precast-wall


Industri konstruksi semakin bergairah dengan adanya produk precast concrete yang dapat dipasang cepat dan kualitasnya sangat baik. Tidak hanya dari sisi struktur, yaitu kekuatan dan kekakuannya saja, tetapi juga dari sisi arsitekturalnya yaitu penampakan luar (keindahan).  Oleh karena itu, arsitek yang berorientasi maju pasti akan memikirkan alternatif pemakaian produk precast untuk bangunan rancangannya. 

Bagaimana tidak, dengan digunakannya precast maka semua komponen yang seharusnya dikerjakan di atas bangunan sehingga susah dijangkau arsitek untuk diawasi maka dapat dilakukan di bawah sehingga si arsitek dengan leluasa mengawasi kualitas produk yang akan dipasangnya. Kecuali itu, umumnya produk precast adalah untuk komponen-komponen yang berulang (repetitif) sehingga prosesnya seperti halnya industri pada umumnya, dibuat satu dulu sebagai contoh, jika memuaskan akan dikerjakan lainnya dengan kualitas yang sama.

Untuk produk precast, yang sangat berperan adalah teknology yang digunakannya. Siapa yang membuatnya. Tidak hanya perencanaannya saja yang harus bagus tetapi juga perlu pelaksanaan yang baik. Precast for finishing, yang diperuntukkan untuk keindahan, yang terlihat dari luar untuk ditampilkan, jelas lebih sulit dibanding produk precast yang sekedar untuk komponen struktur saja. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan, misalnya : ketahanan terhadap cuaca (tidak retak, keramik lepas atau berubah warna), kebocoran terhadap air hujan (teknologi karet sealant, seperti yang terpasang pada pintu mobil), presisi yang tinggi, juga detail yang benar dari takikan-takikan yang dibuat agar air yang menimpanya selama bertahun-tahun tidak meninggalkan jejak yang terlihat dari luar, juga detail sambungan dengan bangunan utamanya, bagaimana mengantisipasi deformasi bangunan yang timbul ketika ada gempa dll-nya tanpa mengalami degradasi kinerja dan lainnya. Oleh karena itulah perusahaan precast untuk keperluan finishing yang sukses di Jakarta tidaklah banyak.

Mencari tahu informasi detail tentang precast yang dimaksud adalah tidaklah gampang. Coba cari literatur yang ada, di buku-buku beton, tidak mudah bukan. Kalaupun ada hanya sekedar introduction, tidak detail. Oleh karena itu, ketika mahasiswa UPH (sdr. Iwan dan sdr. Hendrik) telah melaksanakan kerja praktek, dan dapat melihat secara detail bagaimana suatu precast wall dapat dipasang maka rasanya itu suatu informasi yang berharga.

O ya, produk precast yang akan dipasang ini adalah produk Griyaton, perusahaan precast yang sudah terkenal malang melintang di Jakarta dan produknya sudah banyak terpasang di bangunan-bangunan tinggi. Sistem yang dipasang ini, yaitu di proyek Senayan Tower, Jakarta, adalah sama dengan yang dilaksanakan di gedung Thamrin Tower atau sekarang disebut ATD Plaza di Jalan Thamrin Jakarta Pusat.

Wah, jadi ingat waktu awal-awal dulu di PT. Wiratman Consulting Engineers, yaitu sekitar tahun 1989-90 ketika itu baru pertama kerja setelah lulus jadi insinyur sipil. Kantor konsultan tersebut kebetulan sedang menangani proyek Thamrin Tower dengan lead-engineer-nya ibu Ir. Lanny Maruta (alumni UGM juga) dan engineer lainnya yaitu bapak Hanan Elkanan.

Proyek Thamrin Tower waktu itu adalah sama-sama dimiliki oleh Kajima, yang sekarang membangun Senayan Tower ini. Waktu itu ada dua sistem precast concrete yang dipasang, yaitu precast wall dan precast hollow-core-slab untuk lantainya. Jika sekarang keduanya juga diterapkan pada proyek ini. Berarti sistem tersebut dianggap sukses.

Mau tahu lebih lanjut ?

Foto 1: Pengerjaan pemasangan kaca pada precast-wall yang datang dari fabrikasi.

Foto 2: Rangka aluminum tempat dudukan kaca.

Foto 3: Proses pemasangan kaca pada precast wall (di bawah)

Foto 4: Pemasangan sealant pada kaca

Foto 5: Kumpulan precast-wall siap diangkat

Foto 6: Pengangkatan precast-wall satu persatu.

Perhatikan pada bagian kacanya diberi pelindung dari tripleks.

Foto 7: Sisi luar bangunan yang akan dipasang precast-wall

Jika satu portal persegi tersebut butuh 2 precast-wall untuk penutupnya, berapa banyak precast yang diperlukan.

Foto 8: Proses pengangkatannya

Foto 9: Sambungan yang menempel ke balok

Foto 10: Sambungan sistem tumpu (pada bagian bawah skin)

Foto 11: sistem sambungan lain

Foto 12: Sambungan pada sisi atas

Foto 13: Memasang karet sealant joint

Sistem karet sealant ini sangat penting, kalau sampai bocor membongkarnya saja sudah sulit. Jadi produknya juga harus teruji. Inilah salah satu teknologi yang harus dikuasai untuk menghasilkan kinerja yang baik untuk precast sebagai penutup luar.

Foto 14: precast-wall selesai dipasang (final)

Perhatikan presisi dari setiap garis yang akhirnya menghasilkan keindahan. Di Jakarta, tidak banyak gedung-gedung yang seperti ini. Kebanyakan pakai keramik yang dipasang on-site, yang tahu-tahu dapat jatuh dan akan menimbulkan korban jiwa.

