memilih sistem pondasi


Dari artikel saya tentang sistem pondasi tiang bor, ada beberapa komentar yang bernada pertanyaan, intinya ingin tahu bagaimana memilih sistem pondasi. Saya sebenarnya tidak terlalu ingin menanggapi, bukan karena nggak mau memberi respons tetapi karena saya pikir itu sudah ada di buku-buku text tentang pondasi atau mekanika tanah, dan saya lihat buku-buku seperti itu sudah banyak beredar di toko-toko buku. Apalagi bidang keahlian saya adalah struktur (pondasi adalah daerah grey area). Tapi kalau melihat respon tentang hal tersebut yang cukup banyak, rasanya saya jadi tergelitik untuk sekedar urun rembug juga.

Terus terang, ilmu tentang pondasi yang saya miliki tidak terlalu dalam, tingkat amatir gitulah, tapi sebagai structural engineer yang bertanggung jawab pada bagian konstruksi atas, maka minimal bisalah jika sekedar mengevaluasi sistem pondasi apa yang cocok untuk dipasangkan dengan struktur atas.

Koq bisa begitu ?

Yah, ini ada untungnya dibesarkan dalam budaya jawa.

Emangnya ada hubungannya pak ?

Ya itu ngelmu titen. Jika anda dibesarkan dibawah budaya jawa, maka sejak awal kita sudah dibiasakan untuk mengenali kebiasaan-kebiasaan dan dampaknya. Ciri-ciri dari orang-orang atau alam dan kebiasaan yang dihasilkan, akhirnya kita mempunyai perbendaharaan tentang hubungan sebab-akibat dari suatu subyek (bisa alam atau manusia).

Ingat ada suatu pepatah yang sangat umum bagi orang jawa, yaitu “tak titeni lho”, atau juga “otak-atik gathuk”, “katuranggan”, dsb.

Itu pula yang saya gunakan untuk memahami strategi orang dalam memilih pondasi. Tentu saja tidak hanya mengandalkan ngelmu titen tersebut, tetapi selanjutnya dicarikan korelasinya dengan ilmu rekayasa yang kita pelajari. Jadilah itu.

Memang benar bahwa untuk memilih pondasi maka perlu melihat besarnya gaya-gaya reaksi dari strukturnya, tapi menurut saya itu tidak cukup. Seorang structural engineer harus melihat secara komprehensip dan dialah yang memutuskan sistem pondasi apa yang dipilih, bahkan menentukan spesifikasi dari sistem pondasi tersebut, bukan soil engineer atau foundation engineer

Si soil atau foundation engineer akan bekerja berdasarkan spesifikasi yang diminta oleh si structural engineer. Mereka akan mengajukan usulan-usulan sistem yang memenuhi persyaratan si structural engineer, khususnya kekuatan pondasi dalam menerima beban, resiko terjadinya displacement yang dapat mempengaruhi struktur, kelayakan pelaksanaan dan juga pengaruhnya terhadap lingkungan.  

Dalam menentukan spesifikasi sistem pondasi atau bahkan menentukan sistem struktur yang akan diadopsi maka ada baiknya si engineer memahami kondisi lingkungan dimana struktur tersebut akan dibangun. Ini penting, bagaimanapun yang namanya proyek adalah sangat spesifik. Pemahaman akan kondisi alam sejak awal akan sangat membantu memilih sistem struktur juga pondasi yang dapat dipilih.

Untuk struktur yang mencakup suatu lokasi yang relatif kecil (tidak luas) maka data penyelidikan tanah setempat dan lokasi mungkin sudah mencukupi sebagai gambaran awal memilih sistem yang dimaksud. Di Kalimantan misalnya, didaerah yang ternyata adalah tanah gambut, jika disitu akan dibangun gedung misalnya maka faktor berat struktur dan pondasi dalam tentunya sudah mewarnai strategi perencanaan yang harus dikerjakan. Sebaiknya dipilih struktur yang relatif ringan, tidak peka terhadap differential settlement dan tentu saja sistem pondasi dangkal tidak bisa digunakan karena beresiko tinggi terhadap penurunan tanah jangka panjang.

Jadi kecuali daya dukung pondasi (forces) maka penurunan pondasi (displacement) juga perlu menjadi patokan dalam memilih sistem pondasi. Pondasi yang masuk dalam kelompok pondasi dangkal (telapak, footing, cakar ayam, laba-laba, pondasi menerus) beresiko tinggi terhadap kemungkinan terjadinya penurunan jangka panjang, khususnya jika tanah dibawahnya mayoritas adalah lempung (clay), kalau pasir (tertentu) perhatikan bisa juga terjadi efek liquifaction bila ada gempa. Meskipun jelas, pondasi dangkal relatif pengerjaannya sederhana dan berbiaya ringan dibanding pondasi dalam (bor atau pancang).

Jika ternyata diperlukan sistem pondasi dalam, maka ada beberapa pilihan, untuk gedung umumnya dua macam saja yaitu pondasi tiang pancang dan tiang bor. Pondasi caisson umum dipakai untuk jembatan. Jika dari mekanisme pengalihan gaya yang ditinjau maka dari sistem pondasi dalam tersebut dapat dipisahkan menjadi dua yaitu gaya dari ujung pondasi ditransfer ke tanah melalui mekanisme friksi (dinding tiang pondasi) dan melalui mekanisme tumpu (ujung tiang pondasi).

Jika tiang pondasi di pasang (pancang atau bor) sampai tanah keras (SPT > 40) maka yang akan bekerja adalah mekanime tumpu. Ini merupakan mekanisme yang paling andal melawan resiko terjadinya penurunan. dengan asumsi bahwa daya dukung tanah OK.

Mekanisme tumpu sangat dipengaruhi oleh diameter ujung tiang yang bertemu dengan tanah, jadi semakin besar diameternya maka semakin besar daya dukung tumpu yang dihasilkan. Berkaitan dengan hal tersebut maka sistem pondasi tiang bor, yang memungkinkan mempunyai diameter yang besar maka lebih unggul dibanding  tiang pancang. Bahkan untuk sistem pondasi Franki yang mempunyai alat untuk memperbesar ujung pondasi jelas akan sangat menguntungkan. Itu pula yang menjawab mengapa jika diperlukan sistem pondasi dengan daya dukung besar, misal 300 ton atau lebih maka sistem pondasi tiang bor akan menjadi prioritas untuk dipertimbangkan. Untuk pondasi tiang pancang, karena ukurannya terbatas oleh alat angkut, maka kapasitasnya juga terbatas. Jika dipaksakan maka perlu jumlah tiang pancang yang lebih banyak. Perlu dipikirkan pile-cap dan ruangnya. 

Kalau begitu pakai aja pondasi tiang bor.

Ya, nggak bisa begitu dong, jika karena gaya-gayanya memungkinkan memakai tiang pancang, mengapa tidak. Jika digunakan pondasi tiang pancang maka jelas, tiangnya sudah dibuat terlebih dulu, bahkan dapat memakai baja atau beton prategang. Kalau pakai tiang bor khan nggak bisa. Kedua material tersebut mempunyai keunggulan, lebih reliable dibanding beton bertulang pada pondasi tiang bor yang harus dicor ditempat. Kualitasnya tergantung kontraktor yang mengerjakan.

Jadi ini masalah keyakinan sistem struktur yang tertanam di bawah tanah tersebut.

Jika pakai tiang pancang, maka karena daya dukung relatif kecil dibanding tiang bor maka perlu jumlah tiang pancang yang lebih banyak. Kalau dipakai tiang bor karena daya dukung bisa gede, tentunya pakai diameter tiang bor yang lebih gede dari tiang pancang lho, kalau pakai diameter sama maka daya dukung tiang bor kalah lho dengan tiang pancang. Ingat tentang fenomena paku, yang dipaku langsung dengan dibor dulu. Kaku mana hayo.

Tetapi keyakinan bahwa bagian bawah mutu tiangnya baik maka yang bisa diandalkan adalah tiang pancang, daerah lemah khan hanya pada sambungannya. Kalau ini bisa diatasi, pasti ok. Jadi resiko gagal untuk tiang pancang relatif kecil dibanding tiang bor dalam segi pelaksanaannya. Jadi katakanlah dalam suatu proyek jika dipakai tiang pancang perlu 100 tiang, maka jika gagal satu maka hanya 1% saja, tapi coba jika pakai tiang bor yang hanya perlu katakanlah 50 tiang, maka jika gagal satu maka prosentasi kegagalan 2%, lebih tinggi.

Dalam memilih tentu hal tersebut perlu dipertimbangkan.

Itu di atas baru dari sisi kekuatan dan kekakuan, bagaimana yang lain.

O ya perlu diperhatikan juga sistem struktur atas yang digunakan, misalnya untuk struktur ‘statis tertentu’ dan ‘struktur statis tak-tentu’ akan mempunyai ambang batas yang berbeda berkaitan dengan adanya penurunan (differential settlement).

