Ini mungkin yang ditunggu-tunggu oleh komunitas ahli-ahli struktur beton di Indonesia, buku induk atau acuan dari buku SNI beton kita (bahkan ini belum sempat diacu karena lebih baru), yaitu :

BUILDING CODE REQUIREMENTS for
STRUCTURAL CONCRETE (ACI 318-02) and
COMMENTARY (ACI 318R-02)
REPORTED by ACI COMMITTEE 318
ACI Committee 318
Structural Building Code
Hanya sayang, versinya IMPERIAL (kips-in) dan bukan SI (N-mm), sehingga rumus-rumusnya tidak bisa ditelan mentah-mentah. Tetapi nggak apa-apa ya, dari pada tidak
.
Dokumen ACI ini terdiri 445 halaman, bandingkan dengan peraturan kita yang 292 halaman saja. Jadi ada hal-hal yang lain yang belum ada di peraturan kita. Buku ini merupakan saingan berat EUROCODE-2, yang menjadi acuan teman-teman di Eropa dan negara persemakmuran Inggris, sedangkan ACI 318-02 menjadi acuan di Amerika dan konco-konconya, termasuk Indonesia lho.
Di peraturan ini, pertama kalinya metode strut-and-tie-models secara resmi dicantumkan dalam code Amerika. Hal tersebut tentu saja secara tidak langsung merupakan pengakuan bahwa hasil kreatifitas prof Schlaich, ahli struktur di Uni-Stuttgart, Jerman, adalah memang benar-benar valid.
Tahun 2002 di Uni-Sttutgart, Jerman, saat code ini keluar, saya sempat memfoto-copy-nya sebagian yaitu ketika aku magang menimba ilmu kepada prof. Karl Heinz Reineck (murid langsung prof. Schlaich) . Selama tiga (3) bulan saya sempat membantu beliau menjalankan riset tentang s.t.m juga, yang hasilnya berhasil dipublikasikan secara internasional oleh ACI. Mau tahu detailnya, lihat aja di sini.
Catatan tentang hubungan Uni-Stuttgart (Jerman) dan UPH (Indonesia):
O ya, Prof. Reineck atas undangan Prof. Harianto Hardjasaputra berencana hadir pada konferensi internasional UPH yaitu EACEF tanggal 26-27 September 2007 besok (info lengkap di http://eacef.wordpress.com ). Kesempatan yang jarang terjadi, belum tentu dalam 10 tahun ke depan ada lagi lho, jadi gunakan kesempatan untuk dapat hadir di UPH, Lippo Karawaci, Banten, agar dapat berinteraksi langsung dengan expert-expert berkualifikasi international.
Konferensi EACEF merupakan usaha nyata Prof. Harianto dan koleganya di Jurusan Teknik Sipil UPH, untuk mengantarkan institusi tersebut menjadi salah satu mutiara cemerlang diantara berbagai institusi lain yang telah lama bertebaran. Dukungan nyata dan finansial yang kuat dari jaringan alumni Jerman jelas menjadi salah satu sumber enerji yang kuat bagi Prof. Harianto untuk mewujudkan idealisme tersebut. Selanjutnya atas dukungan anda-anda, teman-teman sejawat, diharapkan konferensi tersebut dapat menjadi pembuka jalan dan saluran berkat bagi Indonesia.
Perlu diketahui bahwa ketika Call of Paper EACEF di tutup pada pertengahan bulan ini, terkumpul lebih dari 140 abstract siap untuk dievaluasi para Peer-Reviewer, penulis abstract berasal dari 18 negara dan mencakup semua benua yang ada (Asia, Eropa, Amerika, Australia dan Afrika). Prosentase penulis lokal adalah 50%, sisanya adalah dari luar negeri. Benar-benar internasional lho. Itu belum yang ikut lho (peserta pasif), jadi sekali lagi, jangan sampai ketinggalan datang pada event tersebut.
Sampai ketemu langsung ya di UPH.
Ukuran file PDF-nya cukup besar 12,648 kb sehingga tidak dapat di up-load sekaligus, untuk itu seperti biasa file akan dibagi menjadi file-file kecil dengan program split ( http://www.spadixbd.com/jsplit/index.htm ) sebagai berikut :
- file ACI.1 ( down-load 1,414 kb )
- file ACI.2 ( down-load 1,414 kb )
- file ACI.3 ( down-load 1,414 kb )
- file ACI.4 ( down-load 1,414 kb )
- file ACI.5 ( down-load 1,414 kb )
- file ACI.6 ( down-load 1,414 kb )
- file ACI.7 ( down-load 1,414 kb )
- file ACI.8 ( down-load 1,414 kb )
- file ACI.9 ( down-load 1,343 kb )
- file ACI.bat ( down-load 1 kb ) setelah selesai down-load semua run-lah file ini.
Apabila proses berhasil dengan baik maka akan terbentuklah file ACI.PDF , itulah file yang berisi dokumen ACI318-02 tersebut.
Semoga ini membantu menghasilkan kualitas perencanaan struktur yang bermutu di Indonesia, akhirnya harapannya semoga blog ini menjadi berkat bagi kita semua.
Catatan : dokumen ACI ini merupakan sumbangsih dari sdr. Donny B. Tampubolon yang berkenan untuk berbagi ilmu dengan kita. Semoga maksud baik beliau diberkati Tuhan. Amin.
<<up-dated 16 Agustus 2007>>
Ada ACI318 versi Metrik, silahkan di unduh di http://wiryanto.wordpress.com/2007/08/13/kiriman-dari-yogya/







66 tanggapan so far ↓
Donny B Tampubolon // April 24, 2007 pada 3:13 am
Pak Wir,
Saya dukung terus pemberian code/standard dan materi struktur yang bersifat gratis kepada rekan-rekan Structure Engineers lainnya.
Saya juga sedang mempersiapkan materi-materi lain untuk menambah wawasan kita bersama..
Saya juga berterimakasih sekali atas web blognya bapak.
Mungkin bapak bisa mengundang para ahli Struktur Indonesia atau HAKI/HATTI untuk menjadi pengasuh rubrik tanya jawab mengenai struktur di web blog nya bapak.
Syallom
wir // April 24, 2007 pada 3:24 am
**untuk menjadi pengasuh rubrik tanya jawab **
Jangan mas, pengasuhnya tetap saya, jadi pertanggung-jawabannya mudah. Ini betul-betul personal seperti judulnya “The Works of Wiryanto Dewobroto”. Hanya saja jika dalam tema-tema yang saya sampaikan relevan untuk didiskusikan , ya mari WELCOME gitu lho.
