The works of Wiryanto Dewobroto

Sharing Knowledge - SNI 1726-2002

Januari 31, 2007 · & Komentar

Hallo mas Wir,Berikut saya kirimkan SNI tentang gempa SNI 1726-2002 (down-load PDF size 373 kb), semoga bermanfaat dan bisa disharing keteman-teman yang lain yang membutuhkan.Salam
Badar - Yang ingin terus belajar

Trims mas Badar, semoga dapat dimanfaatkan oleh teman-teman yang membutuhkannya.

Catatan : mas Badarrudin adalah alumni teknik sipil UGM yang saat ini bekerja sebagai engineeer pada perusahaan minyak asing di lepas pantai.

**up-dated 23 April 2007**

SNI : Gempa - Beton -Baja

Mas Donny dari T.Y Lin Internasional (Indonesia Principal) juga tidak mau kalah, beliau menitipkan SNI tentang Gempa ; Beton dan Baja sekaligus. Saya belum membandingkan apakah dokumen tersebut sama dengan dokumen sebelumnya atau tidak. Tetapi karena sama-sama nggak ada versi resminya dan dokumen tersebut umumnya hasil compile pribadi maka lebih baik ditampilkan apa adanya, biar pembaca sendiri yang memilihnya.

O ya untuk SNI Gempa-nya adalah versi Wiratman (resmi), hati-hati katanya ada versi yang lain, yang berbeda pada halaman-halaman tertentunya !

Dokumen yang dimaksud adalah

  • STANDAR Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung, SNI – 1726 - 2002 (down-load 373 kb)
  • BSN : Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung, SK SNI 03 - xxxx - 2002 , versi 16 Desember 2002 (down-load 3,535 kb)
  • TATA CARA Perencanaan Struktur BAJA untuk Bangunan GEDUNG, SNI 03 - 1729 - 2002 (down-load PDF 2,693 kb)

Kategori: Civil Engineer · Publications · Teknik · gratis · teknik sipil

209 tanggapan so far ↓

  • Suyono Nt. // Februari 5, 2007 pada 4:02 pm

    Makasih pa Badar dan pa Wir atas sharing infonya, koleksi digital saya jadi bertambah. Oo ya dimulai dari situ saya juga coba-coba cari Peraturan Bangunan SNI lainnya, pake Google (a lot of thanks, best search engine lah :) makasih banyak juga untuk PIB Banten), kebetulan mungkin dapat. Link ke situs tsb :

    SNI 03-1726-1989 (Revisi) - Standar perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung.
    —————————————————————
    http://pib-banten.go.id/produk/pdf/bgn_gdg/Revisi_SNI_03_1726_1989.pdf

    SNI 03-1729-2002 - Tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung.
    —————————————————————
    http://pib-banten.go.id/produk/pdf/bgn_gdg/SNI_03_1729_2002.pdf

    SK SNI 03-XXXX-2002 - Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung (16 Desember 2002)
    —————————————————————
    http://pib-banten.go.id/produk/pdf/bgn_gdg/SK_SNI_03_xxxx_2002.pdf

    Ya itu saja dulu pa Wir bagi2 infonya, semoga bermanfaat buat semua. btw, ada yang tahu ngga link ke Peraturan Pembebanan Gedung format digital ? bagi2 juga kesaya / lainnya. Terima-kasih, salam.

  • Rendhy // Februari 22, 2007 pada 5:19 pm

    Saat ini saya sedang mengerjakan skripsi mengenai perencanaan stadion.yang ingin saya tanyakan :
    1. Apakah ada peraturan pembebanan baru pengganti PBI 1983?
    2. Apakah anda mempunyai literatur yang dapat mendukung skripsi saya
    tersebut?
    Terima kasih

  • wir // Februari 22, 2007 pada 11:42 pm

    **Apakah ada peraturan pembebanan baru pengganti PBI 1983?**
    ya sampul buku peraturan tsb sudah ganti tapi isinya kelihatannya masih sama. Biasa ;)

    **Apakah anda mempunyai literatur yang dapat mendukung skripsi**
    Maksudnya ttg pembebanannya. Ada! Yaitu ASCE 7-95: “Minimum Design Loads for Buildings and Other Structures”. buku setebal 210 halaman tersebut kayaknya lebih padat dibanding peraturan kita itu.

    Sekarang sudah bisa dicari versi PDF-nya di blog ini.

  • Emil Wahyudianto // Maret 7, 2007 pada 12:34 am

    best engineer

  • parna // Maret 9, 2007 pada 7:24 am

    Salut. Situs ini cukup membantu.

    Tapi pak, aku mau down-load semua SNI untuk teknik sipil, gimana caranya pak ?
    Maklum saya masih mahasiswa sipil suka cari-cari info dan peraturan yang berlaku di Indonesia atau tolong pak dikirimkan ke e-mail saya.
    trims pak.

    salam sejahtera.
    maju terus.

  • Fred // Maret 9, 2007 pada 6:06 pm

    Hai teman-teman dari Indonesia. Saya Fred dari Malaysia. Saya sedang mencari SNI 1726-2002 versi Bahasa Inggeris bagi mempersiapkan disertasi postgraduate saya.

    Harap teman dari Indonesia sudi mengirimkannya ke situs ini. Terima kasih.

  • anton budi dharma, ST, MT // Maret 19, 2007 pada 11:52 am

    mas Wir, nama saya Anton Budi Dharma alumni pascasarjana UGM program studi Magister Sistem dan Teknik Transportasi (MSTT)

    mas kebetulan saya sekarang menjadi tenaga pengajar di Sekolah Tinggi Teknologi Dumai (STTD) yang bertempat di Riau, jadi saya kekurangan bahan kuliah untuk mata kuliah Pelabuhan

    saya berharap bisa mendapatkan informasi secepatnya, trim’s ..

  • wir // Maret 19, 2007 pada 12:38 pm

    Salam kenal Mas Anton,

    **saya kekurangan bahan kuliah untuk mata kuliah pelabuhan**
    masih mending kekurangan, saya bahkan tidak punya :(

    Tetapi kalau apa yang bisa dikerjakan oleh structural engineer di pelabuhan. Ok, saya bisa bantu :)

  • anton budi dharma, ST, MT // Maret 22, 2007 pada 3:26 pm

    Makasih ya mas Wir , mau respon komentarku.

    Oh ya thanks juga ya mas Wir, sukses selalu buat UPH, artikel di sharing mas ok bangetttt lhooo siip terus buat: SNI-03 baja, gempa, beton.. trimsss

    Mas ada file tentang design breakwater, terus tentang design dermaga (saya cuma pakai buku Bambang Tri : Pelabuhan , jd masih kurang untuk di ajarkan ke mahasiswa, ), jadi saya mau ke aplikasi ke lapangan terutama pelabuhan,, maklum saya berkedudukan di Riau, jadi banyak sungai dan banyak pantai, trus sharing file kemana supaya bisa dapat informasi lagi…,

    Mas buku Aplikasi SAP2000 terbaru saya mau mengkoleksi, saya tunggu tanggal nya ? di Gramedia Riau.. trims mas, semangat selalu civil indonesia..

  • anton budi dharma, ST, MT // Maret 22, 2007 pada 3:30 pm

    mas wir.. jangan bosan ya baca komentarku

  • wir // Maret 22, 2007 pada 9:16 pm

    Nggak bosen koq, senang menerima surat dari rekan-rekan yang bersemangat mengejar ilmu. **jadi ikut bersemangat jg**

    Artikel ttg pelabuhan sy nggak punya, tapi siapa tahu ada rekan-rekan lain yang membaca dan mempunyai materi yang mas Anton inginkan jadi bisa saling sharing / mbantu.

    Buku SAP2000 dicetak relatif sedikit hanya 2500 eksp, di fokuskan diedarkan di P. Jawa. Agar tidak ketinggalan langsung ke penerbitnya Elex Media yang menyediakan fasilitas pembelian via on-line. Alamatnya nanti pasti kalau udah terbit aku beritahukan di blog ini.

    Sukses untuk teman-teman di Riau.

  • anton budi dharma, ST, MT // Maret 23, 2007 pada 1:58 pm

    Mas Wir, kalau bahan lapangan terbang punya file nya ? Terutama design perkerasan or masterplan airport, hanya sebagai bahan bacaan tambahan, karena di Riau akan ada rencana penambahan airport,,, yaaa jadi siapa tahu saya sendiri masuk dalam tim tersebut mas.

    Oh yaa masss saya mau tanya ama mas wir ? Mas kalau ngajar PBTS (Perancangan Bangunan Teknik Sipil) gimana ?
    Mas Wir sudah pernah jadi tenaga pengajar mata kuliah tersebut? trims ya mas…

    Wah repot buku nya enggak sampai ke Riau??,, tapi via on line okey juga tuchh… trimss ya mass,

  • wir // Maret 23, 2007 pada 2:18 pm

    Tentang bahan lapangan terbang, mungkin ada. Karena nggak merhatiin sih. Wah kalau nggak ingat nyarinya repot, dimana ya, ribuan file PDF. Nanti kalau ketemu ya. Udah nyoba Google belum.

    PBTS silabusnya gimana. Biasanya saya ngajar materinya yang udah mengendap lama, udah luar kepala, nggak pusing persiapannya. Bahkan kalau lagi mood bisa bikin materi baru yang lebih baik.

    Eh apa nggak lebih baik bikin seminar aja di Riau lalu sayanya diundang.

    Distribusi buku tergantung penerbit, ya moga-moga sampai Riau.

    Ok.

  • Inra // April 9, 2007 pada 6:55 am

    Salam Kenal,
    Selamat Siang Pak Wir, salam kenal dari saya Mahasiswa Tekniksipil Universitas Riau.
    Bapak Punya Link untuk Download SNI 2002?

    Ada saran, Coba bapak buka http://www.freedomain.co.nr ada nama domain gratis
    misal punya saya Hostingan di webng.com (GRATIS TANPA BANNER) terus di Redirect ke http://www.inra.co.nr

    Salam Kenal Pak, Buku Bapak Bagus…Tapi Mahal…Heeee

  • wir // April 9, 2007 pada 11:47 am

    **Buku Bapak Bagus…Tapi Mahal…Heeee**
    Nggak mahal koq mas dibanding beli pulsa, yang jelas jika anda menguasai apa yang ada di buku tersebut, maka kompetensi tersebut bisa dijual koq, Yakin. Kembali modal lho.

