belajar beton otodidak


Danang,  seorang arsitek yang juga kontraktor, bertanya sebagai berikut 

Saya lulusan arsitek, sedang merintis usaha kontraktor, ingin belajar tentang pembetonan secara otodidak. Buku apa yg harus saya beli ?

Saudara Danang yang arsitek, saya tidak tahu apa yang melatar-belakangi anda, sehingga bertanya seperti itu. Mungkin ada baiknya saya coba ungkap kemungkinan logis seseorang non-engineer berkeinginan belajar “pembetonan”, yaitu :

  • memang ingin maju, karena ternyata punya jiwa engineer
  • sebagai kontraktor menyadari bahwa banyak ketemu kasus-kasus yang berkaitan dengan beton, untuk kasus-kasus ringan asal ngikutin tukang (pengalaman) maka beres, tapi lama-lama pekerjaan yang diterima semakin bervariasi dan besar-besar sehingga nggak berani ngandalin tukang. Mau minta bantuan insinyur, perlu ngeluarin duit lagi khan. Jadi intinya mau ngirit gitu (keuntungan proyek utuh).
  • atau iseng aja, biar dapat kerjaan karena kalau kontraktor bisa beton , maka bisa juga masuk ke konstruksi jalan, jembatan, infrastruktur dll. Kalau basic-nya arsitek khan hanya gedung-gedung aja. Gitu khan. :)

Dari motivasi tersebut akan ketahuan, apakah anda berani membayar mahal atas usaha anda tersebut, yaitu mendapat kompetensi ‘pembetonan’.

Pertama-tama saya mau ingatkan ! Menurut anda, ilmu beton mungkin dianggap sama dengan ilmu-ilmu arsitek yang sudah anda kuasai tersebut. Apa begitu ? Atau bahkan menganggapnya lebih ringan ?

Anda bisa membayangkan, jika dengan ilmu anda (arsitek) ternyata hasil rancangan anda dikatakan ‘gagal’. Apa yang terjadi ?  Jika gagal khan kemungkinannya adalah bangunan jadi nggak enak dilihat (buruk), nggak enak ditempati (nggak nyaman), atau berbiaya mahal (boros), atau nggak awet (cepat kumuh). Adakah dalam pikiran saudara jika rancangan arsitek gagal maka akan menimbulkan bencana ? Saya kira tidak khan. Jadi konsekuensinya kaya seniman, jika karyanya gagal, nggak ada lagi orang yang mau minta tolong. Gitu aja khan.

Tapi kalau ilmu struktur beton, jika anda mengaplikasikan salah, contoh bikin lantai panggung tinggi 6 m, lalu anda rencanakan mampu menerima beban 500 kg/m2, dalam kenyataan ketika dipakai acara konser, hitungan anda ternyata gagal. Apa yang anda pikirkan. Apakah kriteria penilaiannya sama seperti penilaian kerja seorang arsitek ? Kalau panggungnya ternyata gagal menerima beban 500 kg/m2 ! Apa yang anda bayangkankan. Apalagi jika beban itu berasal dari kumpulan manusia-manusia panggung, yang kebetulan berjingkrak-jingkrak. Apa yang terjadi. Bisa berdarah-darah lho. Bayangin kalau anak anda ada di atas panggung seperti itu, dan panggungnya gagal.

Beda khan. Walau sama-sama disebut ilmu. Bisa anda bayangkan ?

Apakah anda masih mau melanjutkan niat anda untuk belajar hal tersebut ?

Mungkin lebih gampang seorang engineer berpindah jadi arsitek, daripada arsitek jadi engineer. Kalau yang pertama itu aku pernah menjumpainya, engineer bikin rumah sendiri, dia rencana sendiri, orang mengira rumahnya direncana seorang arsitek. si engineer hanya mengangguk-angguk doang, bangga. :P

Memang ada juga sih, yang latar belakangnya arsitek, tapi megang proyek bangunan,  tapi ilmu yang digunakan adalah manajemen konstruksi atau leadership. Bukan ilmu perencanaan struktur beton atau baja gitu lho.

Pemikiran ke dua, apakah untuk belajar pembetonan itu cukup belajar ilmu struktur beton saja, atau cukup baca buku beton doang ?

Ilmu struktur beton akan lebih banyak cerita tentang bagaimana menghitung kekuatan penampang beton, menghitung jumlah tulangan yang diperlukan. Tapi kapan perlu dihitung, dan dimana menempatkannya maka masih perlu ilmu lain, yaitu analisa struktur.

Anda belajar analisa struktur nggak di perguruan tinggi dulu. Jika nggak belajar, wah repot, orang teknik sipil yang pemula aja juga pusing itu belajar materi tersebut. Setahu saya sekarang para arsitek juga males belajar itu. Menurut mereka katanya itu nggak perlu. Nggak tahu di tempat anda dulu.

Masih mau lanjutkan belajar pembetonan ?

Wah kalau masih ngotot, ya gimana lagi. Itu mungkin namanya berjiwa engineer. Baiklah kalau begitu langkah paling baik adalah belajar magang dengan orang yang punya ilmu tersebut, pertama-tama bantu dia, tirulah apa yang dia kerjakan (dalam pembetonan tentu saja). Sampai anda tahu, o begitu ! Kembangkan pemahaman tersebut dengan membaca-baca buku beton, cari falsafahnya. Pengarang buku beton yang hebat adalah Park and Paulay, Mc Gregor, Nawy dll. Coba cari itu dengan kata kunci tsb di Google. Beres dah.

Ok, menurut saya begitu dulu ya, semoga bener-bener jadi engineer dah. :D

About these ads

116 gagasan untuk “belajar beton otodidak

  1. Ya kenapa enggak tho ? IT juga bisa dipelajari secara otodidak, kenapa struktur tidak ?
    Banyak juga orang non IT jadi pekerja IT, lalu ngawur asal bikin sehingga sistem banking jadi macet, atau code ATC jadi ngawur sehingga pesawat hampir tabrakan. Tapi yang jagoan juga ada.

    Yg penting tuh ada certification. Mau ilmunya dari otodidak, kursus atau kejar paket A gak masalah

    • IT apa nih? user…programer…..sekedar rakit hard ware…. klo semua hal anda bilang segampang itu..gak perlu ada SMU, Perguruan tinggi dsb.. ma culun..

  2. Hmm… Engineer vs Arsitek, seperti web designer vs System Admin. Saya rasa keduanya memiliki kesulitannya masing2. Kalau saya tidak salah ingat, dulu teman saya bilang kalau Arsitek itu yang merancang dan Sipil yang pontang-panting bikin hitungannya.

    Well, web designer bisa belajar tentang administrasi sistem, tapi ada beberapa yang dia tidak bisa lakukan karena memang traitnya bukan di situ, vice versa.

  3. O…
    jadi ada arsitek yang mau nyambi Structural Engineer, wah hati-hati bisa nyawa orang jadi taruhan, Yang Sipil udah kuliah 4 tahun aja kadang2 masih takut merencanakan struktur apalagi yang arsitek ?

    Salut kalau ada arsitek yang mau tapi syaratnya semedi dulu biar dapat wahyu struktur :mrgreen:

  4. dikampus saya dulu ada yang bilang gini:
    arsitek yang nyipil lebih enak terdengar, daripada sipil yang nyarsitek… :)
    ayoo ayo… para arsitek indonesia belajar ilmu sipil…. bravo….

  5. @ benny
    “arsitek yang nyipil”, maksudnya arsitek yang dapat membangun rumah gitu khan. Nggak perlu insinyur sipil, karena dirangkep arsitek, gitu khan.

    Wah bagus tuh, orang-tuaku bangun rumah bahkan nggak pakai arsitek dan insinyur sipil, hanya dikerjain tukang, di Jogja. Gempa kemarin masih utuh itu, he, he, he.

    Jadi kalau begitu mungkin dapat disimpulkan bahwa bukan arsitek yang nyipil tetapi ngarsitek yang nukang.
    :mrgreen: wa kakaka

  6. Di Amerika, Jepang dengan sistem License Profesional Engineer hal ini bisa.

    Bahkan sebaliknya insinyur sipil jika belum lulus license, dia belum boleh mendesain sendiri. Cuma untuk dapat P.Eng harus lulus ujian berbagai mata pelajaran, dan melewati tahap EIT, Engineer in Traning, kerja di bawah bimbingan P. Eng. Jadi tidak bisa otodidak sendiri, tapi harus dibawah bimbingan P. Eng selama beberapa tahun.

    Misalnya Danang yg Arsitek, ngantor dan belajar menghitung beton dibimbing sekian tahun dikantor Wiratman, setelah 4-5 tahun (pengalaman yg disyaratkan untuk mendapat P.Eng), tentu dia bisa menghitung beton, tentu saat itu dia sudah mengerti pembebanan. Tapi ini baru menghitung beton, belum Baja atau Analisa struktur dll.

    Jadi kesimpulannya, memungkinkan, tapi akan sulit (materinya sulit, dan mencari P.Eng yg mau ngajarin juga sulit: bayar aja sulit apalagi minta gaji selama magang tsb) dan makan waktu.

    • komentar anda bijak ,.. sangat edukatif.. saya rasa kedua ranah ilmu ini semestinya berjalan bergandengan.. hehehe bagai laki dan perempuan kalau ga ada salah satunya ga bisa punya keturunan brad.. peace :)

  7. betul pak wir
    maksudnya arsitek yang sekalian ngitung2, arsitek plus plus.. :)

    wah kalo orang tua panjenengan, bisa rangkep2 itu gelarnya… hehehe..:)

  8. Beton untuk pelaksanaan, otodidak bisa2 saja, cuma yang sulit adalah ilmu gayanya (struktur) harus berguru ke empunya (seperti p Wir).

    Kalau untuk gedung 3 lantai seperti ruko, rumah tinggal, otodidak pasti bisa. Kalau lebih dari itu, harus berguru. Bukannya ilmu Arsitek lebih luas dari Sipil ? (untuk gedung).

  9. problem yang sama dihadapi teman saya yang mekanikal engineering. harus ngitung pondasi.

    relatif mudah diajari, karena uda ada basic analisa struktur.
    yang susah, bahkan sampe debat kusir, ngajarin beton minta cepat. sedangkan saya juga pengetahuan pas2an.

    akhirnya jadi juga pondasinya. pake SF=3. daripada ga selesai2 kerjaannya. :)

  10. mo jadi arsitek itu paling tidak 75% seniman…
    jadi sipil 75% jiwa ngitung dan lebih afdol dikolaborasi dgn jiwa seni…karena sambil ngitung sambil menghayal aplikasinya…
    Nah… sipil jadi arsitek boleh, tapi arsitek jadi sipil nggak bisa SKS alias sistem kejar semalam….

  11. saya tukang insinyur microchip, tapi punya pengalaman (hands-on) membangun rumah sendiri. Untuk beton rumah mungkin enggak perlu hitungan njlimet :) CMIIW. Arsitektur dan kontruksi saya desain sendiri berdasar hasil googling.

