Dari artikel saya tentang sistem pondasi tiang bor, ada beberapa komentar yang bernada pertanyaan, intinya ingin tahu bagaimana memilih sistem pondasi. Saya sebenarnya tidak terlalu ingin menanggapi, bukan karena nggak mau memberi respons tetapi karena saya pikir itu sudah ada di buku-buku text tentang pondasi atau mekanika tanah, dan saya lihat buku-buku seperti itu sudah banyak beredar di toko-toko buku. Apalagi bidang keahlian saya adalah struktur (pondasi adalah daerah grey area). Tapi kalau melihat respon tentang hal tersebut yang cukup banyak, rasanya saya jadi tergelitik untuk sekedar urun rembug juga.
Terus terang, ilmu tentang pondasi yang saya miliki tidak terlalu dalam, tingkat amatir gitulah, tapi sebagai structural engineer yang bertanggung jawab pada bagian konstruksi atas, maka minimal bisalah jika sekedar mengevaluasi sistem pondasi apa yang cocok untuk dipasangkan dengan struktur atas.
Koq bisa begitu ?
Yah, ini ada untungnya dibesarkan dalam budaya jawa.
Emangnya ada hubungannya pak ?
Ya itu ngelmu titen. Jika anda dibesarkan dibawah budaya jawa, maka sejak awal kita sudah dibiasakan untuk mengenali kebiasaan-kebiasaan dan dampaknya. Ciri-ciri dari orang-orang atau alam dan kebiasaan yang dihasilkan, akhirnya kita mempunyai perbendaharaan tentang hubungan sebab-akibat dari suatu subyek (bisa alam atau manusia).
Ingat ada suatu pepatah yang sangat umum bagi orang jawa, yaitu “tak titeni lho”, atau juga “otak-atik gathuk”, “katuranggan”, dsb.
Itu pula yang saya gunakan untuk memahami strategi orang dalam memilih pondasi. Tentu saja tidak hanya mengandalkan ngelmu titen tersebut, tetapi selanjutnya dicarikan korelasinya dengan ilmu rekayasa yang kita pelajari. Jadilah itu.
Memang benar bahwa untuk memilih pondasi maka perlu melihat besarnya gaya-gaya reaksi dari strukturnya, tapi menurut saya itu tidak cukup. Seorang structural engineer harus melihat secara komprehensip dan dialah yang memutuskan sistem pondasi apa yang dipilih, bahkan menentukan spesifikasi dari sistem pondasi tersebut, bukan soil engineer atau foundation engineer.
Si soil atau foundation engineer akan bekerja berdasarkan spesifikasi yang diminta oleh si structural engineer. Mereka akan mengajukan usulan-usulan sistem yang memenuhi persyaratan si structural engineer, khususnya kekuatan pondasi dalam menerima beban, resiko terjadinya displacement yang dapat mempengaruhi struktur, kelayakan pelaksanaan dan juga pengaruhnya terhadap lingkungan.
Dalam menentukan spesifikasi sistem pondasi atau bahkan menentukan sistem struktur yang akan diadopsi maka ada baiknya si engineer memahami kondisi lingkungan dimana struktur tersebut akan dibangun. Ini penting, bagaimanapun yang namanya proyek adalah sangat spesifik. Pemahaman akan kondisi alam sejak awal akan sangat membantu memilih sistem struktur juga pondasi yang dapat dipilih.
Untuk struktur yang mencakup suatu lokasi yang relatif kecil (tidak luas) maka data penyelidikan tanah setempat dan lokasi mungkin sudah mencukupi sebagai gambaran awal memilih sistem yang dimaksud. Di Kalimantan misalnya, didaerah yang ternyata adalah tanah gambut, jika disitu akan dibangun gedung misalnya maka faktor berat struktur dan pondasi dalam tentunya sudah mewarnai strategi perencanaan yang harus dikerjakan. Sebaiknya dipilih struktur yang relatif ringan, tidak peka terhadap differential settlement dan tentu saja sistem pondasi dangkal tidak bisa digunakan karena beresiko tinggi terhadap penurunan tanah jangka panjang.
