please?
junaidi // 5 November 2008 pada 00:12 |
salam kenal pak wir,
kapan bapak nulis buku lagi, soalnya saya sangat terbantu dengan buku-buku karangan bapak (saya dah koleksi empat buah buku bapak), menurut saya sih bapak punya dedikasi yang tinggi dalam memajukan “keteknik-sipilan” di Indonesia, hmmm….
Willyam // 1 Desember 2008 pada 15:36 |
Halouw Pak Wir….!
)
Boleh nanya lagi nggak….? (Boleh dong…
Begini pak Wir, kebetulan saya tertarik dengan pembahasan pada bagian 3.5.5 Memanfaatkan sifat simetri struktur (Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP 2000 Edisi baru)
Yang menjadi pertanyaan saya :
Bagaimana mereduksi portal 3D (antisimetri geometrisnya-beban simetri) menjadi portal 2D? contoh kasusnya seperti bagian 4.5.2 (di buku yang sama) namun beban t’bagi rata pada batang 1 dan 2….
Plz……..
Adhynk // 7 Desember 2008 pada 14:55 |
Salam kenal Pak Wir! Pak Saya mau tanya, kenapa ya, setelah instal SAP2000 V.9, tidak bisa jalan! Errornya pada Sapgo.dll
anton // 23 Desember 2008 pada 02:20 |
Pak punya sap2000 v12. Saya lagi fokus disain jembatan pak.
Terima kasih
Slamet W Liono // 5 Januari 2009 pada 11:23 |
Baru search di google eh nemu blog nya pounya Bapak. BAGUS BANGETS materinya.Jadi pengen belajar SAP juga nih. Pak saya ini sebenernya lulusan Arsitek cuma pengen nambah wawasan aja untuk program SAP ini. kira2 kalau untuk saya (Arsitek) bisa mengoprasikan program SAP ini tidak ya. Dulu pelajaran Mekanika teknik cuma sampai semester 2 aja. he…he.. Kantor saya sih biasanya menggunakan konsultan struktur dari luar negeri, sekedar pengen tahu aja sih. Mungkin Bapak bisa liat website saya. proyek2 tersebut kalau saya liat dari gambar mereka faktor aman nya tinggi bangets (saya liat dari gambar tulangannya) yang larinya ke Harga bangunan yang tinggi. Apa di SAP ini ada ketentuan faktor aman yang bisa diatur?
SAP ini apabila di gunakan tiap orang
Makasih pak atas jawabannya.
Nb: Maaf Pak tulisana di Blog bapak sulit. kurang Nyaman he..he.. Mungkin maksud Bapak biar lebih hati2 bacanya ya pak.
Salam Hormat
Slamet
Slamet W Liono // 5 Januari 2009 pada 11:27 |
maaf web nya yang bener ini pak.
http://www.liono-architects.co.cc
disitu ada samujana Villa di thailand sepertinya Si engineer menghitung menggunakan SAP juga.
Salam,
wir // 5 Januari 2009 pada 12:22 |
@Widyantoro dan Yoyo : trims kembali
@Haris
Input beban angin tergantung model yang diambil. Umumnya untuk bangunan gedung, modelnya cukup sebagai struktur rangka (yaitu memakai element 1D dan tidak memakai element 2D seperti Shell), jika demikian maka bebannya diberikan pada rangka tersebut.
@Ferry
jika quota di BOX.net habis (tiap bulang hanya dijatah 1 Gb) maka anda tidak bisa. Quota cepat habis karena kelihatannya link-nya di copy habis oleh teman lain yang males nulis, bisanya copy and paste aja. Maklum fasilitasnya cari yang gratisan.
@Junaidi
Ya, tangan saya juga gatal untuk menulis lagi. Bantu beri semangat dan ingatkan dalam doa anda juga ya, biar saya bisa berkarya lagi untuk anda.
@Willyam
Konsep simetri, memang agak pelik. Saya tidak terlalu banyak mendalaminya. Saya sarankan anda bikin riset kecil-kecil, mulailah dari model yang sederhana, pakai prinsip trial-and-error. Software sekarang khan mudah memasukkan datanya khan. Bandingkan antara model penuh dan reduksi dengan prinsip simetri atau antisimetri, bikin kesimpulan sendiri. Wah kalau berhasil bahkan bisa di-sharing-kan di sini lho.