Ingat pondasi yang nggak kuat itu dapat dilihat dari terjadinya penurunan gitu lho. Jadi kekuatan dan kekakuan itu adalah barangnya sebenarnya sama aja. Hanya cara memandang aja.

Tadi diatas, saya meminta untuk melihat kondisi proyek, ini penting karena pelaksanaan sistem pondasi dalam di atas mempengaruhi tanah disekitarnya. Tiang pancang, kecuali menghasilkan noise yang mengganggu (coba aja anda mancang di dekat rumah presiden, kena complaint dah :) ). Juga tanah bisa terpengaruh, contohnya heave. Itu bisa diatasi dengan strategi pelaksanaan. Tapi kalau rumah tetangganya yang pakai pondasi dangkal terpengaruh heave tersebut, sehingga terangkat dan rumahnya retak-retak. Hayo gimana ayo. Sistem pondasi tiang bor kurang beresiko kalau soal itu.

Ketersediaan teknologi dan material. Ya ini lain soal, ini umumnya masalah kontraktor.

Banyak khan yang menjadi bahan pertimbangan untuk memilih pondasi tersebut. Jadi rasanya tidak ada formula pendek untuk menetapkan suatu pilihan. Inilah seninya engineer tersebut. Nggak bisa tuh, engineer ‘baru masuk’  langsung ‘cespleng’, perlu jam terbang. Gitu lho. 

Ada yang mau menambahin.

Eh pak, mana kaitannya dengan ngelmu titen yang bapak singgung di depan.

Eh kamu, itu. Saya bisa nulis banyak di atas, itu ya dari ngelmu itu, di textbook nggak ada itu, kalaupun ada, terpisah-terpisah. Lha dengan  ngelmu titen tadi saya bisa merangkainya menjadi sesuatu fenomena yang logis gitu.

Jadi itulah gunanya melihat ke lapangan. chek and richek gitu lho. :mrgreen:

About these ads

89 gagasan untuk “memilih sistem pondasi

  1. Pak Wir Yth,

    1. adakah perbedaan perhitungan (rumus) daya dukung pondasi untuk tiang pancang dan bored pile?

    2. Bagaimana menghitung daya dukung pondasi pancang untuk struktur cable stayed, khususnya di area Back stayed dimana pondasi cenderung terangkat?

    Terima kasih Pak Wir.

  2. pak wir yth,kalau kita udah mancang banyak dibawah matfondation, trus baru disadari klu terjadi “heave”.
    gimana ya ngatasinya, apakah dipukul kembali atau dibiarkan aja lanjut terus mancangnya.
    bagaimana dng daya dukung tiang-tiang yang sudah nyembul (heave) tersebut.
    terimakasih..

  3. sip pak, bagaimana dengan penerapan prinsip2 perbaikan tanah sebelum pemasangan pondasi pada tanah eks rawa -rawa, metode apa yg paling cocok?

    Wir’s responds : untuk tanah rawa maka masalah yang utama adalah konsolidasi, apalagi itu berkaitan dengan tanah organik. Oleh karena mayoritas perbaikan tanah harus dikaitkan dengan bagaimana mengusahakan konsolidasi segera terjadi, misal dengan memberi ‘saluran’ arah vertikal dan pre-loading.

  4. Pak….terima kasih atas jawabannya…
    Tetapi sekarang ada 2hal lagi yang ingin saya tanyakan….
    “Bagaimanakah menghitung efisiensi pondasi kelompok tiang pada tanah pasir?…Apakah ada rumus Khusus?…
    “Apakah efisiensinya lebih dari 1..?? Terus apa alasannya Pak?..
    Terima kasih banyak ya Pak atas balasannya….

  5. Salam kenal pak WIR.

    Perkenalkan pak, nama saya Iksan,saya adalah seorang drafter structure di konsultan asing tapi saya setiap sabtu minggu “nyambi” kuliah jur.teknik sipil di UMB.

    Ada 3 hal yg ingin saya tanyakan ke bapak sbb :
    1.apa kiat-kiat menjadi seorang engineer civil & structure yg berkualitas?
    2.peraturan2 apa saja yg harus diketahui untuk sebuah design civil & struktur?

    sementara itu dulu pak, semoga jawaban dari bapak bisa membantu saya untuk mewujudkan cita2 menjadi seorang engineer civil & structure di kemudian hari. amin 99x

    oiya, @pak doni tampubolon,
    maaf pak saya belum bisa ketemu pak doni.habis kuliah trus pak..
    saya udah lama gak buka website pak wir ini.hehehe…makanya baru sempet gabung sekarang.mungkin 2minggu lagi kita ketemu y pak,terserah pak doni mau dimana.
    trima kasih

    saya juga mengucapkan terima kasih kepada pak WIRYANTO DEWOBROTO, karena dengan website ini pengetahuan saya bertambah mengenai hal “civil & structure”.. salut dg pak WIR..hehehehe(sami-sami saking yogja niki pak)

    matur nuwun

    Wirs responds: salam kenal juga Iksan, beberapa pertanyaan anda sudah ada jawabannya di artikel-artikelku sebagai berikut.

    Ini kiat-kiat jadi engineer :
    http://wiryanto.wordpress.com/2007/10/31/kunci-sukses-menjadi-seorang-engineer/
    http://wiryanto.wordpress.com/2007/09/18/yang-penting-khan-hasilnya/
    http://wiryanto.wordpress.com/2006/12/09/suggestions-to-the-engineers/

    Ini beberapa peraturan yang sebaiknya diketahui oleh engineer :
    http://wiryanto.wordpress.com/2007/08/10/spek-beban/
    http://wiryanto.wordpress.com/2007/05/28/untuk-tukang-dan-insinyur-bangunan/
    http://wiryanto.wordpress.com/2007/04/23/a-c-i-3-1-8-02-lengkap/
    http://wiryanto.wordpress.com/2007/04/13/eurocode-3-design-of-steel-structures/
    http://wiryanto.wordpress.com/2007/03/20/karya-ilmiah-utama-ke-4-april-2007/

  6. kpd pak wir

    pak wir banyak karya anda yang sangat bermanfaat.

    saya mau tanya satu hal yaitu bagaimana menghadapi kultur masyarakat tentang tempat keramat yang gak boleh dibangun. percaya gak percaya tukang saya pernah jatuh sampe 3x dan terpaksa proyek dihentikan dengan alasan ada penunggunya.

    Rugi donk…..
    thanx .

  7. sdr. Yonas,

    **tempat keramat**
    Menarik sekali, tapi yang jelas hal-hal seperti itu sudah mulai tidak mempan, tempat-tempat yang seharusnya dilindungi oleh kearifan alam, dengan mengganggapnya keramat ternyata dalam kenyataan kalah oleh keserakahan manusia. Coba lihat itu mengapa hutan-hutan menjadi gundul, yang notabene dianggap keramat oleh masyarakat pendahulu.

    Jadi kalau demikian, sampai proyek dihentikan itu berarti yang mengerjakan proyek masih termasuk golongan masyarakat pendahulu. :|

    Kalau masyarakat sekarang, rasanya di adu dengan duit bisa kalah lho hal-hal seperti itu. Caranya, ya tidak ditangani sendiri, mereka menerapkan konsep manajemen yaitu dapat memilih pemberi solusi yang tepat yang umumnya dari masyarakat yang menganggap keramat tersebut. Sebagai contoh, saya ada teman yang menangani proyek jalan tol Cipularang, katanya : sudah beberapa kambing itu yang dihabiskan untuk ngadain kenduri. Ternyata jalan juga khan. Bayangin di proyek itu ada cerita tentang pocong segala, wah seru lho.

    Yah, begitulah, bagaimaan nalar mengalahkan kepercayaan. Kuncinya di pikiran pekerja-pekerjanya. Kalau perlu pakai strategi primitif.

  8. yth pak wir dan semuanya…
    saya terarik dengan artikel blog bapak khususnya yang berjudul :” pekerjaan tiang bor dan memilih jenis pondasi”..

    ada beberapa hal yang menjadi concern, antara lain :
    1. mengenai beton tremi…apakah ada yang punya referensi mengenai tremi ini…yang membahas didalamnya detail mix desain concrete-nya, mengingat untuk beberapa kasus ..pondasi dalam..sehingga yang menjadi pertanyaan adalah.. seberapa tinggi dan lebar dari bore pile yang diizinkan..agar beton segar (fresh concrete) dapat terdorong hingga permukaan tanah secara kontinu..

    2. ada yg punya spesifikasi dan metode pelaksanaan pekerjaan pondasi khususnya membahas tremi..

    thx..

