The works of Wiryanto Dewobroto

Jakarta hanya bagi yang “mampu” saja

7 Mei 2008 · 19 Komentar

Jakarta hanya bagi yang “mampu” saja

Sebuah renungan hasil kemacetan di Jakarta

Bagi seorang komuter Bekasi-Lippo Karawaci, membelah Jakarta adalah suatu keharusan. :(

Puji Tuhan itu dapat dilakukan dengan kendaraan sendiri, meskipun sudah tua tapi Toyota. Jadi reliable gitu lho. Jika jalan lancar, tentulah pikiran fokusnya adalah jalan didepannya, harus hati-hati, jadi tidak ada waktu untuk merenung.

Jadi di jalan bisa merenung, kenapa ? Ya tahu sendirilah, itu karena macet, maju hanya beberapa meter lalu ngerem lagi. Jadi yang kerja hanya kaki kiri nginjek kopling (maklum kendaraan tua jadi belum otomatis). Jika kaki kiri sibuk nginjek kopling, lalu tangan kanan sibuk mindahin kompling juga, maka mata jelalatan bisa kemana-mana.

Tahu sendiri juga, kalau ditengah tol macet, mata jelalatan, maka yang dapat dilihat hanya dua, yaitu mobil-mobil bagus mewah, yang mungkin adanya hanya di kota jakarta; dan gedung-gedung tinggi.

Tetapi kemaren, mataku tertumbuk pada fasilitas umum yang sekarang sedang ngetrend di bangun di Jakarta, yaitu halte busway, jalur Cawang-Grogol, tepatnya di depan gedung MPR jalan S. Parman.

Coba apa yang ada dalam pikiran anda, berkaitan dengan pekerjaan konstruksi halte bushway tersebut. Khususnya tangga akses dari jembatan penyeberangan lalu turun ke halte. Itu merupakan akses keluar-masuk satu-satunya lho.

Tentu banyak pendapat bisa diungkapkan tentang keberadaan tangga tersebut. Ada yang kagum tetapi ada pula yang ngeri, waduh tingginya. Aku mungkin berpendapat yang terakhir. Kenapa ? Jelas naik-turun tangga bagi orang-orang muda tentu tidak menjadi masalah. Tapi bayangkan jika itu adalah orang tua atau orang cacat. Jelas itu merupakan suatu kendala. Padahal tangga tersebut merupakan satu-satunya akses keluar dari halte tersebut setelah turun dari busway. Bayangin juga, jika ada ibu-ibu membawa barang-barang perbelanjaan dan juga membawa anak-anak kecil. Apakah naik atau turun tangga setinggi itu tidak menjadi suatu masalah.

Busway adalah sarana transportasi jakarta, yang ingin menunjukan bahwa infrastruktur kota adalah baik adanya, tapi dengan fakta seperti itu maka dapat dikatakan bahwa pemakai sarana tersebut hanya orang-orang tertentu, yang “mampu”  melewati tangga tersebut.

Jadi jika anda tua nanti, apakah anda yakin mampu memanfaatkan fasilitas umum tersebut ?

Wah kalau aku nggak pak Wir ! Males pakai kendaraan umum ! Pakai kendaraan sendiri saja.

Kalau bisa pakai kendaraan sendiri, berarti “mampu” juga dong. Bagaimana kalau ada orang orang yang secara finansial tidak mampu pakai kendaraan sendiri, dan juga secara fisik (kesehatan / cacat / usia) berkeberatan melewati tangga yang terjal tersebut. Lalu gimana ?

Ya dirumah aja pak !

Lho koq begitu. Jadi intinya, fasilitas umum yang ada di Jakarta ini hanya diperuntukkan bagi orang yang “mampu” aja ya. Jadi jika anda tinggal di Jakarta, dan mulai berumur 40-an ke atas, pikirkan apakah anda bisa dikategorikan “mampu“.

Jika tidak, kelihatannya hidup di daerah lebih menyenangkan lho. :P

 

Kategori: informasi · pemikiran

19 tanggapan so far ↓

  • Aloysius Erwin // 7 Mei 2008 pada 15:34 | Balas

    Nampaknya kita sepaham pak Wir. Komentar bapak akan ketiadaan ramp pada JPO busway juga saya bahas pada artikel saya.
    http://erwin4rch.wordpress.com/2008/05/07/orang-udik-pergi-ke-jakarta-ber-busway-ria/

  • aRuL // 7 Mei 2008 pada 16:11 | Balas

    gimana pak wir mungkin membuat sebuah konstruksi lift/ekskalator di jembatan penyebrangan yg bisa mengakomodir semuanya….
    sy sempat pernah berfikir begitu, karena terlihat juga beberapa jembatan penyeberangan malah tidak digunakan, tetapi lewat dibagian bawahnya.

