LRFD Design Example for Steel Girder Superstructure Bridge
A Comprehensive Design Example for a Steel Girder Bridge with Commentary
by Michael Baker Jr., Inc., November 2003
FHWA / National Highway Institute , Washington, DC - SI Units
Purpose
The purpose of this this book is to provide a basic design example for a steel girder bridge as an informational tool for the practicing bridge engineer. The example is also aimed at assisting the bridge engineer with the transition from Load Factor Design (LFD) to Load and Resistance Factor Design (LRFD).
AASHTO References
For uniformity and simplicity, this design example is based on the AASHTO LRFD Bridge Design Specifications (Second Edition, 1998, including interims for 1999 through 2002). References to the AASHTO LRFD Bridge Design Specifications are included throughout the design example. AASHTO references are presented in a dedicated column in the right margin of each page, immediately adjacent to the corresponding design procedure.
Detailed Outline of Steel Girder Design Example
1. General
2. Concrete Deck Design
3. Steel Girder Design
4. Bolted Field Splice Design
5. Miscellaneous Steel Design
6. Bearing Design
7. Abutment and Wingwall Design
8. Pier Design
9. Miscellaneous Design
10. Special Provisions and Cost Estimate
P. Pile Foundation Design
Total 698 halaman (down-load PDF 3,070 kb)






101 tanggapan so far ↓
Hendrik Wijaya // Desember 24, 2006 pada 11:51 am
makasih pak.
saya akan coba pelajari sama yang lainnya..
nb:untuk yang journal vol 29, ga bisa di downlod, “tulisan download pdf” seperti bukan link.
wir // Desember 24, 2006 pada 1:12 pm
Trim infonya. Link sudah diperbaiki.
badaruddin // Januari 24, 2007 pada 12:42 pm
Terimaksaih pak, atas sharing informasinya.. tentunya hal ini sangat berguna bagi para structural & civil engineer
chintya priambodo // Januari 28, 2007 pada 5:26 am
Pak, saya mau tanya apakan SNI 03-2847-2002 bisa diunduh, kalau bisa dialamat mana?, dan saya mau tahu judul judul buku beton terbitan indonesia yang mengacu pada SNI 03-2847-2002 (selain buku Aplikasi Rekayasa Konstruksi dng Visual Basic 6.0 punya bapak),,TERIMA KASIH
wir // Januari 28, 2007 pada 7:35 am
Ini saya punya surat dari Sidney ttg SNI tsb :
Meskipun judulnya berbeda, tetapi kira-kira problemnya sama dng anda, jadi belum ada tempat untuk mengunduh.
Atau ada teman yang bisa membantu ?
O ya tentang buku beton , saya jadi ingat. Prof Rahmat Purwono dari ITS pada tahun 2005 saat lokakarya pembelajaran mekanika dan struktur beton sekaligus launching buku beliau ttg Struktur Beton. Pada waktu itu buku diberikan gratis kepada para peserta. Trim ya Prof.
Saya nggak tahu apa buku beliau ada di pasaran / toko buku pada umumnya.
badaruddin // Januari 30, 2007 pada 12:27 pm
Mas Wir, sepertinya saya punya e-file dari SNI 03-1726-2002, sepertinya filenya cukup gede juga, btw gimana caranya biar bisa disharing keteman-teman ya.
wir // Januari 30, 2007 pada 12:35 pm
Wah bagus Mas, kalau begitu anda up-load aja di tempat sharing file gratis di http://www.box.net lalu ikuti petunjuk disana untuk perintah share hingga dapat link untuk down-load tersebut. Lalu anda tinggal tuliskan alamat link tersebut untuk teman-teman yg mau down-load
alde // Maret 25, 2007 pada 11:26 am
Pak Wir, saya mahasiswa teknik sipil semester akhir, sedang TA dengan ngambil tema perencanaan jembatan busur rangka baja.
Saya mo nanya klo untuk mendesain kelengkungan rangka baja itu ada rumusnya ga ? Saat ini saya masih kekurangan literatur tentang design of arch bridges. klo yg ada di steel hand’s book itu ga ada contoh perhitungannya. mungkin pak Wir punya literatur yang saya cari.
Trimakasih sebelumnya.
wir // Maret 25, 2007 pada 2:24 pm
sdr Alde,
dari bukunya M.S Troitsky yaitu “Planning and Design of Bridges”, John Wiley, 1994 , juga tidak membahas secara detail perhitungan tentang arch-bridges tersebut. Pembahasan lebih ditekankan pada falsafah perencanaannya, misal:
- mengapa dipilih arch-bridges dan bukan type yang lain.
- arch bridges dipilih utk mengubah momen lentur menjadi gaya aksial
- bagaimana pengaruh struktur statis tertentu (pelengkung tiga sendi) dengan struktur tak-tentu (pelengkung dua sendi atau jepit-jepit) khususnya terhadap pengaruh thermal (selisih panas), differential settlement
- perlunya diperhatikan gaya aksial dalam arah miring (ada komponen vertikal dan horizontal) pada pondasinya.
Jika filosofi perencanaan dipahami maka rasanya perhitungannya nggak beda antara struktur satu dan lainnya. Bedanya untuk jembatan adalah adanya beban bergerak , apakah hal tersebut mengakibatkan beban berubah tanda (bisa tarik atau tekan).
O ya, perlu diperhatikan untuk baja, karena arch adalah dominan pada gaya tekan maka perlu diperhatikan bahaya tekuk.
gitu dulu mas.
Yoga Marta A // Maret 27, 2007 pada 4:39 am
Pak Wiryanto
Trim kasih atas penjelasan kemarin, saya Yoga di Lampung, menemukan sedikit kendala dalam pendesainan pada ETAB dan SAP, kenapa pak ya alasan analisisnya, jika saya mendesain gedung 3D dimana pelat langsung saya modelkan ke balok gedung mempunyai perbedaan analisis dengan saya menginput beban kombinasi pelat+mati+hidup menjadi beban garis atau trapesium.
Apa memang ada perbedaan sistem pembacaan antara SAP dan ETAB, menurut sumber yang saya dapat untuk SAP menggunakan sistem Finite Elemen sedangkan ETAB kebalikannya.
Apa pendapat bapak jika saya memodelkan pelat lantai langsung dan me MESH lantai menjadi beberapa bagian sesuai bentuk modul pelat lantai, kemudian jika menggunakan analisis Dynamic antara beban garis dan pembebanan langsung pada plat lantai mempunyai nilai cukup jauh juga ya pak. Mohon komentar nya pak.
Oh ya pak kemarin saya pernah membaca tentang peraturan pembebanan untuk Stadion Olahraga jika tidak merepotkan mohon saya bisa mendapatkannya, karena saya mendapat perencanaan Stadion pak.
Akhirnya tanpa mengurangi rasa hormat pak, bisa tidak e-mail contoh desain gedung beton dengan analisis dynamis menggunakan respon spectrum, murni ini untuk bahan belajar saya, maklum pak saya baru l3 tahun lulus kuliah dan perlu banyak pengalaman.
wir // Maret 27, 2007 pada 12:56 pm
**SAP sistem Finite Element sedangkan ETAB kebalikannya**
Apa itu kebalikannya, sumbernya siapa. Saya juga baru tahu lho ?!
