Telah tersedia di toko-toko buku.
<up-dated tanggal 15 April 2007>
Hari minggu tanggal 15 April 2007, mampir ke toko buku Gramedia Mal Taman Anggrek, ternyata ada tiga tumpuk tinggi buku karanganku ini, wah cukup banyak stock.
Jika di toko buku di kota anda belum ada buku tersebut, jangan menunggu terlalu lama, pesan aja langsung via telpon atau email ke penerbitnya yang menyediakan divisi khusus yaitu
SHOWROOM Elex Media Komputindo Jakarta
62-21 585 1473-4
62-21 536 99 123-4
email cs.retail@elexmedia.co.id

<tanggal 11 April 2007>
Rabu tanggal 11 April 2007 ini saya barusan check di toko Buku Gramedia Metropolitan MALL Bekasi. Sudah ada di counter CAD dan grafis. Harganya Rp. 82.500,-.
Wah mahal juga yah, untuk penglaris saya beli satu, he, he.
Meskipun mahal, tetapi buku tersebut akan menjadi buku SAP2000 berbahasa Indonesia yang paling lengkap, paling tebal yang pernah ada, yaitu 590 halaman (hasil survey bulan Maret 2007 ini). Kecuali itu, yang paling penting bahwa isinya bukan sekedar menerjemahkan saja tetapi benar bahwa sebagian besar adalah betul-betul orisinil sehingga dapat menjadi buku pendamping manual program SAP2000 yang sudah ada.
Buku ini, akan menjadi buku SAP2000 yang cocok dibaca bagi pemula untuk belajar sendiri, maupun referensi perkuliahan, yang di Jurusan Teknik Sipil UPH disebut mata kuliah Komputer Rekayasa Struktur. Suatu mata kuliah khusus yang mungkin tidak ada duanya di Indonesia, yang dikemas agar terjadi link-and-match perolehan yang didapat di perguruan tinggi dan dunia industri kontruksi.
Mata kuliah tersebut tidak sekedar mendidik siswa untuk mengoperasikan program SAP2000 seperti halnya yang terdapat pada kursus-kursus yang banyak ditawarkan, yang umumnya materinya tidak banyak berbeda jauh dengan materi-materi yang ada pada buku manual program. Sedangkan buku ini berbeda sama sekali, tidak didasarkan pada penerjemahan buku manualnya tetapi benar-benar merupakan hasil kulminasi pengalaman bertahun-tahun selaku praktisi (structural engineer) yang berorientasi pada hasil (nggak peduli bagaimana cara mendapatkannya) dan selaku guru (dosen) yang berorientasi pada proses.
Adanya mata kuliah tersebut merupakan petunjuk bahwa Jurusan Teknik Sipil UPH mampu untuk secara mandiri memberikan content yang berbeda, dan tidak sekedar mengekor dari yang lain-lain.
Ini juga merupakan bukti, bahwa kami di UPH mempunyai keberanian menyatakan karyanya secara nasional untuk dapat dievaluasi (oleh siapa saja) dalam bentuk buku yang beredar ke seluruh Indonesia oleh penerbit yang bereputasi tinggi dalam penerbitan buku-buku bermutu, khususnya untuk buku-komputer. Terbukti, sejak pertama kali terbit tahun 2004, edisi pertamanya habis di serap pasar.
Sebuah buku SAP2000 atau tentang program analisa struktur yang mendapat opini positip tertulis oleh lebih dari lima Profesor struktur dari P. Jawa yang dikenal sebagai pusat perkembangan rekayasa di Indonesia, sekaligus mendapat opini tertulis juga dari pakar bereputasi international (Universitas Sidney, Australia).
Kecuali untuk pemula dan mahasiswa yang mengambil perkuliahan teknik sipil, diharapkan juga bahwa buku ini berguna bagi rekan-rekan yang sudah ber-jam terbang tinggi memakai program tersebut untuk pekerjaan sehari-harinya (praktisi di konsultan rekayasa = structural engineer), khususnya untuk melihat apakah kuantitas penggunaan program sudah se-variasi seperti yang ada pada buku ini.
Diharapkan buku ini dapat menjadi pemicu penulisan buku-buku serupa oleh pakar-pakar teknik sipil di Indonesia, yang saat ini lebih suka menyimpan ilmunya sendiri, yang mungkin sebenarnya lebih banyak dan lebih bervariasi dari pengetahuan penulis. Akhirnya diharapkan masyarakat luas mendapatkan pencerahan dari karya-karya tulis yang tercipta.
Kinerja keilmuan (scientific performance) ialah produktivitas para ilmuwan dalam mempublikasikan karya-karya keilmuannya.
(Donald Pelz 1963)Sehebat-hebatnya seseorang, seluas-luasnya pengetahuan yang ia miliki, sekaya-kayanya gagasan yang ada dalam benaknya, tanpa ia mampu menuangkannya khususnya secara tertulis, belumlah cukup dan belum terbukti kehebatannya.
(Dedi Supriadi 1997)
Majulah Indonesia !
Kami di UPH bekerja keras untuk itu! Kami tidak mau “hanya menjadi segelitir elit di negeri ini”. Kami ingin menjadi berkat bagi bangsa ini. Semoga buku ini memberi banyak manfaat sebagaimana harapan kami tersebut.
“You are the light of the world. … , let your light shine before men, that they may see your good deeds and praise your Father in heaven.
(Matthew 5:13,16)
Berita-berita terkait tentang buku di atas :
- Sinopsis buku tentang intro buku di sampul belakangnya
- Buku SAP2000 Edisi Baru siap terbit cerita bagaimana merayu PT. Elex Media Komputindo sehingga mau menerbitkan versi buku ini yang telah sukses sebelumnya.
- Pameran Buku Konstruksi Indonesia 2006 sebagai invited speaker bersama Prof. Wiratman Wangsadinata
- SAP2000 ver 7.40 Student Version cerita tentang program versi lama tapi lebih reliable untuk materi pembelajaran, selain itu bukan versi bajakan (oprekan)
- Mata kuliah asuhanku di UPH cerita tentang materi kuliah yang laku dijual dalam bentuk buku secara nasional
- Karya ilmiah utama-ke-2 okt-2004 inilah buku tentang SAP2000 yang mendapat opini tertulis lebih dari tiga pakar bergelar Profesor bidang teknik sipil di negeri ini
121 tanggapan so far ↓
Endy Sudeska // Maret 22, 2007 pada 1:29 am
Salam kenal pak Wir, nama saya Endy Sudeska, saya kuliah di Jurusan Teknik Sipil di Universitas Riau.
Begitu saya membaca buku-buku bapak, saya bersyukur karena saya diberi kesempatan untuk membaca buku-buku Bapak sebelumnya. Saya sangat tertarik dengan apa yang bapak ajarkan. Tidak lama lagi insyaallah, saya akan menamatkan kuliah D3 saya. Saya ingin melanjutkan S1 kalau bisa di UPH, apakah ada pak program penyetaraan dari D3 ke S1 di UPH ? Berapa kira-kira biayanya ya pak ?
Oh ya pak, saya sangat tertarik sekali dengan rekayasa struktur menggunakan SAP2000, sebagai orang awam seperti saya ini apakah yang harus saya siapkan agar saya dapat menguasai program itu dengan benar dan dapat menggunakannya dengan baik ?
Apakah bapak membuka kursus SAP2000 di luar UPH ?
Saya mohon sudi kiranya bapak menjawab pertanyaan saya ini, karena ini akan sangat berarti sekali bagi saya. Saya sangat senang sekali bisa berkenalan dengan Bapak dan saya ingin Bapak bisa menjadi guru bagi saya.
Terimakasih pak Wir.
wir // Maret 23, 2007 pada 1:54 am
sdr Endy
Senang menerima komentar anda, seorang anak muda yang sudah bisa menikmati buku-buku di bidang ilmunya dan tidak hanya sekedar asal bisa lulus ujian. Peminatan anda terhadap buku-buku ilmu yang baik itu (he, he buku saya termasuk khan
) merupakan investasi yang berharga untuk masa depan anda, khususnya jika anda berkarir pada bidang ilmu tersebut.
Banyak buku-buku saya yang di koleksi sewaktu mahasiswa, dimana pada waktu itu buku-buku bajakan menjamur, ternyata berguna sampai hari ini, dan jika nyarinya baru hari ini, rasanya susah sekali lho dapetnya.
Syukurlah anda sudah hampir selesai sekolahnya, jika anda mempunyai kesempatan dan dana yang cukup, saya sarankan untuk menyelesaikan program S1-nya, karena tinggal sedikit lagi.
Bagaimanapun jika anda mempunyai gelar S1 maka anda mempunyai sesuatu untuk investasi jangka panjang yang sangat berguna dan tidak akan pernah anda sesali. Saran saya, untuk S1, carilah sekolahan lain agar anda mendapat wawasan yang berbeda, tidak hanya ilmu tetapi dengan lingkungannya juga.
Keinginan anda untuk masuk UPH sangat baik sekali. Sudah ada beberapa orang yang seperti anda, punya gelar D3 dan mau ambil S1, biasanya ditangani kasus per kasus, mereka akan diminta transkrip perkuliahan yang telah diperoleh, selanjutnya sidang jurusan akan mengevaluasi mana mata kuliah yang dapat disetarakan dan mana yang tidak, sehingga nanti akan ketahuan berapa SKS lagi anda perlu tempuh di UPH untuk mendapatkan S1-nya. Dari situ baru diketahui berapa biaya yang kira-kira masih diperlukan lagi.
Adanya mata kuliah yang dapat disetarakan dan ada yang hangus (tidak dapat disetarakan) itu mungkin terjadi, karena masalahnya, bidang D3 khan lebih fokus pada praktek, sedang S1 lebih pada ilmu dasar (fundamental). Umumnya D3 khan tujuannya agar bisa langsung kerja di tingkat madya. Sedangkan S1 baru menjadi dasar untuk pendidikan lanjut lainnya yaitu S2 (master) dan S3 (doktor).
Jadi, bagi pribadi yang mempunyai kesempatan (waktu) dan biaya (dukungan finansial) yang cukup maka pendidikan D3 adalah tanggung sekali, karena nambah satu setengah tahun lagi harusnya akan bisa S1 (itu jika konsisten masuk S1 dari awal ya, dengan asumsi untuk menyelesaian S1 adalah 4.5 tahun).
Sekali lagi, jika ada kesempatan (waktu) dan dukungan finansial , saya sarankan setelah selesai D3 langsung lanjutkan ke S1 dulu, nggak perlu kerja, mumpung umur masih muda dan belum kawin.
Pengalaman yang umum menunjukkan bahwa jika hanya mengandalkan D3 lalu bekerja pada orang, lalu kawin maka langit anda akan terbatas. Ingat itu kerja standar ya, kerja pada perusahaan. Kecuali jika berwiraswasta atau kebetulan mendapat kepercayaan khusus (beruntung) maka pendidikan formal tidak terlalu kelihatan bedanya. Tapi ingat itu pendapat umum, memang ada sih yang istimewa, bahkan ada yang tidak berpendidikan saja bisa jadi konglomerat, tergantung orang (dan nasib
).
Untuk saat ini belum ada kursus SAP2000 yang saya selenggarakan. Nanti kalau ada yang ngundang mungkin perlu dipikirkan.
Ok saudara Enda, saya tunggu anda di kampus UPH Lippo Karawaci.
salam
Apep Kusmara // Maret 24, 2007 pada 4:43 pm
saya sangat memerlukan panduan buku tersebut dimana bisa didapatkan
wir // Maret 24, 2007 pada 6:14 pm
Sabar mas Kusmara, saat ini sedang naik cetak.
