The works of Wiryanto Dewobroto

standard uji produk besi

Maret 8, 2008 · & Komentar

Kusnadi bertanya :

salam kenal pak wiryanto.
biasanya beton ada pengujiannya mulai dari kekuatannya dll. klo untuk besi betonnya ada pengujian bersamaan dengan beton apa sendiri 2x. tolong kasih tahu metode pengujian besi betonnya donk pak wiryanto mulai dari bending testing, chemical, dll

Pertanyaan anda sudah lama ada, belum bisa saya jawab langsung karena memang belum dapat acuannya. Ternyata setelah sekian lama nampang belum ada teman lain yang membantu untuk menjawabnya. Baiklah karena tempo hari, ketika  membongkar-bongkar ebooks tentang ASTM yang jumlahnya puluhan itu, eh ternyata dapet ASTM standard yang sesuai dengan pertanyaan saudara, ya beruntunglah anda. Ini jawabannya !

Terus terang, setiap permintaan ebook atau apapun di blog ini, maka untuk dapat menjawabnya adalah gampang-gampang susah. Jika itu bukan tema atau topik yang menjadi peminatan saya dan juga topiknya tidak terlalu populer, maka ebook semacam itu biasanya aku hapus. Jadi jika ada yang minta seperti itu maka dengan gampang aku jawab “tidak punya”. :(

Tetapi jika itu menjadi topik peminatanku, apalagi yang cukup populer maka biasanya aku simpan. Jadi masalahnya apa sekarang ? Bukan karena tidak punya, tetapi dimana ya topik yang dimaksud. :lol:

Jika hanya ebook sepuluh atau mungkin ratusan, wah saya kira cukup mudah untuk di-searching. Tapi kalau udah ribuan atau bahkan jutaan, dan tersimpan di beberapa hardisk atau cd atau bahkan DVD maka mencarinya adalah seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Perlu waktu khusus dan usaha, ini yang susah. Memang sih untuk topik-topik yang hangat yang sempat dibaca sih ok-ok saja, ketahuan. Tetapi kadang-kadang dari kiriman ebook misalnya ada yang ngirim 3 DVD atau total 12 Gb. Wah terus terang belum sempat ke baca semua ? Paling-paling secara acak, jika ada judul menarik dicoba baca.

Yah itulah manusia, sedikit mengeluh, kebanyakan juga mengeluh juga. :mrgreen:

Tetapi jangan kuatir, sebagaimana saya sampaikan di beberapa artikel saya, bahwa blog ini saya kelola secara khusus, saya anggap sebagai sebuah karya tulis bahkan kalau bisa suatu maha karya yang sifatnya diharapkan dapat abadi. Oleh karena itu secara periodik, blog ini saya baca ulang (secara acak) materi-materi tertulis, saya coba lengkapi agar masih relevan untuk dibaca ulang. Jadi seperti komentar pertanyaan anda yang lama dan belum solved maka saatnya sekarang diselesaikan.

Konsep pemikiran seperti itu rasanya tidak banyak dipunyai oleh para blogger, yang umumnya menganggap bahwa blog hanyalah sebuah diary biasa, apalagi yang baru bisa menulis dan mendapat tanggapan pembaca, wah pasti sudah seneng sekali itu. Saya mencoba lain, mungkin bisa disebut sendirian, tapi karena merasa yang menjadi teladan itu umumnya juga sendirian maka nggak ada masalah itu. Itu mungkin juga dikarenakan sebagai penulis pernah merasakan nikmatnya suatu produk tulis yang telah menjadi buku. Maka akan merasa bersalah jika hanya menulis sekedar mengeluarkan uneg-uneg saja, apalagi hanya sekedar mempertahankan istilah kebebasan berpendapat !. Tulisan adalah suatu kesempatan untuk mengabadikan pikiran yang kita punyai. Diharapkan yang abadi adalah hasil pikiran yang baik-baik. Memang sih itu ada konsekuensinya, jika ada materi tulisan yang ‘jelek’  yang tidak dapat dikaitkan dengan materi lain untuk pertumbuhan maka materi tersebut saya tandai sebagai sampah, saya buang tanpa komunikasi langsung dengan yang menulis. Maklum sampah khan harus begitu, yang punya sampahpun pasti akan senang.