Mengapa ini perlu, ya pengalaman menulis aja mas. Judul yang ditulis bersama itu biasanya nggak asyik, kurang berciri, ujung-ujungnya nggak menarik. Biasanya yang menulis satu, yang lainya senior membantu mereview aja. Lha untuk blog ini maka yang nulis itu saya, lalu yang senior yang mereview ya anda semua para pembaca blog ini.
Bila ada tulisan saya yang meragukan atau apa gitu, ya dikasih comments gitu. Kalau benar memang saya salah, saya nggak segan-segan koq untuk melakukan revisi. Intinya, di atas langit masih ada langit lagi. Tetapi kalau menurut saya benar, maka biasanya saya akan ngasih argument lain, agar jelas gitu.
Donny B Tampubolon // April 24, 2007 pada 3:56 am
Terima kasih atas penjelasannya.
Rekan-rekan Structure Engineers, mari kita dukung pak Wir atas karyanya untuk kepentingan kita bersama.
Syallom..
Mashuri // April 27, 2007 pada 12:10 pm
salut buat pak Wiryanto,
blog bapak sangat bermanfaat buat mahasiswa seperti saya yang sulit buat beli buku referensi karena faktor ekonomi.
Bejo Purba // April 28, 2007 pada 3:06 pm
Trimakasih banyak Pak Wiryanto.
Ryan // April 29, 2007 pada 1:07 pm
Terimakasih Banget buat Pa Wir, tentunya blog bapak ini sangat membantu bagi mahasiswa civil yang sedang mencari referensi unt kuliah.
badaruddin // April 30, 2007 pada 3:26 am
Terimakasih atas efilenya, tapi kok banyak bagian yang terhapus ya?
salam
badar
Rijalul Fikri // Mei 5, 2007 pada 3:33 am
Filenya sudah saya download semua dan sudah run file ACI. bat. Tapi kenapa file PDFnya error
wir // Mei 5, 2007 pada 3:53 am
**Badaruddin dan Rijalul Fikri**
File-file telah dicoba didown-load, tidak ada masalah.
Juga telah bisa dibaca oleh mas Badaruddin (meskipun katanya banyak yang kehapus) jadi berarti bisa di transfer ke PDF (karena bisa kebaca).
Dari record di http://www.box.net ketahuan juga bahwa file-file tersebut telah di down-load kira-kira sebanyak 62-142 kali. Jadi minimal ada sekitar 60 kali yang mencoba mendown-load lengkap.
Dari itu semua complaint baru dari anda mas Fikri, nggak tahu apakah masalahnya di sini atau internet anda (ada bagian yang tidak ter-download lengkap).
Apakah teman-teman yang lain ada yang mendapat masalah sama dengan mas Fikri ?
badaruddin // Mei 5, 2007 pada 5:34 am
Mas Fikri, coba anda cek semua file yang anda download, pastikan tidak ada yang dalam format pdf, karena jika salah satu file dalam format pdf maka file terakhir ACI. bat, tidak dapat di run.
Apabila betul ada file yang dalam pdf, maka anda harus download lagi dan langsung disave, jangan diopen (sebab jika diopen langsung akan tersimpan dalam format pdf) setelah itu baru anda run file ACI.bat
selamat mencoba.
salam
badar
wisnu // Mei 8, 2007 pada 1:22 pm
maaf mas cuman sy tidak tau untuk cara masuk blog nya bagaimana sy pengujung baru di blog ini
sy lulusan D3 sipil unpar dan sekarang lg ektensi di istn
wir // Mei 8, 2007 pada 1:36 pm
O mas Wisnu dari D3 Sipil Unpar. Yak, gitu dong mas, memperkenalkan diri. Pokoknya comment yang seperti surat kaleng akan di delete.
Fikri P. Sofyan // Mei 9, 2007 pada 10:05 pm
Pak, terima kasih. ACI-nya telah sukses ter download.
Saya yang kemarin email bapak mengenai beban angin untuk bangunan tinggi. Mungkin saya langsung saja ke pertanyaan
1. Yang saya temukan formula untuk beban angin pada PBI adalah V^2/16 sedangkan setahu saja beban angin tidak linear, melainkan semakin membesar seiring ketinggian dan berkurangnya pengaruh gesekan tanah. shg formula tersebut tidak tepat digunakan untuk bangunan tinggi. Yang jadi pertanyaan saya adalah. Code apa yang bisa saya pakai untuk mendapatkan beban angin tersebut?
2. Setahu saya Etabs bisa secara langsung memberikan beban angin dengan memasukkan suatu koefisien tertentu. Tapi saya tidak menemukan acuan yang dipakai oleh program tersebut. Apakah Bapak berkenan untuk menjelaskan hal tersebut?
Oh iya, saya juga mau berbagi situs paper gratisan tentang Gempa, angin, offshore dsb:
http://www.stanford.edu/group/rms/RMS_Papers/
Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih
wir // Mei 9, 2007 pada 11:00 pm
Terima kasih Fikri,
Dengan kita melakukan diskusi teknik secara terbuka di blog ini maka sekaligus kita melibatkan masyarakat pembaca yang mungkin saja mempunyai pengetahuan lebih sehingga dapat memberi masukan atau mengoreksi jika materi yang kita bicarakan kurang benar, sehingga akhirnya dapat kita peroleh suatu hasil diskusi yang berguna.
Itu semua tidak kita peroleh jika kita lakukan via email (tertutup).
Fikri menanyakan tentang beban angin pada bangunan tinggi. Untuk bangunan tinggi kurang dari 40 lantai misalnya, kelihatannya beban gempa lebih dominan dari beban angin. Jika lebih dari itu, baru beban angin dan gempa saling berlomba.
Sebagai gambaran, saya baru melihat beban angin digunakan pada perencanaan gedung Amartapura (kalau nggak salah 50 lantai) oleh kantor konsultan Davy Sukamta. Pada waktu itu saya masih ingat, bahkan perlu dipakai simulasi lab (terowongan angin), jelas nggak pakai beban angin di PBI itu. Kelihatannya PBI itu untuk bangunan rendah ya.
Beban angin yang sering dipakai yaitu dari ASCE atau UBC (Uniform Building Code) yang terakhir di Etabs ada (kalau nggak salah).
Secara nature, beban angin berbeda dengan beban gempa. Angin timbul karena ada gaya luar menuju objek, selain ketinggian maka bentuk luar bangunan (aerodinamika) sangat menentukan, bentuk bangunan persegi atau bulat jelas perilakunya berbeda.