Menurut pihak PT. Elex Media Komputindo baru selesai dan akan segera beredar minggu ke-3 April, yah akhir April atau awal Mei.
Untuk mendapatkannya, pasti di toko buku Gramedia khususnya di Jakarta. Untuk edisi pertamanya waktu itu paling banyak di toko Buku Gramedia Salemba, mestinya sekarang juga ya.
Besok kalau udah waktu edar tiba dan ternyata di lingkungan anda tidak ada toko buku Gramedia maka pesan aja langsung via email ke
catatan untuk menghindari spam maka @=at dan . = dot
Syarif // Maret 29, 2007 pada 5:15 pm
Aku mahasiswa program pascasarjana UNHAS Makassar, tesis aku masalah cable stayed non-linier, pertanyaan : bagaimana caranya menginput kabel di SAP2000 v.9
Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih
NB: bagaimana cara mendapatkan SAP2000 edisi 2007
wir // Maret 29, 2007 pada 8:12 pm
Sdr Syarif, mahasiswiku Rani pernah membahas pemodelan kabel tatapi waktu itu dibatasi pada problem linier dan pakai SAP2000 v7.4. Mungkin ada kemiripan, tetapi masalah anda khan non-linier dan pakai SA2000 v.9 khan lebih advance. Tetapi sebagai sekedar perbandingan boleh juga, silahkan dilihat makalah Rani di halaman lain di blog ini.
Note : perlu juga di pelajari non-linier apa yang akan dipertimbangkan pada analisis kabel anda. Non-linier geometri, material atau kontak. Setiap problem mempunyai strategi yang berbeda.
nang // Maret 31, 2007 pada 11:34 am
Saya junior engineer, belum lama berkecimpung di bidang perencanaan. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada Pak Wir, diantaranya :
1. Dalam menganalisa struktur (bangunan gedung) Program SAP2000 lebih unggul dan akurat dibandingkan dengan ETABS apakah benar demikian, meskipun ETABS sudah dikhususkan untuk bangunan gedung ?
2. Bagaimana cara membuat koordinat massa bangunan gedung di SAP2000, apakah secara manual ? Setahu saya di ETABS koordinat massa bangunan tiap lantai dapat ditentukan secara otomatis dengan menggunakan Assign –> Diafragma.
3. Untuk analisa gempa, kapan kita dapat menggunakan analisa cara Statik dan kapan harus menggunakan cara dinamik ?
4. Dari hasil output design SAP2000 dan ETABS, bagaimanakah caranya untuk dapat memilah / memberi penulangan (STRUKTUR BETON) secara cepat dan efisien. Mengingat bila hanya 1-2 lantai dapat dilakukan secara manual tidak terlalu rumit, namun bila sudah lebih dari 3-5 lantai cukup rumit dan memakan waktu lama untuk memilah-milahnya.
5. Seperti pada point 4, bagaimana pula halnya dengan STRUKTUR BAJA dimana kita harus menghitung sambungan joint-jointnya. Apakah ada secara cepat dan efisien memilahnya.
Maaf sebelumnya bila pertanyaanya cukup panjang.
Terima kasih
wir // Maret 31, 2007 pada 3:21 pm
sdr Nang,
SAP2000 dan ETABS adalah program unggulan dari CSI, masing-masing mempunyai keunggulan tersendiri dan tidak perlu diperbandingkan. Untuk analisis bangunan gedung bertingkat maka ETABS-lah programnya, sedang untuk struktur yang lain (misal jembatan, menara, crane, dll) maka SAP2000 lebih fleksibel.
Program ETABS secara otomatis menganggap lantai sebagai diagframa, sedang SAP2000 tidak. Jadi dalam menetapkan massa juga berbeda. Lihat manual masing-masing.
Statis jika bebannya bukan sebagai fungsi waktu, sedang dinamik jika bebannya adalah fungsi waktu, misal beban gempa, ledak / impak dsb.
Ingat analisis dan desain dari suatu program tidak mesti saling berhubungan. Itu sebenarnya dua buah program yang saling lepas. Jadi anda harus mengetahui batasan masing-masing program. Untuk desain struktur beton bertulang misalnya, program ETABS mungkin lebih mudah dibanding SAP2000 karena pada input data program ETABS sudah dibedakan apalah ini elemen balok, atau kolom atau shear wall. Sedangkan pada SAP2000 tidak demikian.
Program SAP2000 dan ETABS rasanya belum sampai pada tahap menghitung detail sambungan joint-jointnya.
**Apakah ada secara cepat dan efisien memilahnya.**
Yah itu menyangkut jam terbang, artinya semakin anda memahami kekuatan tool-tool yang anda gunakan maka akan semakin tahu : bagaimana sebaiknya. Misalnya : program analisa struktur saat ini semakin mudah, cepat dan digabung dengan gambar CAD maka seluruh komponen struktur dapat dengan mudah dimodelkan. Apakah itu balok induk atau balok anak semuanya dijadikan input program. Komputer sih nggak ada masalah, dia akan menghitung dengan teliti dan penurut. Masalahnya adalah outputnya begitu banyak, lalu anda harus membacanya untuk membuat gambar kerja. Yah baru tahu, pusing khan.
Kalau sudah begitu mungkin cara lama akan lebih mudah, yaitu mengelompokkan stuktur-struktur utama, sedangkan struktur sekunder dipisah. Sehingga kita lebih mudah dalam mengelolanya. Ini merupakan cara yang aku pilih.
Ok. gitu dulu yah.
Tony // April 2, 2007 pada 2:11 am
Saya mahasiswa Universitas swasta yang ingin sekali memperdalam ilmu SIPIL khususnya tentang Software SAP2000 dan orang yang sangat tertarik dengan buku yang bapa buat karena itu saya ingin memilikinya.
Ada beberapa pertanyaan dan saya harapkan bapa bisa menjawabnya :
1. Atas pertanyaan sdr. Nang tgl 31 Maret bapa kasih jawaban kalau program analisa struktur saat ini semakin mudah, cepat dan digabung dengan gambar CAD maka seluruh komponen struktur dapat dengan mudah dimodelkan.Apa maksudnya dan bagaimana caranya??
2. Saya orang yang juga menghargai hak cipta seseorang, saya sangat mengagumi bapa atas ketegasan bapa untuk tidak menggunakan software bajakan..walaupun dikomputer saya gunakan bajakan, karena saya sulit kalau harus belajar ke kampus dan kalau beli yang asli, saya mana sanggup pa. Saya mau tanya bagaimana saya bisa dapatkan SAP Versi Student dan bagaimana cara mendapatkannya???
Mudah-mudahan pertanyaan saya tidak membingungkan bapa.
Terimakasih sebelumnya
wir // April 2, 2007 pada 11:14 am
Saya juga dosen universitas swasta koq. Jadi sama-sama SWASTA ya
**program analisa struktur saat ini semakin mudah … **
. Pemakaian program tsb dibanding 5 - 10 tahun yang lalu (versi MS-DOS) seperti bumi dan langit. Tahu MS-DOS nggak, kalau nggak ya udah nggak usah diceritain, toh juga nggak tahu.
Lha iya khan, sudah pernah membandingkan belum ? Kalau baru pertama kalinya, dan anda langsung memakai program versi Windows, yah bersyukurlah
**SAP Versi Student **
udah baca ini belum : http://wiryanto.wordpress.com/2006/11/27/sap2000-ver-740-student-version/
nang // April 4, 2007 pada 11:24 pm
“Statis jika bebannya bukan sebagai fungsi waktu, sedang dinamik jika bebannya adalah fungsi waktu, misal beban gempa, ledak / impak dsb”
Maksud pertanyaan saya, beban statik disini adalah pembebanan gempa dg cara statik.Jadi bagaimana memutuskan pembebanan gempa apakah suatu bangunan perlu hanya memakai beban gempa statik atau kapan diperlukan beban gempa cara dinamis..
Terima kasih
wir // April 4, 2007 pada 11:36 pm
Yah itu khan udah jelas ada di SNI-1726-2002 pasal 4.2 ttg “Struktur gedung beraturan dan tidak beraturan”
Jika gedung anda dapat dikategorikan “Gedung Beraturan” maka cukup analisa statis dan sebaliknya jika dikategorikan sebagai “Gedung Tidak Beraturan” maka harus analisa dinamik.
Perlu diketahui bahwa dalam bidang engineering, tidak semuanya bisa mengandalkan logika sain teoritis, karena masukan dari sain empiris diperlukan juga. Lha berkaitan dengan empiris wah bisa banyak pendapat dan pengalaman orang berbeda-beda jadi perlu kesepakatan bersama. Suatu kesepakatan yang dikuatkan oleh tata aturan hukum menjadi CODE atau PERATURAN PERENCANAAN , contohnya SNI itu.
Jadi menguasai CODE perlu juga lho.
Santi // April 5, 2007 pada 9:48 pm
dear mas Wir dan sdr. Nang,
Izin ikutan berdiskusi ya.. boleh ya mas ?
Menurut ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan, bila gedung anda ketinggiannya melebihi 40 meter, maka anda harus memperhitungkan aspek dinamis dari gempa. Namun bila kurang dari itu, analisa statis ekivalen sudah dapat mewakili masalah pembebanan gempa.
itu menurut peraturan indonesia. kalo di amerika peraturannya membatasi sampe ketinggian 60 meter.
oke itu dulu,
salam
wir // April 5, 2007 pada 11:12 pm
Sdri Santi betul, tetapi hanya sebagian !
Ingat, evaluasinya tidak hanya ketinggian saja, masih banyak yang lain. Agar teman-teman yang lain tidak terkecoh dan tahu betul kapan menghitung dengan analisis statik ekivalen dan kapan harus analisis dinamik maka baiklah saya kutipkan SNI-1726-2002 pasal 4.2 sbb:
Santi // April 6, 2007 pada 3:57 am
oke deh mas wir.. santai aja…
semoga sdr. nang bisa puas dengan jawaban pak wiryanto yang panjang lebar. lha wong ada di peraturan kok ya..?
wir // April 6, 2007 pada 4:43 am
Mbak Santi, nanti temen-temen Univ. Andalas pada berpartisipasi ya di Konferensi Internasional UPH, di Lippo Karawaci 26-27 September 2007 ini.
Banyak lho yang ikut, yang kirim abstrak aja udah 125, pak Rendy Thamrin yang sedang sekolah (?) juga udah ngirim abstrak, mau ikut. Kalau dilihat, kira-kira separo pengirim abstrak dari luar negeri lho. Yah cari suasana baru, menambah jaringan se profesi gitu.
Salam untuk teman-teman di Univ. Andalas.
santi // April 6, 2007 pada 4:55 am
Masih buka pendaftaran abstraknya, mas Wir ? kita di FT-Unand kebetulan juga sedang mempersiapkan simposium internasional about kebencanaan. multidisiplin sih.. Juli ini.
dan juga kita sedang disibukkan dengan evaluasi gedung dan perumahan se-Sumatera Barat akibat gempa awal maret kemarin..
oke mas Wir.. mudah-mudahan media ini bisa jadi ajang diskusi yang bermanfaat buat staf pengajar agar bisa menjadi dosen yang bener-bener dosen..
salam..
wir // April 6, 2007 pada 7:32 am
Yah kalau minggu ini sih saya bisa bantu. Ini lagi nungguin paper alumni Jerman, karena kebetulan sponsor utamanya khan DAAD. Jika dirasa cukup ya kita tutup. Ikut aja mbak, kalau bikin abstrak khan cepat selama idenya ada. Mumpung ngumpul peserta-peserta dari manca-negara (lebih dari 16 negera). Itu rekan-rekan dari ITB ngirim papernya banyak sekali lho. Hanya sayang, rekan-rekan dari Jakarta dan sekitarnya kurang menanggapi acara kami. Kenapa ya ?.
