akreditasi PT, menyesatkan !?


Kita selalu gembar-gembor, berbangga ria, khususnya jika mendapat hasil penilaian akreditasi yang baik. Bahkan ada seorang petinggi, yang mengaku mengerti benar suatu universitas karena dia akreditornya. Intinya mau dikatakan bahwa akreditasi PT di negeri ini adalah satu-satunya indikasi jaminan mutu. Apapun halnya, jika itu dikaitkan dengan mutu suatu PT maka merekalah yang berhak mengevaluasi, kalau dari lainnya, perlu dipertanyakan ! Begitu ya ?

Apakah itu benar, sehingga dengan melihat hasil akreditasi yang baik itu, katakanlah berakreditasi A, maka calon mahasiswa dapat menjadikannya sebagai bahan pertimbangan utama dan berani mempertaruhkan waktu, harta maupun masa depannya dengan mengikuti studi di sana.

Jika itu demikian halnya, akan lebih baik mendengar pendapat seorang mahasiswa yang ternyata kecewa karena berpedoman uraian di atas, katanya PT-nya berakrediatasi terbaik, nyatanya selama tiga tahun di sana, dianya kecewa berat. Nggak sama dengan ekspetasinya.

Terlepas apakah akreditasi yang diberikan benar atau salah, berdasarkan kriteria yang diberikan DIKTI, dan para akreditornya telah bertindak jujur. Tapi adanya kekecewaan mahasiswa didalamnya rasanya ‘pasti ada yang tidak benar’ dengan cara akreditasi tersebut.

Kami persilahkan anda membaca sendiri surat mahasiswa tersebut.

Horas  Pak Wir, blog bapak jadi blog wajib saya kalau ngenet belakangan ini. Kebetulan kemarin cari artikel tentang jurusan tercintaku, eh ketemu blog bapak. Jadi keasyikan sampai sekarang baca tulisan-tulisan bapak….

Mau ngasih komentar dulu ya Pak..

Intisari yang saya dapat dengan topik di atas adalah, akreditasi itu ternyata banyak menyesatkan.

Terus terang hal itu benar-benar saya alami sendiri, dimana saya yang masih kuliah di sebuah PTN di Sumatera. Pada saat penerimaan mahasiswa baru, hal pertama yang di bahas oleh para “petinggi” jurusan saya yaitu tadi AKREDITASI. Akreditasi A*** . Awalnya saya yang berjiwa  muda, memiliki emosi yang masih labil, tentu sangat senang dan merasa itu sebagai “rejeki” nomplok untukku.

Tapi apa… setelah saya kuliah 3 tahun di sana, saya tidak melihat pencerminan dari A*** itu sendiri. Jadi kriteria – kriteria untuk penilaian sebuah institusi itu menurut saya perlu di bahas lagi deh, dibuat sebuah standar yang global yang semua orang bisa menerima, dinilai oleh orang – orang yang benar-benar independen.. Atau malah tak usah, karena bangsa ini sepertinya belum siap untuk itu. Memiliki akreditas yang kelewat tinggipun kalau tidak berbuat sesuatu untuk orang lain, bangsa dan negaranya untuk apa .. ???

Bantulah pula universitas – universitas swasta dan negeri di daerah yang boleh di bilang universitas timbul tenggelam pula. Apa lagi perguruan tinggi yang ada di Jawa sana, seharusnya hal ini sudah disadari dahulu. Dimana kalian telah banyak diuntungkan dengan keberadaan lokasi yang baik, perekonomian yang terpusat  di sana, pembangunan yang terus-menerus, seakan-akan indonesia ini cuman di Jawa saja..

Perbedaannya cukup tragis menurutku, masak… kamar mandi kalian lebih bagus dari tempat belajar kami, tempat kami mencapai cita-cita kami..???

Terus kalian yang lagi gencar-gencarnya membangun sarana wifi, supaya bisa internetan di mana-mana, kalau lagi duduk di mana aja bisa nge-net. Padahal kami apalah…, kami duduk cuman dapat pemandangan monyet-monyet yang masih banyak berkeliaran, babi hutan yang kadang-kadang juga jadi selingan, burung hantu yang jadi teman kami mendengar dosen.. ha.ha.ha.ha.ha.ha.ha.

Kalau sudah merasa lebih bagus, bantulah… Kirimin dosen yang bagus-bagus, pertukaran mahasiswa, biar jangan terlihat seperti anak tiri kami ini, biar kita terlihat lahir dari satu ibu, ibu kandung, ibu pertiwi…

Sebelumnya saya minta maaf kalau bahasa saya kurang pas, atau  kurang nyambung malahan…GBUs

Meskipun Jurusan Teknik Sipil UPH selama ini hanya mendapat akreditasi B dari DIKTI, tetapi rasanya tidak ada mahasiswa kami yang mengeluh seperti hal tersebut di atas. Mereka terlihat puas (semoga perkiraan saya benar adanya), yang mana itu ditunjukkan oleh begitu aktifnya kegiatan yang mereka lakukan, bahwa meskipun hanya berakreditasi B tetapi mereka bangga bersekolah di UPH.

Kenapa hanya B, ya maklum karena dalam penilaian, salah satu tolok ukur yang utama adalah jumlah mahasiswa. Para akreditor melihat bahwa jumlah mahasiswa di jurusan kami sedikit, tidak banyak seperti halnya pt yang lain. Ha, ha, ha, mutu koq bisa dihubungkan dengan jumlah.

Alasan mereka khan dengan jumlah, itu menunjukkan bahwa masyarakat mengakui sehingga pada bersekolah di situ (yang banyak itu). Ha, ha, ha, aneh apa pula ini, mungkin ya, mungkin tidak, tapi biasanya yang pasti, yang banyak adalah yang murah (biasanya lho).

O ya, tentang Jurusan Teknik Sipil UPH yang masih diakreditasi B, maka bukan berarti kami minder dengan tempat lain yang berakreditasi di atasnya. Ada memang yang kami akui bahwa sudah sepantasnya, tetapi ada juga koq, yang kami pertanyakan. Intinya ah, boleh-boleh aja, itu khan pendapat orang lain, yang penting kita bisa memberi lebih daripada mereka. Juga dengan status tersebut itu dapat menjadi introspeksi diri untuk tetap berusaha, kerja keras lagi, bahwa apa yang telah kami lakukan tidak cukup. Ini lebih baik dari pada terlena. Iya khan.

O ya, ada satu fakta, yang mungkin bagi sebagian orang merupakan suatu hal yang memalukan, tapi bagi kami para pendidik di UPH itu merupakan suatu bukti empiris bahwa petingginya mempunyai komitmen kuat di bidang pendidikan untuk menjadi sarana transformasi yang mulia dan tidak hanya sekedar sebagai mesin bisnis. Apa itu ? Jurusan kami sekitar tahun 2003 pernah hanya mempunyai mahasiswa sebanyak 4 (empat), bayangkan. Bagi penyelenggara pendidikan di tempat lain, pasti tidak akan membayangkan hal tersebut. Kami di sini juga demikian adanya. Para dosen tetap, semua down melihat kenyataan tersebut, malu, tidak percaya diri dan sebagainya, bayangan sudah jelas phk. Tapi ternyata komitmen di atas tidak demikian adanya, para petinggi kami di sini pasang badan.

“tidak ada phk-phk-an, emangnya kita membayar buruh, pendidikan adalah untuk masa depan, kita harus konsisten, itulah gunanya universitas dengan banyak fakultas dan jurusan, kita bisa saling membantu, yang paling penting bapak-bapak di Jurusan berusaha keras dan mengevaluasi kenapa itu bisa terjadi dan diusahakan untuk tidak terulang lag. Mari kita berusaha, juga berdoa, kira berserah kepada-Nya, semoga Tuhan memberkati”.

Suatu dukungan yang luar biasa, sejak itu, karena juga mungkin Tuhan yang berencana maka setapak demi setapak, kami terbangun, dan dapat percaya diri seperti ini. Intinya kecuali infrastruktur fisik, diperlukan juga komitmen pribadi dari pimpinan-pimpinan pt untuk mau melihat jauh ke depan, bahwa pendidikan tidak hanya untuk saat ini tetapi suatu rangkaian menuju masa depan yang lebih baik.

Tentang keinginan mahasiswa tersebut agar “pt jawa juga berbagi ke daerah”, saya kira menarik sekali. Saya kira itu menjadi pemikiran bersama, bagaimana strategi pelaksanaannya, karena sekedar memberi hadiah atau materi atau tepatnya memberi ikan saja maka itu belum tepat. Akan lebih baik jika dapat diberi pancing.

Pemahaman berbagi dengan strategi win-win dan tidak membebani telah saya coba ungkapkan dalam mengelola blog ini. Mungkin itu dulu, semoga ini menjadi motivasi dosen atau para ahli lain di Jawa untuk berbagi.

Salah satu strategi yang paling pas sebaiknya mulailah dengan kata kunci syukur, dan introspeksi ke diri sendiri. Bersyukurlah anda sudah bersekolah di PTN yang berakreditasi A, saya kira masih banyak lagi yang tidak mendapat kesempatan seperti. Dengan kondisi seperti itu, apa yang dapat anda berikan ke yang belum beruntung tersebut. Jangan mengandalkan orang lain. pastikan hanya anda dengan dukungan Tuhan itu semua halangan dapat dihilangkan.