    Sebaik-baik desain/perhitungan, pada akhirnya praktek di lapangan yang menentukan. Misalkan pada pengecoran kolom/sloof, tukang dan laden sering “seenaknya”. Jadi mesti diawasi terus, jadi ngerangkap mandor deh. Mandor yang cermat, cerewet dan mungkin galak :) .

  12. Saya orang sipil tapi saya juga senang seni.
    Mungkin ada orang arsitek tapi senang ngitung.

    Yang jelas menurut saya selama itu menyangkut keselamatan orang banyak ya harus ada “sertifikasi khusus” untuk menentukan siapa yang berhak mendesain dan menghitung beton.

    Tapi saya tidak setuju juga kalo sertifikasi hanya ajang “Hegemoni” dan ajang “Eliminasi”. Itu mah sama aja dengan omongan “Orang Sipil jelas nggak bisa gambar” atau omongan “Orang Arsitek mana bisa ngitung”… sektoral oriented banget.

  13. Kalau tidak salah, Pada bidang Arsitek ada beberapa mata kuliah mengenai mekanika dan ilmu struktur. Saya rasa mungkin si Arsitek ingin lebih mendalami ilmu strukturnya. Kalau hanya sekedar rumah 2 lantai cukup gak ya Pak Wir?

  14. @Akhmad Mulyanto dan Jimmy
    Bangunan rumah tinggal kadang-kadang bisa dikategorikan sebagai non-engineering building. Ini tentunya rumah-rumah rakyat biasa yang umum begitu.

    Kadang-kadang rumah pejabat atau penguasaha meskipun hanya dua lantai tapi perlu dimasukkan sebagai engineering building. I lho dulu aku pernah ngebantu suatu rumah dua lantai doang sampai perlu di kasih prestressed karena bentang bebas baloknya ada yang nyampai 15 m, padahal pakai beton lho. Ha, ha, kalau ini si arsitek jangan pelit, harus ajak insinyur sipil. Kalau nggak bisa tombok nanti.

    Kembali ke tadi.
    Untuk bangunan rumah pada umumnya, yaitu untuk bentang antar kolom antara 3-4 m, dengan konfigurasi banyak dipakai dinding batu-bata. Maka pemakain balok atau kolom praktis sudah mencukupi. Yang penting detail penyambungan komponen-komponen tersebut. Jika memenuhi syarat-syarat praktis yang baik, niscaya terhadap gempa sedangpun sudah cukup baik kinerjanya.

    Jadi menjawab hal tersebut, siapapun asal dikerjakan tukang yang cukup baik, maka nggak dihitungpun, tetapi pakai detail yang disarankan maka kinerjanyapun baik juga. Apalagi dicoba dihitung oleh orang yang mau belajar. Ya pasti bagus dong.

  15. wah…hampir sama beda tips kasusnya tuh…sebetulnya c emang berat tapi gimana juga yah….jabatan ku drafter elektrikal pak, tapi masuk kontraktor sipil.. dikira bakal gambar2 tower2 transmisi or telekomunikasi eh…malah masuk businees development buat bangunan pabrik+ofiz…ya udah pak saya kerjain arsitekturnya (karena rencana design)….

    saya berusaha keras semaksimal mungkin cari sana-sini sumber yang bisa bantu saya, alhasil kerjaan saya sementara berhasil tapi arsitekturnya lho…selanjutnya…disitu saya di tuntut untuk mempersiapkan jawaban tentang rencana pola yang saya buat…waduw dalam pikiran saya tuh rumit banget pak… kok bisa gitu (background saya kan drafter elektrikal)….resikonya kalo tidak bisa saya out…

    tapi disitu saya melihat kepercayaan yang dikasih oleh atasan saya, makanya saya berusaha semaksimal mungkin belajar tentang hal2 yang berhubungan dengan sipil nie pak…

    saat ini saya sedang bingung mengenai perhitungan beban untuk menghitung luas penampang kolom..dari modul teman saya (arsitek) saya berusaha mencerna maksud dari isinya tapi mentok nie pak…so mungkin tetap saya harus mengajukan pembimbing lagi nie(karena dulu udah minta pembimbing…he…he…maklumlah……biar setiap kendala dapat teratasi alias ada yang bantu gitu…) yah kalo memang pada waktunya harus menjelaskan saya masih tetap gak bisa siap2 aja loncat lagi ke tempat baru dan menyesuaikan keahlian saya

  16. Salam P Wir,

    Waduh bisa kacau nich dunia tukang insinyur sipil…dari arsitek mau jadi jago beton…drafter elektrikal mau jadi jagoan beton guru beton nya dari arsitek pula..

    Saya jadi ingat apa yang di katakan prof Dott Sampurno ketika kuliah dulu…apa yang membedakan tukang dengan tukang insinyur…

    1. tukang hanya bekerja dengan gambar kerja yang di beri insinyur via drafter melalui persetujuan insinyur supaya di lakasanakan dilapangan setelah itu habislah tanggung jawab dia sebagai tukang…..dia mungkin tidak punya intuisi kenapa splices untuk tulangan atas di tengah bentang dan splices untuk tulangan bawah berada di support area.. karena itu bukan tanggung jawabnya….bahkan drafter yang tidak punya basic sipil pun mungkin tidak ada instuisi…tapi sebagai tukang insinyur sepatutnya bisa menjelaskanya kan….

    2. Bagaimana perhitungan beban untuk perhitungan luas area kolom ?..kalo hanya beban aksial intuisi seorang tukang mungkin (kekuatan tekan beton N/mm2 x area mm2) sudah dapat beban nya kan setelah di kali..kali factornya ….tapi seorang tukang insinyur harus bisa memprediksi kegagalan kolom akibat lentur murni, tekan, tarik atau kombinasinya …jadi lah diagram interaksi kolom..

    Sebenarnya masih banyak hal hal yang mungkin tidak bisa di gantikan intuisi seorang insinyur dengan seorang tukang….
    saya teringat kata P Wir dalam bukunya “The Man Behind the Gun”..
    Perangkat lunak untuk menghitung struktur mungkin sudah banyak tersedia, buku buku nya pun sudah banyak (mungkin buku P Wir yang menurut saya mudah dicerna dan sangat Philosophy) tapi siapa orang yang dapat menembak dengan tepat ya mesti orang yang tepat pula. Kalo bukan orang yang tepat mungkin akan salah sasaran…kalo dalam sipil mungkin akan terjadi kegagalan struktur…

    salam.

  17. ngomong-ngomong seru juga nih arsitek vs sipil. Tapi pada kesempatan ini aku cuma mau tanya pak wir, karena gak berani kalo belajar otodidak hehe.. kebetulan saya lagi ada tugas desain jembatan pelengkung dengan beton (tanpa arsitek lho..)
    1. Kalo di SAP2000 apakah dengan membaginya ke beberapa segmen-segmen kecil garis lurus sudah cukup untuk memodelkan analisis strukturnya?
    2. Kalo sudah ketemu gaya-gaya dalamnya, karena dominan gaya tekan dan momen, apakah perhitungan dengan anggapan perhitungan seperti pada kolom pada struktur biasa dapat diterapkan ?

    Wir’s responds:
    membaginya menjadi segmen-segmen kecil, yap memang harus begitu kalau pakai FEM. Untuk desainnya memang pada prinsipnya memang begitu, hanya saja untuk jembatan pelengkung statis tak tentu, pengaruh creep perlu dimasukkan, juga beban terpusat karena menghasilkan lentur pada sebagian tempat.

  18. untuk segala sesuatu ada waktunya, kalau mau ditekuni pasti bisa belajar beton otodidak. tapi otodidaknya tidak ngawur. Harus banyak tanya kepada pakarnya, salah satunya kepada Pak Wiryanto ini ^-^

  19. Arsitek mau belajar struktur beton? Pelajari dulu mekanika teknik (analisa struktur) 1-5, Mekanika kekuatan bahan (geser, inersia, dsb), trus masuk struktur beton 1-3. Mumeeeettt.. Tapi saya lulus A semua dulu *narsis* ;)

    Kalau mau expan ke jalan, jembatan keknya panjang tuh pak.. musti suruh belajar geometri, bahan lapis keras, teknik pelaksanaan perkerasan,dan perancangan jalannya sekalian+engineering project management.

    Intinya sih sudah ada kewajiban dan tanggung jawab khusus masing2 profesi. Kalau sekedar belajar dan ingin tau aja mungkin gak masalah..

    Salam kenal pak wir, selamat mengajar dan semoga makin bertambah pahalanya..

  20. Salam Pak Wir…
    salam kenal pak Wir.

    saya lulusan Teknik Sipil (tepatnya Pendidikan teknik Sipil) dari UPI Bandung dulunya IKIP Bandung. Saya sekarang kerja di Konsultan Sipil dulu pernah juga kerja di kontraktor kolam renang di Jakarta sebagai Engineering. lihat komentar-komentar disisni saya jadi berfikir cocok ga yah lulusan Sipil UPI jadi engineering? karena mungkin tujuan di kampus saya mendidik mahasiswa agar jadi guru (STM Bangunan) walaupun sebagian besar alumninya bekerja di dunia kontruksi bahkan banyak yang buka perusahaan sendiri.

    oh ya pak wir saya bisa ga ngelanjutin ke Pasca Sarjana Sipil di UNPAR karena kalau ngelanjutin di Pasca Negeri syaratnya harus jadi Sarjana Teknik dulu sedangkan gelar saya kan SPd. walaupun ada beberapa dosen saya yang melanjutkan ke Pasca UNPAR tanpa harus ngambil ST dulu (ada pengecualian ga kalau untuk dosen ?), rencana saya pengen masuk pasca tahun 2009 atau 2010.

  21. Arsitek mau belajar beton,..?? Hebat juga tuh. Tapi masalahnya apakah setelah belajar trus berani mengaplikasikannya, itu masalah lain. Tapi kalo punya komitmen yang kuat pasti bisa, tentunya dengan banyak pengorbanan. Khan untuk desain nggak cuma ilmu beton, ada analisis struktur, teknik fondasi, teknik gempa de el el.

    Selain itu juga perlu pengalaman untuk desain, karena seorang lulusan sipil aja kadang nggak pede hasil desainnya untuk diaplikasikan di lapangan.

  22. Setuju dengan saudara Sani.

    bole belajar beton, boleh belajar struktur, bole belajar baja.

    mo itung struktur? tinggal pake SAP, pake ETABS, STAADS dsb, tinggal belajar. ambil kursus di sana, ambil kursus di sini, pake program, blessss… hasil keluar, jadi de…

    tp seperti kata pak Wir, yg gak bisa dipelajari secara instant adalah “engineering judgement“, betul pak ?

  23. –Sdr Noe..
    (bukan mau menjawab, tapi malah mau nanya lagi)… :-)

    Sebagai mahasiswa T.Sipil, saya sama sekali tidak tahu dan juga tidak pernah mendengar ada jurusan pendidikan teknik sipil.
    apa yah itu? mungkin bisa berbagi cerita.
    terima kasih.