Bahkan saya mau tahu juga, apa sih kebalikannya dari Finite Element. Menarik juga. Tapi hati-hati kalau sumbernya lesan (bukan tertulis), nggak bisa dipertanggung-jawabkan. Kalau ada referensi pustakanya, mohon saya diberi tahu, untuk belajar lagi.
Setahu saya, prinsip program SAP2000 dan ETABS adalah sama-sama finite element. Hanya interface / sistem pemasukan data, dll yang satu diarahkan pada general purpose structural analysis program sedangkan yang satu diarahkan ke 3d structural analysis for building. Jadi kalau gedung tinggi maka ETABS-lhah rajanya, tetapi untuk struktur jembatan atau industri (yg tak beraturan) maka SAP2000 lhah programnya. Yah, pokoknya ada kelebihan masing-masing, nggak bisa dibandingkan, pintar-pintarnya kita memakainya.
Me-mesh lantai. Ini biasanya teman-teman yang ingin otomatis saja. Perhatikan user manualnya, apa yang dimaksud dengan me-mesh.
Pengertian umum me-mesh adalah menempatkan element, jika lantai maka element yang dimaksud adalah element PLATE. Apa benar demikian. Jika benar maka itu memerlukan d.o.f untuk menganalisanya dan itu menghabiskan sumber daya komputer (bahkan kalau sembarangan bisa bikin komputer hang)
Tapi kalau me-mesh hanya sekedar strategi cara memasukkan data pada lantai, jadi bukan memasukkan element PLATE atau bahkan Element SHELL maka jelas anda harus memahami aturan yang dipakai program untuk memasukkan pembebanan tersebut.
Jadi memahami prinsip kerja dari program tersebut penting sekali. Wong program tersebut sebenarnya hanya akal-akalan dari sipemrogram. Jangan langsung percaya, bisa salah juga lho. Soal ini saya bahas secara khusus di Bab 8 dari buku saya yang terbaru http://wiryanto.wordpress.com/2007/03/20/karya-ilmiah-utama-ke-4-april-2007/ .
Prinsip utama, pokoknya program itu dapat kita kendalikan koq. Bahkan kalau perlu dapat dibuat akal-akalan. Jangan terlalu percaya program lha, tergantung siapa yang pakai.
Utk stadion khan udah ada di http://wiryanto.wordpress.com/2007/01/31/sharing-knowledge/ saya nggak punya versi PDF-nya.
**contoh desain gedung beton dengan analisis dynamis **
saya belum punya, ada teman yang punya ? Bantu dong mas Yoga ini.
Yoga Marta A // Maret 29, 2007 pada 9:11 am
Trima kasih Pak Wiryanto atas penjelasannya, mengenai sistem Finete n Infenete Element pada SAP dan ETAB saya dapat dari keterangannya dari dosen waktu kuliah dulu, untuk lebih jelasnya saya akan menanyakan lagi oleh Dosen saya, maaf salah tulis kemarin saya baru lulus 3 tahun pak, trimakasih file sistem pembebanan untuk stadion, sudah saya download, ini lagi siap-siap untuk desainnya.
Kemudian ada referensi tentang baja ringan tidak pak, saya tidak tahu lebih jelas tentang karakteristik material nya seperti BJ nya, Fy, Fu, dll.
Pak Wir untuk buku terbarunya bisa On time gak minggu 3 saya lagi tunggu ni di Lampung, rasa penasaran terus banyak pertanyaan ni.
Di UPH ada S2 Struktur tidak ada rencana ngelanjut ni. Thak’s
Ary // Maret 29, 2007 pada 9:32 am
Weh… bagi bagi code nih ya…
Salam kenal pak wir…
saya anak buahnya pak katili juga lo..
mungkin pernah ketemu.
aku udah punya pdf IBC2006 AASHTO2005, ACI2005, Eurocode Steel etc, mau..
caranya gampang cari ketik kita mau + rapidshare
contoh UBC97 rapidshare
sayang nih lagi sibuk bikin jembatan dan geoteknik pake finite element, nggak sempet lagi ngulik fortrannya pcfeap.
wir // Maret 29, 2007 pada 10:22 am
**Yoga Marta**
Riset disertasi saya ttg baja ringan, data literatur luar cukup banyak, untuk lokal koq belum ngumpulin. Kelihatannya yang pasaran yang dominan dari Lysagt - Australia.
Untuk buku kayaknya tepat waktu, penerbit udah ngirimin SPK , ttd lalu akan dikirim royalty. Kalau begitu mestinya nggak ada masalah di teknisnya. Nanti bantu promosiin ya di Lampung. O ya, jika anda punya calon pembeli banyak nanti tak usahain dapat fasilitas diskon dari penulis. Hanya harus ambil sendiri , he, he.
**Ari**
Wah ternyata banyak teman-teman yang punya CODE bagus.
Trims ya.
Kemarin juga dapet IBC 2003 dari mas Donny yang di upload di Megaupload, tapi waktu didownload koq masih error. Nanti coba lagi.
Moga-moga sharing referensi berguna bagi rekan-rekan yang lain.
**lagi sibuk bikin jembatan dan geoteknik pake finite element**
Pakai program FE mas Ary, saya sedang belajar ABAQUS, ada yang bisa bantu diskusi nggak ya.
Ary // April 5, 2007 pada 12:28 pm
Ya saya bisa Abaqus..
pake Abaqus/CAE atau FEMAP?
PAke FEMaP aja lebih gampang? terus ditransfer ke abaqus.
Mau pake abaqus untuk apa? geoteknik atau structure? dynamic /static/non linear dynamic / non linear static ? hyper elastic ?
dua tahun pak yuskar baru sewa saya buat tes ledakan di pltg..
non linear dynamic tapi pake msc nastran. soalnya yang bisa non linear dynamic
cuma sedikit…
diskusi aja sama saya via email.. saya udah 2 tahun nggak pegang pegang.
terakhir malah pegang Fluent CFD untuk tes aerodinamik jembatan.
Ary // April 5, 2007 pada 12:32 pm
eh.. alamat urlku salah…
nih udah bener…
kenal pak gun nggak?
wir // April 5, 2007 pada 1:26 pm
He, he, makasih mas Ari, aku juga baru lihat homepage anda, wah hebat. Program-programnya itu dapetnya dr mana. M2M ya ?
Aku dulu sering main ke tempatnya pak Gun, juga sering ketemu Yoshia, itu dulu sebelum Yoshia ke Munich. Sekarang jarang, o iya kemarin ketika UI ngadain seminar di Hotel Borobudur juga ketemu.
FEMAP sama SOLID WORKS bagus (gampang) mana. O ya, punya manual Abaqus yang PDF nggak. Adanya yg on-line.
Catatan : Code yang di rapid share nggak bisa di down-load
RK // April 21, 2007 pada 12:33 pm
Can anybody please the url to download Roark’s Formulas for Stress and Strain ebook. File from all suggested rapid-share link is deleted.
Regards
RK
Ary // April 23, 2007 pada 6:54 am
Solid Works itu untuk memodelkan solid saja, meshing terbatas.
kalo anda bisa femap maka anda bisa bakal menguasai ansys, abaqus, nastran.
karena dengan femap anda bisa memodelkan, sebagai pre dan post prosesor program program finite elemen terkenal.
