rumah adat Nias – rumah tahan gempa


Dalam salah satu diskusi di Blog ini sdr. Gancang Pakar Mahajan Larosa, salah satu anak muda warga Nias berharap :

Pak Wir, bagaimana kalau “pembahasan Rumah Adat NIAS dapat diangkat jadi satu topik khusus

Rumah adat Nias itu luar biasa loh, bisa bertahan di daerah gempa bahkan bisa tahan di skala gempa 8.7 SR.

Orang-orang pada masa dahulu ternyata sudah tahu membuat rumah anti gempa juga ya … Mereka patut diacungi jempol. Kenapa ? Dengan peralatan yang sederhana dan tidak menguasai analisa struktur mereka bisa juga bangun rumah seperti itu …

Saya kira, usul di atas menarik untuk diperhatikan ! Baiklah, saya akan menuliskan topik tersebut menjadi salah satu artikel di blog ini. Artikel pesanan begitu ya, he, he, he … :D

Apa benar bangunan tersebut tahan gempa ? Faktanya ?

KETIKA sebagian besar rumah warga di Kepulauan Nias, baik di Kabupaten Nias maupun Kabupaten Nias Selatan, goyah oleh guncangan gempa dengan kekuatan 8,7 skala Richter, Senin (28/3), ternyata masih ada kompleks bangunan yang tetap kukuh. Padahal, bangunan itu tergolong tua dan kondisinya juga tak sekukuh seperti bangunan dengan fondasi beton.

Ya, bangunan itu adalah rumah adat Nias di Desa Bawomataluo, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan. Dari ibu kota kabupaten, desa itu sekitar 10 km ke timur. Di wilayah tersebut ada 600-an rumah adat yang lazim disebut omohada (rumah kecil). Rumah-rumah adat itu tak satu pun yang ambruk atau roboh. Hanya rumah adat omosebua (rumah adat besar) yang sedikit miring. Namun sekilas kalau kita lihat dari jauh, kemiringannya tak begitu terlihat.

Barisan rumah adat kecil (omohada) yang tidak ambruk
(Harian Suara Merdeka, minggu 10 April 2005)

Fakta-fakta seperti itu cukup banyak dibicarakan di internet, tetapi pembahasan dari sisi teknis, koq rasanya belum ada. Jumlah rumah yang tidak roboh mencapai 600-an rasanya lebih dari cukup sebagai bukti bahwa rumah tersebut tahan gempa, jadi alangkah baiknya jika itu dapat dipopulerkan kembali dan menggali kembali kebijaksanaan orang-orang kuno ketika membangun rumah adat tersebut.

Sebelum berbicara lebih jauh, ada pernyataan mas Guncang yang menggugah, yaitu :”tidak menguasai analisa struktur, mereka bisa juga bangun rumah seperti itu !“.  Apa benar mereka tidak menguasai analisa struktur ? Kalau benar, jadi untuk apa saya perlu belajar analisa struktur, toh akhirnya bisa aja membangun mendesain rumah tahan gempa seperti itu. Kalau begitu, nanti juga nggak ada yang masuk kelasku, aku khan mengajar analisa struktur. :|

Jadi kira-kira kalau begitu, mereka tahu analisa struktur ya pak Wir ? Padahal, jaman dulu khan belum ada sarjananya di Nias. Bagaimana itu pak ?

Begini dik ! Apa sih yang dimaksud dengan analisa struktur tersebut ?

Ini yang saya pegang ! Analisa struktur adalah ilmu untuk mempelajari perilaku struktur pada saat menerima beban luar. Perilaku struktur tersebut dapat dilihat dari gaya-gaya internal dan lendutan yang terjadi, sehingga berdasarkan hal-hal yang diketemukan tadi maka dari struktur tersebut dapat diketahui : bagian-bagian mana yang kritis dan juga performance-nya saat dibebani. Itu semua (analisis) dapat menjadi dasar / acuan untuk memperkirakan kinerjanya (desain).

Bagaimana untuk mengetahui perilaku yang dimaksud ? Ada dua cara, yaitu (1) analitis dan (2) eksperimen.