  24. - saudara hendrik…

    Pendidikan teknik Sipil adalah jurusan teknik sipil yang meyiapkan lulusannya untuk menjadi guru STM Bangunan/Tenaga pelatihan keteknik Sipilan, Jurusan Pendidikan teknik Sipil ada di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI/IKIP Bandung), kalau di IKIP (eks IKIP) Lain seperti Univ. Negeri Jakarta/Univ. Negeri Jogja Mungkin nama jurusannya Pendidikan Teknik Bangunan. dulu di UPI juga Namanya Pendidikan Teknik Bangunan di Tingkat 2 mahasiswa di suruh milih program studi yaitu Pendidikan arsitektur dan Pendididikan teknik Sipil tapi sekarang tidak sudah menjadi Jurusan sendiri yaitu jurusan Pendidikan teknik Sipil dan tentu jurusan Pendidikan Arsitektur.

    Kalau dari kurikulum (tentunya di UPI, gau tau kalau di Pendidikan teknik Sipil yang lain) kita juga dapat seperti mata kuliah Struktur Beton, Struktur Baja, Struktur Kayu, Pondasi, Gempa, analisa teknik , Irigasi, jalan raya, Mekanika Tanah dll di tambah mata kuliah kependidikan seperti Kurikulum Pembelajaran, Psikologi Pendidikan dll jumlah mata kuliah kependidikan ini sekitar 30 SKS sisanya Teknik sipil. untuk Kerja Praktek di pendidikan Teknik Sipil UPI ada dua yaitu Praktek Industri (PI/KP) untuk kerja praktek sama saja dengan di teknik sipil murni (teknik sipil murni bahasa kami untuk jurusan teknik sipil non kependidikan) yaitu di proyek-proyek Sipil, yang kedua Praktek mengajar namanya PPL (Program Pengalaman Lapangan) tempatnya di STM atau di lembaga pelatihan seperti BPPT, praktek disini kami mengajar. untuk penulisan Karya Ilmiah kami ada dua juga yaitu Tugas Akhir, tugas akhir ini karya ilmiah tentang dunia Teknik Sipil dan Skripsi yaitu tentang dunia kependidikan.

    di Jurusan pendidikan Teknik Sipil UPI ada tiga Kosentrasi yaitu Sipil Struktur, bangunan Air, Jalan dan Jembatan (di Sipil murni namanya mungkin transportasi).
    untuk jalan jembatan (karena saya mengambil konsentrasi ini) kita dapat materi tentang jembatan beton, komposit, baja, beton pratekan, geometrik jalan, perkerasan jalan, simpang, parkir, trafic light. tapi kami ga dapat materi kaya pelabuhan, lapangan terbang (kaya tranpotasi di sipil murni).

    walaupun kami disiapkan untuk menjadi pendidik di sekolah kejuruan kenyataannya alumni kami lebih banyak yang bekerja di dunia sipil/kontruksi mungkin karena jumlah/daya tampung STM-STM bangunan kurang kali ya, bahkan banyak STM bangunan yang gulung tikar.

    kalau kami pengen jadi ST (sarjana Teknik) kami tinggal nambah sekitar 20 – 25 sks (jadi memiliki 2 gelar yaitu S.Pd dan ST) tentunya bukan di UPI tapi di Univ. yang lain kalau dulu kami bisa ngambil ST di mana saja seprti ITB, UGM, UNDIP dsb (kata dosen dan senior yang telah ngambil ST) sekarang katanya tinggal UNDIP dan Univ. Swasta, kalau di bandung seperti UNJANI (Univ. Jendral A. Yani) UNLA (Univ. Langlangbuana) katanya di UNPAR juga bisa, kalau di kota lain ga tau.

    kalau ada Univ. di kota lain yang bisa kasih tau saya, untuk saya sosialisasikan ke temen-temen, karena banyak juga alumni kami yang ingin ngambil ST.
    mungkin itu cerita tentang Pendidikan Teknik Sipil…

  25. arsitek yang menjadi kontraktor, apakah bisa disamakan dengan sarjana hukum jadi kontraktor?

    pasti sulit menjawabnya, demikian juga seorang insinyur sipil yang menjadi arsitek apa bisa disamakan dengan seorang sarjana hukum yang menjadi arsitek? juga sulit menjawabnya. Pertanyaan lain, mana lebih mudah seorang insinyur sipil menjadi insinyur sipil atau seorang arsitek menjadi arsitek ? Makin rumit kah..

    Tolong dibedakan dulu, melakukan pekerjaan mendesain dengan menghitung, pekerjaan menghitung dengan melaksanakannya di lapangan.

    Saya adalah arsitek yang berprofesi 20 tahun di bidang mekanikal elektrikal, serta 10 tahun di bidang sipil. Baru 7 tahun belakangan ‘back to basic‘ mendisain bangunan secara komersil. Harus diakui, untuk mendesain sistim M/E, serta dan struktur / sipil secara garis besar, dapat saya lakukan. Namun jika bicara detail, angkat tangan. Tapi menurut saya itu cukup, saya sudah dapat bekerjasama dalam satu proyek dengan para insinyur teknik sipil maupun M/E. Apalagi setiap proyek yang ‘benar’, sudah melalui proses disain yang benar, yang ditangani ahlinya masing-masing.Kami, para pelaksana sudah diberi gambar dan perhitungan yang jelas dan detail.

    Mudah-mudahan dapat memberi gambaran.

  26. Siapapun mau belajar apapun please deh ah…. segala sesuatu kalau ditekuni dengan sungguh-sungguh pasti berhasil….tapi satu harus di pegang ….jangan lepas tanggung jawab….. artinya apa yang kita perbuat harus bisa dipertanggung jawabkan…. titik.

  27. halo pak wir, saya mau nanya:
    1. apakah kekakuan antara balok dan kolom harus sama (Kbalok=Kkolom) untuk bangunan-bangunan rawan gempa?
    2. apakah standar yang ada di SNI beton 2002 mengenai tinggi minimal balok (Hmin) dapat di pergunakan, padahal pada standar tersebut lendutan tidak dipehatikan?

  28. malam pak,
    kenapa beton lebih kuat tekan di bandingkan dengan baja ?
    padahal pada dasarnya berat jenis baja lebih tinggi dari pada beton.
    thx
    retno santoro
    teknik sipil
    universitas negeri jakarta

  29. @denie

    kekakuan antara balok dan kolom harus sama (Kbalok=Kkolom) untuk bangunan-bangunan rawan gempa?

    Ah siapa bilang ! Untuk berbicara tentang bangunan tahan gempa maka perlu dilihat sistem struktur penahan lateralnya (gempa). Bisa terdiri dari frame (sistem balok dan kolom), shear wall (dinding geser) atau cuma kolom kantilever. Setiap sistem tentu saja memerlukan persyaratan yang berbeda.

    Mungkin pertanyaan anda cenderung kepada sistem frame (sistem balok dan kolom). Intinya adalah pada kondisi kritis maka diharapkan keruntuhan dimulai dengan terjadinya sendi plastis di balok. Kolom juga boleh, tetapi tertentu, misalnya di lantai dasar dan atas, tapi itupun terakhir setelah balok-balok di bagian atas mengalami sendi plastis. Itulah konsep weak-beam strong-column.

    Kenapa harus balok terlebih dahulu, karena jika di kolom akan menghasilkan soft story effect dan juga P-delta gitu. Itu berbahaya karena akan menimbulkan gaya momen tambahan yang besar.

    Jadi secara praktis, lebih baik kolomnya besar dibanding balok. Iya khan.

    @retno santoro

    kenapa beton lebih kuat tekan di bandingkan dengan baja ?

    Siapa bilang, untuk luasan sama, maka jelas baja lebih kuat, atau artinya mampu menerima beban yang lebih besar dibanding beton.

    Itu dari sisi material, yaitu berdasar rumus sigma = gaya / luasan. Sigma ijin baja jelas-jelas lebih besar dari sigma ijin beton terhadap tekan.

    Oleh sebab itu, berdasarkan rumus tersebut maka untuk beban sama beton memerlukan luasan atau penampang kolom yang lebih besar dibanding baja.

    Selanjutnya jika ditinjau suatu kolom, maka dapat diketahui bahwa keruntuhannya tidak melulu karena sifat material juga, tetapi juga oleh sifat geometrik. Dimana jika penampang kecil maka jika L-nya panjang akan menjadi langsing. Sedangkan beton karena penampangnya sudah besar maka cenderung tidak langsing.

    Jadi jika dikaitkan dengan kelangsingan tersebut maka pernyataan anda di atas untuk suatu kolom beton dan kolom baja dapat diterima.

    Gitu penjelasannya mbak Retno. Lho apa soal ini nggak diajarin di kampus, mungkin ketiduran ya ketika pak dosen cerita soal ini. :P

  30. kalo ada seorang injineur mesin bisa desain pondasi itu memungkinkan, strength & mechanics of materials nya khan sama.. :) begitu juga sebaliknya seorang injineur sipil juga bisa jadi berkutat di dunia desain kekuatan mesin. coba aja lihat disini http://www.dhondt.de/authors.htm

    nha kalo seorang arsitek bisa jadi berkutat di desain struktural, menurut saya memungkinkan. dasarnya sudah ada, tinggal kemauan orangnya. …

    but still remember, all of books in structural design/engineering isn’t an easy task. so long, so far to knows … and see clearly.

  31. mas2 yg jago ttg ilmu beton..
    saya mau tanya ne..
    knp campuran beton yang semula,jumlahnya 13 litr.knp stlah jadi beton mnjadi 8 lter,,,
    yang 5 lter hilang kmana??
    tolongin saya dong saya ada tugas…

  32. Pak Wir… Membaca tanya jawab diatas, gimana kalau Pak Wir membuat buku STRUKTUR ALA ARSITEK supaya para arsitek nggak ngawur.
    isi bukunya yang ringan2x aja, mungkin lebih banyak struktur secara logika, batasin aja untuk 3 lantai dan di atas tiga lantai kembali ke Ahlinya.
    dan dijamin bukunya laku 100%,…kami tunggu bukunya….. trims (Pontianak KalBar)

    Wir’s responds: ide yang menarik. Terus terang banyak buku sekarang di Gramedia bicara tentang beton atau struktur beton, lalu ada gambar 3D, tetapi rasanya nggak bisa dijadikan rujukan. Kalau hanya sekedar informasi sih ok-ok saja. Terus terang saya prihatin dengan isinya, maunya sih mau nulis yang lebih baik. Moga-moga harapannya terkabul. Doain ya.

    • sy dukung 100% ide buat buku ini pak.. kadg byk isi buku dipasaran mlh menyesatkan, ga jarng sy dibikn mikr lg krn ap yang sy dpt slm kulh dlu, kdg bertentangan dg isi buku2 tsb.. mgkn klo Bpk bs lgs ambl kputsan krna Bpk udh ahlinya, lha sy?? ilmu sy cm pas2an aj..