Anda tertarik untuk mempelajari sisi teknisnya. Untuk itu silahkan baca makalah dari PCI Journal sbb:

Sidney Freedman .(1999). “Loadbearing Architectural Precast Concrete Wall Panels”, PCI JOURNAL September-October 1999 (down-load PDF 1192 kb)

About these ads

57 gagasan untuk “precast-wall

  1. Waahhh….konstruksi bangunan sekarang metodenya sangat menarik sekali ya…
    Kalau jaman saya dulu pre-cast hanya digunakan untuk lantai saja….sekarang sudah dapat digunakan untuk apa saja ya…..
    Menarik sekali…..jadi mau kuliah lagi he..he..he….
    Dua jempol untuk Pak Wiryanto dan mahasiswanya…..
    Sukses selalu, salam…..

  2. Keren Pak..
    Ini bagus untuk perkembangan konstruksi indonesia yang kebanyakan adalah beton cor ditempat yang membutuhkan waktu lama..
    proyek jadi lebih cepat terselesaikan

  3. Sebenarnya kalau menggunakan precast sepintas memang waktu konstruksi menjadi lebih cepat,tetapi dibalik itu sebenarnya ada kerja keras dan ketelitian manajemen konstruksi yang cukup berat agar waktu konstruksi dapat terjaga lebih cepat daripada menggunakan slab konvensional.

    Effort lebih yg dilakukan Konstruktor Seperti :
    Konstruktor harus sudah mulai mempersiapkan pengecoran slab2 precast pararel dengan pelaksanaan lapangan.
    Konstruktor harus mendeliver slab2 precas dari pabrik ke proyek sesaat sebelum dipasang.
    Konstruktor harus memikirkan truk pembawa precast yang berbondong2 datang dan menentukan apakah akan distok atau langsung dipasang dari atas truk.
    Konstruktor harus memikirkan penggunaan Tower Crane saat melayani pemasangan “precastslab”, dimana pekerjaan lain harus menunggu.
    Baik Preslab maupun konvensional, konstruktor tetap melakukan pengecoran manual, dan pemasangan bekisting balok manual.Cukup signifikan waktu yang dibutuhkan untuk itu.

    Pokoknya rumit, kalau kita melakukan sedikit kesalahan, waktu konstruksi akan sama saja dengan pelaksanaan slab konvensional. Bahkan bisa lebih lama.

    Terimakasih

  4. Oh ya, di Singapura, Unit kamar mandi juga sudah di precast. Konstruktor gak perlu pusing memikirkan kerapian pemasangan ubin,keramik,close set dll.

  5. Salam Pak Wir,

    Saya ikuti semakin hari semakin menarik saja blog panjenengan ini.

    Kebetulan (sebelum saya berpindah sebagai konsultan MK di proyek Suramadu spt sekarang), saya Representative Engineer dari pihak owner untuk pekerjaan architectural pc panel Proyek Senayan Square di atas (cantriknya Ir. Ibu Lani Maruta, MT).

    Yang paling menarik sebenarnya dari pekerjaan pc panel ini adalah proses fabrikasinya pak (sayang blog ini blm memuat photo2nya). Gambaran singkat fabrikasinya a.l sbb:

    (1) Fabrikator : PT Griyaton Indonesia

    (2) Metode produksi: Al. window, keramik, granite (sill/facade) diinstall sebelum pengecoran.

    (3) Fabrikasi rebar menggunakan template untuk menjaga keakuratan ukuran, molding seluruhnya metal plat 6mm.

    (4) Untuk mendapatkan cover concrete tidak digunakan metode beton decking sebagai gantinya diterapkan metode hanging rebar, tujuannya supaya beton melekat sepenuhnya dipermukaan belakang keramik untuk mengurangi resiko berkurangnya lekatan beton dan keramik.

    (5) Material yang digunakan : Beton (Semen: type I, Agregat: lokal, Admixture: ex Fosroc), Keramik (200×100 mm) pesanan khusus dari Super Itali, Granite (Sebagian besar warnanya yellow juparana, import dari Vietnam), window (Alluminium ex YKK).

    (6) Mutu beton yang dipakai K400 (komposisi mat’l per m3 sebelum adjusment adalah PC 445 kg, FA 740 kg, CA960, Water 215 ltr, Adm 1.30 ltr). Cukup banyak bukan kandungan semen dan pasirnya, ini ditujukan untuk mengurangi cavities (keropos kecil) sepanjang groove/nat antar keramik. Walaupun kedepannya kok saya cenderung menganjurkan penggunaan Self Compacting Concrete (pernah saya sarankan ke Shinji Irie – PM Kajima) tapi mahal elaknya.

    (7) Dimensioning tolerance yang diterapkan cukup tinggi untuk ukuran Indonesia (plus minus 3mm). Toleransi tersebut didapat melalui kontrol yang sangat ketat pada saat fabrikasi bahkan Kajima menempatkan 3 personil QC nya setiap hari di Griyaton, belum termasuk personil QC.

    (8) Sambungan keramik sudut, diprefabrikasi / disambung dulu menggunakan epoxy.

    (9) Banyak yang bertanya bagaimana nat bisa dibuat ? nat dibuat dengan menempatkan rubber diantara keramik (ukurannya 6 dan 7 an mm).

    (10) Jumlah total panel 1660 pcs, dengan tidak satupun yang di Reject (hasil dari kontrol ketat). Defect paling besar yang didapat adalah retaknya beton (1 panel) karena keteledoran proses pengangkatan / pemasangan chain, tapi masih bisa direpair / digrouting.

    Sekian dulu pak Wir semoga bermanfaat.

    -Tengkiu-

  6. Terima kasih mas Hendrika.

    Saa kira informasi anda cukup memberi gambaran bahwa tidak hanya perencanaan yang penting tetapi juga proses pelaksanaannya termasuk kontrol mutunya, misalnya sampai-sampai Kajima menempatkan 3 personilnya di Griyaton.

  7. Salam Pak Wiryanto,

    Pertama melihat blog ini saya langsung terkesan. Tidak banyak orang yang mau membagi pengetahuan khusus yang dimilikinya untuk orang lain, karena sepertinya ini masalah panggilan hati, salut buat Bapak.