    Untuk itu mohon dukungan dari anda, karena jika buku tersebut dapat terjual maka penerbit mau nerbitin bukuku lagi. Karena ada yang mau nerbitin maka aku nulis lagi. Karena aku nulis lagi maka mas Inra bisa membaca, Gitu lho. Jadi kita saling membutuhkan. Penulis-pembaca.

  • Inra // April 10, 2007 pada 8:25 am

    Siang Pak Wir,

    Yup bener banget. ;) :)

    Saya ada ide Pak gimana kalo bapak juga menerbitkan buku Perhitungan Rancangan Anggaran Biaya Bangunan tetap pake studi kasus Pak (Misal Bangun Ruko atau rumah), nanti yang jadi penulis teman-teman dari UPH yang menang kemarin. Ya tetap dalam Bimbingan Bapak, Pasti Banyak yang minat.

  • wir // April 10, 2007 pada 11:25 am

    Untuk RAB saya tidak terlalu menguasai, tapi mungkin ini mas Agung kemarin yang mbantu team UPH. Coba deh saya tawarin, siapa tahu beliaunya berminat.

    Trim ya Inra atas sarannya.

  • FARIED // April 12, 2007 pada 6:30 pm

    Salut Pak Wir

  • Endy // April 13, 2007 pada 7:56 am

    Siang Pak Wir.

    Begini pak, saya ingin tahu bagaimana caranya menghitung BQ dengan cepat, seperti yang dilakukan anak didik bapak sewaktu mengikuti lomba rancang bangun di ITB? kasi tahu rahasianya ya pak! Trimsss…

  • wir // April 13, 2007 pada 8:32 am

    Mas Endy waktu itu ada di sana ya (ITB) ?
    Tim mana mas ?

  • Endy // April 13, 2007 pada 9:03 am

    g’ pak, saya cuma kemaren saya cuma lihat2 aja koq, truz gimana pak cara cepatnya?

  • wir // April 13, 2007 pada 9:16 am

    Kita BQ dibantu oleh Mas Agung, dari perusahaan kontruksi profesional, memakai tabulasi dalam format Excel (yang udah teruji pada proyek-proyke sebelumnya), kemudian kita evaluasi item-item-nya yang cocok kita pakai, yang tidak kita hapus.

    Cepet sih kayaknya nggak juga, lama juga lho mas.

    Tetapi karena memakai pola-pola yang udah teruji sebelumnya, ya pantas aja hasilnya mendekati sebenarnya.

    BQ khan masalah jam terbang aja khan mas.

  • dwi ananda marta // April 16, 2007 pada 8:08 am

    Pak wir,
    SNI 03-1729-1989 TATA CARA PERENCANAAN STRUKTUR BAJA UNTUK BANGUNAN GEDUNG. bidang saya bukan sipil pak, jadi saya cukup bingung membaca SNI tsb. sebenarnya saya mencari SNI tentang struktur baja untuk low rise building.

    pertanyaan saya, apakah ada SNI tentang perencanaan struktur baja untuk lowrise building, bila ada, mohon dieritahukan nomer dan judul dari SNI tsb, terlebih lagi bila saya dapat mendownload file soft copynya atau apakah SNI 03-1729-1989 sudah diakomodasikan untuk high rise building maupun low rise building.

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih

  • wir // April 16, 2007 pada 11:41 am

    **bidang saya bukan sipil pak**
    O mungkin anda butuh SNI untuk dagang ya, kalau yang di atas memang untuk orang sipil sdr Dwi.

    **struktur baja untuk low rise building**
    Untuk apanya, perencanaan low-rise building ? .
    Lho apa low-rise building itu bukan termasuk bangunan gedung ?

    Apakah SNI 03-1729-1989 sudah diakomodasikan untuk high rise building maupun low rise building ? Yah, kira-kira begitu rencananya.
    SNI 03 boleh dipakai untuk bangunan tinggi dan rendah, yang nggak boleh adalah jika SNI tsb dipakai untuk perencanaan struktur jembatan, karena ada SNI-nya tersendiri.

    Untuk industri (pabrik, alat-alat mesin berat) saya menganjurkan pakai AISC-LRFD langsung. Karena konfigurasi struktur untuk industri umumnya lebih bervariasi dibanding struktur gedung, jadi perlu spesifikasi yang bervariasi pula. SNI kita relatif ringan dibanding AISC yang jelas-jelas lebih tebal materinya (lengkap).

    Ok.

  • dwi ananda marta // April 18, 2007 pada 2:53 am

    betul pak wir.., buat dagang…
    pengertian high rise dan low rise itu sudah termasuk dalam kata gedung ya pak? saya khawatir kl ternyata ada SNI atau standar lain yang spesifik memberikan arahan untuk bangunan tingkat rendah (rumah).

    Rencananya tempat sy bekerja akan membuat produk rumah dengan struktur baja ringan. kaitannya adalah membuat produk yang dapat bertahan terhadap gempa, untuk itu saya sedang mencari SNI, standar-standar maupun peraturan pemerintah tentang struktur baja dan gempa..

    terima kasih byk pak wir…, seandainya bapak mempunyai informasi tentang standar maupun peraturan tersebut, mohon di share ke saya pak..

  • Elieser // April 23, 2007 pada 6:10 am

    Salam kenal.. Salute to Pak WiR…

    saya senang bisa masuk ke situs ini, banyak pengetahuan yg saya dapatkan di sini.

    Pak WiR… Saya sekarang lagi nulis skripsi ttg perencanaan gedung tahan gempa.

    Saya butuh penjelasan dari Pak WiR ttg: 1) daktilitas; 2) Perbedaan Klasifikasi jenis struktur tahan gempa berdasarkan [SNI '83 & SNI 1726-02].
    Mohon Saran dan bantuannya….

    >>>Trima Kasih.

  • badaruddin // April 30, 2007 pada 7:18 am

    Mas Anton,

    Kalau buku pelabuhan yang biasa dijadikan referensi adalah Handbook of Port & Harbor Engineering Geotechnical & Structural Aspect; Gregory P. Tsinker, tapi saya belum punya e-filenya, hard copynya cukup tebal kurang lebih 700 halaman, jadi lumayan lengkap termasuk pembebanan dan kombinasi pembebanan yang digunakan.

    salam
    badar

  • Ardi kurniawan // Mei 2, 2007 pada 5:12 am

    Mas Anton,

    Wah, kita satu alumni di UGM nih, tapi saya ambil MM nya.

    Mengenai dermaga dan pelabuhan, mas anton bisa lihat ke situs

    http://users.coastal.ufl.edu/~sheppard/eoc6430.htm

    Lumayan lengkap dan cukup baik untuk bahan kuliah dan tambahan materi untuk adik-adik mahasiswa.

    Salam,

    Ardi

  • Mhd Ridwan // Mei 2, 2007 pada 1:51 pm

    Mas Wir !!!
    saya juga alumni UGM
    saat ini saya mencari peraturan-peraturan jembatan rangka, jembatan gantung
    dimana ya saya dapatkan? sebab hard copy yang sudah saya punya sudah kemana-mana nggak tau rimbanya karena diturunkan pada yunior-yunior dulu
    mohon bantuan ya mas
    terima kasih

  • Ary // Mei 2, 2007 pada 1:56 pm

    mas Anton
    Sekitar beberapa tahun yang lalu saya bikin manual perkerasan airport untuk Dephub sama pak Yuskar sama programnya (Visual Basic). Bahan-bahannya coba cari disini

    http://www.faa.gov/airports_airtraffic/airports/construction/design_software/

  • Ary // Mei 2, 2007 pada 2:02 pm

    Marine Structural Design
    http://rapidshare.de/files/21049767/BAI__Y.__2003_._Marine_Structural_Design.rar

  • Ryan // Mei 5, 2007 pada 5:17 pm

    Selamat malam pak wir dan teman-teman semuanya. Nama Saya rian, sekarang lagi kuliah program swadaya t sipil UGM. saya mau cari peraturan pembebanan untuk jembatan. Mungkin Pak Wir atau teman-teman bisa bantu saya, Terima kasih sebelumnya

  • FARIED // Mei 6, 2007 pada 3:09 pm

    Salam Sejahtera Pak Wir
    Kami Mempunyai beberapa prog lisensi, Bagimana pendapat Pak Wir untuk program SansPro punya Pak Nathan.?

    Salam salut Pak Wir maju terus

  • wir // Mei 6, 2007 pada 3:46 pm

    **Elieser**

    Saya butuh penjelasan dari Pak WiR ttg: 1) daktilitas; 2) Perbedaan Klasifikasi jenis struktur tahan gempa berdasarkan [SNI ‘83 & SNI 1726-02].

    Daktilitas adalah perilaku struktur yang menunjukkan deformasi besar sebelum mengalami keruntuhan, tepatnya istilah bahasa indonesianya adalah liat. Perilaku itu didapat karena memakai material yang daktail yaitu baja konstruksi. Jika demikian, maka bangunan pada baja pada secara natural adalah bangunan yang liat, tinggal strategi detailingnya.

    Baja berperilaku daktail karena dapat mengalami leleh, jadi untuk bangunan baja tahan gempa hanya memastikan saja bahwa lelehnya hanya akan terjadi pada balok-balok dan jangan tejadi pada kolom, kecuali bagian bawah.

    Sedang untuk bangunan dari beton bertulang, ini perlu diperhatikan, kenapa karena pada dasarnya beton adalah material brittle (getas / non-daktail) oleh karena itu harus dikombinasi dengan baja. Tahap pertama untuk daktail adalah memastikan bahwa penampang dalam kondisi under-reinforced (bajanya leleh), tahap kedua adalah memastikan bahwa keruntuhan geser tidak terjadi sehingga diperlukan sengkang yang cukup baik di daerah joint maupun daerah yang diharapkan akan terjadi sendi plastis di balok (yang ini kayak baja aja).