  33. Saya yakin akan laku keras, kami para arsitek sangat butuh itu….,

    btw pak, saya perhatikan kok struktur gedung parkir wisma kosgoro sangat menakutkan, rasanya seperti mau runtuh saja….., sepertinya disain strukturnya lari dari pakem yang ada………

    nb: saya dulu punya dosen yang merupakan arsitek tapi sangat menguasai sruktur bangunan, sayang keduanya sudah alm, yakni alm. Ferryanto Chaidir dan al. Hartono Purbo…

    Salam buat bapak, mohon di cek pak gedung parkir wisma kosgoro itu…

  34. Wow menarik juga bagian ini….
    tapi kayaknya ngak mungkin arsitek mau memperdalam Struktur beton deh…apalagi struktur baja…

    mahasiswa sipil aja kewalahan mempelajarinya..
    apalagi matakuliah mekanika teknik di Indonesia katanya udah enggan di pelajari lagi. padahal itu kan yang paling penting sebelum masuk ke perhitungan struktur beton.

    tapi kalo mau jadi arsitek plus bisa struktur beton mungkin sekolah luar negri ada loh…

    kenapa ya ilmu bangunan di indonesia bisa terpisah jadi dua gitu : arsitek and Sipil…. Ask why?

  35. @Kepada Pak Wiryanto dan saudara lainnya,

    beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke departemen Arsitektur,dan disana lagi di perlihatkan hasil karya mahasiswa arsitek (mata kuliahnya Teknologi bangunan).dan pada saat saya melihat ke-bagian DETAILING (detail penulangan balok,detail penulangan kolom,detail pondasi dll) ,

    maka saya bertanya pada temen saya yang arsitek : “gimana kalian menghitung dimensi kolom,balok berserta tulangan tulangannya?”.tapi ngak sempat dijawabnya ,karna supirnya udah datang.

    seperti yang bapak bilang kalo “arsitek itu hanya mendesain arsitekturnya saja dan perhitungan betonnya di serahkan sama sipil “,awalnya saya percaya anggapan tersebut,tapi setelah saya lihat hasil karya mereka ,saya malah heran.kok bisa ya mereka mendimensi kolom dan balok beserta tulangan tulangan nya pula.apakah mereka mendimensi ukuran kolom dan balok berdasarkan keindahan atau kekuatan?

    jadi inti pertanyaan saya adalah:
    “kok bisa para arsitek mendimensi ukuran kolom,balok berserta penulangannya pula seperti yang saya lihat di gambar perencanaan mereka?
    padahal di universitas saya (arsitek nya) ngak ada matakuliah analisa struktur atau struktur beton.
    anehnya lagi mereka bilang kalo perhitungan untuk mendapatkan tulangannya tu gak ada.hebat banget,gak ada perhitungan tapi bisa muncul detail penulangan balok dan kolom.

    berarti anggapan kita (para sipil) yang menganggap “arsitek itu ngak kuat hitung” ternyata salah besar dong. buktinya saja gambar perencanaan mereka saja ada detailing penulangan balok ,kolom dan pondasi.

    Pak wir yang udah pengalaman bekerja sama dengan seorang arsitek pastinya tau dong mengenai hal ini .Apakah memang bener arsitek merangkap pekerjaan sipil?

    sekian dulu dan terima kasih

  36. emmm…nimbrung ahh…

    emmm..kalo menurut sy, tulangan2 yang dikeluarkan oleh org2 arsitek itu adalah hanya sekedar hapalan saja. gak ada hitung2annya..apalagi kalo cuma untuk buat rumah 1 ato 2 lantae aja. makanya, kalo liat seri2 buku “cara membangun rumah” dan sejenisnya yang banyak dijual di toko2 buku, kebanyakan yg buat bukunya adalah org2 arsitek….lalu ada pertanyaan: kok bisa keluar tulangan??… pliss deh,, seperti kata Pak Wir (salam kenal ya pak), kalo untuk rumah 2 lantae aja sih tukang juga bisa..malah gak butuh arsitek yg nyipil tadi…hehehe..

    tp terkadang ada hal yg membuat sy miris ris ris……beberapa kali arsitek membangun rumah/kos2an/ruko 2 ato 3 lantai secara sukses tanpa melibatkan orang struktur (biar irit duit katanya alias fee jasa utuh)….tp anehnya arsitek td melibatkan orang struktur hanya untuk keperluan pengurusan IMB alias basa-basi hitungan struktur (pd beberapa daerah terkadang dipandang formalitas) supaya IMB nya tembus…jadi bukannya dari hitungan keluar tulangan, tapi dari gambar tulangan yg udah ada keluar deh hitungan…..

    kalo udah gini kan ada kesan arsitek spt menyepelakan orang struktur…kemudian dari segi uang, jelas arsitek dapat banyak, karena biaya hitungan struktur per m2 jauh lebih murah dengan alasan tulangan udah ada tinggal hitungannya aja yg belum (dalam artian orang struktur tidak terlibat merancang srukturnya dari awal…-ya gimana mao terlibat, wong arsiteknya yg udah duluan ngeluarin tulangan-)…

    trus nanti yg mirisnya lagi semisal bangunannya mengalami kegagalan struktur, maka kalimat pertama yg akan keluar adalah..”nih orang strukturnya sape nih??..”..tp sebaliknya apabila bangunannya kokoh berdiri, maka kalimat yg meluncur adalah..”nih arsiteknya keren juga nih”….hehehe…jadi bener kata Pak Wir.. Orang struktur merancang outputnya adalah kekuatan (berhubungan dg nyawa orang), tp orang arsitek merancang outputnya adalah estetika dan kenyamanan…hmmm..

    Makanya, orang arsitek tuh udah cukup bangga walopun cuma mendesain rumah 2 lantae aja..tp seorang struktur….baru bangga kalo dia bisa merancang gedung yang jumlah lantainya semakin banyak..hmmmm

    Makanya lagi, bagi orang sipil yg cuma pengen sekedar cari uang cepet kaya, saya saranin maennya di perumahan aja. jadi istilahnya sipil yg nyarsitek td….tp….bagi orang sipil yang pengen cari ilmu, wawasan, pengalaman, respek thd perkembangan teknologi, tantangan, kebanggaan, pengabdian kpd negara tercinta, dg uang cukup (juga), maka cobalah ikut terlibat di pekerjaan2 skala menengah dan besar, seperti pekerjaan gedung bertingkat, jembatan bentang panjang, DAM, dsb..barulah anda dapat dikatakan the real engineer…kebayang gak siihh kerennnya…hhmmm…tp uangnya?? kalo pengalaman udah cukup, kemampuan handal, maka uang cukup jg kok..hehe

    yaa. mungkin itu sedikit dari saya. gak ada maksud utk mengatakan A lebih baik ato B lebih buruk..mhn maaf sebelumnya. tengkyu..

  37. Trimakasih penjelasan nya saudara locmocotive ya…

    memang sih orang arsitek itu kayak raja, dan kita pembantunya…haaha

    saya sekarang lagi kerja praktek dan katanya kalo arsitek udah slesai gambar denah,potongan,tampak, maka orang orang struktur,mekanikal,elektrikal baru bisa bekerja.

    katanya orang arsitek lebih memimpin lah dari struktur ,mekanikal dan elektrikal gitu.

  38. pengalaman saya di proyek :
    orang arsitek hanya mampu jadi tukang gambar diatas kertas, tidak tau ngerjainnya di lapangan,
    designnya banyak tidak workable. kalo arsitek mau design struktur biar aja yang penting dia tanggung jawab, karena sudah ada hukum pidananya lho….
    selama designmya aman, nyaman dan ekonomis dari sisi pandangan umum arsitek boleh aja…..monggo mas…….
    ada gempa biar nggak tidur2 arsiteknya….
    Gambar yang dikeluarkan arsitek biasanya liatnya di gambar sipil. bentangan 5 m pake besi berapa, dimensi berapa, tanpa tau dari mana dapet hasil itu, cara ngitungnya seperti apa, pembebanannya seperti apa…..
    arsitek nyipil, paling untuk bangunan konvesional biasa seperti rumah tinggal saja. Kalo skup Civil Engineering banyal banget mulai dari design jalan, jembatan , bendungan, tower, mercu suar, gedung tinggi, dan lain2.
    Bagi para pengguna jasa arsitek jangan tertipu dari design saja, sekarang mendesain rumah sudah gampang sekali tinggal liat di majalah rumah, internet trus di print . . kasi ukuran denah …kasi tukang beres…….
    SALAM DARI BALI.

  39. itulah arsitek VS sipil
    yang penting siapa yang lebih kaya dialah yang menang.
    Ciputra kira2 sipil apa arsitek ya…..
    Yang jelas Orang sipil sudah pernah memimpin bangsa ini keluar dari penjajah dengan Filosofi Ilmu Analisa Struktur .. Bung Karno……..
    Kalo arsitek ??????????? menteri PU aja tidak pernah………

  40. Kalo saya baca semua di atas, kok jadi melebar yaa ?

    Bermula dari keinginan seseorang arsitek untuk bisa menghitung beton, lalu kemudian berkembang menjadi saling ejek antara sipil & arsitek. Bahkan mereka dari bidang engineering yang berbeda pun ikutan.

    Ah, easy, arsitek kerjanya cuma ndisain, cuma nggambar.
    Ah, easy, bidang sipil bisa dilakukan arsitek (asal sabar).
    atau : ah, easy, bidang IT bisa dimasuki oleh yg non-IT.

    Kalau dilihat dari dasarnya, mengapa seorang arsitek indonesia ‘mau’ menjadi penghitung beton, itu lebih dikarenakan si arsitek tidak memiliki ‘jiwa engineer’ melainkan ‘jiwa pedagang’.
    Dunia arsitektur di indonesia saat ini banyak dinodai oleh arsitek yg merangkap kontraktor, yg semata karena bisnis, menggratiskan pekerjaan arsitektur kepada para kliennya.
    Kurang puas menggratiskan arsitektur, si arsitek-kontraktor ini rupanya pingin menggratiskan hitungan struktur beton-baja.

    Semakin murah harga jasa semakin hebat jualannya, hukum ekonomi yang hampir selalu perang dengan dunia rekayasa.

    Bahkan karena penodaan ini, para arsitek menjadi tidak kompeten melakukan profesinya. Banyak bencana lingkungan dan bencana visual terjadi karenanya.

    Jika bencana civil engineering itu langsung memakan jiwa, bencana arsitektur itu bergeraknya lambat. Bencana lingkungan terjadinya melalui prosesi, tau-tau longsoooorr… (seperti kejadian lokasi vila puncak). Bencana visual membuat orang lama-lama menjadi stress dan bisa berpengaruh jelek pada hidupnya dan interaksinya dengan lingkungannya.

    Sama-sama berakibat buruk, namun jangka waktunya berbeda.

    Kompetensi arsitek sebenarnya berinteraksi total dengan lingkungannya (manusia dan alam), dan kewajiban seorang arsitek untuk membantu kliennya jika keinginan si klien ini akan membawa dampak jelek terhadap ekologi dan visual.

    Bahkan banyak arsitek (di indonesia) tidak memahami proporsi visual secara benar. Contohnya ? lihat saja di kawasan Pondok Indah jakarta, silahkan melihat2 satu bangunan klasik selama 3 jam saja. Nyaman ndak visual anda. Bila efek di mata menjadi tidak nyaman, maka proporsi klasiknya dapat dipastikan tidak tepat. Karena originalitas klasik tersusun dari efek visual manusia.