    Saya bekerja di devoloper yang banyak berhubungan dengan arsitek dan kontraktor.

    Pada umumnya kami selalu mengalami masalah dengan struktur. Pertama dari sisi design, arsiteknya kalau ditanyain struktur malah balik nanya ke temannya…lama-lama nggak ada jawaban.. kedua kalau sudah di lapangan kontraktornya suka mengurangi speks yang direncanakan… jawabannya “biasanya kita buat seperti ini kok ?”…bahkan ada tulangan pelat lantai yang dirubah jaraknya dari dia 8 mm jarak 15 cm menjadi 25 cm, alasannya khan sudah atas bawah atau dihitung jaraknya zig zag gitu… Apa sudah benar ya, pak ?

    Terus kalo ada apa-apanya siapa yang tanggungjawab ?
    Gitu aja dulu, pak…mohon bantuannya karena kita awam di struktur.

    Regards,

    Rijel S

  8. arsiteknya kalau ditanyain struktur malah balik nanya ke temannya

    ya saya kira itu betul, kalau arsitek ditanyain soal arsitek nanya ke teman lain , wah itu nggak betul itu.

    tetapi kalau arsitek bisa njawab tentang struktur. Kalau bener, wah hebat tuh. Tapi kalau asal njawab, biar owner puas diam, wah itu juga nggak bener.

    Kalau kontraktor nyuri, seperti yang Bapak omongin, wah itu udah biasa. Kontraktor khan kayak orang dagang aja khan, yang penting untung. Apalagi kontraktor yang nggak punya nama, sekarang kontraktor, besok ngilang, ketemu lagi jualan kambing. Gawat itu, karena yang penting bagi mereka UNTUNG-nya aja. Kondisi seperti itu banyak mas.

    Di Indonesia saya sering lihat, jadi kontraktor bukan karena kompetensi yang dimilikinya tetapi karena dapet tender (KKN). Baru setelah itu disusun staf-staf. Khan repot seperti itu.

    Kalau yang anda nyatakan di atas, itu namanya anda kena gertak. Untuk mengatasinya maka kontraknya harus jelas, perlu dilengkapi dengan gambar-gambar konstruksi sebagai pengikat, juga harus jelas gimana jika ada perubahan, lumpsum atau kerja tambah. Lalu jelas juga strategi pengawasannya, harus ada orang khusus. Jika proyeknya besar maka perlu institusi konsultan pengawas gitu.

    Siapa yang tanggung jawab. Jika ada gambar lengkap, tetapi ternyata di lapangan terjadi retak (kegagalan) dan terbukti kontraktornya yang nyuri bestek. Ya jelas kontraktornya, bila berbahaya bisa disuruh bongkar (atas biaya kontraktor) . Tapi kalau ternyata udah ada pengawasnya dan disetujui. Itu pengawasnya yang kurang ajar (juga kontraktornya). Itu khan seperti : meleng sedikit, embat. :D

  9. Salam Pak Wiryanto,

    Ha…ha…ha….puasssss…..puassss…puasss… makasich mas atas sarannya. Kayaknya harus balik neng laptop lagi dech…!

    salam,

  10. Pak Wiryanto,

    Anda ini hebaat buangeet.. :D
    membuat masalah rumit jadi simple..
    kalo seperti iklan A-mild kan “klo bisa dipersulit, knp dipermudah?”
    Makanya ilmu Teknik Sipil itu seharusnya membuat
    yang sulit jadi mudah..

    Salut untuk presentasi Pak Wir yang sangat praktis ini, semoga menjadi ide segar untuk efisiensi dalam dunia konstruksi.. agar bangunan (rusun) di Jakarta khususnya, menjadi lebih efisien dan lebih terjangkau untuk rakyat..

    Semoga ide2 praktis lain dapat terus dikembangkan Bapak & UPH,

    Saluut empat jempol..

    Salam kulo:
    KNT

    Wir’s comments : matur nuwun lho mas Kunto.

  11. pak Wir , terimakasih atas saran – saran yang Bapak berikan .Oh iya, saya mau tahu cara mendistribusikan momen pada pelat cendawan/struktur tanpa balok interior , tapi dengan menggunakan SAP 2000. Kebetulan saya dah baca buku SAP yang bapak tulis, isinya beda dengan buku SAP yang lain .. Jauh lebih Baik..( bukan rayuan belaka ). Bapak mungkin ingat klo saya disuruh pelajari distribusi momen di pelat dengan ACI..dan itu sudah saya lakukan..klo boleh Bapak bermurah hati..tolong pak supaya saya diberitahu cara mendistribusikan momen pada pelat – drop panel..Klo boleh saya juga mau tahu cara permodelan strukturnya..Kelihatannya cara yang saya gunakan masih salah ..Soalnya dosen pembimbing skripsi saya masih belum puas juga..tolong yah Pak..Terimakasih

  12. Pak Wir maaf sudah banyak membuang waktu Bapak .. tapi saya juga mau tanya gmana cara ngitung momen yang terjadi pada drop panel dan bagaimana pula permodelannya..TErima Kasih buanyak yah Pak , TUHAN MEMBERKATI..

  13. sdr Peter Handika,

    Pemodelan pelat dua arah atau juga pakai drop panel memakai finite elemen analysis menurut saya tidak gampang.

    Pada fea lebih banyak menunjukkan performance global (khusus dari lendutan yang terjadi) juga bisa untuk menentukan daerah-daerah dimana terjadi konsentrasi tegangan. Sehingga dari situ dapat dilakukan judgement lebih lanjut (tergantung kepiawaian engineernya).

    Karena pelat bersifat two-way system maka element yang cocok adalah element plate (element dua dimensi) dan bukan element Frame (element satu dimensi). Kedua element tersebut mempunyai karakter yang berbeda. Misalnya utk yang plate ada faktor konvergensi yang harus dianalisis untuk menentukan ketelitian mesh, dll. Lihat uraian saya yang sedikit saya selipkan di buku SAP saya yang terbaru.

