Danang, seorang arsitek yang juga kontraktor, bertanya sebagai berikut
Saya lulusan arsitek, sedang merintis usaha kontraktor, ingin belajar tentang pembetonan secara otodidak. Buku apa yg harus saya beli ?
Saudara Danang yang arsitek, saya tidak tahu apa yang melatar-belakangi anda, sehingga bertanya seperti itu. Mungkin ada baiknya saya coba ungkap kemungkinan logis seseorang non-engineer berkeinginan belajar “pembetonan”, yaitu :
-
memang ingin maju, karena ternyata punya jiwa engineer
-
sebagai kontraktor menyadari bahwa banyak ketemu kasus-kasus yang berkaitan dengan beton, untuk kasus-kasus ringan asal ngikutin tukang (pengalaman) maka beres, tapi lama-lama pekerjaan yang diterima semakin bervariasi dan besar-besar sehingga nggak berani ngandalin tukang. Mau minta bantuan insinyur, perlu ngeluarin duit lagi khan. Jadi intinya mau ngirit gitu (keuntungan proyek utuh).
-
atau iseng aja, biar dapat kerjaan karena kalau kontraktor bisa beton , maka bisa juga masuk ke konstruksi jalan, jembatan, infrastruktur dll. Kalau basic-nya arsitek khan hanya gedung-gedung aja. Gitu khan.
Dari motivasi tersebut akan ketahuan, apakah anda berani membayar mahal atas usaha anda tersebut, yaitu mendapat kompetensi ‘pembetonan’.
Pertama-tama saya mau ingatkan ! Menurut anda, ilmu beton mungkin dianggap sama dengan ilmu-ilmu arsitek yang sudah anda kuasai tersebut. Apa begitu ? Atau bahkan menganggapnya lebih ringan ?
Anda bisa membayangkan, jika dengan ilmu anda (arsitek) ternyata hasil rancangan anda dikatakan ‘gagal’. Apa yang terjadi ? Jika gagal khan kemungkinannya adalah bangunan jadi nggak enak dilihat (buruk), nggak enak ditempati (nggak nyaman), atau berbiaya mahal (boros), atau nggak awet (cepat kumuh). Adakah dalam pikiran saudara jika rancangan arsitek gagal maka akan menimbulkan bencana ? Saya kira tidak khan. Jadi konsekuensinya kaya seniman, jika karyanya gagal, nggak ada lagi orang yang mau minta tolong. Gitu aja khan.
Tapi kalau ilmu struktur beton, jika anda mengaplikasikan salah, contoh bikin lantai panggung tinggi 6 m, lalu anda rencanakan mampu menerima beban 500 kg/m2, dalam kenyataan ketika dipakai acara konser, hitungan anda ternyata gagal. Apa yang anda pikirkan. Apakah kriteria penilaiannya sama seperti penilaian kerja seorang arsitek ? Kalau panggungnya ternyata gagal menerima beban 500 kg/m2 ! Apa yang anda bayangkankan. Apalagi jika beban itu berasal dari kumpulan manusia-manusia panggung, yang kebetulan berjingkrak-jingkrak. Apa yang terjadi. Bisa berdarah-darah lho. Bayangin kalau anak anda ada di atas panggung seperti itu, dan panggungnya gagal.
Beda khan. Walau sama-sama disebut ilmu. Bisa anda bayangkan ?
Apakah anda masih mau melanjutkan niat anda untuk belajar hal tersebut ?
Mungkin lebih gampang seorang engineer berpindah jadi arsitek, daripada arsitek jadi engineer. Kalau yang pertama itu aku pernah menjumpainya, engineer bikin rumah sendiri, dia rencana sendiri, orang mengira rumahnya direncana seorang arsitek. si engineer hanya mengangguk-angguk doang, bangga.
Memang ada juga sih, yang latar belakangnya arsitek, tapi megang proyek bangunan, tapi ilmu yang digunakan adalah manajemen konstruksi atau leadership. Bukan ilmu perencanaan struktur beton atau baja gitu lho.
Pemikiran ke dua, apakah untuk belajar pembetonan itu cukup belajar ilmu struktur beton saja, atau cukup baca buku beton doang ?
Ilmu struktur beton akan lebih banyak cerita tentang bagaimana menghitung kekuatan penampang beton, menghitung jumlah tulangan yang diperlukan. Tapi kapan perlu dihitung, dan dimana menempatkannya maka masih perlu ilmu lain, yaitu analisa struktur.
Anda belajar analisa struktur nggak di perguruan tinggi dulu. Jika nggak belajar, wah repot, orang teknik sipil yang pemula aja juga pusing itu belajar materi tersebut. Setahu saya sekarang para arsitek juga males belajar itu. Menurut mereka katanya itu nggak perlu. Nggak tahu di tempat anda dulu.
