pekerjaan tiang bor


Tentang perencanaan pondasi tiang bor, saya yakin banyak yang tahu. Khususnya bagi para sarjana teknik sipil, karena telah diberikan pada mata kuliah teknik pondasi. Selain itu, cukup banyak buku-buku yang menggambarkan secara jelas illustrasi tentang pondasi tersebut.

Tetapi jika dikaitkan dengan pelaksanaan sesungguhnya di lapangan, saya juga yakin, nggak setiap yang punya gelar sarjana teknik sipil berkesempatan mengetahuinya secara detail. Bagi yang tahu, biasanya itu karena pernah terjun langsung di proyek dan melihat dengan mata kepala sendiri. Kenapa ? Karena literatur berkaitan dengan hal tersebut, tidak gampang diperoleh ! Apalagi yang berbahasa Indonesia. Kenapa itu bisa terjadi, padahal ahli-ahli pelaksana pondasi tiang bor di Indonesia sudah banyak ?

Kenapa ya ?

Ya maklum, kita mayoritas khan budaya lesan. Jadi menceritakannya secara lesan sudah cukup, ngapain harus dituliskan. Selain ngabisin waktu, juga nggak ada faedahnya.

Benarkah demikian ?

Sebagai engineer yang penulis, tentu saya tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Menulis juga berarti merenung kembali apa yang diterima hari ini. Bisa-bisa ‘itu’ dapat menjadi suatu kompetensi baru untuk modal dikembangkan lebih lanjut. Dengan menuliskan pula, kita bisa mendapat koreksi dari orang lain, apakah yang kita terima (pahami) sudah benar atau belum. Jadi ada feed-back gitu. Selain itu, bagi pembaca yang belum tahu, tulisan tersebut dapat menjadi pencerahan. Jadi usaha menulis dapat menjadi bantuan yang berharga untuk yang lain (sesamanya).

Sudah-sudah pak. Jangan cerita tentang tulis-menulis. Mana pondasi tiang bornya ?

Baiklah. Pagi tadi saya baru menguji mahasiswa peserta mata kuliah “Kerja Praktek”. Salah satu kelompok telah menceritakan dengan baik hasil kerja-prakteknya yaitu pelaksanaan pondasi tiang bor dan uji beban dari salah satu proyek di daerah Jawa Barat. Cukup menarik untuk diceritakan disini.

Lho ternyata bukan pengalaman Bapak sendiri tho. Cuma hasil kerja praktek mahasiswanya aja. Emangnya menarik pak ?

Eh, jangan ‘cuma’. Meskipun ini hasil mahasiswa, tapi ini khan mahasiswa UPH, hasil bimbingan saya dalam mengerjakannya. Jadi ini juga dapat menjadi feed-back gimana hasil bimbingannya gitu. “Pohon itu khan dilihat dari buahnya !

Jika dosennya aja, berdasarkan data-data hasil pengumpulan mahasiswa-nya aja bisa bercerita banyak tentang materi yang dilihat selama 15 menit presentasi kerja praktek. Apalagi mahasiswanya sendiri yang telah minimal 130 jam menggeluti di proyek tersebut.

Kerja praktek adalah sarana mahasiswa bersangkutan menangkap fenomena sehari-hari “dunia dimana dia akan bekerja nanti“. Jika pada waktu yang pendek tersebut, dia bisa ngeh (mengerti), dan paham menceritakan pengalamannya. Maka diyakini nanti setelah lulus, mahasiswa yang bersangkutan akan dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan tempat kerjanya. Jadi intinya hasil didikan saya nantinya bisa link-match dengan dunia kerja.

Jadi mata kuliah kerja praktek yang saya bimbing ini tidak sekedar mata kuliah biasa, itu dapat menjadi sarana mahasiswa untuk aktualisasi diri dengan menuliskan apa-apa yang dilihat selama kerja praktek tersebut. Terus terang sebagai guru, saya sangat bangga jika mahasiswa-mahasiswa yang saya bimbing, bisa dengan mantap menjelaskan bahkan menjawab dengan tuntas setiap pertanyaan yang berkaitan dengan proyek kerja prakteknya. Itu semua dapat menjadi sarana mengevaluasi mahasiswa tentang kesiapan mereka menjadi engineer. Kalau hanya sekedar melihat hasil ujian tertulis-nya saja, saya nggak puas. Engineer khan bukan sekedar saintis, ada seninya juga. Jadi menurut saya, hasil ujian tertulis menunjukkan segi saintis-nya, sedang presentasi oral di depan kelas tentang fakta yang telah mereka terima via indera-nya merupakan petunjuk bagi segi ‘seni’-nya tersebut.

Mahasiswa saya dalam kerja prakteknya tadi berkesempatan melihat dari awal pelaksanaan pondasi tiang bor dan sampai pengujiannya juga.

Lho, koq hanya pondasi. Katanya proyek pak ? Kalau pondasi tiang itu khan baru sebagian kecil dari proyek. Kayaknya kerja praktek mahasiswa Bapak kurang hebat. Kalau saya jadi dosen, maka saya minta mereka (mahasiswa) untuk kerja praktek pada proyek yang besar, misalnya bangunan tinggi, kalau bisa sih di atas 100 lantai. Itu baru yahud ! Gimana pak ?

O gitu ya.

Saya lain ! Terus terang, setiap mahasiswa yang kerja praktek pada saat awalnya akan bertanya kepada saya. Pak, proyek ini boleh nggak ? Kalau yang gini boleh ? Kalau yang itu, gimana ?

Pada prinsipnya saya tidak memberi batasan, ini boleh , ini tidak, dan sebagainya. Saya memberi kebebasan kepada mereka. Proyek apa saja prinsipnya boleh aja, hanya saja saya akan bertanya:” kenapa kamu memilih proyek seperti itu, apa sih menurut kamu keunggulannya, atau adakah sesuatu yang menarik“. Jika mahasiswa yang bersangkutan langsung bisa bersemangat menceritakan apa-apa yang dianggap menarik pada proyek tersebut maka pada prinsipnya saya akan mendukung.

Jadi dari artikel ini saya juga akan menunjukkan bahwa meskipun itu hanya pelaksanaan pondasi tiang bor, tetapi kalau dapat melihat dari sudut pandang yang tepat maka itupun merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga. Ingat bahwa ada engineer yang dapat hidup dari hanya bekerja sebagai pembuat tiang bor saja. Jadi menguasai kompetensi seperti itu saja merupakan bekal yang berharga.

Ok. Setuju ? Jadi saya bisa melanjutkan cerita tentang pelaksanaan pondasi tiang bor !

Ok pak. Saya memang nunggu Bapak bercerita, yang menarik ya Pak ! :mrgreen:


Pekerjaan pemetaan pada lokasi sebelum alat-alat proyek didirikan.

Pekerjaan pondasi umumnya merupakan pekerjaan awal dari suatu proyek. Oleh karena itu yang penting adalah dilakukan pemetaan terlebih dahulu. Ini adalah gunanya ilmu ukur tanah. Umumnya yang ngerjain adalah alumni stm geodesi. Proses ini sebaiknya sebelum alat-alat proyek masuk, karena kalau sesudahnya wah susah itu untuk ‘nembak’-nya. Dari pemetaan ini maka dapat diperoleh suatu patokan yang tepat antara koordinat pada gambar kerja dan kondisi lapangan. Bayangin jika salah kerja di tempat orang lain. Bisa kacau itu.


Excavator mempersiapkan areal proyek agar alat-alat berat yang lain bisa masuk.

Pekerjaan pondasi tiang bor memerlukan alat-alat berat pada proyek tersebut. Disebut alat-alat berat memang karena bobotnya itu yang berat, oleh karena itu manajer proyek harus dapat memastikan perkerjaan persiapaan apa yang diperlukan agar alat yang berat tersebut dapat masuk ke areal dengan baik. Jika tidak disiapkan dengan baik, bisa saja alat berat tersebut tercebur kesungai misalnya.


Bahkan bila perlu, dipasang juga pelat-pelat baja.

