heboh lagu rasa sayange


Melihat tayangan televisi pagi ini, cukup menarik lho !

DPR dan pemerintahan kelihatannya kebakaran jenggot atas pernyataan Malaysia yang mengklaim bahwa “lagu Rasa Sayange adalah milik mereka“. Menurut informasi dari televisi tadi, itu semua bermula dari dipakainya lagu tersebut oleh rombongan kesenian Malaysia yang menghadiri festival Nusantara (moga-moga nggak salah). Mereka memakai lagu tersebut sebagai lagu pembukaan, dan dalam festival tersebut mereka menyatakan bahwa itu adalah lagu daerah mereka. :D

Hebat bukan.

Dampaknya ! Salah satu menteri kita berang mendengar pernyataan rombongan Malaysia tersebut, Bapak menteri tadi beralasan bahwa lagu “Rasa Sayange” adalah lagu daerah Maluku, dan itu sudah ada sejak tahun 1922 lalu, jauh hari sebelum beliau lahir. Ada lagi pejabat lain yang berang, agar segera mengirimkan delegasi ke Malaysia untuk mengklarifikasi hal tersebut (keluar duit lagi !).

Pokoknya rame sekali. (kelihatannya ??!!) 

Padahal hanya soal lagu, hanya soal karya cipta. “Ini martabat bangsa !“, mungkin demikian pikiran Bapak-Bapak yang terhormat tersebut. 

Apa benar demikian ! Sebagai seorang berpendidikan, yang juga menghargai benar akan suatu karya cipta, apakah kita harus bersikap sama dengan Bapak Menteri tersebut. Apakah kita juga harus rame-rame melakukan protes terhadap sikap Malaysia tersebut.

Iya Pak, Harus ! Kalau perlu kita labrak mereka !

Wah, wah, itu mah seperti di televisi, demo, deMO dan DEMO. Apa kita ini bisanya demo doang. Perang pernyataan. Kita ini sepertinya jago koar-koar aja.

Coba kita berpikir jernih, memang lagu Rasa Sayange telah sering kita dengar, banyak dipakai oleh teman-teman dari Maluku. Tapi apakah benar itu diciptakan disana, oleh siapa dan kapan. Apa buktinya ?

Kalau itu sudah terjawab, barulah kita protes ke Malaysia. Baru JOSS namanya. Jadi jangan sekedar koar-koar aja. Nanti kalau nggak digubris, khan jadi malu. Martabatnya mau dikemanain.

Ingat orang mau menggubris jika itu ada buktinya khan ! Kalau nggak bagaimana orang lain mau memikirkan.

Iya pak, tapi kita khan sering dengar  atau melihat orang kita menyanyi lagu itu !

“Dengar” atau “lihat orang menyanyikan”, apa itu cukup ? Apa itu bisa menjadi bukti. Gimana hayo, apa kalau pernah melihat atau mendengar, misalnya lagu “Happy Birthday” lantas merasa itu dari kita. Mana bukti tertulisnya kalau itu memang dari sini. Lho koq tulis. Kita khan belum biasa dengan budaya tulis. Lha itulah, ingat ! Bukti lesan dan bukti tulis, lebih kuat bukti tulis lho.

Jadi jika benar, tidak ada bukti tulis tentang lagu “Rasa Sayange”, maka peristiwa di atas dapat menjadi contoh bahwa hanya mengandalkan budaya lesan itu beresiko tinggi.

Marilah kita budayakan kegemaran menulis, dan yang lebih penting lagi adalah PUBLIKASI-nya.

Moga-moga masalah tersebut bisa clear, dan ketahuan yang benar siapa !

Note : bagaimana dengan lagu yang lain, Sayonara misalnya ?

About these ads

49 thoughts on “heboh lagu rasa sayange

  1. Yah itulah kelemahan bangsa kita, kita malas menulis dan bahkan malas melihat sejarah (Pak Karno dulu selalu berpesan JASMERAH… Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Sehingga ketika kita tidak punya bukti, maka kalahlah kita. Coba kita ingat Sipadan dan Ligitan.