God Bless You.

About these ads

55 thoughts on “akreditasi PT, menyesatkan !?

  1. Jurusan saya termasuk yg mendapat nilai akreditasi sangat baik yakni A+ (dua periode berturut-turut), meskipun menurut saya belum bisa di pertanggung jawabkan sepenuhnya nilai tersebut dengan kondisi real dari jurusan saya tsb.

    Lantas saya pun bertanya-tanya , jurusan saya saja, yang akreditasinya A+ begini kenyataannya belum memuaskan dari segi aplikasi ilmu, keaktifan mahasiswa di forum keilmuannya, hubungan dengan dunia kerja. Apalagi yang dapat akreditasi cekak B, C bahkan D, lantas kalo dirunut benang merahnya tentu dalam hal ini DIKTI yg bertanggung jawab dalam memberikan evaluasi berkali lima tahunan itu.

    Apakah standar DIKTI sudah tidak valid lagi ?

  2. Saya kok kayaknya selama kuliah 4.5 tahun ga pernah bener2 peduli sama akreditasi ya pak. saya puas2 aja dengan cara belajar di UPH.

    Ide pertukaran pelajar nya boleh tuh pak, mungkin tuker belajar selama 2-3 minggu. :D

  3. Akreditasi hanyalah sebuah ‘penilaian’ yang tentu saja bisa jadi objektif dan bisa pula subjektif. Bahkan peringkat universitas sedunia (saya rasa pernah dibahas di blog kesayangan saya ini :D) pun bisa jadi rancu.

    Menurut saya yang penting adalah kesungguhan seluruh civitas akademikanya untuk menjadi yang terbaik bagi diri sendiri dan bagi bangsa.

    Keluhan mahasiswa kepada pak wir diatas memang membuat kita miris. Karena yang disampaikan memang betul adanya. Tapi menurut saya janganlah menjadikan keterbatasan sebagai alasan pembenaran keterbelakangan. Zaman dahulu pun dengan begitu banyak kekurangan toh menghasilkan orang orang yang hebat juga. gimana tuh pak wir? :)

    Wir’s responds: setuju !

  4. Kalau bicara akreditasi PT oleh Dikti, maka analoginya orang buta dinilai orang buta.

    Sebelum kita bisa jauh berpikir akreditasi PT, kita harus akreditasi alumni-nya. Banyak kok lulusan PT dengan akreditasi “A” ataupun PT yang “reputable” yang ternyata tidak mampu bersaing dengan alumni yang lulusan PT “bukan A” ataupun “non-reputable”.

    Cuma karena PT mereka punya label bagus, maka alumni PT yang “indie-label” jadi tidak terpakai. :(

  5. wah tulisan balasan nih pak yah ?

    memang seperti yang saya katakan di blog saya, kadang penilaian selalu diperdebatkan, karena standar penilaian berbeda.
    tapi alangkah baiknya penilaian itu trasparan jadi semua orang paham sistem penilaiannya.

    Saya rasa Teknik Sipil dengan jumlah mahasiswa sedikit dan masih muda mendapatkan B sesuatu yang luar biasa koq pak. Sekarang masih ada beberapa kampus yang berakreditas C malah. Suatu lompatan yang luar biasa jikalau nanti bisa mendapatkan A.

    Sistem akreditasi DIKTI seperti yang saya tau dari tulisan rektor saya adalah “tata kelola kepemimpinan, fasilitas lab, alumni, jumlah Guru Besar (tidak perlu harus expert asing), rasio Dosen dengan Mahasiswa, prestasi Mahasiswa, hingga rasio antara jumlah peminat dengan yang diterima adalah merupakan kriteria yang sangat lengkap untuk menunjukkan daya saing suatu Perguruan Tinggi”

    Jadi bukan menyudutkan jumlah mahasiswa sedikit sehingga akreditasinya kurang, tapi bukannya itu berbanding lurus dengan bagusnya kampus itu, makin banyak mahasiswa daftar.

    Saya rasa fasilitas hanya salah satu item penilaian akreditasi dengan tetap meperhatikan yang lain.
    Kalo bapak berfikir begitu tentang akreditasi, berarti bapak meragukan akreditornya dong ? bukannya sudah ditunjuk secara nasional dari orang-orang yang berkualitas ? dan juga bukannya juga dari kalangan dosen.

    wah kalo gini saya meragukan dosen-dosen Indonesia dong…

  6. Hahaha.. Postingan ini menunjukkan KEBODOHAN AKUT seorang dosen UPH yang mencoba membangun opini menyesatkan tentang akreditasi. Seperti diketahui umum bahwa Globe Asia, sebuah majalah yg masih 1 grup dg UPH telah mengeluarkan rangking PT dan menempatkan UPH di peringkat ke 2 setelah UI. Kenapa gak sekalian di atas UI aja?

    Ah.. Sudahlah.. Masyarakat pasti sudah tau visi misi UPH dan juga kualitasnya.

    Semoga dugaan sy salah, bahwa komen ini dimoderasi

  7. Hahahaha…. Pake moderasi beneran! Gak nyangka beraninya hanya menampilkan komen yg pro! Kelihatan bgt memang menghalalkan berbagai cara untuk membangun image! Bener2 bubble information!

  8. Menarik sekali Pak Wir. Sudah lama saya tidak komen di blog Bapak. Jadi pengen komen lagi :)

    Setuju dengan Pak Wir bahwa Akreditasi jangan sampai membuat kita jadi Down. Harus semangat. Harus terinspirasi dengan Novel ‘Laskar Pelangi’-nya Adrea Hirata.

    Wir’s responds: iya benar sekali itu tulisannya mas Adrea, sangat memotivasi khususnya bagi anak-anak muda. Itu harus menjadi novel wajib untuk anak-anak sma untuk dibikin rangkuman. Saya setuju.

    Jika semua mahasiswa di PT dengan akreditasi ‘biasa’ mau memacu diri untuk maju, tidak menutup kemungkinan akan bisa lebih baik dari mahasiswa dari ‘PT Ternama’.

    Ada istilah “Garbage In Garbage Out“. System pendidikan sebagus apapun tidak bisa mengubah seseorang. Hanya dirinya sendiri lah yang bisa dengan berkat dari Tuhan. “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah nasibnya sendiri“.

    Dulu saya SMA di luar kota. Hanya sebagian kecil saja siswanya yang lulus UMPTN. Apalagi ke ‘PTN ternama’ di Bandung. Bisalah dihitung dengan jari.

    Kawan saya sekolah di ‘SMA ternama’ di Bandung. 80% siswanya lulus UMPTN. Bahkan pernah 1 kelas (40 orang) masuk ke ‘PTN ternama’ itu.

    Akhirnya waktu dan kuasa Tuhan pula yang bicara. 3 kawan saya tidak lulus UMPTN. Saya sendiri akhirnya kuliah di ‘PTN ternama’ itu.

    Hikmahnya adalah: Jadikanlah ‘kekurangan’ (tanpa kutip ya) yang ada di sekolah kita, lingkungan kita, dll sebagai pemacu diri kita untuk berbuat lebih (seperti yang Pak Wir sampaikan). Bersyukurlah selalu karena “Jika kamu bersyukur, akan Aku tambah nikmat-Ku.” Dan jangan lupa bahwa yang bisa merubah diri kita ya diri kita sendiri. Bukan sekolah, dosen, atau siapapun. Semuanya hanyalah perantara saja.

    Salam sukses.

    Wir’s responds: semoga sharingnya juga dapat saling memperkuat, rekan-rekan lain yang merasa belum hebat, bahwa dengan merasa kita ‘kurang’, dan mau berusaha untuk menutup kekurangan tersebut, maka pada akhirnya adalah suatu yang luar biasa yang kita dapat. Trims mas Rahmat.

  9. semua informasi di halaman ini adalah bohong!

    testimonial “mahasiswa” PTN tersebut hanyalah karangan wir sendiri!

    dosen apa preman pak?

  10. P.Wir. masak tempat dengan fasilitas baik akreditasi B ?.

    Tempat saya mengajar dulu fasilitas biasa2 aja, tapi mahasiswanya memang banyak (harganya terjangkau sih, kalau mutu biasa2 aja, memang umur PTS tersebut sudah lama) dapat akreditasi B, mungkin sampai sekarang gak berubah ubah. PT tentunya butuh waktu untuk mencapai akreditas A, meskipun memiliki dana cukup. Kalau UPH, saya pikir hanya nunggu waktu untuk mendapat akreditas lebih tinggi.

    Saya pernah bertemu beberapa orang di Batam, mereka lebih senang mengirim anak nya ke Singapore atau Malaysia, alasan mereka PT di Jawa udah mahal, tanggung sekalian aja ke sana (kata mereka). Bahkan ada yang sudah memindahkan anak mereka sejak dari SMU (dari SMU yang mahal). Maksud saya sudah banyak orang tua melihat pendidikan di negara tetangga cukup terjangkau dan lebih baik .

