standard uji produk besi


Kusnadi bertanya :

salam kenal pak wiryanto.
biasanya beton ada pengujiannya mulai dari kekuatannya dll. klo untuk besi betonnya ada pengujian bersamaan dengan beton apa sendiri 2x. tolong kasih tahu metode pengujian besi betonnya donk pak wiryanto mulai dari bending testing, chemical, dll

Pertanyaan anda sudah lama ada, belum bisa saya jawab langsung karena memang belum dapat acuannya. Ternyata setelah sekian lama nampang belum ada teman lain yang membantu untuk menjawabnya. Baiklah karena tempo hari, ketika  membongkar-bongkar ebooks tentang ASTM yang jumlahnya puluhan itu, eh ternyata dapet ASTM standard yang sesuai dengan pertanyaan saudara, ya beruntunglah anda. Ini jawabannya !

Terus terang, setiap permintaan ebook atau apapun di blog ini, maka untuk dapat menjawabnya adalah gampang-gampang susah. Jika itu bukan tema atau topik yang menjadi peminatan saya dan juga topiknya tidak terlalu populer, maka ebook semacam itu biasanya aku hapus. Jadi jika ada yang minta seperti itu maka dengan gampang aku jawab “tidak punya”. :(

Tetapi jika itu menjadi topik peminatanku, apalagi yang cukup populer maka biasanya aku simpan. Jadi masalahnya apa sekarang ? Bukan karena tidak punya, tetapi dimana ya topik yang dimaksud. :lol:

Jika hanya ebook sepuluh atau mungkin ratusan, wah saya kira cukup mudah untuk di-searching. Tapi kalau udah ribuan atau bahkan jutaan, dan tersimpan di beberapa hardisk atau cd atau bahkan DVD maka mencarinya adalah seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Perlu waktu khusus dan usaha, ini yang susah. Memang sih untuk topik-topik yang hangat yang sempat dibaca sih ok-ok saja, ketahuan. Tetapi kadang-kadang dari kiriman ebook misalnya ada yang ngirim 3 DVD atau total 12 Gb. Wah terus terang belum sempat ke baca semua ? Paling-paling secara acak, jika ada judul menarik dicoba baca.

Yah itulah manusia, sedikit mengeluh, kebanyakan juga mengeluh juga. :mrgreen:

Tetapi jangan kuatir, sebagaimana saya sampaikan di beberapa artikel saya, bahwa blog ini saya kelola secara khusus, saya anggap sebagai sebuah karya tulis bahkan kalau bisa suatu maha karya yang sifatnya diharapkan dapat abadi. Oleh karena itu secara periodik, blog ini saya baca ulang (secara acak) materi-materi tertulis, saya coba lengkapi agar masih relevan untuk dibaca ulang. Jadi seperti komentar pertanyaan anda yang lama dan belum solved maka saatnya sekarang diselesaikan.

Konsep pemikiran seperti itu rasanya tidak banyak dipunyai oleh para blogger, yang umumnya menganggap bahwa blog hanyalah sebuah diary biasa, apalagi yang baru bisa menulis dan mendapat tanggapan pembaca, wah pasti sudah seneng sekali itu. Saya mencoba lain, mungkin bisa disebut sendirian, tapi karena merasa yang menjadi teladan itu umumnya juga sendirian maka nggak ada masalah itu. Itu mungkin juga dikarenakan sebagai penulis pernah merasakan nikmatnya suatu produk tulis yang telah menjadi buku. Maka akan merasa bersalah jika hanya menulis sekedar mengeluarkan uneg-uneg saja, apalagi hanya sekedar mempertahankan istilah kebebasan berpendapat !. Tulisan adalah suatu kesempatan untuk mengabadikan pikiran yang kita punyai. Diharapkan yang abadi adalah hasil pikiran yang baik-baik. Memang sih itu ada konsekuensinya, jika ada materi tulisan yang ‘jelek’  yang tidak dapat dikaitkan dengan materi lain untuk pertumbuhan maka materi tersebut saya tandai sebagai sampah, saya buang tanpa komunikasi langsung dengan yang menulis. Maklum sampah khan harus begitu, yang punya sampahpun pasti akan senang.