Masih mau lanjutkan belajar pembetonan ?
Wah kalau masih ngotot, ya gimana lagi. Itu mungkin namanya berjiwa engineer. Baiklah kalau begitu langkah paling baik adalah belajar magang dengan orang yang punya ilmu tersebut, pertama-tama bantu dia, tirulah apa yang dia kerjakan (dalam pembetonan tentu saja). Sampai anda tahu, o begitu ! Kembangkan pemahaman tersebut dengan membaca-baca buku beton, cari falsafahnya. Pengarang buku beton yang hebat adalah Park and Paulay, Mc Gregor, Nawy dll. Coba cari itu dengan kata kunci tsb di Google. Beres dah.
Ok, menurut saya begitu dulu ya, semoga bener-bener jadi engineer dah. ![]()







42 tanggapan so far ↓
culuntea // Maret 17, 2008 pada 3:46 pm
Ya kenapa enggak tho ? IT juga bisa dipelajari secara otodidak, kenapa struktur tidak ?
Banyak juga orang non IT jadi pekerja IT, lalu ngawur asal bikin sehingga sistem banking jadi macet, atau code ATC jadi ngawur sehingga pesawat hampir tabrakan. Tapi yang jagoan juga ada.
Yg penting tuh ada certification. Mau ilmunya dari otodidak, kursus atau kejar paket A gak masalah
Richard S W // Maret 17, 2008 pada 5:16 pm
waaa… jalannya panjang tuh buat belajar beton, kayaknya di UPH baru diajarin di semester 4 kan pak?
jpmrblood // Maret 17, 2008 pada 11:57 pm
Hmm… Engineer vs Arsitek, seperti web designer vs System Admin. Saya rasa keduanya memiliki kesulitannya masing2. Kalau saya tidak salah ingat, dulu teman saya bilang kalau Arsitek itu yang merancang dan Sipil yang pontang-panting bikin hitungannya.
Well, web designer bisa belajar tentang administrasi sistem, tapi ada beberapa yang dia tidak bisa lakukan karena memang traitnya bukan di situ, vice versa.
Ali Rekso // Maret 18, 2008 pada 2:02 am
O…
jadi ada arsitek yang mau nyambi Structural Engineer, wah hati-hati bisa nyawa orang jadi taruhan, Yang Sipil udah kuliah 4 tahun aja kadang2 masih takut merencanakan struktur apalagi yang arsitek ?
Salut kalau ada arsitek yang mau tapi syaratnya semedi dulu biar dapat wahyu struktur
benny // Maret 18, 2008 pada 2:28 am
dikampus saya dulu ada yang bilang gini:
arsitek yang nyipil lebih enak terdengar, daripada sipil yang nyarsitek…
ayoo ayo… para arsitek indonesia belajar ilmu sipil…. bravo….
wir // Maret 18, 2008 pada 2:42 am
@ benny
“arsitek yang nyipil”, maksudnya arsitek yang dapat membangun rumah gitu khan. Nggak perlu insinyur sipil, karena dirangkep arsitek, gitu khan.
Wah bagus tuh, orang-tuaku bangun rumah bahkan nggak pakai arsitek dan insinyur sipil, hanya dikerjain tukang, di Jogja. Gempa kemarin masih utuh itu, he, he, he.
Jadi kalau begitu mungkin dapat disimpulkan bahwa bukan arsitek yang nyipil tetapi ngarsitek yang nukang.
wa kakaka
Arif Budiman // Maret 18, 2008 pada 2:45 am
Di Amerika, Jepang dengan sistem License Profesional Engineer hal ini bisa.
Bahkan sebaliknya insinyur sipil jika belum lulus license, dia belum boleh mendesain sendiri. Cuma untuk dapat P.Eng harus lulus ujian berbagai mata pelajaran, dan melewati tahap EIT, Engineer in Traning, kerja di bawah bimbingan P. Eng. Jadi tidak bisa otodidak sendiri, tapi harus dibawah bimbingan P. Eng selama beberapa tahun.
Misalnya Danang yg Arsitek, ngantor dan belajar menghitung beton dibimbing sekian tahun dikantor Wiratman, setelah 4-5 tahun (pengalaman yg disyaratkan untuk mendapat P.Eng), tentu dia bisa menghitung beton, tentu saat itu dia sudah mengerti pembebanan. Tapi ini baru menghitung beton, belum Baja atau Analisa struktur dll.