    Hal-hal di atas memerlukan pendetailan-pendetailan yang khusus agar dapat bersifat daktail, kadang-kandang bisa mahal, khususnya jika gaya gempa tidak dominan dibanding gaya gravitasi. Oleh karena itulah maka SNI gempa memberi kategori-kategori tertentu agar konsekuensi dalam pendetailan memang sesuai dengan tujuannya : dominan gempa maka sebaiknya daktail, karena kalau didesain agar bangunan bersifat elastis (tanpa pendetailan khusus) maka mahal dan sebaliknya.

    **Ary**
    Makasih atas sumbangannya, semoga membantu teman-teman yang membutuhkanya. Salam

    **Mhd Ridwan dan Ryan**
    Peraturan jembatan, koq belum ada ya. Kita tunggu, mungkin ada dari teman-teman yang bisa bantu.

    **FARIED**
    Wah bagus sekali, pak Nathan cukup serius koq mengembangkan program tersebut, kelihatannya menjadi salah satu obsesi dalam hidupnya. Bahkan saat ini sedang mengembangkannya untuk analisis dan desain struktur dengan baja cold-formed. Saya tahu itu karena beliau saat ini bersama-sama dengan saya dalam menyelesaikan disertasi doktoral di Pascasarjana UNPAR Bandung. Kalau saya pakai program FEA lain (buatan luar negeri), tetapi beliaunya buat program tersebut.

    Keuntungannya jika anda pakai program SANSPRO adalah bahwa penciptanya, pak Nathan dapat anda hubungi langsung, orangnya khan ramah (welcome) jadinya tuntas gitu lho.

    Ingat, program hanya sekedar tool, semuanya tergantung manusia dibelakangnya.

    Salam.

  • rendhy // Mei 10, 2007 pada 8:58 am

    saya pernah melihat di Internet ada SNI 03-3646-1994 tentang tata cara perencanaan teknik bangunan stadion.

    apakah itu masih bisa dijadikan acaun untuk merencanakan stadion? ataukah sudah ada SNI penggantinya ?

    Jika ada, apakah ada yang mempunyai file terbaru versi pdf.nya?atau versi SNI 03-3646-1994nya saja jika itu masih berlaku.

    terima kasih untuk bantuan yang diberikan.

  • wir // Mei 10, 2007 pada 9:12 am

    Iya aku dapat di
    http://www.pu.go.id/balitbang/sni/pdf/SNI%2003-3646-1994.pdf

    tetapi isinya bukan persyaratan teknik struktur, tentang kekuatan atau kekakuan suatu bangunan, tetapi lebih ke arah peraturan keolahragaan.

    Ini kutipannya

    Perencanaan bangunan stadion mengacu pada persyaratan teknis keolahragaan yang ditetapkan oleh organisasi olahraga nasional dan internasional yang digunakan untuk sepak bola dan atletik atau kegiatan lain selain olah-raga.

  • rendhy // Mei 10, 2007 pada 9:39 am

    o iya Pak, saya itu juga nantinya akan menggunakan program statika untuk menyelesaikan analisa struktur pada rangka atapnya. atapnya itu menggunakan struktur baja dan struktur kabel, apakah bisa itu diselesaikan dengan program komputer, program StaadPro atau SAP ? di buku Bapak apakah menjelaskan mengenai analisa yang seperti itu?

    Jika boleh, apakah saya bisa meminta alamat email Bapak, nanti akan saya kirimkan gambar rangka dari struktur saya.

    Terima kasih banyak pak untuk jawabannya, saya sudah sedikit pusing dengan skripsi saya…….

  • wir // Mei 10, 2007 pada 10:13 am

    **di buku bapak apakah menjelaskan analisa seperti itu ?**
    Bukunya sudah beredar koq, jadi tinggal dibuka-buka aja di toko buku (itu jika andanya nggak mau ngeluarin uang untuk membelinya).

    **akan saya kirimkan gambar rangka**
    Jangan.

    **saya sudah sedikit pusing dengan skripsi saya…….**
    Apalagi saya, jika anda skripsi, maka sayanya disertasi. Tidak hanya sekedar pusing lho, rambut bahkan sudah pada rontok semua. he, he .. ;) Untung sudah punya anak dua, gimana kalau belum, pasti nggak laku-laku.

    Hati-hati lho Rendy, jangan sampai botak.

  • rendhy // Mei 12, 2007 pada 3:36 am

    Iya pak, saya sudah pernah melihat buku itu. Menurut saya, itu tentang komputer statika tertebal yang saya liat dari tulisan bapak. Mungkin akan saya coba liat dan akan membelinya pak.

    Terima kasih jawabannya pak.

  • tata // Mei 12, 2007 pada 3:46 am

    Salam kenal pak

    Saya sedang mencoba menyusun skripsi mengenai perilaku pelat pracetak, tetapi saya kesulitan mencari literatur-literaturnya.
    Apakah bapak mempunyai literatur-literatur yang bisa saya gunakan untuk menyusun dasar teori saya.

    Terima kasih sebelumnya pak

  • wir // Mei 12, 2007 pada 3:58 am

    Salam kenal kembali,

    sudah down-load ini belum

    BUILDING CODE REQUIREMENTS FOR STRUCTURAL CONCRETE (ACI 318-02) AND COMMENTARY (ACI 318R-02)

    http://wiryanto.wordpress.com/2007/04/23/aci-318-02-dan-aci-318r-02-lengkap/

    lalu baca CHAPTER 16 — PRECAST CONCRETE

    Selanjutnya lihat daftar pustaka yang diacu pada chapter itu.

    Beres.

  • Anton Budi Dharma, ST, MT // Mei 15, 2007 pada 3:49 am

    terima kasih buat mas Ardi kurniawan atas bantuan nya, dan file nya

    dan terima kasih juga buat mas wir atas blog nya

  • Anton Budi Dharma, ST, MT // Mei 15, 2007 pada 3:53 am

    terima kasih buat mas Ary atas bantuan dan konfirmasinya ,, trims yaaa

  • erik s. // Mei 19, 2007 pada 8:54 am

    salam kenal mas Wir.

    Saya Erik mahasiswa Sipil Trisakti.

    Saya sedang menyusun tugas akhir. tentang development and splices of reinforcement. saya menggunakan referensi dari buku Note On ACI 318-99 Building Code Requirement for Structural Concrete. pada bab tersebut ada rumus yang mengacu pada peraturan ACI 318M-89.

    Yang saya tanyakan mas Wir ada file pdf untuk peraturan tersebut tidak ? dan buku-buku referensi apa saja yang bisa saya miliki untuk menyelesaikan tugas akhir saya. satu lagi mas analisis apa ya..yang bagus untuk judul bab tersebut?

    saya kira itu saja mas, terima kasih.

  • wir // Mei 19, 2007 pada 9:32 am

    ACI 318 metric (SI) saya belum punya, yang ada ACI318-02 tetapi masih imperal (kip-in).

    Saya kira bukunya Mac Gregor dapat dijadikan awal untuk studi lebih lanjut. Pelajari bibliografi pada bab yang membahas tentang materi tersebut.

    Masalah tersebut kelihatannya sepele (padahal tidak), dalam praktek biasanya yang diperhatikan adalah bahwa panjang penyaluran sekuat tulangan adalah 40d atau mungkin 50d, lalu di kolom diperhatikan bahwa total jumlah tulangan dan splice yang ada harus kurang dari 8%. Juga panjang penyaluran atau daerah pengakurang tulangan dalam perencanaan amerika kurang mendapat perhatian, lebih banyak dijadikan rule of the thumb, misal tulangan positip pada balok minimal 1/3 -nya harus masuk ke tumpuan. dsb.

    Dalam kenyataan riset tentang itu, yaitu interface antara beton dan tulangan adalah bagian yang sulit dalam analisis numeriknya (FEA) , juga itu dikaitkan dengan strategi pendetailan tulangan. Ada baiknya anda membaca juga teori strut-and-tie model, karena panjang penyakuran dan pengangkuran menjadi hal-hal yang penting yang harus dianalisis dalam metode tersebut.

    O ya, coba pelajari code dari EUROCODE, kayaknya untuk hal tersebut lebih lengkap.

  • hendra // Mei 23, 2007 pada 6:33 am

    salam kenal mas wir!

    Saya mau nanya apa sudah ada peraturan pembebanan jalan dan jembatan edisi revisi sebab saya sangat butuh u/ literatur tugas saya mengenai jembatan prategang, jika ada file PDF-nya apa bisa di-download aja.

    terima kasih atas bantuannya.

  • dwi // Mei 25, 2007 pada 1:37 am

    Hai P’wir,

    Wah ternyata website bapak cukup komplit untuk mendownload.. banyak peraturan-peraturan baru yang saya dapat.

    Pa, saya mau tanya peraturan campuran beton (sni) terbaru untuk tahun 2004 (sni 2004) ada tidak ?

    Karena waktu di cek di website PU tidak ditemukan.

    Terima kasih bantuannya.

  • wir // Mei 25, 2007 pada 2:32 pm

    Hendra dan Dwi, literatur yang dimaksud belum ada. Mungkin ada teman-teman lain yang punya ?

  • Taufik // Mei 30, 2007 pada 9:16 am

    Pak Wir, punya referensi untuk desain base plate, dimana saya bisa down load, trims….

  • wir // Mei 30, 2007 pada 9:22 am

    ada di http://wiryanto.wordpress.com/2007/04/20/aisc-steel-design-guide-series/

  • Rayhan // Mei 30, 2007 pada 12:29 pm

    Salam kenal Mas Wiryanto. Nama saya Rayhan Habibie Mahasiswa Teknik Sipil UNDIP.
    Saat ini saya sedang mengerjakan tugas akhir saya tentang gedung parkir. Untuk analisis beban gempa saya menggunakan software finite element seperti staad, sap,dan etabs. yang ingin saya tanyakan berapa akurat perhitungan dengan software dan bagaimana cara checking nya?
    Dan apakah ada program untuk menghitung daktilitas suatu struktur?

    terimakasih banyak atas perhatiannya.

  • wir // Mei 30, 2007 pada 12:51 pm

    Terus terang saya senang dengan cara anda menyampaikan pertanyaan. Menyapa, mengenalkan diri baru bertanya. Saya jadi tergugah untuk menuliskan jawabannya, meskipun beberapa windows pada komputer saya juga sedang menuliskan sesuatu.