  9. Salam kenal pak wir,

    saya mau tanya nih tentang pondasi dalam,
    apa metoda yang bagus untuk menentukan friksi pada pondasi bore pile?
    JHP, alpa,tomlinson atau ada yg lain?
    referensi yg bagus apa?

    Eh iya, ada yg punya e-bo0k nya Braja M. DAS gak?
    trus sama TIA/EIA-222-G, kalo ada yg punya dishare donk ..
    thanks b4.

  10. pak yang baik hati, gimana cara perhitungan Ka yang permukaan lerengnya tidak datar?

    dik
    sudut geser dalam 16,4
    kemiringan lereng 70
    kohesi 1.17
    tinggi longsoran 22m

    mohon bantuan bapak??

  11. pak wir salam kenal
    pak wir ada yang saya mau tanyakan mengenai pondasi cakar ayam pada jln tol menuju bandara soekarno hatta yang katanya jln terus turun, apa yg salah pak ?

    pondasi cakar ayam kan temuan Indonesia, udah banyak yg menerapkan selain di Indonesia ?
    Thanks

  12. sdr Rampy.

    Tidak ada yang salah dengan sistem pondasi cakar ayam. Dia telah menunjukkan sukses dipakai selama ini.

    Sukses dalam arti kata bahwa jalan dapat tetap berada di atas permukaan tanah sebagai satu kesatuan struktur yang dapat dibebani. Pada jalan yang terlihat tersebut, tidak dijumpai retak atau pecah atau sebagainya. Tepatnya jalannya utuh.

    Adapun mengalami penurunan terus itu akibat tanah dibawahnya, yang tidak kuat terhadap keberadaan jalan tersebut. Ini perlu diketahui karena pada prinsipnya pondasi cakar ayam adalah sistem pondasi dangkal, suatu sistem pondasi yang memang rawan terhadap penurunan tanah.

    Jadi bagaimanapun baiknya sistem pondasi tersebut, baca penelitian teman-teman UGM, selama itu masih dikategorikan sebagai pondasi dangkal maka resiko penurunan akan tetap ada.

    Sistem pondasi seperti itu cocok digunakan pada sistem struktur dengan beban relatif ringan , tetap dan setempat (lokal). Itu sudah dibuktikan untuk pondasi menara listrik. Karena jika bebannya fix, ringan dan setempat maka efek penurunan tidak terlalu terasa.

    Kalau untuk jalan, ini khan kebalikannya. Menerus itu nggak baik, karena kalau ada penurunan dan strukturnya tidak kuat pasti akan pecah (efek differential settlement). Selain itu bebannya sekarang khan bertambah volume lalu-lintasnya bila dibandingkan dengan jaman dulu ketika Prof.Sedyatmo membangunnya. Sekarang tol tersebut khan tidak hanya untuk bandara, tetapi juga untuk lalu lintas industri di sekitarnya. Beban bertambah, jadi resiko turun lebih besar, ditambah kondisi lingkungan yang berubah. Lha begitulah jadinya.

    Jadi jangan disalahkan yang membikin, yaitu prof Sedyatmo, jaman tersebut itu merupakan inovasi dengan batasan-batasan pemikiran waktu itu. Kalau kemudian batasan-batasan tersebut berubah, ya jelas hasilnya akan berubah juga.

    Jangan bayangkan suatu solusi akan berlaku mutlak sepanjang massa (abadi) meskipun jaman juga berubah. Itulah gunakan maintenance, itu juga perlu untuk infrastruktur teknik sipil sekalipun. Nggak hanya untuk mobil doang. Gitu lho. :cool:

    untuk teman-teman yang lain
    Anton ttg tremie ; Fiar tentang metode ; Marlon tentang lereng
    untuk yang detail tentang pondasi, saya belum bisa menjawab tuntas ya. Mungkin ada teman ahli lain yang bisa membantu ?
    trim mau berkunjung dan memberi komentar.
    salam sejahtera semua. :P

  13. yah kok belum di jawab ya pak wir :(

    Wir’s responds: saya tidak familiar dengan perencanaan pondasi, harus membuka buku dulu dan membaca. Lagi males aja. Jadi yang saya jawab ini adalah yang udah siap di otak, nggak perlu buka-buka buku, cukup buka internet aja. Gitu lho.

    Teman-teman yang tahu, tolong bisa dibantu itu pertanyaan Fiar. Ok.

  14. Salam hormat pak Wiryanto,
    Saya awam dalam masalah arsitektur, ketika membuka blog bapak saya sangat tertarik dengan artikel2 di dalamnya. Dan saya ingin bertanya beberapa hal, mengenai bangunan.
    Saya memiliki rumah type 36/84, dibelakangnya ada lahan (2x 6M) yang perlu pengembangan lagi. Dan akan dibuatkan 1 ruang perpustakaan/baca disamping kamar tidur anak. Rencananya saya membangunnya menjadi 2 tingkat dan dibawah tangga ke lt 2 dibuat wc. Dan lantai atas untuk tempat jemuran dan 1 kamar tidur pembantu.
    Mohon bantuannya dibuatkan denah untuk pengembangan rumah tsb? Rumah tsb masih menggunakan pondasi biasa, berapa ukuran yang baik untuk cakar ayam dan berapa buah cakar ayam yang diperlukan?

    Terima kasih

    Wir’s responds: saya juga bukan arsitek pak. Nggak kompeten menjawabnya. Salam udah mampir.

    = tanah yang akan dikembangkan

  15. Salam P Wir,

    sekedar share aja, saya hendak jawab pertanyaan sdr Fiar.

    Metoda cara menentukan yang bagus yang mana yach? “Do Not Design on the Paper What you have to wish into the ground” (Karl Terzaghi).. Unlike many Engineering discipline Geotechnical not pure science but rather it is an art from that required both judgment and experience to at arrive satisfactory solution.

    Jadi metoda mana yang paling bagus ? Metoda alfa, Beta atau Corellation ((qc/JHP), SPT) semuanya boleh digunakan tergantung kondisi lapangan, jika lapisan clay mungkin metoda alfa lebih cocok, kalau pasir mungkin metoda beta yang digunakan…JHP dari data sondir atau corelasi SPT boleh juga digunakan …untuk estimate ..pada akhirnya test pile untuk meng validation sejauh mana kebenaran perhitungan di atas kertas.

    Jadi sejauh mana estimate kita benar adalah tergantung…verify dan Interpretation soil parameter , apakah soil test yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan design ?

    Mungkin itu aja mohon maaf bila ada kata tersilap.

    Salam.

    Wir’s responds: trims Sani atas sharingnya.

  16. Maaf pertanyaan kedua belum terjawab.

    TIA-EIA-222-G kurang lebih sama dengan F cuma section capacity sudah mengacu pada AISC-LRFD.

    Untuk pembebanan angin kurang lebih sama dimana basic wind speed diambil Fastest miles dan 3 sec Gust.

    maaf saya tak punya e-book nya

    thanks.

  17. Salam Sejahtera pak Wir,
    Pak Wir, Dapat kah saya membaca dan mendapatkan lebih banyak referensi tentang pondasi misalnya sumuran,tiang pancang dan cerucuk, saya lagi penelitian untuk tugas akhir S1,Thank,dari Heribertus di Pontianak

  18. Hallo Mas Heribertus,

    Mungkin bisa diberikan lebih spesifik topik tugas akhirnya (mungkin saya bisa bantu paper2 yg berhubungan — kalo saya punya)?

    Kalo referensi ttg pondasi, menurut saya, terlalu luas dan banyak sekali. Sebagai contoh, di setiap buku mekanika tanah ataupun teknik pondasi (baik dari luar, i.e. J. Bowles, B.M. Das, Tomlinson, etc, maupun dalam negeri, i.e. Indrasurya&Nooh (ITS), Hary Christady (UGM)) dapat ditemukan banyak references dibagian belakang buku ataupun setiap bab.

    best regards.

  19. Dear,
    Pak Wir gimana kira2 pemecahan masalah jika rumah saya misalnya tiba2 retak pada lantai dan temboknya. jenis tanahnya adalah clay, dan berada di lereng miring. terus terang saya udah coba pake crucuk dll tapi kok tetep aja!!
    thanks atas advicenya!

  20. @Jeffrey
    Wah masalah tanah, ini kayaknya cocok dijawab oleh mas Sani A.W atau mas Sendy yang sudah comment di atas.

    Tapi ada baiknya saya coba melihat dari kaca mata structural engineer yang mungkin relatif awam dengan tanah sehingga cukup sederhana untuk dimengerti.

    Tiba-tiba retak, berarti menunjukkan adanya deformasi pada tanah dibawahnya. Bisa retak jika struktur tidak didesain untuk mampu menerima differential settlement, yaitu adanya perbedaan penurunan antara bagian tumpuan satu dengan yang lain, sifatnya lokal pada bagian bangunan tersebut.

    Penyebabnya apa ?