@Adhynk dan anton : program-program tersebut nggak punya.
@Slamet W. Liono
Program SAP2000 dan sebangsaya tidak sama dengan program AutoCAD atau sejenisnya. Karena apa yang diproses adalah bukan struktur sebenarnya, tetapi hanya model.
Jika anda dapat mengintreprestasikan hasil model yang related dengan struktur sebenarnya maka anda bisa menggunakan program SAP2000 tersebut.
Di jurusan teknik sipil, kita belajar banyak sekali mekanika teknik, fungsinya adalah untuk memahami berbagai macam struktur dan modelnya, sehingga secara tidak sadar kita (insinyur sipil) diberi pemahaman atau hubungan antara struktur sebenarnya dan model, sehingga dapat memanfaatkan dengan baik di perencanaan struktur.
Interprestasi arsitek dan sipil, meskipun menghadapi suatu bangunan yang sama, bisa berbeda. Jadijika itu terjadi, maka saya kuatir anda menginterprestasikan hasil program SAP2000 seperti itul pula.
Mubarak // 12 Januari 2009 pada 04:53 |
Pak, terima kasih atas dibukanya situs ini. situs ini sangat membantu kami yang awan di bidang sap ini.
Pak, saya mau nanya bagaimana cara mendownload tutorial( audio-vidio) sap 2000 dari pabrikan sendiri seperti yang ada situs csiberkeley.com.
Kalau ada cara lain untuk mendownloadnya tolong di kasi tahu ya pak.
Trims
Adhynk // 31 Januari 2009 pada 02:55 |
Pak, Saya mau tanya, Apakah bisa beban gempa dan beban angin secara otomatis dihitung SAP2000? Bagaimana Caranya?
Andre // 7 Februari 2009 pada 04:17 |
Pak Wir, kok setelah men-download semua file yang dari Box, saps.bat-nya ga jalan?Filenya yang error atau bagaiamana?
terimakasih
Yuda Nubie // 8 Februari 2009 pada 11:32 |
Syalom P.Wir..
Bapak punya link untuk download software SAFE tidak?
Saya memerlukannya untuk menghitung pelat datar (Flat Plat) karena saya bingung jika memodelkannya menggunakan SAP 2000 mengingat pada Flate Plate, plate sebagai struktur bukan sebagai beban..
Mohon Replynya P Wir..
robert pramono // 5 Maret 2009 pada 06:10 |
syalom pak Wiryanto.
slama ini saya mamakai SAP 2000 ver 8.3.5
kalo saya hendak memakai material kayu pada program SAP2000,
berapa nilai spec kayu yang harus diisikan di define material, type materialnya harus saya pilih apa?
lalu pada preferencesnya saya harus mengacu pada apa? ato klo merubah preferencesnya berapa nilainya?
robert pramono // 5 Maret 2009 pada 06:11 |
syalom pak Wiryanto.
slama ini saya mamakai SAP 2000 ver 8.3.5
kalo saya hendak memakai material kayu (dengan aneka mutu dan kelas kayu) pada program SAP2000,
berapa nilai spec kayu yang harus diisikan di define material, type materialnya harus saya pilih apa?
lalu pada preferencesnya saya harus mengacu pada apa? ato klo merubah preferencesnya berapa nilainya?
maklum di tempat saya masih banyak memakai material kayu.
terimakasih sebelumnya atas responnya.
Donny B Tampubolon // 5 Maret 2009 pada 11:23 |
Dear Pa Robert Pramono,
Terima kasih atas pertanyaannya yang saya rasa sangat menarik untuk didiskusikan.
Khusus untuk material kayu, pengalaman saya, saya masih lebih suka untuk menghitungnya secara manual (hand calculation) dalam bentuk 2D berdasarkan PKKI 1967 dan buku kuliah “Konstruksi Kayu” yang disusun oleh seorang dosen senior UGM.
Dengan alasan, adalah (just my opinion) bahwa material kayu sebenarnya bukan material yang homogen (tidak seperti Baja dan Beton).
Material kayu ini unik karena sangat dipengaruhi oleh kondisi alam dimana tempat kayu itu berasal walaupun nama/jenis pohonnya sama ditambah ada hal2 yang yang tidak dipunyai material baja/beton yaitu adanya “mata kayu” yang mempengaruhi kekuatannya.