    Tapi apakah kita tidak boleh marah, tentu boleh, apalagi bukan hanya sekali ini Malaysia (atau oknumnya) membodohi kita, ingatlah kasus paten “kain batik”, “angklung”, plus bom bali dan bom2 lainnya.

    Namun, jangan hanya marah sekedar marah tuk cari sensasi. Marilah kita bersama mencari solusi dan aksi supaya hal ini tidak terulang kembali.

    Mari kita bangkit bersama, jika tidak, bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya tahu petis pun diklaim punya malaysia (lihat iklan pariwisata malaysia yang terbaru, di sana sudah muncul sate dan tarian dayak kalimantan).

    Hidup Indonesia, Jayalah Selalu !!!

    Wir’s comments : Wah JASMERAH-nya itu lho. Terus terang, saya baru tahu kalau itu nggak ada kaitannya dengan partai tertentu. Tahunya tentang partai banteng, eh ternyata tentang sejarah tho. Wah hebat mas Andreas ini, insinyur tapi tahu juga tentang sejarah budaya.

  2. DiMilist2, Forum2 internet dah rame, tapi Pak Menteri ternyata ketinggalan juga…So kenapa kita selalu kecolongan Gak minum Mizone Kaliya.

    Wir’s comments : mungkin mengikuti pepatah itu kali. “Biar lambat asal selamat !:D

  3. otak orang malesia udah kopyor kali. dulu batik juga sempat mau di klaim asal malesia.

    Wah bisa-bisa Pak Harto dibilang asal malesia juga nih….hehehe

  4. Tampaknya Malaysia tidak pernah berhenti “cari gara-gara” dengan kita. Jangan lupa kasus2 provokatif yang telah lalu.

    Harus nunggu sampai kapan ??

    Negeri ini harus berani membela martabat dan memperjuangkan perdamaian meski harus BERPERANG !!!

  5. Wah, emang tu malaysia kerjaannya cuma bisa mengklaim punya kita aja.

    Meskipun kita juga kagak punya dasar bukti yang kuat untuk mengklaim lagu tsb, toh mereka juga tanpa berdasar ujug-ujug mak bludhus maen ngaku2 aja.

    Kaya’nya kita emang lagi dipanas2in terus nih, ngetes kesabaran kita. Mending kita lakuin hal yang sama, mengklaim salah satu milik mereka yang tentu ada atau telah sering kita dengar atau ketahui di negeri kita.

    Malaysia kurang adjar ………..

  6. Ya Allah, Ampunilah kami..
    Jadi kan lah Indonesia Negara Paling Damai dan Sejahtera Di Seluruh Jagat Raya, Amin..

    Ngalah kok terus..

    Maju Terus Indonesia…

  7. Tentang klaim lagu Rasa Sayange milik Malaysia adalah hal yang biasa……

    Jangankan cuma lagu Rasa Sayange … bahkan lagu kebangsaannya saja njiplak ? lagu (saya lupa judulnya) tapi coba tanya sama Kakek atau Nenek kita pasti tau…. karena kalo tidak salah dilagu Indonesianya ada syair yang tertulis ….

    “Buaya tidur … disangkanya mati ……..”

    Barangkali ada yang punya versi aslinya bagus sekali diputar di You Tube.

  8. Ping balik: Malaysia Klaim Wayang Kulit « Kandang Imaji Qizink La Aziva

  9. Coba kita berpikir jernih, memang lagu Rasa Sayange telah sering kita dengar, banyak dipakai oleh teman-teman dari Maluku. Tapi apakah benar itu diciptakan disana, oleh siapa dan kapan. Apa buktinya ?

    ga ada bukti.. kan dari dulu sudah ditulis penciptanya “NN” trus masih mo dicari lagi

  10. malaysia…duri dalam daging..
    kita seharusnya dah ambil sikap “melawan” malaysia!!! TKW kita pun dah dilecehkan..itu MARTABAT BANGSA

  11. Pemerintah kita sudah sangat lengah dan lalai bila tidak pernah menaruh curiga pada negeri jiran itu. Sangat mungkin negeri ini telah dimata-matai oleh begitu banyak agen intelijen Malaysia.