Kembali ke pertanyaan sdr Kusnadi, bahwa untuk testing besi beton maka pada umumnya cukup dilakukan test mekanik yaitu untuk mendapatkan fy (tegangan leleh) yang mana disyaratkan untuk ulir tidak boleh lebih dari 400 MPa, sedangkan wiremesh bisa sampai 550 MPa. Untuk uji kimia rasanya jarang dipakai, biasanya jika diminta itu umumnya jika diperlukan untuk mengetahui apakah baja tersebut mempunyai kemudahan atau kemampuan untuk di las. Tetapi ini biasanya di industri non konstruksi, karena dalam praktek lebih mudah dilakukan uji langsung, besi baja di las lalu di uji, putusnya dimana begitu saja.

Jadi petunjuk untuk pengujian mekanik ada di ASTM A 370 – 03a (Standard Test Methods and Definitions for Mechanical Testing of Steel Products), standard ini tidak terbatas pada besi beton saja, tetapi semua produk baja, hebatkan. Oleh karena itu perlu saya bikin artikel khusus agar mudah mencarinya.

Gambar di atas adalah contoh sampel uji produk baja, tetapi tidak terbatas itu saja, ada banyak yang lain. Bagi kontraktor atau konsultan maupun para periset produk baja kelihatannya wajib hukumnya memiliki acuan tersebut. Jika tertarik down load aja di sini file PDF 462 kb , total ada 49 halaman.

Semoga berguna.

About these ads

41 thoughts on “standard uji produk besi

  1. Pak Wir, kebetulan nih anda membahas tentang tes lab.

    Bagaimanakah cara menentukan kelayakan/kekuatan struktur sebuah Jembatan Penyeberang Orang (JPO) terbangun yang terbuat dari material beton (precast untuk balok bentang lebarnya dan cast in place untuk bagian-bagian lainnya).

    Seperti halnya kita ketahui bersama, test kekuatan beton dan besi beton yang akurat adalah menggunakan tipe “destruktif test”. Sedangkan JPO ini masih akan digunakan untuk kedepan. Bila kita Core Drill juga nanti takut runtuh/collapse. Lalu untuk balok pratekan, juga apakah ada caranya tersendiri guna mengetahui sisa kekuatan.

    Memang yang saya ketahui tipe non-destruktif test adalah menggunakan hammer test (namun kurang akurat). Akhirnya yang saya lakukan hanyalah menggunakan asumsi penurunan kekuatan sesuai umur beton yang ada….

    Mohon petunjuk..
    Sebelumnya terima kasih banyak Pak Wir…

  2. sdr Erwin,
    Apakah JPO anda terbuat dari precast beton pratekan ?. Apakah gambar strukturnya masih ada (lengkap) sehingga bisa dipakai untuk analisis, akan lebih baik jika ada shop-drawingnya.

    Jika itu ada saya kira permasalahan akan lebih mudah.

    Seperti diketahui bahwa produk beton pratekan pracetak umumnya memakai beton mutu tinggi, min K350 atau fc 30 atau lebih tinggi, juga jika itu adalah produk precast maka umumnya pengecoran dan kualitasnya relatif terjaga. Umumnya yang dikhawatirkan pada beton pratekan adalah korosi kabel pc, tapi kalau itu produk precast umumnya akan lebih baik, resiko korosi relatif kecil karena biasanya pelaksanaan konstruksi precast mendapat pengawasan lebih ketat.

    Selanjutnya jika pratekan, maka kondisi stressing itu adalah pembebanan yang paling besar yang diterima oleh struktur tersebut, apalagi umur beton juga belum cukup. Jika pada saat stressing saja, dimana loss of prestressed jangka panjang belum masuk, struktur mampu menerimanya maka mestinya sambil bertambah umurnya (mutu beton meningkat) mestinya lebih meyakinkan.

    O ya, jika bertambahnya umur, maka struktur cenderung mengalami creep, cek lendutan struktur, ok tidak.