Jadi kesimpulannya, memungkinkan, tapi akan sulit (materinya sulit, dan mencari P.Eng yg mau ngajarin juga sulit: bayar aja sulit apalagi minta gaji selama magang tsb) dan makan waktu.
benny // Maret 18, 2008 pada 3:00 am
betul pak wir
maksudnya arsitek yang sekalian ngitung2, arsitek plus plus..
wah kalo orang tua panjenengan, bisa rangkep2 itu gelarnya… hehehe..
Santanu // Maret 18, 2008 pada 3:25 am
Beton untuk pelaksanaan, otodidak bisa2 saja, cuma yang sulit adalah ilmu gayanya (struktur) harus berguru ke empunya (seperti p Wir).
Kalau untuk gedung 3 lantai seperti ruko, rumah tinggal, otodidak pasti bisa. Kalau lebih dari itu, harus berguru. Bukannya ilmu Arsitek lebih luas dari Sipil ? (untuk gedung).
Remo Harsono // Maret 18, 2008 pada 3:47 am
Kesimpulan lagi: Memungkinken
caktopan // Maret 18, 2008 pada 5:15 am
problem yang sama dihadapi teman saya yang mekanikal engineering. harus ngitung pondasi.
relatif mudah diajari, karena uda ada basic analisa struktur.
yang susah, bahkan sampe debat kusir, ngajarin beton minta cepat. sedangkan saya juga pengetahuan pas2an.
akhirnya jadi juga pondasinya. pake SF=3. daripada ga selesai2 kerjaannya.
dorion55 // Maret 18, 2008 pada 8:05 am
mo jadi arsitek itu paling tidak 75% seniman…
jadi sipil 75% jiwa ngitung dan lebih afdol dikolaborasi dgn jiwa seni…karena sambil ngitung sambil menghayal aplikasinya…
Nah… sipil jadi arsitek boleh, tapi arsitek jadi sipil nggak bisa SKS alias sistem kejar semalam….
Akhmad Mulyanto // Maret 18, 2008 pada 11:46 am
saya tukang insinyur microchip, tapi punya pengalaman (hands-on) membangun rumah sendiri. Untuk beton rumah mungkin enggak perlu hitungan njlimet
CMIIW. Arsitektur dan kontruksi saya desain sendiri berdasar hasil googling.
Sebaik-baik desain/perhitungan, pada akhirnya praktek di lapangan yang menentukan. Misalkan pada pengecoran kolom/sloof, tukang dan laden sering “seenaknya”. Jadi mesti diawasi terus, jadi ngerangkap mandor deh. Mandor yang cermat, cerewet dan mungkin galak
.
korantarget // Maret 18, 2008 pada 1:28 pm
Saya orang sipil tapi saya juga senang seni.
Mungkin ada orang arsitek tapi senang ngitung.
Yang jelas menurut saya selama itu menyangkut keselamatan orang banyak ya harus ada “sertifikasi khusus” untuk menentukan siapa yang berhak mendesain dan menghitung beton.
Tapi saya tidak setuju juga kalo sertifikasi hanya ajang “Hegemoni” dan ajang “Eliminasi”. Itu mah sama aja dengan omongan “Orang Sipil jelas nggak bisa gambar” atau omongan “Orang Arsitek mana bisa ngitung”… sektoral oriented banget.
Jimmy // Maret 19, 2008 pada 2:16 am
Kalau tidak salah, Pada bidang Arsitek ada beberapa mata kuliah mengenai mekanika dan ilmu struktur. Saya rasa mungkin si Arsitek ingin lebih mendalami ilmu strukturnya. Kalau hanya sekedar rumah 2 lantai cukup gak ya Pak Wir?
wir // Maret 19, 2008 pada 2:33 am
@Akhmad Mulyanto dan Jimmy
Bangunan rumah tinggal kadang-kadang bisa dikategorikan sebagai non-engineering building. Ini tentunya rumah-rumah rakyat biasa yang umum begitu.
Kadang-kadang rumah pejabat atau penguasaha meskipun hanya dua lantai tapi perlu dimasukkan sebagai engineering building. I lho dulu aku pernah ngebantu suatu rumah dua lantai doang sampai perlu di kasih prestressed karena bentang bebas baloknya ada yang nyampai 15 m, padahal pakai beton lho. Ha, ha, kalau ini si arsitek jangan pelit, harus ajak insinyur sipil. Kalau nggak bisa tombok nanti.
Kembali ke tadi.
Untuk bangunan rumah pada umumnya, yaitu untuk bentang antar kolom antara 3-4 m, dengan konfigurasi banyak dipakai dinding batu-bata. Maka pemakain balok atau kolom praktis sudah mencukupi. Yang penting detail penyambungan komponen-komponen tersebut. Jika memenuhi syarat-syarat praktis yang baik, niscaya terhadap gempa sedangpun sudah cukup baik kinerjanya.