  • welly // 7 Mei 2008 pada 17:30 | Balas

    wah……bener adanya tuh……..jakarta memang kota untuk bagi orang yg mampu dan dikategorikan Seatle…..dan saya rasa…negara penganut kapitalis liberal semuanya seperti itu….jika tidak…maka akan menjadi sampah mereka. yg sering disebut tertinggal……..
    salam…..welly.

  • akmalhasan // 8 Mei 2008 pada 02:52 | Balas

    Setahu saya, halte busway yang dilengkapi sarana lift baru ada di halte Sarinah (Koridor Blok M – Kota). Lift itu pun sepertinya tidak setiap hari aktif digunakan.

    Dari ilustrasi gambar, emang kesannya maksain banget dengan kondisi space dan struktur yang ada sebelumnya.

    Soal “mampu” sebagai prasyarat untuk bisa survive di era kapitalis liberalis sekarang ini emang sebuah keniscayaan.

    Semoga suatu hari kita bisa “melihat Jakarta yang lebih baik” …halah :)

    Trims.Salam.

  • suciptoardi // 8 Mei 2008 pada 03:09 | Balas

    salah satu sisi pandang, tapi tidak mewakili :(
    jangan menyerah, optimis donk,..jangan cengeng…

  • noonathome // 8 Mei 2008 pada 03:57 | Balas

    Betul sih. Any better solutions ?
    Solusinya aRul bagus juga. :P

  • Hedwig™ // 8 Mei 2008 pada 04:40 | Balas

    Setiap hari naik Depex dan Busway.. Yang terjadi setiap hari selalu berolah raga turun naik tangga.
    Mungkin sekarang masih terasa mudah, mungkin jika tua nanti bisa jadi sebuah masalah.

    Salut dengan orang-orang tua yang masih naik turun tangga untuk menikmati angkutan murah meriah.

  • mubaraq // 8 Mei 2008 pada 06:07 | Balas

    Benar sekali… Jakarta bagi yg mampu….

  • Syafrudin Abi-Dawira // 8 Mei 2008 pada 06:35 | Balas

    Kalau saya berpikir kebaikannya: itu hanya sementara saja.

    Saat ini kita harus segera mengupayakan tatanan BRT (Bus Rapid Transit) bekerja secara penuh di semua jalur, dengan keterbatasan sumber daya yang ada. Setelah itu, keadaan Jakarta saya kira akan menjadi berbeda, ketergantungan penduduknya terhadap angkutan umum tinggi, mobil pribadi yang lewat pasti punya orang sangat kaya (karena pajak dan parkirnya sudah dilipat gandakan). Sejalan dengan itu, saya kira akan muncul gagasan – gagasan bagaimana menyamankan prasarana angkutan umum ini.

    Selain pengadaan tangga berjalan, kemungkinan lain adalah pemaduan perhentian ke gedung terdekat, seperti yang umum dilakukan untuk MRT di luar negeri. Misalnya perhentian di Senen, pintu masuknya di Atrium.

  • edratna // 8 Mei 2008 pada 07:05 | Balas

    Justru itu pak, pemilihan rumah sangat menentukan, tapi juga tergantung kebiasaan juga.

    Teman saya, suaminya kerja di BI (berarti mampu ya), tapi dia ingin rumah yang besar dan luas…jadi dia membangun rumah di daerah Kukusan. Saya sempat ingin beli tanah disana…pas malamnya kepikiran, nanti kalau ada apa-apa bagaimana…karena saya ga berani nyopir (cuma punya SIM doang). Jadi akhirnya saya memutuskan tinggal di rumah kecil di daerah Cilandak. Kemana-mana..kalau daerahnya dekat, seperti ke RS Fatmawati, RS Setia Mitra, ke Bank (BRI, BNI, BCA), tinggal naik angkot bayar Rp.2000,- tak berdesak-desakan. Kalau habis belanja dari Superindo atau D best, karena jaraknya tanggung, bisa pakai bajay…..ya lumayan deh telinganya. Kalau sesekali ke Pondok Indah Mall…naik taksi atau bajay bayar Rp.25.000,- dan ke Citos cuma 10 menit jalan kaki….

