The works of Wiryanto Dewobroto

teknologi keramik komposit (keraton)

Maret 28, 2008 · & Komentar

Bapak Budi Sunarto bertanya

Pak Wir, maaf saya mau bertanya. Saya orang awam yang mau membangun sebuah rumah 2 lantai.

Saya tertarik dengan teknologi keramik komposit (keraton) dalam membuat plat lantai tingkat 2 nya, karena dalam hal biaya murah dan katanya memperkecil resiko beban gempa, karena memperingan beban mati plat lantai.

Yang ingin saya tanyakan, menurut Pak Wir apakah teknologi tersebut aman dari segi konstruksi ? dan apakah awet ?

Pertanyaan dari bapak Budi cukup menggugah saya untuk mengetahui lebih banyak, apa yang dimaksud dengan ‘teknologi keramik komposit (keraton)‘. Untunglah produsennya cukup melek teknologi sehingga informasi yang berkaitan dengannya dapat diakses dengan internet , di sini.

Teknologi keramiknya sendiri ternyata terdiri dari blok terpisah seperti ini  selanjutnya blok-blok keramik dirakit dan disisipi tulangan yang berfungsi sebagai tulangan tarik untuk menjadi seperti balok sebagai berikut  Kalau melihat penampilannya, maka tulangan tersebut juga berfungsi sebagai pengikat dengan semen (kelihatannya khusus) yang berfungsi seperti lem. Pada tahap ini, agar dapat menjadi balok yang baik, yang dapat diangkat dengan aman untuk dipasang di lantai atas adalah sangat tergantung dari teknologinya. Perlu presisi yang cukup baik, karena kalau tidak itu balok menjadi tidak lurus (saling bergeser), juga semennya perlu diketahui apa jenisnya, jika pakai semen biasa, berapa lama rakitan tersebut dapat diangkat. Untuk mengangkatnya juga perlu latihan dulu.

Secara logis bentuk di atas memang dapat diterima, bagian keramik berfungsi sebagai kopel desak, sedangkan tulangan sebagai tulangan tarik. Tulangan dipasang pada ke empat sudut, agar mampu menerima lentur pada semua arah. Tapi ingat, itu semua diarahkan untuk menerima berat sendiri, dan juga berat beton di atasnya, yaitu ketika dicor.

Selanjutnya tujuan dari balok di atas adalah dikembangkan sebagai lantai komposit, yaitu dengan dijajarkan dan diatasnya dicor dengan beton atau mungkin hanya mortar, sebagai berikut.

 Inilah mungkin yang dimaksud dengan teknologi keramik komposit (keraton).

Jika melihat bagian atas keramik, bagian yang dicor, terlihat sekali cukup tipis, kurang dari 3 cm. Jadi pengecorannya kelihatannya bukan beton tapi mortar. Jika demikian maka yang dapat diandalkan adalah beton di pinggir-pinggir keramik tersebut, fungsinya seperti balok rib. Secara prinsip itu semua memang dapat bekerja sebagai elemen balok struktur. Bahkan pihak produsennya telah mengujinya di laboratorium .

Bagaimana dibanding beton masif ?

Ya jelaslah, beton masif secara kekuatan untuk ketebalan yang sama tentu akan lebih kuat dibanding lantai tersebut, apalagi jika didesain terhadap beban terpusat yang cukup besar, misalnya gudang.

Menurut saya, keunggulan dari penggunaan lantai tersebut adalah

  • dapat berfungsi sebagai perancah tetap, dipasang tanpa perlu pembongkaran. Jadi jelas dari segi perancah ada penghematan
  • adanya rongga maka berat sendiri beton berkurang, jelas ini merupakan suatu keuntungan. Tetapi berapa tepatnya dapat dihemat perlu studi tersendiri, karena untuk pemasangan teknologi tersebut perlu perhatian khusus.
  • rongga juga bagus terhadap suara (lebih kedap ) juga terhadap termal, jadi mestinya lebih sunyi dan dingin. Tentunya ini perlu pengamatan yang lebih baik, karena sifatnya cukup relatif.