Untuk angin, semakin berat bangunan semakin mantap dan semakin tahan terhadap beban angin. Tetapi sebaliknya, untuk beban gempa, semakin berat berarti semakin besar massanya sehingga dihasilkan gaya gempa (akibat percepatan tanah) yang semakin besar. Juga kekakuan, semakin kaku maka menyerap gaya gempa semakin besar, padahal sebaliknya, semakin kaku maka semakin baik terhadap pengaruh angin.
Itulah mengapa pada bangunan yang tinggi aja (lebih dari 40 lantai) beban angin perlu diperhitungkan. Karena bangunan menjadi lentur, pengaruh angin bisa dominan.
Begitu mas Fikri. Ada yang mau menambahin.
badaruddin // Mei 9, 2007 pada 11:11 pm
Pak Fikri, Anda betul beban angin (wind pressure) tidak sama pada setiap ketinggian serta lokasi, secara detail hal ini diatur pada ASCE 7, dimana beban angin diformulakan dengan :
Fw = (Shape factor) x (Basic wind pressure) x Projected Area x (Importance factor).
Shape factor, projected area serta importace factor, merupakan nilai yang konstant pada setiap elevasi ketinggian, yang berbeda adalah basic wind pressure yang nilainya dipengaruhi oleh ketinggian (semakin tinggi semakin besar) serta exposure, dimana exposure dikategorikan dalam tiga bagian yaitu exposure B, C dan D.
Pada Etabs salah satu code yang digunakan untuk menentukan beban angin adalah ASCE 7, dimana hal ini didefinisikan pada, define- static load case- load type (pilih wind)- auto lateral load (pilih ASCE 7).
semoga tercerahkan
salam
badar
(Engineer yang juga baru belajar)
Fikri P. Sofyan // Mei 10, 2007 pada 2:43 am
terima kasih Pak Wir dan Pak Badarudin. tapi sampai sekarang searching-searching saya belum dapat ASCE 7 yang gratisan nih..
Untuk rekan2 yg lain juga kalo ada yang punya ASCE 7 dan ingin berbagi ASCE gratisan tolong dimuat disini..
Terima kasih
tata // Mei 12, 2007 pada 6:13 am
boleh tanya, di situs bapak sepertinya sering terbaca program Etabs. kalau boleh tau, menurut bapak, yang membedakan program Etabs dan StaadPro juga SAP apa pak?
di tempat saya kuliah, di malang, yang sering digunakan untuk kuliah dan skripsi adalah program StaadPro dan SAP.
Terima kasih pak.
oya, terima kasih juga untuk file ACInya, sekarang saya sedang mencoba menyelesaikan downloadnya, semoga sukses.
wir // Mei 12, 2007 pada 7:40 am
StaadPro kira-kira sama dengan SAP2000. Untuk kondisi di Jakarta, konsultan off-shore (minyak) kebanyakan pakai StaadPro, sedangkan konsultan struktur utk gedung kebanyakan SAP2000.
Itu terjadi karena setahu saya (dulu lho) bahwa StaadPro library profil lebih lengkap dibanding SAP, jadi konsultan off-shore yang kebanyakan menghitung str baja lebih terbantu dengan program StaadPro. Lebih praktis.
O ya, yang dimaksud dulu itu adalah jamannya SAP90, ketika itu fasilitas grafis StaadPro lebih unggul. Kalau sekarang ya rame-rame lha. Tapi kalau sudah jadi kebiasaan, ya susahlah. Saya kira sama aja mas. Karena mungkin saya sudah terbiasa dengan SAP2000, maka program tersebut menurutku lebih mudah dibanding StaadPro atau GTStrudl. He, he itu kebiasaan aja.
Jika tadi , SAP2000 dan StaadPro, merupakan program yang general purpose (serba-guna) maka program ETABS unggul jika digunakan untuk perencanaan bangunan gedung tinggi 3D. Lebih praktis dan mudah. Selain itu program ini untuk perhitungan gempanya sudah well-known, dipercaya banyak orang (reliable), menara Petronas Malaysia pakai program ETABS ngitungnya.
Untuk pembelajaran di perguruan tinggi maka sebaiknya yang dikuasai lebih dulu adalah program yang bersifat general purpose. Tempat kuliah anda sudah betul.
rijalul fikri // Mei 12, 2007 pada 7:51 am
Pak, terima kasih ACI sudah saya download.
Saya ingin menanyakan sesuatu kepada bapak tentang pembebanan pada konstruksi gedung. Apakah beban terpusat pada kolom adalah berat yang dilimpahkan dari balok induk dan berat kolom itu sendiri atau hanya beban kolom saja.
Mohon penjelasannya. Karena saya sudah pernah menanyakan pada senior2 saya, dan mendapati jawaban yang berbeda-beda.
Terimakasih atas jawabannya. Mahasiswa Universitas Syiah Kuala titip salam untuk bapak
wir // Mei 12, 2007 pada 8:03 am
sdr Rijalul,
Jika anda sudah memakai program analisa struktur modern, seperti SAP2000, ETABS atau STAADPro maka perlu dipertanyakan lagi, beban terpusat apa maksudnya?
Bisa saja itu adalah beban terpusat akibat beban atap yang terbuat dari konstruksi baja misalnya, sedangkan kolomnya adalah konstruki beton bertulang.
Prinsipnya yang paling penting bahwa anda harus paham aliran gaya-gaya, mulai dari sumber beban sampai ke pondasinya. Harus konsisten. Itu tergantung cara pemodelannya.
Jawaban dari senior-senior anda mungkin benar, khususnya untuk kasus-kasus yang dia (senior) bayangkan.
Hal-hal seperti itulah tugas structural engineer yang belum bisa digantikan komputer.
Kalau tentang berat sendiri kolom, maka ada baiknya program disuruh menghitung sendiri. di SAP2000 ada option-nya, bahkan tanpa diminta program tersebut akan secara otomatis menghitung berat sendiri, yaitu luasan penampang x BJ bahannya.