Pelat baja tersebut dimaksudkan agar alat-alat berat tidak ambles jika kekuatan tanahnya diragukan. Jika sampai ambles, untuk ‘ngangkat’ itu saja biayanya lebih besar dibanding biaya yang diperlukan untuk mengadakan pelat-pelat tersebut. Perlu tidaknya pelat-pelat tersebut tentu didasarkan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, nggak ada itu di buku teks. Itu yang saya maksud dengan ‘seni’ agar pekerjaan lancar. Coba, di buku mana itu ada.


Pekerjaan penulangan pondasi tiang bor.

Paralel dengan pekerjaan persiapan, maka pembuatan penulangan tiang bor telah dapat dilakukan. Ini penting, karena jangan sampai sudah dibor, eh ternyata tulangannya belum siap. Jika tertunda lama, tanah pada lubang bor bisa rusak (mungkin karena hujan atau lainnya). Bisa-bisa perlu dilakukan pengerjaan bor lagi. Pemilihan tempat untuk merakit tulangan juga penting, tidak boleh terlalu jauh, masih terjangkau oleh alat-alat berat tetapi tidak boleh sampai mengganggu manuver alat-alat berat itu sendiri. Gimana hayo.

Lho koq, tulangannya gitu sih pak ?

Lha iya. Emangnya kamu belum tahu gambar detailnya. Baik ini gambar detail strukturnya, biasanya digambarkan seperti ini. Ini fondasi franki yang terkenal itu, yang dibagian bawahnya membesar. Itu khas-nya Franky.

Ada yang lebih gede lagi nggak pak, hanya diameter 800 mm ?

Ada, sampai diameter 1 m lebih, tapi prinsipnya hampir sama koq. O ya, kedalaman pondasi adalah sampai tanah keras (SPT 50) dalam hal ini adalah 17-18 m (lokasi di Bogor).

Jika alat-alat berat sudah siap, juga tulangan-tulangannya, serta pihak ready mix concrete-nya sudah siap, maka dimulailah proses pengeboran. Skema alat-alat bornya adalah.

Gambar diatas bisa menggambarkan secara skematik alat-alat yang digunakan untuk mengebor. Dalam prakteknya, mesin bor-nya terpisah sehingga perlu crane atau excavator tersendiri seperti ini.


Perhatikan mesin bor warna kuning belum dipasangkan dengan mata bornya yang dibawah itu. Saat ini difoto, alat bor sedang mempersiapkan diri untuk memulai.

Kecuali alat bor dengan crane terpisah, pada proyek tersebut juga dijumpai alat bor yang terintegrasi dan sangat mobile. Mungkin ini yang lebih modern, tetapi kelihatannya jangkauan kedalamannya lebih terbatas dibanding yang sistem terpisah. Mungkin juga, karena diproyek tersebut ada beberap ukuran diameter tiang bor yang dipakai.

Jadi pada gambar-gambar nanti, fotonya gabungan dari dua alat tersebut. Jangan bingung ya.

Pengeboran

Ini merupakan proses awal dimulainya pengerjaan pondasi tiang bor, kedalaman dan diameter tiang bor menjadi parameter utama dipilihnya alat-alat bor. Juga terdapatnya batuan atau material dibawah permukaan tanah. Ini perlu diantisipasi sehingga bisa disediakan metode, dan peralatan yang cocok. Kalau asal ngebor, bisa-bisa mata bor-nya stack di bawah. Biaya itu. Ini contoh mesin bor dan auger dengan berbagai ukuran siap ngebor (bukan inul lho).

Setelah mencapai suatu kedalaman yang ‘mencukupi’ untuk menghindari tanah di tepi lubang berguguran maka perlu di pasang casing, yaitu pipa yang mempunyai ukuran diameter dalam kurang lebih sama dengan diameter lubang bor.

Perhatikan mesin bor-nya beda, tetapi pada prinsipnya cara pemasangan casing sama: diangkat dan dimasukkan pada lubang bor. Tentu saja kedalaman lubang belum sampai bawah, secukupnya. Kalau nunggu sampai kebawah, maka bisa-bisa tanah berguguran semua. Lubang tertutup lagi. Jadi pemasangan casing penting.

Setelah casing terpasang, maka pengeboran dapat dilanjutkan. Gambar di atas, mata auger sudah diganti dng Cleaning Bucket yaitu untuk membuang tanah atau lumpur di dasar lubang.

Jika pekerjaan pengeboran dan pembersihan tanah hasil pengeboran dan akhirnya sudah menjadi kondisi tanah keras. Maka untuk sistem pondasi Franky Pile maka bagian bawah pondasi yang bekerja dengan mekanisme bearing dapat dilakukan pembesaran. Untuk itu dipakai mata bor khusus, Belling Tools sebagai berikut.

Belling Tools

Cleaning Bucket dan Belling Tools

Akhirnya setelah beberapa lama dan diperkirakan sudah mencapai kedalaman rencana maka perlu dipastikan terlebih dahulu apakah kedalaman lubang bor sudah mencukupi, yaitu melalui pemeriksaan manual.

Check kedalaman lubang bor

Perlu juga diperhatikan bahwa tanah hasil pemboran perlu juga dichek dengan data hasil penyelidikan terdahulu. Apakah jenis tanah adalah sama seperti yang diperkirakan dalam menentukan kedalaman tiang bor tersebut. Ini perlu karena sampel tanah sebelumnya umumnya diambil dari satu dua tempat yang dianggap mewakili. Tetapi dengan proses pengeboran ini maka secara otomatis dapat dilakukan prediksi kondisi tanah secara tepat, satu persatu pada titik yang dibor.

Apabila kedalaman dan juga lubang bor telah ‘siap’, maka selanjutnya adalah penempatan tulangan rebar.

Jika perlu, mungkin karena terlalu dalam maka penulangan harus disambung di lapangan. Ngangkatnya bertahap.

Ini kondisi lubang tiang bor yang siap di cor.

Pengecoran beton :

Setelah proses pemasangan tulangan baja maka proses selanjutnya adalah pengecoran beton. Ini merupakan bagian yang paling kritis yang menentukan berfungsi tidaknya suatu pondasi. Meskipun proses pekerjaan sebelumnya sudah benar, tetapi pada tahapan ini gagal maka gagal pula pondasi tersebut secara keseluruhan.

Pengecoran disebut gagal jika lubang pondasi tersebut tidak terisi benar dengan beton, misalnya ada yang bercampur dengan galian tanah atau segresi dengan air, tanah longsor sehingga beton mengisi bagian yang tidak tepat.

Adanya air pada lobang bor menyebabkan pengecoran memerlukan alat bantu khusus, yaitu pipa tremi. Pipa tersebut mempunyai panjang yang sama atau lebih besar dengan kedalaman lubang yang dibor.


Cukup panjang khan. Inilah yang disebut pipa tremi. Foto ini cukup menarik karena bisa mengambil gambar mulai dari ujung bawah sampai ujung atas. Ujung di bagian bawah agak khusus lho, nggak berlubang biasa tetapi ada detail khusus sehingga lumpur tidak masuk kedalam tetapi beton di dalam pipa bisa mendorong keluar. Mau tahu detailnya ?

Yang teronggok di bawah adalah corong beton yang akan dipasang di ujung atas pipa tremi, tempat memasukkan beton segar.

Yang di bawah ini pekerjaan pengecoran pondasi tiang bor di bagian lain, terlihat mesin bor (warna kuning) yang difungsikan crane-nya (mata bor nya nggak dipasang, mesin bor non-aktif).


Posisi sama seperti yang diatas, yaitu pipa tremi siap dimasukkan dalam lobang bor.


Pipa tremi sudah berhasil dimasukkan ke lubang bor. Perhatikan ujung atas yang ditahan sedemikian sehingga posisinya terkontrol (dipegang) dan tidak jatuh. Corong beton dipasang. Pada kondisi pipa seperti ini maka pengecoran beton siap. Truk readymix siap mendekat.


Pada tahap pengecoran pertama kali, truk readymixed dapat menuangkan langsung ke corong pipa tremi seperti kasus di atas. Pada tahap ini, mulailah pengalaman seorang supervisor menentukan.
Kenapa ?