Skripsi saya dulu waktu S1 bikin FEAP-UI pre post dengan FEMAP, jadi dengan 1 model FEMAP, hasilnya bisa dicompare dengan FEAP, dan program FEA canggih: ABAQUS, ANSYS, NASTRAN, COSMOS, CAEFEM, ALGOR.
Hasil testing element FEAP-UI pak katili dengan porting FEMAP saya masuk jurnal HAKI tahun 2001-2.
itu web belon saya update update… entar deh..
kebanyakan kerjaan bikin botak.
Sekarang FEAPPV sudah saya buat mendukung FEMAP.
Ary // April 23, 2007 pada 6:58 am
Abaqus PDF ? nggak ada pak, saya punyanya Nastran pdf full termasuk MARC.
tapi kalo Abaqus emang dari sononya gitu. Versi Abaqus versi lama saya ada dalam bentuk lebih compact seperti pdf ? mau ?
wir // April 23, 2007 pada 11:15 am
Boleh mas Ary,
Omong-omong menurut anda Abaqus dan Ansys bagus mana sih, juga Nastran.
mirz@ // April 27, 2007 pada 9:14 am
Dear Pak wir,
salam kenal Pak wir,
wah ternyata ada blok yang sekeren ini….sangat bermanfaat..
pak saya lihat blok ini semuanya kebanyakan berisi tentang upper structure…
apa bapak punya referensi yang membahas tentang pondasi ??
wir // April 27, 2007 pada 9:36 am
Salam kenal juga,

Pondasi sudah lama nggak megang mas, milih yang upper-str yang gampang-gampang dan yang pasti aja dulu mas. Biar lebih fokus. Jadi referensinya juga nggak ngumpulin, terlalu banyak makalah jadi pusing sendiri bahkan bisa lupa naruhnya dimana.
Ary // April 27, 2007 pada 12:57 pm
Abaqus itu bikinan eropa, biasa berbelit belit…tapi disukai di University mungkin karena lebih murah.. karena abaqus/cae berbasis x-windows, maka memang terasa agak lamban untuk pre /post nya. karena berbelit belit makanya kayanya nggak semua kemampuan abaqus disupport femap. Kemampuan Abaqus yang mungkin adalah kemampuan explicitnya. Abaqus/CAE baru muncul di seri 6. seri 5 masih membutuhkan x-windows exceed persis seperti fluent. Untuk menjalankan proses analisa non linear dynamic sangat rumit mirip MARC bikinan eropa yang kemudian dibeli MSC.
Anehnya waktu kemaren nguji 20-an program finite element pake NASFEMS hasilnya kok aneh eigen valuenya sama seperti MARC.
Ansys adalah program dari Amerika, menyenangkan karena dari awalnya (sejak seri 5.4 saya pake pre / post dari awal dan sepertinya emang diporting ke masing masing tipe OS dari awal seperti Linux dan Windows. Sehingga pre/postnya sangat cepat. Dengan pre/post yang dibundel ini maka Ansys mampu melakakukan RE-MESH !!! dengan otomatis. tidak seperti yang lain yang pre/postnya terpisah. Ansys merupakan program meshing terbaik karena mampu melakukan meshing sangat artistik, dan mampu melakukan re-meshing pada lokasi yang kita tentukan, triangle tetap triangle, kotak tetap kotak. Tidak ada yang mampu me remesh sebaik Ansys yang telah dibekali error-estimator. Kemampuannya yang lengkap apalagi setelah membeli hampir semua CFD program : FLUENT, CFX membuat Ansys sangat sangat powerful disemua lini, dynamic, static, non-linear, sampai aerodinamik.
NASTRAN merupakan program NASA, program ini kemudian dikembangkan oleh MI Nastran, NE Nastran, MSC Nastran, dan terakhir NX Nastran yang sebenarnya adalah kayanya versi MSC Nastran lama yang disulap. Nastran seperti awalnya Abaqus tanpa mempunyai pre/post. Adapun pre post yang kemudian mensupport adalah MSC Patran, FEMAP sendiri (yang kemudian menjual juga dalam bentuk bundel MSC Nastran for Windows). Setelah lama diabaikan MSC yang membundel Patran sebagai Nastran for Windows, akibatnya FEMAP membuat baru dengan nama NX Nastran setelah sempat mengeluarkan FEMAP Structural. MSC Nastran merupakan Nastran yang terdepan diikuti NE Nastran. Kemampuannya yang lengkap minus CFD (baru saja mengikat dengan Blue Ridge). Non linearnya bandel, dan non-linear dynamicnya mantap. Namun karena codenya inputnya,outputnya berupa blocky blocky mirip FORTRAN, bingung membacanya apalagi kalau ada kegagalan numerik, wajib menggunakan PRe/POST jika baru belajar.
Sekarang mau pake untuk apa dulu? pak wir..
Saya rekomendasikan Ansys dulu, baru Nastran baru Abaqus…
Sendy // April 27, 2007 pada 4:44 pm
Hallo lagi Pak Wir,
Hallo Ary,
salam kenal.
***Abaqus itu bikinan Eropa, biasa berbelit belit…tapi disukai di University mungkin karena lebih murah..***
Yang saya tahu untuk running job analysis di Abaqus users butuh 4-5 tokens. Harga total untuk 6 tokes untuk Univ Network License (tanpa technical support) is about 3000 Euro per tahun. Dengan 6 tokens, hanya satu users yang bisa memakai. Then, I would say unbelievable … too expensive for me. The worst thing is when there is a ‘real’ bug found by us (academics, researcher) and reported to them (in Providence, Rhode Island, US) to ask for advices, they won’t give any advices (cause the university pay only for the software and license, not the support). Then, what I know is that the bug is already gone in the next new version (my experience with version 6.3 to 6.5).
****Untuk menjalankan proses analisa non linear dynamic sangat rumit mirip MARC bikinan Eropa yang kemudian dibeli MSC.****
Sekedar informasi, menurut http://www.abaqus.com/about/history.html yang membuat MARC ada juga pencetus Abaqus. Jadi mungkin wajar kalau sama-sama rumit (he..he..).
****Dengan pre/post yang dibundel ini maka Ansys mampu melakukan RE-MESH !!! dengan otomatis.****
Inilah masalah yang aku hadapi di Abaqus 6.3 (untuk yang ver 6.6 saya tidak tahu). Remeshing di Abaqus, especially yang Abaqus/Standard, memang lemah. Untuk Abaqus/Explicit, saya tidak tahu.
Regards.
wir // April 27, 2007 pada 10:34 pm
Wah kalau begitu ANSYS perlu dipelajari dong, juga dengan FEMAP.

Keduanya ada nggak ya di m2m ?