    Kesimpulannya, jika itu PC (pratekan) maka kelayakan strukturnya lebih mudah diprediksi dibanding RC (beton bertulang biasa). Tapi umumnya kalau precast lebih besar dari 10 m umumnya adalah PC. Jadi mestinya ok-ok saja. Untuk menentukan kekuatan bisa dilakukan berdasarkan analisis kekuatan penampangnya saja.

  3. (Tertarik dg pertanyaan sdr Erwin),

    Wak Wir, sewaktu kuliah di Univ. Jenderal Soedirman saya ambil judul “Perencanaan Perkuatan Gelagar Jembatan Beton Pratekan Dengan Metode Prategang Eksternal Pascatarik” (studi kasus di jembatan Sungai Serayu). Dari hasil perhitungan saya, diketahui bahwa jembatan tersebut mengalami kegagalan struktur pada usia layan 25 tahun (metode hubungan kapasitas batas dan LOP time step methode). Sehingga sebelum usia layan jembatan mencapai 25 th harus diperkuat dengan penambahan kabel di luar struktur gelagar karena gelagar existing digrouting. Untuk menyalurkan tahanan kabel ke gelagar existing, saya pasang sadle baja di bebarapa titik mengikuti trase kabel rencana. kesimpulanya dengan menambah 25% kabel eksternal, usia jembatan meningkat >100 th dengan deformasi yang terkontrol.

    Pertanyaan:
    Dari sedikit uraian saya diatas, apakah menurut anda hasil tugas akhir saya layak untuk di implementasikan (kerjasama dg pemda)?? dan apakah anda punya kasus serupa dan mempunyai hard copy untuk saya jadikan rujukan?? maturnuwun…

    Singkat cerita… saya bersama beberapa teman satu alumni gabung buat team work di Bandung (kerja ngesub di bebarapa konsultant telekomunikasi/tower).

  4. mengalami kegagalan struktur pada usia layan 25 tahun (metode hubungan kapasitas batas dan LOP time step methode).

    sdr Arif, pernyataan anda di atas masih kurang jelas bagi saya. Apa yang anda maksudkan dengan kegagalan struktur ?

    Apakah ada degradasi mutu material dari struktur tersebut ? Karena setahu saya material-material penyusun struktur tersebut tidak mempunyai batas umur tertentu jika pada kondisi normal. Memang, beton akan mengalami creep, tetapi itu tidak berarti kekuatan beton berkurang, sehingga suatu struktur mempunyai batasan umur tertentu.

    Pernyataan anda di atas menurut saya terlalu bias.

    Apakah yang anda maksud adalah karena terjadi peningkatan volume kendaraan sehingga kondisi jembatan yang ada tidak mampu lagi ?

    Kalau itu sih tidak termasuk dalam kegagalan struktur. Itu sih disebut peningkatan kapasitas layan jembatan.

    Terus terang pernyataan anda bahwa usia struktur dibatasi dengan 25 th atau 100 th, bagi saya masih asing. Dalam buku-buku beton yang saya tahu juga tidak membahas hal tersebut, apa rujukan yang anda pakai untuk menyusun skripsi saudara ?

  5. Pak Wir, ikutan mengomentari pernyataan artikel bapak diatas :

    “bahwa untuk testing besi beton maka pada umumnya cukup dilakukan test mekanik yaitu untuk mendapatkan fy (tegangan leleh) yang mana disyaratkan untuk ulir tidak boleh lebih dari 400 MPa”

    Kalo kita baca SNI 2847-2002 Pasal 23.2.5, masih ada toleransi leleh sebesar 120 MPa, yang tak kalah penting lagi adalah rasio kuat tarik aktual terhadap kuat leleh aktual tidak kurang dari 1,25.

    Pengalaman saya saat tes tarik besi ex China, kebanyakan lelehnya kurang/lebih 500 MPa. Harga selisih sedikit, tapi kekuatannya cukup signifikan. Jadi bisa menghemat $$$

  6. Yup pak Sasonov bener, ternyata ada pasal yang mendukung fy boleh lebih besar dari 400 MPa, tepatnya isinya adalah sebagai berikut :

    Tulangan lentur dan aksial yang digunakan dalam komponen struktur dari sistem rangka dan komponen batas dari sistem dinding geser harus memenuhi ketentuan ASTM A 706.