    Begitu pula dengan kompetensi civil engineer, salah hitung bisa bubrah semuanya.
    Hal terbaik yang dilakukan adalah dengan menghargai rekan lain profesi yang berkaitan. seorang arsitek harus menghargai civil engineer, begitu pula sebaliknya.

    kebanggaan seorang sipil yg mendisain bangunannya ‘ala arsitek’ bukannya tidak mungkin menciptakan bencana visual secara laten. Secara psikologis, daerah bronx memiliki tingkat stress dan kekacauan di banding dengan area lain. Inilah contoh design by accident, dimana2 dinding beton dan jaringan rel kereta atas, tanpa ada kelembutan dan kenyamanan visual dimana orang bisa mengistirahatkan matanya dari ketegangan walaupun hanya sejenak.

    Janganlah orang berbangga karena bisa mengadopsi ‘kulit’ dari disiplin ilmu lain, dan kemudian mengklaimnya seolah-olah dia menjadi jagoan di bidang ilmu yg lain itu.

    Saran saya buat mas arsitek yg ingin belajar beton :
    gandenglah civil engineer untuk 3-4 proyek anda. Jika proyek anda termasuk yg non-engineered, maka anda bisa mengadopsi pola-pola struktural tipikal yg sudah dibuat, dengan catatan lokasi proyek harus sejenis kondisinya.

    Jadi untuk next project sejenis, anda sudah bisa menembaknya, meskipun pasti anda bingung untuk sistem hitungannya.

    Menurut hemat saya, klien rumah tinggal atau gedung sampai 2 lantai tidak membutuhkan hitungan struktural, kecuali proyek instansi. Jadi anda jangan kuatir.

    Kalo anda dapat proyek yg must-be-engineered, yaaa…. keluarin duit ndak apalaaahhh. Proyek yg rumit, apalagi sampai structural-exposed pasti akan menaikkan prestise anda, and don’t worry, nilai proyek anda pasti valueable akan meningkat.

    ok ?

    jadiiii….. jangan pelit-pelit di dalam berbisnis yah…

    salam

  41. @Indra beratha,
    Bung Karno itu ndak jelas orang sipil apa arsitek, soale waktu beliau sekolah, bidang perencanaan ITB (klo ndak salah masih Technische Hoogeschool / THs) blom dibagi jadi arsitektur dan teknik sipil.
    disana paket arsitektur & sipilnya masih berimbang.

    jadiiiiii…… ;)

  42. terus terang skarang saya makin bingung…soalnya skarang saya sedang bekerja di laboratorium yg salah satu pekerjaannya adalah melakukan pengetesan mutu beton…sementara saya lulusan arsitek.

    tidak sampai di situ… saya juga membuat design mix untuk proyek yg saya kerjakan, walaupun hanya proyek rumah tinggal tapi jumlahnya ribuan.. saya lakukan semuanya secara otodidak, bahkan sampai dengan analisa setiap material yg digunakan…

    saya tau yg saya lakukan belum sepenuhnya benar, saya berani lakukan karena ini hanyalah proyek rumah tinggal dengan mutu beton 225kg/cm2

    intinya banyak hal yg saya lakukan yg tidak berhubungan samasekali dgn basic saya. saya pikir sah-sah aja kalo ada arsitek yg ternyata punya analisa beton yg lebih baik dari seorang engineer. (tapi bukan saya lho….)

    dan ga ada larangan buat seorang arsitek untuk mendalami soal beton, sekarang tergantung orangnya aja…mau ga ???? hehehe

    satu lagi, saya orang lapangan yg juga ikut mendesain, jadi ga benar kalo arsitek itu cuma bisanya di atas kertas….

    soalnya dilapangan juga ga melulu soal itung2, soal taste juga penting,….
    n soal taste, arsitek…donk…, bangunan2 yg lama kampus saya dibangun oleh orang sipil, dan yg terbaru di design oleh arsitek…kelihatan beda lho….

  43. @NuggI
    Arsitek itu lahir dari Teknik sipil, dulunya cuma ada Teknik sipil… jadi bisa di bilang Bung Karno adalah lulusan Teknik sipil…..
    coba anda baca dahulu sejarah perkembangan teknik sipil dan arsitek baik sejarah di kampus ataupun sejarah di dunia..
    dahulunya TEknik sipil itu belajar semuanya baik ngegambar atau pun ngedesain.. tapi akhirnya arsitek membentuk jurusan sendiri … gitu mas NuggI…
    @NuggI wrote :

    penghitung beton itu = jiwa engineer dan bukan jiwa pedagang mas….. hehe

    @mas Sitompul
    bangunan yg di desain sipil dan arsitek apa beda nya ?
    kalo soal keindahan ya pasti jelas sipil kalah dong…

    tapi soal dimensi balok,kolom,pelat lantai, dan juga dimensi tulangannya pasti sipil lebih unggul.

    kalo memang para arsitek ingin mendesain beton, baja ,, setuju gak kalo mata kuliah mekanika teknik di terapkan kembali di jurusan Arsitek??ngak mau kan ? Knp ? karna itu menjadi momok bagi anak arsitek….

  44. @ @ndre
    tapi sekedar info juga nih ,, tidak semua arsitek di indonesia masih belajar mekanika teknik, ada yang uda menghapusnya dari mata kuliah mereka loh..

    Bah ,,, kali ini uda ada yang buka kartu kalo mekanika teknik di arsitek tidak begitu mendalam..
    bagaimana bisa mendesain beton bertulang kalo mekanika teknik aja masih belajar dasarnya aja……

  45. Pak Y.W.,
    maksud saya yg pedagang itu adalah : arsitek-kontraktor yang mau sekalian ngitung beton. Bukan pukul rata semua penghitung beton itu pedagang. Coba, tolong disimak kalimat lengkapnya :

    Kalau dilihat dari dasarnya, mengapa seorang arsitek indonesia ‘mau’ menjadi penghitung beton, itu lebih dikarenakan si arsitek tidak memiliki ‘jiwa engineer’ melainkan ‘jiwa pedagang’.

    Sorry revisi : si arsitek diganti jadi si arsitek-kontraktor.

    Apalagi, arsitek-kontraktor seperti ini maunya easy-way, jalan gampang.

    Dulu sekali jamannya Vitruvius, Leonardo DaVinci, or Michael Angelo, mereka membuat model desainnya dulu, setelah puas baru dibikinkan hitungan or model strukturnya. Makanya namanya Architectura (Arche = busur / seni dan tectoon = kekuatan), karena mereka menyusun seninya dulu baru kemudian kemungkinan model strukturnya. Dulu jaman Vitruvius istilah yg ada cuma arsitektur (architectura/e), dan ahli bangunan (architecton/i).

    Parthenon Yunani Kuno (2700-2500 BC) didesain dulu Golden Section-nya (pedestal-kolom-entablatur) oleh Iktinos baru direkayasa strukturnya. Dome Hagia Sophia juga demikian. Di Asia ada Puri di Nara, Jepang, proses membuatnya juga demikian. Desain dulu, setelah cantik dan di acc sama Kaisar baru direkayasa model strukturnya. Dilihat dari dokumen-dokumen kuno mereka (baik yg di Eropa, Timur Tengah, maupun Asia), semua berawal dari pola klasik atau tradisional masing2.

    Yang dari Eropa menentukannya dari Golden Section, dll. Baru setelah itu ada coret2 praduga perilaku struktur. Karena mungkin pada jaman itu belum ada structure engineer secanggih Pak Wir, maka rata2 karya mereka jadi over-structured.

    Setelah makin lama para perancang ini makin kebingungan terhadap tuntutan desain yang mereka inginkan, maka mereka mulai menggandeng ahli matematika, yang tadinya cuma ngajak tukang kayu dan tukang batu untuk rembugan. Si ahli matematika ini yang menerjemahkan perilaku material struktur dari si tukang kayu dan batu. Simbah tertua yang mulai seriyeus pada ilmu pesawat dan mekanika adalah mbah Archimedes (sekitar 250-200 BC.)

    Structure (civil) enggineer baru di-proclaim keberadaannya sekitar 1768 oleh John Smeaton (kalo salah tulung saya diberi tahu yaa..).
    Sebelumnya structural engineer punya nama nama tukang batu (stone-master / faber) karena dia adalah satu-satunya orang yang berhak meletakkan batu kunci (key-stone) pada pelengkungan (arche) gawangan pintu atau jendela.

    Masalah klasik kebutuhan Arsitek terhadap structure engineer masih terjadi sampai saat ini, contohnya Arsitek Calatrava (ini orang tenar juga lho, bisa di-search di yahoo atawa google) harus menunggu 10 tahun agar desainnya bisa dibangun, maklum bo, si klien udah kepincut tapi waktu itu belum ada structure engineer yang sanggup menghitung desainnya.

    Saya sebenernya ndak mau debat soal ini, saya hanya mau membuka wawasan saja. Yang arsitek moga2 ndak sombong sama ke-arsitekannya & yang sipil juga ndak sombong merasa lebih hebat bisa ngitung dibanding arsitek yang bodo untuk urusan itungan.

    Sebenernya pendidikan arsitek itu butuh sebangsa mek-tek dan perilaku mekanika material. kalo ndak belajar itu namanya bukan arsitek, tapi arsingek, karena tektoon-nya ndak ada hehehe.

    Sayang dulu saya dapet dosen mek-tek ndak seperti Pak Wir, banyak jebakan batman-nya. Rumusnya ndak runut tau tau gooooaaaallll…. Lah angka ini dapet dari mana, semua ndak tau.

    Buntut2nya kalo beli foto-kopian beliau dijamin lulus, paling ndak C ditangan (kesian yaa sampai curhat begini, hehehehe).

    Akhirnya saya belajar sendiri, pakai rumus kuno (paling sudah dilepeh sama Pak Wir), buat beton pakai cara ‘n’ bikinan Pak Wiratman, berhubung saya ndak dong pakai SRNI yang adopsi amerika.

    Maklum kebiasaan metrik ndak biasa MPa :).

    Tapi trus terang saya nyerah kalo desain saya udah pakai gantung2 (guyed-mast) or pre-stressed or shell-frame apalagi super-structure (hi-rise & wide-span). Paling2 nanti saya kontak Pak Wir, hehehe.

  46. Sorry saudara2, yang Calatrava itu diganti. Ternyata yang nunggu 10 tahun itu Daniel Liebeskind. Tadi malam waktu tidur saya serasa ditegur sama dia.

    Paginya waktu bangun saya baru ingat, si Daniel Liebeskind harus nunggu 10 tahun agar rancangannya bisa dibangun, proyeknya : Judisches Museum, Berlin

  47. waw………seru,seru,seru…….ga kebayang zaman udah semaju sekarang….semuanya ingin jadi lebih baik, bisa dibilang sekarang manusia pengen nguasain ilmu sebanyak mungkin kayak ‘maserba’ : manusia serba bisa….bisa design,ngitung,manage,jago lapangan,bisa bertarung,bisa dilepas dimana aj……..ok,siap……..