    Karena tidak gampang meskipun sudah ada SAP2000 maka CSI menciptakan program yang khusus untuk pelat yaitu SAFE (Slab Analysis by Finite Element).

    Jadi kalau anda ingin serius memakai program maka pakailah SAFE dan bukan SAP2000.

    Pada struktur beton bertulang, selain jumlah tulangan perlu, perlu dipikirkan juga detail tulangan transversal dan juga anchorage system. Yang terakhir tersebut tidak mudah dianalisis dengan fea.

    Pertanyaan anda tentang bagaimana mendistribusi momen pada drop panel maka saya menyimpulkan bahwa anda belum memahami metode yang telah dijelaskan ACI yaitu

    ACI 318M-05 (CHAPTER 13 — TWO-WAY SLAB SYSTEMS)
    ada dua metode untuk perencanaan yang dianjurkan untuk gravity load yaitu
    Direct Design Method (part 13.6)
    Equivalent Frame Method (part 13.7)

    Meskipun kedua cara tersebut kelihatan kuno, tetapi untuk kasus pelat dua arah yang memang dapat didesain menurut ACI maka jika dibandingkan dengan fea maka hasilnya kurang lebih sama, khususnya untuk kasus-kasus yang umum.

    Saya menyarankan kuasai terlebih dahulu ACI baru ke FEA. Nanti anda akan paham bagaimana strateji memodelkannya atau membaca keluaran hasil komputer.

  14. iya pak Wir, saran Bapak sama dengan saran dosen pembimbing saya..yakni harus menggunakan program Safe 8..Kebetulan saya sudah mendownloadnya Pak..Tetapi saya masih bingung cara pemodelannya..

    Dan masalah pendistribusian Momen pada pelat dua arah yang pada ACI direct design method (DDM) dan pada SK SNI perencanaan Langsung, dan Equivalent Frame Method atau portal ekivalen … (EFM). saya sudah pelajari dan memang saya agak kurang mengerti karena disana yang ada pembacaan tabel..tapi saya kurang mengerti dasar dari perhitungan tabel tersebut..untuk portal ekivalen khususnya..masalah kekakuan kolom..saya sangat pusing Pak..klo Bapak berkenan tolong bimbing..

    Wir’s comments : Jika anda dapat memahami ACI direct design, apalagi EFM maka itu sangat membantu pemodelan dengan f.e.a. Khususnya mengenai konsep jalur kolom (column strip) atau jalur tengah (middle strip). Ttg DDM dan EFM saya tidak akan menerangkan di sini, karena materi tersebut sudah banyak terdapat pada textbook.

    Terimakasih banyak Pak..TUHAN MEMBERKAti

  15. Pak Wir.
    Maukah anda membimbing saya dalam belajar mengenai kunci sukses menjadi seorang enginering yang selalu mampu mempercayai keahlian pada dirinya sendiri.
    Maklum saya Maba salah satu universitas swasta di makassar.
    thanks

    Wir’s comment : ada tanggapan khusus dalam bentuk artikel. Silahkan klik ini.

  16. Sebelumnya saya mau mengucapkan terimakasih karena bapak telah mengangkat ulasan tentang penggunaan precast wall pada bangunan dan menampilkan gambar-gambar konstruksinya. Hal ini cukup membantu saya untuk memahami teknik-teknik pemasangan komponen pracetak ini di lapangan.

    Sehubungan dengan penelitian yang sedang saya lakukan dengan judul studi konfigurasi fasad panel pracetak terhadap gempa, saya ingin minta bantuan kepada bapak untuk dapat mengirimkan kepada saya gambar teknik atau gambar kerja precast wall yang digunakan pada proyek Senayan Tower ini.

    Dengan demikian saya berharap bisa memahami lebih jelas teknik-teknik sambungannya khususnya sambungan antar panel precast wall dan sambungan panel precast wall terhadap sistim struktur bangunan yang digunakan pada Senayan Tower.

    Selanjutnya atas perhatian dan bantuan bapak saya ucapkan banyak terimakasih.

  17. maju terus “our civil engineers”….!
    let’s make easy for build the building

    salut buat pak wir dengan hal. blog-nya…
    gimana sih pak wir bikin hal. blog yang bagus spt punya bapak?

    anyway kami punya blog untuk alumni kami
    give me u’r advise for my blog…thanks

    wir’s responds : he, he, he mas Achmad
    syukurlah kalau blog ini menurut pendapat anda bagus
    saya hanya sekedar menulis apa-apa yang saya tahu, dan apa-apa yang membuat hati saya senang. Itu saja tidak lebih atau kurang.
    Lho mana link alamat blog alumni anda, ditampilin aja biar pada saling berkunjung.
    Salam sejahtera untuk anda.

  18. Salam Buat Pak Wir,

    Mengenai hal-hal pemasangan precast sebetulnya secara teoritis memang sangat mudah akan tetapi selama saya menangani beberapa proyek yang disitu kebetulan saya sebagai engineeringnya mendapatkan beberapa masalah diantaranya :
    1. Proses produksi, masalahnya adalah setelah pengecoran pc panel dgn jarak waktu 1 x 24 jam maka pc panel tsb kami angkat setelah kurang lebih 48 jam pc panel tersebut diangkat menuju rak maka sering terjadi pc panel itu melengkung.

    2. Dgn pc panel yang cukup berat maka terjadi kesulitan saat pemasangan, dgn begitu apakah pc panel tersebut dpt dikurangi berat bebannya, kalau bisa bgaimana caranya serta formula agregatnya berapa dan materialnya yg dipergunakan apa saja.