    Tulangan yang memenuhi ASTM A 615M Mutu 300 MPa dan 400 MPa boleh digunakan dalam komponen struktur di atas bila (a) kuat leleh aktual berdasarkan pengujian di pabrik tidak melampaui kuat leleh yang ditentukan sebesar lebih dari 120 MPa (uji ulang tidak boleh memberikan hasil yang melampaui harga ini sebesar lebih dari 20 MPa), dan (b) rasio kuat tarik aktual terhadap kuat leleh aktual tidak kurang dari 1,25.

    Wah ternyata ada ketentuan ASTM lain yang perlu diperhatikan yaitu ASTM A 706 dan A 615M.

    Wah saya belum pernah baca tuh. Nyari dimana, di LIPI ? Ada nggak ya ? Wah kalau yang lain mungkin memang perlu ke sana, kalau aku ? He, he, he nyari aja di komputerku di hardisk-hardisknya, bentar ya scanning
    .
    .. eng i eng . . .

    …. sabar :P
    .
    ..

    ….
    Yup ketemu khan ! Nggak percaya ?

    Ini deh tak kasih ke kamu-kamu sekalian biar pada ikut pinter semua. Mumpung lagi niat searching, kepancing pak Sasonov sih. :)

    A 706/A 706M – 04a (Standard Specification for Low-Alloy Steel Deformed and Plain Bars for Concrete Reinforcement)
    down-load PDF 47 kb

    A 615/A 615M – 04a (Standard Specification for Deformed and Plain Carbon Steel Bars for Concrete Reinforcement)
    down-load PDF 48 kb

  7. Biasanya konsultan tidak setuju penggantian spek rebar fy 400 MPa menjadi rebar yg lebih kuat : fy 500 MPa, terutama untuk kolom dan balok.

    Alasannya : pembentukan sendi plastis menjadi tidak sesuai dengan asumsi perhitungan, sedangkan pembentukan sendi plastis dihitung untuk menyerap energi beban. Kalau rebar menjadi terlalu kuat, bisa-bisa beton akan hancur dahulu, akan terjadi keruntuhan britle, dan struktur tidak berperilaku ductile.

    Wir’s responds: ya betul pak, itu namanya over-reinforced section. Tapi jika si konsultan di ajak sebagai kerja tambah, dapet % dari penghematan, sebagai kompensasi redesign. Rasanya ok-ok aja.

    Jadi kalau disuruh rubah tanpa ada doku, siapa yang mau. Jadi paling gampang jika ditolak aja itu. :mrgreen:

  8. pak, untuk pemasangan kabel prategang eksternal pada jembatan rangka pake cable section atau tendon yang ada diSAP2000, saya udah coba pake cable section tapi setelah run kabelnya gak bsa memberi lawan ledut pada rangka, malah kabel jatuh berantakan. pak kalo bisa tolong tahap peodelannya pada sap2000 , untuk tugas akhir saya…mahasiswa bandung

  9. Ping balik: Code « M4_itink’s Blog

  10. bos mau nanya dunk..aku mahasiswa sipil yang rada ketinggalan berita…minta tolong ya
    satuan mutu beton fc’ dan K (misal K250)
    itu apa bedanya? dan masing2 menggunakan standard mana gitu..tolong penjelasannya en makasih buanyak boss…

    Wir’s responds:
    Bos ?! He, he, koq jadi ingat sama tukang parkir di dekat rumahku kalau sedang menyapa ! :)

    Mutu beton fc’ satuannya adalah MPa, mengacu pada standar SNI 03-2847-2002, dimana sampel ujinya berbentuk silinder diameter 150 mm panjang 300 mm. Ini merupakan terkini yang merujuk pada ACI (American Concrete Institute), American style.

    Mutu beton K (misal K250) satuannya adalah kg/cm2, mengacu pada standar PBI 71, dimana sampel ujinya berbentuk kubus ukuran 150x150x150 mm, yang merujuk pada standar eropa lama.