Note : tapi tetangga ITI Serpong mendukung acara tsb dengan tiga (3) paper. Trims.
Ngumpulin peserta aktif yang banyak, susah lho, kebetulan kita bisa karena ada bantuan komitmen dari Uni-Stuttgart yang mau mengirim Profesor-profesornya, kalau karena usaha UPH sendiri kayaknya susah. Hebat, nama besar Uni-Stuttgart memang dapat dijual.
**ajang diskusi**
Semoga mbak, kita saling berbagi lha. Ilmu kalau dibagi-bagi nggak hilang koq, bahkan bertambah.
Endy // April 6, 2007 pada 10:25 am
Begini pak wir.
Saya ingin menanyakan tentang program SANSPRO :
Apakah bapak pernah menggunakan program analisa struktur tsb ?
Pada versi tingginya program SANSPRO dapat menghasilkan output berupa perancangan pondasi yang secara otomatis langsung ditentukan oleh programnya, dengan kita merancang strukturnya spt yang kita lakukan pada program SAP2000, maka pada program SANSPRO hasilnya sudah bisa menentukan bagaimana pondasinya.
Apakah hasil dari program tsb yang berupa perhitungan pondasinya langsung ditentukan oleh programnya sudah sangat mendukung untuk dilaksanakan dilapangan pak?
wir // April 6, 2007 pada 11:02 am
Kalau sama pembuat atau pencipta program SANSPRO yaitu bapak Nathan Madutujuh (down-load paper beliau di PETRA tentang software engineering di Indonesia), yah kenal banget, sama-sama kandidat doktor teknik sipil di UNPAR, dan sama-sama mengambil topik penelitian baja cold-formed.
Kalau menggunakan program tersebut belum pernah. Saya kira sama aja dengan program SAP2000 yang kebetulan telah saya kuasai cukup lama selain itu juga eksplorasi pada SAP2000 aja belum tuntas, masih banyak yang bisa dieksplore khususnya untuk pembelajaran. Itulah alasannya mengapa buku SAP2000 ada Edisi Baru-nya. Tetap beli ya mas Endy.
**sudah sangat mendukung untuk dilaksanakan dilapangan ?**
Wah mas, setiap penyelesaian program komputer untuk analisa atau desain struktur itu pasti didasarkan pada asumsi-asumsi tertentu. Selama anda pahami benar asumsi-asumsi yang digunakan dalam program dan melihat bahwa asumsi tersebut sesuai dengan kondisi lapangan yang sedang anda analisis, maka kemungkinan besar hasilnya juga akan sesuai dengan kondisi di lapangan.
Pada prinsipnya program-program tersebut mempermudah kita menyelesaikan permasalahan rekayasa yang akan kita kerjakan. Tetapi hasil akhir tetap pada insinyur-nya dan bukan ditentukan oleh program tersebut. Kalau ada kesalahan atau kegagalan, yang salah bukan programnya tetapi pemakainya, yaitu insinyur-nya itu sendiri.
Gitu mas. Materi buku saya juga intinya seperti itu, tidak mengandalkan bagaimana mengoperasikan program tetapi mencoba memberdayakan insinyurnya untuk memahami apa yang bisa dikerjakan program agar mengurangi pekerjaannya yaitu dengan mendapatkan penyelesaian yang cepat dan akurat (1?). Oleh karena itu pula, program yang dipakai dalam pembahasan buku ini masih ver 7.4 (disertakan juga di dalam CD buku) . Jadi programnya bukan yang terbaru, tetapi jelas masih tetap reliable khususnya untuk problem-problem analisa struktur pada tingkat S1 (S2 juga cukup relevan).
Endy // April 6, 2007 pada 11:26 am
Oh ya pak, kok buku SAP2000 yang baru belum beredar ya di Pekanbaru, padahal saya udah pesan jauh-jauh hari di toko buku Gramedia, apakah buku tsb dikeluarkan dalam jumlah terbatas ?
Bagaimana pak caranya menghitung BQ dengan cepat pak ? Seperti yang dilakukan teman-teman UPH yang mengikuti lomba rancang bangun di ITB kemaren ? Bisa kasih tahu rahasianya pak ?
wir // April 6, 2007 pada 2:54 pm
Mas Endy, buku SAP2000 memang belum beredar koq, katanya minggu ke-3 April ini. Semoga on-time. Nanti kalau belum ada di kota anda, lebih baik langsung via email ke mbak Dessy dan mas Wisnu, alamatnya ada di atas tuh.
BQ secara cepat dan tepat. Yah itu berkat bantuan mas Agung praktisi kontraktor yang meluangkan waktu memberikan konsultasi teknik ke mhs-mhs team UPH. Selain itu juga didukung oleh contoh-contoh kasus dan juga masukan-masukan yang diberikan oleh ibu Lanny Hidayat, pakar dari PU ttg jembatan (ini empunya jembatan) yang setelah pensiun berkenan untuk mengajar di UPH pada mata kuliah struktur baja dan jembatan .
Jadi memang karena didukung banyak ahli gitu, jadinya persiapan tim mahasiswa kita pada waktu itu memang mantap
.
Dionysius Siringoringo // April 9, 2007 pada 9:02 am
Halo Pak Wiryanto Dewobroto,
Salam kenal, saya senang ada figur seperti bapak yang rajin menulis blog termasuk ilmu-ilmu teknik sipilnya. Mudah-mudahan makin banyak lagi yang berminat menulis buku-buku teknik sipil dalam bentuk penyajian yang gampang dimengerti.
Satu hal yang jadi perhatian saya melihat banyaknya buku-buku teknik sipil yang beredar di Indonesia adalah kecenderungan untuk memberikan ‘jalan pintas’ pada penyelesaian masalah-masalah teknik. Mudah-mudahan lambat laun, kecenderungan ini dibarengi juga dengan kemampuan menalarkan logika teknik dalam bahasa sederhana bagi para pembaca, sehingga teknik sipil makin diminati tidak hanya secara praksis tapi juga secara metodologik.
salam,
Dionysius Siringoringo
wir // April 9, 2007 pada 11:34 am
Salam kenal juga mas Dion, ini sedang belajar atau sedang jadi ekspatriat di luar negeri, di Jepang ya.
Wah kunjungannya ke Milau bagus juga, memang hebat Perancis dalam membangun jembatan, nggak mau kalah dengan Jerman. Di Perancis sempat kemana aja, ke Lourdes sempat nggak.
**buku-buku teknik sipil di Indonesia cenderung memberi ‘jalan pintas’ **
Apa itu mas maksudnya, yang jelas buku teknik sipil lokal jarang lho di Indonesia. Jumlahnya sih bisa dihitung jari. Tapi dari sisi lain, saya salut dengan almamater saya di UGM yang cukup produktif menerbitkan buku-buku teknik sipil dan beredar sampai Jakarta yaitu dengan Beta Offsetnya. Sedangkan yang lain, umumnya hanya untuk ngejar kum, misal mau jadi profesor, jadi nyetaknya juga terbatas, nggak sampai beredar luas.
Kondisi buku teknik sipil lokal jarang saya maklumi, karena para penerbit umumnya masih melihat bahwa pasar buku-buku teknik sipil relatif sedikit dibanding buku-buku komputer atau manajemen. Jadi mereka takut nggak laku. Saya nggak tahu kenapa itu, apa karena rekan-rekan yang berprofesi teknik sipil memang jarang baca buku, atau males beli buku. Saya nggak tahu. Tapi dari sisi lain, buku-buku teknik sipil terjemahan terbitan Erlangga ternyata laku keras juga. Jadi kalau begitu kualitas buku-buku teknik sipil kita masih dibawah yang dari luar, jadi pada nggak mau beli. Akhirnya penerbit punya persepsi buku lokal jarang pembelinya.
Dari sisi lain, banyak teman-teman insinyur atau peminat bidang konstruksi / sipil belum memberi apresiasi terhadap buku lokal. Jika mereka dengan senang hati membeli pulsa misalnya 100 rb sekedar telpon teman (sehari habis) tetapi jika beli buku sipil seharga 75 rb dibilang mahal.
Ujung-ujungnya nulis buku hanya kerja sosial atau hobby, dan tidak bisa digunakan sebagai tambahan mata pencaharian. Akhirnya orang juga segan mencurahkan pikiran untuk bikin buku yang baik. Itu khan berbeda dibandingkan di Luar Negeri yang umumnya udah melek literer.
Jadi memang serba salah sih mas Dion, untuk dapat membuat buku yang baik, apalagi buku teknik yang banyak dilengkapi gambar dan grafik, perlu komitmen tinggi dari penulis. Khususnya waktu. Tapi jika dari situ nggak ada keuntungan finansialnya, maka dari mana sipenulis bisa hidup. Kalau saya mending, kebetulan jadi dosen di UPH dimana tunjangan finansialnya mencukupi tanpa harus kesana-sini jadi dosen terbang, jadi ada waktu untuk nulis. Coba kalau nggak, saya yakin, saya juga nggak bisa jadi penulis. Dan nulis bagi saya adalah hobby, jadi nulisnya dengan hati. Nggak laku juga nggak apa-apa, pokoknya yakin itu adalah yang terbaik bagi saya. Eh kalau kebetulan ternyata teman-teman sependapat, maka syukurlah.
nang // April 10, 2007 pada 12:39 pm
“Kalau sudah begitu mungkin cara lama akan lebih mudah, yaitu mengelompokkan stuktur-struktur utama, sedangkan struktur sekunder dipisah. Sehingga kita lebih mudah dalam mengelolanya. Ini merupakan cara yang aku pilih”
Pak Wir, kalau tidak keberatan tolong beri tips-nya dalam pengelompokkan struktur memakai menu-menu yang ada dalam sap2000.
Apa yang membedakan antara struktur utama dan struktur sekunder ?
Oya buku barunya sudah terbit belum pak? Kok sampai skrg saya lihat di Gramedia belum muncul. Tolong beri tahu saya via email ini bila memang sudah terbit.
Terima Kasih
wir // April 10, 2007 pada 12:53 pm
**pengelompokkan struktur memakai menu-menu … sap2000.**
Kalau pakai menu itu sebenarnya hanya pengelompokan bagi misalnya material, atau section-nya, atau mana yang perlu didesain dll, itu saja. Itu bukan memisahkan mana str-utama dan mana yang str-sekunder.
Jadi pengelompokan tersebut harus dimulai pada tingkat pemodelan struktur. Misal struktur sekunder hanya memikul pembebanan gravitasi saja, yang bisa di analisis secara lokal (setempat) dan hanya dipengaruhi oleh beban yang dipikulnya saja.
Sedang struktur utama umumnya selain memikul beban gravitasi juga memikul beban lateral (angin dan gempa) selain itu pengaruhnya harus dihitung secara keseluruhan, umumnya reaksi dari str sekunder akan diterima oleh str utama ini.
Konsep di atas umumnya dilaksanakan sebelum dikenal analisis 3D.