    Akreditasi PT saya pikir memang diperlukan untuk memberikan gambaran ke konsumen (mahasiswa) atau tercatat pada instansi terkait. Saya sebagai orang tua, pasti akan memilih PT dg akreditasi tinggi dengan harga terjangkau, untuk anak saya (masih lama). Dan saya juga melihat dan merasakan perbedaan cukup signifikan antara PT di Jawa dan di luar Jawa, masih sangat terasa. Meskipun dari tahun 90an, sudah banyak program pencangkokan dari PT di Jawa ke luar Jawa. Beberapa berhasil dengan baik terutama PTN. Yah, akhirnya memang skala produksi dan mutu (komitmen dan konsistensi) yang akan memenangkan persaingan.

  11. @det, saye dan wir (namanya memang sama atau mengejek doang ?)
    Berbeda pendapat itu biasa, untuk itulah perlunya argumentasi dari masing-masing yang terlibat. Tentunya itu semua atas dasar keyakinan masing-masing yang sebenarnya, yang mereka ketahui.

    Apa yang saya ungkapkan di atas juga atas dasar pengetahuan yang saya miliki, disertai kejujuran juga, bahwa itulah yang saya yakini.

    Jika akhirnya tetap tidak ada titik temu, ya sudah, biarlah itu menjadi wacana. Nanti waktulah yang akan membuktikan.

    Hanya sayangnya dengan anda-anda sekalian, mengapa harus “berteriak di kegelapan” tanpa berani menunjukkan jati diri. Apa yang sebenarnya anda takuti, atau mungkin bisanya memang teriak doang. :mrgreen:

    Terus terang saya tidak prihatin dengan komentar dari pak rektor, Karena itu merupakan masukan baik untuk dipikirkan lebih lanjut. Ya, suatu introspeksi diri. Dengan itu semua bahkan dapat menjadi pemicu kami untuk bergiat terus agar lebih baik. Sedangkan komentar-komentar anda itu bahkan merugikan pak rektor tersebut jika ketahuan bahwa anda-anda adalah murid atau alumni intititusinya. Tetapi semoga tidak.

    Tetapi jika anda anak-anak muda semua, moga-moga anda bukan typikal generasi muda Indonesia pada umumnya. Kalau beraninya seperti itu, kapan kita mau maju. Nggak berani bertanggung jawab begitu. :(

    @aRul
    Mohon dicermati, tulisan itu bukan karangan saya, nanti saya tambah link ke tempat komentar yang asli. Tentang jurusan yang masih B bagi kami nggak masalah koq. Ya kerja keras agar lebih baik begitu.

    @rahmat,
    ya saya setuju, yang dapat merubah diri seseorang hanya orang itu sendiri. Tugas dosen adalah memberi petunjuk, arahan, bahkan motivasi dan kalau bisa dapat menjadi teladan begitu.

    Jadi jika ada yang berpendapat miring seperti pada komentar paling atas (det, saye,wir) , ya jangan ditanggapi miring gitu khan pak Rahmat. :D

    @santanu
    akreditasi memang membantu untuk memilih. Tapi saran, jangan telan bulat hasil akreditasi, ada baiknya berkunjung ke kampus yang dimaksud dan carilah kompetitor untuk dibandingkan. Biar mantap begitu pak, bagaimanapun pendidikan adalah investasi paling berharga untuk anak. Jadi perlu dipikirkan dengan masak-masak. Karena kalau sampai salah, itu tidak hanya soal uang, tetapi juga waktu dan semangat, bisa kacau semua.

  12. Wahhhh…. ada yang emosi…

    kenapa mesti emosi segala ya? kan ini cuma perbedaan pendapat.. mestinya pendapat2 ini yang dari berbagai sudut pandang bisa memperkaya wawasan semua orang yang baca…

    God Bless :D

  13. Freedom to speak..
    Freedom to share information..

    Saya rasa itu keinginan sebagian besar dari kita..
    Tapi ketika kebebasan itu tanpa disertai tanggung jawab..
    To speak the truth..
    To share the truth..

    Would you still believe that freedom?

    Mengapa bapak menyulut perselisihan dengan univ. lain dengan komentar..

    “Terus terang saya tidak prihatin dengan komentar dari pak rektor, Karena itu merupakan masukan baik untuk dipikirkan lebih lanjut. Ya, suatu introspeksi diri. Dengan itu semua bahkan dapat menjadi pemicu kami untuk bergiat terus agar lebih baik. Sedangkan komentar-komentar anda itu bahkan merugikan pak rektor tersebut jika ketahuan bahwa anda-anda adalah murid atau alumni intititusinya. Tetapi semoga tidak.”

    Dari komentar itu, sadarkah bapak bahwa dalam hati.. bapak memang berharap para pendukung kontra anda adalah murid atau alumni ITS (terbuka sajalah..). Dalam psikologi terbalik (reverse), anda menunjukkan keinginan yang sebenarnya. Keinginan untuk membuat malu rektor institusi tersebut.

    Benarkah demikian?
    Semoga tidak..

    Tahukah bapak bahwa kontroversi ini telah beredar luas di kalangan mahasiwa?
    Semoga tahu..

    Time will answer..

    Sementara itu, kontroversi ini cukup pada masalah peringkat..
    Anda dengan pendapat anda, orang lain dengan pendapat mereka juga..
    Toh tak ada menang kalah dalam hal ini..
    Semuanya berpulang pada pengguna informasi tersebut..

    Tapi jika anda mencoba membuka kontroversi baru.. It’s so not wise..

    Laskar Pelangi..
    Buku yang sangat menginspirasi..
    Namun dengan tingginya “harga” kuliah di UPH, apakah benar bapak dapat menangkap jiwa buku tersebut?

    Jadi mengenai pemerataan pendidikan..
    Saya setuju sekali!

    Mungkin anda dapat mulai berpikir untuk mengabdi di daerah..

    Maukah anda?

    GBU

    ttd
    Bukan Mahasiswa/Alumni ITS

  14. to : Richard S

    hehehe.. maklum aja deh, kalo sampai banyak yg panas dengan berbagai tulisan tentang akreditasi ini.. Mungkin yg pada emosian masih berstatus mahasiswa dan gak rela kalo tempat kuliah mereka dinilai kalah dari PT lain.. arogansi universitas masih tinggi gitu loh.. hehehe..

    kl ITB sih, dulu pernah dinilai sebagai yang no.1 di Indonesia dan no 40-an di Asia (hasil survey tahun 1997, tapi oleh siapa saya kok lupa ya.. kl gak salah majalah Asiaweek ya? tolong koreksi kl ada yg tau). Tapi sekarang kyk nya peringkatnya turun terus euy… Ya ambil aja hikmahnya bahwa masih buanyak yg musti dibenahi di ITB.. Jadi ketimbang beropini yang memancing kontroversi, adalah jauh lebih produktif kl mengintrospeksi diri..

    kl P Priyo mungkin merasa perlu mengomentari lebih karena beliau adalah anggota akreditasi Dikti, sehingga memang ada tanggung jawab moral untuk memberikan sosialisasi ke masyarakat tentang standar di Dikti. Terlepas dari pro-kontra nya at least tulisan beliau tidak anonim dan ada argumen yang mendasari ketidaksetujuannya. Masalah setuju atau tidak ya itu terserah pembaca masing2 lah. seperti kata Richard : perbedaan kan bisa menambah wawasan kita.

    makanya alumni ITB yg rajin nulis komentar di blog ini masih hepi-hepi aja tuh (ex : saya, donald, dion). betul gak bos-bis? kite mah, asik-asik ajee.. :D

    -Rp-

  15. Ada kesimpulan baru nih,
    bahwa ada baiknya “komentar anonim” perlu dibiarkan. Kenapa, karena ternyata bisa berfungsi seperti bumbu. Jadi tambah ramai, yang membaca juga semakin semangat. Menambah HIT gitu. :mrgreen:

    Tapi kalau membaca komentarnya mas Robby

    gak rela kalo tempat kuliah mereka dinilai kalah dari PT lain.. arogansi universitas masih tinggi gitu loh

    koq jadi ada benarnya juga ya. Mungkin daripada berpanjang lebar, ada baiknya saya bilang aja “iya deh, ngaku kalah”. He, he, biar senang, terhibur, puas ya. Padahal kalau mau melihat fakta, melihat di depannya langsung, bahwa pts yang dimaksud telah menancapkan kukunya di kota tersebut. Ini mah bener-bener face to face. Belum tahu, silahkan baca ini, ini atau ini detik-surabaya. Dengan adanya kompetisi seperti itu yang diuntungkan khan konsumennya, siapa itu. Ya , rakyat indonesia sendiri. Strategi bisnis khan jelas, kompetitor baru nggak mungkin berani, jika produk yang dijual kualitasnya sama tetapi harganya lebih tinggi. Pasti ada sesuatu itu.

    Bagi adik-adik calon mahasiswa di Surabaya, ada baiknya lihat dan dengarkan tawaran dari PTS tersebut, karena belajar dari ketika pertama yang pusat dulu didirikan terlihat sekali bahwa perhatian kepada mahasiswa/i baru benar-benar istimewa gitu lho. PTS tadi pasti akan berusaha mati-matian terhadap angkatan yang pertama itu. Lha itu khan menguntungkan anda, khususnya beasiswa. Benar lho, jika anda punya kemampuan, bisa lho, lulus jadi sarjana gratis. Ada koq itu. Tapi kata kuncinya adalah berprestasi.