Oleh karena itu saya sungkan untuk menggunakan software untuk memodelisasikan bangunan kayu 2D/3D, apalagi menentukan nilai “define material” kayu tersebut.
Saya berharap opini dari rekan2 yang lain untuk mendiskusikan hal ini, saya rasa penting karena sebagian besar engineer Indonesia menemui kasus yang sama dengan yang dialami Bpk Robert Pramono.
Syallom…
wir // 5 Maret 2009 pada 12:18 |
@robert pramono and Donny B Tampubolon
Bolehlah saya ikut memberi masukan.
Berbicara tentang konstruksi real dan pemodelan untuk komputer maka perlu diingat bahwa keduanya adalah tidak sama.
Engineer-nya saja yang menganggapnya sama atau mirip, khususnya untuk memprediksi perilaku mekaniknya.
Untuk dapat dianggap sama, maka perlu dilihat batasan-batasannya, karena kadang-kadang bisa sangat mirip, tetapi kadang-kadang bisa berbeda jauh. Jadi selama kita bisa pintar-pintarnya mencocokkan antara batasan dalam pemakaian program dengan kondisi real-nya maka dapat diperoleh link-and-match antara keduanya. Orang awam melihat bahwa prediksi si engineer tepat. Pintar sekali itu engineernya.
Untuk bisa mengetahui tepat atau tidaknya, maka pemahaman mekanika bahan atau juga disebut mekanika tekniknya harus cukup baik.
Sebagai contoh, untuk struktur statis tertentu, dengan sistem sambungan yang relatif baik maka dapat diketahui bahwa parameter E (modulus elastis) tidak terlalu berpengaruh terhadap prediksi gaya-gaya pada batangnya. Jadi anda pakai E yang nggak terlalu pas, antara model dan real, maka itu tidak terlalu signifikan perbedaannya. Tetapi kalau untuk memprediksi lendutan, maka hati-hati, E punya pengaruh yang signifikan, juga slip pada sambungan (jika ada).
Sedangkan kalau statis tak tentu, maka parameter E selama seragam maka hasil gaya-gayanya juga tidak terlalu berbeda. Tetapi masalah bisa timbul karena statis tak tentu khan biasanya kontinyu, wah gimana itu kalau pakai sambungan kayu. Itu khan berarti sistem sambungannya harus baik.
Tentang analisis 3D, saya sarankan pemakaiannya hati-hati. Kalau untuk beton sih ok-ok, tetapi kalau baja dan kayu maka itu juga tergantung dari metode pelaksanaannya, juga ke-presisian dari sistem sambungan. Karena di baja ada toleransi pelaksanaan, maka bisa timbul stress konsentrasi. Kalau bajanya cukup daktail sih ok, tetapi jika tidak wah bisa-bisa fraktur.
robert pramono // 6 Maret 2009 pada 01:18 |
@Donny B Tampubolon & Wir
Terimakasih atas masukannya bapak bdua, masukan dari rekan2 lain jg masih saya harapkan. Mungkin pernah mengalami kasus ato pernah membuat konstruksi dari kayu tapi dihitung dng sap2000.
Kesimpulan sementara saya berarti define material untuk kayu di sap 2000 kurang disarankanya ya?
kalau pemodelan bentuk/struktur, materialnya dikerjakan dengan SAP hanya untuk memperoleh perilaku struktur dan analisa resultnya(misal gaya batangnya tarik ato tekan), kemudian untuk pendimensian profil dan sambungannya saya memakai hitungan manual sesuai PKKI 67 . kira-kira nanti aman ato tidak nya konstruksinya?
terimakasih sebelumnya atas responnya.
parhyang // 6 Maret 2009 pada 08:52 |
@topik: mat prop, kayu,beton,homogen
bahan dikategorikan homogen itu jika nilai E dan Nu pada 3 arah sumbunya (x,y,z ) sama, ini berpengaruh hanya pada analisa FE dengan element 2Dim or 3Dim. kalo yang dianalisa jenis truss atau balok/kolom khan jenis elemen 1Dim jadi hanya arah normal saja yang ditinjau, pengaruh homogen gimana ?? trus “beton” dapat dikategorikan “homogen” ya bener sih kalo meterialnya emang cuman beton, tapi kalo aplikasi struktur khan perlu pembesian jadi ata material baja tul Es dan Nu_s.