  11. Pak Wir, Saya Bagian Procurement Di sebuah Kontraktor, dan ada pertanyaan mendesak dari Engineer saya tentang : Bagaimana cara mengetahui/memeriksa Kelayakan Konstruksi Besi (dermaga di Pantai) yang sudah cukup lama sekitar awal 1970-an dan pernah direnovasi tahun 1999, kami akan merenovasi lagi tahun ini, namun kami mengkhawatirkan tentang kelayakan struktur tersebut.

    Mohon diberikan penjelasan, kalau ada kami sangat terbantu jika diberikan informasi Subkontraktor mana yang menyediakan jasa pemeriksaan tersebut ?

    terimakasih atas penjelasannya…

  12. Halo pak Wir, salam sejahtera…
    Wah saya tertarik juga soal uji material neh.
    Pak wir, saya mau nanya pak…kalo dari hasil uji tarik dari prestress strand apakah ada batasan/toleransi untuk modulus elasticity yang digunakan,dibandingkan dengan nilai yang kita pakai pada desain menurut ASTM. Dari info yang saya dapat katanya di BS 5896 disebutkan kalo Modulus of elasticity tolerances sebesar itu +-10%. Tapi saya ga tau pasti soalnya ga punya codenya. Mohon pencerahannya.

  13. @ Pak Eco,

    Saya kok jadi tertawa geli ya dengan postingan pak Eco. Engineer kok nanya Procurement tentang kelayakan konstruksi besi. Apa tidak terbalik tuh? Kalau saya di HRD, saya langsung periksa file yang bersangkutan, dulunya sekolah apa dan berpengalaman bagaimana.

    Pertanyaan anda sifatnya kasuistis dan harus diberikan data yang cukup sebelum dijawab diforum. Namun, jika sulit untuk mendeskripsikannya dan ingin segera diperiksa, ada baiknya menyewa konsultan enjiniring yang bertebaran di Jakarta, ataupun badan sertifikasi seperti Surveyor Indonesia, TUV Indonesia, GL Nusantara, Dok Koja Bahari, Depriwangga, Radiant Utama dll. Spesialis 2yang saya sebutkan tersebut bisa merekomendasikan kelayakan suatu struktur.

  14. Salam kenal, Pak Wiryanto
    Saya mahasiswa arsitektur dan masih awam mengenai standar kualitas atau mutu baja. Saya ingin tahu, apa kelebihan dan kelemahan baja U24, U40 dan U50?
    Dari baja tersebut di atas, mana yang penggunaannya lebih hemat?
    bagaimana cara mengkonversi mutu baja? kan biasanya di proyek ada permintaan untuk menghemat biaya konstruksi

  15. terima kasih buat artikel ini pak, sangat menarik dan membantu sekali. namun saat ini kita juga memiliki standart pengujian sendiri yang berupa sni. adakah perbedaan dan adakah file-nya jika bisa disharingkan. terima kasih buat tanggapannya

  16. salam kenal pak ni saya mahasiswa sipil lagi ndak mudeng ma mutu beton tang sering dipakai di pasaran ato masyarakat umum. terima kasih buat tanggapannya.

    • kamu mahasiswa sipil khan, maka untuk menjawab pertanyaanmu saya kira gampang, ke perpustakaan jurusan tempat kamu belajar, tanya Laporan Kerja Praktek dari mahasiswanya. Di situ pasti ada, sekaligus info bangunan yang memakai mutu tersebut.

  17. tulisan yg diwarna ijo, merah biru kena bgt pak..
    prinsip bgt..
    hhe..
    sukses trus buat bapak..
    moga makin berguna buat orang banyak..
    tp saya kurang setuju dengan kalimat “Maklum sampah khan harus begitu, yang punya sampahpun pasti akan senang”. karena sampah bagi kita blum tentu sampah bagi orang lain pak. Malahan mungkin akan sangat berguna bagi orang lain. Apalagi kan lg dianjurkan daur ulang.. hehe..