    Beberapa kasus tragedi yang terjadi di Indonesia (seperti bom Bali I dan II) telah terbukti diotaki oleh Noordin M. Top dan Dr. Azahari, yang adalah warga Malaysia, yang kemungkinan juga adalah agen intelijen yang bertugas melakukan operasi keji di negara kita ini. Kemungkinan juga tidak. Tetapi bila benar maka… perdamaian kita benar2 dalam tahap kritis!

    Kemungkinan pula, Malaysia saat ini sudah sangat SIAP, dan hanya membutuhkan “api kecil” untuk segera menuntaskan rencana yang sesungguhnya. Apa pemerintah kita siap?

  12. saya bersikap netral dalam melihat masalah ini. Rasa Sayange pada dasarnya kan folksong, wajar2 saja kalau Indonesia merasa tidak perlu bukti tertulis untuk mengklaim bahwa itu adalah miliknya.

    Sama juga dengan dongeng2 eropa macam cinderella, rapunzel atau lagu tradisional seperti auld lang syne, mereka semua dianggap sebagai nilai-nilai tradisional yang jauh dari nilai2 kapitalisme yang mengatasnamakan hak intelegensi dan pempatenan.

    Tapi melihat hal ini, mungkin kita harus mempertimbangkan semua aset di negeri (jangan sampai rempeyek, nasi goreng, ayam penyet, dll) kita dipantenkan semata2 agar tidak kecolongan lagi. Nasi sudah menjadi bubur, tapi apa boleh buat!

  13. wajar2 saja kalau Indonesia merasa tidak perlu bukti tertulis

    Inilah yang membedakan kita dengan orang lain (luar negeri) dimana budaya tulis sudah mendarah daging. Tanpa ada bukti tulis, berarti hanya mengandalkan pengetahuan lesan saja, itu sangat susah dijadikan patokan karena lesan sifatnya berubah-ubah, bisa berbeda antara satu orang dengan yang lainnya.

    Dongeng-dongeng eropa tersebar dalam bentuk tulisan (buku) sehingga minimal dapat diketahui tempat dan tahun penerbitannya, mungkin pengarangnya NN (tidak mau menyebutkan jati diri). Itu semua dapat menjadi pijakan untuk menyatakan siapa yang lebih dahulu memakai karya cipta tersebut.

    Jadi tidak mesti harus dengan patent. Jadi seperti karya ilmiah, atau buku, maka jika berhasil dipublikasikan PERTAMA KALI secara luas maka secara tidak langsung orang tersebut adalah pemiliknya atau pemegang HAK CIPTA dari karya cipta tersebut.

    Buku-buku saya juga demikian, meskipun sudah diterbitkan PT. ELEX tapi hak cipta masih di tangan saya, jadi kalau diterbitkan ulang atau diterjemahkan oleh orang lain maka dapat royalti dan itu secara otomatis tanpa perlu patent terlebih dahulu.

    Kalau ada orang yang meniru, itu namanya bukan pelanggar patent tapi PLAGIAT, bisa juga dituntut koq.

    Itu pula, kalau anda mau memperhatikan bahwa hanya tulisan-tulisan yang telah dipublikasikan saja (prosiding seminar atau jurnal) dari saya yang bisa di down-load FREE untuk umum. Tulisan-tulisan saya yang lain, yang belum pernah di-PUBLIKASI-kan masih saya simpan dengan baik dan orang lain belum boleh membacanya.

    Dengan di publikasikan maka tulisan tersebut dinyatakan hak cipta-nya.