    Nggak tahu, apa karena sekarang sudah banyak komentar yang masuk, atau karena sudah lama kena budaya tanah kelahiran, maka jika ada pertanyaan yang kelihatan tidak serius, nulis dipotong-potong kayak sms, tahu-tahu nampilin sesuatu seakan-akan ini forum umum (nggak ada yang punya) maka maunya langsung menghapus itu komentar. Wah kalau mas Rayhan ini kayak orang jawa aja, tahu unggah-ungguh. :D

    Anda menanyakan akurasi ke tiga program di atas, maka jika modelnya sama, spesifikasi beban juga sama, termasuk strategi penyelesaiannya juga sama (khususnya analisis struktur elastik-linier) maka saya yakin mestinya hasilnya harus sama. Hanya karena sekarang perkembangan dunia penyelesaian numerik juga telah semakin maju pada pada program-program tersebut biasanya mempunyai option unggulan yang di program lain tidak ada (mungkin karena patent). Untuk itulah anda perlu menguasai batasan-batasan dari setiap program tersebut.

    Untuk menghitung daktilitas suatu struktur maka anda perlu program semacam DRAIN-2D (http://nisee.berkeley.edu/elibrary/getdoc?id=241279 ) atau IDARC (http://civil.eng.buffalo.edu/idarc2d50/), keduanya dapat di down-load. Ada juga Ruomoko dari New Zealan, tapi harus beli, juga CSI punya program serupa.

  • emil // Juni 1, 2007 pada 3:28 pm

    pak wir saya emil kul di UNISSULA Semarang.

    pak saya mau tanya tentang pushover analysis,berapa scale faktor yang dimasukkan pada pushover case, saya pakai program ETABS v9.saya pernah lihat yang struktur baja, sama apa tidak dengan struktur beton bertulang? input2 apa yang paling penting dalam pushover analysis??

    terima kasih..

  • wir // Juni 1, 2007 pada 3:40 pm

    sejak di uph ini saya nggak pernah megang etabs lagi, apalagi push-over analysisnya. Yang saya pernah pakai adalah sap2000 pada bangunan baja menurut fema. sudah agak lama sih, untuk detailnya coba lihat makalah saya yang saya presentasikan di sugiya pranata semarang tahun 2005 lalu. Udah baca belum.

  • viany // Juni 2, 2007 pada 5:50 am

    Thanks info nya Pak Badar dan Pak Wir, apakah ada info mengenai SNI untuk bidang elektonik juga Pak? Mohon info nya bila ada. karena untuk saat ini saya sangat memerlukan informasi tersebut. Mungkin juga dapat bermanfaat untuk reka-rekan lain . Terimakasih sebelumnya.

  • khidir // Juni 3, 2007 pada 7:35 am

    Saat ini saya sedang mengerjakan skripsi mengenai perencanaan mall. menggunakan struktur baja yang ingin saya tanyakan :
    1. apakah pembebanan sama dengan struktur beton (ACI 318-02) ?
    2. Apakah anda mempunyai literatur yang dapat mendukung skripsi saya
    tersebut?
    Terima kasih

  • emil // Juni 4, 2007 pada 3:14 pm

    pak wir saya sudah baca makalah bapak tapi saya masih bingung dengan input pushover case,mungkin bapak bisa menjelaskan??terima kasih sebelumnya.

  • Fred // Juni 4, 2007 pada 4:34 pm

    Hai Pak Wir dan teman-teman sekalian. Saya Fred. Saya mohon jasa baik teman-teman sekiranya memiliki SNI 1726-2002 English version, untuk dikongsi bersama di situs ini. Saat ini, saya sedang mengerjakan disertasi postgraduate saya.

    Terima kasih ya.

  • Loecy // Juni 5, 2007 pada 3:54 am

    salam kenal, dari mahasiswa TS UB
    saya mo nanya tentang SNI beton 2002, mengenai kuat geser.
    pada pasal 13 (kalo gak salah inget, hehe)
    dituliskan bahwa syarat dari kuat geser (phi Vu) lebih besar dari Vn atau V nominal.
    Apa gak seharusnya Kuat geser nominal nya yang harus lebih besar dari V ultimate yang udah ada??
    soalnya kemaren saya sempat bingung waktu mo ngerjain tugas beton.
    Atas balasannya, makasih….

  • wir // Juni 5, 2007 pada 4:49 am

    **viany**
    sni untuk elektronik jelas tidak ada di blog ini, mungkin di tempat lain ada. Kalaupun pernah ketemu yang karena bukan peminatannya maka diacuhkan saja. Ini khusus bidang teknik sipil dan yang terkait, lalu tulis-menulis dan sharing ttg kehidupan.

    **khidir **
    pembebanan ditentukan dari fungsi atau peruntukan bangunannya, jadi bukan beton atau baja strukturnya tersebut di buat. Literatur yang mendukung perencanaan mall, yah sebagian besar literatur yang ada disini , jika bisa atau tahu memakainya maka sebenarnya dapat digunakan. Silahkan down-load dan dibaca-baca.

    **emil**
    anda bingung ttg push-over, yah wajar mas emil. Itu masalah advance koq. Untuk memahaminya anda harus paham tentang perencanaan tahan gempa, juga performance base design. Coba lihat-lihat artikel ttg gempa, juga banyaklah membaca literatur FEMA. Ada artikelnya koq disini, misalnya http://wiryanto.wordpress.com/2007/03/16/menghadapi-bahaya-gempa/ di sana ada link ke FEMA, banyak tulisan tentang push-over analysis. Memang detail untuk pelaksanaannya di SAP belum ada. Namanya saja advance, untuk neranginnya sendiri perlu satu bab.

    **Fred**
    wah nyari yang berbahasa Inggris untuk sni itu koq rasanya jarang lho.

    **Loecy**
    Telah saya check ulang di SNI 03-2847-2002 versi yang diperbanyak oleh Jurusan Teknik Sipil - FTSP - ITB.
    di Bab 13 : Geser dan puntir , halaman 87 dari 278. tercantum dengan jelas bahwa phi Vn >= Vu

    Jadi sudah benar adanya. Kalau begitu anda salah baca kali. :(

  • ame n ina // Juni 6, 2007 pada 7:32 am

    salam kenal pak wir!
    kami mahasiswa TS UH,
    kami sdg mengerjakan skripsi ttg evaluasi proyek,
    yang ingin kami tanyakan :
    1. apakah ada standar untuk pekerjaan galian tanah, baik galian biasa maupun galian batu, timbunan tanah, dan timbunan pilihan pada pekerjaan jalan?
    2. apakah ada diatur dalam SNI?

  • wir // Juni 6, 2007 pada 7:39 am

    salam kenal juga. UH itu singkatan apa sih, universitas hasanuddin ya ?

    Ttg galian tanah dan sekitarnya, terus terang saya tidak familiar, tidak ada pengalaman tentang itu.

    Mungkin ada teman-teman lain yang tahu ?

  • Paulus Estee // Juni 12, 2007 pada 7:40 am

    Maaf Pak postting saya terdahulu salah dalam penulisan email. Email yg benar sudah saya tuliskan di kolomnya. Sepindah malih maturnuwun.

  • irvan // Juni 12, 2007 pada 8:07 am

    salam kenal untuk pak wir. Pak saya mau menanyakan tentang perhitungan lantai pada jembatan, karena info yang saya dapat kurang saya fahami. Dan apakah ada standar peraturan jembatan yang baru?
    Untuk sementara ini mungkin ini yang dapat saya tanyakan, atas perhatian bapak saya ucapkan terima kasih

  • wir // Juni 12, 2007 pada 11:54 am

    **Irvan**
    untuk peraturan jembatan di Indonesia yang sering dipakai adalah BMS yang dibuat dengan kerja sama Australia.

    Yang baru kalau tidak salah telah dibuat revisinya oleh ibu Lanny Hidayat dari PU dan teman-teman UI. Kalau tidak salah lho. Udah beredar belum ya.

    Tempo hari saya dikasih tahu hal tersebut langsung oleh ibu Lanny sendiri.

  • Ary // Juni 13, 2007 pada 1:13 am

    Untuk PU Bintek berdasarkan SK Menteri terbaru beban jembatan memakai RSNI T-02-2005

  • Bondan // Juni 18, 2007 pada 9:02 am

    Pak Wir,
    Saya sedang cari SNI 03-3427-1994 versi digitalnya, kira-kira apa Pak Wir tahu dimana saya bisa download?

    thanks
    Bondan

  • wir // Juni 18, 2007 pada 10:03 am

    SNI apa ya itu ?

  • ary // Juni 18, 2007 pada 10:33 am

    Kolam renang…

  • Jonathan // Juni 18, 2007 pada 11:28 am

    salam knal ya pak wir!!
    saya sedang nyusun tugas akhir mengenai metode pelaksanaan mass concrete nih pak wir..
    tapi saya sudah cari di internet dan perpustakaan kampus saya ga ktemu2..
    bapak punya literatur atau saran ga dimana saya bisa mendapatkan info tentang dasar teori dan metode pelaksanaan mass concrete khususnya pada pekerjaan pondasi.terimakasih ya pak wir.

  • wir // Juni 18, 2007 pada 11:58 am

    salam kenal juga Jonathan.

    mass concrete –> kuatir ada panas hidrasi yang tinggi –> retak.

    Apa itu yang anda kuatirkan ?

    Itu benar jika mass concrete pada bangunan dam dan yang sejenis dimana yang ditekankan adalah massa dari beton sebagai stabilitas. Untuk bentuk struktur seperti itu umumnya tanpa tulangan. Jadi disana kekuatan tarik beton memang benar-benar diperhitungkan. Jadi jika timbul retak akibat panas hidrasi maka kuat tarik beton hilang sekaligus berpotensi bocor.