  18. pak wir ,,,apa ada program utk menghitung pondasi bangunan tingkat tinggi? krn selama ini saya memakai sap 2000 utk mendapatkan gaya-gaya yg muncul di pada tiap titik perletakan selanjutnya saya desain secara manual,,,trims atas jawabannya

  19. pak wir ,,,1. bagaimana cara aplikasi satuan skala ricter pada perhitungan bangunan tahan gempa dengan menggunakan sap 2000?……misalnya user nanya desain gedung ini mampu menahan sampai berapa scala ricter?
    2. bagaimana menentukan umur dari suatu bangunan gedung?
    trims pak

  20. Selamat malam pak…
    Saya mau tny jika buat cetakan beton dgn menggunakan silinder, namun ukuran tidak sesuai standar yg ditetapkan, apakah mempengaruhi nilai mutu beton yg akan dihasilkan pada uji kuat tekan beton? Seandainya menggunakan diameter silinder 10 cm dan tinggi 28 cm? Terima kasih atas keterangannya.
    Salam

    • Nilai mutu beton yang dihasilkan jelas terpengaruh, yaitu tidak dapat dibandingkan dengan standar yang ada. Kira-kira seperti nilai kurs mata uang rupiah dengan dollar, yaitu harus ada konversinya. Berapa itu, wah nggak hapal, yah seperti hasil coring test.

  21. Ping balik: Download Berbagai Pedoman Peraturan Dalam Teknik Sipil | Argajogja's Blog

  22. selamat sore pak, semoga bapak dalam keadaan sehat dan tetap terus bersemangat.

    Pak, saya mau menanyakan untuk pengujian produk besi. Biasanya berapa minimal sampel yang kita pakai? Saya sering mendengar umumnya 3 sampel sudah cukup. Khawatirnya kurang mewakili atau sample yang kita bikin itu gagal. Mungkin bapak bisa memberi pencerahan tentang ini atau ada acuan dari ASTM mengenai hal ini.

    terima kasih sebelumnya saya ucapkan

    Salam

  23. Pak Wir, blog Anda sangat berguna. Saat ini saya mencari jawaban di internet tapi belum ketemu. Pertanyaan saya yaitu Kalo 10 batang besi beton polos (bulat) diameter 36 mm dan panjang 12 m saling dihubungkan (dengan cara di las), kemudian hanya kedua ujungnya yang diberi penyangga yg cukup kuat, apakah besi beton sepanjang 120 m tsb tidak patah atau melengkung karena gravitasi bumi? Jika tidak patah atau melengkung, berapa kg beban yang dapat ditahan ditengah-tengah panjang besi tsb? Mohon pak Wir pencerahannya. Tks

    • Dengan ilmu struktur, rasanya itu mudah dijawab.

      Pertama, jika bisa dibuat panjang 120 m besi beton tersebut dan ujungnya dapat dibuat penyangga yang sangat kuat maka dapat dipastikan bahwa besi beton tersebut akan melengkung.

      Kenapa, karena meskipun diameter 36 mm, tetapi dibanding panjangnya maka besi beton tersebut termasuk langsing. Kekakuan lentur yang dihasilkan penampang tidak cukup kuat untuk mempertahankan kelurusannya. Karena nggak kuat, maka melendut dan ketika terjadi lengkungan maka perilakunya berubah dari lentur ke aksial. Jadi selanjutnya kinerjanya seperti struktur kabel. Lihatlah kabel di jembatan kukar. Itu kira-kira 270 m.

      Kedua, patah atau tidak, tentunya tergantung dari beban yang bekerja juga cara penyambungannya. Sambungan las, secara teoritis adalah sekuat profil, tetapi pelaksanaannya sangat menentukan. Untuk ketebalan 36 mm, tentu tidak sederhana dalam pengelasannya. Kalau pakai sambungan las sudut, pasti tidak kuat, kalau pakai las tumpul nah perlu beberapa kali lapis las. Nggak gampang, jika terlalu panas dalam pengelasannya (karena perlu beberapa lapis) maka dapat mempengaruhi properti material. Jika sampai terjadi cacat atau fraktur halus, nah itu akan jadi penyebab awal putus. Jadi benar-benar tergantung pelaksanannya.