    Intinya “harus ada bukti tulis” (atau mungkin bukti rekaman begitu) dan “telah dipublikasikan”.

    Tanpa itu semua, dan tetap ngotot, ya boleh-boleh aja, tapi komunitas international akan cuek-cuek aja meskipun kita se kelurahan DEMO. :D

  14. Kabar terbaru ternyata malaysia tidak pakai syair “Rasa Sayange” tetapi “Rasa Sayang he” tapi intonasi dan bit yang dipakai dipaksakan seperti lagu punya Ambon Manise, ini kata penyanyi Andre Hehanusa lhoo…

    Trus saya ada ide, gimana kalo ini sebagai kampanye pariwisata juga sekalian numpang nampang gitu. Kita bikin klip pariwisata Indonesia dengan lagu Rasa Sayange versi maluku gimana….. plus musiknya jangan lupa pakai angklung ya.. mumpung mereka belum klaim juga….

    Saya heran apa pemerintah malaysia gak punya moral atau budaya malu yaa…

  15. Bukit Siguntang 2000

    Di atas kapal itu saya berkenalan dengan seorang warga negara Malaysia yang sedang melakukan perjalanan Mudik ke kampung halaman Istri Mudanya di Blitar Jawa Timur.

    Sepanjang perjalanan dari Pelabuhan Kijang ke Tanjung Priok kami saling bercerita tentang banyak hal, suatu ketika dia mengatakan sebuah pernyataan kepada saya yang kurang lebih kata-kata nya seperti ini

    Orang Indon Pandai, tapi Bodoh.
    Orang Indon kaya, tapi Bodoh.
    Orang Indon kuat, tapi Bodoh.
    kami beli guru,
    kami beli pekerja dari Jawa untuk buat jalan dan jembatan,
    kami buat kerajaan kami maju

    pada saat saya mendengar itu mau tidak mau saya harus mengakui bahwa Pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia memang masih “BODOH”

    Dari Batik, Rendang, Angklung sampai dengan lagu Rasa Sayange membuktikan bahwa Semua Pejabat Pemerintah, Seluruh Rakyat Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia memang “BODOH” semua

  16. Satu pepatah yang menggambarkan malaysia skrg:

    GURU KENCING BERDIRI, MURID MENGENCINGI GURU.

    Setelah mereka pandai dididik oleh guru2 Indonesia pada masa lampau, kini mereka menginjak-injak harga diri kita.

    Bangsa yang tidak bermoral, tidak tau berterima kasih…

    Katanya malaysia itu sudah jadi negara yang modern tapi kok tindakannya nggak hi-tech yah????? Heran aku… Kerjaannya cuma menjiplak karya seni atau kebudayaan Indonesia…

    Mari kita tunjukkan pada dunia, bahwa bangsa Indoneia adalah bangsa yang berdaulat dan bermartabat.

    REBUT KEMBALI KARYA KITA, KALAU PERLU PERANG SEKALIAN….

  17. Harus ada langkah nyata, konkrit dan cepat dari pemerintah RI dan bangsa ini guna menindaklanjuti masalah yang terlihat sepele tapi memiliki efek domino terutama terhadap masalah kebudayaan dan identitas bangsa Indonesia.

    Tapi bukan pada tempatnya kita mengedepankan emosi kita. Tidak bijak pula mengatakan kita adalah bodoh. Tidak, sekali-kali tidak. Malaysia adalah bangsa yang besar, tapi Indonesia lebih besar lagi. Sudah saatnya kita mengedepankan rasionalitas kita, membangun negri ini. Cukup sudah kita beriri hati dengan kemajuan Malaysia, mari kita berkarya lebih.. salah satunya saya melihat tindakan nyata dari pa’ Wir ini.. salut untuk beliau.