    3. Bagaimana tingkat ketahanan Precast & GRC ( Glass Fiber Reinforce Cement ) Terhadap iklim tropis dinegara kita.

    Terimakasih atas informasinya, jarang orang dinegara ini yang mau berbagi ilmunya seperti anda pak wir, banyak orang yamng tau akan tetapi mereka hanya menggunakan ilmunya untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. maju terus CIVIL ENGINEERING. Salam

  19. Salam buat pak Wir,

    Precast memang menarik untuk dibicarakan. Sebagai praktisi dalam industri konstruksi, saya melihat perkembangan precast system sudah sangat maju. Terutama dalam penyelesaian pekerjaan arsitektur seperti yang terlihat dalam tulisan pak Wir.

    Aplikasi sistem precast untuk komponen struktur rangka seperti kolom dan balok ikut berkembang juga, dimulai dari system precast untuk slab yang sudah dimulai dengan pesat tahun 1990 awal untuk gedung, sedangkan untuk pelabuhan sudah dimulai dari tahun 1980 terutama untuk perancah pilecap bangunan dermaga.

    Saya melihat peranan yang penting konsultan dalam industri precast komponen struktur balok dan kolom. Seperti yang kita ketahui di Indonesia untuk gedung diatas 50 m tidak banyak konsultan yang menjetujui dipakai preacast beam karena alasan kekakuan sambungan. Untuk bangunan mall, pabrik,dermaga sudah banyak dipakai preacast beam dan kolom untuk mempercepat waktu konstruksi. Dulu banyak dipakai precast beam full, tetapi dengan alasan berat dan kekakuan sambungan maka sudah banyak dipakai system half-beam precast dimana akan dihasilkan kemudahan erection karena berat yang ringan, kuat, sambungan yang monolit, dan terutama adalah areal konstruksi bersih maupun tidak diperlukan penopang/scaffolding/proping.
    Tantangan sekarang bagi konstruktor maupun konsultan maupun produsen adalah memakai elemen struktur precast beam untuk gedung bertingkat tinggi, dan pasti mempunyai tantangan sendiri.

    Mudah2an sumbangan para konsultan,peneliti,produsen alat berat,produsen material membantu kami para konstruktor/kontraktor untuk kemajuan bersama.

  20. Pak, saya pingin tahu sistem sambungan antara balok induk precast dan balok anak precast …. syukur ada gambarnya! Terima kasih

  21. syallom pak wir,

    saya ingin bertanya tentang sistem pelat dua arah?
    1. apakah ada perbedaan yang sangat signifikan jika menganalisis suatu sistem pelat dua arah dengan balok menggunakan SNI dengan perhitungan menggunakan metode portal ekuivalen dengan balok sebagai transversal arah plat??
    2. apakah benar pada sistem pelat dua arah menggunakan metode portal ekuivalen,pda flat slab,balok diasumsikan ada?
    3, jika ya bagaimana cara menghitungnya,apakah dibedakan/dihitung terpisah?

    mohon bantuannya,,
    saya ingin lebih mendalami tentang sistem pelat dua arah

    terima kasih

    wir’s responds:
    SNI maupun ACI 318 yang terkini memuat dua cara perencanaan plat dua arah, yaitu (1) cara perencanaan langsung atau Direct Design Method ; dan (2) Portal equivalent.

    Cara pertama, momen-momen pada pelat diperoleh dari koefisien-koefisien tanpa analisa struktur dan hanya diperbolehkan untuk pelat-pelat yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan peraturan tersebut, misal untuk beban gravitasi saja, lalu terdiri minimum 3 bentang dll.

    Cara kedua, diperlukan analisa struktur untuk memperoleh distribusi momen pada sistem lantai dua arah tersebut, sehingga memungkinkan untuk memasukkan pengaruh gaya lateral (bila ada).

    Kedua cara di atas memasukkan balok dan pelat sekaligus sebagai pemikul beban utama, sehingga dapat diketahui kontribusi masing-masing.

    Kedua cara di atas tidak dapat digunakan untuk menghitung lantai dengan sistem balok anak. Bisanya hanya balok-balok yang terhubung langsung ke kolom.

    Dalam praktek, cara perencanaan yang diusulkan oleh PBI 71 yaitu pelat sebagai beban dan menumpu pada balok di ke empat sisinya masih populer, dan terbukti memuaskan sampai saat ini. Tetapi ini hanya efektif jika baloknya cukup signifikan besarnya dibanding dengan pelatnya.

    Sistem perencanaan pelat yang tidak beraturan, saat ini populer digunakan program SAFE (slab analysis by finite element) , dari keluarga program SAP2000 atau ETABS.

    Agar dapat diperoleh pemakaian yang baik dari program SAFE maka pemahaman tentang ketiga cara sebelumnya akan sangat membantu. Minamal dalam menentukan pemasangan tulangannya.

  22. salam pak wir

    pak wir mohon pendapatnya.
    dalam 1 kasus plat 2 arah tebal 15cm (4.5x6m), tetapi dalam metode pelaksanaannya menggunakan half slab precast penulangan satu arah dengan 3 plat satu arah ukuran 4.5x2m (pabrikasi) dengan tebal 7.5cm, yang kemudian ditambah topping 7.5cm dengan penulangan satu arah juga.

    pertanyaannya adalah, apakah plat tersebut akan tetap berlaku sebagai plat 1 arah sesuai dengan perencanaanya yang menggunakan panulangan 1 arah, atau plat akan kembali manjadi 2 arah arah karena bentang dari slab yang segmented 2 x 4.5 menjadi 4.5 x 6m (karena pengecoran topping yang sekaligus dan permukaan half slab yang dikasarkan), terus terang hal ini dilakukan karena masalah waktu pekerjaan.

    Mohon penjelasannya pak wir. terimakasih

  23. sdr Orin,
    Ya betul. Meskipun toping atas menyatu, tetapi karena bagian tarik yaitu di bawah hanya terdiri dari tulangan satu arah maka jelaslah pelat tersebut akan bekerja sebagai pelat satu arah. One way slab.