Karena pipa tremi tadi perlu dicabut lagi. Jadi kalau beton yang dituang terlalu banyak maka jelas mencabut pipa yang tertanam menjadi susah. Sedangkan jika terlalu dini mencabut pipa tremi, sedangkan beton pada bagian bawah belum terkonsolidasi dengan baik, maka bisa-bisa terjadi segresi, tercampur dengan tanah. Padahal proses itu semua kejadiannya di bawah, di dalam lobang, nggak kelihatan sama sekali. Jadi pengalaman supervisi atau operator yang mengangkat pipa tadi memegang peran sangat penting. Sarjana baru lulus pasti kesulitan mengerjakan hal tersebut. Pada kasus ini, tidak hanya teori, lha itu seninya di lapangan. Perlu feeling yang tepat. Ingat kalau salah, pondasi gagal, cost-nya besar lho.


Jangan sepelekan aba-aba seperti di atas. Belum tentu seorang sarjana teknik sipil yang baru lulus dengan IP 4.0 bisa mengangkat tangan ke atas secara tepat. Karena untuk itu perlu pengalaman. Jadi menjadi seorang engineer tidak cukup hanya ijazah sekolah formil, perlu yang lain yaitu pengalaman yang membentuk mental engineer. Jadi jangan sekedar kerja, misalnya jualan MLM gitu, mana bisa jadi engineer yang baik, meskipun duitnya gede (katanya).

Jika beton yang di cor sudah semakin ke atas (volumenya semakin banyak) maka pipa tremi harus mulai ditarik ke atas. Perhatikan bagian pipa tremi yang basah dan kering. Untuk kasus ini karena pengecoran beton masih diteruskan maka diperlukan bucket karena beton tidak bisa langsung dituang ke corong pipa tremi tersebut.


Adanya pipa tremi tersebut menyebabkan beton dapat disalurkan ke dasar lubang langsung dan tanpa mengalami pencampuran dengan air atau lumpur. Karena BJ beton lebih besar dari BJ lumpur maka beton makin lama-makin kuat untuk mendesak lumpur naik ke atas. Jadi pada tahapan ini tidak perlu takut dengan air atau lumpur sehingga perlu dewatering segala. Gambar foto di atas menunjukkan air / lumpur mulai terdorong ke atas, lubang mulai digantikan dengan beton segar tadi.

Proses pengecoran ini memerlukan supply beton yang continuous, bayangkan saja bila ada keterlambatan beberapa jam. Jika sampai terjadi setting maka pipa treminya bisa tertanam lho dibawah dan nggak bisa dicabut. Sedangkan kalau keburu di cabut maka tiang beton bisa tidak continue. Jadi bagian logistik / pengadaan beton harus memperhatikan itu.


Jika pengerjaan pengecoran dapat berlangsung dengan baik, maka pada akhirnya beton dapat muncul dari kedalaman lobang. Jadi pemasangan tremi mensyaratkan bahwa selama pengecoran dan penarikan maka pipa tremi tersebut harus selalu tertanam pada beton segar. Jadi kondisi tersebut fungsinya sebagai penyumbat atau penahan agar tidak terjadi segresi atau kecampuran dengan lumpur.

Sampai tahap ini pekerjaan tiang bor selesai. Sebenarnya ada hal lain yang mahasiswa saya bisa laporkan yaitu pelaksanaan pengujian beban atau Loading Test 150% kapasitas. Wah menarik lho. Tapi nanti dulu ya pada artikel lain.

O ya ada pertanyaan, casingnya dicabut nggak ya. Mestinya iya ya, khan mahal.

Acknowledgment :

Semua gambar / foto di atas adalah hasil kerja mahasiswa UPH selama kerja praktek di proyek tersebut, yaitu sdr Darwanto dan sdri Mega Primadewi.


Suasana sidang Kerja Praktek di Jurusan Teknik Sipil UPH

Atas nama jurusan teknik sipil UPH maupun pribadi, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pimpinan atau pihak-pihak yang memberi kemudahan sehingga mahasiswa saya mendapat pengalaman yang begitu berharga tersebut. Mohon maaf bilamana ada tindak-tanduk mahasiswa saya yang tidak berkenan. Kiranya nanti kepada adik-adik kelas berikutnya dapat diberi bantuan serupa.

Artikel saya tentang Kerja Praktek di Jurusan Teknik Sipil UPH lihat di sini.

About these ads

91 thoughts on “pekerjaan tiang bor

  1. Setelah melihat foto-foto rekaman dari pekerjaan lapangan pengeboran, saya terkejut sekali dengan pedoman keselamatan kerja di lapangan.

    Para pekerja tidak memakai helm keselamatan, dan perlengkapan keselamatan lainnya. Juga tidak adanya batas-batas lapangan kerja sehingga orang-yang-tidak-berkepentingan juga memiliki kesempatan untuk ikut masuk melihat pekerjaan yang hal ini adalah sangat dilarang karena sangat membahayakan.

    Dari sekilas pandanganku, apakah tidak dilakukan sebelumnya pengujian tanah ? Juga setelah pengeboran, akan dibawa kemana kah tanah hasil pengeboran?

    Saya berpikir, sudah saatnya buat kita untuk mengkaji lebih jauh mengenai keselamatan kerja bagi para pekerja. Ini sama sekali tidak menyangkut dengan ekonomi biaya rendah dari satu pekerjaan, tetapi lebih menekankan ke masalah pengurangan angka kecelakaan.

  2. Sdr. Lieyanto,

    Jangan kaget begitu… :mrgreen:

    Kalau di Indonesia, sering sekali saya lihat banyak “spiderman” di lokasi proyek. Maksudnya, banyak yang tidak pakai pengaman tapi bisa manjat sampai lantai 20 segala. Mungkin bisa jadi bahan tantangan Fear Factor ya ?

    Kalau di Kanada sini, kalau masuk proyek tidak dengan safety equipment yang lengkap pasti dicegat di depan. Dan mereka standarnya tinggi sekali, misalnya untuk pekerjaan dewatering pondasi saja, yang tidak terlalu berbahaya, tetap harus memakai peralatan lengkap.

    Mudah-mudahan ada SNI untuk pelaksanaan proyek konstruksi…

    Salam,
    H.W.

  3. Dear Pa Wir,

    Tulisan Pa Wir ini mengingatkan masa-masa Kerja Praktek saya dulu.

    Saya mengalami kerja Praktek dua kali pak.

    Kerja Praktek saya yang pertama kali adalah mengenai Pekerjaan Pondasi Tiang Bor, persis sama dengan tulisan Pa Wir ini.

    Karena waktu saya kerja praktek dulu setelah Peristiwa 1998, susah mencari proyek yang sedang jalan dan itu juga hanya pekerjaan pondasi bor saja, karena setelah itu Proyek berhenti untuk beberapa tahun.

    Yang saya ingat dan akan selalu saya ingat, pengalaman dari kerja Praktek yang pertama ini adalah :
    # 1. Jangan sepelekan SOIL TEST (Pengujian tanah) apapun pondasi yang direncanakan, kenali dahulu karakteristik tanah dibawahnya.
    #2. Tahapan pekerjaan Pondasi yang sesuai dengan prosedurnya (Dalam maupun Dangkal).

    Kerja Praktek saya yang Kedua kali, adalah tentang bangunan Tingkat dari pondasi sampai upper struktur.

    Jujur, karena saya tidak merasa puas dengan pengalaman kerja praktek saya yang pertama dan saya terobsesi untuk memiliki pengetahuan di lapangan secara lengkap, dari sub-structure sampai upper-structure.

    Di masa-masa kerja praktek yang kedua ini, saya semakin dicerahkan oleh banyak sekali pengetahuan lapangan (perencanaan bekisting Shear Wall-pelat-balok-kolom, bar schedulling, perencanaan pengecoran dan pelaksanaannya, sampai pekerjaan finishing-nya saya pun ikutan walaupun masa Kerja Praktek saya habis) dan sehingga saya punya banyak kenalan Mandor/tukang yang saya libatkan di proyek-proyek saya saat ini.