O ya, sampai lupa, salam sukses juga ya untuk para mahasiswa Universitas Syiah Kuala.
rijalul fikri // Mei 14, 2007 pada 2:44 am
Terima Kasih atas jawabannya
Fikri P. Sofyan // Mei 14, 2007 pada 11:48 am
reply buat <strong> tata </strong> ttg beda SAP dan ETABS
Hal yang paling saya sukai dari ETABS daripada SAP adalah pada ETABS framingnya sudah dalam konsep GEDUNG, dimana kolom, balok dan bracing sudah dikelompokkan tersendiri. ini sangat memudahkan dalam melakukan editing dari berbagai macam elemen tersebut.
misalnya anda ingin edit semua balok, maka kolom2nya bisa dibuat i<em>nvisible</em> jadi ga mengganggu. apalagi dalam model 3D dimana semua elemen batang saling bersliweran.
sistem struktur pelat pada ETABS telah lengkap, ada flat slab dengan/tanpa balok eksterior, balok-pelat baik dengan/tanpa ribs, dll
konsep “similar to storey …” untuk beberapa lantai yang sama anda cukup membuat satu lantai saja sebagai acuan dari beberapa lantai yang sama, dan lantai yang sama tersebut di set “<em>similar to storey </em>…” kebayang kan kalu disuruh buat gedung 100 lantai dan harus diinput satu-satu.
elemen surface vertikal sudah dikenali sebagai WALL kalo anda ingin memakai dinding geser
ps: buat yang punya soft copy ASCE 7 terutama masalah angin dan ingin berbagi, saya sangat berterimakasih
Fikri P. Sofyan // Mei 14, 2007 pada 11:56 am
Pak Wir, numpang bertanya..
Mana yang lebih baik dipakai dalam perencanaan balok - plat pada bangunan 3D dengan program:
1. pelat tidak dimodelkan, lalu beban pada pelat dilimpahkan ke balok dengan metoda envelope, atau ..
2. dibuat model balok dan pelat, lalu pada pelat diberi beban area di atas pelat
hasil dari kedua cara tersebut sangat jauh berbeda. mungkin pada cara ke dua pelat pelat yang dimodelkan ikut memberi kekakuan, sedangkan pada cara pertama tidak.
Yang jadi pertanyaan saya, cara mana yang lebih layak digunakan dalam perencanaan?
terima kasih Pak..
wir // Mei 14, 2007 pada 12:58 pm
Meskipun pertanyaan sdr. Fikri ini kelihatannya sederhana, sehingga jawabannya diharapkan hanya dua pilihan saja, yaitu no1 atau no2 , tetapi dalam kenyataannya tidak demikian adanya. Kenapa, karena pernyataan yang menyertainya bahwa hasil dari kedua cara tersebut sangat jauh berbeda hanya didasarkan pada strategi trial-and-error, coba-coba dan kebetulan hasilnya memang beda.
Hal tersebut disebabkan bahwa sdr. Fikri memandang program sebagai black box yang dapat menyelesaian masalah secara benar. Padahal program tersebut hanya alat saja, tergantung kita yang menggunakannnya.
Maksudnya ?
Bahwa untuk melakukan suatu penyelesaian analisa struktur dengan program komputer, kita engineer harus mempunyai pemahaman mengenai perilaku struktur yang kita analisis tersebut, kita sudah mempunyai praduga sebelumnya, sedangkan program membuktikan dengan memberi nilainya. Tanpa itu semua maka anda hanya akan terkecoh dengan hasil program dan tidak tahu mana yang benar.
Anda masih mending, bisa melihat perbedaan antara dua strategi analisis yang dilakukan, ini contoh engineer yang baik. Banyak yang lain menelan mentah-mentah hasil komputer.
Untuk mulai menjawab itu, saya akan menerangkan dari dua kaca mata yaitu pelat beton (struktur) dan element pelat (m.e.h). Itu dua hal yang berbeda lho.
Pelat beton :
Analisis gaya-gaya pada pelat beton yang eksak adalah sulit, khususnya pelat dua arah. Jika pelat itu satu arah maka dapat dianalisis sebagai balok. Untuk mempermudah perencanaan pelat dua arah maka pada PBI 71, perhitungan gaya-gaya pelat dibantu dengan tabel. Pada SNI tabel dihilangkan dan diganti dengan cara DDM dan Portal Eqivalent.
Setiap cara di atas ada keterbatasannya.
Sistem tabel pada PBI 71 hanya berlaku jika pelat relatif tipis dibanding tinggi balok, sehingga diharapkan kekakuan pelat tidak mempengaruhi kekakuan balok secara signifikan. Jadi pelat hanya beban ke balok. Sistem distribusi beban dari pelat ke balok dapat memakai sistem envelope. Ini mungkin yang dimaksud dengan pernyataan anda no.1.
Pada cara SNI, yang dapat juga digunakan untuk menghitung flat-plate, flat-slab, maka perbandingan kekakuan pelat dan kekakuan balok diperhitungkan. Sehingga dapat diketahui berapa yang lari ke plat dan berapa yang lari ke balok. Jadi pelat dan balok saling sinergi mendukung sebagai sistem strutkur penahan beban gravitasi.
Dari dua hal di atas saja maka dapat diketahui bahwa untuk konfigurasi pelat dan balok yang berbeda meskipun perbandingan modul pelatnya sama akan menghasilkan nilai yang berbeda.
Element pelat:
Sekarang ditinjau dari sudut m.e.h. Element pelat adalah element dua dimensi yang menerima beban tegak lurus elemen. Jika ini digabung dengan element membran maka akan menjadi element SHELL.
Berbeda dengan dengan element Frame, element Shell diturunkan dengan cara interpolasi, jadi hasilnya merupakan pendekatan. Agar bernilai eksak maka diperlukan pias-pias yang kecil (rapat). Di mohon anda untuk membaca buku saya yang terbaru yaitu SAP2000 Edisi Baru, disitu dijelaskan cukup panjang lebar.
Jadi untuk mendapatkan hasil yang eksak memakai element pelat diperlukan jumlah nodal yang lebih banyak dibanding jika hanya pakai element FRAME (balok). Padahal semakin banyak nodal akan semakin banyak memakan resourse komputer.
Pertanyaannya : apakah element pelat yang digunakan pada program ETABS tersebut merupakan element m.e.h yang sebenarnya. Itu aneh menurut pemikiran saya, pelat khan hanya element sekunder, jadi kalau benar-benar memasang element pelat khan hanyasekedar membuang-buang tenaga. Atau memang itu element pelat yang dimodifikasi sedemikian rupa dan hanya disiapkan untuk sekedar untuk menerima beban merata agar dapat ‘disebarkan’ ke balok ? Itu lain persoalan.
Kenapa saya berkata demikian, karena jika element pelat ETABS mampu menghitung seperti element m.e.h yang sebenarnya artinya ETABS mampu menghitung pelat dengan finite element lalu apa gunakan dibuat program SAFE (slab analysis by finite element). Padahal developernya khan sama. Jika demikian pasti SAFE nggak laku.
Ok, moga-moga anda cukup jelas dengan uraian diatas, bahwa perencanaan pelat tidak sederhana.
Sebagai petunjuk maka sebaiknya :
1. Kenali terlebih dahulu perilaku struktur yang akan dianalisis, apakah termasuk pelat yang dapat dianalisis memakai tabel PBI 71 atau termasuk yang harus dihitung dengan DDM atau portal Eqivalent.
