Ada pertanyaan sederhana tetapi menarik dari Dimas,
Pak, sebenarnya lebih baik jembatan dengan lantai atas atau bawah ???? Terus keuntungan dan kerugian masing-masing model apa ???
Pertanyaannya pendek, tetapi jawabannya jelas nggak cukup dengan beberapa patah kata, oleh karena itu perlu dijadikan threat tersendiri. Kecuali itu sebenarnya juga untuk mengantisipasi materi kuliah di tahun depan, yang ada kemungkinan mengajar mata kuliah tentang struktur jembatan. Dengan demikian maka ada baiknya pertanyaan di atas perlu dijawab sekaligus sebagai bahan pemanasan untuk merenung tentang jembatan.
Renungan akan mengasyikkan kalau dalam bentuk tulisan, karena dengan menulis kadang-kadang pengetahuan yang tersimpan di bawah sadar dapat keluar dari sarangnya.
Apalagi kalau tulisan tersebut dapat terpublikasi seperti dalam blog ini. Kenapa ? Karena respond yang masuk kadang dapat memperkaya maupun mengoreksi bilamana ada kesalahan. Intinya renungan tertulis ini dapat menjadi media pembelajaran bersama.
Pertanyaan Dimas dimulai dari threat tentang lomba KJI. Jika pertanyaan itu ditujukan kepada ketentuan lomba tersebut, maka jelas jawabannya hanya terletak dari cara pembebanannya. Jembatan dengan deck di atas akan lebih mudah dibebani, lebih sederhana perencanaannya karena kebetulan strukturnya simple sendi-rol sehingga bagian tengah di atas adalah bagian desak, jadi deck dapat sekaligus dimanfaatkan sebagai pertambatan lateral untuk batang desak.

Pembebanan di atas deck jembatan model milik UPH di KJI 2006
Kalau deck di bawah, jadi rangka batangnya berdiri sendiri, maka tentu batang desak perlu pertambatan khusus. Kalau dikasih rangka horizontal maka cara pembebanannya akan susah. Coba perhatikan foto di atas, berarti beban khan harus masuk di antara rangka jembatan itu khan. Tetapi kalau untuk lomba ya boleh-boleh saja, lebih bagus ada seninya gitu. Tetapi yang jelas panitia perlu menyiapkan beban yang tentu beda dengan yang dulu ada, lebih kecil mestinya.
Ok, itu jawaban terbatas untuk lomba KJI. Sekarang membahas tentang penempatan lantai jembatan secara umum.
Untuk berbicara tentang lantai jembatan maka perlu kesamaan pendapat tentang definisi atas dan bawah. Untuk itu saya ambil contoh jembatan sungai progo sebagai berikut.

Jembatan Transfield di atas sungai Progo (Jogja)
Dari gambar di atas, maka disepakati bahwa jembatan di atas termasuk jembatan lantai bawah. Ok ? Jembatan disebut berlantai bawah jika mayoritas struktur jembatan berada di atas lantai kendaraan, sedangkan jika mayoritas struktur jembatan berada di bawah lantai kendaraan maka disebut jembatan berlantai atas. Begitu khan. Baru setelah definisi tersebut sama, maka kita dapat bercerita banyak tentang jembatan-jembatan tersebut.
Dengan melihat contoh jembatan kali progo yang mempunyai sistem lantai bawah, maka orang awampun sudah dapat menilai, seperti misalnya bahwa lebar jembatan terbatas, termasuk juga sisi atas ada strukturnya juga. Berarti tipe jembatan tersebut mempunyai keterbatasan ruang akses. Ini tentu menjadi masalah besar jika jalan dimana jembatan tersebut berada ada kemungkinan untuk diperlebar. Kalau pelebarannya sekaligus menjadi dua jalur seperti halnya di pantura, maka tentu tidak masalah. Baru menjadi masalah jika pelebarannya hanya mencakup 1.5 m di kanan maupun di kiri. Khan tanggung banget bukan.
Adanya rangka pada bagian atas, dan juga alasan ruang akses kendaraan menyebabkan perlunya rangka tepi jembatan yang cukup tinggi (tinggi bersih 5m). Oleh karena ketinggian itulah maka tipe jembatan tersebut jarang dijumpai pada bentang pendek. Jembatan Transfield paling pendek bentang 30 m, sampai bentang 60 m.
Karena alasan tersebut maka dijumpai juga tipe lantai bawah dari jembatan rangka yang tidak memakai rangka horizontal di atasnya, sebagai berikut