Jadi kecuali daya dukung pondasi (forces) maka penurunan pondasi (displacement) juga perlu menjadi patokan dalam memilih sistem pondasi. Pondasi yang masuk dalam kelompok pondasi dangkal (telapak, footing, cakar ayam, laba-laba, pondasi menerus) beresiko tinggi terhadap kemungkinan terjadinya penurunan jangka panjang, khususnya jika tanah dibawahnya mayoritas adalah lempung (clay), kalau pasir (tertentu) perhatikan bisa juga terjadi efek liquifaction bila ada gempa. Meskipun jelas, pondasi dangkal relatif pengerjaannya sederhana dan berbiaya ringan dibanding pondasi dalam (bor atau pancang).

Jika ternyata diperlukan sistem pondasi dalam, maka ada beberapa pilihan, untuk gedung umumnya dua macam saja yaitu pondasi tiang pancang dan tiang bor. Pondasi caisson umum dipakai untuk jembatan. Jika dari mekanisme pengalihan gaya yang ditinjau maka dari sistem pondasi dalam tersebut dapat dipisahkan menjadi dua yaitu gaya dari ujung pondasi ditransfer ke tanah melalui mekanisme friksi (dinding tiang pondasi) dan melalui mekanisme tumpu (ujung tiang pondasi).
Jika tiang pondasi di pasang (pancang atau bor) sampai tanah keras (SPT > 40) maka yang akan bekerja adalah mekanime tumpu. Ini merupakan mekanisme yang paling andal melawan resiko terjadinya penurunan. dengan asumsi bahwa daya dukung tanah OK.
Mekanisme tumpu sangat dipengaruhi oleh diameter ujung tiang yang bertemu dengan tanah, jadi semakin besar diameternya maka semakin besar daya dukung tumpu yang dihasilkan. Berkaitan dengan hal tersebut maka sistem pondasi tiang bor, yang memungkinkan mempunyai diameter yang besar maka lebih unggul dibanding tiang pancang. Bahkan untuk sistem pondasi Franki yang mempunyai alat untuk memperbesar ujung pondasi jelas akan sangat menguntungkan. Itu pula yang menjawab mengapa jika diperlukan sistem pondasi dengan daya dukung besar, misal 300 ton atau lebih maka sistem pondasi tiang bor akan menjadi prioritas untuk dipertimbangkan. Untuk pondasi tiang pancang, karena ukurannya terbatas oleh alat angkut, maka kapasitasnya juga terbatas. Jika dipaksakan maka perlu jumlah tiang pancang yang lebih banyak. Perlu dipikirkan pile-cap dan ruangnya.
Kalau begitu pakai aja pondasi tiang bor.
Ya, nggak bisa begitu dong, jika karena gaya-gayanya memungkinkan memakai tiang pancang, mengapa tidak. Jika digunakan pondasi tiang pancang maka jelas, tiangnya sudah dibuat terlebih dulu, bahkan dapat memakai baja atau beton prategang. Kalau pakai tiang bor khan nggak bisa. Kedua material tersebut mempunyai keunggulan, lebih reliable dibanding beton bertulang pada pondasi tiang bor yang harus dicor ditempat. Kualitasnya tergantung kontraktor yang mengerjakan.
Jadi ini masalah keyakinan sistem struktur yang tertanam di bawah tanah tersebut.
Jika pakai tiang pancang, maka karena daya dukung relatif kecil dibanding tiang bor maka perlu jumlah tiang pancang yang lebih banyak. Kalau dipakai tiang bor karena daya dukung bisa gede, tentunya pakai diameter tiang bor yang lebih gede dari tiang pancang lho, kalau pakai diameter sama maka daya dukung tiang bor kalah lho dengan tiang pancang. Ingat tentang fenomena paku, yang dipaku langsung dengan dibor dulu. Kaku mana hayo.
Tetapi keyakinan bahwa bagian bawah mutu tiangnya baik maka yang bisa diandalkan adalah tiang pancang, daerah lemah khan hanya pada sambungannya. Kalau ini bisa diatasi, pasti ok. Jadi resiko gagal untuk tiang pancang relatif kecil dibanding tiang bor dalam segi pelaksanaannya. Jadi katakanlah dalam suatu proyek jika dipakai tiang pancang perlu 100 tiang, maka jika gagal satu maka hanya 1% saja, tapi coba jika pakai tiang bor yang hanya perlu katakanlah 50 tiang, maka jika gagal satu maka prosentasi kegagalan 2%, lebih tinggi.