2. Jika pelat anda termasuk yang pakai PBI 71 tersebut maka perhitungan cara pertama, tanpa memakai pelat, beban diberikan dengan metode envelope maka hasilnya akan cukup teliti.
3. Pelajari batasan-batasan pelat pada program ETABS (terus terang , untuk program yang terbaru saya tidak terlalu mengikuti). Menurut pernyataan anda bahwa ETABS bisa juga untuk menghitung flat slab dsb-nya, atau pakai balok yang tipis (tidak berbeda jauh dengan tebal pelat). Jika struktur anda demikian adanya maka jelas pendekatan dengan metode envelope sudah tidak layak lagi. Check apakah program telah membagi secara otomatis mesh pada pelat, karena pada prinsipnya jika mesh-nya besar maka hasilnya juga tidak terlalu teliti.
Dengan memahami hal-hal tersebut tentunya hasil penyelesaian saudara akan lebih baik.
Cukup ya.
rusli // Mei 22, 2007 pada 9:40 am
hallloo pak wir……salam kenal
saya pengunjung baru disini..
semoga blog ini menjadi gudang ilmu..
Friandos // Mei 28, 2007 pada 5:59 pm
Ini sangat membantu saya. Trima kasih
GBU pak
imran // Juni 9, 2007 pada 12:59 am
salam kenal pak wir..
blog ini sangat baik bagi kepentingan ilmu pengetahuan….jarang yang seperti pak wirrr..mau berbagi ilmu..
saya berharap teman2 di HATTI juga mau membuka diri mengenai informasi yang dimiliki….
wir // Juni 9, 2007 pada 5:39 am
Rusli, Friando dan Imran, salam kenal juga mas.
Untuk mas Imran, dengan pak Iswandi Imran apa masih ada hubungan keluarga ?
Anofan // Juni 12, 2007 pada 6:33 am
Salam kenal untuk P. Wir and all.
Saya lulusan S1 T. Sipil ITATS Surabaya dan sekarang bekerja sebagai karyawan sebuah konsultan sipil dan saya tertarik pertanyaan Fikri P. Sofyan tentang penggunaan pelat (shell) dalam program bantu struktur.
Kebetulan program yang saya gunakan di kantor adalah SAP2000, nah dalam SAP2000 memang ada selalu opsi buat pemodel untuk menempatkan shell, dalam berbagai jenisnya, dalam model struktur yang akan dihitung baik gaya2 dalam atau rebar-nya.
Yang diamati oleh sdr. Fikri memang tepat sekali, kekakuan yang dihasilkan oleh shell dalam model akan menghasilkan perbedaan yang signifikan pada gaya2 dalam komponen2 balok penahannya. Ada trik yang mungkin dapat dipakai untuk menyiasati agar shell tidak menambah kekakuan atau berfungsi sebagai komponen pembentuk balok T pada balok yang kita desain, yaitu dengan mengubah nilai stiffness modifier untuk membrane pada arah f11 dan f22 menjadi 0 (nol) dari default-nya yang bernilai 1 (satu) pada shell kita.
Trik ini sebetulnya sudah ada dalam salah satu problem example yang disertakan oleh SAP2000 yang tentunya berpotensi untuk memudahkan atau mempercepat proses permodelan. Hasil perhitungan gaya2 dalam yang didapatkan dengan cara ini sedikit banyak mendekati hasil yang kita dapatkan bila kita menggunakan metode envelope.
Moga2 bisa membantu.
Roess // Juni 12, 2007 pada 10:08 am
salam kenal pak wir
saya pendatang baru tapi sangat tertarik dgn blog ini.
Mau nanya pak, kalo flat slab apa memang tdk diijinkan ada penurunan level setempat seperti pada kamar mandi? Kalo gitu solusi masalah seperti ini gimana pak. Thanks
wir // Juni 12, 2007 pada 11:34 am
**Anofan**
Idenya boleh-boleh aja, tetapi kayaknya itu kebetulan aja lho dan sebaiknya jangan dijadikan sebagai pegangan mutlak.
Kenapa ?
Sdr. Anofan menyarankan pakai stiffness modifier untuk membran (f11 dan f22), begitu bukan ?
Apa sih membran tersebut. Membran adalah elemen yang menerima gaya-gaya aksial searah bidang pelat. Jadi kalau element shell ditarik pada pinggir-pinggirnya maka yang akan bekerja adalah gaya-gaya tersebut (gaya membran).
Tapi jika bebannya tegak lurus element shell maka yang akan bekerja adalah efek pelat yaitu momen.
Dengan demikian, ketika mengubah parameter kekakuan membran menjadi nol lalu dapat disimpulkan bahwa efek shell untuk pembebenan amplop menjadi ‘baik’. Itu kurang jelas dari mana koq bisa begitu.
Untuk tahu jawabannya, mohon ditunggu. Saya sedang membimbing salah satu mhs tugas akhir di UPH untuk mendapatkan penjelasannya. Saat ini mhs tersebut sedang membuat perbandingan pemodelan slab lantai dengan tiga program, yaitu SAFE, SAP2000 dan ETABS. Kalau nanti cukup baik hasilnya, saya merencanakan untuk dapat mempresentasikan dalam forum ilmiah secara terbuka.
Ada ide ?
**Roess**
“flat slab tdk diijinkan ada penurunan level”, apa iya yah. Koq saya belum pernah dengar, ya. Yang penting kontinyuitas tebal efektif dapat dipertahankan dan detail penulangan yang kontinyu juga bisa mendukung.
Eddyanto // Juni 19, 2007 pada 7:53 am
Pak Wir, masih ingat sama saya? pak skrg saya mau nanya tentang beban angin untuk desain struktur yang berlaku di indonesia saat ini masih ber pegang peraturan indonesia yang lama? thx u sebelum dan sesudahnya
wir // Juni 19, 2007 pada 10:40 am
Ini Eddyanto alumni UPH ya ?
Wah kalau gitu, cerita dulu dong, kabar-kabarnya. Baru nanti tanya jawab. Ok ?
Made Darmawan // Juni 20, 2007 pada 6:18 am
Yth : Bapak Wir
Sebelumnya saya hanya ingin mencari website yang bisa membantu saya dlm menghitung segala bentuk ketentuan yang harus disertakan dalam mendesign curtain wall ( wind load.dead load, defleksi dll) mungkin bapak lebih tahu.Tapi Google menampilkan ini.
Apakah Bapak bisa membantu Saya ?