Analisis 3D memang membantu, tetapi belum tentu setiap analisis 3D menguntungkan, bahkan yang jelas data output yang perlu dievalusi semakin banyak. Pusing. Ujung-ujungnya hasilnya bahkan bisa boros atau bahkan berbahaya. Lha soal ini, aku telah memberi contoh kasus di bukuku SAP2000 Edisi baru.
**Oya buku barunya sudah terbit belum pak? **
Aku barusan check ke editornya mbak Eli di Elex, menurut beliau jadwal terbit di sana adalah 4 April, mestinya khan udah ada di toko buku. Anda di mana, kalau di Jakarta, coba deh chek ke Gramendia Salemba. Aku besok mau check, meskipun penulis aku juga penasaran sih.
Richard S W // April 12, 2007 pada 1:59 pm
Hallo pak wir..
Pak, mau tanya donk pak..
Klo mau cari tahu Torsional Constant dari profil tertentu gmn yah pak? terus klo mau cari Plastic Elasticity dari profil yang fully compact gimana yah pak…
Mohon petunjuk pak, terima kasih.
Richard S. Wiriyanto
Structural Engineer
Gulf Extrusions Co. (L.L.C.)
Tel: +971 4 8846146
Fax: +971 4 8846830
Mob: +971 50 6761575
“never ignore your own dream…”
wir // April 12, 2007 pada 2:08 pm
Richard,
Konstanta torsi khan sudah lama ada di buku ku SAP2000 ini khan, halaman 17.
Jika mau yang lebih lengkap lagi , juga tentang plastic section modulus, lihatlah “ROARK’S Formula for Stress & Strain” 6th Ed. , karangan Warren C. Young (1989) pada Chapter 5 : Properties of a Plane Area. Untuk konstanta torsi di Chapter 9: Torsion.
salam
wir
nang // April 13, 2007 pada 2:33 pm
Sudah saya dapatkan pak, akan saya coba pelajari dahulu nih.Soalnya baru tadi sore dapatnya…..
Terima kasih
wir // April 13, 2007 pada 5:57 pm
Sudah beli buku saya ?
Makasih lho.
Dapetnya di toko buku mana, di rak mana, cukup banyak nggak ?
TOMY HERLAMBANG // April 14, 2007 pada 3:37 am
Salam kenal Pak Wir,
Saya beberapa tahun ini bekerja sebagai structure engineer, dari yang saya rasakan kita sebagai engineer kadang susah sekali menerapkan tata cara desain yang ideal seperti di peraturan atau teori, hal ini dikarenakan waktu yang sangat terbatas untuk proses desain.
Selain itu permintaan arsitek yang kadang melanggar etika struktur, tapi mau tidak mau mesti kita layani karena menyangkut nilai jual bangunannya, juga menjadi dilema bagi kita orang teknik sipil. Kalau mau jujur sekarang ini konsultan yang idealis ya tidak dapat proyek, yang dicari yang bisa fleksibel, cuma saya sering lihat fleksibelitas itu membuat orang sipil melanggar keilmuan sipil.
Gimana tanggapan bapak mengenai ini?
wir // April 14, 2007 pada 4:52 am
Mas Tomy ditempat,
Saya bisa merasakan kegelisahan anda, dulu saya juga pernah begitu. Kuncinya hanya satu, REPUTASI.
Saya bisa merasakan bedanya, saya ingat, dulu sewaktu masih jadi structural engineer yunior di PT. W & A pada suatu rapat proyek dengan arsitek, owner, m&e karena adanya modifikasi arsitek yang berdampak terhadap struktur, kita berdebat cukup lama di meeting. Meskipun saya memberi argumentasi sampai berbusa-busa tetapi sampai meeting diakhiri, nggak ada kesepakatan, ngambang. Selanjutnya masalah dibawa ke kantor, diskusikan, waktu itu masih dengan pak Steffie, beliau setuju dengan alasan saya. Minggu depan karena kebetulan beliau juga mau ketemu dengan owner maka beliau hadir di meeting. Dalam kesempatan tersebut dibahas masalah yang sama. Beliau menjelaskan, jika modifikasi dilaksanakan maka akan ada masalah. Jika tidak mau ada masalah harus dihitung kembali pengaruhnya, dan hitungan tersebut tidak sederhana , ujung-ujungnya ada kesepakatan jika mau dilaksanakan maka perlu kerja tambah bagi engineer. Alasan yang digunakan sama, tetapi yang jelasin beda, hasilnya beda. Kenapa ?!
Hal tersebut merupakan contoh sederhana. Bagaimana engineer yang bereputasi memberi penjelasan, tentunya penjelasan tersebut adalah demi kepentingan client. Misal : jika anda hilangkan kolom ini, bisa saja, tetapi balok di atasnya bertambah besar, mungkin perlu pakai prestress, selain itu harus dichek kolom-kolom lain , terhadap beban gravitasi atau gempa. Kalau nggak di chek : bisa rusak lho kalau gempa. Owner mau nggak. Kalau nggak, maka harus dihitung ulang/ desain, artinya kerja tambah. dsb.
Kondisi di atas, kadang-kadang nggak bisa dipakai kalau ketemu arsitek sok pinter, yang menyatakan sesuatu diluar profesionalitasnya. Banyak lho. Itu kebanyakan arsitek-arsitek rumah tinggal / rumah mewah. Semboyannya adalah : nggak ada insinyur, juga bisa koq aku bikin rumah. Buktinya itu, ini, itu dll.
Kalau ketemu arsitek seperti itu, susah mas.
Ya memang, untuk bangunan rumah tinggal, kalau kita mau jujur, untuk pembebanan gravitasi, kebanyakan juga cukup pakai tulangan minimum. Yah, pantas, itu arsitek, mbangun tidak dengan hitungan pun juga nggak apa-apa, hanya berdasarkan pengalaman sebelumnya.
Kalau mau jadi structural engineer yang dihormati, masuklah ke struktur-struktur yang ‘besar‘, yang ‘beresiko tinggi‘ , yakin deh, omongan anda pasti akan didengar. Untuk gedung ya harus gedung tinggi, atau berbentang lebar atau berbeban besar. Tapi untuk itu ya anda sendiri harus menyiapkan ‘bekal‘ dan ‘mental‘ yang memadai.
O ya, menurut pengalaman, bangunan-bangunan dengan bentang besar, lalu memakai prestressed terhadap pembebanan gravitasi bagi ‘orang awam’ lebih menakutkan dibanding jika yang digunakan sebagai acuan adalah analis gempa. Yang pertama kalau gagal, langsung ketahuan, retak atau melendut, kalau gempa itu tidak langsung hasilnya.
Untuk membangun reputasi maka salah satu kuncinya adalah tidak plin-plan. Suatu keputusan yang pernah dikeluarkan tidak boleh berubah-ubah, oleh karena setiap keputusan harus dipikirkan masak-masak, atau telah dilakukan analisis yang baik sebelumnya. Analisis tidak harus pakai komputer, pakai manual-pun jika ok maka baik juga hasilnya.
Setiap keputusan yang diambil, tentukan adalah suatu keputusan terbaik, untuk menjadi terbaik maka anda tentunya telah mempertimbangkan solusi-solusi lain yang mungkin ada. Semakin anda berpengalaman maka anda akan semakin banyak mempunyai wawasan tentang solusi-solusi lain tersebut. Untuk melihat solusi yang terbaik tersebut maka kriteria safety (kekuatan), serviceability (kekakuan) tetap menjadi kriteria utama, baru setelah itu tentu saja faktor ekonomy (cost) , sumber daya manusia dan waktu .
**melanggar keilmuan sipil**
Saya kurang jelas dengan istilah tersebut, apa sebenarnya yang disebut dengan melanggar keilmuan sipil. Apakah kalau kita tidak sama dengan peraturan lalu bisa disebut melanggar. Tentu saja tidak, kalau kita tahu latar belakang mengapa hal tersebut tercantum di peraturan dan lalu kalau beda apakah akan beresiko lebih buruk atau tidak. Dalam hal tersebut tentu insinyur harus meyakini bahwa desainnya adalah yang terbaik dari apa yang bisa dibuat untuk kasus tersebut. Jika anda telah menyatu dengan ilmu anda, maka ilmu anda adalah keyakinan anda, jika anda melanggar keilmuan anda maka berarti anda mengingkari keyakinan anda. Kalau anda meloloskan yang menurut anda tidak baik, pasti suatu saat nanti anda akan menyesal akibatnya. Jangan sampai itu terjadi. Materi itu dapat dicari mas, mungkin belum rejekinya, tetapi kalau keyakinan diri hilang, wah susah nyarinya. Bisa terbawa mimpi, apalagi kalau ada korban sebagai akibatnya, sudah tahu nggak kuat, dibiarin aja, ketika ada masyarakat lewat, runtuhlah, jatuh korban, gimana itu.
Agar bereputasi maka kita harus mengenali diri kita sendiri, apa yang kita punya (kompetensi) dan apa yang kita tidak punya (harus belajar lagi atau diserahkan ke profesional yang lain). Kita harus berani menyatakan itu.
Agar bereputasi maka kita harus berani tampil, menampilkan karya-karya kita, berani menyampaikan argumentasi bahwa desain atau ide kita adalah yang terbaik. Misalnya dalam forum-forum ilmiah dsb-nya. Pada waktu jadi structural engineer waktu itu, saya tidak menyadari hal tersebut. Mengapa bapak Wiratman, bapak Steffi berbeda dengan structural engineer lainnya di kantor konsultan tersebut, kuncinya ternyata mereka aktif membuat karya tulis dan mempublikasikannya. Saya tahu itu waktu bapak Wiratman diangkat jadi Prof., beliau waktu itu telah mempublikasikan lebih dari 180 makalah ilmiah.
Kalau anda punya perencanaan struktur yang ‘hebat’ atau ‘bagus’ dan mempunyai keistimewaan jangan segan-segan dipublikasikan. Kalau segan, kirim aja ke blog ini, biar dilihat antar kita dulu. Lumayan lho, pembaca blog ini setiap hari lebih banyak dari 200 orang, bahkan kadang sampai 700 orang per hari.
Tomy Herlambang // April 17, 2007 pada 4:10 am
Maksud saya melanggar keilmuan sipil contoh nyata saya pernah suruh cek pondasi, bangunan sudah dicor sampai lantai 8 (podium) dari 30an lantai (termasuk podium+tower), dan owner minta tambah lantai, karena ada perusahaan oil company yang mau sewa dengan harga tinggi selama 20 tahun. Kita cek strukturnya, terutama pondasi, dan pondasi yang ada hanya bisa masuk jika tanpa digunakan Safety Factor, itupun benar-benar mepet. Menurut saya ini terlalu beresiko, karena artinya saya main-main dengan yang namanya probabilitas. Tapi desakan owner membuat kita tidak bisa apa-apa kecuali membiarkannya. (Kita tidak mungkin menambah pondasi, karena kondisi lapangan tidak memungkinkan)
Contoh lain, saya sering lihat orang sipil, bahkan konsultan struktur mengabaikan gempa (meski tidak sepenuhnya). Seperti kata bapak terutama untuk low rise building. Gempa dianggap sesuatu yang jarang terjadi, kalau terjadipun itu bencana, statement seperti itu benar-benar buat kita orang sipil kecewa. Kalau mau sedikit buka aib, kita lihat kontraktor2 design&build, orientasi mereka sehemat mungkin, dan kadang design gempa memang diabaikan, ini nyata tapi saya tidak berani sebut nama.