Sama aja ketika ngitung defleksi balok/pelat beton bertulang ada pengaruh nilai “n” perbandingan mod elastisitas baja dgn beton.
Material prop kayu dari lab itu kalo bener2 perlu, kayaknya dapet di praktikum Fisika Dasar.
Jadi menurut saya, penyederhanaan properties selama masih seragam ngga begitu beda signifikan hasilnya. Klo yg bakalan selisih besar dari hasil analisa jika dilakukan perbandingan real yaitu bakalan pada defleksi/deformasi bukan di internal force ‘coz equilibrium. kalo itu beda juga ya penyebabnya asumsi sambungan/tumpuan.
simplified isn’t always useless, thx.
putra // 26 Maret 2009 pada 06:17 |
salam kenal pak wir,
saya mahasiswa yang TA tentang menganalisis struktur gedung beton bertulang yang ada dengan SAP 2000,masih awam tapi biar belajar,salah satunya dari buku bapak.
yang ingin saya tanyakan pak,tentang pembuatan model struktur real ke SAP :
jika diketahui elevasi antar lantai misal= 4m,apakah pembuatan balok induk dan anak as-nya dipakai elevasi itu atau elevasi as balok induk?
atau menggunakan fasilitas inserted point untuk menggeser longitudinal axisnya ke bagian atas sehingga balok induk dan anak terletak sejajar dengan bagian atas balok pada elevasi 4m sesuai dengan kondisi gedungnya?karena dimensi balok juga beragam
saya coba ketiganya,hasilnya beda.yang benar mana ya pak?
apa ruang lingkup pemakaian inserted point? bingung dalam memakai sumbu as-nya pak.
mohon bantuannya,terima kasih.
wir // 10 Juli 2009 pada 02:56 |
@putra
ya seperti itulah pemodelan, yaitu suatu penyederhanaan suatu masalah kompleks menjadi sederhana sedemikian sehingga dapat dianalisis tetapi hasilnya tidak menyimpang jauh dari kenyataan (real).
Pada program vesi lama, biasanya diambil elevasi lantai sebagai as balok, dengan catatan bahwa lantainya sendiri tidak dimodelkan kalaupun mau cukup dianggap sebagai diagframa kaku saja. Selama ini pemodelan dengan cara ini sudah cukup memuaskan, kalaupun ada eksentristas maka dapat diatasi karena adanya lantai yang menyatukan lantai-lantai tersebut, selain itu beban yang dominan khan arahnya adalah gravitasi bukan lateral.
Pada program sap2000 versi baru, misal ver 11.0 memang ada inserted point, itu untuk menggeser posisi garis berat dan garis pada model. Jika memang diperlukan sekali pengaruh adanya eksentristas maka dapat juga dipakai. Tetapi kalau hanya sekedar pemodelan dengan frame (garis atau model 1D) mungkin tidak terlalu signifikan hasilnya. Kecuali jika anda akan memodelkan sekaligus lantainya dengan element 2D (misal element SHELL) dan element 1D (element Frame) sekaligus.
Maka misalnya akan membuat balok T, nah itu baru signifikan hasilnya kalau pakai inserted point.
Pada prinsipnya jika inserted point dapat digunakan dengan baik maka hasilnya konsisten koq. Ini saya baru meneliti pemakaian inserted point tadi untuk pemodelan balok dan lantai sekaligus. Ini moga-moga jadi buku SAP2000 berikutnya ya, tunggu dengan sabar.
surya // 5 April 2009 pada 11:05 |
kk g’ mau….???
padahal udah di ambil semua…
Agus // 13 April 2009 pada 15:27 |
Salam sejahtera Pak Wir,
Saya mahasiswa UGM yang sedang melakukan Tugas Akhir tentang pemodelan candi prambanan dengan menggunakan software SAP2000 versi 11.