    Karena takut ada retak tersebut maka diupayakan banyak hal untuk mencegah panas hidrasi tinggi, misal :
    * pakai agregat yang besar, sehingga cement-content sedikit kurang dari 150 kg/m3 . Kondisi tsb mengurangi panas hidrasi beton
    * pakai cement type IV atau pozzolan
    * sistem pendingan khusus yang ditanam

    Tetapi jika mass concrete tersebut untuk pondasi khan lain. Umumnya kalau struktur tersebut maka tulangannya dipasang untuk menahan tarik yang terjadi. Selain itu dalam perencanaan memang kuat tarik beton khan diabaikan. Jadi kalaupun ada retak yang dimaksud di atas khan nggak perlu dikuatirkan. Jadi intinya tidak ada hal khusus yang perlu dikuatirkan berkenaan dengan panas hidrasi tersebut. Paling-paling strategi pengecorannya saja. Biasanya pakai strategi papan-catur sudah mencukupi.

    Itu pernah terjadi pada proyek bank niaga untuk pondari rakit, lalu proyek silo di semen cibinong, waktu itu tebal pondasi solid > 2 m. Hanya pakai strategi papan-catur, nggak ada yang khusus lainnya.

  • Bondan // Juni 20, 2007 pada 2:28 am

    Salam Pak Wir,
    Maaf sebelumnya, saya memang baru ketemu situs ini.
    Itu lho pak, SNI tentang desain struktur kolam renang. Soalnya saya dengar, ada beberapa perbedaan dengan struktur biasa semenjak ada beban tetap yg relatif besar (air) dan pergerakannya. Saya pernah ketemu dengan alumni ITB (katanya), dia bilang kalo struktur kolam renang itu agak unik dan jangan diasumsikan sebagai “bak air”.
    Oh ya, kira-kira apa boleh jika saya perlakukan dinding kolam renang sebagai deep beam?
    Dan satu lagi, saya pernah baca buku yg memberi arahan desain deep beam berdasar aturan eropa dan india, tapi tidak dengan metode strut-and-tie, apa masih relevan pak?

    thanks.

  • wir // Juni 20, 2007 pada 2:58 am

    Setiap struktur mempunyai karakter sendiri-sendiri. Seperti oranglah begitu.

    Kolam renang yang dibangun di atas tanah langsung dan yang dibangun di atas bangunan, ya jelas sangat berbeda strateginya.

    Paling murah tentu yang diatas tanah, tergantung daya dukung (jenis) tanah dan tinggi muka airnya. Jika m.a.t cukup dalam dan tanahnya mempunyai daya dukung yang baik dan terbebas dari bahaya konsolidasi maka pakai sistem pelat tipis sekedar tidak bocor sudah mencukupi.

    Jika untuk dipasang di atas bangunan, selain meningkatkan berat beban yang harus dipikul untuk beban tetapnya maka meningkatkan resiko bahaya gempa, karena ada pertambahan massa dari air yang dipikul tersebut. Itu harus diperhitungkan.

    Dinding kolah sebagai deep beam, kayaknya nggak sesederhana itu, ada beban lateral juga khan dari tekanan air. Deep beam itu cocoknya jika beban di sisi atas deep-beam tsb.

    Metode strut-and-tie adalah metode perancangan deep-beam yang terkini, paling up-to-dated oleh karena itulah mengapa USA mengadopsinya ke ACI.

    Metode tersebut berani bersaing dengan metode numerik berbasis komputer yaitu F.E.A. Bahkan pada kondisi-kondisi tertentu dapat mengalahkan F.E.A dengan mudah.

    Paper saya yang akan saya sampaikan di EACEF bulan September nanti akan menunjukkan bagaimana s.t.m dapat dengan mudah mengalahkan f.e.a (dng program Abaqus).

    Itu juga akan menjunjukkan bahwa f.e.a bukan satu-satunya tool yang harus dikuasai oleh structural engineer. Tool-tool atau metode lain perlu dipelajari dan dikuasai juga.

  • Bondan // Juni 21, 2007 pada 9:28 am

    Trims Pak Wir atas tanggapannya.
    Jadi sebaiknya dinding kolam tetap dianggap sebagai dinding ya Pak? Ya… namanya juga ingin tahu pak.
    Lalu mengenai SNI-nya gimana pak? Atau mungkin rekan-rekan yang lain bisa bantu? Soalnya waktu saya agak sulit jika harus beli di PU (padahal sih gak punya duit…he…hehe…). Soalnya saya lagi mo belajar lagi, isi kepala saya udah lama tumpul (padahal emang gak pernah tajem).

  • robby // Juni 21, 2007 pada 11:08 pm

    Salam kenal pak Wir, saya Robby mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi tentang bangunan yang memiliki basement. Sebelumnya diucapkan banyak terima kasih atas adanya blog ini.

    Saya ingin menanyakan kepada Bapak tentang beberapa hal:
    1. Apakah perencanaan struktur basement harus dipisah dalam perencanaannya dengan struktur atas, atau hanya perhitungan beban gempa rencananya saja yang harus dipisahkan. (mengacu pada pasal 5 SNI 03-1726-2002).

    2. Pengaruh beban gempa pada struktur bawah (pasal 9 SNI 03-1726-2002) terdiri dari pembebanan gempa dari struktur atas - yang terdiri dari gempa rencana dari sturktur atas dan momen guling - , untuk gempa rencana dari struktur atas bagaimana pembagiannya pada struktur basement dibawahnya (apakah pembagian gempa rencana dari struktur atas sama dengan pembagian beban gempa statik equivalen seperti pada pasal 6.1.3 SNI 03-1726-2002), apakah lantai basement yang paling bawah yang berhubungan dengan tanah (z=0) juga mendapat beban gempa dari struktur atas.

    Banyak harap atas info dari bapak, saya ucapkan terimakasih sebelumnya………..

  • dian // Juni 21, 2007 pada 11:20 pm

    Pak Wir terma kasih atas adanya sharing knowledge yang sangat membantu bagi mahasiswa seperti saya.

    Oia pak bolehkah saya bertanya beberapa hal kepada bapak tentang SAP 2000.

    Pertama, Untuk retaining wall pada SAP 2000, kita menggunakan elemen jenis apa Asolid, Solid atau Area. Dan bagaimana penambahan beban tanahnya menggunakan surface pressure, pore pressure, atau uniform load. Bagaimana satuan tekanan tanah yang digunakan jika menggunakan jenis penambahan tersebut?

    Kedua, Bagaimana menambahkan beban lift pada balok jika lift diasumsikan digantung pada balok lantai teratas, jenis beban apakah yang digunakan, terus apakah beban lift dimasukan dalam perhitungan beban gempa rencana (V)
    Terima kasih kepada pak Wir sebelumnya.

    Ketiga, apakah jenis constraint yang digunakan jika retaining wall tersebut terkekang oleh balok pada sisi atas-bawahnya dan kolom pada sisi kiri-kanannya?, apakah sama dengan diaphragm constraint pada pelat lantai?

    Terima kasih

  • wir // Juni 22, 2007 pada 12:07 am

    **Robby**
    Pertanyaan anda sebenarnya tidak sederhana. Kasus per-kasus. Jika tanah di daerah basement cukup rigid (tanya soil engineer), sehingga pada waktu gempa dapat bergerak leteral sama-sama (rigid body motion) , terjepit bersama-sama dengan basement maka gaya gempa hanya berpengaruh pada stuktur lantai atas.

    Dalam hal tersebut, maka basement hanya menerima gaya gempa reaksi dari struktur atas. Gempa akibat reaksi tanah yang bergerak lateral dapat diabaikan. Intinya penjepitan lateral di atas permukaan basement.

    Sedang kalau sebaiknya tentu saja perlu dimodelkan berbeda, misal tanah dianggap ada tumpuan elastis.

    Apakah harus dipisah atau tidak. Mohon di chek lagi. Kalau tidak salah ada persyaratan bahwa pondasi harus berespons elastis, yang in-elastis hanya di kolom diatas permukaan pondasi. Dalam hal ini apakah basement mau dianggap sebagai bagian pondasi atau bukan. Ini engineering judgement.

    Cukup jelas ?

    Agak pusing ya. Kalau demikian maka prinsip yang dipegang adalah :

    1. Anda harus memastikan bahwa semua gaya-gaya yang bekerja dapat dialirkan dengan benar ke sistem pondasinya.

    2. Gaya gempa adalah akibat percepatan tanah, jadi perlu di ambil judgement apakah percepatan tanah di bawah pondasi dan di permukaan atas basement sama tidak. Jika sama maka dapat dianggap basement tidak terpengaruh gempa akibat pergerakan tanah. Hanya akibat struktur atasnya saja.

    **Dian**
    untuk retaining wall apa perlu pakai element Solid, Asolid atau Area. Apa cukup ditinjau per m panjang aja sehingga cukup pakai element Frame.

    beban lift - ya lihat data beban dari brosus lift yang digunakan dan check persyaratannya.
    Jika direncanakan sebagai elastis maka beban rencana untuk bagian tersebut tentunya berbeda. Kalau berbeda khan mestinya sebaiknya dipisah.

    constraint atau restraint, kayaknya kalau diaphragm constraint nggak cocok ya untuk ret. wall.

  • Ihwan // Juni 23, 2007 pada 1:24 am

    Ass.. maaf klo cari mau tanya.!

    KLO cari referensi tabel kekuatan tarik dan momen inersia pada Steel bar ke situs apa yang mudah dan harus bagaimana..???

    ini buat referensi tugas akhir saya..

    makasih atas waktu dan kesempatannya..

    wir : kenapa nggak dihitung sendiri, “steel bar” khan hanya bulet doang

  • PUTRAN JAYA // Juni 23, 2007 pada 3:10 am

    Selamat pagi pak!
    Pak saya mau tanya mengenai Periode Waktu Getar.
    Untuk analisis beban statik ada 2 macam rumus untuk mencari T, pertama cara empirik dan yang kedua Rayleigh dimana ada syarat bahwa tidak boleh > 20% dari T empirik.
    Untuk mengetahui nilai di atau defleksi lateral pada rumus T Rayleigh apakah nilai Fi nya dimasukkan dahulu ke setiap titik pusat massa tingkat dan didapat hasil dari analisis SAP kemudian didapatkan nilai T Rayleghnya?
    Mohon pencerahannya!