Jadi menjawab hal tersebut, siapapun asal dikerjakan tukang yang cukup baik, maka nggak dihitungpun, tetapi pakai detail yang disarankan maka kinerjanyapun baik juga. Apalagi dicoba dihitung oleh orang yang mau belajar. Ya pasti bagus dong.
dedi // Maret 19, 2008 pada 6:47 am
wah…hampir sama beda tips kasusnya tuh…sebetulnya c emang berat tapi gimana juga yah….jabatan ku drafter elektrikal pak, tapi masuk kontraktor sipil.. dikira bakal gambar2 tower2 transmisi or telekomunikasi eh…malah masuk businees development buat bangunan pabrik+ofiz…ya udah pak saya kerjain arsitekturnya (karena rencana design)….
saya berusaha keras semaksimal mungkin cari sana-sini sumber yang bisa bantu saya, alhasil kerjaan saya sementara berhasil tapi arsitekturnya lho…selanjutnya…disitu saya di tuntut untuk mempersiapkan jawaban tentang rencana pola yang saya buat…waduw dalam pikiran saya tuh rumit banget pak… kok bisa gitu (background saya kan drafter elektrikal)….resikonya kalo tidak bisa saya out…
tapi disitu saya melihat kepercayaan yang dikasih oleh atasan saya, makanya saya berusaha semaksimal mungkin belajar tentang hal2 yang berhubungan dengan sipil nie pak…
saat ini saya sedang bingung mengenai perhitungan beban untuk menghitung luas penampang kolom..dari modul teman saya (arsitek) saya berusaha mencerna maksud dari isinya tapi mentok nie pak…so mungkin tetap saya harus mengajukan pembimbing lagi nie(karena dulu udah minta pembimbing…he…he…maklumlah……biar setiap kendala dapat teratasi alias ada yang bantu gitu…
yah kalo memang pada waktunya harus menjelaskan saya masih tetap gak bisa siap2 aja loncat lagi ke tempat baru dan menyesuaikan keahlian saya
Robby Permata // Maret 19, 2008 pada 9:46 am
* wah, barusan saya bikin comment, tp gara2 salah nulis email jadi error..
*
arsitek belajar struktur ? check this out :
http://en.wikipedia.org/wiki/Santiago_Calatrava
-Rp-
Sani Adipura Winata // Maret 19, 2008 pada 9:47 am
Salam P Wir,
Waduh bisa kacau nich dunia tukang insinyur sipil…dari arsitek mau jadi jago beton…drafter elektrikal mau jadi jagoan beton guru beton nya dari arsitek pula..
Saya jadi ingat apa yang di katakan prof Dott Sampurno ketika kuliah dulu…apa yang membedakan tukang dengan tukang insinyur…
1. tukang hanya bekerja dengan gambar kerja yang di beri insinyur via drafter melalui persetujuan insinyur supaya di lakasanakan dilapangan setelah itu habislah tanggung jawab dia sebagai tukang…..dia mungkin tidak punya intuisi kenapa splices untuk tulangan atas di tengah bentang dan splices untuk tulangan bawah berada di support area.. karena itu bukan tanggung jawabnya….bahkan drafter yang tidak punya basic sipil pun mungkin tidak ada instuisi…tapi sebagai tukang insinyur sepatutnya bisa menjelaskanya kan….
2. Bagaimana perhitungan beban untuk perhitungan luas area kolom ?..kalo hanya beban aksial intuisi seorang tukang mungkin (kekuatan tekan beton N/mm2 x area mm2) sudah dapat beban nya kan setelah di kali..kali factornya ….tapi seorang tukang insinyur harus bisa memprediksi kegagalan kolom akibat lentur murni, tekan, tarik atau kombinasinya …jadi lah diagram interaksi kolom..
Sebenarnya masih banyak hal hal yang mungkin tidak bisa di gantikan intuisi seorang insinyur dengan seorang tukang….
saya teringat kata P Wir dalam bukunya “The Man Behind the Gun”..
Perangkat lunak untuk menghitung struktur mungkin sudah banyak tersedia, buku buku nya pun sudah banyak (mungkin buku P Wir yang menurut saya mudah dicerna dan sangat Philosophy) tapi siapa orang yang dapat menembak dengan tepat ya mesti orang yang tepat pula. Kalo bukan orang yang tepat mungkin akan salah sasaran…kalo dalam sipil mungkin akan terjadi kegagalan struktur…
salam.
blogger // Maret 19, 2008 pada 8:17 pm
karena yang terbaik gak pernah berubah
komunitas blogger indonesia http://www.id-blogger.com
iqbal // Maret 20, 2008 pada 7:02 am
ngomong-ngomong seru juga nih arsitek vs sipil. Tapi pada kesempatan ini aku cuma mau tanya pak wir, karena gak berani kalo belajar otodidak hehe.. kebetulan saya lagi ada tugas desain jembatan pelengkung dengan beton (tanpa arsitek lho..)