Dalam memilih tentu hal tersebut perlu dipertimbangkan.
Itu di atas baru dari sisi kekuatan dan kekakuan, bagaimana yang lain.
O ya perlu diperhatikan juga sistem struktur atas yang digunakan, misalnya untuk struktur ’statis tertentu’ dan ’struktur statis tak-tentu’ akan mempunyai ambang batas yang berbeda berkaitan dengan adanya penurunan (differential settlement).
Ingat pondasi yang nggak kuat itu dapat dilihat dari terjadinya penurunan gitu lho. Jadi kekuatan dan kekakuan itu adalah barangnya sebenarnya sama aja. Hanya cara memandang aja.
Tadi diatas, saya meminta untuk melihat kondisi proyek, ini penting karena pelaksanaan sistem pondasi dalam di atas mempengaruhi tanah disekitarnya. Tiang pancang, kecuali menghasilkan noise yang mengganggu (coba aja anda mancang di dekat rumah presiden, kena complaint dah
). Juga tanah bisa terpengaruh, contohnya heave. Itu bisa diatasi dengan strategi pelaksanaan. Tapi kalau rumah tetangganya yang pakai pondasi dangkal terpengaruh heave tersebut, sehingga terangkat dan rumahnya retak-retak. Hayo gimana ayo. Sistem pondasi tiang bor kurang beresiko kalau soal itu.
Ketersediaan teknologi dan material. Ya ini lain soal, ini umumnya masalah kontraktor.
Banyak khan yang menjadi bahan pertimbangan untuk memilih pondasi tersebut. Jadi rasanya tidak ada formula pendek untuk menetapkan suatu pilihan. Inilah seninya engineer tersebut. Nggak bisa tuh, engineer ‘baru masuk’ langsung ‘cespleng’, perlu jam terbang. Gitu lho.
Ada yang mau menambahin.
Eh pak, mana kaitannya dengan ngelmu titen yang bapak singgung di depan.
Eh kamu, itu. Saya bisa nulis banyak di atas, itu ya dari ngelmu itu, di textbook nggak ada itu, kalaupun ada, terpisah-terpisah. Lha dengan ngelmu titen tadi saya bisa merangkainya menjadi sesuatu fenomena yang logis gitu.
Jadi itulah gunanya melihat ke lapangan. chek and richek gitu lho. ![]()







27 tanggapan so far ↓
alief // Desember 20, 2007 pada 6:17 pm
bikin Kaleidoskop-Blog™ yuk… Liat contohnya di
http://alief.wordpress.com/
Jimmy // Desember 21, 2007 pada 2:28 am
Pak Wir Yth,
1. adakah perbedaan perhitungan (rumus) daya dukung pondasi untuk tiang pancang dan bored pile?
2. Bagaimana menghitung daya dukung pondasi pancang untuk struktur cable stayed, khususnya di area Back stayed dimana pondasi cenderung terangkat?
Terima kasih Pak Wir.
satya // Desember 21, 2007 pada 2:33 pm
pak wir yth,kalau kita udah mancang banyak dibawah matfondation, trus baru disadari klu terjadi “heave”.
gimana ya ngatasinya, apakah dipukul kembali atau dibiarkan aja lanjut terus mancangnya.
bagaimana dng daya dukung tiang-tiang yang sudah nyembul (heave) tersebut.
terimakasih..
Asep Setiawan // Desember 22, 2007 pada 3:28 am
Pa Wir,
Saya mau download di box.net ko ga bisa ya?
tulisannya begini : This user is out of bandwidth.
Please email support@box.net for support
Tolong di bantu ya pak.
Terimakasih.
evanrama // Desember 23, 2007 pada 7:46 am
sip pak, bagaimana dengan penerapan prinsip2 perbaikan tanah sebelum pemasangan pondasi pada tanah eks rawa -rawa, metode apa yg paling cocok?
desy // Desember 24, 2007 pada 12:05 am
Pak….terima kasih atas jawabannya…
Tetapi sekarang ada 2hal lagi yang ingin saya tanyakan….
“Bagaimanakah menghitung efisiensi pondasi kelompok tiang pada tanah pasir?…Apakah ada rumus Khusus?…
“Apakah efisiensinya lebih dari 1..?? Terus apa alasannya Pak?..