      Selanjutnya tergantung tujuan anda, untuk apa sih anda bersusah payah seperti itu, yaitu menyambung baja tulangan. Jika tujuannya untuk jembatan gantung maka pakai saja baja strand, ini jelas mutunya lebih tinggi, dan tanpa sambungan. Jadi pantas saja anda tidak menemukan yang anda tanyakan, karena ide anda itu memang nggak efektif. Bahkan bisa-bisa disebut kurang kerjaan.

      • Pak Wir, thanks atas comment nya yang berharga dan cepat. Senang sekali dapat diskusi dengan ahlinya. Yang saya sangat ingin tahu adalah, supaya besi tsb (yg bersifat feromagnetik) tidak melengkung atau patah, berapa seharusnya diamenter besi tsb, bahkan jika possible sampai sejauh 300 matau lebih? Pertanyaan yang pertama jika besi tsb tidak diberi beban. Pertanyaan kedua jika besi tsb diberi beban 250 kg ditengah-tengahnya (kondisi beban berjalan dari ujung ke ujung) Bagaimana ya pak Wir apakah secara teknik sipil ini possible?

        Wir’s responds: tidak diberi bebanpun besi tersebut beratnya hampir 1 ton (panjang 120 m). Itu jelas menghasilkan berat sendiri. Jadi kalau sampai ada yang bisa bikin besi polos tersebut lurus (tidak melengkung) maka itu merupakan keajaiban dunia. Pak.

        Kalau itu diganti strand atau kabel baja mutu tinggi, maka dengan diberikan pretensioning maka lengkungan yang terjadi akan lebih kecil. Tapi jelas, memberikan gaya pretensioning perlu sistem struktur yang khusus. Sedangkan sistem pretensioning tidak bisa diberikan pada besi baja tersebut, karena bisa yielding dan molor.

        Saya kira begitu saja pak.

  24. Pak saya mau tanya bagaimana konversi besi dari U24 polos menjadi U40 ulir? apa sama dengan konversi U 24 ulir dan U40 ulir?terim kasih

  25. Pak Wir,

    saya mau menanyakan, kalo ada struktur atap baja yang tidak punya data sama sekali (asbuilt drawing, fy, dimensi, dll)..
    bagaimana kita bisa cek apakah atap tersebut masih kuat atau tidak?

    apakah ASTM A 370 – 03a diatas bisa diterapkan untuk baja WF? berarti kita perlu potong WF nya pak?
    bila iya, apakah tidak riskan ya pak?

    mohon penjelasannya ya pak
    terima kasih banyak Pak Wir

  26. siang pak wir, pak saya mau nanya apakah ada pengaruh untuk kekuatan struktur apabila menggunakan Fy=400 untuk besi diarea balok,kolom, dan shear wall sedangkan untuk besi plat lantai menggunakan besi dengan fy=500 dimana diameter yang di gunakan untuk tulangan plat dia.5,6,7,8,9 dan apakah ada faktor efisiensi untuk biaya konstruksinya ??mohon infonya pak

    tq

    • Baja tulangan Fy = 400 adalah mutu yang masih diperbolehkan peraturan. Mutu lebih tinggi, diragukan daktilitasnya. Karena untuk menghindari digunakannya mutu baja yang hanya kuat tetapi tidak daktail, maka peraturan membatasi mutu di nilai itu untuk elemen kolom, balok maupun shear-wall. Meskipun pada prinsipnya, jika dapat dipastikan elemen tersebut tidak akan mengalami sendi plastis, yaitu tetap elastis, maka mestinya mutu lebih tinggi dapat digunakan.

      Itulah mengapa, pada lantai boleh digunakan mutu fy=500, karena gaya yang menentukan pada pelat lantai hanya berasal dari gaya gravitasi saja yang relatif besarnya sudah pasti.

      O ya, daktilitas adalah usaha untuk mendapatkan keamanan terhadap suatu kelebihan beban, seperti misalnya bila terjadi gempa yang tak terduga.

      Dengan digunakan mutu lebih tinggi, khususnya di tegangan leleh maka tentunya akan diperoleh jumlah tulangan yang lebih sedikit. Jadi kalau peningkatan mutu lebih besar dibanding harga yang harus dikeluarkan maka tentu saja akan diperoleh efisiensi.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s