precast hollow-core slab


Penggunaan produk precast concrete sebagai pelat lantai, relatif sudah banyak dijumpai disini. Dengan digunakan precast maka pemakaian bekisting dan perancah akan berkurang drastis sehingga dapat menghemat waktu pelaksanaan. Salah satu produk precast untuk lantai adalah adalah precast hollow core slab.

Sistem precast hollow core slab menggunakan sistem pre-tensioning dimana kabel prategang ditarik terlebih dahulu pada suatu dudukan khusus yang telah disiapkan dan kemudian dilakukan pengecoran. Oleh karena itu pembuatan produk precast ini harus ditempat fabrikasi khusus yang menyediakan dudukan yang dimaksud. Adanya lobang dibagian tengah pelat secara efektif mengurangi berat sendirinya tanpa mengurangi kapasitas lenturnya. Jadi precast ini relatif ringan dibanding solid slab bahkan karena digunakannya pre-stressing maka kapasitasnya dukungngya lebih besar.

Keberadaan lobang pada slab tersebut sangat berguna jika diaplikasikan pada bangunan tinggi karena mengurangi bobotnya lantai. Bayangkan saja, untuk solid slab, tebal 120 mm saja maka beratnya adalah sekitar 288 kg/m2 hampir sama dengan berat beban hidup rencana untuk kantor yaitu 300 kg/m2. Padahal kontribusi kekuatan pelat hanya untuk mendukung pembebanan tetap saja (DL + LL). Bahkan karena beratnya tersebut akan menjadi penyumbang utama besarnya gaya gempa. Jadi jika berat lantai berkurang maka beban gempa rencananya juga kurang.

Dengan demikian penggunaan lantai precast yang ringan juga mengurangi resiko bahaya gempa.


Foto 1: Hollow core slab sesaat dari fabrikasi siap diangkut ke lapangan.

Foto 2: Barisan truk pengangkut precast sedang pakir menunggu giliran.

Foto 3: Sistem khusus pengangkat  precast

Foto 4: cara pengangkutan ke atas.

Foto 5: Meletakan precast di lapangan

Foto 6: posisi precast

Perhatikan, pendukung precast-nya ada beberapa, mungkin tergantung bentangnya.

Foto 7: penulangan balok pendukung precast memakai prestressed.

Foto 8: penulangan di atas precast untuk concrete topping

Foto 9: sistem pengkabelan

Foto 10: pemasangan pipa untuk pengecoran

Foto 11: pipa pengecoran masuk di core lift di tengah bangunan

Foto 12: Mesin pompa beton

Foto 13: pengecoran beton

Foto 14: pengecoran beton

Foto 15: Pelaksanaan curing pelat concrete topping.

Foto 16: pemasangan M&E di bawah lantai

Foto 17: Tampak dari bawah lantai precast setelah di cor bersama dengan balok utamanya.

Catatan :

Semua foto-foto yang ditampilkan disini adalah orisinil dari tangan pertama, yaitu mahasiswa-mahasiswa UPH yang melaksanakan mata kuliah Kerja Praktek (2 sks). Meskipun hanya memerlukan waktu satu (1) bulan efektif atau kira-kira 100 jam kerja efektif  tinjauan di lapangan, tetapi dengan bimbingan dosen pembina (dalam hal ini saya sendiri) maka mahasiswa kerja praktek tersebut dapat dituntun bagaimana menggali informasi di proyek untuk mendapatkan wawasan / pengetahuan di “lapangan” yang sebenarnya. Wawasan tersebut diperlukan sebagai pendamping pengetahuan teori yang diperoleh di kelas.

Foto-foto di atas adalah hasil kerja praktek sdr Iwan dan Hendrik pada proyek Senayan Tower, Jakarta.

Perlu juga ditambahkan, sebelum melaksanakan kerja praktek di tiap-tiap proyek, maka mahasiswa-mahasiswa yang bersangkutan dipastikan untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

  1. Apa proyek anda, siapa-siapa saja yang terlibat di proyek tersebut
  2. Mengapa proyek tersebut dipilih dan bukan yang lain
  3. Dengan waktu yang pendek di lapangan (proyek), apa yang dapat dilihat / diketahui, bergunakah itu dengan pembelajaran teknik sipil yang sedang dijalankan. Dimana bergunanya.
  4. Adakah yang menarik atau sesuatu yang istimewa untuk diceritakan pada proyek tersebut

Selanjutnya selama kerja praktek maka pertanyaan tersebut cenderung dapat dikembangkan dengan lebih baik. Diskusi dengan dosen pembimbing relatif banyak dilakukan, sehingga pada saat di lapangan maka mereka benar-benar mengerti dan bisa membayangkan “o begitu to, benar juga ya” dan tidak sekedar terbengong-bengong dan percaya mutlak apa saja yang diomongkan pekerja di lapangan. Itu terlihat pada foto-foto yang mereka ambil, tidak sekedar jepret sana jepret sini , tetapi benar-benar diambil untuk dapat diceritakan lagi. Ini begini lho.

Halaman blog ini juga dibuat sebagai bentuk pembelajaran, khususnya bagi mahasiswa di Jurusan Teknik Sipil UPH bahwa inilah yang Dosen Pembimbing inginkan jika mahasiswa ingin melakukan kerja praktek. Jadi gunakan waktumu di lapangan sebaik mungkin.

About these ads

61 thoughts on “precast hollow-core slab

  1. bagaimana memodelkan hollowcore slab sebagai diafragma / rigid floor dalam analisa struktur kita?

    apakah topping concrete sdh bisa dianggap memadahi sebagai perekat agar struktur lantai cukup rigid.

    saya sdh memasang halfslab 6cm + topping 6cm di gedung 22 lantai,tapi sampai saat ini saya masih deg-degan, bagaimana pertanggungan jawab apakah slab 12cm dicor monolith sama perilakunya dengan halfslab atau hollowcore.

    terimakasih

  2. pak Wir, saya kagum nih ama blog Anda.

    Di foto foto diatas, pembesian topping pakai wiremesh perkiraan saya M8-150. Stek dengan shearwall juga minimize banget. Hal-hal ini yang membuat saya miris, apakah memang cocok halfslab, hollowcore slab diterapkan digedung tinggi di Jakarta, yang kemungkinan suatu ketika ada potensi gempa yang cukup signifikan.

    Dibahas dong Pak..

    (Saya dulu sempet jadi anak buah pKatili juga,sekarang jadi kuli disebuah kontraktor nasional yang juga jualan preslab dan sebangsanya)

  3. Ragu-ragu ya mas?

    Yang jelas sistem tersebut sudah diterapkan di Jakarta. Setahu saya pertama kali di gedung ATD Plaza 27 lantai (Jl. Thamrin) dengan perencana PT. Wiratman & Associates sekitar tahun 90-an.

    Waktu itu di monitor langsung oleh owner engineernya Kajima Design dari Jepang , yang tentunya familiar dng gedung-gedung di daerah gempa.