  16. To All

    Mau sekolahnya no.1 mau no 100 mau no. 1 juta, problem kehidupan itu jauh lebih besar dari itu.

    Life goes on so we should move on.

    Tapi seperti kata pak Robby di atas don wori bi hepi aja ya bos…jangan males kalean kuy :p

  17. Melanjutkan tulisan di atas..
    Maaf saya tidak mencantumkan nama..
    Lupa..
    Saya Arthur Malonda..
    “Mantan mahasiswa/Alumni Universitas Surabaya” (Satu kota dengan ITS namun bukan satu institusi!) :P

    Bapak juga dapat baca komentar saya di blog milik azruldinazis atas nama MuMu. (Trbyasa ber-friendster ria jd trbyasa jg pke nama panggilan) Hehehe..

    Saya tidak ada hubungan apapun dengan ITS ataupun UPH (kecuali hubungan perkawanan dengan kawan” mahasiswa kedua institusi tersebut) Hehehe..

    Tidak ada yang perlu mengaku kalah dalam hal ini pak.. Kita tidak sedang berperang bukan ?
    Kita hanya mencoba berargumen akan sesuatu yang kita yakini masing-masing..
    Jika tidak ada tujuannya, niscaya hanya akan berujung pada kesia-siaan..

    Sekedar intermezo, bila saja peringkat itu disebarkan dalam media internal kampus UPH sendiri dan bukan untuk konsumsi publik luas (GlobeAsia) mungkin tidak akan menjadi kontroversi.

    Saya rasa semua universitas pasti melebih-lebihkan kualitas masing-masing di media internal mereka sendiri.

    Selanjutnya..

    Saya terusik pada perkataan bapak wir

    Strategi bisnis khan jelas, kompetitor baru nggak mungkin berani, jika produk yang dijual kualitasnya sama tetapi harganya lebih tinggi. Pasti ada sesuatu itu.

    Dalam blog milik azruldinazis anda berkata ingin diajak bersama-sama memajukan negara ini (termasuk dunia pendidikan kah?), namun kini anda menganalogikan bahwa universitas “adalah kompetitor” dalam bisnis.

    Benar-benar membuat saya berpikir,
    Selamat datang di dunia bisnis pendidikan..
    Komersialisasi pendidikan..

    Mengapa dengan kualitas sama tidak mencoba harga yang lebih murah ?
    Mengapa harus lebih mahal?
    It’s really not make sense..

    Kuliah 4 tahun di jurusan ekonomi, saya belajar bahwa dengan kualitas sama maka konsumen akan memilih yang harganya lebih murah.
    Perkecualian pada beberapa variabel yang tidak dapat diukur (ikatan emosional, dll)
    Maaf bila ada hukum ekonomi baru yang terlewatkan oleh saya. Mohon koreksi.

    Kecuali bila..
    Anda mengeluarkan fasilitas dari “folder” kualitas (yang berisi SDM pengajar, sistem ajar, organisasi mahasiswa, dst).. lalu membuat satu folder fasilitas sendiri.

    Membingungkan ?

    Dengan kata lain.. Anda menawarkan kualitas DAN fasilitas..

    Atau bila saya salah menangkap,

    Maksud bapak adalah kualitas UPH di atas universitas yang “harga”nya lebih rendah..
    Benarkah?

    Mohon koreksi lagi bila saya salah..

    Kalaupun benar..

    Semoga LPPM yang anda katakan sedang berkembang (juga demikian cerita dari kawan” mahasiswa UPH yang berkunjung ke kampus saya beberapa waktu lalu), dapat benar” ikut menancapkan kuku dan berkontribusi di masyarakat yang jangankan bermimpi kuliah di UPH.. Melamun tuk dapat melanjutkan kuliah pun segan..

    Dengan banyaknya jurusan yang UPH miliki (dan dana), semakin besar pula kewajiban untuk berkontribusi di masyarakat..

    Tidak perlu sibuk dengan masalah peringkat..

    Selama informasi yang diberikan jelas dan benar, biarkan masyarakat yang membuat kesimpulan..
    Tugas kita bersama tuk memberikan informasi jelas dan benar tersebut!

    Semoga bermanfaat..

    Regards,
    Arthur Malonda

  18. Yth mas Arthur Malonda,

    Saya kurang menangkap inti tulisan yang anda sampaikan. Kalau tidak salah bahwa anda jengah, merasa nggak bisa diterima nalar akan pernyataan terbuka pts yang dimaksud. Atau nggak sepantasnyalah berkata seperti itu. Lalu anda menganggap bahwa semuanya itu adalah sebuah kebohongan publik, gitu khan.

    Ketahuilah mas, pada saat saya masuk pertama kali. Saya juga berpikir seperti itu. Bayangkan saya orang lama di industri, lalu ketemu pimpinan yang menyatakan mimpi-mimpinya. Padahal anda tahu waktu itu, secara fisik bangunan tempat kami-kami berkantor dan mengajar hanya berupa gedung parkir yang dirombak. Bayangkan itu. Secara nalar saya juga bisa berpikir logis, saya ragu, tetapi karena waktu itu krisis ya tetap disitu.

    Waktu berjalan, dan tanpa terasa sudah hampir 10 tahun. Banyak perubahan dalam hidup saya, dari seorang engineer di belakang meja, yang tidak bisa mengungkapkan ide, selain hanya karya design struktur (berupa gambar) sampai seperti sekarang ini ternyata bisa bermain kata-kata, bahkan maunya setiap hari mau menulis terus. Saya tidak membayangkan itu mas.

    Selanjutnya saya coba untuk melakukan refleksi balik ingatan saya pada saat awal tersebut. Antara percaya dan tidak, saya harus mengakui jujur bahwa apa yang dulu dikatakan para founder tersebut telah terlihat oleh mata kepala saya sendiri, dari hanya beberapa jurusan sekarang sudah belasan. Dan semakin eksis saja. Bahkan sekarang telah melebarkan sayapnya sampai ke Surabaya.

    Saya tidak bisa menjelaskan dengan nalar, apa itu semua hanya karena kekuatan uang saja. Saya yakin itu juga karena tangan yang tidak kelihatan, karena memang Tuhan menghendaki.

    Kenapa saya ngomong Tuhan, ya benar, bahwa meskipun tidak ada kata yang berkaitan dengan Tuhan, tetapi sebenarnya pt yang dimaksud adalah non-sekuler, karena visi dan misi berbasis ke Tuhanan, yaitu universitas kristen.

    Jadi kalau semua di atas tadi hanya sekedar mau membohongi masyarakat, maka konsekuensinya tidak hanya masyarakat itu saja, tetapi juga Tuhannya dari para pemimpin yang mengelola pt tersebut. Jadi jangan kuatir mas, jika memang apa yang anda curigai benar adanya, biarkanlah Tuhan yang akan menghukumnya.

    Karena seperti pelita, agar terangnya berguna maka dia harus diangkat tinggi-tinggi, lebih tinggi dari yang lain agar dapat berguna. Kalau hanya dibawah yang lain, bagaimana pelita tersebut dapat berguna.

    Pokoknya sangat menarik mas, kalau mendengar visi dan misi para penyelenggara atau pendiri pts tersebut. Kadang-kadang nggak masuk akal, tetapi ya bener-bener terjadi.

    Keyakinan mereka bahwa visi dan misi yang diomongkan adalah benar-benar akan terjadi perlu diacungin jempol. Terus terang saya belum selevel mereka dan saya sedang berusaha mencontohnya.

    Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
    [Markus 11:24]

    ini ada lagi, lebih pendek bahkan

    . . . Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya !
    [Markus 9:23]

  19. Tambahin sama saya pak Wir

    Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga
    [Matius 18:19]

  20. Jangan angkat terlalu tinggi Pelitanya, nanti jadi Menara Gading(isue zaman lama,PT yang jauh dari masyarakat) kalau jadi Menara UPH boleh-boleh aja. Biasa aja,pak, maksud baik seseorang belum tentu baik untuk yang lain.

    @Robby Permata
    Salam kenal, Bagaimana peringkat ITB, gak turun bos, bukankah “Berhasil sesuai bidangnya biasa saja, berhasil diluar bidangnya dapat empat jempol” (maksud saya banyak yang pindah jalur dan berhasil). Tapi ITB, tetap unggul karena SDM dan mahasiswa tersaring, dan punya Budaya Akademis yang khas dan sdh terbentuk lama.

  21. @donald
    Trims, koq jadi sekolah minggu ya. :D

    @Santanu
    Betul, kalau terlalu tinggi, bahkan bisa jadi bintang di langit, jika demikian bukannya menjadi penerang, tetapi hiasan pelengkap doang (nggak ada fungsi nyata). :mrgreen:

  22. @ donald :

    lho, kok jadi mirip pendalaman Alkitab ? :)

    @ Pak Wir :

    Saya pikir ini yang sering terjadi dalam dikotomi PTN-PTS.