Sebenarnnya saya cinta sipil Pak, tapi beberapa tahun lihat dunia sipil yang nyata, sedikit buat saya kecewa. Kenapa sipil kita tidak bisa seketat di luar negri, dari segi peraturan, desain, sampai aplikasi lapangannya. Peraturan gempa kitapun sekarang ini tidak jelas gitu, banyak aliran sesuai idealismenya, mestinya kan duduk bareng bikin peraturan yang tidak membingungkan.
Terus mengenai fee untuk konsultan struktur di Indonesia juga sungguh menyedihkan, demi dapat proyek banyak yang banting harga sampai “tidak manusiawi” kalo dibanding kerjaannya. Ini yang nurut saya mesti di kaji oleh petinggi-petinggi negara atau HAKI. Karenanya dampaknya konsultan dalam setahun bisa kerjakan banyak proyek (bisa 5-10) demi kejar setoran buat survive perusahaannya, lha gimana bisa konsentrasi kerjanya. Di Amerika perusahaan konsultan dalam setahun cukup kerjakan paling banyak 2 proyek, tapi sudah bisa survive dan untung. Makanya structur engineer disana bisa totalitas dalam kerjanya.
Buat temen-temen butuh info buku sipil kita bisa sharing bersama, saya ada banyak copyan buku-buku baru luar negri yang tidak beredar disini. (Saya copy dari temen buku saya yang sering ke Amerika, untuk kemajuan ilmu sipil membajak sedikit gak pa2 kan ya Pak Wir, pinter kan gak harus mahal he..he..).
Sory Pak Wir ya curhat saya banyak banget, makasih juga untuk jawabannya. Salam
wir // April 17, 2007 pada 11:39 am
Wah yang namanya masyarakat mas, ya memang begitu, ada yang berhati malaikat ada yang berhati setan. Ya kita memang ada di dunia ini khan untuk menerima ujian, mau ikut yang mana.
Jadi yang paling penting integritas, visi misi apa, apa tujuan kita hanya materi dan menghalalkan segala cara. Setiap pribadi jelas berbeda-beda. Sebagai contoh berkaitan dengan hal di atas, tanggung jawab kita selesai pada saat kita menyatakan bahwa itu tidak layak, masalah apakah itu diterusin oleh pemiliknya, itu hak dia. Kewajiban kita sudah terlaksana dengan berani menyatakan. Ya seperti nabi aja, teriak saja, teriak sini belum tentu yang dengar ngikutin. Ya kita juga seperti itulah. Jangan kecewa. Kecewalah jika anda tidak berani menyatakan.
Kalau anda terus konsisten, dengan hal tersebut dan juga mempertajam ilmu anda dalam memprediksi kebenaran pernyataan anda, lama-lama kelihatan koq. Omongan anda akan menjadi pegangan. Itulah yang membedakan antara engineer sejati dan pegawai tukang hitung bangunan.
**Makanya structur engineer disana bisa totalitas dalam kerjanya.**
Yah, kita manusia selalu melihat kebun tetangga selalu lebih hijau dari kebun sendiri, mensyukuri adalah suatu kata yang gampang-gampang susah. Tetapi sekali anda bisa mensyukuri maka itulah kebahagiaan. He, he berfalsafah, tetapi memang begitu koq.
Raden Indra // April 17, 2007 pada 12:53 pm
Saya udah pantau dari 3 bulan yang lalu, setelah saya tunggu lama akhirnya muncul juga…soale buku yang dulu saya punya hilang..
Akhirnya saya dapet di TB. Toga Mas (Ring Road - Yogyakarta), tapi koq cuman ada 8 stok ya…padahal katanya baru dateng.. Hmm, mungkin karena lumayan mahal kali untuk kelas mahasiswa hehehe .
Ok, saya bantu promosinya deh pak, di UTY klo ngajar ke mahasiswa saya, juga di UGM klo pas ngajar pelatihan SAP…
Btw sepertinya kualitas kertasnya jauh dibawah yang Ed.pertama yah.., trus shell-nya ngga begitu mendalam, padahal saya nunggu bagian shellnya yang lebih lengkap, bisa jadi buku sendiri tuh pak, mungkin dikolaborasikan sama ABAQUS. Pak wir punya bahan2 tutorial tentang shell (fem) yang lengkap, atau saya bisa lihat ke web apa untuk SAP ini? (mohon pencerahannya ya pak…
..
Anyway SAP yang baru ini kualitas penulisannya jauh lebih baik dari yang pertama, the best lah pokoknya…
Sukses selalu ya pak..
salam
Indra
wir // April 17, 2007 pada 1:10 pm
**shell-nya ngga begitu mendalam**
Itu materi khan untuk level S1, sedangkan shell nggak setiap level S1 ngasih, di UI diberikan di level S2. Karena itu diarahkan ke plane stress biar bisa dipahami pada level tersebut sekaligus dan sinkron dengan materi strength of material (ttg tegangan).
Penting juga diungkapkan bahwa di bab ttg plane-stress tersebut dibahas secara rinci bagaimana pemodelan dengan element SHELL yang memerlukan proses konvergensi. Pemahaman tsb sangat penting karena waktu memakai element FRAME hal tersebut tidak kelihatan.
Penulisan tahap-bertahap sampai memakai proses konvergensi merupakan hal yang nggak gampang khususnya yang belum memahami konsep FEM yang benar. Ini yang mau diungkapkan. Karena kalau hal tersebut sudah dipahami apakah itu element membran atau bisa sebagai SHELL penuh ya nggak terlalu kelihatan. Bedanya kalau SHELL khan gabungan dari membran dan plate aja khan.
Untuk shell (fem) yang lengkap secara teoritis itu bukunya Prof. Katili dari UI, yang menerbitkan Biro Penerbit UI, tapi nggak tahu sampai Yogya nggak ya. Tapi menurut saya, uraian Prof. Katili cenderung bagaimana membikin formulasi element bukan cara pakainya, termasuk juga konsep konvergensi tidak terlalu ditekankan.
Sepengetahuan saya, khususnya yang buku yang berbahasa indonesia, belum ada yang mengungkapkan pemakaian element dua dimensi (SHELL) sedemikian detail seperti yang ada di tulisan saya tersebut lho.
othep // April 17, 2007 pada 5:12 pm
salam pak wir..
pak buku bapak yang baru membahas sap2000 versi berapa? v.10?
(saya belajar versi 7 tapi waktu mo ngoperasiin v.10 koq ada hal2 yang serupa tapi tak sama yah.)
wir // April 17, 2007 pada 8:43 pm
Utamanya adalah versi 7.4 Student Version, tetapi pada bab 7 tentang element Membran (SHELL) karena jumlah nodal cukup banyak harus memakai versi 7.4 full version (tidak dibatasi nodal).
Selanjutnya pada bab 9 yang berbicara tentang buckling (advanced analysis) harus memakai versi 10.0.1 karena versi 7.4 belum mempunyai option tersebut.
Dalam buku saya juga dituliskan bahwa versi lama dan versi baru pada kasus-kasus umum tidak berbeda, versi baru perlu jika memang ada opsi baru yang diikutkan (biasanya ini advanced) sehingga tidak setiap pemakai mesti perlu yang baru. Ini penting karena di sini (orang indonesia) yang suka memakai program bajakan maka kalau ada yang baru langsung pakai. Pokoknya keren kalau mau pakai yang baru, padahal yang lama juga belum tuntas menguasainya.
Di luar negeri karena copy-righted sudah ketat sehingga hanya bisa membeli versi yang resmi yang umumnya kalau ingin ganti harus menyiapkan anggaran khusus maka mereka benar-benar menelitinya terlebih dahulu apakah anggaran yang saya keluarkan ini (untuk beli yang baru) cukup pantas untuk mendapatkan fasilitas baru pada program yang akan dibeli tersebut. Karena hal itulah mereka umumnya lebih mengenal programnya lebih dalam dibanding kita pada umumnya.
Mbilung // April 19, 2007 pada 5:39 am
pak bukunya SAP2000 kok muahal ya

tidak sesuai harga mahasiswa pak
bapak bagi bagi voucher dong untuk dapat diskon buat beli bukunya bapak
he he he
hidup IPDN !**sengaja saya coret - wir**http://ipdnmania.wordpress.com
wir // April 19, 2007 pada 6:03 am
Sebenarnya ketika melihat kata-kata yang saya coret di atas, saya langsung akan men-delete comment sdr Mbilung tersebut. Terus terang saya muak dengan berita-berita ttg
IPDNitu, tetapi setelah saya lihat blog tsb ternyata isinya satire. Ok-lah jadi saya biarkan tampil di blog saya.**tidak sesuai harga mahasiswa pak **
Nggak juga, coba anda beli pulsa dengan anggaran seperti itu, sebulan pasti udah habis, padahal jika anda beli itu dan anda baca, itu bisa untuk ngembaliin modal.
Tapi kalau menurut anda itu mahal, ya jangan dibeli dong. Kita harus beli sesuatu yang berguna, pada masa ini uang harus di investasikan ke hal-hal ‘benar’.
Meskipun ‘benar’ menurut pendapat orang bisa berbeda-beda. Misalnya, kayak kita sekolah aja, ada disediain duit boleh beli mobil atau boleh untuk sekolah. Bila beli mobil bisa untuk jalan-jalan, langsung seketikan, jika untuk sekolah sudah membayar tetapi bikin pusing juga. Pilih mana mas. Sekarang sekolah juga nggak murah koq. Kalau mau gratis, resikonya akan seperti yang ditemui di institusi yang saya coret tsb. **sedih**
Aji Pranata // April 20, 2007 pada 4:37 am
selamat ya pak Wiryanto, buku SAP2000 sudah terbit, saya sedang mencari di Gramedia Bandung tapi belum dapat, mungkin beberapa hari lagi baru masuk ke Bandung.
buat bpk Endy, mengenai SANSPRO, kebetulan saya pernah liat dan sering baca di website resminya, ada di http://nathanmadutujuh.googlepages.com dan di http://www.esrcentre.com. barangkali berguna. thx.
Anton Halim // April 20, 2007 pada 11:27 am
Kepada pak Wiryanto.
Pak terima kasih atas informasinya.
Saya telah memesan di Gramedia Jl. Manyar Surabaya, kemarin bukunya baru datang dan saya diberitahu pihak Gramedia oleh karena itu saya langsung beli edisi baru tersebut .
Terima kasih banyak semoga sukses dan sehat selalu dan kapan bapak menulis mengenai ETABS saudara kembarnya SAP.
wir // April 20, 2007 pada 11:33 am
Terima kasih pak Halim, bapak mau membeli buku saya, semoga berguna dan berkenan untuk merekomendasikan ke teman-teman Bapak.
Untuk sementara saya belum berpikiran untuk membahas ETABS, karena saat ini saya sedang berkonsentrasi mempelajari ABAQUS dan SOLIDWORKS atau COSMOS, mungkin Bapak pernah dengar. Tapi ok-lah, moga-moga saya ada pencerahan seperti yang bapak maksud, siapa tahu lalu belok ke ETABS.
Sekali lagi, terima kasih pak atas dukungannya.
salam
Himawan EP Dibyoseputro // April 21, 2007 pada 11:38 am
Pak Wir apa kabar ?
Pak ingat saya to, teman seangkatan 83 di JTS FT UGM, ingat tahun-tahun 1991-1993 kita ketemu di Benhil, aku minta tolong “ngetungke” konstruksi atap tanki ?