    Sekarang dipakai lagi di Senayan Tower ini, berarti selama lebih 10 tahun ini nggak ada masalah yang signifikan dengan gedung lama tersebut bukan.

  4. aloow pa, ikutan nih..tentang Sika Carbodur, Kajima memang pakai juga buat proyek lain untuk one way slab strengthening karena perubahan beban, dimensi yang dipakai lebar 5 dan 10 cm tebal 1.2mm.

    Mengenai hubungan HCS dengan Corewall memang hanya pakai rebar dia 10 dan Wire Mesh yang dipakai M6-150. untuk HCS sempat diadakan uji beban dahulu sesuai dengan pemodelan kondisi aslinya dimana HCS hanya duduk dalam balok sedalam 5 cm dan ternyata kapasitas nya sebenarnya masih jauh di atas yang dipakai untuk rencana.

    • Yth. Bpk Wiryanto / P Bobby

      Saya ingin mencari katalog yang lengkap mengenai precast hollow slab ini, untuk referensi perhitungan. Bisa diberi informasi dimana saya mendapatkannya? (nama produsennya/websitenya). Terima kasih untuk bantuannya.

      Hormat,

      erny

  5. Terima kasih mas Bobby atas penjelasannya.

    Mas Bobby ini adalah engineer Kajima yang in-charge di proyek Senayan Square dan juga proyek-proyek Kajima lain di Indonesia.

    Sebagai kantor engineering internasional, kalau ada perkembangan terbaru di bidang konstruksi yang lain dan dapat di sharing ke luar, jangan segan-segan kirim ke blog ini ya mas Bobby.

    Salam untuk ibu Lanny Maruta dan rekan-rekan Kajima lainnya. Moga-moga blog ini bisa bermanfaat.

  6. Dear Pak Wir,

    Pak, saya mau tanya:
    1. Bagaimana modelisasi prestressed girder untuk jembatan kabel? Apakah bisa dari modelisasi dek dari menu bridge (setelah analisis prestressed girder agar tahu gaya yang ditransfer ke kabel-dapet jumlah kabel) diintegrasikan dengan pylon dan kabel? Atau saya langsung modelisasi dalam bentuk jembatan kabel seperti modelisasi gedung – tidak pakai menu bridge (tapi ini dia masalahnya: saya ga nemu cara memasang prestressed girder).
    2. Untuk pylon, saya dianjurkan dosen pembimbing pakai hollowed column, tapi saya ga ngerti. Buku apa yang mesti saya baca untuk manual hollowed collumn? Kata Pak Dosen kalo ga ngerti boleh pakai kolom massive. Tapi rasanya kok kurang keren. Hehehe…
    3. Untuk aplikasi hollowed column di SAP 2000, saya coba-coba dengan box, tapi ga keluar gambar tulangan seperti kalo pakai kotak persegi. Kenapa?
    4. Oia, sebenarnya saya juga mau pakai box girder untuk deck, tapi ga ngerti. Jadi yang saya pakai ya 2 girder dan pelat saja. Untuk belajar sendiri, buku apa ya Pak yang membahas khusus box girder? Jadi bahasan box girder bukan tempelan saja seperti kebanyakan buku-buku yang ada.
    Terima kasih ya, Pak atas jawabannya…

    Regards,
    Gita

  7. Dear Gita,
    dari mana ini ?

    1. modelisasi pada jembatan dipengaruhi oleh tahapan pelaksanaanya. Jadi anda perlu memodelkan step-step pelaksanaan jembatan anda terlebih dahulu.

    2 hollowed column, o itu kolom berlubang. Ya, nggak ada yang khusus, untuk analisa strukturnya prinsipnya sama saja.

    3. untuk box nggak keluar tulangan ! Maksudnya ? Pada saat desain atau analisis. Ingat proses desain dan analisis adalah dua hal yang berbeda, belum tentu di analisis bisa maka di desain juga pasti bisa. Apakah anda sudah membaca buku saya SAP2000 Edisi Baru, disitu saya telah menjelaskannya. Jadi kalau ada perbedaan antara box hallowed dengan kotak persegi ya itu wajar aja. Nggak masalah menurut saya, yang penting anda memahami plus dan minus program tersebut. Bagaimanapun itu program buatan manusia, ada keterbatasannya.

    4 box girder dan pelat mempunyai karakter yang berbeda, misal box girder selain efisien terhadap lentur mempunyai kapasitas terhadap torsi yang lebih besar dari pelat. Jika anda memahaminya dengan baik model anda akan terkeskpose oleh gaya-gaya apa saja maka ya nggak masalah. Tetapi kalau anda bilang **tapi gak gerti** ya perlu dipikir dulu, cari latar belakangnya sampai ngerti. Jika andapun tidak ngerti lalu siapa yang akan mengerti model yang anda buat.

    **Jadi bahasan box girder bukan tempelan saja seperti kebanyakan buku-buku yang ada**
    Tempelan, apa maksudnya. Apakah anda memang sudah membaca buku-buku yang dimaksud.

    Kalau yang nggak tempelan itu gimana menurut anda. Anda sudah membaca buku-buku saya ?

    Apakah itu termasuk tempelan !

  8. Assalamu’alaikum

    Salam sejahtera pak Wir, perkenalkan ini saya mahasiswa T. Sipil UII jogja.

    Pak Wir kenapa lapisan topping masih diberikan padahal di atas slab precast-nya sudah bisa dipasang lapisan finishing (keramik), dengan memberikan lapisan topping berarti ikut menambah berat plat dan otomatis ikut menambah berat total bangunan sehingga gaya geser akibat gempa ikut naik juga, terus keuntungan apa yang bisa diperoleh selain cepat dalam pemasangan ?

    Kita selalu tidak pernah akan jauh-jauh dari uang, pemilihan slab precast apa memperhatikan nilai uang tambahan yang harus dikeluarkan untuk instalasi dan lain sebagainya ?

    Maaf pak wir kalau saya sok tahu..
    Afwan jiddan..

    Terimakasih..
    Wass…

  9. Salam sejahtera mas Ali,

    Sebagai mahasiswa memang sebaiknya anda banyak bertanya, itu bukan sok tahu koq. Kalau kebiasaan itu anda pupuk terus maka lama kelamaan anda dapat mensinergikan informasi-informasi yang telah anda kumpulkan menjadi suatu pengetahuan.

    Kembali ke pertanyaan anda. Mengapa perlu topping pada precast slab. Ada beberapa alasan sehingga itu diperlukan, sbb:

    **1**
    Topping mempunyai ketebalan tertentu agar dapat dipasang tulangan dan dapat menyatu dengan precast sebagai struktur komposit. Sangat berguna khususnya di lapangan (tengah bentang) yang mendapat momen positip. Inersia dan kekuatannya meningkat. Dengan memakai topping maka tidak semua komponen struktur lantai adalah precast, sehingga mengurangi bobot pada saat pengangkatannya.