  • wir // Juni 23, 2007 pada 10:56 am

    Kalau sudah bisa SAP2000 mengapa mencari T pakai empirik dan Reyleigh. Pakai saja analisa dinamik (eigenvalue analysis).

    Caranya ? Lihat aja buku karanganku yang paling baru di halaman 249 dan 252, ada dua kasus. Jadi nggak perlu ya diulang lagi.

    Udah punya belum ? Jangan sampai ketinggalan, belum tentu ada buku serupa akan terbit lagi.

  • imam // Juni 24, 2007 pada 3:35 pm

    malem pak,

    saya ingin tanya mengenai tutorial SAP 2000 V.10. yang movie?,klo ada saya bisa download dmn ya pak??

    trims.

  • bobby // Juli 9, 2007 pada 12:57 pm

    malam pak.
    saya ingin tau tentang perencanaan fondasi tepi menurut SNI. bapak punya?mungkin saya bisa download. matur nuwun

  • wir // Juli 9, 2007 pada 6:36 pm

    @ imam
    saya kurang tahu, di web resminya udah di chek belum. Alamatnya ? Google aja.

    @ bobby
    Saya kurang jelas yang dimaksud dengan “pondasi tepi”. Apa memang ada SNI khusus tentang pondasi ya ?

  • anggie // Juli 10, 2007 pada 8:45 am

    pak wir,,,,ada SNI RAB 2002 tidak???
    terimakasih
    salam kenal

  • na.... // Juli 11, 2007 pada 12:59 pm

    Malem pak…..
    pak wiryanto..ni ana. saya lg nyusun skripsi tentang sistem struktur sekaligus penentuan nilai R(faktor modifikasi respon). diperkuliahan saya belum dapat banyak tentang hal itu. yang ingin saya tanya kan,sebenarnya R itu apa?digunakan untuk apa(fungsinya)? dan bagaimana mencari nilai R dari suatu bangunan yang sudah ada??ini masalah yang dasar sebenarnya, tapi saya kurang paham.kira-kira di jurnal atau di buku apa saya bisa dapat materi itu.
    makasih pak….

  • wir // Juli 11, 2007 pada 2:54 pm

    @ anggi
    tentang RAB tidak punya

    @ ana
    Uraian cukup jelas tentang R (Response Modification Coefficient) dapat anda baca di “Earthquake Engineering from Engineering Seismology to Performance Based Engineering”, edited by Yousef Bozorgnia dan Vitelmo V. Bertero, terbitan CRC Press 2004

    Note: saya punyanya hardcopy. :(

  • Taufik // Juli 16, 2007 pada 9:45 am

    Salam Kenal Pak Wir……..
    Nama Saya Taufik,

    Saya barusan nyari2 link untuk download SNI 03-1727 tentang peraturan pembebanan, tapi ga ketemu2, mungkin pak wir punya….

    Sukses Selalu Pak….

  • anto // Juli 23, 2007 pada 2:01 am

    Met pagi pak wir,
    2 the point aza…saya kadang masih bingung dalam menentukan type structure untuk perhitungan base shear. Karena masing-masing orang yang saya tanya jawabnya berbeda-beda. Untuk itu mohon penjelasan dari pak wir .

    Type structure itu :
    - Special Moment resisting Frame ( SMRF )
    - Intermediate Moment resisting Frame ( IMRF )
    - Ordinary Moment Resisting Frame ( OMRF )
    - Ordinary Brace Frame
    - Steel Eccentrically Brace Frame
    - Special Concentrically Brace Frame
    - Special Truss Moment Frame of Steel

    Data ini diambil dari UBC code. Karena masing-masing structure mempunyai koefisien R yang berbeda-beda yang berpengaruh dengan design base shear.

    Bukan type structure itu juga mempengaruhi bahwa structure itu rigid , ductile .

    Mohon penjelasan pak wir mengenai type structure di atas and detailing connectionnya, dan application di structure nya.

    Matur nuwun banget……

  • wir // Juli 23, 2007 pada 4:38 am

    **bingung dalam menentukan type structure untuk perhitungan base shear**

    Agar anda tidak bingung, ada baiknya anda mempelajari

    1. ciri-ciri fisik yang membedakan masing-masing type struktur tersebut, mulai dari konfigurasi geometri, juga bentuk sambungannya.

    2. pola keruntuhan masing-masing struktur terhadap beban lateral, khususnya melihat hubungan antara beban-lendutan yang terjadi. Ini juga nggak gampang, perlu lihat dari jurnal-jurnal terkait

    Jika anda sudah bisa melaksanakan langkah ke-2 itu maka saya kira kebingungan anda akan banyak berkurang.

    Jika masih penasaran, cari tahu filosophi pemilihan sistem struktur dari gedung-gedung yang telah dibangun. Gunakan pertanyaan : mengapa sistem itu dipakai, kenapa nggak yang lain.

    Mengapa saya meminta anda melakukan langkah-langkah tersebut karena intinya bahwa R adalah kaitannya perilaku struktur pada saat runtuh. Tepatnya bahwa nilai R juga menunjukkan faktor daktilitas struktur yaitu nilai lendutan ultimate (juga runtuh) dibanding lendutan saat leleh pertama.

  • santoso // Juli 29, 2007 pada 1:53 pm

    saya baru sekarang ketemu website mengenai teknik yang lengkap, apakah tidak pernah membahas mengenai software etabs, dan mengenai analisa untuk bangunan tinggi tahap demi tahap, thx

  • rena // Juli 31, 2007 pada 4:55 pm

    Salam kenal, Maaf pak saya mau bertanya beberapa hal tentang SAP 2000, dan tentang beton bertulang antara lain:

    1.Apakah perbedaan menggunakan elemen area, shell, plane, solid,asolid?

    2.Apakah perbedaan pembebanan area, surface pressure load, uniform load, gravity load, dan pore pressure load?, bagaimana outputnya?

    3.Pada output sap 2000 bagaimana menentukan geser dan torsi pada daerah lapangan balok, kalau untuk geser pada tumpuuan kan geser kritis sejarak d dari tumpuaan, bagaimana cara membaca untuk geser lapangan mengingat diagram geser dan torsi pada tengah bentang balok = 0?

    4.Bagaimakah mengitung tulangan geser dan torsi pada kolom, apakah pasal 13 SNI 03-2847-2002 dapat digunakan pada elemen kolom?

    5.Apakah perhitungan kekuatan balok (Mn) dengan tulangan tekan lebih banyak dari tulangan tarik (misalkan As=0,5 As’) (daerah tumpuan) dapat dihitung seperti pada balok lapangan, karena nilai (As- As’ nilainya poasti negatif), kalau dihitung dengan program Vb buatan bapak dihasilkan semua tulangan tarik?, atau perhitungannya dibalik dengan nilai As’ sebagai As?

    6.Oia , bapak punya referensi atau jurnal tentang perencanaan pile cap apa tidak?

    Maaf merepotkan atas banyaknya pertanyaan saya, Sebelumnya saya ucapkan terima ksih banyak atas atensi dan jawabannya

  • wir // Juli 31, 2007 pada 10:46 pm

    Pertanyaan banyak, jadi fokusnya kemana nih?
    Saya coba jawab :

    1. Ya beda dong, kalau sama ngapain hal-hal tsb ada. Untuk element area, perhatikan manualnya apa yang sebenarnya dimaksud dengan element tersebut. Itu termasuk element di FEM tradisional nggak ada, tapi kalau element shell, shell, plane, solid,asolid ada koq penjelasannya di buku-buku FEM tradional. Apa ya nama bukunya ? Ada juga koq di daftar pustaka di buku karanganku SAP2000 Edisi Baru yang baru terbit bulan April yang lalu. Sudah punya ?

    2. Penjelasannya panjang, ada di manual program. Tapi ada yang mau aku tanya, pore-pressure, apa ada yang di SAP ? Koq aku belum pernah pakai.

    3. Untuk menentukannya coba anda sisipkan node tambahan.

    4. Untuk struktur biasa, saya kira bisa. Tapi untuk bangunan tahan gempa, tulangan geser adalah bagian penting untuk menghasilkan daktilitas penampang. Ada persyaratan khusus yang harus diikuti.

    5. Dibalik ? Iya.

    6. Referensi, banyak. Tapi hard-copy. Itu ada juga yg soft-copy di rak buku, tapi pakai cara strut-and-tie model. Menurut saya, metode itu yang paling baik untuk menghitung pile-cap dengan sedikit pile.

  • Doedy Musdiyan // Agustus 3, 2007 pada 1:37 am

    Apakah kami bisa mendapatkan SNI 2002 Masalah Analisa harga satuan upah dan bahan bangunan gedung dan jalan.
    Apakah ada perubahan-perubahan koefisien yang ada.
    Terima kasih.

  • diana // Agustus 5, 2007 pada 5:26 am

    Maaf pak, salam kenal saya mau bertanya tentang kolom biaksial, Bagaimana cara menentukan nilai beta , pada kontur beban lentur biaksial Parme (Chu Kia Wang Desain Beton Bertulang edisi keempat,jilid I, halaman 465), apakah asumsi semata atau penentuan khusus?. Apakah dalam perencanaan pada Output SAP 2000 bisa menggunakan 2 kombinasi untuk satu elemen kolom sebagai nilai maksimum momen sumbunya, sebagai contoh M2, dari kombinasi5, dan M3 dari kombinasi 7?
    Bagaimanakah tipe keruntuhan pada kolom dan apakah hubungannya dengan fs dan fs’, misalkan kondisi tekan menentukan apakah nilai fs dan fs’ selalu > atau <
    dari fy.
    Saya juga mau bertanya apakah ada program khusus untuk menggambar penampang betondengan mudah, dan adakah cara mempelajari Autocad termudah, khusus untuk menggambar penampang beton saja.

    terima kasih banyak sekali lagi saya ucapkan ……………………

  • wir // Agustus 5, 2007 pada 1:11 pm

    Pertanyaan anda tentang perhitungan kolom rasanya banyak dibahas di buku saya ke-3. Di buku tersebut saya membahas bagaimana membuat diagram interaksi kolom (berbagai macam bentuk kolom, persegi, bulat, berlubang juga komposit) dengan bahasa pemrograman Visual Basic. Memang sih yang biaksial nggak ada. Tapi kayaknya yang lain akan kejawab.