Yang banyak diberikan di perguruan tinggi adalah cara analitis, karena relatif mudah, murah dan waktunya cepat. Oleh karena itu, cara analitis sangat populer. Meskipun demikian, cara itu umumnya masih terbatas untuk menyelidiki perilaku struktur pada kondisi elastis. Cara-cara analitis yang umum dipelajari di tingkat S1, misalnya, Metode Cross, Metode Slope Deflection, Energy dsb-nya. Oleh karena itulah, mengapa orang-orang awam (juga sarjana sipil pada umumnya) menganggap bahwa yang namanya analisa struktur adalah cara itu tadi (Cross, Slope Deflection dll). Saya yakin itu. Padahal itu hanya alat saja, hanya sarana saja untuk dapat mempelajari perilaku struktur, dan itu pun hanya terbatas pada kondisi elastis linier. Jadi analisa struktur dalam arti luas sebenarnya tidak terbatas pada itu saja.

Dengan demikian, bisa saja ada orang Nias di jaman dulu (orang bijak katakanlah) mau merenung dan mengamati perilaku alam dan mampu menarik kesimpulan yang mengungkapkan rahasia alam tersebut, yaitu berdasarkan pengalaman empiris. Kita khan sebagai manusia khan sudah dikenal dikaruniai akal budi. Hanya bedanya dengan ilmu modern, pengetahuan tersebut tidak dijelaskan secara nalar logika, ilmiah dan dipublikasikan. Kita khan terkenal sebagai bangsa ‘lesan’. :D

Dengan demikian, prediksi saya. Orang yang pertama kali mendesain rumah adat Nias mempunyai pemahaman perilaku struktur yang dimaksud, ya tentu saja dengan cara empiris, dengan cara trial-and-error sehingga diperoleh satu hasil yang memuaskan yaitu rumah adat yang dimaksud. Karena ternyata hasilnya baik, maka biasalah maka orang-orang lain lantas menirunya. Yah untuk mencapai kondisi ditiru oleh orang banyak, itu perlu waktu bertahun-tahun.  Ciri-ciri ilmu seperti itu adalah umumnya bentuknya dari waktu ke waktu adalah mirip satu sama lain, karena mengandalkan hasil yang sudah ada sebelumnya, dari turun temurun. Benar nggak ?

Kalau ilmu analisa struktur modern khan menjadi tidak terbatas, struktur bentuk apa saja bisa dianalisis dan diprediksi perilakunya agar dapat dibangun dengan memuaskan. Itulah dik gunanya ikut kuliah saya di UPH. (lho koq jadi promosi). :D

Mana cerita bangunan Nias-nya pak ?

Ya sebentar, sabar dik. Itu tadi khan baru intro agar memberikan motivasi bahwa ilmu modern itu juga berguna lho, karena dapat secara sistematis mengungkapkan perilaku yang mungkin jika dipahami secara tradisionil, perlu waktu yang lama untuk melakukan pengamatan. Kalau terlalu lama nanti keburu tua. :(

Terus terang, saya sendiri tidak banyak atau belum pernah meneliti tentang rumah adat Nias. Saya berharap bahwa artikel ini dapat menjadi pencerahan bagi teman-teman lain untuk mulai melakukan penelitian atau sebagainya, minimal mengenalkan pada dunia luar. O begitu ya.

Sebagai seorang yang meminati bidang rekayasa struktur, dan telah berkecipung lama di dunia tersebut. Penulis mengamati sudah ada seorang Nias intelek yang mencoba membuat penelitian modern dan dipublikasikan, yaitu Dr. Yuskar Lase. Kalau tidak salah waktu itu dipublikasikan di seminar HAKI (kalau punya, sharing ya). Ternyata hal itu ditindak lanjuti oleh sdr kita, ahli gempa dari UK-Petra, bapak Pamuda yang membahas kembali bagaimana performance rumah adat NIAS terhadap gempa dengan memakai program SAP2000. Publikasi beliau telah disampaikan di Seminar Internasional EACEF 26 September 2007 di UPH kemarin dengan judul sebagai berikut.

Pamuda Pujisuryadi, Benjamin Lumantarna and Yuskar Lase, “Base Isolation in Traditional Building, Lesson learned from Nias March 28, 2005 Earthquake“, Proceeding EACEF – The 1st International Conference of European Asian Civil Engineering Forum, Universitas Pelita Harapan, INDONESIA – September 26-27th, 2007
(down-load this paper 516 kb)

Jadi dengan ilmu modern yang dikuasai oleh bapak-bapak tersebut maka rahasia besar, faktor apa yang menyebabkan rumah adat Nias tersebut tahan gempa dapat dengan cepat diungkapkan. Itulah gunanya mempelajari Ilmu Teknik Sipil, ilmu yang berguna bagi sesama lainnya.