    Terima Kasih saya haturkan kepada PT Jaya Konstruksi MP (Pa Agung S, Pa Iwan C, Pa Dharmo Cahyanto, dll di Proyek Gedung Cordova – Kantor Pembangunan Jaya Ancol, Perencananya adalah PT ARKONIN-Pa Adrian P Tandian, Pengawasnya PT JAYA CM- Pa Harmen Alm) atas kesempatan yang diberikan kepada saya menimba ilmu Teknik Sipil sebebas yang saya mau.

    Terimakasih pa Wir

    Syallom..

  4. - Keselamatan kerja, kebersihan proyek : Nah, rupanya begini cara kerja kontraktor pondasi. Pengalaman saya, ketika hendak kerjakan pekerjaan atas di proyek di Mega kuningan jakarta, kita terima serah terima lahan dengan kondisi top soil adalah lapisan lumpur setebal 1-2 m !!, karena lumpur galian pile tidak dibuang keluar, apalagi kalau jumlah pile cukup banyak. Owner tidak tahu, malah bilang kontraktor pondasi sudah urug tanah pada level yang direncanakan. Kita, kontraktor pekerjaan atas yang kebagian kerjaan buang lumpur !!

    – Tidak terlihat spacer pemberi jarak cover beton antara tulangan dengan pinggir lubang.

    – Awalan dan akhiran tulangan sengkang spiral harus ditekuk 135derajat mengunci pd tulangan pokok, pada foto no 4 terlihat, awalan hanya ditekuk 60 derajat dan akhiran ditekuk 90 derajat. Malah pada foto bucket 1 : terlihat sengkang hanya overlap di antara 2 tulangan pokok, tidak ditekuk mengunci. Pengekangan beton oleh sengkang spriral itu lebih baik daripada sengkang biasa, tapi kalau ujungnya slip, itu tidak baik.

    – Perlu kontrol pengangkatan tremi : berapa volume beton dicor, mengisi lobang berapa meter, berapa pipa tremi harus diangkat. tidak terlihat ada alat ukur : pesawat, atau meteran. Just feeling supervisor, bgmn kita mengukur keandalan feeling supervisor itu ? kita sbg engineer harus bisa menganalisa secara teknis.

    Pengalaman : seringkali pekerjaan di lapangan tidak ada pengawas yg mengerti teknis, hanya diawasi supervisor berdasarkan pendekatan pengalaman. Bisa dia seorang STM atau sarjana lho. Kalau feelingnya bagus : OK, pas meleset, lewat dah. Rasanya pendekatan ini harus diubah menjadi proses kerja yang sudah direncanakan dan prosedur kerja lebih teknis dan lebih reliable (lebih andal).

    Contoh : Sewaktu lihat pekerjaan pancang tiang pancang pakai diesel hammer : aku tanya pengawas lapangan, dia jawab : beres pak, tiangnya dipukul sampai habis.

    Yang betul : bukan soal tiangnya habis atau tidak, tapi yg penting adalah berapa setting pada 10 pukulan terakhir, dari sini dihitung berapa perkiraan daya dukung, lha pengawas gak bawa kalkulator, tabel, walaupun setting akhir dicatat juga, bagaimana dia bisa hitung ?? bagaimana dia putuskan stop atau perlu sambung pile atau pukul pakai dolly ??

  5. Pak Wir, saya jadi ingin melakukan hal yang sama seperti anda. yaitu memasukkan pengalaman pribadi ketika di project ke dalam blog pribadi seperti proses piling, steel structure, facade dll. mungkin dengan masuk ke blog bisa di sharing untuk didiskusikan dengan rekan rekan ya..
    Salam kenal

  6. Mas Wir,

    Sedikit tambahan saran dari saya :
    Sebaiknya diberikan alasan mengapa memilih menggunakan pondasi bor, kenapa tidak menggunakan piling.

    Oh ya mas wir, sepengetahuan saya sewaktu ikut training di Jaya konstruski tentang bore pile ada beberapa hal yang belum disebutkan :

    1. Pengecoran dilebihkan 1 m atau lebih, mengingat bagian beton paling atas telah rusak karena bercampur lumpur sehingga sebaiknya dibuang.

    2. Bagian bawah dari pipa tremi diberi semacam bola yang terbuat dari foam untuk menghindari air lumpur masuk kedalam pipa tremi saat pertama kali beton akan dituang.

    Wir’s responds :
    Memang betul, beton di bagian atas tiang bor akan dikupas untuk stek ke pile-cap. Ya kira-kira satu meter itu. Itu di foto khan beton dicor menutupi tulangannya. Ya betul memang ada foam-nya.

    • Pak. Wir’s saya mau bertanya nih pak,
      Boleh nggak pak untuk menghindari pembobokan pengecoran untuk pondasi. Saya lakukan pengecoran sampai lebih 1m sampai muntah istilahnya dan lumpurnya juga sudah keluar tapi, sebelum concrete’nya kering saya ambil concretenya pakai sekop atau apalah sampai mencapai elv pondasinya (-1m)? karena pembobokan pile sangat sulit terlebih Kwalitas concrete yang dipakai biasanya diatas K 350. mohon penjelesannya pak dan trima kasih sebelumnya

      • Ide anda kreatif juga mas Purba. Jika digunakan pengecoran dengan pipa tremie, sampai “muntah” dan lumpurnya keluar. Maka tentunya, kualitas beton di bagian bawah (badan tiang bor) relatif murni beton (tidak tercampur lumpur dll). Teoritis, jika kemudian “tumpahan” beton di bagian atas, sebelum kering di sekop maka mutu beton bawah tentu tidak terpengaruh. Logikanya sih bisa dterima. Tapi pertanyaannya, mengapa menyekopnya pada elevasi -1m, sama dengan pondasi. Bukankah tiang bor, betonnya sebaiknya masuk ke pile cap sekitar 10 cm-an atau tidak sama dengan elevasi bawah pile cap.

        O ya, ide mengecor sampai atas lalu membobok pile cap umumnya terjadi karena pengecoran tiang bor umumnya dilakukan pada elevasi lantai, bukan elevasi bawah pile cap-nya. Itu dilakukan agar alat-alat berat bisa masuk. Sehingga prakteknya strategi yang anda lakukan itu tentu tidak gampang, maklum tanah di samping-samping tiang khan beresiko longsor yang menyebabkan mutu beton rusak. Ingat pada kondisi tersebut, alat-alat berat masih berseliweran di sekitar lokasi tersebut, Jadi kalau ada lubang akibat menyekop tersebut maka tanah bisa menutup, dan jika tertutup maka posisi tiang bor jadi tidak kelihatan, jika demikian (tidak kelihatan) maka beresiko bisa rusak akibat ada alat-alat berat yang lewat di atasnya sebelum betonnya keras. Oleh karena itulah maka cenderung dibiarkan sampai atas, sampai semua pekerjaan pengeboran selesai.

        Ide mengecor tiang bor sampai menutup tulangannya juga karena umumnya kontraktor tiang bor adalah sub-kontraktor khusus (kontraktor pondasi) yang berbeda dengan pelaksana pengecoran pile-capnya. Jadi biasanya ada jeda, antara pelaksanaan tiang bor dan bagian atasnya. Ingat, biasanya pengecoran pilecap juga sekaligus lantainya.

        Nah jika kondisinya tidak seperti di atas, yang mengecor tiang bor juga sekaligus pile cap, maka ide anda bisa saja diterapkan.

  7. Ping balik: menulis Laporan KP « The works of Wiryanto Dewobroto

  8. salam kenal pa wir,
    blog ini bisa saya sebut fantastik, karena pengetahuan saya lebih berkembang lagi mengenai civil engineering pa, kalo bisa saya ingin tahu mengenai proses pemilihan pondasi mulai dari penyelidikan tanah sampai pile cap. . . Moga aja ini nyampe pak. . .