He..he.. makasih selalu lho ya… Aku tak pernah lupa sama susu Sarihusada-nya dulu lho … aku masih penggemar SAP2000 lho Pak Wir… aku masih ingat betapa serunya nginput data dengan SAP 90 …
Aku pasti beli bukunya Pak Wir.
wir // April 21, 2007 pada 11:51 am
Kabarku baik mas Himawan, masih selalu bisa ngisi blog, pokoknya masih bisa idealis-idealis gitu. Gimana kabar mas Himawan, apa masih di Yogyakarta, sudah ‘mbathi’ belum.
Aku jadi ingat radio-pemancar-nya dulu, sekarang masih ada ? Ingat nggak lampu tabung 807 atau 813 yang selalu diganti itu lho. Sekarang udah pakai FM ya.
Lho sekarang emangnya masih otak-atik SAP2000, apa mas Himawan masih di bidang teknik sipil kegiatannya.
**Aku pasti beli bukunya Pak Wir.**
Terima kasih mas Himawan, karena anda-anda semua yang mau membaca itulah maka menulis buku menjadi suatu hobby yang menyenangkan.
Dul Manuel Santos // April 22, 2007 pada 7:46 am
Terimakasih, saya orang awam tapi saya senang membacanya.
Sebenarnya buku ini sangat bermanfaat untuk beredar di Negeri kami, tapi karena berhubung fee nya, oleh karena jarak antara Dili dan Jakarta harus lewat di laut dan udara, maka di tempat kami tidak akan mendapat kebagian dari buku ini.
Saya sebetulnya mencari International relation tapi kebetulan menemukan kolom ini ya terima kasih.
Regards
bowo // April 23, 2007 pada 3:34 am
Pak Wir, saya awam yang mau bertanya.
Untuk lisensi SAP2000 ini caranya memperolehnya gimana ya ?
Kalau misal buat kebutuhan resmi kantor seperti apa prosedur yang harus saya ikuti ?
Ary // April 23, 2007 pada 6:38 am
Weh hebat mas Wir sudah 4 buku .. gile…
salut…
menurut saya element cable SAP2000 aneh….
itu menurut saya lo.
entar beli deh kalo sempet mampir ke toko buku, ada jembatannya nggak ? moving load ?
wir // April 23, 2007 pada 2:42 pm
**Dul Manuel Santos**
Materi buku saya tidak tergantung negara, dimanapun diperlukan khususnya jika ingin mendalami program analisa struktur yang bereputasi internasional yaitu SAP2000
**Bowo**
Untuk lisensi maka sebaiknya hubungi agennya di Indonesia, caranya anda bertanya aja di http://www.csiberkeley.com/ tanya mau beli atau apa gitu. Nanti anda akan dihubungi oleh agennya di sini.
Tips : jika dihubungi jangan kaget ya. Apa itu ? Yah, pokoknya gitu.
**Ary **
.
Bukan ‘sudah‘, tetapi ‘baru‘ empat buku, gitu lho.
Dukung ya.
Romeynandi // April 27, 2007 pada 6:46 am
Sebelumnya saya mohon maaf karena belum membaca buku Bapak.
Saya adalah seorang wiraswasta kecil-kecilan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi di kota Palembang. Saat ini saya sedang aktif mengerjakan proyek di perusahaan asing, yang menjadi kendala adalah pihak perusahaan tidak mau menerima analisa upah dan bahan standar Indonesia, pihak perusahaan meminta analisa yang standard amerika.
Saya kesulitan mencari buku analisa standar Amerika semua dosen kuliah saya termasuk Dekan sudah coba saya tanya, tapi beliau-beliau tidak mempunyai buku tersebut dan tak mempunyai referensi dimana saya dapat memperoleh buku tersebut. Maka melalui surat ini saya mohon kiranya Bapak bisa memberikan referensi dimana saya dapat memperoleh buku tersebut.
wir // April 27, 2007 pada 6:58 am
Sdr Romey,
‘analisa upah dan bahan’ adalah bukan bidang keahlian maupun peminatan saya. Tetapi diharapkan kesulitan anda segera mendapat tanggapan dari teman-teman yang lain.
Rifki // April 27, 2007 pada 5:32 pm
Sebelumnya perkenalkan saya mahasiswa dari Politeknik Negeri Jakarta,..
Saya berkeinginan untuk mengadakan seminar di kampus saya dan saya berharap bapak bisa membantu saya sebagai pemateri / pemakalah dalam seminar yang temanya berhubungan dengan SAP2000.
Kebetulan saya Sekum dari Himpunan Mahasiswa Sipil, dan saya harus menghubungi bapak ke mana ?
Terimakasih
ttd
Rifki
0817 822 448
wir // April 27, 2007 pada 10:21 pm
Salam kembali mas Rifki,
**bapak bisa membantu saya sebagai pemateri **
Ya senang sekali jika bisa membantu anda. Tapi kalau ingin topik yang ‘baru’ mohon waktunya jangan mendadak, kecuali topik-topik ‘lama’. Kapan rencana seminar anda akan diadakan ?
Untuk menghubungi saya, untuk hal-hal yang umum pakai blog ini aja, saya selalu keep-contact koq dengan blog ini, sedangkan kalau ingin lebih detail info lengkap ada di buku saya di atas.
Begitu mas Rifki, sampaikan salam saya untuk bapak Fauzri Fahimuddin, tempo hari ketemu di seminar di Hotel Borobudur Jakarta.
Luna Ngeljaratan // Mei 4, 2007 pada 9:42 am
Bapak Wiryanto yang saya hormati,
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak karena belum mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah Bapak berikan sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir saya dengan baik.
Hal ini disebabkan kesulitan dalam mencari internet yang nyaman di kota saya ini (Makassar) namun saat ini saya telah menemukan warung internet yang cukup dekat dengan rumah saya.
Saya lulus Oktober tahun lalu dan telah kembali ke Makassar. Minat saya pada bidang rekayasa kegempaan serta aplikasinya pada program SAP akan saya perdalam lagi. Untuk itu saya membutuhkan referensi dari buku Bapak yang terbaru. Semoga distribusi buku Bapak sampai di kota saya ini. Apabila tidak, saya akan meminta teman saya di Yogyakarta untuk mengirimkannya.
Terima kasih atas informasi yang Bapak berikan serta atas bantuan Bapak yang sangat menolong saya menyelesaikan tugas akhir.
Apabila ada ilmu Bapak yang lain yang Bapak tuangkan dalam buku, saya mohon Bapak menginformasikannya pada saya.
Bila Bapak berkesempatan jalan-jalan ke Makassar, saya sangat terhormat apabila dapat mengenalkan Bapak kepada orangtua saya sebagai salah seorang guru saya yang sangat memperhatikan kelancaran studi siswanya.
Terima kasih.
wir // Mei 4, 2007 pada 12:07 pm
Dear Luna,
Terima kasih Luna, semoga sukses juga untuk anda.
Sampaikan salam hormat saya untuk orang tua anda, tentunya mereka bangga anaknya telah selesai sekolah dan berhasil meraih gelar sarjana.
Salam sejahtera
Ary // Mei 7, 2007 pada 1:11 pm
Pak wir,
kemaren minggu saya baru aja beli ni buku di depok.
wah keren banget ya…
Menurut saya buku ini sangat recommended untuk para konsultan, kontraktor, dan mahasiswa untuk memahami aplikasi finite elemen pada dunia teknik sipil.
Didalamnya ada teknik teknik pemodelan, cara membaca keganjilan, statik, eigen, dynamic, non linear geometrik statik sampai patch test, problem mesh refining, dan ilmu dasar degree of freedom.
Sebuah buku yang komplit yang dipersembahkan orang yang tahu tentang Finite elemen, tahu tentang kelemahan metode numerik sebagai programer, tahu tentang seluk beluk aplikasi teknik struktur lapangan sebagai ahli struktur dan tahu menyampaikan kepada anak didik sebagai dosen.
Well done..
Kritikannya entar dulu, bacanya juga belum selesai.
baru baca daptar isi.
oh ya pak ada typo, STAAD, bukan STAD he he he.
wir // Mei 7, 2007 pada 9:32 pm
Terima kasih mas Ary, dengan membeli buku tersebut anda ikut men-support kegiatan saya untuk terus menulis.
Terus terang, paragraf anda pendek tetapi ternyata mengena betul lho :
Jadi ingat artikel kompas hari Minggu tentang copy-writer gitu. Kalimat pendek yang menarik minat konsumen. Wah ada bakat juga mas Ary jadi art-director. Sekali lagi terima kasih banyak ya mas.
God Bless You
badaruddin // Mei 8, 2007 pada 1:38 am
Pak Romeynandi, Setahu dalam menyusun anggaran biaya sama saja baik itu standard amerika ataupun standard lokal, yang membedakan adalah faktor atau koefien kuantity yang digunakan sebagai pengali dalam menghasilkan satu satuan pekerjaan baik itu material, labour serta equipment, karena tingkat produktifitas orang bule dengan orang lokal berbeda (contoh untuk masang batako saja, produk satu orang bule setara dengan dua orang lokal, contoh kasus proyek pembangunan kiani kertas oleh flour daniel sebagai kontraktor).
terus yang membedakan lagi adalah format laporan serta bahasa, tapi ini bukan hal yang penting.
Apakah perusahaan asing yang anda maksud adalah chonoco philips?
salam
badar
Ignatius Banurea // Mei 10, 2007 pada 2:42 am
Selamat Pagi Pak,
Saya sedang mengerjakan tugas akhir dan kebetulan pembimbingnya Pak Andreas T. Tugas akhir saya merencanakan jembatan gantung pejalan kaki dengan bentang 55 meter dan lebar 1,5 meter.
Saya tanya sedikit tentang permodelan jembatan gantung pada SAP 2000,
Bagaimana permodelan kabel pada SAP 2000, agar sesuai dengan perilaku struktur sebenarnya.
Apa yang perlu dimodifikasi dan tolak ukur modifikasinya?
Saya sudah coba menggunakan element steel rod sebagai kabel, dan mereduksi moment inersia material tersebut menjadi 25 % saja, tapi saya tak tahu apakah itu benar atau salah.
Terima kasih Pak.
NB:saya telah beli buku Bapak yang terbaru di Gramedia Jogja, tapi harganya lebih mahal rp 500 rupiah :).
wir // Mei 10, 2007 pada 3:20 am
Jembatan gantung kemungkinan besar lebih mudah dianalisis secara manual yaitu mengacu pada
Sedangkan memakai program komputer, harus hati-hati, karena analisis jembatan gantung dapat dipengaruhi oleh efek geometri non-linier. Seperti diketahui bahwa kabel hanya mempunyai kekakuan aksial tarik, sehingga jika geometri struktur kabel dapat ditempatkan lurus seperti pada jembatan Cable-stayed maka strukturnya dapat dimodelkan seperti struktur truss karena deformasi yang terjadi hanya pada arah aksial yang relatif kecil.
Sedang jembatan gantung umumnya geometri membentuk lengkung, shg memodelkan perlu ditempatkan titik-titik nodal sebagai tempat element kabel tersebut. Selanjutnya pada saat dibebani karena kabel tidak mempunyai kekakuan lentur maka titik-titik tersebut akan berubah tempat. Jika perubahannya besar maka efek geometri non-linier terpengaruh. Untuk mengatasinya maka perlu iterasi dan diberi beban bertahap. Itu kalau pakai SAP2000 ver 7.4.
Membaca kemampuan SAP2000 ver 10.0 ada kemampuan large deformation analysis, berarti program tersebut sudah mampu mengatasi hal-hal di atas, selain itu ada juga element kabel tersendiri pada program tersebut. Terus terang karena saya belum mempelajarinya, maka saya belum tahu strategi penyelesaian yang dapat diberikan pada versi tersebut.