Saya berharap artikel ini dapat memicu pemahaman kita dan juga membantu teman-teman Nias untuk mempromosikan rumah adat mereka.

Syallom.

About these ads

24 thoughts on “rumah adat Nias – rumah tahan gempa

  1. Pak ini kok websitenya jadi lambat banget gara gara diserbu pengunjung lintas berita ya

    Wir’s comments : Maksudnya ? Saya pakai speedy lancar-lancar aja koq. Padahal untuk up-load lho. Kalau pakai dial-up, ya memang begitulah. :|

  2. Terima kasih untuk artikelnya, Pak Wir.

    Saya menjadi lebih bersemangat untuk mempelajari analisa struktur, dan untuk menimba ilmu dari kedua dosen saya tersebut.

    Salam hangat saya dari uk petra, surabaya.

    victor

  3. Pak Wir

    Saya sudah upload Paper dan Presentasi dari Pak Yuskar yang disampaikan pada

    “3rd APRU/AEARU Research Symposium on Earthquake and Tsunami, June 2007, Jakarta, Indonesia”

    Mohon maaf dalam tulisan Pak Wir tertulis :

    Ternyata hal itu ditindak lanjuti oleh sdr kita, ahli gempa dari UK-Petra, bapak Pamuda yang membahas kembali bagaimana performance rumah adat NIAS terhadap gempa dengan memakai program SAP2000

    Mungkin perlu di ralat sedikit, pemodelan dengan SAP 2000 tersebut juga dilakukan oleh Pak Yuskar, sebab waktu itu saya termasuk yang memodelkannya. Entah jika sudah di perbaharui atau disempurnakan, mohon konfirmasi jika memang sudah dirubah.

    Berikut Saya sampaikan link paper dan presentasi Pak Yuskar pada Seminar Internasional APRU/AERU:

    Abstract:

    http://rapidshare.com/files/66862582/Abstract_APRU_2007.pdf

    Presentasi:

    http://rapidshare.com/files/67088386/Lase_APRU2007.pdf

    Mengenai pemodelan SAP 2000 nya rasanya tidak dapat saya copy kan, karena menyangkut hak cipta.
    Tapi akan saya konfirmasikan ke Pak Yuskar dulu.

    Maaf saya belum bisa membahas terlalu banyak, mungkin minggu besok.

    Terima kasih

    Wisnu Kusumoaji
    YL Engineers Indonesia

  4. Yang diralat apa mas Wisnu ? Mungkin ditambahi maksudnya bahwa pak Yuskar juga pakai SAP2000.

    OK, OK saja.

    Tapi khan tidak perlu dikoreksi (ada yang salah) karena pak Pamuda juga dalam papernya menyatakan memakai program SAP2000.

    Saya kira itu hal yang biasa mas Wisnu, ada orang yang membuat makalah dengan topik yang sama, dan dipublikasikan. Yang terakhir ini penting, karena itu proses “menyatakan”. Jadi ketahuan siapa yang pioneer. Tentang menulis topik yang sama, tidak ada masalah, karena dapat dibandingkan maka makalah mana yang bermutu akan ketahuan.

    Sebagai contoh adalah buku SAP2000 yang saya tulis. Sebelumnya memang sudah ada yang menulis topik tersebut. Tapi saya tetap ngotot, sehingga akhirnya buku tersebut terbit dan ada yang beli.

    O ya, saya jadi ingat penjelasan dari Prof. Sahari bahwa ilmu itu nggak boleh di patent-kan. Produknya saja yang boleh dipatent-kan. Maka strategi bahwa ilmu itu ada yang menciptakan (perlunya pengakuan) maka publikasi-lah jalan keluarnya, tentu saja harus dipilih media publikasinya. Agar bersifat internasional biasanya dipakai jurnal internasional yang diakui.

    Begitu mas. Jadi kalau anda perhatikan. Paper-paper saya, yang dapat di-down-load gratis. Semuanya dalam status “sudah dipublikasikan”, atau sudah dinyatakan. Jadi kalau ada orang menulis sama persis dan tidak menulis rujukan setelah tanggal publikasi saya maka namanya plagiat. Wah, kalau staf edukatif atau mahasiswa , bisa kena sangsi akademis itu.