  9. pagi pa, comment ini saya kirim pagi hari pa.
    saya AJISUPRAYOGI mahasiswa TEKNIK SIPIL universitas jember. tulisan-tulisan bapa sangat bagus sekal. sangat mendukung perkembangan aktivitas teknik sipil kita terutama generasi muda. terima kasih ya pa.

    bapa wiryanto yang terhormat, aku sekarang semester 7 dan lagi mengerjakan proposal skripsiku tentang pondasi tiang,bila tidak keberatan, saya mohon bantuan bapa untuk memberikan artikel dan situs tentang pondasi tiang. apapun itu terutama pondasi tiang yang dipengaruhi beban lateral.

    bapa bisa mengirimkan surat lewat email saya. saya tunggu balasan dari bapa.

  10. informasinya paten.ada gak ada job di konstruksi?aku skrg kerja tapi lain dengan sipil,sekarang aku di pengeboran panas bumi.ada job gak?aku mau pindah ne.

  11. to : P Arif Budiman

    salam kenal.

    saya jadi ingat dulu pernah ngawasin kerjaan pemancangan, sering ributnya ya gara2 penentuan stop pemancangan. malah teman saya pernah sampai diancam sama operator hammernya.. hehe.. memang untuk jadi pengawas, selain butuh skill teknis, butuh juga soft skill : kapan keras dan kapan santai, yg penting tegas.. duh, jadi kangen suasana kerja di lapangan lagi nih.. :)

    P Arif ini kontraktor ya? wah, salut juga nih, ada kontraktor yg mempertanyakan kompetensi pengawas, artinya P Arif ini concern sekali dengan kualitas pekerjaan sehingga menuntut pengawas yg qualified. begitu kan Pak?

    malah banyak kontraktor yg lebih suka kalo pengawasnya gak ngerti, karena bakal gampang di bohongin.. hehehe.. :)

    -Rp-

  12. To Pak Komara :

    Type pondasi ada dua yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam, pemilihannya tergantung kondisi tanah dalam hal ini kemampuan daya dukung tanah serta beban yang akan dipikul oleh pondasi tersebut.

    Untuk pondasi dangkal terdapat banyak jenisnya misalnya pondasi setempat, pondasi menerus, pondasi caisson, pondasi cakar ayam, pondasi sarang laba-laba dll, bagaimana untuk memilih mana yang paling baik dari pondasi dangkal ini tentunya mempetimbangkan hal-hal berikut ini : biaya, waktu yang dibutuhkan selama pengerjaan, kemudahan dalam pelaksanaan, demikian pula halnya dengan pemilihan type pondasi dalam yaitu pondasi tiang pancang, pondasi bor (bore pile) dll.

    mungkin yang lain bisa menambahkan.

    salam
    badar

  13. Ping balik: memilih sistem pondasi « The works of Wiryanto Dewobroto

  14. Hi Robby, salam kenal juga, saya SI-ITB 83.

    Dulu saya kerja di kontraktor di bagian design, jadi concern pelaksanaan di lapangan harus BENAR sesuai dengan asumsi perhitungan, misal saya hitung daya dukung tiang pancang akibat aksial dan moment kolom perlu daya dukung R=40 ton, maka waktu pelaksanaan HARUS didapat daya dukung 40 ton. Kalau pelaksanaan tidak dikontrol, kolom bisa-bisa mengalami penurunan, yang repot biasanya bagian design.

    Saya pernah kerja di kontraktor di Jepang, dimana engineer lapangan benar-benar qualified dan mengerti mengawasi subcon dengan benar.

    Pernah juga jadi Pengawas Lapangan pekerjaan high rise kantor, memang perlu soft-skill, contoh kasus: Orang lapangan bilang” kalau memang Bapak nilai rebar/formwork belum siap, kita tidak akan lanjutkan cor beton, kita tidak akan korbankan mutu”.

    kasus: waktu final cek, didapati kerjaan berantakan, terus kita stop, sementara readymix sudah order/on the way, tukang cor sudah kumpul, kalau tidak cor: mereka dibubarkan dan tidak dapat bayaran, mereka marah. Sudah malam lagi. schedule akan terlambat kalau tidak cor. Tentu tim lapangan akan paksa nego untuk cor, sementara kita harus tetap jaga mutu. Harus dicari solusi yang baik.
    Nah cara mengatasi situasi begini gak ada di kuliahan.

  15. Pak Wir, saya seorang lulusan STM Bangunan, pekerjaan pertama saya peroleh kemarin yakni pembangunan rumah lantai 2 di Flores (rawan gempa).
    1. Saya kesulitan mendapatkan gambar detail fondasi setempat /cakar ayam. Bisakah Pak Wir mengirimkan contoh detail tersebut lewat email saya?
    2. Untuk kondisi tersebut, kira-kira berapa ukuran fondasi setempat, menerus, sloof, ringbalk, kolom, balok dan pembesiannya?
    3. Adakah Pak Wir punya contoh lengkap gambar dan perhitungan pekerjaan rumah 2 lantai? Saya sangat mengharapkan bisa memperoleh contoh tersebut.
    4. Makasih atas bantuan Pak Wir.

    Sandy YS
    Jln. Cemara 25 Centrum – Maumere
    Prop. NTT
    Kodepos 86100
    HP : 085253005000

    Wir’s responds: untuk rumah tinggal nggak punya mas.

  16. Pak Wir,
    Mohon pencerahannya untuk perbedaan tiang bor dengan tiang pancang.
    Saya pernah beradu argumen mengenai kekuatan tiang bor dengan tiang pancang.
    Dalam hal ini teman saya mengatakan bahwa tiang bor lebih cocok untuk beban-beban besar dibanding tiang pancang.
    Namun menurut hemat saya bahwa tiang pancang mampu menahan beban-beban besar.
    Terutama karena tiang pancang merupakan konstruksi dengan menggunakan high tension wire dan beton mutu tinggi yaitu dengan mutu antara k 500 atau k 600, disamping pengerjaaan tiang pancang melalui proses quality control yang tinggi dibandingkan tiang bor.
    Jadi menurut saya tiang pancang lebih mampu menahan beban-beban besar, kecuali untuk pondasi tiang besar yang biasanya menggunakan pondasi sumuran. Namun untuk pelaksanaan nya pondasi bor lebih murah, lebih cepat dikerjakan dan bisa dikerjakan di daerah padat bangunan.
    Mohon pencerahaannya untuk hal ini, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

    (buat : Donny Tampubolon : kapan menyusul teman-teman pindah ke KBR nih ?)

  17. Pak,
    saya tertarik tuh dengan masalah safety di pekerjaan konstruksi sipil terutama pekerjaan tanah (soilwork) dan piling..
    memang di Indonesia masalah safety masih belum mendapat porsi perhatian yang memadai..

    bagaimanakah seharusnya safety di pekerjaan piling dan pekerjaan tanah pak..
    apa ada yang bisa memberi contoh risk assesment nya atau Job safety analysis untuk pekerjaan konstruksi sipil..?
    terima kasih..

    salam

    Wir’s responds: silahkan yang di lapangan memberi komentar tanggapan.

  18. Apakabar pak wir
    Irma lagi hin (he he)
    Wah ternyata cerita pondasinya full yang bored pile…
    Pengennya juga yang tiang pancang (driven)..

  19. Pak Wir..
    mau ikutan numpang sharing dikit ya..

    Kebetulan saat ini saya sedang di proyek jembatan, yang juga pake bored pile, dengan kedalaman yang cukup “jeru”.
    Saya kira dengan pondasi bored pile, pelaksanaan pekerjaan pondasi dengan kedalaman ekstra saya kira akan lebih menguntungkan. Seperti proyek yang sedang berjalan ditempat saya ini, dengan ke dalaman pondasi hingga 90-100 m, sangat tidak mungkin untuk menggunakan pondasi tiang pancang. Apalagi dengan diameter tiang yang cukup besar, sulit (bahkan menurut saya mustahil dilakukan, kecuali saya yang emang ga ngeh kali, hehehehe….) untuk dilaksanakan. Jadi, menurut saya, pondasi bored pile memang mungkin lebih menguntungkan jika dipakai untuk pondasi yang cukup dalam.