1. Kalo di SAP2000 apakah dengan membaginya ke beberapa segmen-segmen kecil garis lurus sudah cukup untuk memodelkan analisis strukturnya?
2. Kalo sudah ketemu gaya-gaya dalamnya, karena dominan gaya tekan dan momen, apakah perhitungan dengan anggapan perhitungan seperti pada kolom pada struktur biasa dapat diterapkan ?
victor // Maret 20, 2008 pada 9:34 am
untuk segala sesuatu ada waktunya, kalau mau ditekuni pasti bisa belajar beton otodidak. tapi otodidaknya tidak ngawur. Harus banyak tanya kepada pakarnya, salah satunya kepada Pak Wiryanto ini ^-^
Aria // Maret 20, 2008 pada 7:36 pm
Arsitek mau belajar struktur beton? Pelajari dulu mekanika teknik (analisa struktur) 1-5, Mekanika kekuatan bahan (geser, inersia, dsb), trus masuk struktur beton 1-3. Mumeeeettt.. Tapi saya lulus A semua dulu *narsis*
Kalau mau expan ke jalan, jembatan keknya panjang tuh pak.. musti suruh belajar geometri, bahan lapis keras, teknik pelaksanaan perkerasan,dan perancangan jalannya sekalian+engineering project management.
Intinya sih sudah ada kewajiban dan tanggung jawab khusus masing2 profesi. Kalau sekedar belajar dan ingin tau aja mungkin gak masalah..
Salam kenal pak wir, selamat mengajar dan semoga makin bertambah pahalanya..
aRuL // Maret 21, 2008 pada 10:26 am
reaktif
Noe // Maret 21, 2008 pada 4:36 pm
Salam Pak Wir…
salam kenal pak Wir.
saya lulusan Teknik Sipil (tepatnya Pendidikan teknik Sipil) dari UPI Bandung dulunya IKIP Bandung. Saya sekarang kerja di Konsultan Sipil dulu pernah juga kerja di kontraktor kolam renang di Jakarta sebagai Engineering. lihat komentar-komentar disisni saya jadi berfikir cocok ga yah lulusan Sipil UPI jadi engineering? karena mungkin tujuan di kampus saya mendidik mahasiswa agar jadi guru (STM Bangunan) walaupun sebagian besar alumninya bekerja di dunia kontruksi bahkan banyak yang buka perusahaan sendiri.
oh ya pak wir saya bisa ga ngelanjutin ke Pasca Sarjana Sipil di UNPAR karena kalau ngelanjutin di Pasca Negeri syaratnya harus jadi Sarjana Teknik dulu sedangkan gelar saya kan SPd. walaupun ada beberapa dosen saya yang melanjutkan ke Pasca UNPAR tanpa harus ngambil ST dulu (ada pengecualian ga kalau untuk dosen ?), rencana saya pengen masuk pasca tahun 2009 atau 2010.
Ryan // Maret 22, 2008 pada 6:29 pm
Arsitek mau belajar beton,..?? Hebat juga tuh. Tapi masalahnya apakah setelah belajar trus berani mengaplikasikannya, itu masalah lain. Tapi kalo punya komitmen yang kuat pasti bisa, tentunya dengan banyak pengorbanan. Khan untuk desain nggak cuma ilmu beton, ada analisis struktur, teknik fondasi, teknik gempa de el el.
Selain itu juga perlu pengalaman untuk desain, karena seorang lulusan sipil aja kadang nggak pede hasil desainnya untuk diaplikasikan di lapangan.
Mike // Maret 23, 2008 pada 2:26 pm
Setuju dengan saudara Sani.
bole belajar beton, boleh belajar struktur, bole belajar baja.
mo itung struktur? tinggal pake SAP, pake ETABS, STAADS dsb, tinggal belajar. ambil kursus di sana, ambil kursus di sini, pake program, blessss… hasil keluar, jadi de…
tp seperti kata pak Wir, yg gak bisa dipelajari secara instant adalah “engineering judgement“, betul pak ?
Hendrik Wijaya // Maret 23, 2008 pada 4:10 pm
–Sdr Noe..
(bukan mau menjawab, tapi malah mau nanya lagi)…
Sebagai mahasiswa T.Sipil, saya sama sekali tidak tahu dan juga tidak pernah mendengar ada jurusan pendidikan teknik sipil.
apa yah itu? mungkin bisa berbagi cerita.
terima kasih.