Inilah Indonesia. He, he, he
Jeffry // April 28, 2007 pada 4:11 pm
terima kasih untuk sharing knowledge dari bapak.
tapi saya juga tertarik mengenai infrastruktur, terutama mengenai perbaikan tanah terutama di lahan gambut, apakah bapak punya saran untuk saya
Sendy // April 29, 2007 pada 8:15 am
Pak Wir,
apa itu m2m ??
wir // April 29, 2007 pada 10:27 am
m2m = mangga dua mal,
Ini baru saja dari sana, dapet : Femap 9.0.1 ; Autodesk Revit Structure 2 ; Ansys Multiphysics 10, Workbench v10.0 ; Solid Edge V18.0
tapi itu hanya untuk belajar lho mas, bukan untuk komersil / proyek gitu.
Ary // April 30, 2007 pada 7:09 am
Salam buat mas Sendy
He he coba cangkok ilmu XFEM (eXtended Finite Element Methods) dari Profesor saya di Nantes, Nicolas Moes. Dia membuat suatu finite element yang mampu memodelkan diskontinuitas dengan memasukkan suatu fungsi diskontinu ke dalam shape function. Jadinya untuk fracture, material bolong bolong mampu dihitung tanpa melakukan remesh.. tapi rumit banget kalo mau cangkok di abaqus.
Ary // April 30, 2007 pada 11:06 am
MARC juga mampu memberikan re-mesh otomatis seperti Ansys untuk proses FORGING dan fracture melalui MSC Mentat lho.
Sendy // April 30, 2007 pada 12:13 pm
Hallo Ary,
**** Dia membuat suatu finite element yang mampu memodelkan diskontinuitas dengan memasukkan suatu fungsi diskontinu ke dalam shape function. ****
Seperti men-simulasikan crack by Dolbow. Memang cukup menarik untuk dibaca. Thanks buat infonya.
regards.
Ary // April 30, 2007 pada 1:05 pm
Dolbow itu temennya
FARIED // Mei 2, 2007 pada 1:25 pm
Salut pak
BErto // Mei 12, 2007 pada 12:14 am
saya mahasiswa S1 UGM ingin mencari referensi untuk pembangunan reservoir air bersih dengan menggunakan beban gempa respon spectrum maupun static equivalen..
Ukuran reservoir yang saya rancang 6×6x2,5 meter
terima kasih
Michael // Juni 2, 2007 pada 11:59 am
Pak Wir, saya alumni S1 & S2 UNPAR bandung, jurusan arsitektur, mau minta tolong nich. Sekarang banyak digunakan untuk pelat lantai beton yang rata, tanpa kelihatan balok, hanya kolom dan pelat lantai saja (misal gedung burj dubai, atau jembatan pasupati,dll). Dulu ketika saya belajar, tidak pernah digunakan cara seperti ini, yang diajarkan hanya perhitungan balok, semisal ukuran balok 1/12 bentang, dll. Bisa minta tolong Pak. bagaimana menghitung pelat lantai beton yang rata secara sederhana, bahan2 yang digunakan seperti apa (seperti besi, mutu beton K-berapa?, dll), & bagaimana sistim joint-nya, atau ada aturan khusus mengenai ini. Terima kasih atas bantuannya. Hormat saya.
wir // Juni 2, 2007 pada 12:29 pm
Itu namanya flat-plate atau flat-slab.
Untuk perhitungannya, dipersilahkan untuk merujuk buku-buku teks untuk struktur beton bertulang, misalnya :
“Reinforced Concrete: Mechanic and Design” karangan James Mac Gregor, yang diterbitkan Prentice-Hall International.
bisa juga ACI Code, silahkan down-load di http://wiryanto.wordpress.com/2007/04/23/aci-318-02-dan-aci-318r-02-lengkap/
Perpustakaan UNPAR ada koq.
imam // Juni 2, 2007 pada 3:28 pm
terima kasih, atas infonya pak..
ril // Juni 2, 2007 pada 7:45 pm
salam kenal pak wir..
saya mahasiswa dari makassar saya pengen cari buku atau semcam tutorial bahan belajar teknik sipil terutama masalah transportasi yang lengkap, ada nda referensi anda yang lengkap,tolong yah kalu bisa beserta contoh kasus
makasih sebelumnya
wir // Juni 2, 2007 pada 9:53 pm
salam kenal juga ril.
Kalau transportasi kayaknya nggak koleksi tuh. Pokoknya yang di sini (blog ini) hanya yang sesuai peminatan saya aja lho. Lupa-lupa ingat, coba anda surfing web saya yang lama, kayaknya ada link-link yang menarik untuk bidang transportasi.
Michael // Juni 3, 2007 pada 1:11 pm
Terima kasih banyak Pak Wir atas informasinya
othep // Juni 6, 2007 pada 11:27 am
maswir… punya AASHTO code buat bridge design gak? saya rada bingung belajar ttg contoh jembatannya… thx berat pak wir…
wir // Juni 6, 2007 pada 11:41 am
versi PDF-nya belum ada.
othep // Juni 6, 2007 pada 12:59 pm
pak wir… referensi donk… buku ttg design jembatan yg mengacu pd aashto… kalo nggak pada peraturan indonesia jg gpp… thx
badaruddin // Juni 7, 2007 pada 3:07 am
Untuk referensi design jembatan, bisa download pada alamat website berikut http://www.dot.ca.gov/hq/esc/techpubs/manual/bridgemanuals/bridge-design-practice/bdp.html
salam
badar
CHRIS // Juni 12, 2007 pada 2:00 pm
PA, KALAU PROGRAM SANSPRO menurut Bapak Bagaimana? Trims
CHRIS // Juni 12, 2007 pada 2:01 pm
Pa boleh tahu komentar Bapak tentang Program SANSPRO? trims GBU
wir // Juni 12, 2007 pada 2:04 pm
Itu programnya pak Nathan yang bikin. Kelihatannya nggak mau kalah koq dengan program SAP2000.
sony // Juni 12, 2007 pada 6:47 pm
pak wir saya mahasiswa teknik sipil saya mau tanya apakah SAP 2000 bisa menghitung bangunan SRPMM dan SRPMK kalo ada tolong kasih tau contohnya? trims
wir // Juni 13, 2007 pada 1:13 am
Mestinya bisa ya. Semua sistem struktur rangka kayaknya bisa sih di analisis pakai SAP2000. Yang penting strategi pemodelannya. Itu yang susah.
Tapi contohnya saya nggak punya tuh, coba aja kirimkan bangunan (sistem struktur) yang dimaksud, kalau memang menarik untuk dibahas, siapa tahu nanti saya sertakan pada edisi buku saya yang selanjutnya. Tapi kayaknya nggak dalam waktu dekat ini.
Inra // Juni 13, 2007 pada 10:46 am
Salam Pak Wir,
Apa Kabar Bos?
Ada link Tambahan nih Pak
http://www.dot.ca.gov/hq/esc/techpubs/manual/othermanual/other-engin-manual/
Hick itu hasil coba - coba
http://www.dot.ca.gov/hq/esc/techpubs/manual/bridgemanuals/bridge-design-practice/bdp.html
Selamat Membaca
wir // Juni 13, 2007 pada 10:54 am
Trims ya, tapi sebaiknya diberi komentar atau review dong. Jadi informasi yang disampaikan itu akan lebih bernilai.
Terlalu banyak informasi itu bukannya bertambah baik lho, semakin banyak informasi akan semakin bingung milihnya.