    Pabila memang saatnya kita berperang, pasti ada alasan yang lebih jelas dari pada berperang di karenakan kita tidak mengetahui siapa pencipta lagu ‘rasa sayange’, atau kesalahan kita dalam memanage pulau2 di luar pulau jawa, atau kegagalan kita dalam menghadapi pihak intelijen asing.. Mari, perbaiki diri kita dulu sendiri.. semoga Indonesia makmur, adil dan berdaulat.

  18. fuhh lamak! tupun mau gaduhkah? pasal lagu rasa sayang…. pelik2

    kalau tentera amerika perang negara islam, tidak seheboh ini??

    bila mau maju?? kalau seagama & serumpun asyik nak bergaduh??

  19. Wah..mbok ya ndak usah marah marah…kalau kita memang tidak bodoh…mana mungkin orang berani melecehkan kita..

  20. Dear Pa Wir,

    Mohon di delete aja Topik ” Heboh Lagu Rasa Sayange..

    Blog ini harus punya ciri khas yang berbeda dengan blog/web kebanyakan.. maksud saya, BLOG ini hanya untuk Civil Engineer dan permasalahannya

    Karena sekarang kebanyakan masalah itu yang dibahas, bukan masalah Engineering !??

    Bagaimana menurut bapak?

    Syalom..

    Wir’s comments : Lho koq gitu mas Donny ? Kayaknya ini serius. Saya akan menjawabnya khusus sebagai artikel. Ikuti link dibawah ini.

  21. Ping balik: BLOG ini hanya untuk Civil Engineer dan permasalahannya « The works of Wiryanto Dewobroto

  22. Dear Pa Wir,

    Saya hanya malu saja melihat komentar-komentar yang disampaikan mengenai topik ini.

    Dari sekian banyak komentar, tidak ada yang berpikir jernih dan intelektual..

    Sebagai kaum intelektual, seharusnya kita semua mengusulkan pemecahan masalah ini kepada para birokrat dan politikus, jangan asal pendapat KOSONG saja..

    Siapa tau aja Presiden/Wapres atau anggota DPR sering melihat Blog Pa Wir ini, karena mereka ingin masukan/input dari komunitas intelektual yang ada di Indonesia seperti di Blog Pa Wir ini..

    Mohon maaf bila saya salah ucap dan dikira tidak nasionalis.

    Syallom..

  23. Heeeeiiii…Teman-teman. Kalo aku ngga liat dari muka, tapi liat dari samping en belakang juga. Apa ini ga ada unsur konspirasi ya? Kok dari dulu kita ini selalu ribut ama Malaysia. Kita en Malaysia juga dicap negaranya TERORIS. So? Mungkin ada sesuatu yang di’implant oleh PIHAK KETIGA untuk membuat negara-negara kita ini saling mengacaukan satu sama lain.

    Kalo uda kaco, MEREKA tinggal ongkang-ongkang en liat hasilnya en, mungkin, ketawa-ketawa.

    Hmmm….saya berpikir…Apa ada kemungkinan kaya’ gitu ya?? Mari berpikir dengan kepala dingin.

  24. wah2, jadi panas gini ya?

    Indonesia dan Malaysia itu ibarat 2 orang bersaudara yang dulunya sama2 susah, dan sekarang yang satu berhasil keluar dari kesusahan dan menjadi makmur sementara saudara ‘tua’ nya masih dikelilingi kesusahan dan berbagai masalah.

    celakanya :
    – si adik karena berstatus OKB alias Orang Kaya Baru suka petantang petenteng dan merasa yang paling hebat di keluarga itu
    – si abang karena emang ‘lemot dan lamban’ suka sensitif dan banyak curiga ama semua tindakan si adik.. dikit2 dianggap melecehkan, menghina, dll…

    Bukankah kita sering melihat kondisi seperti di atas dalam keluarga? Perselisihan antara 2 orang bersaudara terjadi karena ketimpangan kesejahteraan.. cuma sekarang kasusnya bukan 2 bersaudara, tapi 2 negara serumpun.