Andreas Herjuno // Maret 24, 2008 pada 1:41 am
Pak Wir, mohon bantuan untuk pemodelan boxculvert dengan SAP90 dan langkah-langkah desainnya. Nuwun
Noe // Maret 24, 2008 pada 3:43 am
- saudara hendrik…
Pendidikan teknik Sipil adalah jurusan teknik sipil yang meyiapkan lulusannya untuk menjadi guru STM Bangunan/Tenaga pelatihan keteknik Sipilan, Jurusan Pendidikan teknik Sipil ada di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI/IKIP Bandung), kalau di IKIP (eks IKIP) Lain seperti Univ. Negeri Jakarta/Univ. Negeri Jogja Mungkin nama jurusannya Pendidikan Teknik Bangunan. dulu di UPI juga Namanya Pendidikan Teknik Bangunan di Tingkat 2 mahasiswa di suruh milih program studi yaitu Pendidikan arsitektur dan Pendididikan teknik Sipil tapi sekarang tidak sudah menjadi Jurusan sendiri yaitu jurusan Pendidikan teknik Sipil dan tentu jurusan Pendidikan Arsitektur.
Kalau dari kurikulum (tentunya di UPI, gau tau kalau di Pendidikan teknik Sipil yang lain) kita juga dapat seperti mata kuliah Struktur Beton, Struktur Baja, Struktur Kayu, Pondasi, Gempa, analisa teknik , Irigasi, jalan raya, Mekanika Tanah dll di tambah mata kuliah kependidikan seperti Kurikulum Pembelajaran, Psikologi Pendidikan dll jumlah mata kuliah kependidikan ini sekitar 30 SKS sisanya Teknik sipil. untuk Kerja Praktek di pendidikan Teknik Sipil UPI ada dua yaitu Praktek Industri (PI/KP) untuk kerja praktek sama saja dengan di teknik sipil murni (teknik sipil murni bahasa kami untuk jurusan teknik sipil non kependidikan) yaitu di proyek-proyek Sipil, yang kedua Praktek mengajar namanya PPL (Program Pengalaman Lapangan) tempatnya di STM atau di lembaga pelatihan seperti BPPT, praktek disini kami mengajar. untuk penulisan Karya Ilmiah kami ada dua juga yaitu Tugas Akhir, tugas akhir ini karya ilmiah tentang dunia Teknik Sipil dan Skripsi yaitu tentang dunia kependidikan.
di Jurusan pendidikan Teknik Sipil UPI ada tiga Kosentrasi yaitu Sipil Struktur, bangunan Air, Jalan dan Jembatan (di Sipil murni namanya mungkin transportasi).
untuk jalan jembatan (karena saya mengambil konsentrasi ini) kita dapat materi tentang jembatan beton, komposit, baja, beton pratekan, geometrik jalan, perkerasan jalan, simpang, parkir, trafic light. tapi kami ga dapat materi kaya pelabuhan, lapangan terbang (kaya tranpotasi di sipil murni).
walaupun kami disiapkan untuk menjadi pendidik di sekolah kejuruan kenyataannya alumni kami lebih banyak yang bekerja di dunia sipil/kontruksi mungkin karena jumlah/daya tampung STM-STM bangunan kurang kali ya, bahkan banyak STM bangunan yang gulung tikar.
kalau kami pengen jadi ST (sarjana Teknik) kami tinggal nambah sekitar 20 - 25 sks (jadi memiliki 2 gelar yaitu S.Pd dan ST) tentunya bukan di UPI tapi di Univ. yang lain kalau dulu kami bisa ngambil ST di mana saja seprti ITB, UGM, UNDIP dsb (kata dosen dan senior yang telah ngambil ST) sekarang katanya tinggal UNDIP dan Univ. Swasta, kalau di bandung seperti UNJANI (Univ. Jendral A. Yani) UNLA (Univ. Langlangbuana) katanya di UNPAR juga bisa, kalau di kota lain ga tau.
kalau ada Univ. di kota lain yang bisa kasih tau saya, untuk saya sosialisasikan ke temen-temen, karena banyak juga alumni kami yang ingin ngambil ST.
mungkin itu cerita tentang Pendidikan Teknik Sipil…
mbing // Maret 24, 2008 pada 11:59 am
arsitek yang menjadi kontraktor, apakah bisa disamakan dengan sarjana hukum jadi kontraktor?
pasti sulit menjawabnya, demikian juga seorang insinyur sipil yang menjadi arsitek apa bisa disamakan dengan seorang sarjana hukum yang menjadi arsitek? juga sulit menjawabnya. Pertanyaan lain, mana lebih mudah seorang insinyur sipil menjadi insinyur sipil atau seorang arsitek menjadi arsitek ? Makin rumit kah..