Saya hanyalah seorang aplicator kecil dengan segala Keterbatasan yang berusaha untuk menjadi besar sehingga mencari kesana kesini segala bentuk literatur yang bisa membantu Bidang yang saya Jalani.Bidangnya adalah Aluminium Facade for High Risk Building.
Terimakasih.
wir // Juni 20, 2007 pada 6:33 am
Bapak sudah membaca artikel saya yang ini belum ?
http://wiryanto.wordpress.com/2007/05/28/untuk-tukang-dan-insinyur-bangunan/
Jika masih belum puas, bapak bisa menghubungi alumni-alumni UPH yang kerja di DUBAI, dia kerjanya desain aluminum facade dengan orang asing. Untuk itu silahkan baca
http://wiryanto.wordpress.com/2007/03/02/from-uph-civil-engineers-alumni-dubai/
Itu saja pak dari saya, semoga membantu.
Agus Risdianto // Juni 27, 2007 pada 2:36 pm
Salam kenal buat Bp. Wiryanto
Perkenalkan nama saya Agus Risdianto, saat ini saya sedang belajar untuk menekuni usaha jasa konsultansi teknik di Jayapura - Papua. Dengan segala keterbatasan fasilitas dan informasi yang ada, saya mencoba memberikan yang terbaik buat pengguna jasa konstruksi. Ketika menjadi mahasiswa di Fakultas Teknik Sipil dari universitas swasta di Surabaya, saya sambil bekerja untuk membiayai kuliah, jadi yang diserap dari bangku kuliah sangat sedikit.
Dalam kesempatan ini, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena dengan memberikan referensi gratis yang dapat di download dari website Bapak, telah membantu saya menambah referensi untuk meningkatkan kemampuan perhitungan konstruksi. Jika ada 100 orang seperti Bapak dalam segala bidang ilmu yang berbeda, saya yakin SDM kita tidak akan kalah dari negara lain.
Bravo Bapak Wiryanto Dewobroto
Semoga selalu diberkati Tuhan
Herry // Juli 9, 2007 pada 4:05 pm
Salam kenal buat pak Wiryanto
Pak ada gak pembahasan dari bapak tentang SANSPRO, dan juga dimana saya bisa mendownload UBC, saya memerlukannya untuk tugas akhir saya. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih
Sukses buat Pak Wiryanto
wir // Juli 9, 2007 pada 6:49 pm
@Agus Risdianto
Dukungan dari anda menyemangati saya untuk tetap mengelola dan menumbuhkan blog ini dengan baik.
God Bless You too.
@Herry
Belum ada rencana saya untuk membahas SANSPRO, untuk SAP2000 dan rekannya aja (SAFE atau ETABS) masih banyak peluang untuk dapat dibahas.
UBC, saya kurang tahu, kalau I B C 2003 ada koq di blog ini. Sudah down-load belum ?
Dimana? Cari sendiri ya !
Pokoknya ada di artikel utama (bukan komentar).
Donny B Tampubolon // Juli 10, 2007 pada 2:43 am
Dear Pa Wir & Structural Engineers..
Saya sih hanya punya hardcopy UBC 97..
Mugkin ada rekan-rekan Structural Engineers yang mau men-share softcopy (dalam bentuk pdf) UBC97 ?
Syallom..
JAS // Juli 11, 2007 pada 2:06 pm
Pa Wir makasih banyak ya…atas “bantuannya”…yang secara tidak langsung sangat membantu saya…oh ya..kalo..punya..tutorial..atawa buku,modul,..(bahasa indonesia) toek “tekla”..mohon bantuannya dunk…salam kenal semuanya aja ya….thank’s…
wir // Juli 11, 2007 pada 10:51 pm
@Donny
Saya juga mau deh, UBC 97.
@Jas : sama-sama
Tekla untuk analisis dan desain serta penggambaran strutur baja ya. Wah belum pernah nyoba. Apa keunggulannya sih ?
badaruddin // Juli 12, 2007 pada 12:23 am
Tekla itu hasil metamorfosis dari xsteel, dimana kalau xsteel hanya dapat digunakan untuk memproduksi shop drawing dengan inputan berupa pemodelan - 3D (jadi asyik… tidak seruwet menggunakan autocad coz untuk joint connectionnya sudah dilengkapi dengan template tinggal milih aja), kalau tekla lebih hebat lagi, sudah joint sama staad pro sehingga modelnya bisa di analysis sekalian.
kalau tidak salah tekla ini mirip revit structure (coz revit structure belum sempat nyoba, kemarin udah beli cd nya tapi ketinggalan di kaltim).
Donny B Tampubolon // Juli 12, 2007 pada 2:10 am
Dear Pa Wir,
Boleh Pak.. Saya copy dulu ya UBC 97 nya..
Nanti saya kirimkan ke UPH kalau sudah siap.
Pengen juga sih main ke library Teknik Sipil milik UPH, untuk mengcopy buku-buku bagus yang ada di situ untuk men-”charger” otak saya ..
Sekaligus mau lihat-lihat UPH, kurikulumnya, materi pengajarannya dan semuanya deh. Mungkin kalo ada waktu luang untuk daftar EACEF ya Pak.
Terus terang saya “iri” dengan mahasiswa sekarang, terutama di perkotaan, melimpah ilmu dan fasilitas tapi banyak yang tidak memanfaatkannya secara optimal..
Semoga di UPH tidak terjadi ya Pa Wir.
Oleh sebab itu saya sangat mendukung pa Wir untuk menshare softcopy materi/buku secara gratis di Blog ini untuk memberikan kesempatan buat rekan-rekan terutama Structure Engineers yang jauh dari perkotaan untuk dapat memilikinya.
Syallom..
wir // Juli 12, 2007 pada 2:31 am
Sebelumnya diucapkan terima kasih atas maksud baik mas Donny. Jika memang tidak merepotkan anda lho. Copy-nya yang terbaik sekalian, nanti saya ganti deh biayanya.
Kapan-kapan main ke UPH, perpustakaannya baik lho, mungkin kalau saya bilang terbaik yang pernah saya lihat. Kalau besarnya mungkin ada yang ngalahin ya, tapi luxury-nya itu, hebat lho. Saat ini pimpinan atas sedang mencanangkan perpustakaan UPH mempunyai seksi Christian Literatur dengan visi menjadi pusat literatur kritiani terbesar di Indonesia. Itu didukung penuh bapak James T. Riyadi.
Untuk bidang engineeringnya lumayan lho. Cukup lengkap pula, ini komentar Dr.Ir. Benjamin Indrawan, dosen kita yang memanfaatkan keberadaan buku-buku up-to-dated yang baru dibeli tersebut.