    Seharusnya :
    – si adik harusnya lebih bijak dan menunjukkan kebesaran hatinya dengan ikut membantu si abang agar keluar dari kesusahannya.
    – si abang juga harus lebih sadar bawa kalau ingin dihormati dalam keluarga, dia harus meniru kerja keras si adik dan terus berusaha sehingga bisa ikut sukses juga.. jangan membangga-banggakan masa lalu : “dulu si adik itu saya yang bantu dia belajar, sekarang aja sok gitu..” Cerita masa lalu seperti itu udah gak relevan boss..

    jadi moral of the story nya :
    kedua pihak harus segera memperbaiki dirinya masing2, se-nyebelin apapun saudara kita, tetap saja dia adalah saudara yang akan turun tangan membantu jika kita dilanda musibah. Masa’ cuman gara2 hal kecil (saya anggap relatif kecil bila dibandingkan dengan luasnya bidang hubungan kedua negara) persaudaraan musti hilang? Iya nggak?

    warm regards
    -Rp-

  25. Lhoo…kok lucuuu toh???? pada marah2 klo nilai intelektual bangsa kita dibajak orang??

    lha wong Indonesia dhewe suka mbajak hasil intelektual bangsa lain kok ..liat tuh software2 bajakan…film2 barat bajakan…buku2 bajakan…musik2 bajakan yang begitu mudah sekali ditemukan dimana2..contoh mangga dua mall + glodok + plaza pinangsia, dll…

    membajak dengan alasan klise demi memajukan bangsa ataupun ra duwe duit alias miskin tetap TIDAK BISA dibenarkan dimata hukum.

    Lha kita toh harusnya introspeksi diri..kalo kita sendiri NDAK berbuat begitu ya monggo marah2…faktanya kita sendiri mbajak dan berpartisipasi pake produk2 bajakan…kok marah2??? opo ra ngisin ngisini wae toh ??

    Gimana mau maju Indonesia?? Balok Girder didepan mata gak keliatan tapi paku disebrang lautan nampak

    jelas…weleh weleh …mbok yo eling..

  26. to : Zakrul

    daripada heboh lagi, lebih baik saya mengucapkan :

    Selamat Idul Fitri 1428 H, semoga kita bisa saling memaafkan lahir dan bathin, dan ibadah kita lainnya diterima oleh Allah, SWT. Amien.

    -Rp-

  27. kita ini indonesia… jangan sekali2 menjelek2an nama kita dihadapan khalayak donk?? apa ga memalukan.. aQ anak sma kelas 3..

    pada taw gagh seh,, uud 45 bbunyi membela bangsa dan negara adalah hak dan kewajiban..

    n untuk para malaysia yang bgabung disini..
    please donk gagh usah menjelek2an negara orang laen..

    kalu saja kalian ingin bercermin!!
    tak malukah kalian??

    kita bukan buah yang habis manis sepah dibuang..
    ingat dulu juga harus ingat sekrang..
    islam tau balas budi..
    islam tau menghargai..
    kita bakal menghargai kalian,,kalo sadja kalian menghargai kami sebagai negara yang sama IsLam, serumpun, dan apalah lainnya..

    love,,

  28. to denise dan lainnya yg tertarik :

    hmmm, salut juga melihat semangat teman2 yang begitu kuat, ternyata omongan banyak orang bahwa nasionalisme Indonesia sudah luntur tidaklah benar, paling gak d blog ini… :)

    kalau saya pribadi sih, memilih untuk tidak ikut menghujat dan menggelorakan jargon konfrontatif, kenapa? karena :

    1. c’mon, it’s just a blog.. memangnya apa yang tertulis di sini akan diambil kesimpulan dan jadi sikap negara apa? posting Sdr. Zakrul memang provokatif, tapi apakah dengan membalasnya dengan lebih provokatif akan menyelesaikan masalah? satu2nya yang terselesaikan mungkin hanya nafsu pantang kalah sesaat yang kita miliki..