    Untuk peningkatan kekuatan bored pile, biasanya pada ujungnya juga dilakukan grouting. Untuk menjaga kualitas perlu kontrol, bagaimana supaya beton yang dibuang jauh ke dasar sumuran, tetap bisa bagus dan tidak sampai terjadi segregasi. Sebagai konsekuensi, pengalaman di proyek saya jika sampai terjadi defect, dilakukan dengan gouting pada daerah yang ada defect tersebut. Karena grouting ujung hanya diperkirakan mampu naik tidak sampai 5 m dari ujung bawah, lumayan berat juga jika defect yang ditemukan pada kedalaman sekitar 80 m karena harus core drill sampai sejauh itu.

    ok deh, segitu dulu cerita saya, mungkin lain kali numpang lagi..
    Matur nuwun pak wir,
    Gbu

  20. pak wirr
    saya mahasiswa yang sedang tugas akhir,mengambil topik “kajian daya dukung pondasi tiang bor pada fly over” kira2 metode2 apa saja ya yang bisa saya gunakan untuk menghitung daya dukung pondasinya, data yang saya punya cuma data N-SPT, kalo ada sekalian rumus-rumusnya.
    thanks ya pak wir

  21. @Benny
    Terima kasih atas sharingnya. Kelihatannya cara memperbaiki defect pada kedalaman seperti yang anda ceritakan itu kalau ada pengalamannya, menarik lho kalau diceritakan. Saya sendiri belum bisa ngebayangin untuk core-drill pada kedalaman 80m. Lain kali kirim laporan lengkap plus foto-foto untuk ditampilkan di sini ya.

    @Najib
    Terima kasih kembali.

    @Agus Supiyat
    Meskipun aku juga belajar secara formal tentang pondasi, juga guru-gurunya lumayan, yaitu prof Cambou, prof Boedi Soesila Supanji juga prof. Paulus P. Rahardjo dan semuanya udah lulus semua, tetapi karena mungkin jiwa structural engineer sudah mengakar erat dan juga karena jiwa geotechnical engineernya belum menempel maka kalau ditanya tentang pondasi harus buka buku dulu. Seperti anda. Kalau begitu sama khan, download dulu deh buku-buku pondasi, ada khan di blog ini. He, he, he. ..

  22. Salam lagi dari makassar pak wir
    Pak, gimana tentang tiang pancang pabrikasi, yang memberikan jaminan dengan dimensi kecil tetapi daya dukung besar (mini pile). Padahal dari rumus terzaghi, salah satu faktor yang mempengaruhi daya dukung itu adalah dimensi tiang..

  23. salam pak
    Ternyata pak wir lagi sibuk dengan tugasnya yah…tapi ga pa2 yah sy nambah pertanyaan lagi..
    Kalau delatasi hanya untuk penurunan apa harus minimal 7 cm seperti pada peraturan gempa untuk beberapa bangunan yang tidak direncanakan sebagai satu kesatuan?
    Terima kasih sebelumnya

  24. pak wir
    bisa bantu saya ngga
    saya mahasiswa D3 politeknik negeri bandung teknik sipil konstruksi gedung lagi TA tentang aplikasi perhitungan pondasi tiang bor dgn menggunakan VB 6
    tapi data input yg saya punya cuma dikit
    khususnya data perhitungan pondasi tiang bor
    apa bapak punya perhitungan pondasi bored pile ?
    atau web tentang cara perhitungan pondasi bored pile
    atau juga buku tentang perhitungan secara rinci tentang pondasi boredpile
    saya sudah kesulitan
    terima kasih byk pak

  25. Dear Irma Aswani,

    Pertanyaan: Pak, gimana tentang tiang pancang pabrikasi, yang memberikan jaminan dengan dimensi kecil tetapi daya dukung besar (mini pile). Padahal dari rumus terzaghi, salah satu faktor yang mempengaruhi daya dukung itu adalah dimensi tiang..

    Sharing sedikit ya….

    Menurut pengetahuan yang saya pelajari, daya dukung tiang pancang ditentukan dari friction resistance dan bearing resistance. Secara general memang benar bahwa luas penampang dari tiang pancang sangat mempengaruhi besarnya bearing resistance. Semakin kecil luas penampang semakin kecil pula bearing resistance. Tetapi daya dukung tiang pancang juga dipengaruhi oleh friction resistance along the pile, dimana hal ini dipengaruhi oleh panjangnya tiang dan configuration of the piles group.

    Keduanya, bearing dan friction resistance dipengaruhi oleh jenis tanah.

    Jadi sangat mungkin minipile memberikan daya dukung yang besar dengan memanfaatkan friction resistance. Tetapi perlu diperhatikan bahwa dengan penampang yang kecil, panjang tiang yang besar, dan adanya bagian tanah yang lunak dan keras yang berdekatan, minipile sangat mungkin rentan terhadap tekuk.

    best regards.

  26. Anda membutuhkan tempat yang tepat untuk meletakkan blog anda. Para pebisnis yang berkecimpung di bidang konsultan dan kontraktor sangat membutuhkan orang berkualitas seperti anda. Silahkan kunjungi situs kami dan temukan manfaatnya bagi anda.

    Jangan sia-siakan tenaga dan kemampuan anda dengan blog yang tidak pada tempatnya.

    Hormat kami,

    ADMINISTRATOR

    http://www.subkon.com

    Wir’s responds: ah masa ?! Lebih enak mandiri begini pak. Saya nggak jualan sih. :P

  27. pak’, apa pendapat anda mengenai tiang pancang dan pondasi sarang laba-laba? dan apa keunggulan dari masing2 jenis pondasi tersebut???

  28. saya mahasiswa sipil universitas negeri di jogja, pertanyaan saya :
    sekarang ini berkembang metode bor dengan sistim mesin berdiri di atas casing, padahal casing ini biasanya cuma berfungsi sebagai pelindung lubang bor saja biar tidak runtuh, jadi jika casing ini difungsikan juga menjadi struktural karena menahan mesi bor, bagaimana cara perhitungan dan asumsi beban yang dipakai.
    terima kasih pak

  29. Dear Pak Wir

    Thank sfor your good blogs, I have to say it is very useful for the students and practitioners whilst I am not sure it has any property right for any publication you have share freely.

    Anyway, I just want to give a small comment for a BIG matters in the share of Bored Pile foundation.

    I saw a picture with a technician stand up on the concrete bucket during concreting work. It is absolutely NOT SAFE, and not complied with the global HSE requirement. Especially for WORKING at HEIGHT rule. Ironically, no one of them aware about this, also your student. If someone sees an incorrect way of working method, they shoud stop this to safe life of the worker.

    I am sure you have enough knowledge about the HSE matters so you can see more any “non compliaance” matters on that works.

    The engineers must aware about this, not only focus on technical things or schedule.

    Hopefully this is could be a lesson learned from the job practice.

  30. Dear Pak Wir..
    Untuk ngecek misal ada defect hasil concretingnya gitu gimana ya pak?
    Misal ada defect,metode groutingnya seperti apa?
    Thx…..

  31. Salam kenal Pak Wir.
    Nama saya Panji, mahasiswa teknik sipil Universitas Katolik Parahyangan.

    Saya ingin memberi komentar kepada Saudara Agus Supiyat. Mengenai pondasi borpile, anda dapat membaca dari Manual Pondasi Tiang karangan Prof Paulus Pramono Rahardjo.

    Jika data yang dimiliki hanya data NSPT, maka harus digunakan tabel korelasi untuk mendapatkan parameter tanahnya. Untuk tanah clay, dapat digunakan rumus c = 1/10 Nspt. Jika kondisi tanah relatif bagus, maka anda bs menggunakan faktor pengali yg lebih besar. Rumus tersebut hanya rumus empiris yang biasa dipakai di lapangan.

    Untuk tanah pasir, anda dapat menggunakan tabel yang tersedia di buku desain pondasi. Saya mengambil dari Muni Budhu.

    Mengenai mana yang lebih kuat, pondasi tiang pancang atau borpile?

    Menurut saya itu relatif, hanya saja borpile dapat dibuat dengan dimensi yang sangat besar. Sebagai contoh, dimensi yang digunakan pada jembatan Suramadu adalah diameter 2 m, dengan kedalaman 100 m. (Moga2x tidak salah ingat)

    Dengan dimensi sebesar itu, maka daya dukung yang didapat bisa mencapai 1000 ton untuk 1 tiang. Dimensi yang sangat besar dan di Indonesia, belum ada kontraktor yang menyediakan alat tersebut. Harus import dari negara lain, sepertinya Malaysia dan China punya d.