Note: kadang-kadang kita malu juga, mungkin karena bukunya terlalu canggih atau bagaimana, mahasiswanya sendiri jarang mbaca, yang ditandai dengan buku yang masih putih bersih padahal udah beberapa tahun ngendon di perpus.
ary // Juli 12, 2007 pada 7:38 am
UBC97 yang ini ?
http://rapidshare.com/files/4376903/UBC-Volume_2.rar.html
cuma volume 2 doang…
Volume 1 ada yang punya..?
ary // Juli 12, 2007 pada 7:39 am
pak saya bisa nggak jadi anggota librari…
pengen foto kopi…teknologi baru..
ary // Juli 12, 2007 pada 7:44 am
Oh ya ada yang punya belum Peraturan tahan gempa beserta penjelasannya keluaran ITS. Keren juga loh.
Kali kali ada pdfnya.
Sedang cari juga: Notes on ACI 2005.
ada kah yang punya? barter…dong
Soeprijadi // Agustus 3, 2007 pada 9:39 am
Terima kasih Pak Wir,
Jadi ada bahan referensi untuk menghitung struktur gedung yang sering saya gunakan untuk keperluan IMB.
Pram // Agustus 4, 2007 pada 1:32 pm
File pdf-nya setelah di download kemudian di gabungkan, kok giliran dibuka gambar penjelasannya tidak muncul?? apakah error softwarenya atau dari file-nya sendiri?saya pake Adobe Acrobat dan Foxit sama saja.
Sehingga saya tidak bisa mempelajarinya. Nampaknya formula-formula-nya juga ikut tidak tampak (terhapus).
Mohon petunjuk,dimanakah bapak mendapatkan soft file-nya?saya ingin mendownloadnya langsung.Karena sangat saya perlukan sekali.
Terima Kasih
raimond // Agustus 6, 2007 pada 2:43 am
Untuk yang belum tahu,
info untuk textbook teknik sipil terutama fondasi/geotech yang dapat di-download gratisan coba kunjungi:
http://www.vulcanhammer.org
Mereka mengatakan:
It may not seem much to some people, but the downloads of engineering and other software that grace our sites is one way we put our faith in Jesus Christ into action. We hope you can benefit from these offerings.
Atau coba:
http://www.usace.army.mil/publications/eng-manuals/em.htm
Trims,
raimond
Yoanita // Agustus 22, 2007 pada 4:35 am
Siang Pak Wir….
ada hal yang ingin sy tanyakan, soal rumus beban angin yang sy tau adalah P= V^2/16, V yang dimaksud adalah kecepatan angin (Peraturan Muatan Indonesia 1970 Pasal 4.1 dan 4.2 ), jika sy memakai V dr data BMG ( Stasion Kemayoran satuan dalam Knot ), apakah bisa langsung diaplikasikan ke dalam rumus atau harus memakai koefisien pemukiman,jika …Mohon bantuannya..
indra // Agustus 29, 2007 pada 5:42 am
Dear Pak,
Saya Indra, dari Surabaya.
Saat ini saya sedang mempelajari buku Bapak ttg. SAP2000. Bagus dan lengkap, tidak seperti buku lainnya yang sejenis.
Saya ingin menanyakan tentang contoh soal pada buku tsb. hal 120, sbb :
1. A=2 sq.in.Profil / section propertiesnya tidak diketahui. Apakah ada tujuan khusus ataukah hanya studi kasus saja.
2. Beban merata 1000lb/ft yang ada di rangka tsb, mengakibatkan timbulnya momen pada batang truss. Bagaimanakah menyiasatinya agar tidak terjadi kesalahan dalam analisa selanjutnya.
3. Jika pada truss ini memakai profil siku atau lainya yang umum dipasaran, apakah tetap menggunakan frame section siku atau general section?
4. Property datanya, apakah kita isi sendiri, atau otomatis oleh program, untuk kasus diatas.Dan modifikasi nodal dg. joint restraint ( hanya translasi saja) tetap dilakukan?
Terima kasih atas jawabanya.
Salam
indra
Ashari // September 10, 2007 pada 4:00 am
Salam Sejahtera..Pak Wir…
Maa’f Pak Wir jika nantinya pertanyaan ini Pak Wir anggap “katrok,n’deso,ngisin-ngisini…”atawa apalah..tapi bagi saya tak mengapalah…
Saya adalah karyawan di Perusahaan yang bergerak di Bidang Consulting Engineer dan saya bekerja sebagai Drafter (Juru Gambar) untuk para “Engineer”…sebenarnya ada keinginan untuk “mencari ilmu yang lebih” .. di fakultas terutama “teknik sipil”..
karena sungguh, saya sering merasa ilmu yang telah saya dapat di “pengalaman” masih “dangkal” dan hanya di fakultaslah saya bisa mendapatkan “ilmu-ilmu”yang tidak ada di “pengalaman”
Kini usia saya menginjak 27 th,saya lulusan STM N I Bangunan Gedung di Cirebon th 2000, yang ingin saya tanyakan persiapan apa saja yang harus saya persiapkan untuk persyaratan memasuki dunia perkuliahan karena sungguh saya “buta” sama sekali tentang hal ini..dan adakah kelas khusus bagi karyawan / bagi “anak kuliah” yang telah berkeluarga (karena saya ada rencana menikah akhir tahun ini), dan rencana kuliah saya tahun 2008,
mohon referensinya PTS mana yang bagus yang ada di Bekasi, karena saya akan tinggal di Bekasi..atas penjelasan dan sarannya saya “Haturkan” banyak Terimakasih”….
Ashari
wir // September 10, 2007 pada 2:36 pm
Sdr Ashari,
selamat anda mendapat pencerahan, suatu pemikiran baru yang beda dari biasanya. Keinginan untuk sekolah lagi, itu menurut saya sesuatu yang luar biasa.
Kenapa ?
Karena kalau dibandingkan dengan usaha lain, misal dagang, maka investasi uang ke sekolah kadang-kadang nggak jelas hubungannya dengan keuntungan finansial yang didapat. Bahkan banyak pameo yang mengatakan bahwa sudah lulus, punya gelar, toh masih nganggur. Lebih baik itu, nggak punya gelar tapi mau berusaha maka punya uang bulanan.
Jadi keinginan sekolah itu baik, tapi untuk itu tidak hanya perlu kemauan aja, perlu juga waktu dan biaya. Apakah anda sudah memikirkan, apalagi anda berencana untuk segera menikah.
Jika itu semua sudah anda pikirkan (misalnya, udah punya tabungan yang cukup, atau bahkan dapat bantuan dari mertua), maka pertanyaan kedua yang perlu anda jawab adalah sekolah itu mau apa sih. Gelar atau ilmu.