    **2**
    Komponen precast bekerja sebagai sistem pelat satu arah. Jika tanpa topping maka lantai dengan pembebanan setempat akan cenderung melendut lebih besar dibanding lantai didekatnya yang tidak mendapat pembebanan tersebut. Dengan adanya topping maka dia dapat berfungsi seperti halnya diagframa jembatan, yaitu menyatukan precast-precast didekatnya sehingga dapat memikil beban tersebut bersama-sama. Artinya, adanya topping mampu meningkatkan kapasitasnya terhadap pembebanan terpusat tak terduga yang lebih besar dari rencana.

    **3**
    Adanya Topping secara tidak langsung membuat lantai lebih kedap air atau suara, sehingga secara service-ability akan lebih baik. Karena no.2 jugalah maka efek getaran ketika dilewati berkurang. Topping menyebabkan lantai lebih nyaman.

    **4**
    Adanya Topping menyebabkan pada arah horizontal, lantai tersebut menjadi solid, bagian yang menimbulkan celah akan terisi, tidak ada gap. Dengan demikian ketika ada pergerakan horizontal maka dapat diharapkan setiap titik yang disatukan oleh slab dan topping menjadi sama sehingga dapat dianggap sebagai efek diagframa. Ini bagus untuk gempa. Kalau tanpa topping maka tidak ada jaminan bahwa pada arah lateral lantai-lantai precast tersebut menyatu. Kalau hanya mortar pengisi dan setempat maka bisa pecah. Efek diagrafama diragukan.

    Precast tidak hanya cepat saja, adanya precast jelas meningkatkan kapasitas, beratnya relatif ringan untuk pelat solid dengan kapasitas sama karena ada lobang. Adanya lobang juga meningkatkan kekedapan terhadap suara, atau bahaya api.

    Hanya memang, untuk mendapatkan keuntungan finansial dengan memakai precast maka harus dipasang / diproduksi dalam jumlah banyak (massal). Istilahnya ada jumlah minimum, jika kurang dari itu ya secara finansial rugi.

    Yah itulah namanya proyek mas, setiap proyek punya kasus yang berbeda. Untuk itulah engineer diminta untuk menambah ilmu terus. Jangan puas hanya sekedar telah mengantongi ijazah S1, atau S2 bahkan S3 sekalipun dan tidak mau belajar lagi. Belajar di S1 itu adalah sarana untuk bagaimana anda belajar lagi secara mandiri.

    Gitu ya. Salam untuk teman-teman di UII. Udah pada tahu blog ini belum ? Buku-buku karyaku ? Bantu sosialisasikan ya di sana. Trims.

  10. Hmm Precast di building.

    Punya buku PCI Hollowcore Design Manual nggak pak wir. Kayaknya disitu dijelaskan cara desain dan topping.

    Masalah integritas struktur precast slab dibahas di ACI 16.5.1.2

    Toping memang menambah jarak “d” sebagai komposit jika proses bonding berhasil. Tapi jika tidak maka cuma sebagai beban mati saja.

    Adanya lobang juga meningkatkan kekedapan terhadap suara, atau bahaya api

    Bingung..bukannya dengan proses precast ketebalan akan berkurang –> meningkatkan kemungkinan terjadinya getaran dan kurang kedap. Itu opini saya lo.

    Untuk desain one-way hollowcore slab, menurut opini saya [mungkin bisa salah mungkin benar], ketebalan diafragma/membrane cuma setebal topping itu, karena yang menahan horizontal stress cuma topping itu. Betul nggak?

    Tapi perlu hati hati memasukkan tebal diafragma karena menyangkut beban mati.Lebih baik diberikan tebal sebenarnya terus dikasihkan stiffness modifier…

  11. ttg kekedapan panas dan suara untuk precast dapat dilihat pada

    “Part 9 : Thermal, Acoutical, Fire, and Other Considerations” dari PCI Design Handbook 3rd Ed. 1985 (edisi baru mungkin lebih komplet)

    Cukup jelas koq, bahwa untuk mendapat efek akustik (kedap suara) tsb bukan dikarenakan ketebalan beton, karena material beton lebih baik dalam menyalurkan panas dari pada udara tertutup. Itulah mengapa soundproofing masih diperlukan glass-wool.

    **Tapi perlu hati hati memasukkan tebal diafragma**
    Efek diagframa sebelum era ETABS 6.0 dihitung sebagai constraint d.o.f jadi tidak dihitung sebagai suatu element shell atau sejenisnya. Oleh karena itu mengapa pada ETBAS 5.0 dan sebelumnya hanya mampu menghitung satu tower, tidak bisa beberapa tower sekaligus seperti mal Taman Anggrek tsb.

    Demikian juga pada saat dipakainya hollow core slab pada proyek ATD Plaza maka efek diagframa merupakan keputusan engineering judgedment. Artinya pada analisa gempa memakai ETABS pada waktu itu efek diagframa tidak dihitung secara detail. Jadi itu hanyalah masalah pemodelan saja.

    Pertanyaannya apakah itu valid atau tidak ?! yang jelas sampai sekarang belum ada masalah. Gitu mas Ary.

  12. Halo Pak wir

    PCI Design handbooknya lagi didownload nih…

    Betul emang dalam menentukan diafragma kita harus memilih elemen pelat mana yang menyatu menjadi kelompok diafragma. Dalam Etabs yang baru memang bisa menjadikan 2 / lebih diafragma dalam 1 level. Namun distribusi gaya horizontal yang masuk ke dalam pelat dan ke balok kan juga tergantung oleh ketebalan pelat juga. Itu kalo diasumsikan terdiafragma rigid.

    Kalo opini saya sih boleh rigid. Itu opini saya lo.

    Didasarkan atas :
    ACI 550R-96 Design Recommendations for Precast Concrete Structures
    Reapproved 2001

    CHAPTER 4—DIAPHRAGM AND SHEARWALL
    DESIGN
    4.1
    Precast concrete members can be assembled and connected
    to produce a structural system capable of resisting inplane
    forces that result from wind, earthquake, or other lateral
    loads. Hollow-core slabs, solid slabs, or stemmed members
    used as either deck members or wall panels may be used
    in such structural systems.
    4.2
    Complete integrity of the structural system, which may include
    diaphragms, shearwalls, and their connections, should
    be assured. This includes, but is not limited to, the following:
    connections to transfer in-plane forces into the system; flexural
    integrity including proper tension and compression elements,
    and any necessary internal connections; shear
    integrity including any necessary internal shear transfer connections;
    and proper connections to transfer in-plane forces
    out of the system.
    4.3
    Analysis of a diaphragm and shearwall system should include
    consideration of the diaphragm flexibility and the
    shearwall stiffnesses relative one to another. Diaphragm
    flexibility can affect the distribution of lateral forces to vertical
    elements and may also affect the general performance
    of the structure.
    4.4
    The PCI Design Handbook13 and the PCI Hollow-Core
    Manual12 contain methods of analysis and design, and provide
    additional references.