    Jika bukan tanah miring maka penyebabnya adalah beban yang berada di atasnya. jika tanahnya pasir maka deformasi akan terjadi sesaat setelah beban bekerja, dan setelah ‘padat’ maka akan berhenti. Sedangkan jika clay, karena ada sifat konsolidasi maka penurunan yang terjadi merupakan suatu fungsi waktu, bisa berlangsung lama dan itu ditentukan oleh ketebalan lapisan clay tersebut.

    jadi dipakainya cerucuk tidak jaminan, cerucuk hanya membantu menyebarkan beban pada kedalaman cerucuk tersebut yang umumnya terbatas. Tapi jika ketebalan tanah clay lebih besar dari cerucuk maka jelas bagian yang lain ini yang akan menimbulkan deformasi. Itulah mengapa, lain waktu lagi masih terjadi fenomena retak-retak.

    Salah satu solusi sederhana adalah mengusahakan bagian pondasi atau tie-beam cukup kaku, ini khususnya untuk rumah yang relatif mempunyai luasan yang kecil dan bobot ringan. Sehingga jika ada penurunan maka keseluruhan bangunan akan turun tetapi tidak retak. Kalau mau efektif , ya pakai aja pondasi dalam. Beres !

    Pada tanah miring, selain kasus di atas, maka akan ada juga tambahan deformasi yang disebabkan oleh pengaruh stabilitas lereng. Tapi ini kasusnya bisa global. rumah didekatnya juga terpengaruh. Kalau tanah clay fenomenanya kadang-kadang aneh, jika kering maka stabil, tetapi jika ada hujan, wah bisa gawat itu. Oleh karena hati-hati jangan sampai ada retakan pada tanah clay yang menampung air.

    Yah, begitulah pak, dari kaca mata awam saja (bukan ahli geoteknik) penyebabnya bisa banyak dan rumit. Pantes belajar geoteknik lebih susah. :D

  21. nimbrung lagi nih pak wir
    Apakabarnya?
    Saya pernah melihat gambar rencana, pake sloof pada pondasi dangkal (poer) kemudian ditambah dengan tiang pancang. Ada juga gambar rencana, ada sloof digunakan pondasi dalam (tiang pancang) dengan pile cap..
    Tolong kasi komentar dong pak wir.. dari segi jenis pondasinya.
    terima kasih banyak

  22. tidak ada yang aneh kecuali ini :

    pake sloof pada pondasi dangkal (poer) kemudian ditambah dengan tiang pancang

    Itu perlu minta penjelasan lagi, apa betul seperti itu. Kenapa ? Karena pada pondasi yang sama tidak bisa diharapkan kekuatan pondasi adalah gabungan antara pondasi dalam dan pondasi dangkal. Secara sederhana nggak bisa digabung, apalagi jika pondasi dalamnya tipe bearing pile. Semua beban akan masuk ke pondasi dalam.

    Untuk tanah dengan lapisan tanah keras yang sangat dalam, sehingga dipakai pondasi dalam tipe friksi maka ada kemungkinan digunakan pondasi gabungan yang disebut pile-raft, pondasi cakar ayam bisa termasuk dalam hal ini. Hanya sayang yang disebut pile relatif pendek dan besar, meskipun kuat tetapi rentan terhadap penurunan tanah akibat efek konsolidasi. Itu aja ya.

  23. Pa…
    bisa bantu saya dalam penelitian Perilaku Tanah Lunak di daerah Rawa Pasang Surut, berupa data-data dan referensi lainnya. Terimakasih

  24. Pak Wir, 2 minggu lagi kalau top management sudah memutuskan, kami akan membuat pondasi +tangki dengan beban sekitar 20ribu ton untuk diameter pondasi 36 m. Data soil test yang lama SPT >40 ada di kedalaman 50m, friction hampir zero karena posisi di pantai. Apa Pak Wir ada rekanan konsultan yang bisa membantu ? menentukan jenis pondasi untuk tangki tersebut, menggunakan concrete pile atau bore pile termasuk desain pondasi. Semula kami akan menggunakan concrete pile, tapi perlu pile banyak sekali, Sementara waktu yang ada sangat pendek, untuk menggunakan bore pile saya tidak yakin waktunya cukup, selain itu kami tidak ada pengalaman di bore pile. Terima kasih atas bantuannya.

    Wir’s responds: kalau konsultan khan banyak pak, misalnya PT. Wiratman & Associates, saya kira sudah terbiasa dengan permasalahan seperti itu. Atau bisa juga ke pakar geoteknik, misalnya Prof. Paulus P. Rahardjo di UNPAR, beliau juga terbiasa menangani kasus-kasus praktek, juga teman-teman di ITB misal Bapak Manshur Irsyam, dll.

  25. Pak Wir, saya mau tanya mengenai sistem pondasi cakar ayam. Kebetulan di Malang susah sekali cari literaturnya, padahal saya sangat membutuhkan untuk tugas akhir saya. Bisa kasih saya bocoran info tentang pondasi cakar ayam atau literaturnya? kalau bisa dalam bentuk e-book. Terimakasih.

    Wir’s responds: saya juga belum pernah baca dik. Orang Indonesia khan budayanya lesan, jadi pemahamannya umumnya juga disampaikan secara lesan. Kalau tidak salah, saya pernah mendengar teman-teman di UGM melakukan penelitian untuk mengungkapkan teori pondasi tersebut, tetapi saya kurang tahu apa sudah ada hasilnya atau belum. Atau mungkin sudah ada hasilnya tapi belum dipublikasikan. Kalau ketemu di infokan ke sini juga ya.

  26. pak wir, mau tanya lagi nih, sebenarnya fungsi urugan yang diberikan saat kita mendirikan bangunan misal diatas pondasi, terutama untuk tanah yang daya dukungnya rendah dan muka air tanahnya sangat dangkal misal di bawah 1 meter gitu. apakah hanya agar air tanahnya tidak naik ke permukaan atau karena air tanah tersebut bisa mengganggu kestabilan tanah dan struktur pondasinya, dalam hal ini pondasinya dari beton bertulang. Terimakasih atas tanggapannya Pak Wir.

  27. Dear Pak Wir,

    Saya pernag ke labnya pak harry crystadi, trus saya melihat beberpa pajangan tetang penelitian beliau mengenai modified pondasi cakar ayam, dan kalau tidak salah saat ini sudah dipatenkan bersama pak bambang suhendro dan pernah dimuat disalah satu koran harian saya lupa persisnya.

    salam
    badar

  28. Dear Pipiet,

    Dengan asumsi bahwa urugan adalah cohesionless soil (e.g. pasir,sirtu) dengan permeabilitas yang besar, maka bukan berarti tambahan urugan dimaksudkan agar air tanah tidak naik ke permukaan.
    Menurut saya, urugan itu secara umum berfungsi untuk meratakan beban terhadap lapisan tanah dibawah tanah urugan.

    sendy.

  29. Dear Pipiet,
    Saya ingin memberikan komentar ttg masalah urugan. Mengenai pemberian tanah urugan untuk mencegah air tidak naik, mungkin dilakukan. Tapi untuk luas yang sangat luas dan tanah urugan harus bersifat inpermeable, misalnya berupa tanah clay.

    Pemberian timbunan clay ini memberi efek daya apung yang bisa memperlambat proses consolidasi. Bayangkan begini, tanah sangat luas, bagian atasnya inpermeable. Air di bagian tengah terjebak, tidak bisa keluar secara vertikal. Sehingga harus bergerak secara horizontal untuk keluar.
    Hal ini memperlambat proses konsolidasi. Seingat saya, peristiwa ini dinamakan Bouyency Effect.

    Menurut saya terdengar agak aneh, biasanya proses konsolidasi dipercepat dengan pemberian timbunan pasir, pompa atau vertical drain.

    Mungkin hanya wacana atau teori, tapi tidak digunakan di lapangan.

    Demikian, semoga bermanfaat. Saya bukan ahli dalam hal ini. Mohon agar dikoreksi.

    Thanx Pak Wir. Saran nih, artikel mengenai geotekink diperbanyak donk.

  30. pak mau minta tolong,,apa beda pondasi dangkal dengan pondasi dalam?

    Wir’s responds: silahkan baca buku pondasi, mestinya ini pengetahuan dasar perkuliahan di level S1 jurusan teknik sipil. Sebagai gambaran singkat, pondasi dangkal cenderung memberikan penurunan tanah yang lebih besar dibanding pondasi dalam. Oleh karena itu, meskipun terlihat mempunyai kapasitas daya dukung yang sama, tetapi karena deformasinya berbeda, keduanya tidak boleh digabung menjadi satu sistem struktur pondasi untuk memikul beban yang sama.

  31. pak, makasih ya atas artikelnya.boleh bertukar link ga?boleh saya masukkan ga artikel ini ke blog saya, kebetulan saya tertarik dengan ilmu mengenai pondasi. Ada rekomendasi link mengenai geotekik ga pak?