    Ketika seseorang masuk ke sebuah PTN, yang dibanggakan adalah ke-NEGERI-an dan ke-SENIOR-an dari PTN yang bersangkutan. Lupa bahwa sebuah kualitas tidak ditentukan oleh embel-embel NEGERI atau SENIOR.

    Begitu juga ketika masuk ke PTS. Sering yang dibanggakan adalah FASILITAS dan MODAL yang berlimpah dari universitasnya. Lupa juga kalau kualitas tidak melulu hanya soal fasilitas dan modal besar.

    Universitas-universitas sekarang ini sedang berjalan menuju pada universitas riset. Ini point utama yang harus mendapat proporsi tertinggi dari segala bentuk akreditasi dan ranking, menurut pendapat saya. Jadi kalau hanya mengandalkan NAMA, SENIORITAS, FASILITAS, dan MODAL tanpa disertai tradisi riset yang kuat dan berbobot, maka universitas itu hanya sekedar MENYAMPAIKAN ILMU, dan bukan MENGEMBANGKAN ILMU.

    Keterkaitan utama antara Universitas dan Bisnis adalah pada kontribusi dunia bisnis pada riset universitas. Riset (baik ilmu murni atau aplikasi) akhirnya bisa digunakan untuk beberapa kegunaan. Bisa untuk kepentingan dunia bisnis dan bisa juga untuk kepentingan ilmu itu sendiri. Dan yang lebih besar lagi untuk kepentingan bangsa ini.

    Apa yang saya tulis di blognya Arul bukanlah suatu gugatan akan kesuksesan UPH. Tapi lebih tertuju pada sistem ranking dan akreditasi universitas yang bisa saja bias dan dipenuhi kepentingan tertentu. Kepentingan tertentu dibalik itulah yang bisa membuat suatu informasi menjadi tidak pada tempatnya. Bisa jadi bias itu ada pada sistem akreditasi PT yang dilakukan DIKTI jika dilakukan tidak transparan. Bisa jadi bias ranking universitas dilakukan oleh Globe Asia yang menerapkan kriteria yang “melenceng” dari kriteria umum.

    Sebagai selingan saja, saya salah seorang Alumnus SMA TN Magelang. Dan ketika UPH pada waktu itu banyak merekrut alumni SMA TN agar kuliah di UPH dengan beasiswa (atas jasa Bpk J. Parapak), saya tidak ikut didalamnya. Tapi teman-teman saya banyak yang menjadi mahasiswa UPH dan mereka lumayan sukses.

    Kuliah dan lulus dari PTN ternama bukan jadi keunggulan kalau tidak disertai dengan kualitas diri. Bahkan pada banyak kasus, lulusan PTS banyak yang lebih berhasil dibandingkan yg lulusan PTN.

    Thanks atas sharingnya, pak.

    @ Santanu :

    P.Wir. masak tempat dengan fasilitas baik akreditasi B ?.

    Fasilitas hanya salah satu penentu dalam sistem akreditasi/ranking universitas. Proporsinya dalam sistem itu juga tidak lebih besar daripada kualitas dosen dan catatan riset.

  23. to mas Fertob

    Tentang dikotomi PTN-PTS, saya setuju banget, bahkan tanpa disadari itu pulalah yang saya lakukan selama ini.

    Pada waktu muda dulu, rasanya kalau tidak di PTN itu belum kuliah. Lalu melihatnya sebagai segala-galanya. Tetapi dengan berjalannya waktu, saya akhirnya dapat melihat bahwa hal tersebut belum tentu benar, keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh pribadi, sangat personal.

    Saya menemui banyak orang-orang lain, yang dimulai dari S1 di PTS yang dulu saya anggap bukan tempat kuliah ideal, tetapi orang-orang tersebut tetap konsisten dengan mimpi-mimpinya, dan akhirnya mereka-mereka tersebut ternyata bisa mendapat posisi yang baik karena setelah s1, terus dikembangkan ke s2 dan akhirnya s3 tidak lama kemudian. Ternyata mereka yang di PTS mempunyai wawasan yang lebih luas dari saya dulu yang duduk di PTN. Kesannya, terlena begitu.

    Jadi kuncinya adalah timbulnya pemahaman bahwa kita harus dinamis, apakah PTN atau PTS mempunyai kemungkinan berkembang sama baiknya dan tergantung manusia-manusianya sendiri.

    Dinamis dalam arti, berusaha terus menerus untuk tumbuh dan berkembang untuk akhirnya dapat berkelimpahan untuk diberikan ke orang lain di sekitarnya. Kalau sudah seperti itu, hebat !!. Itulah mengapa ada negara kecil tetapi bisa memberi, sedangkan ada juga negara besar yang katanya kaya raya, tetapi butuh dan meminta-minta bantuan. :) :D :P

  24. to : P Santanu

    “Berhasil sesuai bidangnya biasa saja, berhasil diluar bidangnya dapat empat jempol” (maksud saya banyak yang pindah jalur dan berhasil).

    hahaha.. iya euy.. di angkatan saya saja, yang masih setia di bidang sipil mungkin sudah minoritas, apalagi “yang masih mendalami tegangan-regangan” (ini istilah saya untuk alumni sipil yg jadi konsultan/dosen.. hehehe..).. Sisanya jadi bankir, jadi enterpreneur, (calon) politisi, dll..

    Ada yang bilang, alumni ITB pada sukses bukan karena ITB-nya yang hebat dalam mendidik, tapi karena memang dari sononya pinter-pinter :D (sekali2 nyombong boleh atuuuh.. hehehe)..

    Tapi ada enaknya juga, karena teman2 saya pada berbondong2 ke oil&gas industry, atau di perusahaan telekomunikasi (ikutan proyek BTS yg kemaren lagi booming), saya yg ngurusin jembatan jadi minim pesaing… hahaha.. makanya sekarang saya malah bingung karena tawaran proyek yg banyak, istilahnya kerjaan yg datang sendiri.. :) pdhal tesis belum beres.. duh..

    -Rp-

  25. Dear Pak wir..

    Yah kalo disimpulkan secara singkat benar maksud saya adalah saya jengah dengan kebohongan publik.

    Namun tolong diingat, saya tidak sedang menghakimi anda ataupun UPH.
    Tuhan jauhkan saya dari pikiran tersebut!
    Soal kebenaran yang sejati, itu sepenuhnya tanggung jawab anda, pemilik UPH ataupun siapapun juga (termasuk saya) dengan Tuhan saat kita diseleksi dapat duduk di sebelah kanan Allah Bapa atau terbakar dalam api dosa di neraka.
    Saya mengomentari tulisan” yang ada di blog arul maupun anda tulus karena kebencian saya pada kebohongan publik.
    Saya juga tentu berharap apa yang anda katakan mengenai visi misi UPH adalah benar adanya (dijalankan).

    Ayat “Tiada yang mustahil bagi orang percaya” tuh harus juga dilandasi ayat “Doa orang BENAR besar kuasanya”.
    Gak akan cukup bila cuma percaya kan pak. ;p
    Bapak pasti lebih taulah dari saya..

    Dan amin juga soal tuh pelita.. Asal nyala’innya pake minyak kebenaran aja loh pak.. Hahaha..

    Terakhir..
    Buat UPH yg bercita” mulia..
    Inget aj..
    “Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”

    Jadi ya..
    Teruslah berkarya..
    Dalam kebenaran..

    Regards,
    Arthur Malonda

    Wir’s responds:
    Terus terang saya juga tidak suka atau benci dengan kebohongan, apalagi publik. Bohong itu khan sama dengan menipu, bisa perdata itu. Jadi jika memang berbohong mohon di deskripsikan kebohongan-kebohongan tersebut. Terus terang, itu juga membantu saya. Siapa tahu ternyata saya ketipu. Iya khan. :mrgreen:

    Kalau tentang UPH lebih baik dari PTN yang lain, bagi saya ada benarnya, tergantung cara memandang. Jika yang anda jadikan tolok ukur adalah komentar tertulis rektor ITS, lalu anda juga ngotot menjadikannya itu sebagai acuan, bahwa nggak mungkin itu terjadi. Itu sah-sah saja, tapi bagi saya kalau lain khan nggak masalah. Basic saya juga PTN, nggak kalah-kalah amat dengan PTN yang anda jadikan acuan tersebut. Artinya saya juga tahu kondisi PTN dari pengalaman pribadi, kalau anda, khan hanya ngliat dari luar khan.

    Jadi sekali lagi, mohon dijelaskan argumentasi ttg kebohongan publik tersebut. Jangan sekedar teriak-teriak secara abstrak. Jangan hanya seperti *on* k**ong berbunyi n*aring. Malu ah. :P

  26. sdr Admin Kaskus

    Tentang yang kecewa !?

    Wah jelas, pasti ada pak. Jika anda ke kampus UPH, tidak juga anda, kamipun tidak bisa seenak-enaknya sendiri. Sebagai tempat milik bersama, karyawan, mahasiswa yang jumlahnya ribuan pasti ada peraturan yang harus dibikin.

    Peraturan itu biasa pak, tempat yang anda admin yaitu Kaskus pun juga punya aturan. Iya khan.