  13. **ACI 550R-96 … Reapproved 2001**

    berarti itu baru ya. Pengalamanku dulu ttg precast ya di ATD Plaza itu, tidak nangani langsung sih, ngintip kerjanya ibu Lanny dan pak Hanan. Itu khan sekitar tahun 1989-1990. Belum ada itu ACI tersebut.

    Eh omong-omong program Basic buatan pak Hanan untuk ngitung pertama kali HCS tsb, aku masih simpan lho. Jadi kira-kira tahu lah kosepnya.

    Tapi kalau berkaitan dengan pemodelan diagframa tersebut kayaknya gampang-gampang sulit ya. Sulitnya adalah untuk mendapatkan keyakinan bahwa model sudah saya dengan realita. Barangnya khan gede khan.

    Tapi kalau dibandingkan dengan lantai yang ada lobangnya maka kayaknya ini yang harus diperhatikan pemodelan diagframanya, kalau precast yang seperti hollow-core-slab itu lebih konservatif. Tapi feeling lho. Untuk tepatnya sih perlu dibikin study khusus.

    Bikin penelitian tersebut mas Ary, belum banyak lho, atau mungkin engineer di Senayan Tower udah melakukannya. Gimana mas Bobby.

  14. Pak mau tanya nih…
    apakah pada half slab selalu diberi penulangan pada pertemuan precast & cor insitu. Dari beberapa yang pernah saya baca, ada beberapa kondisi, seperti:
    1) cukup dilakukan pengasaran pada permukaan precast
    2) diberi penambahan bahan aditif, seperti produk dari sika
    3) diberi penulangan
    dari kondisi tersebut saya belum memahami parameter2 dari pemakaian kondisi tsb. apakah dari perhitungan geser? ato yang lain??
    mohon penjelasannya….

    trim`s

  15. Tergantung dari kasus per-kasus, untuk apa tujuan half-slab (HS) tersebut, untuk di gedung atau di jembatan. Bisa beda lho.

    Memahami motivasi pemakaian suatu sistem struktur menurut saya cukup penting.

    Kalau belum tahu, apa itu half-slab maka terlihat cukup keren. Seakan-akan se level dengan hollow-core-slab (HCS). Padahal dalam kenyataannya, HS hanya untuk menunjukkan bahwa suatu lantai separo di cor di bawah (pracetak) yang sisanya di cast-in-situ.

    Hanya saja pracetaknya bisa dikerjakan kontraktor yang bersangkutan, tidak memerlukan peralatan dan bahan khusus seperti halnya HCS.

    HS umumnya tidak memakai prestressed, oleh karena itu bentangnya juga terbatas. Fungsinya utamanya adalah sebagai bekisting permanen (tanpa dibongkar) untuk lantai. Hanya cocok untuk lantai satu arah (one-way-slab).

    Jika digunakan pada jembatan PC-Girder dimana jarak girder-ke-girder relatif dekat dan tebal slab cukup tebal sehingga bisa dipasang tulangan rangkap maka perencanaan HS adalah seperti balok precast biasa (non-prestressed) yang direncanakan untuk pembebanan pada waktu pelaksanaan saja. Pengaruhnya pada beban layan dapat diabaikan. Paling-paling dihitung tulangannya sebagai tulangan positip.

    Tulangan yang menonjol hanya untuk pengangkatannya saja.

    Kalau digunakan untuk gedung, ya ini baru bisa disebut HS. Kenapa, karena tebal total slab relatif tipis, jadi precast-nya benar-benar bisa separonya dari slab tersebut, maka disebutlah half-slab.

    Bagaimana itu.

    Ini tergantung engineer-nya.

    Kalau engineernya saya maka selama precast tersebut mempunyai permukaan yang normal, maka rasanya cukup. Tidak diperlukan perlakuan khusus seperti di atas. Bisa nambah biaya lho, maunya ngirit tapi jadi nggak.

    Kenapa ?

    Inilah bedanya HCS yg prestressed dengan HS yang non-presstressed. Karena prestress maka HCS bisa berperilaku elastis, beton bagian bawah bisa masih bisa bekerja.

    Sedang HS karena non-prestressed maka perencanaanya ya cara ultimate biasa khususnya pada beban layan. Tahu khan, pada cara itu, beton tarik diabaikan.

    Karena biasanya masalah lentur lebih dominan maka geser tidak menjadi permasalahan. Untuk aman, hitung aja kapasitas geser dari separo slab tersebut. Biasanya masih OK.

    Ingat, HS biasanya mempunyai bentang yang lebih kecil dari HCS. Untuk proses pelaksanaan maka precast HS harus dicheck lebar retaknya dan lendutan yang terjadi selama pelaksanaan. Jika besar maka perlu ditambah shoring.

    Gitu mas.

  16. Sebuah keutamaan dari pre-cast membuatnya menjadi pilihan yang paling ideal.
    Tetapi ada beberapa hal yang belum saya pahami :
    Untuk mengecek kekuatan pada conectornya yang menjadikannya sebagai struktur komposit apa saja?
    Kalo sambunganya kurang baik seperti pinned conector, kolom berperilaku seperti cantilever. Adakah sebuah keuntungan precast dengan sambungan lemah sebagai kesatuan struktural menahan gempa ?

  17. pak wir, saya lagi ngerjain tugas akhir tentang precast neh… apa ada jurnal ato referensi yang lengkap tentang precast. Tolong di posting di sini donk biar nanti saya download deh. Makasih banyak yah pak

  18. Pak Wir, Sekarang saya lagi di daerah terpencil, ada perhitungan Plat Lantai yg akan di hitung. Mohon Pak Wir dapat menjelaskan tentang One way slab dan Two way slab, perbedaannya dan lain-lain. Hal ini terlupakan oleh saya.
    Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

  19. Terlupa ya ? Baiklah mas Suryo, saya mencoba menjelaskan dengan asumsi anda engineer atau pernah belajar mekanika teknik.

    Anda tentu bisa membayangkan got di depan rumah, agar motor atau mobil bisa lewat di atasnya akan kita pasang pelat beton untuk menutupinya (ini bukan gorong-gorong lho). jika got kita lebar 1m maka pelat yang diperlukan biasanya bentangnya lebih besar dari 1 m, misal 1.2m, sedangkan lebarnya tergantung, jika cor di tempat maka bisa lebar sekaligus selebar jalan yang perlu dibangun (misal 3m atau yang lain). Jika di cor terpisah, maka lebarnya dipilih sehingga kuat diangkat misal 1 m untuk tebal 15 cm (itu aja beratnya udah 400 kg).

    Kondisi di atas memperlihatkan pelat yg tumpuannya adalah tepi-tepi got tersebut. Pada arah tegak lurusnya tidak ada tumpuan. Bisa membayangkan ? Jadi arah penyaluran beban hanya pada akan terjadi pada arah tegak lurus got tersebut (satu arah). Pelat dengan kondisi ini dapat secara jelas digolongkan sebagai One-way-slab.