  32. Teman2 yang bijak:
    Saya mencoba untuk sedikit menjelaskan tentang penggunaan metoda alfa/beta/lambda

    Metoda alfa
    Kuat dukung friksi yang diperkirakan dengan menggunakan metoda alfa sangat tergantung kepada ketelitian nilai kuat geser undrained Su dan koef. alfa (range : 0.25 – 1.40). Penggunaan Su (yang didasarkan atas analisa teg total) untuk memperkirakan kuat dukung friksi tiang mempunyai kelemahan teoritis yang mendasar, yaitu:
    1. Distorsi geser terjadi pada daerah yang relatif dekat sedikit di luar selimut tiang. Pada saat beban bekerja drainase dari atau ke daerah tipis ini akan terjadi dalam waktu yang relatif singkat,
    2. Pelaksanaan fondasi tiang, baik pancang atau bor, tidak terhindarkan akan menimbulkan gangguan di sekitar tiang yang akan membuat hilangnya kohesi tanah.

    Nilai kuat geser undrained, Su, bukan merupakan nilai yang unik. Nilai Su ini antara lain dipengaruhi oleh efek orientasi dari benda uji atau faktor anisotropi, tipe pengujian.

    Metoda lambda
    Oleh karena masih menggunakan nilai Su maka kendala2 di atas (metoda alfa) yang sama akan dijumpai pula pada metoda lambda.

    Metoda beta
    Dibandingkan dengan ke 2 metoda di atas yang empiris, metoda beta mempunyai dasar teori mekanika tanah yang lebih baik. Range atau variasi nilai beta sangat kecil berkisar 0.25 – 0.30. Penelitian Burland (1973 – 1993) nilai beta di lapangan bervariasi antara 0.25 – 0.40 dengan nilai rata2 0.30 (bandingkan range nilai alfa = 0.25 – 1.40). Untuk tanah di jalan Thamrin Jakarta hasil penelitian praktisi geoteknik adalah berkisar 0.40

    Kendala dalam penentuan Su tentunya tidak ada dalam metoda beta.

    Ke 3 metoda ini untuk tanah lempung sedangkan metoda beta untuk tanah pasir sangat bergantung pada nilai K (koef tekanan tanah lateral) atau cara pelaksanaan instalasi tiang di lapangan.

    Semoga ada manfaat ….

    Wir’s responds : trims pak atas penjelasannya.

  33. Yth Pak Wir, apakah ada aturan untuk menentukan dilatasi bangunan apabila ditinjau dari panjang atau lebar dan ketinggian bangunan. Terima kasih

  34. Yth Pak Wir
    Di daerah kami (kalimantan Tengah, Muarateweh)ada kasus pondasi tiang fail, ternyata tiang tidak mencapai lapisan yang diinginkan, karena waktu tiang sudah tdk dapat masuk kedalam lagi yang ternyata lapisan tersebut tdk mempunyai daya dukung yang kuat,
    Pertanyaannya apakah perlu di bor dulu tanah tersebut sampai kedalaman yang diinginkan dan setelah itu baru di pancang? mohon saran pak

  35. @Helmi Darjanto
    Trims pak dibantu menjawab, saya sudah sangat lama tidak mengulik ttg pondasi. Jadi kayaknya nggak lebih dari tingkat sarjana kompetensinya. ;)

    @Agung
    Dilatasi bangunan, untuk bangunan rendah lebih diprioritaskan pada bahaya shrinkage (kembang susut). Bisa juga untuk mengantisipasi differential settlement, yang mungkin terjadi jika ada dua bagian bangunan dengan dua sistem pondasi yang berbeda, misalnya pada bangunan utama pakai tiang pancang, sedang ada bangunan samping, kecil pakai pondasi batu kali.

    Untuk bangunan tinggi, maka siar dilatasi perlu diberikan pada dua bangunan yang terpisah yang berdekatan, yaitu untuk menghindari benturan. Ini harus memenuhi syarat SKSNI gempa, juga harus lebih besar dari hasil hitungan displacement lateral yang keluar dari program (misalnya ETABS).

    @sigit
    pondasi tiang pancang itu ada dua mekanismenya yaitu friksi (sepanjang tiang) dan bearing (di ujung tiang). Jadi jika tidak ada tanah keras maka desain saja dengan friksi. Kondisi tersebut memerlukan tiang yang panjang. Tetapi perlu dipertimbangkan kekakuan lateral, jika ternyata tanah dibawahnya terlalu lembek.

    Masalah untuk friksi, mungkin secara tegangan ok, tetapi displacement atau penurunan pondasi dalam jangka panjang bisa terjadi. Jika demikian maka struktur atas perlu dipertimbangkan dengan kondisi tersebut. Bisa juga dipertimbangkan sistem tie-beam yang cukup kaku.

    Cara anda dengan mengebor dulu, baru di pancang maka kapasitas friksi jadi berkurang. Jika friksi berkurang dan bearing tidak ada, maka jelas kapasitas tiang tidak optimal. Bisa-bisa tiang hilang kebawah. ;)

  36. Yth, Pak Wir
    Skr ini saya mencari teori dan rumus effisiensi kelompok tiang pondasi dengan jumlah ganjil…mohon saran dan petunjuk Pak Wir
    Kira-kira referensinya ada di buku karangan siapa ya pak? Mungkin Pak Wir ada bukunya?
    Soalnya saya dah cari rumusnya blum ketemu pak
    Trimakasih

    Wir’s responds: saya nggak mendalami pondasi.

  37. Yth Pak Wir,

    Salam kenal Pak! Two thumbs up buat situs nya Pak Wir.. Soalnya saya yang orang awam aja ikutan ngerti soal pondasi.. :-)

    Btw, kalau untuk rumah tinggal, luas tanah 500m2, luas lt1: 300m2, luas lt2: 200m2, kondisi tanah rendah (1,5 m dari dari perm jalan-> perlu diurug karena rencana rumah mau dibangun selevel jalan), dan kedalaman tanah keras 6m dari perm jalan, pondasi apa yang paling optimal dari segi biaya dan kekuatan ya pak?

    Thanks before

  38. Salam kenal pak,

    Saya herwan.. mungkin pak wir lupa sama saya dulu kuliah bareng interaksi tanah struktur (kombinasi pak paulus pramono dan pak paulus karta) bareng mas aji dan pak nathan… kebetulan lagi nyari ASTM untuk shotcrete eh ketemu ama site ini… matap pak site nya…

    Salam,

    herwan

  39. Pak Wir nuwun sewu, kapan ada seminar atau apapun namanya, seperti beberapa waktu lalau di kantor PII ?

    Matur nuwun

    Wir’s responds: kalau seminar teknik sipil, besok di UPH ada lho, yaitu KONTEKS3, kerja sama dengan UAJY Yogyakarta.

  40. pak wir,
    saya nak sipil yg msih smster 1,saya ingin tahu mengenai materi pondasi walau belum dikasih materi ttg itu,bisa minta referensi ttg pondasi…?
    Trims…

  41. Pak wir…
    saya senang sekali menemukan web ini, saya seorang engineer baru lulus dari sebuah universitas swasta di jogja, skrg saya kerja di sebuah kantor konsultan dijakarta..

    1. saya mau tanya untuk mengetahui besarnya daya dukung pondasi bored pile kita dapat mengetahuinya berdasarkan hasil lab setelah uji sondir? atau kita dapat mengetahui tanpa uji sondir pak?

    2. saya mau tanya pengaruh getaran Lift dan Eskalator terhadap pondasi., apakah ada analisa untuk mengetahui berapa besarnya getaran lift/eskalator, sehingga kita bisa konversikan menjadi gaya.

    maaf pak kalo bahasa yang saya gunakan semrawut, maklum saya engineer baru.

  42. Dear P. Wir…
    Salut atas webnya…..
    Saya mau bertanya mengenai pondasi pak, mungkin bisa dibantu :

    1. Pada tanah yang kembang susutnya tinggi, alternatif pondasi dangkal dan pondasi dalam apa yang bisa diterapkan?

    2. Metoda apa ya pak untuk menguji mutu pekerjaan tiang pancang? (apakah loading test?)

    kami tunggu jawabanya ya pak…
    terima kasih

    • (1)…fondasi di atas tanah kembang susut
      hati2 jika menggunakan fondasi dangkal pada tanah kembang susut karena daya kembang bisa s/d 40 ton/m2…hal ini bisa menimbulkan kerusakan bangunan…oleh karenanya lebih bijak menggunakan fondasi dalam yang kedalamannya harus melampaui tebal tanah kembang susutnya….

      (2)…mutu pekerjaan tiang
      …loading/pda test utk menguji kuat dukung ijin, sedangkan keutuhan tiang dengan sonic integrated test….