Terima kasih banyak ya Pak atas balasannya….
iksan // Januari 2, 2008 pada 4:39 am
Salam kenal pak WIR.
Perkenalkan pak, nama saya Iksan,saya adalah seorang drafter structure di konsultan asing tapi saya setiap sabtu minggu “nyambi” kuliah jur.teknik sipil di UMB.
Ada 3 hal yg ingin saya tanyakan ke bapak sbb :
1.apa kiat-kiat menjadi seorang engineer civil & structure yg berkualitas?
2.peraturan2 apa saja yg harus diketahui untuk sebuah design civil & struktur?
sementara itu dulu pak, semoga jawaban dari bapak bisa membantu saya untuk mewujudkan cita2 menjadi seorang engineer civil & structure di kemudian hari. amin 99x
oiya, @pak doni tampubolon,
maaf pak saya belum bisa ketemu pak doni.habis kuliah trus pak..
saya udah lama gak buka website pak wir ini.hehehe…makanya baru sempet gabung sekarang.mungkin 2minggu lagi kita ketemu y pak,terserah pak doni mau dimana.
trima kasih
saya juga mengucapkan terima kasih kepada pak WIRYANTO DEWOBROTO, karena dengan website ini pengetahuan saya bertambah mengenai hal “civil & structure”.. salut dg pak WIR..hehehehe(sami-sami saking yogja niki pak)
matur nuwun
yonas // Januari 13, 2008 pada 5:32 pm
kpd pak wir
pak wir banyak karya anda yang sangat bermanfaat.
saya mau tanya satu hal yaitu bagaimana menghadapi kultur masyarakat tentang tempat keramat yang gak boleh dibangun. percaya gak percaya tukang saya pernah jatuh sampe 3x dan terpaksa proyek dihentikan dengan alasan ada penunggunya.
Rugi donk…..
thanx .
wir // Januari 14, 2008 pada 4:13 am
sdr. Yonas,
**tempat keramat**
Menarik sekali, tapi yang jelas hal-hal seperti itu sudah mulai tidak mempan, tempat-tempat yang seharusnya dilindungi oleh kearifan alam, dengan mengganggapnya keramat ternyata dalam kenyataan kalah oleh keserakahan manusia. Coba lihat itu mengapa hutan-hutan menjadi gundul, yang notabene dianggap keramat oleh masyarakat pendahulu.
Jadi kalau demikian, sampai proyek dihentikan itu berarti yang mengerjakan proyek masih termasuk golongan masyarakat pendahulu.
Kalau masyarakat sekarang, rasanya di adu dengan duit bisa kalah lho hal-hal seperti itu. Caranya, ya tidak ditangani sendiri, mereka menerapkan konsep manajemen yaitu dapat memilih pemberi solusi yang tepat yang umumnya dari masyarakat yang menganggap keramat tersebut. Sebagai contoh, saya ada teman yang menangani proyek jalan tol Cipularang, katanya : sudah beberapa kambing itu yang dihabiskan untuk ngadain kenduri. Ternyata jalan juga khan. Bayangin di proyek itu ada cerita tentang pocong segala, wah seru lho.
Yah, begitulah, bagaimaan nalar mengalahkan kepercayaan. Kuncinya di pikiran pekerja-pekerjanya. Kalau perlu pakai strategi primitif.
Anton // Januari 14, 2008 pada 5:43 am
yth pak wir dan semuanya…
saya terarik dengan artikel blog bapak khususnya yang berjudul :” pekerjaan tiang bor dan memilih jenis pondasi”..
ada beberapa hal yang menjadi concern, antara lain :
1. mengenai beton tremi…apakah ada yang punya referensi mengenai tremi ini…yang membahas didalamnya detail mix desain concrete-nya, mengingat untuk beberapa kasus ..pondasi dalam..sehingga yang menjadi pertanyaan adalah.. seberapa tinggi dan lebar dari bore pile yang diizinkan..agar beton segar (fresh concrete) dapat terdorong hingga permukaan tanah secara kontinu..
2. ada yg punya spesifikasi dan metode pelaksanaan pekerjaan pondasi khususnya membahas tremi..
thx..