Kembali ke pertanyaan sdr Kusnadi, bahwa untuk testing besi beton maka pada umumnya cukup dilakukan test mekanik yaitu untuk mendapatkan fy (tegangan leleh) yang mana disyaratkan untuk ulir tidak boleh lebih dari 400 MPa, sedangkan wiremesh bisa sampai 550 MPa. Untuk uji kimia rasanya jarang dipakai, biasanya jika diminta itu umumnya jika diperlukan untuk mengetahui apakah baja tersebut mempunyai kemudahan atau kemampuan untuk di las. Tetapi ini biasanya di industri non konstruksi, karena dalam praktek lebih mudah dilakukan uji langsung, besi baja di las lalu di uji, putusnya dimana begitu saja.

Jadi petunjuk untuk pengujian mekanik ada di ASTM A 370 – 03a (Standard Test Methods and Definitions for Mechanical Testing of Steel Products), standard ini tidak terbatas pada besi beton saja, tetapi semua produk baja, hebatkan. Oleh karena itu perlu saya bikin artikel khusus agar mudah mencarinya.

Gambar di atas adalah contoh sampel uji produk baja, tetapi tidak terbatas itu saja, ada banyak yang lain. Bagi kontraktor atau konsultan maupun para periset produk baja kelihatannya wajib hukumnya memiliki acuan tersebut. Jika tertarik down load aja di sini file PDF 462 kb , total ada 49 halaman.

Semoga berguna.

Kategori: Reference · gratis · steel

10 tanggapan so far ↓

  • Aloysius Erwin // Maret 8, 2008 pada 2:16 pm

    Pak Wir, kebetulan nih anda membahas tentang tes lab.

    Bagaimanakah cara menentukan kelayakan/kekuatan struktur sebuah Jembatan Penyeberang Orang (JPO) terbangun yang terbuat dari material beton (precast untuk balok bentang lebarnya dan cast in place untuk bagian-bagian lainnya).

    Seperti halnya kita ketahui bersama, test kekuatan beton dan besi beton yang akurat adalah menggunakan tipe “destruktif test”. Sedangkan JPO ini masih akan digunakan untuk kedepan. Bila kita Core Drill juga nanti takut runtuh/collapse. Lalu untuk balok pratekan, juga apakah ada caranya tersendiri guna mengetahui sisa kekuatan.

    Memang yang saya ketahui tipe non-destruktif test adalah menggunakan hammer test (namun kurang akurat). Akhirnya yang saya lakukan hanyalah menggunakan asumsi penurunan kekuatan sesuai umur beton yang ada….

    Mohon petunjuk..
    Sebelumnya terima kasih banyak Pak Wir…

  • wir // Maret 8, 2008 pada 2:57 pm

    sdr Erwin,
    Apakah JPO anda terbuat dari precast beton pratekan ?. Apakah gambar strukturnya masih ada (lengkap) sehingga bisa dipakai untuk analisis, akan lebih baik jika ada shop-drawingnya.

    Jika itu ada saya kira permasalahan akan lebih mudah.

    Seperti diketahui bahwa produk beton pratekan pracetak umumnya memakai beton mutu tinggi, min K350 atau fc 30 atau lebih tinggi, juga jika itu adalah produk precast maka umumnya pengecoran dan kualitasnya relatif terjaga. Umumnya yang dikhawatirkan pada beton pratekan adalah korosi kabel pc, tapi kalau itu produk precast umumnya akan lebih baik, resiko korosi relatif kecil karena biasanya pelaksanaan konstruksi precast mendapat pengawasan lebih ketat.

    Selanjutnya jika pratekan, maka kondisi stressing itu adalah pembebanan yang paling besar yang diterima oleh struktur tersebut, apalagi umur beton juga belum cukup. Jika pada saat stressing saja, dimana loss of prestressed jangka panjang belum masuk, struktur mampu menerimanya maka mestinya sambil bertambah umurnya (mutu beton meningkat) mestinya lebih meyakinkan.