Alasan anda untuk mereduksi 25%, kurang jelas dasar ilmiahnya.
ttg buku saya. Di gramedia Yogya lebih mahal Rp.500 rupiah ya. Wah kalau itu sih sebenarnya wajar mas, dari jakarta ke yogya aja ongkosnya lebih lho. he, he …
Ary // Mei 10, 2007 pada 5:59 am
ADa manual jembatan gantung pedestrian kerjasama PU dan JICA. Coba pelajari dari situ lengkap kok sama contohnya. Coba cari di PU.
Design Manual for Small Scale Suspension Bridge, December 1991, KAWAGUCHI Koji, JICA Expert in BINPRAN, Bina Marga.
Cable di SAP2000 ribet..sampai versi 11 juga sama..
tension only nya payah, coba pakai yang lain aja.
farida eri // Mei 12, 2007 pada 6:06 am
sugeng siang pak……………
gini pak lho pak wir, saya mahasiswi Universitas Sebelas Maret Surakarta dan saat ini sedang mengerjakan tugas akhir. Kebetulan ngambil topik analisis sambungan kolom balok baja dengan metode elemen hingga (pake Solid Element pak). saya mo nanya pak ? kalo nganalisis struktur nonlinear pake SAP2000 itu gimana ya pak ? Dalam hal ini yang non linear itu materialnya. terus cara input material non linear di SAP nya gimana ya pak ? saya pakenya SAP 2000 versi 8. menurut pak Wir, biar relevan dengan kasus saya, cocoknya saya pake SAP versi berapa ?
Oh ya pak, saya sudah beli bukunya pak Wir yang baru lho di Gramedia Solo. Keren pak……lebih lengkap dari yang edisi 2004. tapi finite element-nya kok cuma sampe Shell Element ……..
matur nuwun pak………..
wir // Mei 12, 2007 pada 7:27 am
sdri Farida,
Saya tidak menyarankan anda memakai program SAP2000 untuk analisis FEM non-linier dengan elemen solid. Tidak banyak literatur yang mendukung untuk itu.
Umumnya program SAP2000 dipergunakan untuk analisis makro, sedangkan yang anda maksud yaitu untuk menghitung detail sambungan termasuk analisis mikro.
Non-linier umumnya berkaitan dengan keruntuhan, jadi anda akan memprediksi keruntuhan sambungan dengan SAP2000 bukan ? Jika anda tetap ngotot, maka saya sarankan memakai program ABAQUS atau ANSYS, disana banyak contoh-contoh yang dapat dipelajari. Selain itu materi serupa di internet pakai program tersebut juga banyak.
Karena itulah maka dalam buku saya juga tidak membahas hal tersebut, lebih banyak ke hitungan makro (analisis struktur).
Materi yang anda rencanakan termasuk pada level advance, pertanyaannya apakah anda benar-benar memahami dengan bentul atau hanya sekedar bisa running, tanpa tahu apa yang sebenarnya anda kerjakan. Kecuali itu, jika anda pakai element Solid berarti anda akan meninjau 3D, berarti ada kemungkinan terjadi non-linier geometri. Apakah anda juga pakai baut, yang dapat menyebabkan non-linier kontak.
Saran saya, lakukan aja pada level elastis, lalu anda runut hasilnya dengan mekanika bahan cara manual. Kalau anda bisa lakukan itu, rasanya skripsi anda sudah berbobot.
**kok cuma sampe shell element ……..**
Apakah anda sudah bisa memanfaatkan element FRAME dan SHELL secara maksimal ?
99.9% untuk urusan analisa struktur makro cukup pakai element tersebut, bahkan ETABS element utamanya hanya element tersebut, dimana element FRAME mewakili balok dan kolom, sedangkan element SHELL untuk shear wall , mungkin juga lantai (?).
Gitu dulu ya.
Mr. Popo // Mei 22, 2007 pada 2:48 am
Yth. Bp. Wiryanto Dewobroto
Salam kenal,
Saya seorang alumni Teknik Sipil UGM dan sekarang sedang melanjutkan jenjang S2 di Universitas yang sama. Saat skripsi dahulu saya dibimbing oleh Bp. Andreas Triwiyono dengan topik gedung bertingkat tinggi menggunakan SAP2000. Setelah lulus dan sampai saat ini saya masih membantu beliau mengerjakan proyek-proyek terutama dalam hal analisis struktur dengan SAP2000.
Judul buku yang Bapak terbitkan dan bahasan dalam buku tersebut langsung menarik perhatian saya karena sesuai dengan pekerjaan yang saya lakukan (analisis SAP2000). Walaupun pada edisi pertama dahulu saya hanya meminjam buku teman (karena terlambat dan kehabisan) namun rasa penasaran saya telah terobati dengan munculnya edisi baru yang langsung saya beli (karena takut kehabisan lagi).
Salut untuk Pak Wiryanto yang telah menerbitkan buku bahasan SAP2000 yang lain daripada yang lain, karena tidak sekedar menyajikan contoh penggunaan namun yang terpenting justru dasar-dasar analisis dan kemungkinan kesalahan interpretasi dan pemakaian yang mungkin terjadi. Bab yang membahas tentang “engineering judgement” adalah satu hal yang membuat perbedaan dengan buku lainnya. Bahkan menurut saya, bila Bapak berkenan membuat edisi selanjutnya lagi, maka bab tersebut layak untuk mendapat porsi yang lebih besar lagi, atau mungkin justru diterbitkan sebagai buku tersendiri. Selain itu materi tentang elemen shell saya kira juga laik untuk dibahas lebih mendalam lagi, terutama bila mengingat belum banyak buku tentang SAP2000 yang membahas masalah tersebut.
Sekalian juga saya ingin bertanya, dahulu sewaktu Bapak membuat buku tersebut kira-kira membutuhkan waktu berapa lama? Karena muatan materinya yang cukup banyak menurut saya pasti cukup lama ya Pak? Kemudian tentang versi program yang digunakan, apakah jika mengarang buku tentang program/software versi tertentu kita juga harus memiliki lisensinya atau hanya boleh memakai versi bebas/student/demo saja? Saya pernah mendengar bahwa kabarnya tidak apa-apa (tidak perlu lisensi resmi) karena toh buku tersebut secara tidak langsung juga akan ikut mempromosikan program tersebut.
Demikian komentar dan tanggapan dari saya. Semoga Pak Wiryanto dapat terus berkarya menghasilkan buku-buku bermutu lainnya, terutama yang berkaitan dengan masalah ketekniksipilan dan software seperti SAP2000, pasti banyak ditunggu Pak.
Terima kasih,
Purbolaras N., S.T.
wir // Mei 22, 2007 pada 3:08 am
sdr. Purbolaras,
Terima kasih anda telah membeli buku saya dan memakainya, moga-moga teman-teman di UGM dapat menggunakannya juga.
Bab 8, tentang “engineering judgement”, istimewa ya ? Syukurlah, saya juga menganggapnya istimewa, rasanya sepengetahuan saya, materi tersebut belum pernah dipublikasikan orang lain. Itu benar-benar pengalaman pribadi lama tetapi baru tuntas jawabannya saat menjadi mahasiswa doktoral. Semoga berguna juga bagi teman-teman yang lain.
“tidak perlu minta ijin”, wah saya kurang tahu tepatnya, tetapi alasan anda masuk akal. mestinya juga begitu. Tetapi ketika buku saya yang pertama ttg SAP2000 minta ijin ke vendor-nya waktu itu, ternyata perwakilannya di Indonesia menolak mentah-mentah, bahkan bikin surat bahwa ‘dia’ melarang menulis buku tentang SAP. Pokoknya begitulah. Oleh karena itu, karena saya merasa bahwa materi saya juga bukan sekedar terjemahan maka saya minta dukungan teman-teman seprofesi, bahkan karena itulah Prof. Wiratman juga berkenan memberi dukungan moril.
Ya memang kadang-kadang kita punya maksud baik, tetapi ternyata nggak setiap orang juga punya pendapat sama. Rambut sama-sama hitam (atau ubanan) tetapi pendapat bisa macam-macam.
Demikian dulu mas Purbo di UGM.
Salam untuk mas Andreas.
arief // Mei 23, 2007 pada 6:16 am
Pak Wir,
Salam kenal, saya Arief Rachman sekarang kerja di konsultan.
Saya sedang mempelajari Lifting analysis (untuk Basket/ Container/ Platform). Saya lebih banyak pake STAAD/SACS, tapi menurut saya pada dasarnya sama saja dengan SAP2000.
Saya ingin menanyakan, bagaimana pemodelan sling/wire rope/kabel yang baik dan benar?
Beberapa hasil yang pernah saya dapat kurang memuaskan
:
1. Terjadi defleksi yang besar (saya belum mempelajari tentang Large Deflection Analysis),
2. Significant digit lost agak tinggi (5-6 digit) (berkurang setelah penambahan spring)
3. Masih ada moment di sling.
4. Bila dilakukan Code Check pada sling maka hasil UC-nya sangat besar.
Yang pernah saya coba:
1. Section memakai tubular pejal / steel rod sesuai diameter sling.
2. Selfweight = 0, agar moment akibat berat sendiri tidak terjadi.
3. Release FY, FZ, MX, MY, MZ; agar sling cuman mengalami axial loading (baik di STAAD, tapi sering gagal di SACS).
4. E= diambil angka yang besar misal 20e+08 kN/cm2; agar tidak terjadi deflection pada sling.
5. Member di set Tension only/Gap Element.
Apakah asumsi ini dapat di pakai untuk memodelkan sling, atau ada yang lebih baik?
Dan saya sangat senang sekali dengan adanya sharing ilmu dari Pak Wir dan temen2 yang lain, moga-moga saya juga bisa ikut sharing nantinya ( kalo dah punya bandwith yang cukup
)
karena saya jarang pake SAP2000, saya awalnya tidak tertarik, tapi kalo liat sinopsis buku bapak, saya jadi tertarik sekali terutama bab 8 nya itu
saya belum beli tapi kalo liat pasti saya beli pak
btw, apa di buku tersebut juga menjelaskan pemakaian wave loading, response spectra, serta interpretasi hasilnya?
Sebelumnya terimakasih,
Arief Rachman
arief dot r dot id at gmail dot com
wir // Mei 23, 2007 pada 8:06 am
Sdr Arief, salam kenal.
Pemodelan kabel memang tidak sederhana, perlu pemahaman yang benar. Terus terang, meskipun pernah melakukan riset kecil dengan mhsi saya, utk skripsinya, bahkan sempat di presentasikan di PETRA tetapi pengalaman pemodelan dengan kabel bagi saya belum tuntas. Rasanya masih banyak yang perlu di-eksplore.
Kabel mempunyai ciri-ciri berikut : kekakuan lentur dan tekan adalah nol, sedangkan kekakuan aksial tarik adalah sangat besar. Dalam pemodelannya maka kabel tidak bisa direpresentasikan sebagai element beam atau element truss biasa. Element untuk kabel selain memasukkan kekakuan elastis juga harus memperhitungkan kekakuan geometri yang besarnya merupakan fungsi gaya aksial (tekan/tarik) pada struktur tersebut. Karena gaya aksial tersebut baru diketahui setelah dianalisis maka jelas perlu dilakukan iterasi. Program SAP2000 sudah mempunyai option yang memperhitungkan hal tersebut, yaitu untuk memperhitungkan effek p-delta. Pada versi lama hanya berlaku pada struktur linier elastis (belum memperhitungkan non-linier geometri).