    Disana juga banyak terdapat gambar-gambar penampang kolom yang saya gambar sendiri semua pakai AutoCAD.

  • diana // Agustus 6, 2007 pada 11:41 pm

    Pak saya mau tanya lagi tentang arti kalimat ini berdasarkan buku biro penerbit tentang kolom beton bertulang, yang isinya “…tegangan fs’ pada baja dapat mencapai fy apabila keruntuhan yang terjadi berupa hancurnya beton Apabila keruntuhan berupa lelehnya tulangan baja, besaran fs harus disubstitusikan dengan fy. Apabila fs’ atau fs lebih kecil dari pada fy maka yang disubstitusikan adalah tegangan aktualnya, yang dapat dihitung dengan menggunakan persamaan segitiga sebangun…..” berati pak pada keruntuhan tekan nilai fs’ dan fs selalu bernilai > fy sedangkan pada keruntuhan tarik nilai fs’ dan fs < fy.
    Oia pak saya juga mau bertanya tentang metode kekuatan batas dan metode tegangan kerja. Apakah perbedaannnya yang mendasar?
    terima kasih sebelumnya

  • Donald Essen // Agustus 7, 2007 pada 6:16 am

    Pak saya bantu ya pak saya mau belajar jadi dosen –dosen maya :) — semoga saya benar kalo salah tolong dikoreksi.

    Buat Diana:
    1. Bagaimana cara menentukan nilai beta , pada kontur beban lentur biaksial Parme (Chu Kia Wang Desain Beton Bertulang edisi keempat,jilid I, halaman 465), apakah asumsi semata atau penentuan khusus?
    Ans: rasa2nya nilai beta di trial and error nanti masukin dirumus dan grafik cek kembali dari asumsi awal kalau sama berarti asumsi benar kalo tidak trial lagi (kalo mau paper asli dari si Parme post email kamu nanti saya kirim). Rekomendasi saya gunakan strain compatibility dan sudah digunakan di semua software design yang ada.

    2. Apakah dalam perencanaan pada Output SAP 2000 bisa menggunakan 2 kombinasi untuk satu elemen kolom sebagai nilai maksimum momen sumbunya, sebagai contoh M2, dari kombinasi5, dan M3 dari kombinasi 7?

    Ans: yang kamu maksudkan ini adalah envelope momentnya dan harusnya tidak tepat. Cuma kadang2 org males cek semua kombinasi satu persatu jadinya diambil diambil Pmax, M2max dan M3max..yah boleh aja cuma ingat desain kamu bisa jadi sangat boros. Rekomendasi saya serahkan saja ke komputer untuk ngecek semua kombinasi.

    3. Bagaimanakah tipe keruntuhan pada kolom dan apakah hubungannya dengan fs dan fs’, misalkan kondisi tekan menentukan apakah nilai fs dan fs’ selalu > atau <
    dari fy.

    Ans: Saya menyarankan supaya belajar desain kolom dengan strain compatibility (don’t use approximate method unless you understand all the assumption and limitation) nanti akan terbayang dengan sendirinya perilaku keruntuhan kolom. Prinsipnya sama dengan balok cuma karena ada gaya aksial, lokasi garis netral bisa diluar penampang (jadi semua mengalami tekan) dan dari strain compatibility (Bernoully — linear strain sesuai asumsi penampang datar tetap datar sebelum dan sesudah bending) hitung regangannya pake hubungan segitiga dengan extreme conc. fiber 0.003, hitung stress pada baja dengan rumus fs = es*E fy sedangkan pada keruntuhan tarik nilai fs’ dan fs < fy.

    Ans: Dari bahasanya sih ini strain compatibility nah belajar saja cara itu lebih mudah dan kamu bisa buat programnya sendiri.

    6. Oia pak saya juga mau bertanya tentang metode kekuatan batas dan metode tegangan kerja. Apakah perbedaannnya yang mendasar?

    Ans: Pertanyaan yang paling sering kita dengan
    Allowable stress itu mendesian berdasarkan tegangan ijin dari elastic stress yang dihitung dengan ilmu mektek..(ingat tegangannya elastik)..no problem keliatannya tapi ternyata metoda ini dapat boros dan dapat juga gak aman (kapan-kapan saya kasih contohnya ya). Limit states datang dari kedua kelemahan itu dan didasari pada strength at ultimate (which no longer elastic) kadang disebut LRFD. Cuma diprestress masih ada lo pengecekan allowable stress saat service. Yah rajin2lah mendesain biar paham. Semoga membantu

  • Fred // Agustus 7, 2007 pada 3:41 pm

    Salam sejahtera Pak Wir.

    Saya ada pertanyaan mengenai nilai ‘n’ yaitu number of stories seperti yang tercatat pada Equation 25 dalam SNI 1726-2002, lagi mengira limiting fundamental period, T1.

    Soalan saya, apakah nilai ‘n’ di atas mempunyai kaitan dengan height of building? Ini karena adalah payah sekali mengira number of stories untuk irregular building, lebih-lebih lagi industrial building.

    Apakah perlu untuk mematuhi equation 25 di atas sekiranya fundamental period, T bisa diperoleh dari analisis 3D?

    Pak Wir, please advise.

  • wir // Agustus 9, 2007 pada 1:00 am

    Sdr Fred,
    Peraturan adalah peraturan, untuk apa itu dibuat. Adalah untuk menyamakan persepsi yang berkekuatan hukum. Tujuannya apa, adalah untuk menjamin keselamatan bagi pemakai.

    Seperti diketahui bahwa setiap isi peraturan adalah persyaratan minimum untuk struktur-struktur yang umum. Jadi tidak berlaku general. Apalagi peraturan SNI kita, yang relatif tipis dibanding peraturan serupa lain di luar negeri.

    Ttg n untuk menghitung T, maka itu valid untuk bangunan bertingkat yang umum. Untuk memberi guidance pada para engineer. Karena seperti diketahui bahwa T yang diperoleh dari analisis adalah didasarkan pada model struktur yang dibuat.

    Model struktur adalah berbeda dengan struktur real. Jadi tidak jaminan bahwa sudah pakai komputer-pun pasti hasilnya eksak. Jadi kalau hasilnya ada beda jauh antara analisis dengan yang tercantum di peraturan maka perlu klarifikasi khusus. Jika engineer mampu memberi klarifikasi tersebut secara memuaskan berarti bisa dipertanggung-jawabkan (peraturan bisa diabaikan).

    Ini tentunya jg menjawab pertanyaan yang terakhir ya. Pada prinsipnya untuk sembarang struktur maka analisis 3D dapat digunakan. Hanya yang penting bagaimana memodelkan struktur yang sembarang itu. Itu yang penting pointnya.

  • freddy sibarani // Agustus 9, 2007 pada 5:42 am

    salam kenal pak.wir..
    saya seorang mahasiswa teknik sipil yang sedang mencari judul untuk penelitian (Tugas akhir) dibidang konstruksi.
    kalau bapak bersedia saya mohon bantuannya untuk judul apa yang bisa saya peroleh..
    saya pernah mengambil tema dibidang jalan raya dan transformasi tapi dibatalkan karena pihak kampus tidak menyetujui, untuk itu saya mohon bantuan dari bapak atas masalah saya ini…
    terima kasih sebelumnya..

    wir’s comment : anda bertanya tidak pada topik yang tepat, silahkan baca dulu tulisan saya ttg menulis skripsi di http://wiryanto.wordpress.com/2007/02/24/tip-tip-menulis-skripsi/

  • asepmr // Agustus 18, 2007 pada 12:17 pm

    Salam kenal Pak Wir ..

    Saya alumni teknik sipil UGM, saat ini kami mengimplementasikan MS project 2003 untuk Project Rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh. Saya agak kesulitan untuk mengaplikasikannya pada project yang banyak dan ada di berbagai daerah. Adakan trik tertentu … (misal 1 desa ada 50 rumah, 1 kecamatan ada 10 desa, 1 kabupaten ada 3 kecamatan).
    Terimakasih atas bantuannya…..

  • badaruddin // Agustus 20, 2007 pada 2:58 am

    Pak wir,

    sebelumnya saya mohon maaf karena memberi tanggapan terlebih dahulu.

    Pak Asep, apakah yang anda maksudkan kesulitan dalam membuat work break down structure dari setiap item kegiatannya? atau ada permasalahan yang lain?

    Mungkin pertanyaannya lebih didetilkan dulu, sehingga tanggapan yang diberikan bisa langsung mengarah.

    salam
    badar

  • Sjanizar // Agustus 23, 2007 pada 3:09 pm

    Salam kenal pa wir, saya adalah pembaca setia buku sap 2000nya pa wir edisi lama + baru, saya merasa sangat terbantu dan terbuka wawasan saya dalam memahami sap 2000 secara menyeluruh, apalagi bab yang menjelaskan tentang shell elementnya (edisi baru), hidup pa wir…..saya tunggu karya selanjutnya pa…
    By the way saya dengar sekarang tengah di rancang peraturan gempa baru untuk pengganti peraturan gempa 2002, yang akan mengadop IBC 2006… apakah pa wir punya digital filenya pa? boleh minta dong… he…he..he…
    trus saya ingin belajar tentang push over pa, saya gak tau harus belajar dari mana pa ???
    mohon petunjuknya pa, makasih, semoga pa wir terus jaya
    salam
    sjanizar

    wir’s comments : file-file yang anda cari kelihatannya ada koq di blog ini.

  • asepmr // Agustus 24, 2007 pada 4:17 am

    Terimakasih PBadar,

    Betul pak, bagaimanakah sebaiknya membuat WBS yg praktis dan tidak menyulitkan kita dalam kondisi seperti pertanyaan di atas? selain itu saya masih belum mendapatkan dasar dari progress …% yg dikeluarkan oleh MS project, resources dengan lengkap sudah saya masukan baik itu material used ataupun labour (dalam hal ini di borongkan). Demikian PBadarterimakasih dan semuanya atas pencerahannya…

    Asepmr

  • Victor Toding, ST // Agustus 31, 2007 pada 6:39 pm

    Salam kenal.
    saya senang ada komunitas ini. sy memiliki konsultan perencanaan di papua barat. mudah-mudahan kelak kita bisa menjalin kemitraan untuk membangung provinsi yg ke 32 di Republik ini.