    Tiang pancang memiliki keunggulan dari pengerjaan di lapangan. Yaitu lebih mudah dan cepat, walau mengganggu tetangga. (Denger2x getarannya bisa merusak cat tembok. )

    Mengenai kenapa pondasi dalam hanya dipasang pada NSPT kurang dari 50?
    Pada pondasi tiang pancang, maka akan rusak jika dipaksa atau diusahakan lebih dari itu. Untuk menganalisa dampak pemancangan pada kekuatan pondasi, dan penurunan akibat pemancangan, dapat dianalisa dengan program MICROWAVE.

    Pada pondasi borpile, NSPT lebih dari 50 itu sulit pada pelaksanaan. Mahal karena harus menggunakan bor bermata intan dan itu sangat mahal. Karena itu jika tanah kerasnya dangkal, lebih enak menggunakan pondasi rakit atau pondasi telapak.

    Mengenai pengecekan pada pondasi borpile, dapat dilakukan dengan uji sonar. Dengan cara memberikan gelombang kepada tiang tersebut, dan dibaca hasil pemantulan yang terjadi.
    Jika ada defect yang parah, maka digrouting oleh kontraktor nya. Diambil sampel, lalu diperbaiki.

    Jika kedalamannya misalnya 60 m, bagaimana?
    Nah itu sih mungkin aja. Awalnya saya juga pesimis, mana mungkin? Ternyata itu bisa dilakukan. Hal ini saya ketahui pada kuliah umum tentang Jembatan Suramadu.

    Kepada Pak Wir, dimohon tanggapan dan koreksinya.

    Terima kasih.

  32. Halo pak wir,
    Nama saya Satria.
    Saya ingin mengetahui banyak mengenai pondasi caisson pada pembuatan jembatan. Kalau bapak berkenan,saya minta tolong agar bapak dapat menjelaskan langkah – langkah pelaksanaannya secara detil beserta foto – foto pelaksanaannya pak.
    Terima kasih pak

    Syalom…..

  33. Pagi Pa Wir,
    Saya Jo, Mahasiswa smster 5 di UNUD.
    Ad yang saya mau tanyakan, mgkin Pa Wir Bs Bantu..
    Saya mau bertanya, bgmn cr untuk menghitung tulangan pada poer(pile cap) dan tiang pancang berbentuk lingkaran? mengacu pada SNI 2002..
    Sy kesulitan mencari informasiny, jd sy minta tlng mgkn ad yg bisa bntu..Trims..

  34. sugeng tepang PAK WIR

    pak wir, bagus sekali ulasannya. kebetulan saat ini saya ikut bekerja plus belajar di perusahaan mini bored pile dr jakarta sedangkan lokasi proyeknya di bontang kaltim.

    alatnya lebih sederhana dr ulasan pak wir. pasti pak wir sudah tahu. jd tdk pake’ crane n heavy equipment lainnya.tp cara, step2nya n tujuannya hampir sama. itu lo pak ngerjai turap danau utk water treatment PT INDOMINCO.

    saya bantu bantu dari nyopir,administrasi ringan, sampe’ ikut jelepotan lumpur. its ok. ada tujuannya memang some day pingin punya sendiri he he… tau ni kapan realisasinya tp yg jelas ilmunya hrs punya dulu.masalahnya demand n supply usaha ini byk supplynya sih.

    tp saya bkn enggineer pak wir. jadi prakteknya benar2 harus sy lakukan, belajarnya ya ini dr pak wir, teman teman dan dr majalah e ini.makasih ya pak wir infonya. dapet deh tambahan ilmu.

    matur nuwun pak..

  35. Ping balik: petunjuk KP proyek jembatan « The works of Wiryanto Dewobroto

  36. Pak wir, saya mau tanya mengenai pondasi dangkal/pondasi telapak. Begini pak, bagaiman cara mengatasi pengecorab pondasi telapak/dangkal kalau air tanah sangat tinggi (kurang lebih 1.5 m)???
    untuk jawabannya saya ucapkan terima kasih.

    Wir’s responds: kalau pondasinya banyak, yang berarti proyek yang besar maka dapat dilakukan dengan dewatering, memakai pompa-pompa dengan kapasitas yang dihitung sehingga muka air tanah dapat diturunkan sehingga tanah menjadi kering. Kadang-kadang biayanya perlu dibandingkan jika sistem pondasi tersebut diganti dengan sistem pondasi mini-pile yang tidak terpengaruh oleh kondisi muka air tanah. Bisa-bisa sistem yang terakhir ini lebih ok.

  37. kpd bapak wiryanto yth,
    saya ingin bertanya , bagaimana dengan pondasi sistem kaison ,tlg sekalian perhitungan nya yang mudah dimengerti ,
    terimkasih,

  38. Bapak, TERIMA KASIH banget, saya mendapat banyak informasi pada artikel bapak. saya mahasiswa sem2 arsitektur unpar, makasi sekali bapak…

  39. selamat siang pak Wir,
    pak wir, saya adalah seorang mahasiswa teknik sipil Undip yang baru saja lulus. saat ini saya sedang mempelajari program etabs dan safe.apakah pak wir dan teman2 engineer pny referensi atau tutorial untuk dua program tsb?mohon bantuannya.
    terimakasih banyak

  40. Terimakasih, mungkin dari banyaknya komen dalam blog ini dapat menambah apa saja yang perlu mahasiswa siapkan untuk bersaing menghadapi lulusan teknisi khususnya dalam bidang geoteknik.

  41. dari hasil pemeriksaan sondir di lapangan diperoleh hasilnya. bagaimana kita mengetahui bahwa tanah tersebut lunak atau keras dengan melihat hambatan lekat tanah tersebut? dan apa yang dimaksud dengan hambatan lekat ? mohon jawabannya. Thanks

  42. siang p’wir….
    pak, saya mahasiswa politeknik negeri medan.
    sekarang saya sedang menyusun laporan tugas akhir tentang metode pelaksanaan pondasi bore pile pada proyek fly over amplas medan.
    saya mau minta metode pelaksanaan pondasi bore pile dengan menggunakan RCD…
    please…..
    thanks b4…….

  43. pak…mao tanya pak…pada perkerjaan pondasi pasti aja quality control sebelum perkerjaan, pas perkerjaan, dan sesudah perkerjaan..kira2 apa aja yah??trims…

    jeremia

  44. Pak… aku mo nanya

    1. Gimana cara ngitung kekiatan bor pile nya?
    2. Alat yang efisien yang digunakan dalam pekerjaan tiang pancang tu yang jenis apa,yang jenis hammer atau yang injection?

  45. Pak Wir,
    Seeing is believing! bagus dan informatif sekali, teruskan dengan tulisan-tulisan bersama dengan photo-photonya Pak Wir!

  46. Dear para engineer,

    1. adakah yang mempunyai buku mengenai Pilecap ? mohon di share….
    2. Sekalian mau nanya pak wir dan para engineer, mengenai desain pilecap akibat geser pons, apakah geser pons yang dihitung berdasarkan gaya kolom (support reaction) dengan luas ukuran pilecap penuh, atau berdasarkan gaya yang ditahan 1 tiang ? misal dengan gaya kolom 100t, dan 1 tiang pancang menahan 25ton (asumsi faktor efisiensi=1, dan gaya yang bekerja hanya gaya aksial), maka membutuhkan 4 tiang. maka yg dihitung untuk geser pons gaya yang 100t atau apakah 25 ton ? mohon bimbingannya, terima kasih

  47. Salam sejahtera untuk pak Wir, izinkan saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
    1. bagaimana cara menghtung pondasi borpile 50 cm
    2. bgm menghitung poor pondasi 80x100x310 cm
    3. bgm mengitung kolom 60 x 60 cm
    4. bgm mengitung balok 60 x 40 cm
    5. bgm menghitung plat lantai t=12 cm, 10-50
    Terima kasih

  48. syalom mat mlm pak apa perbedaan antara tiang panjang dengan tiang bor??????????????????Dan bagaimana dengan perhitungannya apakah cara perhitungannya sama ???????????????
    Bagaimana pak???????????????????????