    Jadi tegasnya pelat yang tumpuannya hanya ada pada satu sisi-sisi yang berhadapan (dua sisi saja) maka dari perilaku penyaluran gayanya dapat digolongkan sebagai One-way-slab.

    Pada kondisi lain, pelat ditumpu (menyatu) pada keempat sisinya. Apakah dengan kondisi tersebut maka dapat langsung digolongkan sebagai Two-way-slab, ternyata tidak semudah itu.

    Sebagai gambaran, jika pelat menumpu bebas atau terjepit pada keempat sisinya, maka parameter ratio lebar bagian panjang dan bagian pendek dari pelat memegang peran penting. Dalam hal ini jika ratio-nya >>2 , maka arah penyaluran gaya akan dominan pada satu sisi saja, perilakunya mirip seperti pelat satu arah (one-way slab). Jadi meskipun diberi tumpuan di ke-4 sisi tetapi tulangan satu sisi bisa berbeda dengan tulangan sisi yang lain. Jika ratio-nya = 1 maka tulangan pada kedua sisi pelat cenderung seimbang (sama).

    Untuk kasus lain, jika pelat tersebut hanya ditumpu oleh balok pada keempat sisinya, maka hal tersebut tergantung dari kekakuan balok dan kekakuan pelat. Cukup kompleks.

    Oleh karena itu PBI 71 menyediakan tabel untuk membantu penyelesaian analisa strukturnya. Ingat tabel pelat yang ada di PBI 71 hanya berlaku jika balok pada keempat sisi pelat tersebut relatif tinggi (kaku) dibanding pelat sehingga dapat dianggap sebagai tumpuan bagi pelat tersebut.

    Saat ini sering dijumpai pelat yang hanya ditumpu oleh kolom-kolom (tanpa pelat), maka tabel PBI71 tidak dapat digunakan. SNI yang baru menyediakan dua cara penyelesain yaitu cara Perencanaan Langsung yang diterjemahan dari istilah Direct Design Method dan juga cara Portal Equivalent.

    Cara-cara di atas adalah cara-cara perencanaan yang disederhanakan, oleh karena itu kondisi pelat yang dihitung harus dichek kondisi-kondisinya, terhadap syarat-syarat yang telah ditetapkan.

    analisa struktur yang sebenarnya dari pelat adalah cukup rumit, perlu persamaan differensial dan tabel-tabel yang kompleks seperti dibukunya timonsheko. Kalau untuk pekerjaan sehari-hari, saya yakin engineernya cepat lelah. Itupun tidak cocok jika tumpuannya atau bentuk pelat tidak beraturan. Untuk hal-hal seperti itu tersedia program SAFE (adiknya program SAP2000).

    Saya kira sudah cukup banyak penjelasannya tentang pelat. OK.

  20. Pak mau tanya nih,..
    pada dasarnya sistem HCS sifat tumpuannya lebih jepit elastis atau jepit murni ya? asumsi saya tanpa adanya penambahan topping.
    Lalu untuk sambungan antar HCS satu dengan HCS yang lain yang bersampingan, apa ada ikatannya? kalau ada apakah dia bisa mempunyai fungsi yang lain selain sebagai ikatan antar HCS?

    Terima kasih sebelumnya.

  21. Saya tertarik dengan tema anda.
    untuk penulangannya pakai tulangan tunggal atau rangkap.
    Bisa dikirimkan ke e-mail saya gb design dan perhitungannya?
    Terima Kasih

  22. Selamat sore, Pak…
    saya seorang mahasiswa teknik sipil UI
    saya ingin bertanya pada bapak bagaimana perencanaan perhitungan beton precast kolom, balok, pelat, dan tangga…. apakah sama dengan perhitungan beton biasa, kalau tidak sama, bagaimana caranya? pada saat pengangkutan, pemasangan, dan juga saat menjadi satu kesatuan bangunan?
    sebelumnya terima kasih, Pak…..

  23. @Siska:
    HCS pada saat awal, yaitu belum ditambah topping maka terhadap pembebanan gravitasi (vertikal) sifat tumpuannya dapat dianggap sebagai sendi-roll.

    Tapi hati-hati, pada kondisi tersebut belum mampu menerima beban lateral (nggak sepenuhnya sendi). Setelah ada pengecoran maka baru ada kemampuan terhadap beban lateral. Itupun jika detailing dengan baloknya cukup baik. Jadi keberadaan topping cukup penting.

    Untuk mempelajari lebih lanjut tentang HCS ini saya temui producer dari Australia di

    http://www.hollowcore.com.au/

    @Prihartanto:
    HCS pakai prestressed type pretensioning, sehingga mempunyai kemampuan yang lebih dari sekedar RC biasa.
    Tentang design-nya bisa lihat link di atas, kelihatannya ada lho.

    @Fajar Hermansyah:
    untuk produk precast, pada prinsipnya cara perencanaannya sama dengan produk cast in situ. Hanya karena pada umur beton muda sudah perlu diangkat-angkat (berat sendiri berpengaruh) maka dalam perencanaannya perlu dievaluasi pengaruhnya, misal mutu beton dan E yang belum full, juga lokasi pengangkatannya, apakah sudah ada tempat khusus atau perlu dievaluasi berbagai kondisi yang mungkin bisa terjadi, Selain kekuatannnya maka perlu dicheck juga lebar retak selama tahapan pembeban.

    O ya, tentang penyambungannya. Dalam konteks tersebut maka perlu dilihat fungsi dari komponen precast, apakah merupakan komponen struktur atau finishing. Tentu saja yang perlu diperhatikan jika precast digunakan sebagai komponen struktur maka perlu ditinjau segi kekuatan dan kekakuannya. Berkaitan dengan hal tersebut perlu dilihat apakah precastnya adalah mandiri atau bagian dari suatu yang lebih besar. Juga perlu dilihat pengaruh pembebanan, beabn apa saja yang dominan yang dapat dipikul oleh komponen precast tersebut. HCS dalam hal ini bisa digolongkan sebagai struktur mandiri yaitu terhadap beban kerja dominan yaitu beban sendiri vertikal dan beban mati tambahan, juga beban hidup. Terhadap beban lateral seperti beban gempa maka relatif kecil perannya kecuali jika telah diberi topping sehingga dalam arah lateral mempunyai kekakuan. Sistem sambungannya tentu tidak serumit jika komponen precast tersebut adalah digunakan untuk struktur utama , apalagi jika merupakan sistem penahan lateral sekaligus. Ini nggak gampang, perlu evaluasi apakah sistem sambungan yang dipakai selain kuat juga daktail. Desainnya lebih banyak mengacu hasil penelitian empiris, banyak juga sistemnya adalah sudah dipatent-kan karena tergantung dari teknologi yang digunakan.