Jembatan tipe ini lebih banyak dijumpai pada bentang sedang. Ini tentu sangat cocok untuk jembatan penyeberangan jalan, kenapa ? Karena relatif ringan (berupa rangka batang) dan sisi atas dapat sekaligus sebagai pagar pengaman. Karena konstruksi baja bagian atas adalah juga struktur utama, maka sangat riskan jika ditabrak oleh kendaraan. Tetapi di sisi lain ini juga efektif untuk menghindari dipakai oleh kendaraan yang lebar (yang cenderung berat). Sebagai pembatas kendaraan yang lalu lalang.
Di tinjau dari sisi struktur. Jembatan rangka tersebut cenderung berperilaku seperti balok simple-beam (tumpuan sendi-rol) sehingga elemen rangka di bagian atas adalah batang desak yang memerlukan bracing untuk mengurangi panjang tekuk. Oleh karena itu, jika diperhatikan maka elemen batang vertikal juga perlu difungsikan sebagai kantilever bracing yang memikul batang tekan di bagian atas tersebut. Jadi meskipun dari pembebanan utamanya, elemen vertikal tersebut relatif ringan , tetapi secara lateral harus cukup kaku dan perlu konstruksi yang menerus dengan elemen jembatan di bawah lantai kendaraan. Ini bedanya dengan sistem jembatan Kali Progo yang memakai rangka atas.
Berbicara dari sisi hidrologi. Maka jembatan deck bawah tentu sangat menguntungkan karena dapat diperoleh jarak cukup tinggi dari muka air. Ini tentu sangat berguna untuk daerah aliran sungai yang relatif sering banjir, yang kadang-kadang membawa kayu atau sebagainya. Oleh karena itu, tipe jembatan ini banyak dijumpai untuk daerah luar kota. Jembatan deck bawah pada umumnya memakai struktur baja berupa rangka baja. Meskipun di daerah purwokerto ada juga jembatan deck bawah dari beton bertulang yang berupa pelengkung. Tapi jelas ini lebih berat, jadi relatif jarang. Ini lho fotonya, pernah lihat belum.

Jembatan deck bawah berupa jembatan busur beton di Jateng
O ya, karena alasan ruang akses bawah yang tidak terganggu, jadi aliran air lancar, tetapi juga menguntungkan jika dibagian bawah dipakai untuk jalan-jalan di dalam kota. Agar bentuknya manis maka jembatan deck bawah tipe virendel ini cukup populer.

Perhatikan pilar yang vertikal pada jembatan virendel di atas. Busur di atas akan bekerja sebagai batang tekan, sedangkan batang vertikal sebagai bracing lateral busur tersebut. Batang bawah yang berfungsi juga sebagai lantai kendaraan akan bekerja sebagai balok dan batang tarik. Permasalahannya adalah bahwa batang-batang vertikal harus sambungan momen. Tidak bisa sambungan sederhana seperti sistem jembatan Kali Progo.
Jadi kendala bentuk yang kaku, seperti yang diperlihatkan pada jembatan kali progo, sebenarnya dapat diatasi dengan sistem jembatan deck bawah yang manis seperti vierendel tersebut. Tapi itu umumnya ada di eropa yang sudah peduli dengan keindahan tata kota. Kalau di Indo maka berlaku pemeo “sudah untung bisa lewat”.
Alasan lain digunakan deck bawah atau atas adalah karena fungsi strukturnya. Sebagai contoh pelengkung tidak menangkap air (bentuk arch), seperti pada jembatan virendel tersebut maka menjadi batang tekan. Model pelengkung seperti itu sebenarnya cocoknya untuk jembatan dengan deck di atas, karena deck itu juga sekaligus sebagai bracing untuk mengurangi panjang tekuk. Karena menghabiskan ruangan yang besar maka cocoknya untuk jembatan di sungai yang curam dan tinggi dipegunungan. O ya ini juga karena model lengkung tersebut ada tendangan di tumpuannya, jadi perlu pondasi yang tidak hanya kuat terhadap beban vertikal tetapi juga lateral, contohnya :

Bentuk jembatan di atas adalah bentuk arch, karena bebannya dari atas maka beban-beban yang dominan adalah gaya tekan. Coba bandingkan dengan jembatan pelengkung beton pada gambar diatas, batang-batang vertikal yang menghubungkan deck bawah ke pelengkung adalah batang tarik. Deck bawah sendiri sebetulnya berfungsi sebagai batang tarik, reaksi dari pelengkung. Jadi pelengkung beton di atas pondasinya hanya menerima gaya vertikal saja. Jadi pengaruh lingkungan nggak terlalu terasa. Coba perhatikan detail tumpuan jembatan beton di jateng tersebut.