Syad // Juni 14, 2007 pada 4:37 am
wah…sepertinya ada blog yg menarik buat anak-anak sipil
untungnya bisa ketemu
thanks pak Wir atas blog nya banyak membantu
Mas Sony,
Bisa tolong dijelaskan mengenai itung-itungan SRPMM ato SRPMK??
Soalnya setahu saya klo tidak salah, untuk kedua kasus di atas lebih konsetrasi ke daktilitas struktur.
Maap klo salah, soalnya baru blajar juga
Julianto // Juni 18, 2007 pada 12:47 pm
Thanks banget mas Wir atas adanya website ini. Hal ini sangat membantu dalam mencari referensi atau literatur teknik sipil.
Mas Wir saya sedang menyelesaikan skripsi perencanaan gedung tahan gempa menggunakan SRPMB. Di tempat saya tinggal Pontianak Kalbar menurut peraturan lama tidak ada gempa namun sejak SNI 1726 2002 mensyaratkan adanya peninjauan gempa.
Mas Wir apakah wajib mendesain gedung tahan gempa walaupun di daerah intensitas terkecil sekalipun seperti Kalimantan Barat?
Mas Wir ada tidak literatur atau pdf yang memuat cara pendesainan bangunan tahan gempa sesuai dengan SNI terbaru? Saya cuma ada SNI terbaru dan buku Prof. Rahmat Purwono dari ITS. apakah ada literatur selain itu?
Mas Wir saya mau tanya bagaimana cara input data eksentritas rencana di SAP dan ETABS?
Thanks banget Mas Wir atas perhatiannya. GBU
wir // Juni 18, 2007 pada 1:28 pm
**walaupun di daerah intensitas terkecil sekalipun**
Intensitas kecil khan dulu, siapa tahu kalau ada data baru bahwa resiko meningkat.
Yang jelas dengan direncanakan terhadap gempa, maka secara otomatis bangunan tersebut juga relatif tahan terhadap beban-beban tak terduga lain. Misalnya tsunami, angin dan juga bisa aja bom.
Jadi jelas peraturan baru berusaha mengurangi resiko terhadap bahaya kerusakan yang timbulnya semakin tidak menentuk dewasa ini.
Literatur desain bangunan berdasarkan SNI. Yah memang buku seperti itu jarang ada di sini, karena engineer sendiri yang jarang mau menulis, kalaupun mau maka tulisannya tidak menarik sehingga tidak ada yang membaca, karena jarang yang mau membaca maka penerbit juga males (takut rugi). Jadi kayak lingkaran setan gitu.
Omong-omong sudah membaca buku-buku saya belum. Baca dan juga beli. Jika nanti buku laris khan ada penerbit yang mau nerbitin lagi, siapa tahu nanti saya berkesempatan nulis buku yang dimaksud.
**Eksentrisitas rencana**
Pertama-tama aktifkan constraint lantai diagframa. Etabs sdh secara otomatis aktif, kalau SAP harus diaktikan dengan option constraint.
Kemudian, untuk analisa dinamik pada massanya yang diubah, kalau statik ekivalent pada beban lateralnya.
Alimur Puserbumi // Juni 26, 2007 pada 10:36 am
Salah hormat,
Mas Wir…
Saya sedang menyusun Tugas Akhir tentang perbandingan pelat lantai beton prategang dan pelat lantai beton bertulang (flat slab dengan drop panel) dengan bekisting menggunakan steel deck. Saat ini saya kesulitan dalam perhitungan perencanaan pelat lantai dengan beton prategang, apakah Mas Wir punya refferensi (format .pdf) untuk perhitungan pelat lantai flat slab beton prategang, karena dari berbagai refferensi yang saya dapat, tidak ada perhitungan pelat lantai flat slab beton prategang (perhitungan menggunakan metode DDM). Bagaimana Mas Wir… Mohon bantuannya!!!
Donny B Tampubolon // Juni 27, 2007 pada 5:41 am
Boleh iktutan nimbrung Pa Wir ?
“perbandingan pelat lantai beton prategang (red : pelat+balok konvensional dengan prategang atau pelat datar dengan Prategang?) dan pelat lantai beton bertulang flat slab dengan drop panel dengan BEKISTING (red : kok ada tulisan bekisting?) menggunakan steel deck”.
Ini perencanaan bekisting pelat atau perencanaan pelat ??
Pemilihan sistem Flat slab dan sistem pelat Prategang, disesuaikan dengan kebutuhannya :
1. Sistem Flat Slab biasanya digunakan karena tinggi antar lantainya cukup dekat/rendah sehingga tidak memungkinkan adanya balok.
2. Sistem Prategang digunakan untuk struktur yang jarak antar kolomnya cukup jauh/panjang. Bayangkan jika dengan sistem konvensional, pasti baloknya tinggi sekali dan sangat berat. akibatnya kolom dan pondasinya besar pula. Umumnya bila mempunyai bentang > 12 meter.
nb : Steel deck biasanya digunakan untuk menggantikan tulangan pelat dan mengurangi kebutuhan bekisting pelat lantai.
Mungkin ada yang mau koreksi pendapat saya, dipersilahkan…
Syallom..
noel // Juni 28, 2007 pada 8:36 am
Maaf mengganggu Pak Wir,
Kalau boleh saya nanya lagi.
Saya sedang melaksanakan tugas akhir tentang analisis jembatan kereta api dengan metode lrfd.
Apa ada situs atau file pdf mengenai Lrfd bridge design specification yang terbaru pak?
Klo juga boleh mengenai peraturan2 apa saja yang digunakan oleh PT. KA untuk merancang jembatan yang sudah ada.
Terima Kasih atas waktunya Pak.
Gbu
wir // Juni 28, 2007 pada 8:53 am
Untuk jembatan KA belum punya Noel !
noel // Juni 29, 2007 pada 3:08 pm
Aduh ga ada referensinya yah Pak?
Gpp deh, “the show must go on”
Makasih yah Pak. Sukses selalu.
Gbu
Maschun Arvianto // Juli 12, 2007 pada 9:56 am
terima kasih karena berkat situs ini sangat membantu saya dalam memperluas wawasan saya dalam dunia Teknik Sipil
RIO // Juli 14, 2007 pada 4:56 am
Pak makasih ya, akhirnya aku dapat situs yg benar-benar kubutuhkan, maklumlah pak di tengah hutan gak ada toko buku.
Alimur Puserbumi // Juli 14, 2007 pada 4:02 pm
Salam kenal sebelumnya untuk Bung Doni B Tampubolon yang udah meluangkan waktunya untuk memberi saran kepada saya.
1. Yang saya rencanakan adalah pelat lantai beton bertulang “flat slab dengan drop panel tanpa balok interior (hanya balok tepi)” dan pelat lantai beton prategang “flat slab dengan drop panel tanpa balok interior”.
2. Saya setuju dengan Bung Doni, kalau steel deck mengurangi penggunaan baja tulangan pada pelat lantai, yang saya ingin tanyakan bagaimana perhitungan penulangannya jika menggunakan steel deck, apa sih yang berubahnya.
3. Apakah Bung Doni atau Mas Wir punya refferensi (format pdf) untuk membantu saya, misalnya contoh perhitungan….
Makasih banyak………..