    O ya, berkaitan dengan publikasinya pak Pamuda, kelihatannya sudah ada diskusi dengan pak Lase, buktinya mengikut sertakan namanya sebagai penulis ke-3.

    Begitu mas berkaitan dengan tulis-menulis ilmiah, dengan demikian bagi teman-teman lain yang ingin meneliti lebih lanjut tentang rumah adat Nias masih terbuka lebar. :D

    Syallom.

  5. Buat Pak Wisnu,

    Salam kenal, saya hanya ingin saran pak, bagaimana kalo uploadnya pakai box.net seperti pak Wir. Akhir2 ini lebih mudah di-download daripada rapidshare. Maklum kita di sini pake hotspot kampus sehingga IP sering crash ketika download free di rapidshare.

    Terima kasih banyak

  6. Dear Pa Wir and Engineers,

    Pengalaman dan hasil “Trial and Error” para Leluhur kita dalam mendisain rumah tinggal mereka di wilayahnya masing-masing (Rumah Adat/Tradisional) merupakan warisan yang tak ternilai untuk kita para Engineer Indonesia.

    Memang benar, para Leluhur kita tidak mempunyai pengetahuan yang mendalam mengenai apa itu Gempa, Tsunami, Angin puting beliung , bencana alam lainnya sehingga mereka tidak dapat menjelaskan lewat diskusi panel, seminar, jurnal, Thesis maupun Disertasi.
    Namun mereka merasakannya dan suka atau tidak suka mereka harus tetap hidup bersahabat dengan alam dimana mereka tinggal termasuk dengan bencana alamnya.

    Di dunia pendidikan Teknik Sipil di Indonesia hal ini sering dibaikan, Warisan leluhur yang tak ternilai ini (rumah Adat/Tradisional) tidak dipertahankan oleh kita para Engineer.

    Karena Jujur saja ! Kita para Engineer lebih menyukai rumah beton, rumah baja, dll, karena cuma itu yang dipelajari di kurikulum.
    Mana ada kampus memasukkan Mata kuliah mengenai Rumah Adat Indonesia. (misalnya : Mata Kuliah “Perencanaan Rumah Adat Indonesia”).

    Tapi kalo Warisan leluhur kita dipatenkan oleh Negara Tetangga, semuanya sok bertingkah, berlaku dan dengan sombong berucap sebagai Penjaga Warisan Leluhur Indonesia (Kasihan deh Loe !! :p ).

    Kembali ke Laptop ! (maaf, saya terkontaminasi Virus Tukul niy..)

    Beton sering dianggap sebagai elemen struktur yang merupakan solusi dari Rumah Yang Kuat dan materialnya mungkin bisa diciptakan dari sumber alam yang ada disekitarnya (untuk didaerah tertentu mungkin tidak ada)… Apakah pemikiran tersebut selalu benar??

    Memang sih, beton itu kuat karena beton adalah ciptaan manusia yang menyerupai Batuan alam..

    Namun, pengalaman kita yang merupakan leluhur bagi generasi mendatang, yang sangat menyentil telinga kita para Engineer (di Nias, Padang, Aceh, Tapanuli, Liwa, dll) membuktikan secara nyata bahwa mayoritas bangunan yang hancur sewaktu bencana Gempa dan menyebabkan korban jiwa terbanyak adalah rumah dari struktur beton, sebaliknya rumah Adat/Tradisional malah tetap berdiri tegak dan penghuninya selamat.

    Sewaktu saya ke Balige (tempat leluhur di Tanah Batak), saya memperhatikan bahwa rumah/Sopo disana tidak menggunakan paku, baut atau mur namun mereka menggunakan sistim pasak pengunci.. (sayangnya saya tidak membawa kamera pada waktu itu dan tidak lama kemudian bangunan itu digantikan dengan rumah semi permanen), lagi-lagi kita melupakan warisan leluhur dalam membangun rumah.

    Para leluhur kita mengajarkan kita untuk membangun Rumah berdasarkan material dan kondisi alam yang ada disekitarnya. Oleh karena itu mereka sangat menghargai hutan Rimba (kayu – rotan) dan hutan Bakau sebagai sumber alam untuk penghidupan mereka yang murah dan tersedia didepan mata.

    Seperti yang kita rasakan sekarang, sumber alam (kayu) sudah mulai merupakan hal yang langka dan mahal.