  43. Pak saya mahasiswa tingkat akhir jurusan T.Sipil..
    mohon bantuangnya pak…
    Pak tugas akhir saya tentang daya dukung pondasi tiang. Dengan menggunakan data SPT..
    Yang mau saya tanyakan data tanah saya berdasarkan deskripsi tanahnya ada yang gambut dan lanau… Nah saya bingung mengitung daya dukungnya. Kita mengasumsikan tanah itu bersifat seperti Clay atau Sand. Karena pengetahuan saya yang mencari daya dukung pondasi hanya bisa untul Clay dan Sand….

    Saya bingung pak mohon petunjuknya…
    apakah saya mengsaumsikan sendri clay aja..
    trus berdasarkan apa?

    Makasih pak…

  44. Pak Wir yg baik…
    Bagaimana bila pondisi tanah naik 4 m diatas permukaan jalan , dan di bawahnya sdh ada bangunan (existing) , maka pondasi diatas bgnan existing ini apakah bisa menggunakan fondasi dangkal saja , tidak perlu bored pile.
    Terima kasih

  45. buat saudara fiar
    nyari buku braja m das untuk pondasi, saya ad soft kopinya, hanya saja bahasa yg digunakan bukan bahasa inggris, tp bahasa latin…..

  46. pak wir,…
    saya sedang mencari artikel tentang konstruksi sarang laba2 yang katanya pondasi ramah gempa tapi bukankah termasuk pondasi dangkal yang cenderung memberikan penurunan lebih besar?..
    ditunggu jawabannya,….terimakasih,..

    • Saya juga tidak tahu alasan mengapa dapat disebut ramah gempa.

      Tetapi jika dianggap sebagai jenis pondasi dangkal, saya sih setuju. Terkait dengan penurunan besar saya kira itu relatif sifatnya, tergantung jenis tanah dimana pondasi tersebut digunakan. Kalau membangunnya di atas tanah clay atau mud (rawa) maka jelas dalam jangka panjang akan mengalami konsolidasi, penurunan, meskipun pondasinya sendiri utuh. Lihat saja kasus jalan yang menghubungkan Jakarta dan Bandara Soekarno Hatta.

  47. Salam hormat Pak Wir,

    Saya ingin bertanya bagaimana mendesign pondasi (baik shalow foundation atau deep foundation) menggunakan metoda LRFD. Saya menghitung struktur beton di SAP2000 menggunakan Load factor dan ingin mendesign pondasi berdasarkan reaksi perletakan yang didapat dari output SAP2000. Sedangkan untuk mendesign penampang pondasi itu sendiri menurut teks book yg saya baca menggunakan Safety Factor (metoda ASD). Tentunya jika saya tetap menggunakan output yang saya dapat dari SAP200 akan terjadi overdesign karena semua beban sudah dikalikan Load factor.
    Saya ingin bertanya bagaimana mendesign penampang pondasi (shalow foundation dan deep foundation) menggunakan metoda LRFD dan buku apa yang bisa saya jadikan referensi..

    Terimakasih Pak,

    Andri

  48. Salam pak..
    mua shering ni pak.. ada kasus untuk tiang pancang yang masuk kurang dari 4 meter udah mentok diukur dari elevasi tanah asli, terus di tes udah masuk u daya dukungnya, tapi yang jadi permasalahan agak ragu untuk nahan geser atau gulingnya..

    mungkin bapak bisa ngasih solusi…
    catatan.. tinggi urugan untuk mencapai +- 0,000 bangunan = 1,5 m
    janis urugan tanah putih atau padas putih.
    trima kasih…

    • Kata kuncinya adalah untuk fungsi apakah tiang pancang anda. Sebagai pondasi bangunan di atasnya, atau juga berfungsi sebagai penahan lateral, misalnya paku bumi untuk mencegah longsor. Jelas mekanisme kerja keduanya berbeda.

      Umumnya untuk pondasi bangunan atas yang dominan adalah untuk beban vertikal, kalaupun untuk beban lateral paling adalah untuk antisipasi gempa, itupun per tiang tidak lebih dari 10%-nya. Kenapa begitu, karena untuk lateral akan dapat ditahan oleh kelompok tiang pancang yang disatukan oleh lantai basement yang berfungsi sebagai diahpragma. So umumnya dayadukung lateral yang hanya 10% (max) dari daya dukung vertikal rasa-rasanya lebih dari cukup.

      Tapi kalau berbeda jika itu digunakan sebagai pondasi vertikal sekaligus lateral, seperti misalnya di lereng, di dekat dinding penahan tanah. Beban lateral langsung bekerja pada tiang pancang tersebut, sehingga di tiang terjadi lentur. Tergantung dari mekanisme kerjanya, umumnya memakai konsep kantilever dalam menahan gaya lateral, ini paling simple. Jika itu yang direncanakan maka tentu panjang tertanam pada elevasi tanah keras menjadi hal yang penting. Jika tidak, maka efek kantilever tidak akan bekerja, artinya tiang tersebut nantinya tidak akan mampu menahan gaya lateral yang terjadi.

      Tentang bagaimana dengan mesin pancang yang mentok, wah itu tidak ada hubungannya dengan fungsi tiang terhadap kekuatan lateral. Itu hanya energi pancang arah vertikal, yang dengan formula tertentu kadang bisa ditransformasikan ke daya dukung tiang. Itu tergantung dari tipe mesin yang digunakan. Kadang dengan mesin tertentu, meskipun lebih berat tetapi hanya mengandalkan gaya gravitasi maka tiang mentok, eh ketika pakai mesin diesel hammer, meskipun lebih kecil tetapi ternyata tiang bisa dipancang lebih dalam lagi.

      Gitu komentar saya. Moga-moga membantu.

  49. salam pak..
    moho bantuannya pak, kalau perhitungan pondasi dengan data sondir metode apa yang paling refrensentatif? karena beberapa metode hanya menghitung pas kedalam ujung tanpa mempertimbangan lapisan sebelumnya..
    terima kasih

    • metode yang anda sampaikan berarti hanya memperhitungkan bearing capacity.

      Nggak masalah, karena kapasitas bearing jika sudah masuk (memenuhi target) hasilnya konservatif. Dengan asumsi bahwa bagian atas kondisi tanah nilai sondirnya relatif kecil dibanding yang bagian ujung tersebut. Jika itu terjadi maka itu dianggap telah mencapai tanah keras.

      Masalah timbul jika data tanah dibagian ujung hampir sama dengan data tanah di atasnya, artinya belum mencapai tanah keras. Jika demikian maka yang menentukan kekuatan lekatan atau friksi pile. Tapi agar kuat biasanya perlu panjang yang mencukupi.

  50. Pak Wir, numpang tanya.
    kalau kita tdk ada masalah bearing capacity, tanahnya sangat baik, kapan kita harus kuatir ttg masalah overturning dari sebuah bangunan? misalkan pondasi kita ada pondasi telapak, 2-3 meter dari permukaan tanah. apakah ada data empiris yang bisa di jadikan acuan antara fungsi ketinggian bangunan dan dalamnya pondasi? apakah ini setiap kali harus dihitung dari overturning demand dan di bandingkan dengan capacity system kita?
    Terima Kasih

    • “kita harus kuatir ttg masalah overturning”

      Pondasi telapak, berarti pondasi dangkal. Jadi kita perlu kuatir jika di pondasi tersebut akibat beban rencana (working stress) sudah mengalami tegangan tarik. Berarti bidang kontak sudah ada yang hilang. Untuk yang desak maka jelas harus kurang dari tegangan izin.

      Karena dalam praktek, untuk terjadi tegangan juga sekaligus mengalami deformasi maka tentu harus ada s.f (safety factor) untuk antisipasi antara kapasitas dan perlu. Menurut saya gitu.

  51. Sanny Khow: ” ……. misalkan pondasi kita ada pondasi telapak, 2-3 meter dari permukaan tanah.”

    Apakah posisi bangunan rencananya diletakkan di dekat ujung atas urugan ?? –> mungkin perlu check juga untuk kestabilan urugan.

    • Pak Sanny: meneruskan respon dari pak Wir, memang benar utk fondasi dangkal yang utama jangan sampai terjadi tegangan tarik di tanah. Kmd thd fungsi ketinggian memang utk tinjauan 1 kolom perlu dicek thd overturning akan tetapi jika dihitung secara sistem fondasi bangunan tsb (3D atau semua kolom thd beban kerja) maka kemungkinan overturning akan berkurang atau tdk terjadi meski dalam cek 1 kolom kondisinya terjadi…

  52. pak wir, salam kenal,
    mau nanya punya refensi PIP STE03020 “Guidelines for tank Foundation Design” engga? atau refferensi2 lain yang bisa digunakan untuk mendesain pondasi tangki diatas tanah. kali aja pak wir punya clue.
    thanks before..