Tolong dibedakan dulu, melakukan pekerjaan mendesain dengan menghitung, pekerjaan menghitung dengan melaksanakannya di lapangan.
Saya adalah arsitek yang berprofesi 20 tahun di bidang mekanikal elektrikal, serta 10 tahun di bidang sipil. Baru 7 tahun belakangan ‘back to basic‘ mendisain bangunan secara komersil. Harus diakui, untuk mendesain sistim M/E, serta dan struktur / sipil secara garis besar, dapat saya lakukan. Namun jika bicara detail, angkat tangan. Tapi menurut saya itu cukup, saya sudah dapat bekerjasama dalam satu proyek dengan para insinyur teknik sipil maupun M/E. Apalagi setiap proyek yang ‘benar’, sudah melalui proses disain yang benar, yang ditangani ahlinya masing-masing.Kami, para pelaksana sudah diberi gambar dan perhitungan yang jelas dan detail.
Mudah-mudahan dapat memberi gambaran.
Usman // Maret 25, 2008 pada 6:20 am
Siapapun mau belajar apapun please deh ah…. segala sesuatu kalau ditekuni dengan sungguh-sungguh pasti berhasil….tapi satu harus di pegang ….jangan lepas tanggung jawab….. artinya apa yang kita perbuat harus bisa dipertanggung jawabkan…. titik.
denie // Maret 25, 2008 pada 11:17 am
halo pak wir, saya mau nanya:
1. apakah kekakuan antara balok dan kolom harus sama (Kbalok=Kkolom) untuk bangunan-bangunan rawan gempa?
2. apakah standar yang ada di SNI beton 2002 mengenai tinggi minimal balok (Hmin) dapat di pergunakan, padahal pada standar tersebut lendutan tidak dipehatikan?
retno santoro // April 2, 2008 pada 6:01 pm
malam pak,
kenapa beton lebih kuat tekan di bandingkan dengan baja ?
padahal pada dasarnya berat jenis baja lebih tinggi dari pada beton.
thx
retno santoro
teknik sipil
universitas negeri jakarta
wir // April 2, 2008 pada 6:13 pm
@denie
Ah siapa bilang ! Untuk berbicara tentang bangunan tahan gempa maka perlu dilihat sistem struktur penahan lateralnya (gempa). Bisa terdiri dari frame (sistem balok dan kolom), shear wall (dinding geser) atau cuma kolom kantilever. Setiap sistem tentu saja memerlukan persyaratan yang berbeda.
Mungkin pertanyaan anda cenderung kepada sistem frame (sistem balok dan kolom). Intinya adalah pada kondisi kritis maka diharapkan keruntuhan dimulai dengan terjadinya sendi plastis di balok. Kolom juga boleh, tetapi tertentu, misalnya di lantai dasar dan atas, tapi itupun terakhir setelah balok-balok di bagian atas mengalami sendi plastis. Itulah konsep weak-beam strong-column.
Kenapa harus balok terlebih dahulu, karena jika di kolom akan menghasilkan soft story effect dan juga P-delta gitu. Itu berbahaya karena akan menimbulkan gaya momen tambahan yang besar.
Jadi secara praktis, lebih baik kolomnya besar dibanding balok. Iya khan.
@retno santoro
Siapa bilang, untuk luasan sama, maka jelas baja lebih kuat, atau artinya mampu menerima beban yang lebih besar dibanding beton.
Itu dari sisi material, yaitu berdasar rumus sigma = gaya / luasan. Sigma ijin baja jelas-jelas lebih besar dari sigma ijin beton terhadap tekan.
Oleh sebab itu, berdasarkan rumus tersebut maka untuk beban sama beton memerlukan luasan atau penampang kolom yang lebih besar dibanding baja.
Selanjutnya jika ditinjau suatu kolom, maka dapat diketahui bahwa keruntuhannya tidak melulu karena sifat material juga, tetapi juga oleh sifat geometrik. Dimana jika penampang kecil maka jika L-nya panjang akan menjadi langsing. Sedangkan beton karena penampangnya sudah besar maka cenderung tidak langsing.
Jadi jika dikaitkan dengan kelangsingan tersebut maka pernyataan anda di atas untuk suatu kolom beton dan kolom baja dapat diterima.