  48. haduuuhhhh…………….

    makin keliatan kebodohan pribadi saia…

    mau desain ga bagus2 bgt…

    ngitung juga belom jelas…

    apa lagi dibandingin ma Daniel Liebeskind and Santiago Calatrava, beuuuhhhh…djaoeh bangetz..

    belajar dulu ah…

  49. saya mau tanya, kenapa beton buatan jaman dulu, lebih kuat dibandingkan beton jaman sekarang??(tolong jawaban secara ilmiah,,karena ini tugas dari dosen saya)
    trims..
    Tuhan Yesus memberkati..

  50. Seorang arsitek boleh belajar ilmu beton, tapi untuk mendalami ilmu tersebut tidak bisa secara otodidak harus ada yang membimbing dan mengarahkannya, sebab ilmu tersebut bukan ilmu yang bisa dipelajari secara secara instant…

  51. Wala2 rame tenan. Kalau saya seh soal beton cukup tahu prinsip2nya saja.

    Masing2 sudah ada porsinya dan tidak usah merasa satu lebih dari yang lain. Sekarang ini kan sudah ada sertifikasi, salah satunya Sertifikat Keahlian Arsitek, ada 13 kompetensi yang harus dipenuhi oleh seorang arsitek agar dia mendapat gelar Profesional.

    Dalam 13 kompetensi itu tidak mengisyaratkan seorang arsitek bisa menghitung beton. 13 Kompetensi ini sesuai dengan yang dikeluarkan oleh UIA (Union Institute of Architect) dan sampai saat ini hanya dikeluarkan oleh IAI.

    Kedepan untuk mendapat sebutan Profesional, setelah lulus seorang yunior arsitek harus magang selama 2 tahun di biro arsitek yang telah ditentukan. Selain itu, sekarang sedang di godok Undang-undang Arsitek di DPR.

    Apa yang saya katakan diatas semata-mata ingin menunjukkan bahwa semua orang BISA menjadi arsitek tetapi tidak semua bisa DISEBUT ARSITEK.

    Kalau saya juga belajar hitungan beton kasihan teman2 sipil lahannya berkurang. Saya bangga jadi arsitek….

  52. Maaf..boleh berkata sedikit di tempat yang sempit.. gak perlu memojokan dan memandang sinis.. toh tinggal bilang tidak.. kalau tidak mau berbagi ilmu….

    terlalu arogan andaikan bahwa ilmu datangnya dari kita “manusia”, karena hasil usaha kita “manusia”… bukannya ilmu datangnya dari sang pencipta.. maaf kalau ada kata-kata saya tidak berkenan…

    jujur saya seorang arsitek 5 tahun saya bergerak dibidang jasa mulai dari marketing, konsultasi, gambar, estimasi dan pelaksanaan.. ternyata ilmu itu bisa di dapat apabila kita punya keinginan… bukannya saya lancang.. ternyata bukan sekadar ilmu sipil atau arsitek yang harus kita kuasai.. tapi ilmu marketing cara berhadapan dengan konsumen, ilmu manajemen cara pengelolaan sumber daya manusia, sampai ilmu pasar beras….cara tawar menawar dengan vendor dan lain-lain…

    memang harus total…

    oia satu lagi bukan sekadar gambar dan seni yang dipelajari di arsitek…boleh ditantang

    Wir’s respons : tepatnya “serabutan“.
    Gitu ya mas.

  53. Bersyukur bagi napas-napas yang telah diberi kekuatan untuk menerima dan mendapatkan ilmu yang “Katanya” hasil pemikiran dan perjuangan mereka selama bertahun-tahun….

    Bravo…. “Sang pencipta” ternyata seorang manusia….

  54. “Serabutan”…tergantung kayaknya mo yang gimana.. serabutan proyeknya dimana-mana atau serabutan karyawannya dimana-mana? atau serabutan investasinya dimana-mana?..itu namanya “Serabutan” yah….trims infonya

    • kata “serabutan”, biasa dipakai oleh orang jawa untuk menunjukkan “apa saja”. Jadi seperti misalnya kalau ditanya : “kerjanya apa mas selama ini“. Jika jawabnya : “ya begitulah mas, serabutan sana sini“, itu artinya kerjanya apa saja (asal dapat bekerja). :(

      Jadi untuk penjelasan di atas bisa juga benar, seperti misalnya jadi pejabat, tetapi juga masih kerja serabutan lainnya, misalnya jadi makelar, bisa juga jadi pedagang permata. Itu lho seperti jaksa yang ditangkap KPK tempo hari.

      Memang orang-orang kita itu, kalau bisa serabutan, senengnya minta ampun. Bahkan yang lurus-lurus saja dibilangnya kuper. :)

  55. Iya Pak Wir…

    Selama ini hubungan sipil dengan Arsitek di lingkungan saya saling mendukung satu sama lain dan saling menyadari kurang lebih dalam diri…..sama-sama mengertilah (layaknya pasangan suami istri) tidak berusaha untuk saling menonjol dan tidak melemahkan yang lainnya (bijaksananya begitu kan Pak Wir)…..

    Ditambah lagi tiga karyawan saya teknik sipil…

    Sebenarnya yang seharusnya bangga itu siapa sih ?…

    contoh kalau Pemahat membuat suatu karya dengan tangannya sendiri, dan karya itu “booming” menjadi karya yang spektakuler, Si Pemahat berhak untuk menepuk dada mengangkat dagu dong (harus -refleksi dari bentuk rasa syukur)…tapi kita (Arsitek+Sipil atau dll) wong cuman baru bisa di atas kertas saja sudah merasa paling superior atau superman atau batman….Si Tukang juga, akhirnya yang jadi eksekutornya dan membangun dengan tangannya sendiri menjadi bentuk nyata yang seharusnya bangga , kecuali kalau kita dikit-dikit megang cetok ato ngaci, mungkin kali yee…

    Contoh sederhana saja… Saya jamin tidak menutup kemungkinan masih banyak dari kalangan kita dengan kasat mata dan tanpa alat ukur tidak dapat membedakan jenis besi atau tidak dapat membedakan jenis kayu dalam kondisi basah atau tidak dapat membedakan K-175 atau K-225 (dengan kasat mata)…atau malah pasir palu digunakan untuk memplester..tarik selang ukur dengan beda ketinggian 1 meter saja mungkin tumpah-tumpah ..

    Hal-hal kecil tersebut saja belum dipahami, bagaimana bisa dianggap paling ehm.ehm dan bangun gedung setinggi langit ketujuh (oia…yang bangun pekerjanya)…

    Damai aja saling berbagi dan saling mendukung…. semakin berisi makin bijaksana seharusnya

  56. salam kenal sebelumnya. kalau boleh saya nimbrung. klo blajar beton gag segampang belajar otak atik komputer, kita harus punya acuan setiap kali kita akan mendesain. hehehe

  57. Ngomong ngomong, ilmu ilmu yang kita pelajari di Teknik Sipil atau S1 lainnya itu terpakai gak disaat kerja nanti ya ?????

  58. wah repot juga ya, saya sedang cari berapa ukuran tulangan dan jenis beton untuk ruko 3 lantai, tapi yang ketemu cuma adu teori-teori n jelimet. Ada nggak ya yang bisa kasih bantu yang lebih praktis, besi diamenter berapa, pondasi dan kolom, sloff berapa pasnya. thanks

    Wir’s responds: biar praktis, kasih aja sama pemborong. Jadi sekarang fokusnya tinggal deal, harga cocok. Beres. :)

  59. insinyur sipil sebelum menghakimi arsitek, harus mengetahui bgaimana pembelajaran mereka, dari studio 1-6(di tempat saya)+studio akhir yang mendalami berbagai fungsi pada tiap tingkatannya(yang berelasi dengan struktur juga walaupun hanya sebagian kecil)

    arsitek sebelum mengahakimi insinyur sipil, harus mengetahu bagaimana pembelajaran mereka, yang sudah banyak sekali disebutkan teman2 di atas.

    lihatlah proyek internasional. ada arsitek, ada structure engineer, ada interior consultant, ada MEP consultant, dan masih banyak lagi, bahkan bisa di dalam 1 perusahaan desain bangunan.

    di indonesia??? kasih pemborong…
    silahkan komen2 lagi

  60. salam kenal pak wir..

    saya ini orang ekonomi ( pedagang )…punya 3 orang staff arsitek , 2 orang sipil , 2 orang drafter dan 25 staff ( pengawas , site manager .. etc ).kami sudah menyelesaikan beberapa project hotel lt 3 , vila dan resort dari tahun 98 .selama ini project kami belum ada komplain . yang menjadi permasalahan saya .
    1. keinginan klien kami sedikit aneh2 seperti salh satu contoh kolam renang yang dibuat menonjol 8.2 mtrpersegi dari dinding jurang dimana luas kolam renang sendiri 17.98 mtr per segi. kekawatiran saya dalam perhitungan orang sipil saya? atau bisa mohon bantuan bapak.??? please…
    2. bagi teman sipil atau arsitek mari kita bersatu untuk memajukan bangsa ini. setiap orang memiliki kebanggan terhadap apa yang mereka hasilkan dari kerja keras mereka. kita bisa.. karena bantuan orang lain juga toh.. kita mungkin aja sempurna dalam satu hal. tapi belum tentu akan menyelesaikan masalah secara keseluruhan. ..tx…cheers…

  61. Salam kenal pak Wir,

    Saya ingin tanya, utk rumah tinggal 2 tingkat, agar tahan gempa, apakah diperlukan dinding geser/shear wall ? Utk desain sederhana (bentuk kotak spt kubus), dimana dinding geser ditaruh?

    Saya kurang percaya pada pemborong, krn pengalaman membangun rumah beberapa waktu yll. yg awut2an ….

  62. Dear Pa Dr.Nugroho,

    Seandainya saja bapak melampirkan gambar rumah tersebut mungkin saya/kami bisa memberikan masukan lebih lanjut.

    Tapi menurut pengalaman saya, bangunan rumah tinggal 2 – 3 lantaiyang sering saya rencanakan tidak merlukan dinding geser/shear wall. Karena letak posisi struktur balok dan kolom yang tepat untuk memikul beban2 gravitasi maupun merespon bangunan terhadap beban gempa sekalipun.

    Memang terkadang akibat bentang lantai/balok yang cukup panjang dan kolom yang harus rata dengan dinding finish (request arsitek), maka dibuatlah dimensi kolom yang agak sedikit terlihat lebih panjang seperti dinding geser, namun itu tetap kolom bukan dinding geser.

    Untuk bangunan rumah tinggal, cukup berkoordinasi dengan arsitek dengan maksud agar tidak mengurangi segi artitistik bangunan namun kekuatan struktur bangunannya juga terjamin.

    Disinilah seni seorang perencana (arsitek maupun struktur maupun bidang lain), harus berkoordinasi dan bekerja sama dengan baik demi kepuasan klien (owner).

    Syallom..

    Donny B Tampubolon

  63. Dear pak Donny,

    Terima kasih banyak atas masukannya … Soal arsitek, kalau ada vested-interest, misalnya dia dekat atau anak buah pemborong, dapat bikin masalah. Saya pernah mengalami masalah ini, sehingga rumah saya yg dibangun dia, menurut saya, tidak sesuai dgn standar rumah tahan gempa.