    Kalau anda tertarik membahas tentang precast, ada koq link atau ebook di blog ini. Cari sendiri ya, terus terang karena terlalu banyak dan bertebaran saya lupa-lupa ingat.

    salam untuk teman-teman di UI

  24. Design HS prestressed :
    1. Mutu beton minimal yang digunakan K-450, karena saat release mutu beton yg disyaratkan adalah K-300. Jadi cukup 16 jam untuk mencapai umur K-300 dengan steam curing.
    2. Besi prestressed low relaxtion, PC Wire Ø5 dengan fpu = 1625 MPa
    3. Tebal HS minimal 6 cm, tebal beton topping 5 cm.
    4. Pada saat pengecoran topping, diperhitungkan beban topping dan tenaga kerja.
    5. Pada saat tumpuan sementara dilepas, diperhitungkan beban topping. (SNI 2847 ps 19.3)
    6. Check tegangan saat transfer (SNI 2847 ps 20.4-20.5)
    kondisi serat atas :
    (-Pi/Ac)+(Pi*e/St) < Fti
    kondisi serat bawah :
    (-Pi/Ac)-(Pi*e/Sb) < Fci
    7. Check tegangan saat setelah losses
    kondisi serat atas :
    (-Peff/Ac)+(Peff*e/St)-(Mslb/St) < Fc
    kondisi serat bawah :
    (-Peff/Ac)-(Peff*e/St)+(Mslb/St) < Ft
    8. Check Tegangan setelah topping terpasang
    kondisi serat atas :
    (-Peff/Ac)+(Peff*e/St)-(Mslb/St)+(Mcorpek/St) < Ft
    kondisi serat bawah :
    (-Peff/Ac)-(Peff*e/St)+(Mslb/St)-(Mcorpek/Sb) < Fc
    9. Check Setelah support sementara dilepas (sbg pelat komposit)
    kondisi serat atas :
    (-Peff/Ac)+(Peff*e/St)-(Mslb/St)+(Mcorpek/St) -(Mprop*(h-Cbk)/Ick)< Fc
    kondisi serat bawah :
    (-Peff/Ac)-(Peff*e/St)+(Mslb/St)-(Mcorpek/Sb) +(Mprop/Sbk)< Ft
    10. Check tegangan saat beban layan bekerja (sbg pelat komposit)
    kondisi serat atas :
    (-Peff/Ac)+(Peff*e/St)-(Mslb/St)+(Mcorpek/St) -(Mprop*(h-Cbk)/Ick)-(Mll+Msdl)*(h-Cbk)/Ick< Fc
    kondisi serat bawah :
    (-Peff/Ac)-(Peff*e/St)+(Mslb/St)-(Mcorpek/Sb) +(Mprop/Sbk)+(Mll/Sbk)+(Msdl/Sbk) Mu
    12. Check Kapasitas Retak
    0.9*Mn/Mcr > 1.2
    13. Check geser vertikal (SNI 2847 ps 19.4)
    saat beban layan belum bekerja (ditahan oleh HS saja)
    vc = 0.4*1*(fc)^0.5
    Vc = vc*bw*dp
    Vu < 0.85*Vc
    saat beban layan bekerja (ditahan oleh pelat komposit)
    Vc = vc*(bw*(htop+dp)+htop*be)
    Jika Vux < 0.85*Vc, maka tulangan geser vertikal tidak perlu dipasang.
    14. Check defleksi saat kondisi awal & kondisi akhir < L/240
    15. Check Geser Horizontal (SNI 2847 ps 19.5)
    Jika Vux Mu
    17. Tulangan Transfer/Lateral
    0.9*Mn > Mu
    18. Tulangan Sambungan antar HS
    0.9*Mn > Mu

  25. Oke pak saya dosen sipil, akan bergabung. Maklum jaringan internet di kampus baru. PRO TEKNIK SIPIL. YESS YESS.
    Dimana bisa beli buku bapak ? Daftar bukunya ?
    tx dari F. TEKNIK UNSIQ Jateng di Wonosobo

  26. O pak Faqih di Unsiq, temannya pak Abriyani dong. Sampaikan salamnya ya pak.

    Tempo hari pak Abriyani juga ke UPH, juga sebelumnya sering ketemu di sugiyapranata, juga di maranata.

    “Dimana bisa beli buku bapak ?”
    Khan banyak itu pak di Gramedia, tapi sekarang udah habis. Tunggu aja pak, cetak ulangnya.

    Oya, kami mau ada workshop SAP2000, biaya utk siswa rp 50 rb, yang senior cuma 100 rb. Bagi calon dosen yang mau ngasih kursus program tersebut penting lho pak. Untuk bahan perbandingan. Datang aja pak ke UPH Feb besok. Sekaligus benchmarking.

  27. Pak saya mau tanya apakah ada pengaruh penyebaran tekanan pada daerah diatas lubang (daerah yg tipis) ke daerah lengkung samping lubang (seperti pelengkung pada dinding), adakah ketentuan tebal beton minimal diatas lubang.
    Apakah ada analisis menggunakan finite element untuk pengaruh lubang HCS
    Terimakasih

  28. sir..i just would like to know
    is there any disadvantage in implementing precast hollow core slab in building construction
    what about the time installation between precast hollow core slab and in-situ slab

  29. pak wir saya mau tanya.

    1. maksudnya struktur komposit
    2. penjelasan faktor keamanan dari LRFD menurut SNI 1728-2002

  30. Pak wir,saya melihat contoh pemakaian HCS yang ada digunakan pada gedung atau bangunan yang menggunakan Balok beton bertulang. Apakah HCS dapat juga digunakan pada gedung atau bangunan yang Baloknya dari baja (WF atau H beam)?Bagaimana dengan pengecoran Toppingnya pak?

    Wir’s responds: bisa, ada koq detailnya di brosur HCS. Itu ada bangunan di selatan Wisma Darmala, yang agak pendek, kalau nggak salah di utara sungai, itu dibangun dengan baja dan lantainya HCS.

  31. apakah yang dimaksud concrete topping (pada pemasangan HCS) itu sama dengan screed?

    Wir’s responds: tidak sama, screed biasanya hanya untuk leveling, non-struktur. Sedangkan concrete topping sebagai elemen desak, dan umumnya perlu tulangan minimum agar terintegrasi, dan juga mutu beton yang tertentu.

  32. Salam Pak Wir,

    Masih di UPH? Wuah, tulisan pak wir tentang HCS sangat membantu saya yang akan mengerjakan proyek dengan HCS.

    Bravo buat Pak Wir yang selalu setia memberikan piwulang baik di dalam maupun di luar kelas. Mohon kiranya Pak Wir juga mendorong dosen – dosen lain untuk turut berkarya di jagad maya ini demi memakmurkan dunia teknik sipil di indonesia.

    Sembah sungkem,
    Saesario Indrawan
    02119990013

    Wir’s responds:
    Wah lama nggak ketemu. Kelihatannya masih di dunia konstruksi. Syukurlah. Ada bukti lagi bahwa alumni Jurusan Teknik Sipil UPH masih konsisten sesuai bidangnya. Arti lain, bahwa para mahasiswanya tidak sekedar nyari ijazah saja, tetapi memang mencari ilmu bekal di masa depannya.