    Bahkan bagian atas, sisi sejajar arah precast pada tumpuan apabila tidak diberi tulangan arah tegak lurus precast dapat mengalami retak agar precast dapat bekerja.

    Untuk bekerja sebagai plat dua arah, maka tidak hanya sisi atas saja yang harus monolith (sisi desak). Sisi bawah yang mengalami tarik perlu tulangan dalam dua arah.

  24. jadi artinya penggunaan precast satu arah tidak bisa digunakan pada kasus tersebut pak wir sehingga precast tersebut memang harus menggunakan penulangan 2 arah dalam kasus ini, karena memang kondisi bentangnya yg kembali menjadi 4.5x6m ?

    Wir’s responds: itulah mas, meskipun tampilan fisiknya (dari atas tentunya) sama persis dengan pelat dua arah, tetapi perilakunya bisa berbeda. Itulah asyiknya ilmu engineering. :)

  25. syallom,pak wir,,

    pak, saat ini saya sedang merancang skripsi saya mengenai plat dua arah menggunakan metode portal ekuivalen..

    ada bebarapa poin dri maksud skripsi saya yang kiranya mohon diberi ulasan oleh pak wir atau para engineer dalam blog ini..

    1. apakah benar jika metode portal ekuivalen pada flat plate menggunakan balok sebagai asumsi untuk peletakan tulangan plat nantinya?
    2. jika saya ingin membandingkannya dengan analisa pelat dua arah menggunakan PBI 71 dengan balok sebagai penumpunya dengan maksud saya di atas,apakah bisa pak?
    3.apakah perbedaan yang mendasar nantinya pada analisa perbandingan tsb pak?

    mohon bantuan dan sedikit ulasannya pak..

    terima kasih banyak

  26. @mocca
    * metode portal ekuivalen memakai strategi jalur kolom dan jalur tengah untuk perhitungan penulangannya. Jadi jika tidak ada balok pada flat plate maka ya tetap dapat dihitung.

    * cara PBI 71 hanya dapat dipakai jika pelat ada balok pada keempat tepinya. Dimana balok tersebut dapat dianggap sebagai pemikul dari pelat tersebut.

    * perbedaan mendasar antara cara PBI 71 dengan portal ekuivalent, bahwa pelat pada cara PBI 71 hanya dianggap sebagai pemikul lantai lokal yaitu untuk memindahkan beban lantai ke balok, selanjutnya balok memindahkan beban ke kolom. Cara ini bisa digunakan untuk menghitung sistem lantai dengan balok anak.

    Cara portal ekuivalent, balok dan pelat bekerja bersama-sama dalam memikul beban lantai. Besarnya distribusi beban tergantung dari kekakuan masing-masing balok dan pelat tersebut. Dalam hal ini, SNI atau ACI memberi cara bagaimana menghitung kekakuan keduanya. Cara ini hanya bekerja jika lantai dapat dimodelkan sebagai jalur kolom dan jalur tengah, yaitu balok yang bertemu langsung ke kolom. Jadi untuk perencanaan dengan balok anak cara ini tidak bisa dipakai.

    Pemakaian praktis dari kedua cara tersebut adalah :

    ** PBI 71 cukup baik jika digunakan pada lantai dengan sistem balok-pelat, dimana ukuran balok relatif tinggi (>> 3 * t pelat), sedangkan pelat dapat dipilih setipis-tipisnya sesuai persyaratan (t 12 cm).

    ** cara portal ekuivalent dapat digunakan pada sistem lantai tanpa balok atau balok yang bertemu pada kolom-kolom (balok anak nggak bisa). Sistem lantai seperti ini sekarang banyak dijumpai karena lebih hemat ruang dan terkesan bersih jika tidak digunakan plafon.

    Dalam perkembangannya, cara portal ekuivalent karena ribet maka dalam pelaksanaannya di konsultan-konsultan jarang digunakan, apalagi jika kantor tersebut mempunyai program SAFE. Tetapi pengetahuan perencanaan dengan cara portal ekuivalent diperlukan untuk memahami cara kerja dan perencanaan dengan program SAFE.

    Saya mempunyai rencana lama untuk membahas hal tersebut dalam suatu publikasi khusus, tetapi karena keterbatasan waktu, sampai hari ini baru sampai ide-nya saja. Doakan ya, moga-moga timbul niat yang kuat untuk mewujudkannya. :)

  27. terima kasih atas respond awalnya pak wir…

    jika tidak keberatan saya ingin kembali bertanya perihal metode portal ekuivalen, berhubungan dengan saya hanya mendapat DDM di bangku kuliah,itupun hanya sebatas pengenalan saja..

    pertama, untuk flat plate yang tidak menggunakan balok,metode portal ekuivalen dapat digunakan,jika kita gunakan perhitungan manual bukan dengan SAFE atau sejenisnya,bagaimana kita mengetahui letak penulangannya mengingat tidak adanya balok??

    kedua, apakah batasan2 pada DDM dapat digunakan pada EFM?apa saja?apakah distribusi momen pada arah transversal dan longitudinal pada DDM dapat digunakan pada EFM??

    ketiga, saya masih bingung tentang metode ini,mengingat saya harus dan harus bisa untuk menghitung flat plate menggunakann EFM sebagai tambahan ilmu bagi saya..

    maaf jika merepotkan anda,,
    sekali lagi terima kasih banyak…

    (apakah Pak Wir teman Pak Budi Santoso?…)

  28. syallom, pak wiR..

    saya ingin bertanya pak, jika di bawah flat plate terdapat tembok,maka mengingat tidak adanya balok anak,bagaimana tembok tersebut terhubung pada sistem struktur tersebut pak…

    terima kasih pak

  29. syallom,pak

    pak,,knapa d pembahasan ini hanya sampai d sini aja..

    mohon ulasannya pa,,,

    saya sangat membutuhkan ulsan dari bapak maupun rekan engineeer lainnya…

  30. blognya sangat berbobot sekali pak wir..
    saya menjadi semangat berkecimpung di dunia teknik sipil…

    saya ingin menanyakan tentang DDM yang bapak terangkan di atas,,

    setahu saya DDM merupakan perhitungan pelat 2 arah menggunakan prinsip distribusi momen..
    saya biasanya menghitung pelat 2 arah menngunakan standart PBI 71…apakah benar jika kita menggunakan DDM pada SNI akan mendapatkan hasil yang lebih irit menngingant prinsip distribusi momen tersebut…

    oh ya pak Wir,,jika SNI mengambil ACI sebagai isi dari peraturannya..jika PBI 71 lebih mengacu pada peraturan yang mana????