    Jadi yang kecewa itu biasanya yang keinginannya tidak bisa terpenuhi gitu lho mas.

    Mahasiswa sayapun juga pasti ada yang kecewa, misalnya yang dapet nilai jelek. Nggak belajar tapi maunya nilainya baik.

    Untuk itulah orang-orang seperti itu perlu disadarkan, perlu di transformasi sehingga dapat tumbuh dengan baik. Untuk itulah gunanya ada guru, ada pendidikan. Kalau guru atau pendidikan ngikutin semua kemauan murid, itu namanya nggak punya prinsip. Kasarnya hanya jual ijazah aja, atau jual nilai aja. Gitu lho.

    Jadi tentang kecewa itu hal yang biasa. Hanya saja, seperti biasa sifat manusia, yang kecewa berusaha mencari teman, untuk bisa sama-sama mencari pembenaran diri. Salah satunya khan forum yang anda admin tersebut bukan (www.kaskus.us) . :mrgreen:

  27. Wah..
    Kapan saya mengatakan UPH lebih baik dari PTN? Mungkin bisa diingatkan pada tulisan yang mana..

    Begitu juga tentang kebohongan publik..
    Adakah saya menuduh anda atau UPH melakukan kebohongan publik?
    Tolong ditunjukkan pada bagian tulisan saya yang mana saya berkata demikian..

    Ataukah anda yang akhirnya mengambil kesimpulan tersebut?

    Bapak meminta saya tidak berteriak abstrak?
    Lalu apa yang bapak lakukan di dalam kelas?
    Saya kini bekerja secara riil..
    Apa yang saya dapat abstrak dari dosen” yang terhormat seperti bapak sedang saya lakukan secara konkret..

    Bapak punya latar belakang pendidikan yang sangat wah.. Hebat!
    Apalah arti saya yang hanya sarjana strata satu dibandingkan profesor?

    Namun jika anda menyebut saya tong kosong berbunyi nyaring..
    Puji Tuhan bukan tipe saya seperti itu..

    Mungkin dapat ditanyakan ke BEM UPH bapak yang berkunjung ke kampus saya..
    Saya meluangkan waktu bagaimana membantu kawan” tersebut untuk menyusun konsep pengabdian masyarakat UPH..
    Seperti yang saya dan kawan” di Ubaya sudah lakukan dan berhasil..
    Langkah konkret membantu masyarakat..

    Salah satu dari Tri Dharma PT bukan..

    Jadi saat anda mengatakan saya abstrak..
    Jujur saya kecewa pak..

    Tau gini saya gak bantuin kawan” UPH..

  28. @Mumu,
    tadi sudah calm, sekarang ramai lagi. :(

    Sdr. Mumu atau sdr. Arthur Malonda atau sdr. siapa, terus terang saya tidak tahu apa itu benar atau apa itu nama samaran. Dalam pikiran saya anda adalah anonim, saya sudah mencoba cari tahu info anda, yang saya tahu anda mengaku telah empat tahun sekolah . Itu saja.

    Selanjutnya saya hanya mengevaluasi berdasarkan tulisan-tulisan anda.

    Lalu sekarang anda marah-marah dan menyatakan

    Mungkin dapat ditanyakan ke BEM UPH bapak yang berkunjung ke kampus saya..
    Saya meluangkan waktu bagaimana membantu kawan” tersebut untuk menyusun konsep pengabdian masyarakat UPH..
    Seperti yang saya dan kawan” di Ubaya sudah lakukan dan berhasil..
    Langkah konkret membantu masyarakat..
    Salah satu dari Tri Dharma PT bukan..

    Itu khan bukti bahwa anda ingin pengakuan !

    Jelas kalau saya tahu anda, tentu cara berkomunikasi bisa lain. Itulah gunanya identitas jelas. Jadi jangan berpikir bahwa anda secara keseluruhan pasti sudah dikenal. Itu konsep lesan mas. Kalau begitu anda termasuk pekerja pendidikan, seperti saya juga ya. Lho kalau begitu satu level dong cara pemikirannya. :mrgreen:

    Jadi seperti beginilah mas kalau berkomunikasi dalam bahasa tulis. Lugas sesuai yang ada ditulisan. Mungkin secara lesan anda benar, tetapi ketika dituliskan belum tentu kebenaran yang anda punya dapat disampaikan.

    Itu pula yang menjadi bukti, bahwa ada dosen yang merasa sudah puluhan tahun mengajar (lesan), lalu meminta orang lain (bukan murid) menganggapnya sebagai senior. Wah mana bisa ! Kalau nggak pernah berinteraksi, kecuali dia punya bahasa tulis, sehingga orang lain bisa menyelami kesenioritasannya via pikiran yang dituliskannya. Itulah mengapa dosen di Indonesia, lebih fokus untuk mendapatkan jabatan birokrasi, seperti ketua jurusan, dekan, rektor dll agar orang lain bisa menyebutnya senior (dihormati).

    Tapi karena anda sesama dosen (dengan kalimat anda, dan juga menyampaikan informasi institusi) rasanya diskusi kita jangan diteruskan, kecuali anda bisa berpikir dingin.

    Saya ingatkan karena kalau emosi seperti diatas, maka akan semakin transparan anda, bukannya mendapat hormat, bisa-bisa cibiran belaka. Terus terang saya malu berdebat kusir dengan anda yang ternyata satu level, atau sama-sama dosen gitu. Kalau memang anda punya sesuatu yang menarik sehingga dapat menginspirasi orang lain, silahkan informasikan. Itu lebih baik dari pada anda mencak-mencak, merasa sudah berbuat banyak, tetapi koq tidak dianggap. :(

    Tau gini saya gak bantuin kawan” UPH..

    Itulah pak, kalau bekerja di sektor pendidikan jadi guru atau dosen maka kalau berbuat itu jangan pamrih. Khan sudah saya bilang, anda jadi kecewa khan. :mrgreen:

    Guru atau dosen khan bukan bisnisman, materi relatif kecil, jadi kalau kecewa. Cepet tua lho pak! :P

  29. Tidak pak, mereka bukan mencari teman senasib.
    melainkan kebebasan berpendapat dan sharing pengalaman saja. bisa bermanfaat bisa tidak bagi pembacanya.
    yang pro dan kontra boleh berpendapat masing masing.

    Pro atau Kontra

  30. sdr Admin Kaskus

    Syukurlah kalau memang begitu.

    Adanya feedback berupa masukan kalau ditindak-lanjutin dengan baik maka akan menjadi sesuatu yang berharga. Tentang pro dan kontra itu memang biasa, apalagi masih di dunia ini. Lha wong nabi saja, yang bagi sebagian orang akan dibela mati-matian, tapi bagi sebagian orang lain di ejek. Pedang yang sangat tajam dan kuat bagi yang megang itu menimbulkan PD tapi bagi lawan itu khan menakutkan. Iya nggak mas.

    So santai aja.

    Baru ketika ada orang, yang hidup di institusi, yang bekerja disitu, lalu ngomong yang negatif-negatif tentang institusi tersebut. Itu baru nggak bener, nggak punya karakter namanya. Gitu khan mas.

    Sukses ya Kaskus-nya bisa menjadi tempat curhat orang-orang seperti itu. Omong-omong informasinya bisa menjadi referensi nggak, atau hanya sekedar tempat membuang kata karena penulisnya anonim (tidak bisa dilacak secara umum, kecuali adminnya doang). :mrgreen:

  31. Saya calm karena belum membaca penilaian bapak mengenai saya tentang tong kosong nyaring bunyinya..

    Yah saya akui saya terpancing emosi karena penilaian bapak tadi itu..
    Tapi jujur, tidak ada pemikiran pamrih..
    Soal pengakuan.. Lain lagi pak..
    Saya memang bangga dengan pengabdian yang saya berikan..
    Seperti bapak bangga dengan karya” bapak..
    Tak ada maksud lain..

    Saya hanya berusaha menjelaskan ketidak setujuan saya dianggap abstrak oleh bapak..

    Mungkin saya kecewa karena anggapan itu sehingga terlontar ungkapan
    “Tau gini saya gak bantuin kawan” UPH”

    Dan ya! Debat kusir ini sepertinya tidak perlu diteruskan lagi..

    Saya juga belajar untuk menjadi lebih baik kok pak.. Yah.. Namanya proses..
    Saya belajar untuk berdialektika yang baik dan benar.. Kalau salah ya mohon diingatkan..

    Btw pak, saya bukan dosen..
    Saat saya menerima kunjungan BEM UPH..
    Saya hanya selaku aktivis..

    Demikian lah..
    Semoga selanjutnya saya dapat berdiskusi dengan bapak melalui cara yang lebih baik..

    Untuk sesuatu yang bermanfaat juga..

    Setuju kan pak?

  32. sdr Mumu,

    Sebagai aktivis, wah itu lebih penting lagi, jangan sedikit-sedikit emosi dan sembarang mengucapkan kata. Bisa-bisa dimanfaatkan.

    Kalau emosi, nanti seperti petinggi negeri ini tempo hari, masalah pekerjaan (jabatan) dikaitkan juga dengan membawa-bawa keluarga. Akhirnya apa, nggak ada untungnya bukan.