    Seperti ada tertulis : ” Siapa yang menabur angin, akan menuai badai” ( bisa diartikan: siapa yang tidak hidup bersahabat dengan Alam, maka Alam pun tidak bersahabat dengannya).

    Tanya kenapa?

    Syallom..

    FYI:
    Ompung (kakek) saya adalah Perencana/Pemborong rumah Sopo pada waktu mudanya sampai ke Tanah Aceh, namun karena tidak ada dokumentasi yang berupa tulisan maupun gambar.. Pengetahuan beliau pun tidak dapat diwariskan ke anak-cucunya… :(

  7. Untuk Pak Wir

    Bukan maksud mendebat lho pak..Mungkin hanya perbedaan persepsi kita dalam mengartikan kata – kata. Soalnya Pak Yuskar lumayan strict dalam hal disain beliau.

    Saya setuju dengan pendapat Pak Wir bahwa ilmu tidak boleh dipatentkan hanya produk yang boleh dipatentkan. Kalau ada yang bertanya cara / metodenya mungkin bisa diberitahu, tapi kalau hasilnya apa juga boleh? (Koreksi saya jika salah)

    Karena kita punya pengalaman beberapa disain struktur yang benar2 ditiru orang lain tanpa memperhatikan proses pembuatan disain tersebut,sewaktu dibangun hancur deh strukturnya..

    Oh iya Pak Wir, kebetulan kan Bapak sudah sering nulis buku,prosedurnya gimana sih pak kalau boleh tau?
    Saya sudah lama ingin nulis buku juga, mengenai excel dan VBA-nya, karena kalau saya perhatikan di toko2, buku – buku mengenai excel dan VBAnya kebanyakan hanya membahas kulitnya saja,hal-hal lain yang (menurut saya) sangat penting tidak dapat saya temukan.
    Ingin rasanya membagikan ilmu tersebut ke masyarakat Indonesia..

    Terima Kasih atas tanggapannya..

    Wassalam

    Wisnu Kusumoaji

  8. Untuk Mas Andreas

    Mohon maaf,saya belum bisa upload ke box.net, menurut pengalaman saya download dari box.net seringan nggak bisanya daripada bisanya (dan kapasitasnya jauh lebih kecil).

    Soalnya saya langganan rapidshare sih, jadi lebih mudah.

    Terima Kasih

    Wisnu Kusumoaji

  9. Pak Wir, trims sudah mengangkat topik ini. Saya sangat bangga setelah melihat dan membaca bahwa rumah adat di Indonesia strukturnya sangat baik.

    Saya jadi lebih bersemangat lagi untuk berusaha dan belajar ilmu sipil.

    Kemudian buat Pak Donny usulan mata kuliah Perencanaan Rumah Adat Indonesia bagus juga…

    Oh, iya tambahan neh Pak Wir. Jenis rumah adat Nias bukan hanya ada di Desa Bawomataluo, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan saja.
    Perlu diketahui sebenarnya ada 2 jenis rumah adat di Nias. Pertama yang di Bawamataluo bentuk rumah adatnya persegi. Sedangkan ada satu jenis lagi di Kabupaten Nias Induk rumah adatnya berbentuk oval (melingkar). Nah, yang di bahas oleh Pak Pamuda, Pak Yuskar dan Pak Wisnu adalah rumah adat di Nias induk yang berbentuk oval.

    Buat Pak Wisnu… Terimakasih sudah meng-sms saya.

  10. Pak Wir,
    Tahu ngga mengapa bangunan-bangunan candi ada yang tahan gempa ada yang tidak ?
    Saya tidak pernah melihat struktur bawahnya (fondasinya) sih tetapi kalau dilihat dari gempa Jogja kemarin ternyata beberapa candi masih tegak berdiri looh. Candi Prambanan sempat ditutup tetapi masih tergolong tegak, walaupun ada batu2an yang jatuh dari ketinggian.

    Wir’s comments:
    Kenapa ya pa ? Kalau ditinjau dari massa bangunan maka jelas massa bangunan candi cukup besar. Jadi signifikan dipengaruhi pergerakan tanah. Jika dilihat dari bahan materiallnya maka jelas batu adalah material non-daktail, dan hanya kuat menahan tekan. Jadi faktor yang menentukan ketahanan terhadap gempa tinggal dari tanah dasar dan bentuk geometri candi itu sendiri.