  31. @kirana
    saya sudah bercerita banyak tentang PBI-71, yang sumbernya dulu kebanyakan mengacu ke Eropa.

    DDM (direct design method) adalah metode sederhana dari metoda portal ekuivalent, yang mana tidak diperlukan perhitungan analisa struktur untuk mencari momen-momen pada sistem lantai yang sedang dihitung. Meskipun demikian konfigurasi lantai yang dapat didesain dengan cara itu relatif terbatas. O ya, jangan lupa, DDM hanya bisa untuk perencanaan terhadap beban tetap (vertikal).

    Adapun pernyataan anda, bahwa DDM memakai prinsip distribusi momen adalah tidak tepat. Suatu penjelasan yang menarik dan cukup lengkap ttg DDM dapat dilihat dari bukunya McGregor.

  32. terima kasih atas ulasan awalnya,pak..

    sulit sekali pak untuk mendapatkan Buku karangan McGregor mengingat saya berada di kota kecil…

    sebenarnya bagaimana prinsip dari DDm itu sendiri pak..

    saya pernah membaca bahwa pada DDM terdapat perhitungan momen negatif juga positif,juga pebagian beban momen ke jalur2 pada pelat 2 arah…

    mohon penjelasannya…

  33. terima kasih sebelumnya..

    namun yang saya baca dari buku karangan NAWY..disebutkan bahwa nantinya Mo didistribusikan pada jalur2 pada pelat 2 arah..
    apakah ini bukan merupakan prinsip distribusi momen pak???

    maap jika saya salah mengartikannya…

    terima kasih..
    maaf jika merepotkan…

  34. Jumpa lagi p.Wir, Saya dulu yang pernah ikut komentar tentang buku SAP2000-nya p.Wir. Tapi sayang buku saya dah gak tahu dimana rimbanya, sejak dipinjam teman gak pulang-pulang.. Pingin sih beli lagi,masih ada gak ya??

    Ikut numpang ngobrol pak wir, tentang precast-wall panel walaupun mungkin udah kadaluwarsa. Melihat precast-wall memang mempunyai kelebihan selain cepat dalam pelaksanaannya dibanding dinding konvensional, juga ada lubang-lubangnya yang bisa dimanfaatkan untuk instalasi-instalasi M&E.

    Tapi dari sisi engineer saya juga masih kurang sreg, karena kalau dilihat dari brosur beberapa produsen/supplier berat precast-wall untuk tebal 20cm bisa mencapai 295kg/m2, tebal 15cm=256kg/m2,tebal 10cm=133kg/m2, tebal 8cm=105kg/cm2.

    Kalau seorang arsitek mendesain precast-wall panel tebal 15 cm, berarti notobene beratnya sama juga dengan berat dinding bata. Kalo kita lihat di Peraturan Muatan Indonesia beratnya 250kg/m2.

    Saya jadi teringat dulu waktu kuliah gempa sama pak Kardiyono Tjokrodimuldjo kata beliau, “Orang Jepang pada waktu itu gumun melihat gedung-gedung di Indonesia dindingnya pakai batu bata!!”. Lha iya lah masa ya iya dong pikir saya waktu itu. Lha wong negeri ini tanahnya subur, kok dipakai buat batu bata!! Belum lagi batu bata memang cukup berat kalo dilihat dibeberapa penelitian mencapai 1500-1700kg/m3 yang berarti cukup signifikan untuk menambah berat struktur.

    Kembali ke precast-wall panel, curhat pada proyek yang saya pernah terlibat didalamnya. Waktu itu arsitek awalnya mendesain dengan dinding ringan dari beton aerasi yang beratnya tak lebih dari 100kg/m2. Eh, pada waktu mau tender pelaksanaan diganti dengan precast-wall panel tebal 15cm. Diusulkan untuk tebal yang lebih kecil, khawatir soundprofingnya tidak terpenuhi.

    Yah.. resiko dah,berarti ada kerjaan tambahan bagi saya yaitu harus ngecek gaya gravitasi dan gempa saya. Untungnya pondasi masih masuk dalam safety factor, walaupun komponen-komponen struktur atas ada yang harus diperbesar dimensinya yang membuat drafter saya pada manyun sama saya karena harus gambar lagi.

    Itulah pak wir, mengapa saya kurang sreg ama precast-wall panel. Belum lagi kalo di bangunan baja masangnya cuma diklem diflens-nya saja, yang menurut saya tidak membantu kekakuan sumbu lemah kolomnya. Tidak seperti kalo dengan metal sheet ada girt-nya,dikit-dikit bisa diperhitungkan membantu kekakuan kolomnya. Begitulah kira-kira pak wir mungkin ada masukan yang membuat mantap untuk mengusulkan memakai precast-wall panel. Matur nuwun.

  35. terima kasih sebelumnya..

    namun yang saya baca dari buku karangan NAWY..disebutkan bahwa nantinya Mo didistribusikan pada jalur2 pada pelat 2 arah..
    apakah ini bukan merupakan prinsip distribusi momen pak???

    maap jika saya salah mengartikannya…

    terima kasih..
    maaf jika merepotkan…

  36. Mat siang mas Wir.

    Tolong beri penjelasan, mengenai tulangan pokok, tulangan bagi, tulangan susut, bagaimana cara menentukan jumlahnya dan kapan digunakan.