    Inti yg saya ambil dr masukan pak Donny: rumah tinggal 2 – 3 lantai umumnya tidak perlu dinding geser. Sekali lagi, terima kasih utk semuanya…

    Salam….

  64. iya pak,kalo bwt hy sekedar tau ilmu struktur beton boleh2 ajh, sy ajh sdh lulusan t sipil tahun’ 95 perasaan sy sulit sekali mendalami ilmu beton,apa lg smp detail2nya,malah sy skg dikantor lg belajar auto cad,3d nd seni arsitek? belajar2 kyknya oche2 ajh ,trims

  65. salam..
    perkenalkan, sy iksan s, mahasiswa PKSM teknik sipil ’07.
    selama yg saya pahami tentang ilmu struktur dari kampus maupun dari konsultan CnS tempat sy bekerja, ilmu struktur tidak bisa dipelajari langsung dari ujung atau tengah2nya dari ilmu itu sendiri.
    semua bagian struktur punya filosofi/dasar pemikiran. filosofi inilah yg harus kita terapkan dan kita pahami benar2 untuk menjadi seorang desainer/engineer struktur.
    jadi untuk otodidak belajar struktur beton bertulang, saya rasa jg harus dibarengi sharing knowledge dg sesama orang struktur/senior kita.
    kita juga harus bisa menentukan parameter2nya, menghitung analisa strukturnya, kriteria desain, standardisasinya, dll.
    inti nya adalah mempelajari ilmu struktur harus step by step, tidak bisa potong jalan tengah. ilmu2 struktur yg mendasar seperti ilmu Statika(mekanika teknik), mekanika bahan, analisa struktur, struktur beton 1 dan 2, matematika, fisika dasar harus bener2 kita pelajari secara global dan menjadi “pondasi dasar” dalam bidang struktur engineering yg kita pelajari ini.

    demikian ulasan dari saya, kuramg lebihnya mohon maaf.
    trims maturnuwun pak wir.. :)

  66. Hallo..
    Lebih bijaksana kalau kita melihat ilmu itu saling melengkapi, jangan dibuat sepetri arsitek vs sipil.

    Kebetulan background saya di electrical engineering. Pekerjaan saya di bidang lift (gabungan elektro & sipil) karena harus menghiung beban electrical dan struktur penopang lift. Saya sendiri jg belajar struktur tersebut tanpa melalui studi formal, melainkan hanya belajar hitungan praktis ke teman (kebetulan ada teman sipil).

    Kalau dibilang banyak arsitek yang nyipil, banyak juga sipil yg ngelektro. Dengan ilmu electrical pas2 an merancang jaringan listrik gedung (Kebetulan sipilnya jadi kontraktor). Nah loh.. sama aj bukan.

  67. ————————————————————
    aku

    I am actually a structural engineer that familiar in design and construction of steel and concrete structures, so I am master with computer structural modelling, analysis and design.

    However, I am also active in computer programming, digital photography and digital image manipulation, drafting, teaching, writing, and of course reading.
    ————————————————————

    dilihat dari profilnya…pak wir kayaknya juga suka belajar diluar bidangnya…
    udah tho kt tu sama2 mo belajar..orang mau belajar kok di larang, ya terserah yg mau belajar dong jangan malah membuat putus asa, jangan menghakimi satu sama lain, apa gunanya…malah ga hasil apa2..wkwkwk
    peace..

  68. halahhh,,orang baik2 minta sarann,,malah dijawab panjang lebar yang serba gak penting,,,semua profesi,ilmu,,pnya porsi dan tingkat kesulitan masing2,,,jadi tidak perlu sinis dan merasa ilmunya paling sulit,,,
    saya mahasiwa arsitek,,,dari awal semester pun di kampus saya sudah dapat materi teknologi bangunan,,struktur konstruksi,,,detail penulangan dsb etc,, tapi mungkin tidak sedalam di sipil..jadi pikiran bapak “””Adakah dalam pikiran saudara jika rancangan arsitek gagal maka akan menimbulkan bencana ? Saya kira tidak khan.””” buat saya terlalu sombong…
    di arsitek saya tidak hanya belajar mendesain bangunan tok secara seni,,tapi jg blajar struktur,,manajemen konstruksi,,psikologi (prilaku manusia),,,
    semua bisa asal mau,,impossible is nothing!!

  69. Pak saya orang awam , boleh numpang tanya kalo mutu beton K225 itu persamaan nya ke Mpa jadi berapa ya??? syukur-2 kalo ada tabelnya.
    Terimakasih atas bantuanya.

    wasalam,
    suyono

  70. emang jadi engineer ga semudah itu….
    apalagi beton….
    dah hitungannya susah, resikonya tinggi…emang bisa belajar autodidak tapi butuh pengalaman juga…ga bisa sembarangan..
    betul2 cermat,tepat,teliti…

    buktinya nilai analisa struktur I II III saya jeblog semua (heeee..)

  71. maaf pak wir bisa minta contoh perhitungan struktur bangunan dr atas sampai pondasi baik menentukan ukuran penampang maupun penulangannya trims…

  72. Salam kenal Pak Wir,

    Kebetulan saya ada sedikit pengalaman mengenai pek yg bukan bidang saya.
    Untuk info saya seorang Civil Engineer (lulus thn ’92).
    Di kantor saya wkt itu (sekitar thn 2001) ada pekerjaan Design Ars Rumah Tinggal 3 lt di kawasan elite).
    Sementara di kantor saya itu hanya ada seorang arsitek yg sedang tugas luar kota. Jadi Bos saya suruh saya mengerjakannya.
    Wah saya pusing bener ….. Jadi dgn terpaksa saya coba konsul dgn temans ars wkt kuliah dulu.
    Saran mereka coba beli buku-buku design rumah mewah.
    Akhirnya saya beli buku tsb dan juga buku ars mengenai cara merencanakan rumah mewah.
    Dan saya pelajari prinsiple-nya. Ternyata tidak terlalu sulit untuk dipahami jika dibandingkan dengan buku-buku teknik sipil.

    Dengan kemampuan saya di bid Cad & 3D Studio Max, saya mampu mengerjakannya dgn hasil yg baik.

    Jadi menurut saya bener kata Pak Wir bahwa :
    Mungkin lebih gampang seorang engineer berpindah jadi arsitek, daripada arsitek jadi engineer….hehehehehehe

    Akhirnya sampai dengan saat ini saya mampu mengerjakan design arsitektur, Walaupun tidak sebagus insinyur arsitek…..hehehehe

    Kesimpulan :
    Seorang Insinyur Sipil tetap sangat membutuhkan Insinyur Arsitek maupun sebaliknya.

  73. Pak Wir,
    saya mau tanya , saya desain bangunan empat lantai (beton bertulang) buat di Indo. Lalu saya bikin shear wall. eh ownernya, yang kebetulan teman dekat saya, bilang wah kalau begini jadi mahal. Terus kata dia, kalau di manado ngak pernah lihat shear wall, jadi ngak perlu. Saya bilang sama dia bahwa bukan dia ngak pernah lihat shear wall, tapi dia tidak perhatikan bahwa shear wall itu kelihatannya seperti dinding.

    Eh dia ngotot ngak mau pake shear wall, jadi saya bilang ok deh, pakai aja untuk dua lantai pertama (dia concernnya biaya), saya pikir daripada tdk sama sekali.

    Saya tidak pernah lihat shear wall yang tdk dari pondasi sampai atap. tapi saya ketemu vidoe ini

    Menurut bapak bagaimana jika suatu sistem shear wall yang hanya setengah dari tinggi bangunan.

    Terima kasih.

    • Hallo pak Sanny,

      Wah lagi desain rumah tahan gempa ya.

      Tentang sistem shear wall yang hanya setengah, maka kategorinya adalah sebagai “bangunan tidak beraturan” sehingga tidak cukup jika hanya dianalisis dengan metoda statik-ekivalent. Untuk bangunan tidak beraturan maka SNI mensyarakat untuk dilakukan analisis dinamik terhadap konfigurasi tersebut.

      Illustrasi video di atas memang bagus untuk anak-anak, tetapi itu tidak merepresentasikan bangunan beton bertulang tahan gempa. Kalau untuk bangunan beton tanpa tulangan, yah boleh-boleh saja.

      Karena adanya tulangan baja maka rangka pada beton bertulang diharapkan dalam kondisi continue (menerus). Ingat pada bangunan portal beton tahan gempa, maka pada bagian joint, hubungan balok dan kolom, yang mana pada pembebanan lateral memberikan momen terbesar, perlu didesain secara khusus. Kekuatan kolom harus memenuhi kriteria strong column weak beam. Memang betul, untuk bangunan ruko, dimana di bagian atas tertutup (ada tembok pengisi) dan bagian bawah terbuka (showroom) maka dapat terjadi efek soft-story, dan itu harus dicegah.

      Mengenai bangunan empat lantai dengan shear wall, memang rasanya jarang pak di Indo, maklum umumnya sistem struktur di sini (Indo) yang populer adalah portal beton bertulang daktail. Untuk sistem seperti itu, setahu saya baru setelah 8 lantai dapat mulai diperhitungkan. Bahkan karena pakai shear wall, t getar lebih pendek dibanding portal dan juga kurang daktail sehingga gaya rencana untuk bangunan dengan tinggi yang sama bisa lebih besar. Dampaknya juga ke pondasi, di bagian shear wall juga mesti lebih besar karena harus jepit. Kalau portal bisa desain sendi di bawah (pakai footing), atau kalaupun jepit nggak perlu tiang yang banyak, cukup pakai sloof atau tie beam untuk memikul momen kopel.

      O ya, tetapi jika sistem lantai yang dipilih adalah flat-slab, dan bukan portal daktail maka tentu saja shear wall memang suatu keharusan karena sistem lantai flat-slab tidak signifikan kekuatannya terhadap beban lateral.

  74. Pak Wir,
    portal beton bertulang daktail apakah sama dengan special moment frames.
    ginilah jadinya kalau orang jembatan di suruh ngerjain rumah :)

    Terima kasih

    • Kira-kira sepert itu pak Sanny, di Indo itu ada tiga macam tingkatan portal beton tahan gempa, tergantung tingkat kerumitan detail yang harus dibuat. Untuk rumah tinggal sederhana, yang mana gempa tidak signifikan atau gravitasi lebih dominan maka desain secara elastik, detail sederhana, semakin tinggi dimana gempa diatasi dengan terjadinya sendi plastis (ini yang daktail) maka gaya gempa rencana bisa direduksi tapi perlu detail yang ketat. Itu pak, yah hampir mirip dengan baja juga. Hanya karena persyaratan daktail sudah banyak dijumpai, para kontraktor sudah terbiasa dengan detail seperti itu (konstruksi high-rise lho pak) maka portal selalu di desain sebagai portal daktail.