    Syukurlah, diskusi topik ini bisa diakhiri dengan baik. Karena apabila diteruskan pasti tidak akan ada titik temunya karena topiknya masuk pada hal-hal yang bias, terkait dengan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari unsur subyektifitas. Oleh karena itu, jika anda jeli, saya tidak pernah menyinggung masalah ‘penilaian yang menjadi kontroversi’ tersebut. Saya selalu melihat dari kaca mata pribadi, personal sekali sifatnya. :mrgreen:

    Mengapa saya tidak membahas dari kacamata penilaian yang kontroversi tersebut, ya dari sisi itu memang bukan kapasitas saya.

    B.t.w tetapi menarik juga diskusi dengan anda, penuh semangat gitu. Apalagi nanti jika ditambah materinya yang lebih berbobot. Seorang aktivis diharapkan dapat menjadi teladan bagi yang non-aktitivis

    Semoga sukses.

  33. Yup..
    Semoga nanti saya bisa ikutan menyumbang pikiran dan berdiskusi dalam topik” yang bapak release di blog ini..

    Ntar kalo saya udah bikin blog sendiri, silahkan membagi pikiran bapak juga..
    Sementara ini masih belum siap bikin, masih bingung maintenance-nya..

    Tentang emosi.. Namanya juga darah muda pak..
    Titik didihnya lebih rendah dari orang tua..
    Cepet panas..
    Hehehe..

    Yah.. walau sekarang saya sudah lulus dan bekerja.. mudah-mudahan jiwa aktivis tersebut dapat terus berguna di lingkungan kerja..
    Sebelum nantinya berguna bagi komunitas yang lebih besar lagi..
    Dan menjadi pelita..
    Amin..

    It’s a pleasure to talk with you..

  34. Syukurlah, saya jadi ingat apa yang ditulis orang ribuan tahun lalu, yaitu

    Janganlah mengecam seorang pencemooh, supaya engkau jangan dibencinya, kecamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya, berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah.
    [Amsal 9:8-9]

    Padahal “pengetahuan akan sesuatu yang benar” atau “hikmat” merupakan hal yang sangat berharga yang harus dicari dalam hidup ini, dan bukan uang.

    Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas.
    [Amsal 3:13-14]

  35. Testimony sebagai mahasiswa teknik sipil UPH:

    Saya gak pernah merasa dirugikan dengan akreditasi teknik sipil UPH yang belum A. UPH tidak hanya kampus yang dimanjakan dengan berbagai fasilitas mewah yang bertaburan. Nilai jual UPH juga pada lecturers yang profesional.

    Hal yang paling unik dari UPH ada visi dan misi yang jelas dari kampus ini. true knowledge, faith in God, and Godly character. So UPH gak cuma berfokus pada pendidikan akademik, tetapi juga pengembangan karakter dan kepribadian mahasiswanya.

    Banyak pra sangka yang salah tentang UPH selama ini. UPH dikenal dengan kampus borju, para anak-anak mama papa, dengan segudang fasilitas yang sudah dipersiapkan. dont judge the books from its cover. gak gitu nya amat kali. Kita disini di tempa untuk bisa menjadi mandiri.

    Fasilitas yg tersedia jika tidak tahu, atau bahkan salah dalam pemanfaatannya tentu saja percuma bahkan menjadi batu sandungan, betul ?

    Hal paling berkesan buat saya adalah di UPH, seluruh warganya baik mahasiswa, staff, dosen, bersifat kekeluargaan. (kekeluargaan bukan dalam tanda kutip loh !). Semua staff dan dosen ramah dan bersahabat. Pernah suatu waktu saya berkunjung ke PT lain, saya terkejut melihat perlakuan yang sangat berbeda terhadap mahasiswanya.

    Tentu saja gak ada yang sempurna di dunia ini. UPH juga punya kekurangan. Salah satu kekurangannya antara lain jumlah mahasiswa teknik sipil yang masih sangat minim, yang lain antara lain ya.. itu, dari peraturan. Kadang terlalu banyak peraturan yang menjadi ‘beban’. tetapi tentunya rule itu dibuat untuk kepentingan bersama. Rule adalah win – win solution untuk kepentingan kehidupan bersama. Terkadang memang ada yang menyinggung beberapa individu agar kehidupan bersama bisa berjalan baik.

    Soal status akreditasi, nilai sebagai cermin kecerdasan, saya rasa itu bukan faktor utama untuk bisa bersaing di dunia kerja. selain IQ, EQ dan SQ juga memegang peranan.

    Buat beberapa teman seperti det, saye dsb, belajarlah untuk menyampakan pendapat secara benar. Saran dan kritik akan diterima, asal membangun. (betul pak Wir ?) belajar menghormati orang lain, maka anda akan dihormati. Hal yang baik jika disampaikan secara tidak baik tentu akan menjadi tidak baik.

    Mengomentari kaskuser, mengenai adanya ketidakpuasan, itu adalah hal biasa. gak cuma di UPH, dimanapun sering ada yang tidak terpuaskan. klo gak, Jakarta gak bakal ada demonstarsi lagi, betul ? Ketidakpuasan umumnya disebabkan karena rasa kurang bersyukur. Ya, gak bisa dipungkiri kalo di UPH memang gak 100% mahasiswanya mempunyai akhlak yang baik.

    Jesus Bless

  36. Wah Mike, panjang juga argumentasimu.

    Tapi baguslah rasanya cukup sopan, yang penting nalar harus calm dan tidak boleh emosi. Juga itu harus keluar dari lubuk hati yang paling dalam dan penuh kejujuran dengan tujuan adalah rasa kasih.

    O ya, jangan pula itu didasarkan oleh rasa kesombongan, karena tidak setiap orang bisa seberuntung kamu.

    Semoga Tuhan memberkati anda.

  37. to : Mikhael

    wah, kok seperti ada rasa sungkan utk mengakui kalo memang di uph banyak fasilitas? hehehe..

    mandiri? wah, mungkin arti ‘mandiri’ di sini musti kita seragamkan dulu..

    one thing for sure, mikhael dan teman2 mahasiswa UPH adalah orang2 yang beruntung, karena bisa mendapatkan pendidikan yg berkualitas dan tidak terbebani secara finansial (sy memang men-generalisir, meskipun ada juga mahasiswa yg bea siswa, tp asumsi sy most of the student punya latar belakang ekonomi yg mapan.. bener gak? pasti iya laah, ngaku aja deeh, hehehe..).

    mungkin mikhael tidak bisa membayangkan kondisi di tempat lain, misalnya d kampus ITB. jaman saya dulu (1997-2002, gak tau kalo sekarang ya) masih ada mahasiswa yg tinggal di kampus, tepatnya di himpunan ataupun di unit kemahasiswaan, karena memang tidak punya biaya utk membayar kos. kemudian ada juga teman saya yg harus ngajar bimbel ke sana kemari karena orang tua-nya tidak mampu membiayai kuliahnya (bahkan ada teman saya yg justru mengirim duit ke ortu nya di kampung, kebalik kan?). saya sendiri (meskipun ortu tidak pernah telat ngasih kiriman) pernah kerja waktu masih jd mahasiswa, sehingga sempat ngerasain punya duit lumayan ketika kuliah, namun konsekuensinya adalah telat lulus dan gak dapat cum laude (pdhal IPK memenuhi utk cum laude).

    kalau sudah begitu, tentu saja hasil kuliah nya gak maksimal. tapi meskipun kondisinya berat, rata2 teman2 sy itu berhasil mengatasi masalahnya dan sekarang pada enjoy dengan pekerjaannya. ada juga yg DO sih.. yah, tidak semuanya happy ending lah.

    ibaratnya kita dulu start dari nol, kalaupun gak nol ya 0.1 lah.. hehehe.. :)

    nah, saya gak yakin yg namanya ‘dididik utk mandiri’ di UPH itu sama dengan yg dialami di tempat lain.. ya gak apa-apa, memang gak perlu semua orang harus melalui tahap seperti itu kok. Justru temen2 di UPH harusnya bisa jauh lebih berhasil dari temen2 yg lain karena start-nya tidak dari nol.. Makanya saya pernah nulis komentar di blog ini : justru kalo UPH tidak bisa jd yg terbaik, itu ada yg salah.. Artinya kurang memanfaatkan keunggulan yg dimiliki. iya gak?

    saya inget dulu punya temen anak Informatika yg ndak punya uang utk beli komputer.. selama kuliah dia bisa survive dengan cara nebeng ama temen2nya, namun ketika mau TA dia mulai bingung, minjam gak mungkin karena temen2nya juga pada sibuk (bayangin mahasiswa informatika gak punya komputer), make fasilitas di lab, yaa gak semudah itu lah. Akhirnya dia off dulu hampir 1/2 tahun untuk nyambi kerja sana-sini, setelah punya duit dan beli komputer, baru dia menghadap dosen pembimbingnya lagi sambil bilang : “pak, sekarang saya sudah punya komputer, jadi sudah bisa mulai TA..” mungkin terdengar konyol, tapi memang seperti itu lah kondisinya..

    ibaratnya kalo di tempat lain tantangannya adalah how to survive, maka temen2 di UPH tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan segala kelebihan yg dimiliki sehingga menjadi lebih baik dari yg lain.. iya nggak?