    Naik mobil kalau ada suami…hehehe
    Semua ada plus minusnya kok pak Wir…walau kecil, kalau keponakan baru lulus S1…mereka tinggal dirumah saya, untuk cari pekerjaan…. yang mengajari rute naik bis adalah si mbak (pembantu) yang udah lebih 10 tahun ikut saya dan hafal daerah Jakarta.

  • boediarto // 8 Mei 2008 pada 07:09 | Balas

    siapa suruh datang jakarta
    siapa suruh datang jakarta
    ……..

  • maulana // 8 Mei 2008 pada 08:55 | Balas

    Kayaknya emang gitu, kalo mau tinggal di Jakarta harus kuat keuangan dan “boleh dikatakan mampu”. karena saat ini semakin terasa di lapisan bawah masyarakat mulai sulit; minyak tanah langka, gas tabung kuning terkadang meledak, antrian beras kian banyak, di kolong jembatan mulai ditata rapi dengan penggusuran.

    Mau kemana lagi mereka …

    ya pulang kampung, daripada nanti dibilang sampah masyarakat.

    Nyatalah bahwa Jakarta kian menata diri dan berbenah terus. …Harus mampu dan siap hidup bersaing

  • ILYAS AFSOH // 8 Mei 2008 pada 11:05 | Balas

    selalu ada solusi, bagi orang-orang kreatif

  • Santanu // 8 Mei 2008 pada 11:24 | Balas

    Usul bagaimana kalau Ibukota dipindah saja, biar daerah lain juga kebagian “kemampuan”. Bukankah Jakarta semakin padat semakin banjir dan semakin kapitalis.

    Ada ramalan tahun 2025 kalau pemanasan global semakin kelihatan dampaknya 5 km dari garis pantai sekarang dataran yang rendah akan tenggelam.

    Wir’s responds: benar lho, tol bandara sekarang, nggak hujan, nggak angin, kerendam. :(

  • fikriana // 8 Mei 2008 pada 11:51 | Balas

    Duh pak jangankan yang tua, saya saja waktu kuliah di Jakarta paling males kalau disuruh nyebrang pakai jembatan penyebrangan. Apalagi buat orang-orang yang tidak mampu, bisa-bisa ????? duh tau kan jawabannya

  • winsolu // 8 Mei 2008 pada 14:58 | Balas

    mau pikir2 dulu kalo pindah kesana
    uadah sesak, panas, mahal lagi. mending di desa asalkan bisa blogeran. tulkan?
    salam kenal
    tukeran link, boleh? :D

  • Benyamin MA // 8 Mei 2008 pada 15:15 | Balas

    Aduh…banyak banget comment ya..nikmati aja dech..syukuri yang ada sambil berusaha tuk dapat yang lebih..

    Indonesia hentikan KKN donk..pasti makmur

  • Aloysius Erwin // 10 Mei 2008 pada 11:02 | Balas

    Ada ramalan tahun 2025 kalau pemanasan global semakin kelihatan dampaknya 5 km dari garis pantai sekarang dataran yang rendah akan tenggelam.

    Itu benar adanya. Perencanaan arsitektur di Amerika sekarang pun, (contohnya di New York City) yang dekat dengan pantai mengharuskan arsitek untuk memasukkan faktor kenaikan air laut hingga 20 tahun ke depan!

    Ini ada presentasi arsitek amerika, live dan direkam.

    http://www.ted.com/index.php/talks/view/id/49

    Pada pemaparan desain yang ketiga, dia memasukkan faktor “Kenaikan air laut” dalam faktor analisanya. Sebuah kenyataan yang menakutkan bagi kita.

    (untuk desain dia yang ketiga pemikiran perencanaan aplikasi strukturnya juga kreatif, mungkin juga bisa sebagai tambahan pengetahuan bagi rekan2 teknik sipil)

    Salam.
    Erwin

    Note : Untuk mendownload sebaiknya anda memiliki koneksi Hi-Speed internet karena filenya yang agak besar. Lumayan, seperti melihat presentasi seminar secara live dari orangnya langsung. Gratis. (selain biaya pulsa sih.. :) )

  • prananto // 18 Mei 2008 pada 13:57 | Balas

    Jika tidak, kelihatannya hidup di daerah lebih menyenangkan lho. :P

    emang iya lho pak…

Tinggalkan sebuah Komentar