Jaya Teknik Sipil………..
wir // Juli 14, 2007 pada 4:20 pm
sdr Alimur,
menambahi masukan dari mas Donny.
Pemakaian steel-deck untuk lantai flat-slab mohon diperhatikan karena bisa saja perilaku lantai flat-slab tersebut tidak lagi two-way-slab tetapi jadi one-way-slab.
Umumnya steel-deck dipakai pada lantai one-way-slab, dimana reaksi steel-deck diterima balok.
Referensi perhitungan flat-slab dengan pretensioning dapat dilihat pada
Michael P. Collins and Denis Mitchell .(1991). “Prestressed Concrete Structures”, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey
Sayangnya saya punyanya hard-copy.
Alimur Puserbumi // Juli 14, 2007 pada 4:47 pm
Makasih banyak Mas Wir…
Saya mau coba dulu kerjakan, nanti kalau ada kesulitan boleh yach saya minta saran dari Mas Wir atau Bung Doni
Makasih banyak….
Dimas Agung Saputra // Agustus 27, 2007 pada 2:12 am
Bapak,saya sedang mencari referensi tentang Analisis Baja Prategang,apabila bapak mengetahui atau mempunyai referensi berkaitan dengan subjek saya tersebut mohon dengan sangat informasinya di kirimkan melalui email ke dimas_agung_saputra@yahoo.co.id, juga bagi rekan2 yg lain yg mengetahui/mempunyai saya ingin sekali mendapatkan infomrasinya tersebut untuk bahan presentasi saya.Terima Kasih
Harjanto // Agustus 29, 2007 pada 3:39 pm
Pak Wir,
Pertanyaan Sdr.Yulianto (Juni 16, 07) mengenai input eksentrisitas rencana, bisa nggak ya bila pakai cara begini, momen torsi yg timbul : P x e , di assign pada ttk pusat massa lantai? tq
jimmy // Agustus 30, 2007 pada 4:03 am
Boleh ikutan nimbrung? maaf sebelumnya.
Mengenai pertanyaan julianto.
Jika pusat massa dan pusat rotasi tidak berimpit, jadi terjadi eksentrisitas disana, maka harus dicari pusat massa rencana baru berdasarkan ed, caranya coba buka SNI 1726-2002 mengenai syarat eksentrisitas tsb, disitu ada 2 persyaratan tergantung dari nilai e dan b (modelling). CMIIW
(selanjutnya sdr. julianto jika masih belum puas bisa melalui milis alumni Ft untan)
terima kasih
hendri // Agustus 30, 2007 pada 4:22 am
Untuk Sdr Julianto di Pontianak, Kalbar, Saya kebetulan ada di Aceh bekerja sebagai perencana struktur, dimana untuk bangunan di Aceh mensyaratkan pemakaian “beban” gempa diperhitungkan. Saya ada beberapa contoh perhitungan dengan menggunakan SAP 2000 utk beberapa model bangunan. Apabila anda berminat, silahkan kontak ke email saya, hendri_hendra@yahoo.com, dan akan saya kirimkan kepada anda. Kepada Mas. Wir saya ucapkan terimakasih dengan adanya blog ini sebagai wadah Warga Teknik Sipil…..
indra // Agustus 30, 2007 pada 5:41 am
Dear Pak,
Waktu saya download, ternyata muncul peringatan dari Box.net : this user is out of bandwith, please e-mail support@box.net for next
ini apa artinya ya pak?
bagaimana solusinya.Maaf jika mungkin ada yang bisa bantu saya.
Salam,
Indra
Handy // Oktober 31, 2007 pada 3:01 am
Sebelumnya, nama saya Handy, saya dari Univ. Trisakti.
Saya ingin bertanya apakah ada referensi untuk Construction Sequence Analysis pada Program ETABS?
Dan saya ingin bertanya untuk Axial Deformasi, apakah itu dominan untuk bangunan 30 lantai? Dan di lantai berapakah itu terjadi?
Thanks
Donny B Tampubolon // Nopember 12, 2007 pada 12:36 pm
Dear Pa Wir, Mas Handy and Engineers,
Untuk bangunan bertingkat banyak dari Baja maupun komposit, harus ditinjau.
Untuk bangunan beton, banyak yang mengabaikannya dalam perencanaan, dengan melakukan “trial and error” pada modifier/property elemen kolom-kolomnya agar momen-momen baloknya dapat proporsional.
Syallom..
donaldessenst // Nopember 13, 2007 pada 8:19 am
Rasa2nya yang dimaksud pak Handy ini tentang pengaruh axial shortening pada gedung bertingkat ya?.
Saya sendiri gak mendalami ini tapi kalau gak salah axial shortening selain menyebabkan masalah struktural juga dapat merusak non struktural. Kalau struktural biasanya ada moment tambahan akibat differential shortening apalagi kalau wall ketemu kolom malah untuk bangunan yang cukup tinggi(mungkin lebih dari 30 lantai) momen di balok pada lantai2 paling atas bisa terbalik bila dibandingkan tanpa pengaruh shortening.
Differential shortening jelas dapat merusak non struktural, pintu macet gak bisa dibuka dll. Sayangnya axial shortening ini gak bisa diabaikan karena dari material beton itu sendiri yaitu efek susut dan rangkak deformasi aksial juga .
Sequential analysis sendiri makin bikin mumet karena yang biasa kita lakukan itu sangat ideal floor by floor kenyataan dilapangan wall dibangun lebih dulu dari kolom/lantai dan program2 biasanya cuma ngitung elastic shortening bukan yang long term jadi ah lupakanlah (kecuali buat theses).
Saya sendiri lebih suka mempelajari yang sudah dibahas orang, baca buku, jurnal etc. Nah dari salah satu hasil studi ditulis untuk bangunan s.d 40 lantai untuk lantai 5 sampai 15 long term differential shortening antara wall dan kolom yang bersebelahan nilainya 10-20 mm dan untuk lantai 16 ke atas 20-30 mm (nilai ini udah statistik dan diambil maksimum bukan rata2) dan yang penting construction sequence harus dilakukan dengan tepat untuk meminimalisir differential shortening.
Menarik nih soal shortening mungkin bisa dibikin tulisan khusus pak Wir.
Handy // Nopember 14, 2007 pada 3:25 pm
Dear Pak Wir and Engineers
Thanks for commentnya.
Lumayan bisa jadi buat masukkan buat saya.
Sebenernya aku masih rada binggung karena kemarin aku tidak sengaja mendownload Watch & Learn dari web CSI SAP2000 tentang Nonlinear Staged Construction. Disitu diberikan contoh untuk balok yang memikul kolom transfer, kalau kita modelkan biasa dan dibandingkan dengan model yang dipengaruhi langkah pekerjaan, momen pada balok tersebut bisa 2 kalinya. Itu cukup besar, memang untuk sistem frame biasa baru bisa terasa setelah bangunan lebih tinggi dari 40 lantai. Ada kah yang bisa membantu memberikan referensi tentang Sequence Construction pada ETABS atau Staged Construction pada SAP2000?
Thank
GBU
Amri // Nopember 24, 2007 pada 8:02 am
Salam Hormat,
Pak Wir dan Engineers,
Saya mahasiswa tingkat akhir bidang Metalurgi. Sedang mencari pengetahuan tambahan yang mendukung bidang saya, kebetulan menemukan blog ini.