    Bentuk geometri seperti piramid merupakan bentuk natural yang menyebabkan massa geometri tersebut akan bergerak sebagai satu kesatuan rigid jika ada gempa. Jadi jika candi cenderung masif seperti piramid maka akan lebih tahan gempa dibanding yang lain. Tonjolan atau detail-detail yang keluar (mencuat) yang biasanya terkena dampak gempa, jadi itu yang cenderung rusak menimpa bagian bawah.

    Gerakan massa masif akibat gempa tidak memberikan pengaruh yang negatif jika tanah dibawahnya cukup kuat menahan pergerakan tanah. Tapi jika tanah dasar tidak baik dan timbul differential settlement maka faktor itulah yang menyebabkan deformasi pada bangunan candi.

    Mungkin itu hipotesa saya sementara ini pak. Tapi terus terang bukan didasarkan penelitian, hanya feeling. Hipotesa awal gitu mas.

  11. Ping balik: lestarikan keunikan rumah adat Indonesia « The works of Wiryanto Dewobroto

  12. Selamat Siang Pak Wir,
    Boleh minta Email atau Nomor Hp/ TeleponPamuda Pujisuryadi, Benjamin Lumantarna and Yuskar Lase. Trimakasih Pak. Sore

  13. Bagaimana cara belajar program sap dengan cepat dan efektif..
    tolong berikan aku tips dan trik ..
    thanks

    Wir’s responds: udah baca buku karanganku tentang SAP2000 belum ? Lalu praktekkan, satu persatu. Untuk bisa menguasai program tersebut maka nggak bisa sekedar seperti baca buku komik. Baca sambil tiduran gitu. :P

  14. betul pak wir, biar semua rumah yang ada di Nias khususnya Nias selatan kalau bisa rumah adatnya di buat dari kayu-kayu yang kuat dan tahan dari bencana alam.
    terima kasih.

  15. thanks Pak Wir, topik ini sangat bagus… saya jadi tertarik untuk belajar analisa struktur lebih dalam lagi. Apakah sap 2000 saja tool dalam mempermudah analisa struktur? masih ada gak program lain untuk mempermudah analisa struktur?

    terima kasih

  16. Ping balik: Beo Nias di dadaku!!! « gancangpml

  17. @Ya’ahowu!
    Sepertinya saya salah masuk blog neh, saya pengen tahu pa ada penelitian tentang abad ke berapa rumah adat nias berdiri (dibangun). Dan mengenai peralatan pa yang digunakan pada zaman itu, singkat kata..”sejarah rumah adat nias”

    Pak Wir, sya seorang siswa smk pariwisata.. Sya ingin menjadikan objek wisata nias tidak kalah saing dengan objek wisata lainnya, sehingga saya berusaha untuk menggali setiap bagian potensi wisata yang ada..Bisakah Bapak membantu saya dalam hal ini ?

    Saya sangat tertarik dan senang membaca setiap comment artikel diatas..It membuat saya berangapan bahwa kelak saya akan membangun rumah dengan model rumah adat nias, kn tahan gempa thu.. Tapi mungkinkah akan sama kokohnya jika materialnya diganti dengan beton? Kan skarang neh sdah sangat sulit mendapat kayu yg besar dan kuat..

    Thank’s

  18. singkat kata..”sejarah rumah adat nias”

    Kebetulan, saya punya bukunya, yang memberi adalah orang Nias yang tahu bahwa saya dianggap peduli dengan budayanya. Kenapa, karena tulisan saya seperti diatas. Buku yang dimaksud judulnya adalah:

    “Traditional Architecture of Nias Island”
    Alain M. Viaro and Arlette Ziegler

    buku berbahasa inggris tetapi diterbitkan oleh Penerbit “Yayasan Pusaka Nias” Jl. Yos Sudarso No. 134-A P.O. Box 16
    Gunungsitoli 22812 NIAS
    Telp. (0639) 22286
    Fax (0639) 21920
    Email: sekretaris@museum-nias.net
    Homepage: http://www.musem-nias.net

    Meskipun jumlah halamannya hanya sekitar 100 halaman, tetapi rasa-rasanya dapat menjadi suatu rujukan yang komplet tentang rumah adat Nias, dibanding dengan buku-buku yang pernah saya baca tentang Nias.

    Semoga membantu.

    Catatan : homepage di atas tidak diketemukan, kecuali ini http://www.museum.pusaka-nias.org/

  19. Ping balik: Firmitas Rumah Adat Nias « elangfida

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s