Fiar // Februari 1, 2008 pada 6:48 pm
Salam kenal pak wir,
saya mau tanya nih tentang pondasi dalam,
apa metoda yang bagus untuk menentukan friksi pada pondasi bore pile?
JHP, alpa,tomlinson atau ada yg lain?
referensi yg bagus apa?
Eh iya, ada yg punya e-bo0k nya Braja M. DAS gak?
trus sama TIA/EIA-222-G, kalo ada yg punya dishare donk ..
thanks b4.
marlon // Februari 6, 2008 pada 4:22 pm
pak yang baik hati, gimana cara perhitungan Ka yang permukaan lerengnya tidak datar?
dik
sudut geser dalam 16,4
kemiringan lereng 70
kohesi 1.17
tinggi longsoran 22m
mohon bantuan bapak??
"rampy" // Februari 6, 2008 pada 4:46 pm
pak wir salam kenal
pak wir ada yang saya mau tanyakan mengenai pondasi cakar ayam pada jln tol menuju bandara soekarno hatta yang katanya jln terus turun, apa yg salah pak ?
pondasi cakar ayam kan temuan Indonesia, udah banyak yg menerapkan selain di Indonesia ?
Thanks
wir // Februari 6, 2008 pada 8:03 pm
sdr Rampy.
Tidak ada yang salah dengan sistem pondasi cakar ayam. Dia telah menunjukkan sukses dipakai selama ini.
Sukses dalam arti kata bahwa jalan dapat tetap berada di atas permukaan tanah sebagai satu kesatuan struktur yang dapat dibebani. Pada jalan yang terlihat tersebut, tidak dijumpai retak atau pecah atau sebagainya. Tepatnya jalannya utuh.
Adapun mengalami penurunan terus itu akibat tanah dibawahnya, yang tidak kuat terhadap keberadaan jalan tersebut. Ini perlu diketahui karena pada prinsipnya pondasi cakar ayam adalah sistem pondasi dangkal, suatu sistem pondasi yang memang rawan terhadap penurunan tanah.
Jadi bagaimanapun baiknya sistem pondasi tersebut, baca penelitian teman-teman UGM, selama itu masih dikategorikan sebagai pondasi dangkal maka resiko penurunan akan tetap ada.
Sistem pondasi seperti itu cocok digunakan pada sistem struktur dengan beban relatif ringan , tetap dan setempat (lokal). Itu sudah dibuktikan untuk pondasi menara listrik. Karena jika bebannya fix, ringan dan setempat maka efek penurunan tidak terlalu terasa.
Kalau untuk jalan, ini khan kebalikannya. Menerus itu nggak baik, karena kalau ada penurunan dan strukturnya tidak kuat pasti akan pecah (efek differential settlement). Selain itu bebannya sekarang khan bertambah volume lalu-lintasnya bila dibandingkan dengan jaman dulu ketika Prof.Sedyatmo membangunnya. Sekarang tol tersebut khan tidak hanya untuk bandara, tetapi juga untuk lalu lintas industri di sekitarnya. Beban bertambah, jadi resiko turun lebih besar, ditambah kondisi lingkungan yang berubah. Lha begitulah jadinya.
Jadi jangan disalahkan yang membikin, yaitu prof Sedyatmo, jaman tersebut itu merupakan inovasi dengan batasan-batasan pemikiran waktu itu. Kalau kemudian batasan-batasan tersebut berubah, ya jelas hasilnya akan berubah juga.
Jangan bayangkan suatu solusi akan berlaku mutlak sepanjang massa (abadi) meskipun jaman juga berubah. Itulah gunakan maintenance, itu juga perlu untuk infrastruktur teknik sipil sekalipun. Nggak hanya untuk mobil doang. Gitu lho.
untuk teman-teman yang lain
Anton ttg tremie ; Fiar tentang metode ; Marlon tentang lereng
untuk yang detail tentang pondasi, saya belum bisa menjawab tuntas ya. Mungkin ada teman ahli lain yang bisa membantu ?
trim mau berkunjung dan memberi komentar.
salam sejahtera semua.
Fiar // Februari 10, 2008 pada 11:31 am
yah kok belum di jawab ya pak wir
asep // Februari 10, 2008 pada 12:12 pm
Salam hormat pak Wiryanto,
Saya awam dalam masalah arsitektur, ketika membuka blog bapak saya sangat tertarik dengan artikel2 di dalamnya. Dan saya ingin bertanya beberapa hal, mengenai bangunan.