    -Rp-

  38. to mhs UPH,

    Tuh ada masukan lho. Oleh karena itu buat mhs UPH yang UAS-nya saja sampai dilarang karena mbolos tidak memenuhi persyaratan 70% hadir.

    Itu khan kebangetan khan. :mrgreen:

  39. Jadi inget ama kata” di komik spiderman..

    Great Power = Great Responsbility

    Kemampuan yang besar membuat kita mempunyai tanggung jawab yang besar pula..

  40. to: sdr. Robby

    “dont judge the book, from its cover,”

    gak semua anak uph seberuntung itu. kenapa?

    saya pribadi, setelah 3,5 tahun di uph, baru akhirnya bisa mempunyai sebuah laptop pribadi milik saya sendiri. tentu gak mudah loh. penuh perjuangan. biar harganya gk mahal, bukan barang high end, tetapi karena diperoleh dengan kerja keras, maka saya cukup bangga. (pak wir, sahabat saya anton tau bener gimana perjuangan saya mo beli laptop).

    dari semester 1, saya sudah harus mengurus masalah finansial saya sendiri. finansial keluarga saya belum seberuntung temen2 yang lain.

    dan saya rasa, gak cuma saya. ada temen2 dari uph lain yang “tidak seberuntung seperti apa yang dikira”.

    ^^

  41. to : Mikhael

    wow, kalau begitu sebenarnya hidup anda lebih menyenangkan lagi : pernah merasakan perjuangan dari bawah…. :) hehehe….

    soal ‘don’t judge a book by its cover’, ya maaf deh.. soalnya saya kan taunya mahasiswa UPH itu kayak Agnes Monica, hahahaha.. :D

    jadi juga baru tau kl ada yg punya pengalaman seperti Mikhael..

    ok mikhael, good luck dan semoga sukses… pertahankan sifat positive thinking anda..

    -Rp-

  42. to mas Robby

    Terima kasih atas tanggapannya yang sangat membangun dan positif untuk mahasiswa saya. Hanya orang-orang yang berjiwa besar saja yang dapat menyatakannya.

    Semoga Tuhan memberkati anda.

  43. oalah, P wir ini bisa aja.. :)

    kalau saya, dibilang berbadan besar sih iya pak, hehehe… to kl berjiwa besar kurang tau tuh..

    sama2 pak, God Bless Us All.

    -Rp-

  44. Horas….

    Saat ini saya kuliah sore hari di salah satu PTS di kawasan Pondok Gede. Ambil Teknik Sipil (Akreditasi B) dan sudah memasuki semester 2. Jumlah mahasiswa sipil seangkatan cuma 12 orang. Uang kuliah lumayan mahal jika dilihat dari ukuran “kantong” saya yang harus sambil bekerja juga.

    Saya merasa enjoy aja kuliah walaupun merasa fasilitas kuliah agak kurang tetapi dengan kekurangan itulah saya bertekad tetap bisa menimba ilmu di kampus. Rajin ke perpustakaan buat baca buku, tanya kepada teman yang udah lulus, rajin mampir ke internet termasuk juga ke blog Pak Wir dan download berbagai ebook yang bermanfaat, dan lain-lain adalah salah satu kiat saya untuk tambah pengetahuan tentang mata kuliah yang diberikan dosen-dosen.

    Salam,

  45. Teruslah pak, anda sudah berada pada jalan yang benar.

    …, semakin penting profesi itu, dan semakin tinggi posisi seseorang dalam profesi itu, semakin tinggi pula kebutuhan untuk melanjutkan pendidikannya.

    Howard Gardner dalam “Five Minds for the Future“, Gramedia Pustaka Utama, 2007

  46. saya saat ini masih kuliah di Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII). Saat ini Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII) masih menjadi yg paling solid di Indonesia.

    sampai saat ini pun Teknik Sipil UII selalu mendapat akreditasi A. (nilai A yg murni dan benar2 sebanding dengan usaha kami). pasalnya, di Teknik Sipil UII sering sekali menerima job untuk pembangunan gedung-gedung di Indonesia. di jogja saja sudah tak terhitung jumlah gedung karya Teknik Sipil UII. begitu pula yg di luar jogja, termasuk di jakarta, dan kota-kota lain d indonesia.

    kalau boleh di bilang Teknik Sipil UII adalah yg paling sibuk untuk job pembangunan gedung-gedung. kalau Teknik sipil di Universitas Lain ingin benar-benar mendapat akreditasi A yg murni. Teknik Sipil kami bisa di jadikan contoh. maaf bukannya sombong, tapi ini kenyataan.

    monggo dan dipersilahkan untuk di contoh, ini demi kemajuan kita bersama. dan jangan lupa beri kami saran bagi yang membaca tulisan ini.

    ga perlu gembar-gembor masalah akreditasi. buktikan dengan kegiatan mahasiswa di Luar.

  47. sdr Fikri,
    Kebanggaan anda terhadap institusi tempat anda kuliah adalah patut untuk diacungin jempol. Memang harus seperti itu sikap seorang murid terhadap tempat institusi belajarnya. Tidak seperti halnya di tayangan televisi yang mahasiswa-mahasiswanya berunjuk rasa, bahkan merusak kampusnya sendiri.

    Semoga Jurusan Teknik Sipil UII menjadi kampus teknologi yang baik dan hebat. :)

    Meskipun demikian ada satu hal, yang mungkin tidak tepat. Bahwa apa-apa yang anda banggakan “yaitu banyaknya proyek-proyek yang dikerjakan” pada dasarnya bukan menjadi tujuan suatu institusi pendidikan tinggi.

    Bahkan itu tidak menjadi point yang dinilai oleh akreditor.

    Kalau begitu caranya, berarti anda menyamakan institusi anda seperti halnya kontraktor atau konsultan bangunan.

    Jika di telaah lebih lanjut akan dapat dipahami bahwa tujuan didirikan institusi pendidikan adalah memenuhi tri-dharma perguruan tinggi, yaitu : (1) pendidikan – pengajaran; (2) penelitian – publikasi; (3) pengabdian masyarakat.

    Jika anda ingin mengaitkan apa-apa yang anda sampaikan dalam butir ke-3, ya boleh-boleh aja. Tapi itu khan hanya 1/3, apalagi itu namanya saja adalah pengabdian, jadi jika dalam membuat karya-karya di atas kemudian dikaitkan dengan keuntungan finansial, maka jelaslah itu bukan pengabdian namanya, tetapi komersil.

    Demikian komentar dari saya. Semoga dua butir yang lain saya harapkan juga dapat membanggakan.

    Salam.

  48. Oh iya Pak Wir, jangan lupa juga, semakin banyak mahasiswa yg di DO, maka makin rendah tingkat akreditasi PT tersebut.

    Ini peraturan nyeleneh menurut saya, bukankah dengan banyaknya mahasiswa yg DO menunjukkan tingginya kualitas yg harus dipenuhi setiap mahasiswa? (Ini debatable of course)

    Memang akreaditasi itu menyesatkan…

  49. Intinya jangan sombong, kesombongan itu hanya membuat kita terlena sesaat
    kita juga harus tau kualitas universitasnya sendiri dulu, jangan hanya karena ‘nasionalisme’ kampus ,kita dibutakan,

    salam

  50. hemm…jurusan sejarah USU tempat ku kuliah pernah, hanya menerima 10 orang di tahun 1998-2000. lalu membengkak sampai sekarang ada 70 orang tahun 2010. apakah ini bagian dari konspirasi akreditasi??? atau memang diminati??? (sejarah gitu lho?). atau itu hasil kerja keras dosen dan manajemen serta alumninya yang biolng kuliah di sejarah itu menyenangkan??? dan bermasadepan? wuahahaha…ribet analisisnya.

    kalau aku liat, di medan banyak PT tapi gak jelas semua…

  51. Universitas Teknologi Yogyakarta juga bagus banget walaupun jurusanku Teknik informatika masih akreditasi B namun prestasinya ok tuh…yang jelas semua tergantung usaha mahasiswanya bung…

  52. Mungkin benar taujuan pemerintah (DIKTI) dengan program akreditasinya adalah membuat sebuah standar/ ukuran bagi PT dalam menaikkan mutu pendidikan, sehingga terbentuk adanya kompetensi dalam membangun SDM. Tapi apalah gunanya bila dalam pelaksanaan penilaian terhadap sebuah PT, untuk diakreditasi, berada pada sebuah sistem yang dapat diatur(adanya praktek manipulasi akreditas/fiktif) oleh para akreditor? Dalam artian akreditas sebuah PT dapat ditentukan/diatur oleh pihak yg berwenang, sehingga PT A akreditasi A, PT B akreditasi B dst karena kepentingan tertentu? dari pada sibuk bikin standarisasi yang hanya akan menyusahkan rakyat (alumnus sebuah PT dalam mencari pekerjaan, dsbx, hal ini pula yg jd tolok ukur apalagi alumnus PT swasta) mending kirim tenaga pendidik secara merata ke daerah2 tertinggal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s