  49. Pak saya lagi buat TA tentang perencanaan dinding penahan tanah(diafragma wall)!!!tapi data yang ada hanya ada data NSPT, analisa ukuran butir, dan uji geser langsung hanya satu yaitu kedalaman 24 – 27 m saja!!!! sekalo mencari nilai sudut geser bisa ga menggunakan grafik hubungan NSPT dengan sudut geser???trus apa ada cara lain pak untuk mencari sudut geser???terimakasih sebelumnya!mohon bantuannya!

  50. sambugan !!!kalo ada referensi buku dalam bentuk soft copynya boleh di minta pak, mengenai perencanaan diafrahma wall!!!terimakasih

  51. posting yang sangat bagus pak.
    sangat membantu tugas saya..
    saya izin mengunduh artikel ini ya pak..
    terima kasih sebelum dan sesudahnya.

  52. Pak Wir… orang bisanya komentar yang sudah ada, itu keahlian yang tidak bisa dilepas dari sifat manusia….. maju trus… trima kasih atas cerita yang sangat menggungah hati ini….. perlu dicontoh….

  53. pak,, saya mahasisiwa UNUD saya bingung bagaimana cara menghitung pondasi bor pile untuk pondasi bor pile tiang tunggal dan kelompok tiang apabila diketahui data tanah SPT dan diameter pondasi saja. bagaimana cara menghitung tulangan? dan bagaimana mengetahui pula kekuatan dari pondasi bor pile tersebut? tolong bantuannya pak. sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih

  54. salam kenal pak wir,

    di proyek saya sedang berlangsung pembangunan Loading Conveyor, kebetulan saya baru masuk di tenggah proses proyek berlangsung, dan dilapangan telah terjadi pemancangan pondasi spun pile uk 35o mm dgn kedalaman – 36m dan pengecoran pile cap tebal 50cm di elevasi -60cm, hal diatas dikerjakan berdasarkan shop drawing dan perhitungan design strukturnya.

    sedangkan Berdasarkan pengawasan pemancangan yang saya amati sendiri, ternyata belum sampai menyentuh tanah keras, maka saya melakukan soil test lagi. dan hasilnya ternyata baru di kedalaman -43m terdapat tanah keras.

    masalahnya adalah :
    1. data soil test yang perencana berikan ternyata tidak sesuai dengan data actual yang skrg saya lakukan, intinya ada manipulasi data tanah.

    2. berdasarkan soil test yang saya lakukan dan saya plotkan dengan perencanaan ternyata daya dukung tanah tidak memenuhi.(tidak aman).
    dan teridentifikasi akan terjadi setlement, di karenakan pd kedalaman -36 m masih berupa tanah lempung & lanau hitam.

    yang mau saya tanyakan bagaimana cara mengatasi setlement tersebut. dan perkuatan struktur apa yang bisa saya gunakan untuk perbaikan daya dukung tanah tersebut.

    mohon bantuannya !
    terima kasih sebelumnya.

  55. Ikutan nimbrung P.Wir, kebetulan saya pernah bekerja sama dengan Franki Pile.
    Pernah suatu ketika dinding lubang bor selalu longsor, kedalaman 15 m & muka air tanah -6 m.
    Prosedurnya harus dilanjutkan pengeboran dengan diisi bentonite, tapi kita coba dengan mengisi lubang bor hingga penuh supaya tekanan hidrostatis air membantu menahan dinding lubang bor tidak longsor & ternyata berhasil.
    Kami menghemat bentonite 1 trailer untuk 780 titik bor :)

    Blog ini bagus sekali. Sekalian mungkin ditambahkan untuk test PIT & PDAnya,P.Wir

  56. Pak wiryanto, saya ingin menanyakan bagaimana penggunaan bola karet ataupun bola pasta semen yang dimasukkan pada pipa tremi sebelum pengecoran. Dan juga bagaimanakah cara untuk menghitung produktivitas dari suatu mesin bor, misalnya Soilmec 416. Terima Kasih

  57. Ping balik: KP-nya sampai KUPANG | The works of Wiryanto Dewobroto

  58. Ping balik: Proses Pengerjaan Pondasi Tiang Bor (Bored Pile) « Forum OJT/Magang PT ARUN LNG

  59. Ping balik: uts – kerja praktek di uph | The works of Wiryanto Dewobroto

  60. Ping balik: Contoh menulis Laporan KP Teknik Sipil | Oerleebook's Situs

  61. Syallom,

    Terima kasih pembagian ilmunya P’Wiryanto.
    Saya merencanakan penanggulangan longsor dgn metode bored pile,
    tp sy mendapatkan nilai SF : 0,62 dan Hs:1531,7ton/m’ (sangat besar) dgn metode geoslope dan diagramnya sy export ke AutoCad untuk mendptkan Asi (m2) dan ai (degree). maaf P’ apakah saya rumus atau metode yg saya pake kurang akurat. Mohon masukan dan contoh perhitungan bored pile yg sering bpk pake untuk dijadikan perbandingan hasil.

    Terimakasih, God Bless

  62. Dear P. Wiryanto
    Saya mau nanya, apakah besi beton bekas bongkaran yang baru berumur sekitar 2 bulan, bisa dipergunakan lagi? Seberapa besar pengurangan mutu nya pak?. Mohon masukannya ya pak wir.
    Terima kasih,

  63. Selamat siang pak, saya ingin tanya mengenaik metode pengerjaan yg real di lapangan seperti apa? Karena saya mendapat hal yg sangat minim saat kerja praktek.
    Lalu, jarak toleransi maksimum dari patok brp jaraknya? Sehingga tidak mempengaruhi pembangunannya
    Terima kasih pak

  64. Artikel sudah cukup lama, tetapi msh ada yg beri respon ya. Untuk Lokhita, metoda bor pile susah dipahami bila berupa uraian tanpa deskripsi gambar. Coba googling saja, sy pikir cukup banyak uraian tentang bore pile.

  65. untuk jenis tiang franky,, ada yang bilang itu merupakan sistem penetrasi cor ditempat,, klw sistem penggalian seperti tiang bor ini menggunakan metode franky jg kah ??

  66. Kalau bs tau pak, biaya jasa booring itu kira2 brapa per meter dgn diameter 60 8 80? Dgn kondisi lokasi yg dibor bebatuan? Dan brapa lama waktu yg dibutukan utk 1 titik dgn kedalaman 10 mtr? Tks

  67. -Sebenarnya owner atau MK bukannya ga tau, tp dalam kontrak kontraktor pondasi dituntut untuk mengembalikan tanah ke level awal sebelum mereka kerja, tentu saja tanah yg digunakan adalah tanah ex pengeboran. Harusnya ga masalah ya, toh kontraktor utama pasti akan menggali untuk basement bangunan tersebut.
    – Tidak menggunakan spacer adalah sebuah kesalahan.
    – Untu awalan & akhiran pada spiral tulangan, terkadang kontraktor pondasi tidak mendapatkan detail standar pekerjaan. sehingga tekukan2 tulangan sering terlewati. mungkin anggapannya karena “hanya pekerjaan pondasi doang”
    – Pengangkatan tremie pada saat cor, saya setuju dengan pak wir. itu lah yg dinamakan seni orang proyek. tp ga sembarangan. supervisor sebelumnya sudah mengetahui berapa tinggi beton yg sudah tercor, berapa tremie yg terpasang saat cor, & berapa meter tremie yg tertanam dalam beton. jd itu semua sudah diperhitungkan sebelumnya.

  68. permisi pak mau nanya nih
    kebetulan untuk tugas nih (maklum anak kuliah cieeee)
    kalau mau mendesain tiang bor untuk sebuah konstruksi jembatan
    namun data tanah yg tersedia hanya ada data tabel NSPT saja tanpa ada kejelasan tipe-tipe jenis tanah pada tiap lapisannya gmn ya pak? mohon pencerahannya. terima kasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s