    2. Lantas apakah yang berani bersuara keras adalah kaum nasionalis dan yang tidak adalah lemah? tunggu dulu, bos.. Saya sangat prihatin dengan sikap kita yang sering meletakkan harga diri secara salah, kita sering menganggap dengan berkata2 keras dan tidak mau kompromi adalah cerminan memiliki harga diri yang tinggi.. Kalau preman di terminal sih, bolehlah berlogika seperti itu, tapi kalau mayoritas orang bersikap seperti itu, mau jadi apa negara ini.. Bagi teman2 yang dengan mudah mengucapkan kata2 perang, mungkin ndak ada salahnya membaca kisah2 seputar perang saudara di Ambon, Palangkaraya, Poso.. Pertentangan itu menyedihkan (tidak hanya negara, agama dan suku pun bisa jadi pemicu), saya memiliki beberapa teman yang pernah terlibat konflik tersebut, mendengarkan cerita mereka membuat saya berkesimpulan bahwa mayoritas orang kita hanya mampu bersikap konfrontatif tanpa berpikir panjang..

    3. Lantas kita mengalah dong? Tentu saja TIDAK! Membela negara tidak hanya dengan fisik.. Indonesia sudah memiliki banyak undang2 yang berkaitan dengan HaKI :
    – UU no 29 tahun 2000 tentang perlindungan varietas tanaman
    – UU no 30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang
    – UU no 31 tahun 2000 tentang Desain Industri
    – UU no 32 tahun 2000 tentang Desain IC/Integrated Circuit
    – UU no 14 tahun 2001 tentang Paten
    – UU no 15 tahun 2001 tentang Merek
    – UU no 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta

    Industri besar pasti sudah memanfaatkan UU ini untuk kebutuhan mereka, tapi masakahnya sekarang bagaimana dengan kebudayaan?
    kalau masalah produk budaya mungkin terkait dengan Hak Cipta ya? saya bukan ahli hukum, tapi kita sebenarnya bisa “berjuang” di bidang ini. Mulai saja dari masalah yang sederhana : Apakah pemda di daerah saya sudah memiliki hak cipta terhadap produk budaya nya? atau paling tidak : apakah pemda daerah saya sudah memiliki daftar inventaris produk budaya yang perlu di jaga hak ciptanya?

    kalau ternyata belum ada, kenapa kita tidak mulai dengan membantu proses inventarisasinya? sederhana kan? tapi kalau memang dilakukan saya yakin akan memberikan efek yang jauh lebih besar ketimbang sekedar bersikap konfrontatif.

    saya dulu pernah jadi panitia sebuah seminar tentang HaKI ini di ITB (waktu masih kuliah, tahun 2001), pada saat itu seorang praktisi HaKI, yaitu Prof. Sulaeman Kamil (dosen di Teknik Penerbangan ITB) menantang kami : “Mampu nggak membuat daftar produk budaya daerah Sumatera Barat (karena dulu panitianya Unit Kesenian Minangkabau-ITB) yang perlu dilindungi hak ciptanya?” ternyata kita bisa berpartisipasi dari hal sesederhana itu (anggap lah Pemda nya sibuk ngurusin hal lain seperti bencana alam sehingga tidak sempat memikirkan hal ini..). Masa’ mau berpartisipasi membantu negara musti nunggu ada perang dulu?

    so? dunia sudah berubah, hari ini udah gak jaman lagi adu gertak atau intimidasi. Pulau Sipadan dan Ligitan lepas ke Malaysia bukan karena perang, tapi karena Malaysia LEBIH PAHAM HUKUM DAN LOBBY INTERNASIONAL dari Indonesia.. dan mungkin saya strategi yang sama akan digunakan untuk Ambalat, sementara kita di sini bisanya bersemangat revolusi fisik melulu.