      Tapi untuk bangunan rendah, karena tidak ada kewajiban submitt desain ke TPKB (pemerintah untuk diperiksa) maka desainnya juga masih sembarang, suka-suka perencananya. Bahkan banyak desainnya dibuat oleh orang-orang pemerintah hanya sekedar untuk dapat IMB. :)

    • salam pak sanny dan pak Wir…
      ikutan nimbrung nih, kebetulan lagi bahas bangunan tahan gempa yang sedang aku pelajari…

      coba jawab pertanyaan pak sanny ‘portal beton bertulang daktail apakah sama dengan special moment frames’. special moment frames ato yang yang lebih sering disebut dikuliah sbg Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus adalah suatu rangka struktur dengan pendetailan yang cukup sehingga mampu membentuk sendi-sendi plastis pada ujung-ujung balok dan kolom yang berfungsi menyerap energi gempa/lateral dan memungkinkan struktur berperilaku daktail (atau mampu mengalami simpangan yang besar setelah terjadi pelelehan pertama).

      wah kalo dua lantai pertama aja yang di beri shear wall artinya periode getar alami struktur 2 lantai bawah dan 2 lantai atas berbeda y. kira-kira gimana y perilaku strukturnya…hehe…menarik tuk dipelajari nih..

      oya pak Wir, apa peta gempa yang baru udah mulai digunakan/diwajibkan ?

  75. Ary, terima kasih atas penjelasan anda, sangat membantu.

    saya pikir, kalau dua lantai pertama saya shear wall, maka kolom kolom yang keluar dari shear wall itu untuk lantai ke tiga saya detail se daktail mungkin.

  76. Dear Pak Sanny:

    Kalo boleh tahu, kenapa Bapak memerlukan shear wall ?

    Seperti yang telah diutarakan Pak Wir, dengan adanya shear wall, maka sistem pondasi juga perlu sangat kaku. Jikalau shear wall nya cuman di dua lantai pertama, maka, terjadi “stiffness irregularity” dalam arah vertikal.

    Mungkin, alih-alih memakai shear wall, bisa digunakan kolom yang “diperkuat”, misalkan dengan menggunakan “wing wall”? Sistem kolom+wing wall ini banyak digunakan untuk reftrofit gedung. Sistem ini mampu meningkatkan kekakuan dan kapasitas dari bangunan.

    salam,

  77. Saya seorang S1 arsitek yang punya pengalaman di bidang desain bangunan selama 8 tahun lalu secara tidak sengaja masuk ke perusahaan tambang perusahaan asing untuk infrastruktur bangunan lalu hingga 7 tahun lebih malah nyambung menangani perkerjaan jalan tambang, struktur tanah dan jalan, pondasi crusher dan conveyor, dermaga, dsb, Saya melihat bukan tidak mungkin belajar otodidak tetapi memang TETAP memerlukan bimbingan dari ahli struktur/ civil karena boss2 saya ahli struktur dan ahli geotek pada saat awal karir saya di infrastruktur tambang dan juga ternyata minat saya besar dalam dunia sipil/struktur

    Saya tidak pernah secara formal kuliah di sipil, so….mungkin saya salah jurusan karena saya menikmati pekerjaan sipil tapi saya yakin bisa di pelajari karena saya sudah pindah2 bekerja di perusahaan tambang sebagai senior sturktural dan sipil dan kini manager engineering di perusahan tambang nasional dan saya menikmati sekali teori2 sipil di praktekkan di lapangan… yang penting anda nikmati dan praktek desain di lapangan dan tentu di bimbing ahlinya pada awal2 karir kita…o,ya..jangan lupa untuk menjadikan soal mekanika teknik ibarat TTS sebagai hiburan nikmat. di waktu senggang..

  78. Wah2 ini permusuhan antara Engineering n Arsitek ya..??
    yg penting bisa membuat bangunan n tahan lama. Mo Arsitek kek, Civil kek gk masalah. Kalo berkompeten ya bikin lah, jangan debat kyk gini saling menjatuhkan. Gila nie yg punya TREAD. Hal sepele gini aja didebatkan. Silahkan bangun kalo mampu. Gt aja kok repot.

  79. bro…. belum tentu orang arsitek yang angkatan lama tidak mendapatkan pelajaran beton.
    kita juga dapet mata kuliah teknologi bahan (terutama beton) dan mekanika teknik….walau tidak semendalam teknik sipil. tetapi dasar dan logika struktur pembebanan gedung bertingkat kita juga mengetahuinya. kalao masalah struktur jalan kita memang kurang mengetahuinya.

  80. Mau nimbrung nich, mungkin telat.

    Inti pertanyaan dari penanya kan mau tahu caranya belajar beton, dan langkahnya sudah tepat tanya kepada orang yang ahli dibidangnya, yakni pak wir, tapi kenapa malah dijawab dengan seakan-akan meragukan keinginnan penanya untuk mendalami ilmu yang ingin dipelajari. Lha yang jadi pertanyaan saya kan, sebenarnya pak wir sendiri mau berbagi ilmunya atau tidak, kalau iya ya diberikan langkah-langkahnya jangan sampai keliru, tapi kalau tidak ya bilang saja tidak (tapi ini akan bertolak belakang dengan profesi pak wir sebagai akademisi, yang harusnya berbagi ilmu kepada siapa saja yang membutuhkan mau dia dari mana atau dari golongan apapun).

    Menambah tentang Arsitek dengan Sipil, saat ini kebutuhan akan profesi ini sama-sama dibutuhkan dan diharapkan untuk selalu berdampingan. Arsitek belum tentu tahu secara detail ilmu sipil, begitu pula sebaliknya. Saya seorang arsitek, dalam pengalaman saya untuk membuat satu desain sederhana (gedung lantai sedikit/rumah, dsb) itu dibutuhkan kajian-kajian yang tidak sesederhana yang dibayangkan oleh banyak orang, misal :
    1. Analisa Fungsional (harus memperhitungkan kebutuhan ruang yang disesuaikan dengan aktivitasnya baik dari kuantitasnya, kualitasnya maupun waktu penggunaanya, dll),
    2. Analisa Kontekstual (mengkaji tentang lingkungan, misal analisa sirkulasi baik dari luar maupun yang didalam bangunan tersebut, analisa pergerakan matahari yang nantinya berkaitan dengan besarnya thermal yang terjadi baik di indoor maupun outdoor, analisa pergerakan angin yang mengkaji tentang pergerakan sirkulasi udara yang diharapkan, dll – dalam analisa ini berpengaruh ke bentuk, orientasi dan kenyamanan yang diharapkan),
    3. Analisa Arsitektural (mengkaji tentang warna, bentuk, jenis material, tekstur, inersia visual yang semuanya harus disesuaikan dengan tingkat kenyamanan tiap-tiap penghuni karena tidak semua orang memiliki tingkat kenyamanan yang sama, contoh banyak orang yang suka dengan warna biru, tapi mungkin ada juga orang yang phobia dengan warna biru, dsb),
    4. Analisa Kinerja (mengkaji tentang aspek-aspek yang mendukung kinerja dari bangunan tersebut agar berfungsi dengan baik, misal tentang kelistrikan, jaringan air bersih, jaringan air kotor, sarana transportasi baik vertikal maupun horizontal, jaringan pemadam kebakaran, dsb)
    5. Analisa Teknis (mengkaji tentang struktur yang akan digunakan)
    6. Analisa Ekonomi (mengkaji tentang manajemen konstruksinya, besarnya biaya yang digunakan, dan manajemen perawatannya)

    Nah yang saya sebutkan itu baru secara sederhana dan nantinya baru masuk dalam konsep belum masuk ke DEDnya dan itu baru berlaku hanya untuk bangunan gedung, padahal bidang kerja arsitek tidak hanya berkutat di gedung karena profesi arsitek juga mendesain kota atau kawasan, nah untuk yang ini dibutuhkan lebih banyak analisanya dan tidak semudah mendesain bangunan gedung, karena untuk mendesain kota atau kawasan yang harus dipikirkan bukan untuk satu orang atau satu kelompok tetapi untuk banyak orang yang masing-masing memiliki keragaman pemikiran, budaya, identitas lokal yang berbeda, dsb.

    Nah ini sebagai sharing saja, hitung-hitung berbagi ilmu. Saran saya sebagai manusia yang pastinya memiliki keterbatasan, janganlah sampai kita terlena merasa lebih jika baru memiliki satu ilmu saja, langkah yang tepat adalah kita saling menghormati ilmu-ilmu yang ada sebagai anugerah yang diciptakan oleh-Nya untuk didalami oleh ahli-ahlinya, saya sendiri berteman dengan sangat baik juga dengan orang-orang ahli sipil dan ahli-ahli ilmu lainnya. Sebagai pengingat tanda-tanda kiamat salah satunya jika ada suatu urusan yang diserahkan bukan pada ahlinya. Dan sebagai pengingat terakhir bahwa kita sebagai manusia dituntut untuk selalu belajar mulai dari saat kita dilahirkan sampai kita masuk ke liang lahat dan jangan pula kita merasa rugi kalau berbagi ilmu dengan yang lain.

  81. saya seorang sarjana sipil yang bsa pake program Cad dan 3dsmax. Sya pernah desain rmah type 36 (test dulu yang kecil2) pas dah jdi sya liatin keorang eh dia blang jelek.. Trus sya merenung lamaa.. Jngan2 jiwa seninya saya gak ada atau beda orang beda selera.. Tapi saya puas bsa buat gambar 2d dan 3dnya.. tpi kalo arsitek ngitung struktur gedung waduhh.. Musti kuliah lagi tuch..

    • Dapat dimaklumi. Orang-orang seperti anda banyak!

      Kenapa bisa begitu ?
      Karena anda membaca tulisan saya dengan penuh emosi, tetapi tidak tuntas. Bacalah dua atau tiga kali apa-apa yang saya tulis di atas, resapi dan baru beri komentar secara lengkap.

      Salam.

  82. setelah beberapa kali membaca tanggapan bapak, saya juga dapat memaklumi pak. mungkin bapak ingin pak danang tahu resiko apa yang ada di bidang ilmu bapak. tetapi tidak perlulah membanding-bandingkan suatu ilmu dengan ilmu yang lain. apalagi bapak sampai menyebutkan: “Bayangin kalau anak anda ada di atas panggung seperti itu, dan panggungnya gagal.” ini menurut saya agak berlebihan (offensif).
    arsitek juga orang teknik, pak. kita juga ngerti kok konsekuensi apa saja yang melekat pada desain yang kita buat. jadi jangan berlebihan. kalo orang jawa bilang: “ngono yo ngono ning yo ojo ngono”.

  83. assalam…
    ikut mencari ilmu…

    kebetulan saya lulusan arsitek yg sedang menjadi drafter enginnering di proyek conveyour…
    salut dengan kemampuan temen2 sipil…
    memang tidak mudah dan rumitttttt…
    tapi masalah belajar sopo ae boleh toh pak???
    hehehe…
    *jgn2 ada yg pernah sakit hati sama OKNUM arsitek, kok kayaknya kejam2 amat komentnya hehe??…

  84. Ping-balik: my study | blitza85

  85. dr pda pade nyombongin keilmuan masing,mending lo pada sharing ja..yg lebih ngert ngasih tahu yg belum ngerti.ilmu jadi bermanfaat,tambah silaturrahim dan yg pasti ilmu bs menjadi keberkahan bt hidup kalian pade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s