  53. Pak Wir mohon pencerahannya,
    Pengujian berdasarkan Sondir, di dapat kedalaman tanah keras berada di kedalaman antara 10-17.5m, tetapi ketika pemancangan dilapangan, menggunakan metode penekanan (jacking pile) hanya masuk 6-7m… Kira-kira kenapa ya pak ?
    Mohon penjelasannya..
    terima kasih

    salam

    • Alasan yang masuk akal, adalah adanya lensa tanah atau lapisan batuan keras yang bersifat setempat. Untuk mengetahui bahwa argumetnasi itu betul, maka cobalah pancang pondasi pada titik dimana sondir dilakukan. Kalau ternyata kondisinya sama, maka pertanyaannya tentunya ke proses penyondiran atau memang alat pancangnya yang ada masalah.

      • terimakasih pak wir atas jawabannya yg cepat.
        Mungkin kah jika ternyata lapisan di bawahnya adalah lapisan tanah pasir ? karena saya pernah baca artikel, jika tanah berpasir tidak cocok memakai metode jakcing pile (mohon koreksi jika keliru). Walaupun di beberapa titik tercapai kedalaman 11-12m, ada juga 1 tiang yang mencapai kedalaman 14m. oh ya jumlah sondir yg kami lakukan sebanyak 4 titik.

  54. salam
    Artikelnya sangat bermanfaat. Saya mau tanya nih, saya baru beli tanah lmasalahnya tanah tersebut sebelahnya kebon orang dan posisi tanah saya berada diatasnya sekitar 3m lebih tinggi dari tanah orang tersebut, sekarang dinding tanah saya (dari tembokan batu kali) sudaah retak lebar dinding 10m, mungkin tembok dindingnya tidak kuat menahan tanah saya. sya kwahatir jadi longsor ke tanah orang.
    1.Solusi untuk menembok kembali bagaimana? perlu pakai besi behel?
    2.Setengah tanah tersebut bekas timbunan sampah, tidak padat(banyak plastik). Bila membangun rumah di atasnya gimana untuk pondasinya?
    saya tunggu jawabannya lewat email juga gpp.
    Terima kasih

    • Sukma: mungkin bisa dijelaskan dimensi dinding penahan tanahnya, apa benar lebar dinding penahan tanah 10 meter? (bukan panjang?). tetapi pada dasarnya keretakan itu berarti telah terjadi pergerakan arah lateral yg apabila deformasi ijinnya terlampaui akan bisa menimbulkan kelongsoran.
      Saran:
      1. Lakukan penyelidikan tanah
      2. Hitung ulang kekuatan dinding penahan tanah
      3. Untuk desain fondasi dangkal, buang lapisan sampah tsb
      4. Semua desain baik fondasi atau cek kekuatan dinding penahan tanah sangat bergantung dari hasil penyelidikan tanahnya…
      semoga bermanfaat…

  55. Terimakasih atas respon yang cepat dari Pak Wir, semakin sering nih di buka blognya. banyak manffaatnya
    oh..iya pa maksudnya panjang tembokan 10m.
    Lebar tanah 8m panjang 15m ( panjang 10m di tembok batu, 5m tidak karena tanah orang sejajar).
    Saya orang awam pak jadi kurang tahu istilah’ lateral’dan penyelidikan tanah.
    Saya mohon saran penembokan dinding tersebut, dimensi yang cocok berapa? perbandingan pasir dan semen juga?

    terima kasih atas atas saran dan jawabannya

  56. Pak wir, kalo tremi untuk pondasi tiang bor panjangnya sampe 17m apa ada jaminan bahwa aggregat kasarnya gak jatuh duluan tuh pak, sehingga aggregat kasarnya pada numpuk di bawah. Kekuatannya gmana pak, lah wong kalo ngecor kolom pake ember buat ruko aja yg tinggi 3-4m aja sya perhatiin kbanyakan kerikilnya di bawah. mohon pencerahannya pak, soalnya saya blon pernah liat ngecor pondasi tiang bor pak.. Hehehe..

    • Itulah gunanya pipa tremi dik. Dengan memakainya maka jelas beton tidak dapat langsung jatuh tetapi akan mengalir. Maklum beton khan ada faktor kohesif dengan dinding tremi, jadi dalam hal in perlu workability yang tertentu untuk menggunakannya. Posisi tremi juga vertikal agar berat sendiri campuran beton yang mendorong beton kebawah mengalahkan gaya kohesif terebut. Gabungan antara berat sendiri campuran beton, dan gaya yang menahan akibat siaft kohesif campuran dengan dinding tremi mengakibat aliran yang smoth. Gitu dik.

      • Ternyata masih ada satu lâ9ι, diskusi tentang pondasi. Biar ga ketinggalan ikut comment & tambah wawasan. Satu lagi jenis pondasi sarang laba2, αđªα yang pernah mengaplikasikan?

  57. Pak wir .mohon solusinya pak
    saya mau bangun rumah dua lantai. didaerah tanah rawa. pondasi yang dipilih kontraktornya sumuran buis beton (polongan) diameter 100 pak. setelah turun 2 buah pak sampai kelapisan tanah keras _kontraktornya katakan. (dan ketemu pasir kerikil pak) namun masih berair pak)”. saya minta tambah satu lagi pak dan dijawab kalau 3 sampai empat polongan lewat tanah kerasnya pak.
    mohon petunjuk pak wir. trimasih pak…

    • sdr ayang,
      Prinsip semakin dalam adalah semakin baik untuk suatu pondasi pada dasarnya masih berlaku secara umum. Jadi kalau kontraktornya berkilah bahwa jika 3 atau 4 polongan lagi maka tanah kerasnya lewat (habis) maka tentu dipikirkan secara matang. Anda meragukan itu sudah benar.

      Pertama-tama tentu saya perlu bertanya dulu, bagaimana kontraktor dapat mengetahui bahwa jika 3 atau 4 polongan lagi maka tanah kerasnya telah lewat. Pernyataan ini tentu perlu ditelusuri dengan baik. Jika yang bersangkutan memang berpengalaman membangun di daerah itu, misalnya anda membangun di daerah perumahan yang kebetulan kontraktor itu juga. Maka bisa saja pernyataan itu benar. Strategi yang digunakan adalah ngelmu titen dan coba-coba (trial and error).

      Apa yang disebut tanah kerasnya akan lewat adalah yang disebut lapisan lensa tanah, yaitu suatu lapisan tanah keras yang relatif tipis yang berada di antara lapisan tanah lunak. Tapi hati-hati, lapisan lensa tanah ini bisa setempat (lokal) tetapi bisa juga luas. Bagaimana mengetahui kondisinya, ya dengan penyelidikan tanah. Jika ternyata kontraktornya belum pernah melalukan penyelidikan tanah, maka kebenarannya tidak bisa dipastikan. Itu artinya tetap mengandalkan coba-coba.

      Yang namanya coba-coba itu adalah beresiko. Apakah itu berarti bangunan duduk di atas lensa tanah adalah tidak baik. Wah, ini tentu tergantung dari ketebalan lensa atau lapisan tanah keras tersebut. Jika berat bangunan masih di bawah kekuatan lensa maka tentu tidak apa-apa. Ini tentunya perlu dihitung. Jika tidak ada hitungannya, maka yang bisa dilakukan adalah lihatlah bangunan disekitarnya, bagaimana kondisinya.

      Katakanlah pondasi cukup kuat, tidak jeblos. Maka resiko yang mungkin terjadi adalah adanya penurunan. Problem yang timbul pada bangunan pada prinsipnya bukannya besarnya penurunan yang terjadi, tetapi adakah penurunan yang berbeda antara satu dengan lain atau disebut differential settlemen. Ini yang jadi masalah. Nah untuk mengatasi hal itu, maka dapat dihindari misalnya dengan membuat denah yang regular, dan tiap pondasi diikat dengan tie-beam yang cukup kaku. Mestinya bangunan dua lantai tidak terlalu banyak resiko dibanding bangunan lain yang lebih tinggi.

      Moga-moga bisa membantu mengambil keputusan.

  58. Ping-balik: my study | blitza85

  59. Terima kasih atas pencerahanya Pak. Kami mengalami masalah,konstruksi baja kita setelah 5 tahun miring bagian atasnya 8cm. Ini terjadi karena penurunan pondasinya. Bagaimana solusi untuk memperbaiki konstruksi bajanya ya pak. Terima kasih atas responya.

  60. Pak Wir bagaimana pasang pondasi pada tanah berair, saya mau pasang pondasi untuk tower transmisi, mohon pencerahannya?