    Mendorong dosen-dosen yang lain, yah saya kira blog ini dapat memberi inspirasi mereka. Bahkan secara pribadi saya sudah mengundang ke senior, yah belum ada tanggapan positip. Tulisan ilmiah yang pakai KUM aja susah, apalagi blog seperti ini. Jadi yang penting saat ini adalah dapat terus berproduksi, menginspirasi, juga sekaligus media silahturahmi. Ya seperti kamu saat ini.

    Akan lebih baik lagi jika para alumni, seperti kamu, dapat sharing pengalaman. Adik kelasmu Richard, Rustama dan Jerry udah mulai. Yang lain ditunggu.

  33. pak wir,
    saya nani, mahasiswa teknik sipil yang sedang skripsi,
    skripsi saya tentang halfslab dan hcs ditinjau dari segi ekonomi dan pelaksanaan dibanding dengan metode konvensional, ada tidak pak buku yang membahas tentang itu?
    trus, produsen halfslab dan hcs yang terdekat dimana ya pak? objek studi di daerah malang, soalnya transportasinya juga diperhitungkan.
    terimakasih sebelumnya

    • Hallo Nie,
      moga-moga masih bisa dibaca, ini pertanyaan sudah setahun. Tapi nggak apa-apa moga-moga yang lain masih berguna.

      Halfslab relatif sederhana detailnya dibanding HCS, oleh karena itu metode halfslab dipilih oleh kontraktor untuk dikerjakan sendiri sebagai strategi pengganti bekisting.

      Halfslab dibuat dari reinforced concrete (rc) biasa, oleh karena itu bentangnya juga terbatas. Konsekuensinya tulangan positipnya adalah satu arah (one way slab). Ini tentu tidak ada masalah karena memang ini menguntungkan jika konfigurasi slabnya adalah one way slab.

      Jika telah menyatu (fungsi sebagai bekisting selesai) maka halfslab tidak ada bedanya dengan slab satu arah monolith. Ke berat bangunan juga sama. Oleh karena itulah maka di konsultan perencanaan tidak pernah diusulkan tipe ini. Jadi yang ngotot pakai halfslab adalah kontraktor.

      Adapun HCS agak berbeda, satu sisi detail strukturnya memang lebih spesifik (ada rongga), bahkan konfigurasi tertentu ada paten cara pembuatannya. Oleh karena ini adalah bikinan pabrik.

      Karena HCS bikinan pabrik, dan juga karena dipakai prestress (PC), maka sistem lantai ini lebih andal. Maklum karena produksi massal maka kualitasnya relatif lebih terkontrol.

      Adanya rongga dan PC menyebabkan untuk berat yang sama dapat dihasilkan sistem lantai yang lebih besar. Ujung-ujungnya jika dipakai pada bangunan bertingkat tinggi maka dapat dilakukan pengurangan massa, ini berdampak pada perencanaan pondasi maupun gempa.

      Moga-moga membantu.

      • pak.. bolehkan tlg diberitahu tentang detail harga/ m2 bila terkait dengan pekerjaan plat lantai menggunakan metode halfslab. dan waktu untuk pemasangannyaa?? lagi ada tugas kuliah pak.. terima kasiiih banyakk pak..

  34. Pak Wir,
    Saya Gilang mahasiswa teknik sipil yang sedang tugas akhir..
    Skripsi saya tentang pengujian perilaku lentur dan geser dari hollow core beam..
    jadi ada hollow nya pada balok tersebut..
    Apakah ada pak, penelitian atau pengujian sebelumnya?
    Sejauh yang saya baca,baru ada penelitian tentang hollow core slab saja,tapi klo beam kayaknya masih jarang ya pak?
    Klo ad kira2 hasilnya bagus enggak pak?
    Atau menurut analisis pak wir gimana?
    terima kasih…

    Wir’s responds:
    hollow core beam untuk analisis dan desainnya tidak ada yang istimewa. Perilaku lentur sama saja dengan tipe I-beam. Untuk geser, maka yang efektif hanya badan (web), sayap di atas hollow di abaikan.

    Bedanya dengan balok I, bahwa balok hollow core mempunyai stabilitas lateral yang lebih baik karena mempunyai kekakuan torsi yang besar di banding balok I. Jadi jika dibuat precast maka proses erection-nya lebih mudah.

    Coba baca buku PCI Handbook, sudah ada itu standar precast-nya.

  35. Ping balik: petunjuk KP proyek jembatan « The works of Wiryanto Dewobroto

  36. salam pak Wir,
    cuman mw bilang, seneng ngeliat n ngebaca blog bapak walaupun saya cuma mahasiswa arsitektur.. thanx buat bwt penjelasan tentang pengecoran precast dan topping sebagai komposit..
    tetap berkarya pak..
    GBU

  37. Pak Wir, saya mau tanya mengenai desain joint kolom-balok precast. di proyek kami selama ini menggunakan concrete corbel(konsole) untuk memudahkan kostruksi, penahan geser horizontal, serta untuk meyakinkan bahwa joint itu monolith setelah digrouting. akan tetapi perkembangan proyek menuntut dihilangkanya corbel tersebut. yang saya tanyakan bagaimana metode agar joint yang terjadi benar2 monolith mengingt di struktur precast, joint di cor tidak bersamaan dengan membernya, sehingga kemonolith-an joint sukar dijaga. terimakasih Pak Wir sebelumnya.

    • sdr Saiful
      Untuk merubah detail sistem sambungan pada konstruksi anda maka anda harus melihat sistem struktur bangunan anda secara keseluruhan.

      Tentu akan berbeda cara penanganannya, apakah portal (balok dan kolom) anda adalah juga sistem penahan lateral (tidak ada struktur penahan lateral yang lain, seperti shear wall). Atau ternyata sistem yang ditinjau hanya untuk menahan gaya vertikal (beban tetap) saja.

      Tentang detail sambungan pada sistem precast yang akan anda gunakan ada baiknya mengacu pada detail yang sudah pernah digunakan sebelumnya, yang khususnya telah dilakukan penelitian. Ini khususnya jika joint tersebut diprediksi menerima beban gempa. Karena kasus keruntuhan yang masih dapat diandalkan hanya jika telah dilakukan uji penelitian di lab. Jika tidak, atau hanya mengandalkan perhitungan teori dan sistemnya adalah baru, maka itu tentu akan beresiko.

      Tentang bagaimana bentuk sambungan yang ada, rasanya sistem yang sudah diteliti relatif cukup banyak. Silahkan cari di literatur atau buku-buku tentang precast.