Mau tanya, kira-kira software cfd yang paling bagus untuk metalurgist dan mudah dipelajari apa ya? khususnya dalam hal analisa kegagalan.
Terima Kasih sebelumnya.
Isran // Nopember 30, 2007 pada 12:59 pm
Salam Kenal Pak Wir,.
Saya mahasiswa teknik sipil Untan Pontianak semester akhir..
Saya cuma mw beri saran untuk blog ini,.yaitu biar blog ini lebih rame nuansa dunia teknik sipilnya tolong donk dibuka wacana untuk bidang2 teknik sipil lainnya,misalnya Transportasi, geoteknik, SDA, MK,.jadi ga cuma bidang struktural engneering aja..
terima kasih…
hidup dunia teknik sipil Indonesia!!!
NIEL // Desember 7, 2007 pada 6:16 am
BANG WIR, SAYA SEDANG MENCOBA MELAKUKAN SIMULASI UNTUK MENCARI KOEFISIEN ABSORBSI DARI KAYU KELAPA, BISA BANTU SAYA UNTUK TERANGKAN LANGKAH KERJANYA DENGAN MENGGUNAKAN MSC/NASTRAN 4.5..TRIMS, TEKNIK SIPIL JAYA!!
NIEL // Desember 7, 2007 pada 6:19 am
PERLU JUGA SAYA TAMBAHKAN, SAYA MASIH DALAM TAHAP MEMPELAJARI PROGRAM INI JADI KALO BISA, TOLONG DIJABARKAN SESISTEMATIS MUNGKIN..
Robby Permata // Desember 9, 2007 pada 2:22 am
to : Donald
wah, ternyata ada pembahasan axial shortening pada gedung tinggi… gw juga lagi nyari referensi nih, Nal.
Dulu waktu TA pas S1, gw ngitungin gedung Garuda Wisnu Kencana di Bali (ehm, jangan dianggap ngitungnya dengan standar konsultan perencana, cuma sekedar standar mahasiswa lah, tujuannya agar memahami proses desain saja, masih kuya soalnya). Di puncak gedung tsb bertengger patung yang beratnya gak kira2, sekitar 3000 ton (!), dan bebannya di salurkan ke kolom di interior gedung.. Sementara itu shearwall yang berada di perimeter bangunan tidak ikut memikul (langsung) beban tsb, alhasil efek axial shortening jadi dominan dan momen di balok jadi aneh semua.. untungnya gw bukan tipikal mahasiswa yang doyan “run dan desain” pake software, tapi masih doyan mempelototin hasil analisis strukturnya dan mengevaluasi kira2 hasil ini udah masuk akal atau nggak.
Berhubung fokus TA nya adalah push over analysis, jadi masalah axial shortening ini tidak dibahas detail. Namun solusi yang digunakan adalah dengan memisahkan pemodelan untuk gempa dan beban statik, menganalisis efek beban statik per lantai, dan mengakali model struktur global supaya distribusi momennya cocok dengan hasil analisis tiap lantai.. Mirip dengan yang ditulis P Wir di atas. Tapi saya juga gak tahu apakah langkah2 ini memang bisa dipertanggungjawabkan secara teknis, soalnya saya “berhasil” membuat dosen tidak memperhatikan masalah ini saat sidang.. hahaha..
maklum lah, kepepet mau lulus, jika semuanya dibahas kayak TPKB ya gak lulus2 gw ntar..
berhubung sekarang jarang desain gedung, seringnya jembatan, ya gw gak sempat studi lagi tentang axial shortening pd gedung ini.
cuma sampai sekarang masih penasaran, jika bertemu masalah ini lagi solusi yg mendekati real-nya apa ya?
-Rp-
Dodi Kresna // Desember 10, 2007 pada 4:49 pm
salam kenal Pak…
sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih atas buku-buku yang sudah saya download, karena sangat membantu saya dalam perkuliahan jembatan baja, saya masih kuliah S1 Teknik Sipil UNSRI palembang.
oh ya pak ada salam dari dosen saya Pak Anis Saggaf (dosen struktur baja)
apabila ada sesuatu mohon bimbingannya terima kasih banyak
Iwan // Januari 19, 2008 pada 5:47 am
Pak Wir, ada software gratisan lagi ?
thank.
budi // Januari 21, 2008 pada 12:21 am
terima kasih atas softwarenya.
Iwan Setiawan // Januari 21, 2008 pada 1:07 am
Shallom, selamat pagi.
Pak, tolong agar saya dapatkan password untuk softcopy “Handbook-of=civil-Engineering-Calculations-by-Hicks-Tyler-Gregory-1999.
Terima kasih.
anindityo // Januari 28, 2008 pada 4:59 pm
pak, salam kenal sebelumnya. Saya mahasiswa teknik mesin ugm tetapi mendapat tugas akhir menganalisa dinamis dan statis girder dari overhead crane, yang jadi masalah saya belum menemukan ukuran overhead crane yang akan saya analisis. Soalnya di gambar2 teknik yang ada tidak pernah mencantumkan ukuran girdernya, sekiranya bapak bisa memberi pencerahan kepada saya
M. Ibnuhasan // Februari 12, 2008 pada 3:35 am
Dear pak Wiryanto ‘n all netterz, saya seorg karyawan di sebuah perusahaan kontraktor, lg nyari metode pelaksanaan konstruksi bandara atau artikel yg dpt dijadikan referensi untuk pembuatan penawaran pd pekerjaan pembangunan/peningkatan landasan/bandara, kira-kira dapatnya dmn ya? dah nyari via google msh ttp clueless, plz help !
Dodi Kresna // Februari 13, 2008 pada 6:22 pm
Pak Wir, untuk saat ini saya sangat membutuhkan buku mengenai Stuktur Beton Prategang “Prestressed Concrete Structures”
dan juga cara Perhitungan Jembatan nya, Bisa Tolong Untuk mendapatkan Jurnal2 mengenai Hal Tersebut.
Sekiranya Pak Wir bisa Menbantu saya Untuk mencarinya, Untuk saat ini saya ada Mata Kuliah Beton Prategang, yang diajar Oleh Pak Anis Saggaf.
o ya pak Kalo buku,
Michael P. Collins and Denis Mitchell .(1991). “Prestressed Concrete Structures”, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey
Dimana Saya bisa mendapatkannya? Kalo bisa dikirim Pdf nya K email saya ” dodi_fc@yahoo.com ”
Terima Kasih Pak Wir
Dodi Kresna // Februari 14, 2008 pada 4:26 pm
“” Untuk semester lalu Ketemu Paka Anis Mata Kuliah struktur Baja, dan semester ini mata kuliah Struktur Beton Prategang, yang ngajar juga Pak Anis, mengenai PC ini perlu Jurnal2 nya, juga perhitungan jembatanya… ada tugas Pak.
“” Pak Wir Kalo bisa Minta tolong link dan jurnal PCI nya karna banyak sekali, karna dari Pak Anis sendiri Membebaskan cara pengerjaannya. untuk struktur baja sendiri Perhitungan Jembatan bajanya dibebaskan caranya.