Dalam pemodelannya saya menggunakan elemen solid untuk memodelkan batuannya dan frame untuk memodelkan perkuatan beton didalamnya… Saya ingin bertanya kepada Pak Wir, apakah ada perlakuan khusus untuk elemen solid dan frame yang digabung? Apakah perlu diberikan automesh untuk elemen solid dan frame? Mohon tanggapannya
Terima kasih sebelumnya.
aguskarsayudha // 15 April 2009 pada 13:58 |
Saya juga sedang mendalami program SAP 2000. Saya mengalami kesulitan dalam menguasainya dikarenakan tertinggal dan tidak mampu mengimbangi. Tapi saya harap dalam menyelesaikan suatu tugas, saya mampu menyelesaikannya. I hope, i will success….
rudy // 13 Mei 2009 pada 03:28 |
selamat siang pak…..
salam kenal !
saya sedang mencari informasi seputar pemakaian gable frame untuk struktur beton bertulang ataupun baja..apakah analisa perhitungannya bisa juga menggunakan SAP 2000..
Terima Kasih Pak…..
Jimmy // 19 Mei 2009 pada 00:41 |
Selamat pagi pak…
Salam kenal Pak Wir…
Saya mahasiswa yang sedang melakukan analisis gedung 5 lantai yang memiliki irregularity plan dengan menggunakan SAP 2000. Gedung yang saya analisis menggunakan pondasi berupa pondasi matfooting. Dalam pemodelan geometrinya saya menggunakan SAP 2000 versi 7 kemudian saya buka di SAP versi 11. Ada perbedaan pada hasil analisisnya yaitu pada momen balok sloof (pada lokasi pondasi matfooting), sedangkan pada momen balok lantai yang lainnya sama nilainya. Pada balok sloof tersebut perbedaan yang saya peroleh yaitu pada SAP 2000 versi 7 momen yang terjadi ada yang bernilai positif dan negatif, sedangkan pada hasil analisis SAP 2000 versi 11 momen yang terjadi pada balok sloof tersebut bernilai negatif semua. Pertanyaan yang ingin saya sampaikan adalah apakah ada perbedaan asumsi pada SAP 2000 versi 7 dengan versi 11 mengenai balok sloof yang langsung menempel ke tanah atau apakah ada sesuatu yang error pada saat data dari SAP 2000 versi 7 dibuka di SAP 2000 versi 11.
Mohon Tanggapannya dan sebelumnya saya ucapkan Terimakasih.
misbach // 11 Juni 2009 pada 05:46 |
perkenalkan nama saya misbach, mahasiswa semester menengah tehnik sipil
kemarin saya dapat tugas dari dosen untuk menghitung analisis bangunan dengan sap2000
bangunan awalnya dirancang 3 lantai dan sudah dihitung dengan sap2000, kemudian saya diminta untuk menganalisa/menghitung kembali dengan menambahkan 1 lantai sedang saya cuman dibekali hasil cetak sap2000 dengan hasil 3 lantai, karena saya masih awam dengan sap2000 mohon bantuan kepada rekan2 atau moderator untuk membantu saya gmana cara memulainya q dah beli banyak buku tapi gak bisa(mungkin gak ngerti caranya), atas bantuannya saya sampiakan terimakasih
Marthin A Panjaitan // 10 Juli 2009 pada 02:32 |
PAK WIR TOLONG BANU SAYA MENCARIKAN JIS/ JAPAN INTERNASIONAL STANDARD TENTANG WORKING-STRESS DESIGN. TUGAS AKHIR AKU ME-REDISIGN BANGUNAN BERSTANDARKAN JIS 2006 KE SNI 2002. AKU GA DAPAT2 JISNYA. TOLONG BANTU PAK WIR.
MARTHIN A PANJAITAN
USU
Ira // 7 Agustus 2009 pada 02:14 |
Saya seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di sumatera barat…
Mohon bantuan bapak.. saya punya program Sap 2000 versi 7.4 dan versi 8.. kalau ditanya mana yang mudah dipahami untuk mengajar lebih mudah sap versi 7.4.. tapi saya kesulitan menginstalnya(selalu ga’ jalan), tapi kalau versi 8 gampang banget menginstalnya.. Mohon bantuan bapak gmn cara menginstall yang benar, kalau bisa dikirim juga via email saya.. trimakasih..
wir // 11 Agustus 2009 pada 13:28 |
Buku saya memakai SAP2000 ver 7.4 Student Version.
Program ada pada CD-nya.