  38. pak, saya mau nanya tentang pengecoran plat lantai jembatan.
    tahapannya itu apa aja ya pak?
    digunakan beton precast, mulai dari order hingga selesai pengecoran.
    trims

  39. pak wir…

    apakah sistem beton precast (kolom,balok,plat) itu mampu untuk struktur gedung 7 lantai???

    sistem beton precast mampu untuk gedung berapa lantai??

    bagaimana saya agar bs mendapatkan literatur literatur ttg beton precast???mohon bantuannya krn sya sedang menyusun tugas akhir perencanaan struktur gedung 7 lantai dgn sistem precast

  40. Pak, saya mau tanya ..
    knpa pada perhitungan pelat lantai pada jembatan, kita harus menghitung kondisi pembebanan hidup sampai 3 .. Sedangkan ada juga yang hitung sampai kondisi pembebanan hidup 2 ..
    tolong bantuan nya pa ..

  41. halo pak wir….
    saya adalah mahasiswa s2 yg sedang melakukan penelitian untuk tesis mengenai penggunaan beton precast (balok,plat,kolom) saya masi terkendala dengan menghidung penggunaan tenaga kerja/sdm di setiap pekerjaan yg saya sebut dengan metode precast,klo boleh diberikan masukan untuk perhitungan tersebut(koefisien dll)…makasi

  42. selamat pagi pak wir..
    saya mahasiswa semester 7 Unlam yang sedang menyusun tugas akhir..
    saya mengambil ttg slab yang bertumpu diatas pile. slab tersebut merupakan slab precast biasa, yang nantinya akan dicor diatasnya, bukan struktur prategang seperti diatas. yang ingin saya tanyakan :
    1. apakah perhitungan penulangannya samap seperti perhitungan penulangan satu arah?
    2. bisakah bapak jelaskan bagaimana perhitungan pembebanannya, pembebanan berdasarkan beban sendiri slab, pembebanan pada saat pengecoran, maupun pemnbebanan pada saat cor telah mengering dan menjadi komposit..

    terima kasih banyak sebelumnya pak,,

    salam hormat..

  43. Ping balik: KP-nya sampai KUPANG | The works of Wiryanto Dewobroto

  44. Ping balik: Contoh menulis Laporan KP Teknik Sipil | Oerleebook's Situs

  45. Slamat Siang

    Buat pak wir, saya mau tanya, bsa ga; bapak trangkan perbandingan efisiensi gaya prategang pada plat hollow core slab, dan plat konvensional prategang

    • Untuk pelat dengan kabel prategang ya, dalam hal ini tentunya pre-tensioning system, bukan post-tensioning system, Juga karena relatif tipis maka penempatan strand tentu saja konsentris. Jika demikian maka yang diandalkan adalah initial pre-tensioning kabel yang menyebabkan initial precompression pada beton.

      Konfigurasi seperti itu tentu jika digunakan untuk lentur tentu tidak akan efisien. Seperti diketahui jika suatu balok (slab dalam hal ini ditinjau sebagai sistem pelat satu arah yang perilakunya seperti balok) maka pada momen maksimum, tegangan yang terjadi adalah pada serat-serat terluar dari penampang.Bagian tengah (garis netral) bahkan tidak mendapatkan tegangan, alias nol, atau material di bagian tersebut tidak berfungsi dalam menerima momen tersebut.

      Dengan latar belakang seperti itu, maka jika dapat dibuat hollow-core-slab, yaitu bagian tengah di hilangkan (tepatnya dikurangi) maka tentu tidak akan berpengaruh banyak pada kekuatan momen nominal penampang. Terjadi penghematan material.

      Adanya pengurangan luas penampang, apabila tetap diberikan gaya-pretensioning maka initial tekan pada penampang akan lebih besar lagi, kondisi yang baik untuk melawan beban luar, sehingga ketika terjadi momen maka tegangan tarik pada beton berkurang atau kalau bisa tidak ada. Memang sih, gaya tekan lebih besar, tapi itu dapat diatasi. dengan memberi mutu beton yang lebih baik, yang umumnya harganya relatif tidak terlalu mahal.

      Itu tadi dari sisi tegangan-tegangan yang bekerja. Dari sisi fungsi, adanya rongga (hollow) menyebabkan lebih kedap suara, sebagai penahan thermal yang lebih baik.

      Jadi perilaku hollow-core-slab dengan pretensioning jelas lebih unggul dibanding solid slab. Hanya saja, untuk pembuatannya memerlukan teknologi yang khusus.

      Sekarang untuk mengatasi pembuatan hollow dengan teknologi yang khusus, dijumpai juga dengan mengisi bagian tengah dengan busa styrofoam.

      • makash pak wir, saya dah paham dengan penjelasan bapak diatas, …..

        klu untuk perbandingan lintasan tendon untuk keduanya,itu gmana, krena yang saya tau, gak semua model lintasan yang ada pada pelat konvensional itu dpat digunakan pada HCS,,,

        Mhon bantuanya ya pak wir, klu ada literatur tentang analisa tendon, mungkin bisa berbagi,,,,,,

  46. makash pak wir, saya dah paham dengan penjelasan bapak diatas, …..

    klu untuk perbandingan lintasan tendon untuk keduanya,itu gmana, krena yang saya tau, gak semua model lintasan yang ada pada pelat konvensional itu dpat digunakan pada HCS,,,

    Mhon bantuanya ya pak wir, klu ada literatur tentang analisa tendon, mungkin bisa berbagi,,,,,,

  47. Ping balik: Contoh Menulis Laporan KP Teknik Sipil | New World

  48. selamat malam pak.. saya mahasiswi arsitektur.. Saya sedang mengerjakan paper penelitian pak. saya ingin bertanya terkait sistem half-slab dimana penggunaan wire mesh dan precast.. apakah bapak ada sumber yang memuat mengenai perbandingan harga dan waktu untuk metode half-slab inii? terima kasiiih

  49. selamat malam pak Wir, sy karyawan engineering retail store, kami bermaksud membuka toko dengan kebutuhan live load 2ton/m2 ke atas, apakah metode HCS ini cocok untuk rencana kami tersebut? oia bangunan nya just like simple warehouse, slab on ground, while upper structure dengan steel structure and metal roof. Bila memungkinkan apakah bapak punya informasi untuk kontraktor yang recommended untuk pekerjaan ini. terimakasih sebelumnya. salam.

  50. Perkenalkan kami dari CV Rakaju Lab Teknik
    Menawarkan alat alat Laboratorium Tanah,beton dan Aspal / alat pengeboran di lapangan
    Semua alat kami buat di pabrik kami sendiri,dengan buatan anak- anak bangsa
    Semua alat sudah terkalibrasi dengan geransi 1tahun.
    Kami mohon dengan sangat bantuan bpk,mempromosikan produk kami di Pu,karna alat buatan lokal laboratorium penelitian Tanah,Beton dan Aspal tidak kalah buatan Luar.
    Hormat kami
    Agung Aziz
    Hp. 081312119907 / 082121444881
    Tlp. (022) 93651311
    Fax. (022) 93649943
    Email rakajulabteknik@yahoo.com
    Jln Raya Andi 158 Padalarang,(Bandung Barat)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s