Kerugian memakai produk tersebut

  • karena memakai konsep balok, maka lantainya adalah one-way-slab, pengalihan beban dalam satu arah saja. Jadi bentuk lantai yang cocok adalah persegi, dimana balok komposit kraton tersebut ditempatkan pada arah pendeknya. Jadi jika digunakan pada lantai berbentuk bujur sangkar dimana pada keempat sisinya ada balok tumpuan yang di cor sekaligus maka sistem ini tidak cocok.
  • karena bagian beton atau mortar yang menjadi komposit relatif tipis, maka perilaku beban yang cocok adalah lentur global. Jika bebannya kebanyakan merata, lebih cocok, jika dibanding beban terpusat. Jika dipaksa, maka sebaiknya ketebalan beton ditambah, minimal 5 atau 6 cm dengan di atasnya ditambah tulangan. Masalahnya apakah teknologi ini mampu berdiri sendiri, karena jelas jika beton ditambah maka akan bertambah berat juga.
  • untuk pemasangan plafon di bagian bawah, hati-hati. Perlu ditanya apakah keramiknya nggak pecah jika dipaku. Apalagi paku beton. Karena biasanya semakin keras itu keramik, maka semakin non-ductile (getas).

Tentang promosinya yaitu

Pengurangan beban bangunan dengan pemakaian teknologi KERATON (keramik komposit beton) untuk pelat lantai tingkat anda, akan mengurangi daya ayun bangunan sehingga ketahanan akan gempa lebih baik.

Kadang bisa menyesatkan, karena awam pasti beranggapan bahwa jika memakai teknologi tersebut maka rumahnya akan tahan gempa !  Apakah memang betul seperti itu.

Saya kira itu perlu disikapi hati-hati. Memang benar sih, semakin ringan, maka suatu bangunan akan lebih baik terhadap gempa. Ingat rumus neweon F=m.a . Jadi jika massa bangunan berkurang maka gaya gempa yang terjadi akibat percepatan gempa juga berkurang pula khan.

Tapi ingat, bahwa dalam hal ini teknologi keramik komposit diposisikan sebagai lantai, dimana dalam hal penyaluran gaya-gaya, maka dia hanya berfungsi sebagai penahan beban-beban gravitasi saja. Kalaupun gempa, paling-paling berfungsi sebagai diagframa, meskipun dalam hal ini  perlu disangsikan karena beton di atasnya relatif tipis. Apa bisa efektif gitu.

Padahal yang memegang peran penting bagi bangunan tahan gempa adalah struktur frame yaitu terdiri dari balok dan kolom.

Jadi jika ada pernyataan penjualnya bahwa jika pakai produk tersebut pasti akan tahan gempa adalah tidak tepat.

Kategori: Reference · Teknik · engineering · informasi · opini · pemikiran · teknik sipil

7 tanggapan so far ↓

  • Budi Sunarto // Maret 30, 2008 pada 3:05 pm

    Syallom Pak Wir..

    Terima kasih buat jawabannya..

    Maaf ya Pak, saya banyak bertanya…daripada kalau saya sudah membangun ternyata bangunan tsb berbahaya.
    Saya bertanya pada produsennya..memang cor2an diatas plat lantai tsb adalah mortar setebal 3 cm bukan beton..Pak Wir bilang jika untuk beban merata it’s ok dibanding beban terpusat, nah kalo ruangan tsb untuk kamar tidur apakah digolongkan terpusat? mengingat bentuk ranjang lemari pakaian dan benda yang lainnya yang terletak di satu tempat…amankah?
    Pak Wir apakah yang dimaksud dengan lantai sebagai diafragma?
    Pak apakah bedanya one way slab dan two way slab ?

    Dan yang terakhir Pak…menurut bapak sebagai seorang profesional dalam konstruksi,jika bapak yang membangun, apakah bapak menggunakan teknologi ini atau plat lantai cor biasa ? menimbang kekuatan, keselamatan, keawetan dan biaya.

    Terima kasih banyak Pak buat tanggapan dan jawabannya.
    Kiranya hanya Tuhan yang membalas segala kebaikan Bapak ..

    Tuhan Yesus memberkati Bapak sekeluarga..

  • Haris Setiawan // April 1, 2008 pada 3:18 am

    Syallom Pak Wir.

    Selamat berkenalan
    Setelah saya membaca Keraton saya sangat tertarik dengan pengunaannya. Hanya saya mohon keterangan distributor di kota Bandung dimana alamatnya, apakah di kota Bandung sudah banyak yg memakainya, sebab untuk pemasangannya memerlukan tenaga yg sudah terlatih.

    Kemungkinan kalau sudah ada distributornya saya akan tanya apakah ada tukang yg sudah berpengalamam dalam memasang Keraton.
    Berhubung saya akan mengunakan untuk sebagaian dak diatas garasi, karena saat ini mengunakan seng dan sering bocor, rencana akan saya dak pakai beton biasa tetapi setelah diberi tahu teman di Jakarta yg sudah mengunakan Keraton maka saya sangat tertarik karena beayanya murah.