Gelar itu adalah sesuatu yang jelas (ada bukti fisik, yaitu sertifikat), tapi kalau ilmu gimana. Yah, tahunya berilmu atau tidak jika sudah dibuktikan dengan kasus yang ditemui.
Tapi jika sekolah lagi agar mendapat perubahan dari pola berpikir maka itu prosesnya agak kompleks, perlu interaksi intensif pelaku dan suasana yang harus mendukung.
Jadi agar terjadi perubahan yang dimaksud maka tidak hanya lulus ujian pada mata kuliah yang dimaksud tetapi juga berinteraksi dengan dosen / mahasiswa atau bahkan profesional lain yang positip. Itu semua biasanya ada pada institut pendidikan yang cukup dikenal, termasuk alumni-alumninya.
Jadi menurut saya, jika memungkinkan carilah institusi yang bisa seperti itu. Bgmn di Bekasi, saya kurang familiar (meskipun tinggalnya disitu juga).
erik // Nopember 20, 2007 pada 12:09 pm
Untuk menentukan panjang penyaluran pada ACI 318 99 di dapat rumus pada chapter 12.2.3 (USA)
Sedangkan pada SNI-03-2847-2002 & S-2002 pada pasal 14.1.2.3 (SI)
Yg menjadi pertanyaan :
1. mengapa ada perbedaan nilai 3/40 dengan 9/10 padahal peraturan mengadopsi pd ACI ?
2. sebenarnya nilai 9/10 didapat dari mana ?
bagi rekan – rekan yg mengetahuinya dimohon bantuannya. Terima kasih.
Alimur Puserbumi // Nopember 25, 2007 pada 2:50 pm
Mas Wir,
Punya Notes On ACI 318-05 fomat pdf. Kalau punya saya mau dong buat koleksi.
Terima Kasih.
imran // Desember 10, 2007 pada 4:45 am
pak wir..
tolong informasi mengenai software geoteknik..
makasih
Danar // Desember 12, 2007 pada 6:27 am
pak wir, Saya baru lulus dari Sipil UII, saya kerja di konsultan. Kalo saya memodelkan bangunan Gedung di SAP 2000, biasanya antara struktur atap dan struktur portalnya saya pisahkan. Jadi beban kuda-kuda saya jadikan beban terpusat ke kolom.
Kalau saya gabung pemodelan atap dan portalnya pada SAP 2000 boleh gak pak? apa akan berubah reaksinya? matur nuwun……
khotibin // Maret 3, 2008 pada 2:07 pm
salam kenal pak wir,
saya pengeeeeeeeeeeeen bisa mendesain/ merancang struktur beton. misalnya kita mau membangun rumah bertingkat 2 lantai, apa aja yang perlu kita analisa, terus pembebanannya apa aja, pokoknya lengkap, sampai rumah itu jadi, pak wir terbitkan dong buku kayak gitu,
jadi sarjana sarjana pemula kayak saya ini bisa, saya yakin pak wir gak pelit ilmu, ada gak pak wir contoh contoh perhitungan beton dan rangka baja seperti yang saya maksud? tolong dong pak wir,
kalo ada bukunya apa judulnya apk wir? saya masih kebingungan pak, maklum saya tinggal dibanyuwangi, saya kuliah dibanyuwangi, yang semuanya terbatas, saya sudah beli buku buku pakwi, mengenai sap 2000 dari yang warna merah dan biru. tapi penerapannya pada struktur sesungguhnya saya masih bingung , mungkin karena dasar saya mengenai beton dan baja yang minim,
saya tunggu saran dan petunjuk dari pak wir, hormat saya, khotibin, email; ikie_akoe@yahoo.co.id
suhartoyo // Maret 14, 2008 pada 5:03 am
Pak Wir, Terima kasih banget ya ACI 318 nya…
sudah saya download semua…
Andre // Maret 18, 2008 pada 8:39 am
Pak, saya sudah download semua tapi file ACI.bat-nya kak tidak mau di run ya? thx
Deddy Rahmadi Zuffi // Maret 20, 2008 pada 9:23 am
Pak Wir..
Saya Mahasiswa Teknik Sipil Unri ( Universitas RIAU ) angkatan 2005
saya sedang mencari tugas ” Menentukan Perencanaan Batang Tarik dengan ASD - PPBBI dan LRFD - SNI 2002″ Kemudian membuat Flowchart nya…
Saya Bingung Harus Mendapatkan Refrensi Nya dari mana ???
Mohon Bantuan dan Petunjuk dari bapak..
terima kasih,,,
arif anwar // Mei 5, 2008 pada 8:17 am
Arif a
Halo pak wir,
Saya arif dari s1 sipil univ samratulangi manado.
Salam kenal untuk bapak.
Pak, saat ini saya sedang mengerjakan tugas akhir saya tentang struktur beton prategang menggunakan peraturan BS8110-1997.
Dapatkah bapak atau seseorang menolong dan membantu saya untuk mendapatkan softcopy, file pdf ttg peraturan BS8110 (BS code ttg struktur beton dan beton prategang)
Dimanakah saya bisa mendapatkan peraturan BS8110 yang terbaru?
Atau jurnal-jurnal tentang PC (prestressed concrete) khusus membahas mengenai balok ramping.
Dalam tgs akhir ini saya akan membandingkan peraturan ACI dan BS. Fokus nya adalah beton prategang bentang panjang yang akan di aplikasikan pada struktur gedung dengan menitikberatkan dimensi penampang (rectangular) yang optimum. Please help me.
Terima kasih sebelumnya pak..
jolis nainggolan // Juni 8, 2008 pada 4:03 pm
malam pak…
oya pak..saya mau tanya..buku terjemahan ACI ada ga pak?
terima kasih..
Donny B Tampubolon // Juni 9, 2008 pada 12:54 am
Dear Pa Wir and Engineers,
Saya telah mengupload ACI 318-05 dan PCA 05 namun dalam satuan English bukan Metrik.
Sekiranya berminat, silahkan anda download di link ini :
http://www.4shared.com/dir/6805535/f9cc0841/CivEng_ebooks.html
Untuk Bung Donald, boleh tidak saya minta ebooks anda untuk diupload ke file sharing saya di link yang diatas untuk menambah referensi dan untuk kepentingan kita bersama.
Terima Kasih..
Syallom..
ma'ruf // Juni 24, 2008 pada 6:01 am
lulusan teknik sipil unlam banjarmasin—-
nanya kita mau bikin lapangan sepak bola di lapangan yang lama gimana SNI nya mas?
Tinggalkan Komentar