Gitu penjelasannya mbak Retno. Lho apa soal ini nggak diajarin di kampus, mungkin ketiduran ya ketika pak dosen cerita soal ini.
nobe // April 6, 2008 pada 5:27 pm
kalo ada seorang injineur mesin bisa desain pondasi itu memungkinkan, strength & mechanics of materials nya khan sama..
begitu juga sebaliknya seorang injineur sipil juga bisa jadi berkutat di dunia desain kekuatan mesin. coba aja lihat disini http://www.dhondt.de/authors.htm
nha kalo seorang arsitek bisa jadi berkutat di desain struktural, menurut saya memungkinkan. dasarnya sudah ada, tinggal kemauan orangnya. …
prawira // April 17, 2008 pada 12:15 pm
mas2 yg jago ttg ilmu beton..
saya mau tanya ne..
knp campuran beton yang semula,jumlahnya 13 litr.knp stlah jadi beton mnjadi 8 lter,,,
yang 5 lter hilang kmana??
tolongin saya dong saya ada tugas…
prawira // April 17, 2008 pada 12:17 pm
oh ya mas..
krim aj ke alamat email saya wikoO8 cumi@yahoo.com
please???????????
Hendra & Ricky // Mei 14, 2008 pada 6:46 am
Pak Wir… Membaca tanya jawab diatas, gimana kalau Pak Wir membuat buku STRUKTUR ALA ARSITEK supaya para arsitek nggak ngawur.
isi bukunya yang ringan2x aja, mungkin lebih banyak struktur secara logika, batasin aja untuk 3 lantai dan di atas tiga lantai kembali ke Ahlinya.
dan dijamin bukunya laku 100%,…kami tunggu bukunya….. trims (Pontianak KalBar)
mbing // Juni 14, 2008 pada 11:54 am
Saya yakin akan laku keras, kami para arsitek sangat butuh itu….,
btw pak, saya perhatikan kok struktur gedung parkir wisma kosgoro sangat menakutkan, rasanya seperti mau runtuh saja….., sepertinya disain strukturnya lari dari pakem yang ada………
nb: saya dulu punya dosen yang merupakan arsitek tapi sangat menguasai sruktur bangunan, sayang keduanya sudah alm, yakni alm. Ferryanto Chaidir dan al. Hartono Purbo…
Salam buat bapak, mohon di cek pak gedung parkir wisma kosgoro itu…
Y.W // Juni 15, 2008 pada 4:44 am
Wow menarik juga bagian ini….
tapi kayaknya ngak mungkin arsitek mau memperdalam Struktur beton deh…apalagi struktur baja…
mahasiswa sipil aja kewalahan mempelajarinya..
apalagi matakuliah mekanika teknik di Indonesia katanya udah enggan di pelajari lagi. padahal itu kan yang paling penting sebelum masuk ke perhitungan struktur beton.
tapi kalo mau jadi arsitek plus bisa struktur beton mungkin sekolah luar negri ada loh…
kenapa ya ilmu bangunan di indonesia bisa terpisah jadi dua gitu : arsitek and Sipil…. Ask why?
Y.W // Juni 24, 2008 pada 2:35 am
@Kepada Pak Wiryanto dan saudara lainnya,
beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke departemen Arsitektur,dan disana lagi di perlihatkan hasil karya mahasiswa arsitek (mata kuliahnya Teknologi bangunan).dan pada saat saya melihat ke-bagian DETAILING (detail penulangan balok,detail penulangan kolom,detail pondasi dll) ,
maka saya bertanya pada temen saya yang arsitek : “gimana kalian menghitung dimensi kolom,balok berserta tulangan tulangannya?”.tapi ngak sempat dijawabnya ,karna supirnya udah datang.
seperti yang bapak bilang kalo “arsitek itu hanya mendesain arsitekturnya saja dan perhitungan betonnya di serahkan sama sipil “,awalnya saya percaya anggapan tersebut,tapi setelah saya lihat hasil karya mereka ,saya malah heran.kok bisa ya mereka mendimensi kolom dan balok beserta tulangan tulangan nya pula.apakah mereka mendimensi ukuran kolom dan balok berdasarkan keindahan atau kekuatan?
jadi inti pertanyaan saya adalah:
“kok bisa para arsitek mendimensi ukuran kolom,balok berserta penulangannya pula seperti yang saya lihat di gambar perencanaan mereka?
padahal di universitas saya (arsitek nya) ngak ada matakuliah analisa struktur atau struktur beton.
anehnya lagi mereka bilang kalo perhitungan untuk mendapatkan tulangannya tu gak ada.hebat banget,gak ada perhitungan tapi bisa muncul detail penulangan balok dan kolom.
berarti anggapan kita (para sipil) yang menganggap “arsitek itu ngak kuat hitung” ternyata salah besar dong. buktinya saja gambar perencanaan mereka saja ada detailing penulangan balok ,kolom dan pondasi.
Pak wir yang udah pengalaman bekerja sama dengan seorang arsitek pastinya tau dong mengenai hal ini .Apakah memang bener arsitek merangkap pekerjaan sipil?
sekian dulu dan terima kasih
Tinggalkan Komentar