  • Ricky Rosadi // September 10, 2007 pada 4:33 am

    Salam Pak Wir,
    perkenalkan saya alumni Petra Surabaya.
    saat ini saya bekerja pada salah satu investor jalan tol. Sebelumnya saya pernah bekerja pada perusahaan kontraktor dan konsultan di bidang infra struktur.

    Ada beberapa hal yang mungkin harus dipikirkan bersama mengenai nasib civil engineer di Indonesia.

    1. kenyataan bahwa enginer2 kita memang dituntut untuk all out dalam mendisain suatu struktur dengan mengedepankan profesionalisme sekaligus dengan tanggung jawabnya.

    2. kenyataan bahwa engineer2 kita di Indonesia memang benar-benar tukang di bawah bendera konsultan atau kontraktor. Ini menyangkut dengan remunerasi yang rasanya tidak sebanding debgan tanggung jawabnya.

    3. di jaman bung Karno engineer2 kita powerfull semua, bekerja dengan integritas yang tinggi dengan rasa bangga (ini saya dapat dari senior2 saya di beberapa proyek).. saat ini banyak engineer2 kita yang akhirnya melacurkan disainnya dengan mencontek engineer lain dan menjual dengan harga murah, mungkin disebabkan hal2 tersebut diatas.

    dari pengalaman saya tersebut di atas (meskipun tidak semua mengalami demikian) perlu untuk di pikirkan bersama. sehingga engineer2 civil kita bisa menatap masa depan yang lebih menjanjikan.

    kepada calon engineer2 , sedikit masukan bahwa di luar persaingan sangat keras, bahkan saling menjatuhkan di antara engineer2 sendiri (sedih tapi banyak terjadi)… tapi jangan sampai idealisme kita di bidang teknik luntur hanya karena keuntungan sesaat :) teknik adalah ilmu pasti..

    semoga usaha kita semua yang dengan niat baik diberkati olehNya.

  • wir // September 10, 2007 pada 1:32 pm

    sdr Ricky meminta bahwa “harus dipikirkan bersama mengenai nasib civil engineer di Indonesia“.

    Betul itu mas Ricky !

    Itu tidak hanya engineer, nasib guru-guru kita juga lho. Dulu jaman tahun lima-puluhan, guru-guru kita dianggap “digdaya” sampai diminta ke Malaysia. Sekarang ?

    Padahal jaman orba, cukup banyak didirikan IKIP, institut keguruan ilmu pendidikan. Mestinya kualitasnya harus lebih baik bukan !

    Kenyataannya ? Bahkan sekarang dijumpai ada guru yang protes, demo. Jadi nggak beda dibanding buruh. Begitu bukan.

    Kenapa itu semua.

    Karena orientasi pendidikan kita sudah salah kaprah. Disebut sukses jika, jumlah kelulusan meningkat, IPK-nya tinggi, lulus tepat waktu. Dukungannya adalah angka-angka statistik yang didasarkan kuantitias.

    Lho, jadi kalau begitu itu salah.

    Nggak salah sih, tapi fokusnya jadi itu. Ada hal lain yang sebenarnya menjadi fokus tujuan pendidikan, yaitu : perubahan pola berpikir, perubahan mental dari pribadi-pribadi tergantung menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.

    Jadi jumlah kelulusan dan ipk yang tinggi tidak menjamin itu semua. Jadi pantas aja, pendidikan S1 kita di teknik tidak menciptakan insinyur tetapi hanya sekedar tukang, menjalankan apa-apa yang diminta kerjakan. Untuk inisiatip sendiri : nggak berani atau tepatnya nggak PD.

  • yan // September 11, 2007 pada 1:23 pm

    salam kenal pak wir,
    apakah bapak punya standar desain untuk dinding dermaga? lalu bagaimana mengenai metode konstruksi dinding diaphragma untuk dermaga? apakah ada SNI mengenai konstruksi seperti dermaga?

    Wir’s comments : coba cari di http://wiryanto.wordpress.com/2007/05/05/publikasi-navfac/
    disitu banyak publikasi tentang pelabuhan. Moga-moga apa yang dimaksud ketemu.

  • Maschun A // September 13, 2007 pada 11:48 am

    selamat malam pak Wir,
    Perkenalkan saya seorang mahasiswa UNS Solo. Saya ingin bertanya dimana saya dapat men Download SNI 03-XXX-2002 tentang analisis harga satuan upah ? mohon bantuannya..

    Terimakasih

  • rus // September 26, 2007 pada 6:23 am

    mas wir, saya kesulitan cari peraturan tata cara perhitungan untuk baja ringan dan spesifikasai dimensi profilnya mohon bantuan dan sarannya

  • badaruddin // September 27, 2007 pada 2:09 am

    Pak Rus, sekiranya anda bisa buka websitenya bluescope steel, mereka adalah produsen sekaligus pre-engineered untuk baja ringan.

  • badaruddin // September 27, 2007 pada 2:15 am

    Pak Yan,

    Apakah yang anda maksud dengan dinding dermaga? apakah sheet pile yang dipasang pada shoreline suatu dock?

    Apabila yang dimaksud adalah pemasangan sheet pile pada shore line, maka analisisnya dilakukan sama dengan perhitungan sheet pile biasa dimana yang diperhitungkan adalah :
    1. Ketahanan terhadap momen guling akibat tekanan tanah aktif dan pasif, bisa juga dengan sistem pengangkoran. pada saat perhitungan ini yang juga menjadi concern adalah posisi muka air sisi kanan dan kiri, harus di pilih kondisi yang paling kritis istilahnya dropdown condition.

    2. Perlu dimodelkan bidang gelincir dari tanah, sehingga diperoleh safety factor > 1.5 (nilai safety factor ini beragam tergantung sifat konstruksinya). pemodelan ini bisa dilakukan menggunakan plaxis (software berbasis finite element untuk pemodelan tanah).

    3. kapasitas dari tiang pancang dalam menahan momen dan geser sehingga tidak terjadi patah pada sheet pile.

  • andri // September 28, 2007 pada 2:32 pm

    Mas Wir, saya mau download SNI tentang gempa SNI 1726-2002. Kenapa tidak bisa? Disitu tertulis ” This user is out of bandwidth. ” Please email support@box.net for support”..

    Mohon bantuannya Mas Wir..

    Txs

    The answer please read it (but in Bahasa Indonesia). To solve the problem, please come again next month.

  • christine // September 30, 2007 pada 6:20 am

    pak Wir, saya mahasiswa asal makassar.saya ingin bertanya mengenai wilayah wilayah gempa di indonesia.kapan suatu wilayah masuk wilayah 3 dan 5?bisakah bapak mengirimkan file mengenai faktor keutamaan dan koefisien gempa dasar?

    Wir’s comments : pertanyaan anda ada di SNI gempa.

  • Bambang // Oktober 1, 2007 pada 9:38 am

    Mas Wir.. saya punya beberapa masalah yang belum terselesaikan, mohon bantuannya, yakni

    1. saya mau memperpanjang dak beton yang kantilever, sebelumnya dak beton kantilever tersebut sepanjang 1.13 meter dan saya mau memperpanjang menjadi 1.63 meter ( artinya bertambah 50 cm ), pertanyaan saya bagaimana model penyambungan tulangannya? apakah dengan membobok dak beton lapis atas untuk diambil tulangan lapis atas kemudian disambung dengan tulangan tambahan yang baru? kalau demikian disambung didaerah panjang mana? ( dengan prinsip sambungan lewatan 40D, atau disambung di bagian seperempat bentang panjang dak beton sebelumnya atau dimana? )

    2. Pertanyaan saya berikutnya apakah dengan penambahan dag kantilever beton tersebut masih dapat ditumpu oleh dinding bata dan tangga? ukuran plat 12 mm dan tulangan 2 lapis dengan besi 10 mm-20, balok kantilever ukuran 35 x 40.

    3. pertanyaan berikutnya apakah harus ada balok di tepi ujung dak beton kantilever tersebut?
    mohon bantuannya mas wir..trims..

    Wir’s comments : rasanya Bapak udah pernah bertanya dan saya udah pernah menjawabnya.

  • Mario Widodo // Oktober 2, 2007 pada 3:25 am

    Saya kok juga ketemu masalah seperti Andri ya pak Wir..” This user is out of bandwidth. ” Please email support@box.net for support”..

    Wir’s comments : ini mah penyakit akhir bulan, yang down load kebanyakan sih padahal pakai gratisan. Kunjungi lagi sekitar awal-awal bulan mas. Mestinya sekarang udah ok lagi ya.

  • indi // Oktober 2, 2007 pada 5:44 pm

    Syallomm…
    Pak Wir… Dlm SNI 1726-’02 subbab 5.5 Kekakuan Struktur…, dicantumkan ttg persentase efektif penampang.
    Gmna cara memasukkan persentase tersebut pada SAP 2000 V7.4???

    Wir’s responds :
    silahkan refer ke buku saya “SAP2000 edisi Baru” hal 72 ttg Data Penampang Batang.
    Ada dua cara :

    (1) Masukkan langsung parameter section properti jika anda memakai Data Type General Section (lihat Gambar 3.27).

    (2) Jika anda memasukkan via Perhitungan Otomatis Properti Penampang (hal 74) maka anda bisa memasukkan properti efektifnya via tombol Modification Factor (lihat Gambar 3.27 di form sebelah belakangnya).

    Adapun section property mana yang perlu dimodifikasi adalah tergantung dari modelnya, sebagai contoh jka modelnya 2D (frame) dan yang akan dimodifikasi adalah lentur maka section property yang dimodif adalah “Moment of Inertia about 3 axis”.

  • Bambang // Oktober 4, 2007 pada 5:07 am

    Maaf mas wir.. saya cari tidak ada jawabannya..maka dari itu saya bertanya kembali, mohon bisa dikirim kembali mas wir jawabannya..trims dari bambang

  • wir // Oktober 4, 2007 pada 5:27 am

    Pak Bambang ini bagaimana, ini lho jawabannya di