Masalahnya adalah bahwa buku tersebut sudah lama habis. Moga-moga di perpustakaan ada.
Selama anda tahu positip dan negatif program tersebut maka ver 7.4 atau ver 8.0 rasanya tidak ada masalah. Tetapi karena ver 8.0 sudah banyak yang meng-introdusir non-linier system maka pemakaiannya harus hati-hati. Tentang hal itu sebenarnya saya sudah bercerita banyak di buku saya tersebut, ada juga makalah seminar di ITS. Silahkan lihat di daftar publikasi.
agus // 16 Agustus 2009 pada 22:37 |
pak kalau sap yang untuk mac book, machintosh ada tidak???
susah cari di rentalan sulit bgt…
tolong ya pak…
wir // 18 Agustus 2009 pada 12:54 |
kalau SAP2000 belum pernah dengar itu pak, yang bisa untuk mac. Maklum pemakai PC.
obun // 17 Agustus 2009 pada 09:09 |
Virtual PC maksudnya?
wir // 18 Agustus 2009 pada 12:39 |
Tergantung konteksnya, umumnya di bidang structural engineering lebih familiar dengan istilah simulasi numerik.
iqbal // 20 Agustus 2009 pada 10:17 |
pak wir, ada yang ingin saya tanyakan, klo di sap2000 versi 11 apabila kta ingin mendefinisikan frame sebagai sway ordinary sebelum melakukan design bagaimana pak caranya?
untuk versi 7.4 sudah anda jelaskan di buku pak wir, tpi karena sedang memakai versi 11, malah tidak tahu dimana opsi tersebut..
Untuk v.11 yang saya tahu hanya melalui opsi overwrite setelah melakukan design…
trima kasih…
robert pramono // 15 September 2009 pada 14:22 |
salam sejahtera pak Wir,
2 bulan terakhir ini banyak sekali rekanan yang menawarkan produk baja ringan untuk kontruksi atap. Ada yang menyertakan cara perhitungan dengan software khususnya, ada juga yang yang sekedar mencontoh dari model rangka baja ringan yang sudah dan masih terpasang.
sebenarnya apakah SAP 2000 bisa dipergunakan untuk menghitung konstruksi rangka atap baja ringan? mengingat profil baja ringan yang sedemikian tipisnya.
saya lihat mulai sap2000 versi 8 ada material properties CLDFRame. apakah ini cocok untuk memasukkan material propertis untuk material baja ringan? mengingat proses pabrikasi dari profil2 baja ringan juga cold frame .
saya cari2 dan tanya2 temen di BSN SNI untuk meterial baja ringan ini lum ada. apakah preferences di SAP2000 yang bisa dipergunakan untuk melihat hasil analysis dari material dari baja ringan?
Mohon tanggapannya dan sebelumnya saya ucapkan Terimakasih.
Sugeng Waluyo // 30 September 2009 pada 03:28 |
Untuk Pak Wir dan rekan-rekan yang tertarik untuk berdiskusi masalah finite element (FEM) secara umum (tidak hanya untuk sipil) bisa mendaftar ke :http://groups.yahoo.com/group/FEM_Struktur_Material
Selama 6 tahun belum pernah saya temui hasil perhitungan dengan FEM yang valid, jika hanya dikerjakan oleh satu orang tanpa diskusi. Permasalahan yang “rawan” umumnya menyangkut kondisi batas dan pembebanan.
Didalamnya saya sertakan solver FEM open source yang saya bikin sendiri (Ababil). Masih terbatas pada truss dan beam element (shear deformable) dengan nodal load dan constraint untuk sembarang orientasi pada ruang 3D. Validasi terbatas sudah saya lakukan dengan Nastran dan hasilnya nyaris sama (hanya beda 0.001% – kemungkinan akibat numerical treatment).
Solver tersebut dapat dijadikan pendukung materi kuliah dan tugas akhir atau skripsi S1.