Saya memiliki rumah type 36/84, dibelakangnya ada lahan (2x 6M) yang perlu pengembangan lagi. Dan akan dibuatkan 1 ruang perpustakaan/baca disamping kamar tidur anak. Rencananya saya membangunnya menjadi 2 tingkat dan dibawah tangga ke lt 2 dibuat wc. Dan lantai atas untuk tempat jemuran dan 1 kamar tidur pembantu.
Mohon bantuannya dibuatkan denah untuk pengembangan rumah tsb? Rumah tsb masih menggunakan pondasi biasa, berapa ukuran yang baik untuk cakar ayam dan berapa buah cakar ayam yang diperlukan?
Terima kasih
= tanah yang akan dikembangkan
Sani Adipura Winata // Februari 14, 2008 pada 7:18 am
Salam P Wir,
sekedar share aja, saya hendak jawab pertanyaan sdr Fiar.
Metoda cara menentukan yang bagus yang mana yach? “Do Not Design on the Paper What you have to wish into the ground” (Karl Terzaghi).. Unlike many Engineering discipline Geotechnical not pure science but rather it is an art from that required both judgment and experience to at arrive satisfactory solution.
Jadi metoda mana yang paling bagus ? Metoda alfa, Beta atau Corellation ((qc/JHP), SPT) semuanya boleh digunakan tergantung kondisi lapangan, jika lapisan clay mungkin metoda alfa lebih cocok, kalau pasir mungkin metoda beta yang digunakan…JHP dari data sondir atau corelasi SPT boleh juga digunakan …untuk estimate ..pada akhirnya test pile untuk meng validation sejauh mana kebenaran perhitungan di atas kertas.
Jadi sejauh mana estimate kita benar adalah tergantung…verify dan Interpretation soil parameter , apakah soil test yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan design ?
Mungkin itu aja mohon maaf bila ada kata tersilap.
Salam.
Sani Adipura Winata // Februari 14, 2008 pada 7:25 am
Maaf pertanyaan kedua belum terjawab.
TIA-EIA-222-G kurang lebih sama dengan F cuma section capacity sudah mengacu pada AISC-LRFD.
Untuk pembebanan angin kurang lebih sama dimana basic wind speed diambil Fastest miles dan 3 sec Gust.
maaf saya tak punya e-book nya
thanks.
Fadli // Februari 15, 2008 pada 6:46 am
Dapatkah saya dibantu untuk perhitungan struktur gedung 2 lantai.
Masalah fee dapat dinegosiasikan
heribertus // Februari 22, 2008 pada 4:42 am
Salam Sejahtera pak Wir,
Pak Wir, Dapat kah saya membaca dan mendapatkan lebih banyak referensi tentang pondasi misalnya sumuran,tiang pancang dan cerucuk, saya lagi penelitian untuk tugas akhir S1,Thank,dari Heribertus di Pontianak
Sendy // Februari 28, 2008 pada 6:16 am
Hallo Mas Heribertus,
Mungkin bisa diberikan lebih spesifik topik tugas akhirnya (mungkin saya bisa bantu paper2 yg berhubungan — kalo saya punya)?
Kalo referensi ttg pondasi, menurut saya, terlalu luas dan banyak sekali. Sebagai contoh, di setiap buku mekanika tanah ataupun teknik pondasi (baik dari luar, i.e. J. Bowles, B.M. Das, Tomlinson, etc, maupun dalam negeri, i.e. Indrasurya&Nooh (ITS), Hary Christady (UGM)) dapat ditemukan banyak references dibagian belakang buku ataupun setiap bab.
best regards.
Jeffrey // Februari 29, 2008 pada 10:28 am
Dear,
Pak Wir gimana kira2 pemecahan masalah jika rumah saya misalnya tiba2 retak pada lantai dan temboknya. jenis tanahnya adalah clay, dan berada di lereng miring. terus terang saya udah coba pake crucuk dll tapi kok tetep aja!!
thanks atas advicenya!
wir // Februari 29, 2008 pada 10:17 pm
@Jeffrey
Wah masalah tanah, ini kayaknya cocok dijawab oleh mas Sani A.W atau mas Sendy yang sudah comment di atas.