    Maaf Pak Wir saya banyak tanya, kalau dibawahnya mau dipasang plafon dengan mengunakan triplek atau gipsum apakah bisa dipaku atau ditempel pakai apa ?

    Maklum saya orang awam terhadap bangunan dan kalau boleh tahu harganya berapa per bijinya.

    Terima kasih Pak,saya menunggu jawaban dari Pak Wir.
    Semoga Tuhan memberkati Bapak n kel. dan sucses selalu.

  • Budi Sunarto // April 1, 2008 pada 5:06 pm

    Syallom Pak Harris…

    Salam kenal….
    Pak kalo boleh saya mau tanya teman bapak yang di jakarta memakai keraton untuk plat lantai berfungsi sebagai apa? Apakah kamar tidur dan ruangan seperti layaknya lantai 2 sebuah rumah?
    Bagaimana tentang kekuatan dan keawetannya?
    Sudah berapa lama teman anda membangunnya?
    Apakah ada keluhan?
    Kalo harga 1 biji nya saya pernah tanya Rp 7000,00
    Kalo bapak mau bertanya lebih detail..
    PT Duitemoro DW 021-78830320.

    Thanks Pak untuk perhatian dan jawabannya..

    GBU

  • wawan // April 3, 2008 pada 4:19 pm

    pak wiryanto, apa bapak mempunyai data tentang pengujian desak komposit partikel, saya mohon balasannya secepatnya

  • wir // April 4, 2008 pada 12:52 am

    yth bapak-bapak sekalian
    terimakasih atas tanggapan yang diberikan thd artikel di atas.

    Perlu diketahui bahwa artikel di atas bukan didasarkan pengalaman empiris memakai produk tersebut. Terus terang itu merupakan analisis berdasarkan pengetahuan-pengatahuan yang sudah baku sebelumnya, yah semacam hipotesis begitu. Tetapi karena ini masalah engineering yang relatif sederhana maka hipotesisnya juga relatif mendekati fakta.

    Secara umum, keuntungan utama dari produk tersebut adalah bukan pada kekuatan yang dihasilkan, tetapi kepada kemudahan untuk tidak digunakan perancah, termasuk membongkar pasangnya juga. Keuntungan tentang perancah tersebut umumnya hanya kelihatan jika volumenya besar. Selain itu, karena banyak yang berongga, maka relatif ringan, pondasinya lebih kecil, dan untuk perumahan maka volume beton yang diperlukan relatif kecil. Ini khan repot untuk rumah yang sudah ada penghuninya, jadi sistem ini kelihatan lebih praktis.

    Tentang one-way-slab dan two-way-slab, itu tentang kaitannya slab yang mendapat tumpuan dari ke-empat sisi, jadi ada dua arah. Yg one-way itu kayak balok. Agar efektif two-way maka biasanya bentuk plat adalah bujur sangkar.

    ttg pengujian desak komposit partikel, saya nggak punya. Siapa tahu pihak pembuat produk tersebut tertarik memberi sponsor ke UPH untuk dilakukan penelitian sepert itu. Pasti deh akan saya berikan dengan baik.

  • duitemoro dw // April 5, 2008 pada 1:30 am

    Salam sejahtera semua,

    rumah saya bangun th 1986 yang depan, mengunakan Keraton yg depan sekarang jadi bengkel (studio patung) di atas keraton, th 1996 terbangunlah rumah belakang, 10×10 lantai 3 yang ketiga teras terbuka untuk jemuran, dan kongko2, bakar2 sate dll. sampai sekarang aman2 saja.

    Alamat rumah Bpk Yudiro Jl BIMA 1 no44 Cijantung Jakarta Timur.

  • Erik Tapan // April 9, 2008 pada 9:40 am

    Dear Pak Wiryanto
    Saya tertarik dengan KERATON. Kalau cuman untuk ngebangun tudung atas Car Port, bisa kali yha?

    Saya kesulitan menggunakan kanopi Polycarbonat, karena kadang-kadang perlu mengecat dinding yang tinggi. Kalau ditutup sama kanopi, jadi tidak ada tempat lagi untuk tangga.

    Menurut Pak Wiryanto, bagaimana?

    Wir’s responds : pada prinsipnya pasti bisa saja. Tetapi kalau hanya alasan untuk tempat dudukan tangga kalau mengecat nanti, apa itu nggak berlebihan. Khan ngecatnya nggak setiap hari khan pak.

Tinggalkan Komentar