    O ya, jika bertambahnya umur, maka struktur cenderung mengalami creep, cek lendutan struktur, ok tidak.

    Kesimpulannya, jika itu PC (pratekan) maka kelayakan strukturnya lebih mudah diprediksi dibanding RC (beton bertulang biasa). Tapi umumnya kalau precast lebih besar dari 10 m umumnya adalah PC. Jadi mestinya ok-ok saja. Untuk menentukan kekuatan bisa dilakukan berdasarkan analisis kekuatan penampangnya saja.

  • Arif // Maret 12, 2008 pada 3:23 am

    (Tertarik dg pertanyaan sdr Erwin),

    Wak Wir, sewaktu kuliah di Univ. Jenderal Soedirman saya ambil judul “Perencanaan Perkuatan Gelagar Jembatan Beton Pratekan Dengan Metode Prategang Eksternal Pascatarik” (studi kasus di jembatan Sungai Serayu). Dari hasil perhitungan saya, diketahui bahwa jembatan tersebut mengalami kegagalan struktur pada usia layan 25 tahun (metode hubungan kapasitas batas dan LOP time step methode). Sehingga sebelum usia layan jembatan mencapai 25 th harus diperkuat dengan penambahan kabel di luar struktur gelagar karena gelagar existing digrouting. Untuk menyalurkan tahanan kabel ke gelagar existing, saya pasang sadle baja di bebarapa titik mengikuti trase kabel rencana. kesimpulanya dengan menambah 25% kabel eksternal, usia jembatan meningkat >100 th dengan deformasi yang terkontrol.

    Pertanyaan:
    Dari sedikit uraian saya diatas, apakah menurut anda hasil tugas akhir saya layak untuk di implementasikan (kerjasama dg pemda)?? dan apakah anda punya kasus serupa dan mempunyai hard copy untuk saya jadikan rujukan?? maturnuwun…

    Singkat cerita… saya bersama beberapa teman satu alumni gabung buat team work di Bandung (kerja ngesub di bebarapa konsultant telekomunikasi/tower).

  • wir // Maret 12, 2008 pada 9:02 am

    mengalami kegagalan struktur pada usia layan 25 tahun (metode hubungan kapasitas batas dan LOP time step methode).

    sdr Arif, pernyataan anda di atas masih kurang jelas bagi saya. Apa yang anda maksudkan dengan kegagalan struktur ?

    Apakah ada degradasi mutu material dari struktur tersebut ? Karena setahu saya material-material penyusun struktur tersebut tidak mempunyai batas umur tertentu jika pada kondisi normal. Memang, beton akan mengalami creep, tetapi itu tidak berarti kekuatan beton berkurang, sehingga suatu struktur mempunyai batasan umur tertentu.

    Pernyataan anda di atas menurut saya terlalu bias.

    Apakah yang anda maksud adalah karena terjadi peningkatan volume kendaraan sehingga kondisi jembatan yang ada tidak mampu lagi ?

    Kalau itu sih tidak termasuk dalam kegagalan struktur. Itu sih disebut peningkatan kapasitas layan jembatan.

    Terus terang pernyataan anda bahwa usia struktur dibatasi dengan 25 th atau 100 th, bagi saya masih asing. Dalam buku-buku beton yang saya tahu juga tidak membahas hal tersebut, apa rujukan yang anda pakai untuk menyusun skripsi saudara ?

  • sasonov // Maret 14, 2008 pada 9:17 am

    Pak Wir, ikutan mengomentari pernyataan artikel bapak diatas :

    “bahwa untuk testing besi beton maka pada umumnya cukup dilakukan test mekanik yaitu untuk mendapatkan fy (tegangan leleh) yang mana disyaratkan untuk ulir tidak boleh lebih dari 400 MPa”

    Kalo kita baca SNI 2847-2002 Pasal 23.2.5, masih ada toleransi leleh sebesar 120 MPa, yang tak kalah penting lagi adalah rasio kuat tarik aktual terhadap kuat leleh aktual tidak kurang dari 1,25.