    Gitu dulu ah, kata orang tua saya: banyak ngomong maka akan banyak ngawurnya… :) jadi kalau postingan saya banyak ngawurnya ya maaf aja dehh…

    warm regards
    -Rp-

  29. Ini ada contoh kasus lagi :

    http://theunspunblog.com/2007/10/26/lets-dance/#more-810

    Let see apa ending dari kasus ini, berhubung sepertinya Indonesia memiliki dokumentasi yang (mudah2an) kuat atas lagu “Indang Sungai Garinggiang”, yang berasal dari kampuang ambo : Sumatera Barat..

    oh iya, the unspun blog dikelola oleh orang Malaysia (sy gak tau namanya), dan beliau turut hadir pada Pesta Blogger hari Sabtu 27 Oktober kemaren d Blitz Megaplex Jakarta (sy liat d berita d TV..)

    Beliau ikut mengusahakan terciptanya komunikasi yang baik antar blogger Indonesia dan Malaysia, supaya berbagai friksi antar komunitas 2 negara tidak berkembang luas dan jadi bola liar..

    Kalo ada kerusakan struktural pada bangunan kan sebisa mungkin kita lokalisir pada elemen tertentu yang tidak menimbulkan kegagalan global dan kemudian elemen tersebut di-repaired.. Iya nggak? :)

    warm regards
    -Rp-

  30. Dear “Seorang Intelek Muda”,

    Ya wis, saya cabut (kaya nyabut singkong aja).

    Gitu aja kok repot-repot, jangan berlaku seperti anak Taman Kanak-Kanak lagi ya..

    Syallom..

    PS: “Seorang Intelek Muda”, kalau kau kirim pesan ke blog ini untuk aku, kau buatlah nama kau sendiri. Jangan pake nama ku.. Ok.

  31. loh, maksud mas Donny ini, postingan di atas yang atas nama beliau ternyata dikirim oleh orang lain? begitu kah? pantas saya kok rada2 bingung pas pertama bacanya..

    wah, saya kira tadinya konfirmasi email pas kirim comment untuk bisa mencegah hal seperti ini..

    kalo begini bisa berabe nih, gimana atuh P wir (sebagai yang punya jalur nih..)?

    warm regards
    -Rp-

    Wir’s comments : sebelumnya memang ada nama yang sama-sama bernama mas Donny, tetapi yang terakhir itu memang ada yang memakai nama panjang orang lain. Jadi saya lihat emailnya tidak konsisten dengan yang pertama ya udah saya hapus saja karena berarti nggak bertanggung jawab dan mestinya punya maksud yang nggak baik. Udah saya hapus koq mas Robby.

  32. Dear Pa Wir,

    Thanks atas pengertian dan budi baik Pa Wir.

    Sebenarnya saya tidak bermaksud memperpanjang masalah ini, makanya dengan rasa berat hati dan rasa iba yang mendalam, saya mencabut ucapan saya yang terdahulu.
    Agar orang yang tersinggung oleh ucapan saya merasa Puas…puas.. :)

    Maaf sudah merepotkan Pa Wir, karena sekarang ini banyak yang berlaku PENGECUT, memakai nama orang lain yang “SANGAT TERKENAL” :P, untuk maksud yang tidak baik..

    Syallom..

  33. Hidup Endonesia eh….. salah ya…. yang benar Indonesia ya….. :)
    Ada baiknya kita dipanggil Indon –biar ingat– kita pakai ‘I’ nggak pakai “E” ha..ha..ha…

  34. X PAYAH LA EMOSI SANGAT…HAPUSKAN PORNOGRAFI DULU DEH…KUATKAN HUKUM ISLAM DULU YEK…PERANG TU…KITA FIKIR KEMUDIAN..

  35. Pak coba baca buku Indonesia 500 early postcards & Malaya 500 early postcards serta history of Java anda akan mengakui bahwa batik berasal dari pulau Jawa yg berada dalam wilayah Indonesia

  36. Ping balik: membuat tulisan ilmiah | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s