Tapi ada baiknya saya coba melihat dari kaca mata structural engineer yang mungkin relatif awam dengan tanah sehingga cukup sederhana untuk dimengerti.
Tiba-tiba retak, berarti menunjukkan adanya deformasi pada tanah dibawahnya. Bisa retak jika struktur tidak didesain untuk mampu menerima differential settlement, yaitu adanya perbedaan penurunan antara bagian tumpuan satu dengan yang lain, sifatnya lokal pada bagian bangunan tersebut.
Penyebabnya apa ?
Jika bukan tanah miring maka penyebabnya adalah beban yang berada di atasnya. jika tanahnya pasir maka deformasi akan terjadi sesaat setelah beban bekerja, dan setelah ‘padat’ maka akan berhenti. Sedangkan jika clay, karena ada sifat konsolidasi maka penurunan yang terjadi merupakan suatu fungsi waktu, bisa berlangsung lama dan itu ditentukan oleh ketebalan lapisan clay tersebut.
jadi dipakainya cerucuk tidak jaminan, cerucuk hanya membantu menyebarkan beban pada kedalaman cerucuk tersebut yang umumnya terbatas. Tapi jika ketebalan tanah clay lebih besar dari cerucuk maka jelas bagian yang lain ini yang akan menimbulkan deformasi. Itulah mengapa, lain waktu lagi masih terjadi fenomena retak-retak.
Salah satu solusi sederhana adalah mengusahakan bagian pondasi atau tie-beam cukup kaku, ini khususnya untuk rumah yang relatif mempunyai luasan yang kecil dan bobot ringan. Sehingga jika ada penurunan maka keseluruhan bangunan akan turun tetapi tidak retak. Kalau mau efektif , ya pakai aja pondasi dalam. Beres !
Pada tanah miring, selain kasus di atas, maka akan ada juga tambahan deformasi yang disebabkan oleh pengaruh stabilitas lereng. Tapi ini kasusnya bisa global. rumah didekatnya juga terpengaruh. Kalau tanah clay fenomenanya kadang-kadang aneh, jika kering maka stabil, tetapi jika ada hujan, wah bisa gawat itu. Oleh karena hati-hati jangan sampai ada retakan pada tanah clay yang menampung air.
Yah, begitulah pak, dari kaca mata awam saja (bukan ahli geoteknik) penyebabnya bisa banyak dan rumit. Pantes belajar geoteknik lebih susah.
irma aswani // Maret 2, 2008 pada 8:27 am
nimbrung lagi nih pak wir
Apakabarnya?
Saya pernah melihat gambar rencana, pake sloof pada pondasi dangkal (poer) kemudian ditambah dengan tiang pancang. Ada juga gambar rencana, ada sloof digunakan pondasi dalam (tiang pancang) dengan pile cap..
Tolong kasi komentar dong pak wir.. dari segi jenis pondasinya.
terima kasih banyak
wir // Maret 2, 2008 pada 2:32 pm
tidak ada yang aneh kecuali ini :
Itu perlu minta penjelasan lagi, apa betul seperti itu. Kenapa ? Karena pada pondasi yang sama tidak bisa diharapkan kekuatan pondasi adalah gabungan antara pondasi dalam dan pondasi dangkal. Secara sederhana nggak bisa digabung, apalagi jika pondasi dalamnya tipe bearing pile. Semua beban akan masuk ke pondasi dalam.
Untuk tanah dengan lapisan tanah keras yang sangat dalam, sehingga dipakai pondasi dalam tipe friksi maka ada kemungkinan digunakan pondasi gabungan yang disebut pile-raft, pondasi cakar ayam bisa termasuk dalam hal ini. Hanya sayang yang disebut pile relatif pendek dan besar, meskipun kuat tetapi rentan terhadap penurunan tanah akibat efek konsolidasi. Itu aja ya.
budi syekhabuddin nugroho // Maret 22, 2008 pada 6:15 am
contoh perhitungan pondasi ada ngga pa wir ?
kaya pondasi bored pile
tq pa wir
fathurrahman // Juni 23, 2008 pada 4:48 am
Pa…
bisa bantu saya dalam penelitian Perilaku Tanah Lunak di daerah Rawa Pasang Surut, berupa data-data dan referensi lainnya. Terimakasih
Tinggalkan Komentar