Di sisi lain, kekauan transversal dari element kabel sangat kecil (akibat kekakuan lentur kecil), ini menyebabkan jika kabel diorientasikan pada arah lateral (misal jembatan gantung) maka posisi (geometri) kabel dapat berpindah tempat , jadi problem non-linier geometri.
Untuk struktur yang rumit, bisa saja dari analisis memperlihatka gaya-gaya pada kabel adalah tekan, jika timbul seperti ini barulah member yang mempunyai option Tension only berguna.
Jadi jika program kita dapat memperhitungkan ketiga hal tersebutlah maka saya kira pemodelan kabel dapat mendekati real.
Petunjuk di SAP menunjukkan bahwa me-relase gaya-gaya di element tidak diperlukan, bahkan memintanya membuat properti yang apa adanya, jikapun ada momen lentur rasanya relatif kecil.
O ya dari hasil skripsi tersebut dapat diperoleh pemahaman jika posisi kabel dapat seperti trus (rangka batang) misal cable-stayed maka analisis seperti struktur rangka batang nggak terlalu beda jauh. Tapi kalau strukturnya seperti jaring atau net maka ketiga petunjuk di atas baru berguna.
Catatan : di SAP2000 versi 10 sudah ada element kabel khusus dan katanya sudah memperhitungkan geometri non-linier, tetapi terus terang saya belum pernah memakainya.
Mungkin ada teman yang bisa sharing ?
artana // Mei 25, 2007 pada 2:40 am
Salam kenal pak Wir,
Maaf, karena saya baru memperkenalkan diri setelah sebelumnya ikut nimbrung ngasi komentar pada tulisan Bapak (The art of Structural Engineering).
Saya Wayan Artana dari Bali, saya mahasiswa S2 Struktur di Universitas Udayana, saya juga bekerja pada sebuah konsultan di Bali .
Terimakasih ya Pak atas sharing jurnal, tulisan, buku dan lain-lain !
Saya sudah punya kedua buku Bapak (tentang SAP2000). Bahasa yang “user friendly” dan mengajak interaktif sangat menarik. Banyak pencerahan yang bisa saya dapat didalamnya.
(Buku Bapak tentang Pemrograman dg VB saya belum punya dan tidak saya lihat di Gramedia (Bali) ….bisa saya dapat dimana ya Pak?)
Pembuatan model dalam buku bapak banyak menggunakan text input (*.s2k), pada contoh-contohnya - sangat mendasar dan bagus bagi pengguna untuk pemahaman philosopi program agar tidak tersesat. …. Tapi pak, terus terang saja dengan adanya mode interface, text input itu jarang saya gunakan. Disamping membutuhkan waktu lebih lama penggunaan text input juga sering menyebabkan “error” yang sulit dideteksi (maklumlah, saya tidak terlalu mengerti notasi-notasi pada bahasa pemrograman). Apalagi dengan adanya fasilitas import dari format DXF, pembuatan model yang rumit bisa dilakukan lebih cepat pada AutoCAD….
Oh ya pak, saya lagi membuat tesis tentang “aspek perencanaan dan pelaksanaan Ballanced Cantilever Bridge” saya menggunakan program bantu SAP2000 karena hanya meninjau perilaku struktur global saja …., memang sudah ada fasilitas “bridge” pada versi 9.03 dan 10.01, tapi untuk jembatan kantilever (yang dominan menggunakan staged construction) saya mengalami kesulitan dalam pemodelannya dengan fasilitas itu.
Alternatifnya saya menggunakan elemen frame dengan fasilitas Section designer untuk membuat section “box girder”. Menurut bapak apakah hasil fasilitas Section designer itu bisa valid ? dan bagaimana sebaiknya strategi pemodelan tendon prategang ( banyak tendon dengan posisi yang berbeda dalam sectionnya)….mohon bantuannya ya pak!
Selain itu apa Bapak punya jurnal atau artikel tentang topik Tesis tersebut, kalau ada mohon sharingnya ya Pak!
(Waduh banyak maunya ya Pak…..!!! )
Terimakasih Banyak !!!!!!
Waktu ada Lokakarya pengajaran Mekanika Teknik di Unud, saya juga hadir bersama teman-teman… kapan ke Bali Lagi ?!
wir // Mei 25, 2007 pada 2:27 pm
He, he, he mas Artana, yah, itu mungkin dari pengalaman anda. Pengalaman saya lain, mungkin dulu karena awalnya pakai SAP90. Waktu itu pernah analisis atap baja untuk bangunan silo industri, bentang 60 m, tiga tingkat, jumlah batangnya sekitar 8000. Waktu itu kalau pakai layar, karena terlalu kecil, matanya sampai capek. Ternyata dengan strategi penomoran yang baik jika pakai mode teks maka semua batang dapat ditelusuri dengan mudah. Kalau pakai layar, pusing geser-geser zoom, itupun bingung karena garisnya saling menempel. Maklum grafisnya SAP2000 belum seperti AutoCAD.
Setelah pakai SAP2000, grafisnya juga semakin mudah, meskipun demikian akibat kemudahan pemakaian program SAP kadang-kadang program memberi nilai default yang kitapun mungkin tidak menyadarinya. Itu khususnya jika pakai mode grafis. Berbeda dengan mode text, ini mungkin yang membuat anda males pakainya. Tetapi dengan demikian semua data bisa kita kendalikan. Saya sering menemukan, pada waktu pengajaran, murid-murid saya mendapatkan hasilnya berbeda dengan yang dicontohkan meskipun telah berusaha mati-matian teliti. Ketika nyari kesalahan di layar, lamanya minta ampun, tetapi ketika disuruh export ke mode teks maka langsung ketahuan ada data tambahan yang nangkring yang tidak diundang sebagai penyebab error.
Untuk balanced cantilever saya belum pernah menggunakannya. Nanti tak cari ya kalau ada jurnalnya.
Waktu lokakarya itu anda hadir ya. O gitu. Kalau begitu salam ya ke pak Sukrawa dan pak Sudarsana. Beliau-beliau nanti September ke UPH membawakan makalah. Ada rencana ikut konferensi internasional, siapa tahu dapat kenalan profesor dan beasiswa S3 di luar negeri.
Artana // Mei 26, 2007 pada 2:27 am
Terimakasih Pak, Wir.
Ya, Nanti saya sampaikan. Beliau berdua adalah pembimbing saya!
Tapi tesis saya agak tersendat2 maklumlah karena saya juga harus bekerja mencari sesuap nasi untuk keluarga jadinya kurang konsen, mudah-mudahan bisa selesai!.
zaki habibie // Juni 6, 2007 pada 5:51 am
Pak Wir, mungkin saya telat membuka website bapak yang membahas tentang steel structure. ini pun saya nggak sengaja dapat website bapak, saya coba browse di google (design baja) saya klik dan yang keluar website bapak.
Menurut saya website ini sangat berguna, untuk saya yang saat ini bekerja di perusahaan steel structure. Saya yakin informasi yang bapak berikan sangat berguna untuk saya yang saat ini saya menggunakan Tekla (x-steel) untuk design drawing steel fabrication dan SAP2000.
Terima kasih pak.
Hormat saya zaki
wir // Juni 12, 2007 pada 4:47 am
Trims mau membaca blog ini. Saya pernah dengar Tekla, tapi belum pernah memakainya. Moga lain kali ada kesempatan mencobanya.
Mr. Popo // Juni 12, 2007 pada 4:53 am
Pertama saya ucapkan terima kasih atas balasannya dan salam balik dari P.Andreas (katanya sudah ketemu ya Pak waktu beliau ke Bandung).
Kalau dilihat dari email-email pada blog bapak banyak pertanyaan tentang SAP menyangkut struktur-struktur yang cukup kompleks (jembatan, tower, dll.) Saya sendiri baru analisis platform wah cukup susah juga. Mungkin bapak bisa jadi konsultan SAP saja pak hehehe…
Memang benar bahwa program semakin canggih dan makin memanjakan user, yang kalau tidak memahami teori dan dasar analisis (terutama asumsi dalam program) bisa terjebak dalam kesalahan.
Terkait dengan hal tersebut saya ingin mengutarakan satu hal terkait dengan SAP yang mungkin terlihat sepele (maaf kalau ada yang sudah tahu duluan), yaitu mengenai perbedaan satuan kg dan kgf. Saat diskusi laporan dengan teman, saya baru mengetahui hal tsb, yang selama ini kurang saya hiraukan. Dalam SAP (dan secara umum internasional pastinya) satuan 1 kgf tidak sama dengan 1 kg (kgf=gaya, kg=massa). Misal saat input beban nodal (joint load forces) kita isikan 1KG di kotak isian lalu satuan kita ubah ke Kgf maka isian akan muncul angka 0.102 (1 kg = 0,102 kgf = 1/9.81 kgf), jadi sebenarnya 1 kgf TIDAK SAMA dengan 1 kg pengertian kita pada umumnya. Namun demikian setelah dicermati lagi ternyata 1 kg dalam definisi sehari-hari ternyata sama dengan 1 kgf dalam SAP. Misalnya dapat dilihat pada Define Materials misal untuk Concrete, jika dilihat dalam satuan kgf maka pada Weight per Unit Volume muncul angka sekitar 2400 (kgf/m3) alias sama dengan angka berat jenis beton 2400 kg/m3 dalam pengertian kita.
Demikian saja dari saya, semoga bisa bermanfaat, terutama dalam mengantisipasi hal-hal yang kelihatan sepele padahal sebenarnya salah kaprah.
Untuk Pak Wir, mungkin bisa lebih bagus jika dibuat forum diskusi SAP sebagai tempat sharing dan curhat (tentang SAP lho tentunya…).
Salam
Purbolaras N.
Ary // Juni 12, 2007 pada 7:49 am
Ayo pak bikin buku Etabs…, buku saya yang sap karangan bapak belum dikembalikan bos sampai sekarang jadi belon kebaca…
Untuk benchmarknya bisa dipake buku tall buildings pak.
Ary // Juni 12, 2007 pada 8:22 am
untuk mas artana
Balanced Cantilever sejauh ini menurut saya baru bisa dimodelkan oleh program sipil MIDAS dan TDV SpaceFRAME RM2000 [mungkin ADAPT-ABI dan LARSA juga bisa]. Ini dikarenakan faktor non linear dari rangkak dan susut beton itu sendiri, stage construction , alinyemen prestress yang diprestress per stage, beban yang bertahap seperti crane yang bergerak di ujung cantilever, waktu konstruksi [langsung 2 pier atau 1 pier dulu], monolith/bearing.
SAP2000 Stage Construction belum secanggih itu.
Dapat juga dimodelkan dengan FEA seperti Ansys, Abaqus, LUSAS namun perlu kerja keras untuk memodelkan stage construction.
wir // Juni 12, 2007 pada 11:49 am
Ary :”Ayo pak bikin buku Etabs…, ”
wah kelihatannya menarik juga ya, perlu dipikirkan deh.
Apalagi kalau bisa berkolaborasi dengan engineer-engineer yang masih aktif di lapangan, kayak mas Ary itu. Juga yang lain boleh juga.
Maksudnya kolaborasi, bahwa engineer aktif umumnya dalam pekerjaan sehari-hari ketemu kasus khusus dengan program tersebut yang tidak standar. Lalu solusinya bagaimana. Saya lalu menelaah kenapa begitu, kalau solusi begitu kenapa bisa.
Wah itu akan jadi buku yang hebat lho.