Sugeng Waluyo
DI // 13 Oktober 2009 pada 06:53 |
terimakasi untuk semuanya
koerniawan // 16 Oktober 2009 pada 14:35 |
Pak wir, saya sedang mendesign bangunan pabrik 2 lantai dengan bentang 60m (lantai atas untuk mesin dan lantai bawah untuk gudang) dan menggunakan konstruksi baja dengan atap metal. Jarak melintang antar kolom adalah 10m dan jarak memanjang antar kolom adalah 6m. Yang mau saya tanyakan kepada pak Wir adalah
a. Cara menghitung panjang tekuk rafter tegak lurus sumbu kuat dan lemah.
b. Dengan adanya dinding di sekeliling bangunan, apakah bisa dianggap portal tidak bergoyang?
c. Untuk menghitung panjang tekuk kolom tegak lurus sumbu kuat, saya pakai chart dengan Ga=10 (sendi) dan Gb=(I/l-rafter)/(I/h-kolom). apa benar? atau cukup diasumsikan sendi-jepit bebas?
d. Struktur menggunakan pondasi tiang pancang @ 3bh/kolom, apakah masing-masing pile cap itu harus saling berhubungan satu dengan lainnya via sloef? ataukah sloef hanya dipasang di sekeliling bangunan aja? bolehkah lantai beton di lantai dasar itu dianggap sebagai pengikat pondasi tiang pancang?.
makasih pak Wir, ditunggu jawabannya.
salam
koernaiwan
wir // 16 Oktober 2009 pada 23:14 |
@Koerniawan
item a dan c perlu dilihat konfigurasi model strukturnya. Saya khawatir salah menerjemahkan uraian anda, seperti misalnya anda menyebutkan bentang 60 m, tetapi dibawahnya ada jarak melintang kolom 10 m dan memanjang 6 m. Bingung.
item b, dinding pada umumnya dianggap sebagai non-struktur, element pengisi, tetap diperlukan bracing yang secara khusus direncanakan untuk memikul gaya horizontal jika dianggap sebagai portal tidak bergoyang, tentunya tidak bergoyangnya searah dengan penempatan bracing tsb.
pemakaian balok sloef tergantung pemodelan kolom, apakah sendi atau jepit. Selanjutnya check pondasinya terhadap gaya lateral atau momen yang timbul dari kolom tersebut, terhadap berbagai kombinasi pembebanan.
Dengan persyaratan tadi dan biasa untuk low-rise building, apalagi tiap kolom terdiri dari tiga pile maka penempatan sloef cukup pada sekeliling bangunan saja.
koerniawan // 18 Oktober 2009 pada 14:01 |
Pak Wir,
Maksud saya adalah lebar bangunan itu 60m dan untuk lantai dasar, jarak antar kolom 10m (jadi ada 7 kolom baja) dan untuk lantai atas, jarak antar kolom 30m (ada 3 kolom baja).
Sedangkan jarak antar portal arah memanjang adalah 6m. Rafter membentuk sudut kemiringan 9 derajad. Pemodelan sendi, bukan jepit.
Mudah2an sekarang cukup jelas, dan mohon jawabannya untuk point a dan c.
untuk (b), penempatan bracing terbaik itu dimana? cukup pada trave awal dan akhir aja atau bagaimana?. Selain kekakuan dan kekuatan bracing yg mencukupi, apakah ada ketentuan lain agar portal memanjang itu tidak bergoyang?
apa besaran simpangan portal hasil analisa itu menentukan juga bergoyang tidaknya suatu portal?.
makasih atas bantuannya, pak. GBU
koerniawan
ARCHLINK-bimbingan belajar GRATIS teknik sipil satu-satunya di Sumatera Utara - ITM - FORUM // 23 Oktober 2009 pada 14:07 |
[...] untuk kepentingan non komersil atau pendidikan, hasil men-download di internet dengan alamat : SAP2000 ver 7.40 student version The works of Wiryanto Dewobroto **bagi para peserta yg memenuhi kelayakan akan diberikan bimbingan serta pelatihan GRATIS untuk [...]
suyunus // 4 November 2009 pada 03:56 |
Selamat siang pak Wir
perkenalkan nama saya Suyunus Mahasiswa smtr 7 teknik mesin. saya mau tanya pak, kemarin saya mendownload Sap2000 dari situs bapak, setelah saya ekstrak (sprti langkah yang pakWir kemukakan ) dan saya instal , dipertengahan penginstalan ada perintah untuk memasukkan CD drive . Tolong kasih petunjuk apa yang harus saya lakukan untuk menginstal Sap2000.
Terima kasih.