“” Terima kasih Pak Wir
Mirza // Februari 21, 2008 pada 4:10 am
Pak wir,, saya mahasiswa UNPAR.. Saya kesulitan mendapatkan referensi/literatur tentang skripsi saya.. Sekedar info, judul skripsi saya “Analisis Peningkatan Kapasitas Gelagar Baja Komposit Yang Diperkuat Dengan Sistem Flens Prategang Baja”.. Mohon bimbingannya pak..
Kalo bapak punya dan tidak merepotkan, kirim ke e-mail saya pak..
Trimakasih banyak..
koko // Februari 26, 2008 pada 3:36 am
salam kenal pak wir,
saya koko, mahasiswa tingkat akhir Sipil ITS, mo tanya soal program SAP, dari SAP v7.42 s/d SAP v10 manakah yang lebih realiable? soalnya kalo saya dengar dari pak Pudjo(dosen ITS) bahwa SAP v7.42 lebih bagus dari SAP versi yang Lain!
Trim’s Pak Wir Atas perhatiannya.
arif // Februari 27, 2008 pada 12:30 pm
salam kenal pak wir,
saya mau tanya kepada bpk, apakah bpk mempunyai collection contoh perhitungan perencanaan beserta desainnya untuk proyek gedung bertingkat dan jembatan yang sudah dikerjakan dalam bahasa indonesia tentunya, agar mudah dipahami dab dipelajari, masalahnya saat ini saya telah ditempatkan dikantor saya dalam posisi engineer untuk gedung dan jembatan, padahal selama 15 tahun pengalaman saya hanya dibidang jalan dan perumahan yang tidak bertingkat
memang saya lulusan dari t.sipil dan memang saya mempunyai banyak buku2 sipil tetapi saya binggung memulai awal perhitungan perencanaan hingga akhir perhitungan perencanaan untuk proyek gedung bertingkat dan jembatan, saya mhn bantuan bapak untuk bisa menyampaikan atau memberikan ilmunya dalam bentuk lembaran/file/buku untuk perhitungan perencanaan gedung bertingkat dan jembatan yang sudah dikerjakan/dilaksanakan,
jika bapak berkenan dapat kirimkan ke email saya : arif_racing01@yahoo.co.id atau jika kapasitasnya melebihi untuk pengiriman email maka bapak dapat kirimkan lewat pos ke alamat : jl.kedondong luar no 16 rt 05 samarinda - kaltim, mengenai biaya pengiriman lewat pos maupun biaya jasa bpk (jika emang ada) dapat bapak smskan saya ke no 081347406379/085250248737 atas nama arif, mungkin itu dulu pak,terimakasih atas perhatiannya.
dina // Maret 6, 2008 pada 7:28 am
Dear : P Wir
Pak wir yang baik, sekarang saya sangat membutuhkan software Ansys 9.0 Student Version untuk menunjang TA saya, dimana saya bisa mendapatkannya pak? saya harap bapak bisa membantu..dan katanya software tersebut lebih familiar di pulau Jawa (dan pastinya ada dipulau Jawa pula). Dikota kami masih jarang pak. Atau bagi teman-teman yang mempunyai softwarenya, saya harapkan bantuannya…
terima kasih banyak atas bantuannya pak
Septa Arfianto // Maret 17, 2008 pada 6:12 pm
salam pak wir,
Pertama, saya salut untuk pengabdian Anda pada bidang anda.
Kalau boleh bertanya, Apa sudah ada situs atau file mengenai desain jembatan baja Kereta Api - dengan metode LRFD, pak?
trims a lot.
irawan malik // Maret 27, 2008 pada 2:09 am
Pak Wir. Ysh.,
Mohon copikan software FLUENT-nya, saya sudah lama mencarinya di Palembang belum juga dapat. Ini software diperlukan mahasiswa saya untuk mensimulasikan PA nya.
Terima kasih disampaikan sebelumnya.
Salam,
Irawan Malik (Politeknik Negeri Sriwijaya-Plg)
Robby Permata // Maret 27, 2008 pada 9:29 am
to : P Arif
kalo d kantornya ada departemen untuk gedung dan jembatan, pastinya ada referensinya kan..
kalo gak ada, ya usulkan saja nyari engineer baru dengan pengalaman yang sesuai..
kalo gak mau nambah engineer, ya sub kan aja ke saya, pak..
hehehe…
-Rp-
andy // Maret 27, 2008 pada 3:57 pm
Pak wir,kalau saya ada kendala tentang desain kapasitas untuk struktur beton boleh saya nanya bapak?Andy (alumni Universitas Tarumanagara)
Thanks and God Bless
aryo rjp // Mei 14, 2008 pada 11:57 am
salam, kenal
sebenernya lagi nyari basic NX nastran, jadi muncul web ini…!! menarik untuk di simak pak wir… bisa bantu dikit..??
>> Saya lagi nyari perbedaan antara NX Nastran dan Structure P.E, keduanya ini sama2 Finite Element analisys. sekarang saya lagi menggunakan software UG NX yang di dalamnya ada analisys FE ini, yang jadi permasalahnnya, apa yang menjadi parameter dari NX Nastran dan Structure P.E, karena jika saya simulasikan lebih mudah Structure P.E dibandingkan NX NAstran, untuk NX nastran lebih membutuhkan parameter selain load dan constrain…?? apa lagi yah..???
Rodeka // Mei 17, 2008 pada 7:36 pm
pak aku minta tolong bantuin, cari referensi tentang design jembatan lengkung. yang intinya bagaimana cara menentukan besarnya lengkungan sebuah jembatan lengkung
rachmad // Mei 19, 2008 pada 10:27 pm
pak, saya sedang mencari buku, jurnal, paper tentang sistem perencanaan air minum perkotaan. kalau bapak punya saya mohon informasinya ya pak. karena saya sedang menyusun thesis s2 saya di usu
acefri // Juni 12, 2008 pada 1:04 pm
salam kenal dari saya apk wir..
saya salah satu mahasiswa teknik sipil UNSRI
palembang,saya sekarang sedang mengerjakan Tugas Akhir yang berkaitan dengan sambungan kolom balok baja dengan bantuan steel deck..
tolong pak..kalo ada pengertian steel deck
dalam PDF , serta gambar2 jenis sambungan baja, dan british standard 5950 part 3 : Design on composite construction,
Kalo Ada kirimkan ke Email saya pak di acefri_civil_engg@yahoo.com,atau kirimkan saya linknya saja biar saya bisa download
sebelumnya saya sampaikan terima kasih pak..
hormat saya..
Handy // Juni 24, 2008 pada 3:47 pm
Halo Pak Wir, saya mau tanya literatur perhitungan untuk perkuatan kolom dan shearwall apakan pernah dibahas?
Saya tunggu kabar dari bapak
Atas bantuannya say ucapkan banyak terimakash
Handy
wayan sutama // Juni 25, 2008 pada 6:25 am
pa wir, saya tertarik dengan “LRFD Design Example for Steel Girder Superstructure Bridge” di atas cuman saya hanya bisa baca 30 halaman saja, disini saya coba untuk download tapi setiap kali saya coba selalu muncul Box.net. mohon dibantu dan terimakasi sebelumnya.
Tinggalkan Komentar