  37. met sore pak wir….
    Saya mau tanya nih pak wir, gmna caranya mengontrol lendutan pada precast slab pada saat lifting, pada hari keberapa setelah pengecoran bisa dilakukan lifting ?
    Trimaksih pak wir..

  38. @ Hana,
    Precast telah menjadi industri, khususnya untuk memenuhi kebutuhan proyek yang bersifat repetitive dan yang memerlukan waktu pelaksanaan yang singkat. Hanya dengan cara seperti inilah maka penggunaan konstruksi baja mendapat saingannya.

    Sebagai produk industri khususnya dalam skala besar, maka kontrol mutu pada precast dapat diterapkan secara lebih baik, sekaligus dapat dilakukan optimasi produk.

    Jadi penggunaan precast sangat baik ditinjau saat pelaksanaannya. Adapun keraguan bahwa strukturnya adalah tidak menyatu adalah masalah desain. Itulah tugas insinyur untuk merencanakannya dengan baik.

    Jika anda mau membuka-buka jurnal tentang precast, seperti misalnya PCI, maka cukup banyak penelitian yang membahas bagaimana perilaku sambungan-sambungan precast. Banyak yang telah memenuhi persyaratan daktilitas sehingga dapat dikategorikan sebagai tahan gempa.

    Tentang berat precast yang dibanding batu-bata, jelas tidak bisa dibandingkan. Baik dari sisi harga maupun kinerja atau presisi-nya. Sayang saya tidak terlalu banyak meneliti ttg precast, tapi saya yakin masih banyak potensi maupun keuntungan memakainya, dibanding cast-in-situ yang umum dijumpai pada pelaksanaan kontruksi beton.

    @Zand
    saya kira jawaban di atas sudah bisa dijadikan petunjuk untuk menjawab pertanyaan anda.

    @Dormian.
    Lendutan pada saat lifting. Karena waktunya dapat dianggap singkat, maka langkah pertama adalah mengchek kondisi tegangan pada penampang. Kalau takut retak atau lendutan, check juga dengan cara elastis.

    Dari kondisi tegangan, maka dapat diketahui kondisi penampang, crack atau masih elastis. Jika masih elastis, bisa dichek lendutannya dengan cara elastis.

    O ya, nilai fc dan Ec perlu direduksi, disesuaikan dengan umur beton kapan precast tersebut akan diangkat. Perlu dibuat sampel uji tekan pada umur yang berkesesuaian dengan waktu pengangkatan untuk check reduksi tsb.

  39. Salam Pak Wiryanto,

    Ada yang saya mau tanyakan mengenai panel precast pak…
    Setelah panel precast ter install di struktur bangunan,maka akan timbul gap / celah antara panel precast dengan end slab struktur.
    Hal ini yg perlu saya tanyakan, bagaimana methode penutupan (grouting) celah tersebut agar tidak terjadi kebocoran.
    Saya mohon masukannya untuk methode yg praktis,mudah dan murah (pakem kontraktor).
    Apabila perlu dan akan lebih jelas jika disertai sketsa methodenya.
    Sebagai informasi, kasus yg saya hadapi sekarang ini merupakan bangunan apartemen (jadi tidak ada windowstool),lantai finish keramik dgn ketebalan finishing (keramik+adukan) 3cm dr slab struktur.
    Celah yg ada kondisinya sangat variable ada yg 3cm sampai dengan 15cm (kondisi cor end slab yg tdk rata).Tebal slab struktur 12 cm.
    Mohon solusinya,demi keberlangsungan proyek kami pak, terima kasih banyak sebelumnya.

  40. Ping-balik: sambungan precast wall « The works of Wiryanto Dewobroto

  41. Pak wir, saya mau tanya apakah pada Flat Plate perlu dilakukan mesh atau tidak. bapak punya link atau alamat website untuk mencari artikel tentang flat plate? mohon bantunannya dan terima kasih

  42. Salam untuk semua rekan dan khususnya Pak. Wiryanto,
    Untuk rekan rekan yang bergerak di bidang construction building, concrete ataupun precast , road construction ataupun fiber cement manufacture.
    Bersama ini saya mau memasarkan produk serat sintetik yang fungsinya sama dengan GRC fiber, namun serat yg saya tawarkan mempunyai kelebihan density lebih ringan yaitu 1.17-1.19 gr/cc3 dibandingkan dengan serat GRC yaitu 2.5-2.6 gr/cc3, jadi dengan pemakaian serat kami 1 kg maka di perlukan dengan jumlah serat yang sama untuk GRC diperlukan 2.5 kg.
    Untuk lebih jelas bisa menghubungi saya di Email: frangww@yahoo.com

    Terima kasih
    Frangky

  43. Ping-balik: KP-nya sampai KUPANG | The works of Wiryanto Dewobroto

  44. Salam Pak Wiryanto, mohon maaf sebelumnya….saya mau tanya kalo precast untuk facade tapi tanpa jendela modul yang ada dipasaran ukuranya berapa x berapa ya pak, terus saya bisa pesan/beli di mana pak? karena saya tidak tahu sama sekali alamat2 yang produksi precast tersebut. satu lagi pak bapak punya contoh gambar tehnis sambungan beton precast tidak?..kalo punya boleh dong saya dibagi pak…

    sekian terima kasih pak…mudah2an bapak sehat selalu n rezekinya tambah banyak…amin

  45. Ping-balik: Contoh menulis Laporan KP Teknik Sipil | Oerleebook's Situs

  46. Salam Pak Wiryanto, mohon maaf sebelumnya… bapak adakah literatur yang bisa saya unduh buat refersi saya pada untuk tugas akhir tentang perencanaan pelat cendawan dengan menggunakan SRPMM pak… terimakasaih…

  47. mhn info lagi ttg precast panell pak,saya belum tau cara mengatasi dinding precast yang selalu retak pada sambungannya?

  48. Ping-balik: my study | blitza85

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s