    • Pak Wir, salam hari minggu.
      1. Saya mengikuti terus perkembangan desain gedung menggunakan Sap dan Etabs. Saya sering pakai Sap 2000 untuk Analisis Struktur Gedung bila di bandingkan Etabs. Tapi kok sebaliknya, knpa lebih banyak user pakai Etabs untuk Gedung bertingkat tinggi? Apakah Kelebihan KHUSUS+ Etabs untuk desain gedung bertingkat bila dibandingkan Sap 2000? Kan sama2 punya kemampuan menganalisis?
      2. Di mana sy bisa dapat materi yang membahas Analisis dan Desain Kolom Komposit untuk Super Tall Building (materi dalam bahasa Indonesia dan Inggris)?

      Mohon bantuannya pak.

      • ETABS lebih banyak digunakan untuk gedung, karena memang program tersebut didesain untuk memanfaatkan kekhususan dari sebuah gedung, spesifik. Seperti misalnya, elemen 1D yang vertikal disebut kolom, menerima beban aksial dan momen, elemen 1D yang horizonta disebut balok, hanya menerima momen dan aksial (relatif kecil) dan yang lebih penting lagi LTB (lateral torsional buckling) terjaga maklum dianggap ada lantai yang bekerja sebagai bracing. Adapun yang diagonal disebut bracing, yang biasanya ditentukan oleh gempa, dan sebagainya.

        Hal-hal seperti itu jelas sudah dipikirkan secara otomatis oleh program, adapun SAP2000 karena merupakan program spesifik maka hal-hal itu perlu dimasukkan secara manual.

        Itulah alasannya, jika kedua program dipakai engineer yunior yang kadang abai terhadap kondisi-kondisi tersebut maka hasilnya bisa berbeda. Penelitian yang saya lakukan, maka program SAP2000 akan menghasilkan kondisi yang boros, meskipun pada sisi lain kadang bisa membahayakan.

        Ingat itu semua terjadi karena analisis tidak mesti sama dengan desain. Itu dua pekerjaan yang tidak mesti harus konsisten hasilnya. Makalah-makalah yang saya sampaikan, meskipun contohnya kecil-kecil ingin mengungkapkan hal itu. Silahkan di down-load jika tertarik. Ada beberapa yang membandingkan antara hasil program SAP2000 dan ETABS.

        Untuk kolom komposit secara umum saya telah membahas secara detail, bahkan telah saya siapkan pula programnya, selain juga ada hitungan manual untuk penjelasannya. Itu ada di dalam buku saya ke-3 yang berjudul :

        http://wiryanto.wordpress.com/2005/12/31/karya-ilmiah-utama-ke-3-2005/

        Hanya sayang, buku tersebut telah lama habis, dan belum ada rencana untuk diterbitkan. Maklum, penerbit masih melihat topik tersebut jarang pembelinya.

        Adapun kolom komposit untuk gedung super tinggi, terus terang saya belum ketemu. Tapi prinsip kerjanya mestinya tidak berbeda.

        • Saya pernah membandingkan kedua software yaitu Sap 2000 dan Etabs untuk hasil analisis struktur 3D Gedung 8 tingkat Tahan gempa (dengan metode response spektrum)-Untuk nilai momennya tidak sampai 100% sama, tapi ada selisih kurang lebih 1%.

  61. @Zeth : untuk analisis dan dengan batasan yang sama, maka tentu hasilnya harus sama. Maklum, keduanya memakai engine yang sama, bukankah keduanya adalah produk satu perusahaan yang sama.

    • Pak Wir, jika perbedaan hanya terdapat selisih nilai (momen) secara desimal, Sap 2000 =278,465 Knm, Etabs =278,346 Knm?Apa mungkin di settingan material dan pembebanan pak?

    • Saya sedang mengasah kemampuan analisis dan desain struktur gedung menggunakan Sap 2000 & Etabs. Bagi saya ini penting untuk meningkatkan kapasitas sebagai engineer civil structural muda, yang baru lulus beberapa tahun meskipun saya sendiri bekerja di ladang kerja yang 180 derajat bukan jurusan saya sebelumnya (Kelistrikan di PT. Freeport), tapi kecintaan saya terhadap ilmu sipil terutama struktur gedung & jembatan tetap saya pelajari dari hari ke hari meskipun dengan jumlah jam belajar yang sedikit.

      Waktu kuliah, jumlah jam belajar di rumah sangat banyak, waktu di habiskan hanya untuk hitung-hitung struktur portal 2D pakai Metode Cross, Slope Deflection, Matrix, Unit Load, Superposisi, Muto dan terakhir Takabeya. 2 Metode yang terakhir ini menjadi pilihan saya untuk menghitung struktur gedung 8 tingkat tahan gempa sebagai Tugas Akhir Saya tahun 2008. Sangat melelahkan jika hitung manual, tulis sana-tulis sini, pakai kertas yang ukurannya 3X melebihi A3 untuk mencari nilai siklus yang sama dengan sebelumnnya sampai beberapa kali, baru ketemu deh.

      Waktu di bandingkan dengan Sap 2000 V 9, Nilainya untuk portal-portal tengah dengan pembebanan simetris hasilnya 99,99, manual Takabeya dengan Sap 2000, mungkin soal pembulatan. Tapi,waktu soal o/s di manual tidak akan terlihat secara otomatis, hanya di software untuk rekayasa struktur yang bisa di lihat. Kasus di atas saya temui waktu menganalisis struktur gedung 30 tingkat. Sistem struktur terdiri dari Portal Beton yang di kombinasikan dengan dinding geser di beberapa lokasi. Saya juga menambah Core untuk meningkatkan kekakuan gedung agar waktu getar alami fundamental tidak melampaui waktu getar alami yang di syaratkan di SNI 03-1726-2002, berhubung waktu penempatan dinding geser di beberapa tempat, nilai waktu getar alami fundamental melampaui waktu getar alami yang di syaratkan di SNI 03-1726-2002. Hasil analisis waktu di check ada beberapa balok di lantai tertentu yang o/s. Kembali Check pebebanan mungkin ada yang overload- ternyata tidak, mutu beton di naikan khusus balok dari 30 Mpa jadi 35 Mpa. Dimensi balok dari 500 mm/750 mm (bentangan 6,5 m) untuk lantai 1-15 dan 450 mm/700 mm untuk lantai 16-30 (bentangan 6.5 m) tidak berubah. Mutu baja fy tetap pakai 400 untuk longitudinal dan geser. Dimensi Kolom 6 type, 3 tipe untuk kolom dalam (L1=900mm, L2=800mm, L3=700mm) yang dianggap memikul luas lantai penuh. 3 tipe untuk sisi luar gedung (L1=800mm, L2=700mm, L3=650mm).
      Running dan check hasilnya masih ada beberapa balok juga yang o/s. Mau perbesar dimensi, nanti boros nih, apalagi untuk gedung 30 lantai, hanya beberapa balok saja yang o/s karena geser masa mau di ganti ukuran balok secara keseluruhan? ini masalah terhadap geser di mana balok tidak mampu menahan beban geser.

      Salam sejahtera pak Wir,
      dari cerita saya di atas, saya membutuhkan masukan atas kasus yang saya alami dengan pertanyaan ini.

      1. Pembebanan sudah di check, tidak ada masalah, di check massa source sudah sesuai juga, yaitu berat sendiri (D1), Superimposed (D2) (keramik, mekanikal & Elektrikal, spesi), karena saya pisahkan maka pilihan massa source yaitu From Load, Massa and Additional Load (3) Mutu beton sudah di naikan, apa harus balok juga pak?apalagi hanya beberapa balok saja.

      2. Jika di katakan karena lebar balok yang menumpu dinding geser lebih besar sehingga membuat balok tidak aman (kasus jika balok lebih besar dari kolom maka tentu balok dan kolom tidak aman) tidak demikian, malahan beberapa balok yang o/s terhadap geser berada tegak lurus dinding geser. Apa perlu lebar dinding juga di samakan dengan lebar balok? lebar dinding 400 mm yang menumpu balok dengan lebar 500 mm untuk Lantai 1-15, serta 350 mm menumpu balok 450 mm lantai 16-30.

      3. Haruskan saya pakai Kolom sebagai komponen batas untuk menjawab masalah ini?
      padahal syarat untuk memakai boundary element harus memenuhi SNI 03-2847-2002.

      Maaf pak Wir, gedung ini bukan sedang mengerjakan proyek si konglomerat tapi sedang mengasah kemampuan analisis pakai Sap 2000.

  62. Salam Pak Wir dan rekan2 sipil sekalian,

    Adakah yang tahu kuat tekan pondasi batu kali (dalam MPa atau satuan yg lain)? Saya sudah coba googling tp blm ketemu juga. Mohon kalau ada yang tahu share ilmunya. Saya perlu kuat tekan tersebut untuk merencanakan pondasi bor pile. Maksudnya sih untuk mengirit anggaran, karena kalo pakai mix concrete semua, rasanya relatif lebih mahal.

    Terima kasih sebelum dan sesudahnya.

    Salam,
    Welly

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s