    Pengalaman saya saat tes tarik besi ex China, kebanyakan lelehnya kurang/lebih 500 MPa. Harga selisih sedikit, tapi kekuatannya cukup signifikan. Jadi bisa menghemat $$$

  • wir // Maret 14, 2008 pada 10:14 am

    Yup pak Sasonov bener, ternyata ada pasal yang mendukung fy boleh lebih besar dari 400 MPa, tepatnya isinya adalah sebagai berikut :

    Tulangan lentur dan aksial yang digunakan dalam komponen struktur dari sistem rangka dan komponen batas dari sistem dinding geser harus memenuhi ketentuan ASTM A 706.

    Tulangan yang memenuhi ASTM A 615M Mutu 300 MPa dan 400 MPa boleh digunakan dalam komponen struktur di atas bila (a) kuat leleh aktual berdasarkan pengujian di pabrik tidak melampaui kuat leleh yang ditentukan sebesar lebih dari 120 MPa (uji ulang tidak boleh memberikan hasil yang melampaui harga ini sebesar lebih dari 20 MPa), dan (b) rasio kuat tarik aktual terhadap kuat leleh aktual tidak kurang dari 1,25.

    Wah ternyata ada ketentuan ASTM lain yang perlu diperhatikan yaitu ASTM A 706 dan A 615M.

    Wah saya belum pernah baca tuh. Nyari dimana, di LIPI ? Ada nggak ya ? Wah kalau yang lain mungkin memang perlu ke sana, kalau aku ? He, he, he nyari aja di komputerku di hardisk-hardisknya, bentar ya scanning
    .
    .. eng i eng . . .

    …. sabar :P
    .
    ..

    ….
    Yup ketemu khan ! Nggak percaya ?

    Ini deh tak kasih ke kamu-kamu sekalian biar pada ikut pinter semua. Mumpung lagi niat searching, kepancing pak Sasonov sih. :)

    A 706/A 706M – 04a (Standard Specification for Low-Alloy Steel Deformed and Plain Bars for Concrete Reinforcement)
    down-load PDF 47 kb

    A 615/A 615M – 04a (Standard Specification for Deformed and Plain Carbon Steel Bars for Concrete Reinforcement)
    down-load PDF 48 kb

  • Arif Budiman // Maret 15, 2008 pada 6:51 am

    Biasanya konsultan tidak setuju penggantian spek rebar fy 400 MPa menjadi rebar yg lebih kuat : fy 500 MPa, terutama untuk kolom dan balok.

    Alasannya : pembentukan sendi plastis menjadi tidak sesuai dengan asumsi perhitungan, sedangkan pembentukan sendi plastis dihitung untuk menyerap energi beban. Kalau rebar menjadi terlalu kuat, bisa-bisa beton akan hancur dahulu, akan terjadi keruntuhan britle, dan struktur tidak berperilaku ductile.

    Wir’s responds: ya betul pak, itu namanya over-reinforced section. Tapi jika si konsultan di ajak sebagai kerja tambah, dapet % dari penghematan, sebagai kompensasi redesign. Rasanya ok-ok aja.

    Jadi kalau disuruh rubah tanpa ada doku, siapa yang mau. Jadi paling gampang jika ditolak aja itu. :mrgreen:

  • marito // Maret 31, 2008 pada 12:36 pm

    pak, untuk pemasangan kabel prategang eksternal pada jembatan rangka pake cable section atau tendon yang ada diSAP2000, saya udah coba pake cable section tapi setelah run kabelnya gak bsa memberi lawan ledut pada rangka, malah kabel jatuh berantakan. pak kalo bisa tolong tahap peodelannya pada sap2000 , untuk tugas akhir saya…mahasiswa bandung

  • luthfi // April 9, 2008 pada 7:56 am

    nmau nanya tentang klasifikasi kuattarik sutu mterial

  • Code « M4_itink’s Blog // Juni 7, 2008 pada 8:14 am

    [...] standard uji produk besi , dari ASTM [...]

Tinggalkan Komentar