Tumpuan Jembatan Busur Beton di Jateng
Lha beda dengan jembatan baja di atas, yang dipinggir jurang tersebut. Jika pondasinya bergeser maka jembatan bisa rusak. Jembatan arch seperti itu cocok ditujukan pada material yang kuat menerima gaya tekan, jaman dulu bentuk tersebut banyak dipakai karena material konstruksinya adalah stone atau masonry. Itulah mengapa dipakai bentuk deck atas, dan dibawahnya pelengkung. Jadi ini adalah persyaratan bahan (struktur).

jembatan arch (artikel lengkap di sini)
Sedang pelengkung yang menangkap air (mangkok terbalik atau seperti tali jemuran) maka batangnya menjadi batang tarik. Kabel adalah elemen tarik yang sempurna. Oleh karena itu jembatan gantung akan memakai deck bawah, namanya saja gantung gimana bisa di atas ya.

Jembatan Gantung di Kali Progo (Jogjakarta)
Juga pada jembatan cable-stayed sifatnya seperti jembatan gantung sehingga harus deck bawah. Tipe jembatan yang seperti itu jelas tidak bisa akalin lagi, harus deck bawah. O ya, cable stayed dan suspension bridges (jembatan gantung) hanya cocok untuk bentang panjang atau sangat panjang.

Gabungan jembatan deck (girder) atas dan deck bawah (cabled stayed)
Sedangkan jembatan dengan deck-kendaran di atas, sedangkan struktur utamanya di bawah, maka orang awam akan melihatnya sebagai bentuk jembatan yang paling bersih, karena kadang-kadang kalau kita lewat di atas jembatan tersebut maka seakan-akan tidak melihat struktur jembatan tersebut. Sepintas seperti jalan raya biasa.
Berkaitan dengan jembatan dengan deck di atas, maka hampir semua sistem jembatan girder adalah tipe tersebut (deck atas). Jadi masalahnya sekarang tinggal ruang bawahnya cukup atau tidak.

Jembatan Deck Atas di jalur Tol Cipularang
Coba perhatikan, jika anda sering lewat tol Cipularang, pernahkan anda melewati jembatan di atas. Pasti tidak ingat bukan. Lha iya. Itu foto diambilnya dari sisi luar jalan tol, jika anda di atasnya maka strukturnya nggak kelihatan. Padahal strukturnya besar sekali. Iya khan.
Eit, ada yang nanya jembatan tol rajamandala di atas sungai Citarum. Ini khan fotonya

Jembatan Tol Rajamandala
Ini mah jembatan jenis cast in situ prestressed Balanced-Cantilever, jembatan serupa juga telah dibangun oleh PT. Waskita Karya di P. Batam, dan juga sekarang untuk jembatan Suramadu di Jawa-Madura. Ini jelas termasuk deck atas, strukturnya di bawah. Jadi kalau lewat ya nggak akan melihat. Tul khan.
Ini termasuk jembatan bentang sedang. Dipilihnya type Balanced-Cantilever karena sistem tersebut dalam pelaksanaannya tidak memerlukan perancah di luar, tetapi memanfaatkan proses pelaksanaannya sebagai balok kantilever. Jadi untuk tempat-tempat yang curam seperti di atas maka tipe tersebut sangat cocoklah.
Ini ada foto pelaksanan tipe Balanced Cantilever, tapi bukan proyek Rajamandala itu, ini proyek lain. Tapi intinya mirip.

Pelaksanaan jembatan tipe cast-in-situ Balanced Cantilever
Perhatikan kalau foto pelaksanaannya, gaya reaksi cantilever akan diseimbangkan oleh sisi jembatan yang satunya lagi. Sedangkan pada jembatan tol Rajamandala, satu sisi saja, sedangkan sisi pendek (dekat tumpuan) dibuat besar sebagai pemberat.
Gitu dulu ya.







16 tanggapan so far ↓
syahrizal pulungan // Mei 17, 2008 pada 8:02 am
lagi lagi nambah pengalaman truslah menulis buat saudaraku
ucen // Mei 17, 2008 pada 10:29 am
salam kenal pak wiryanto. .
saya mahasiswa t.sipil semester 4 nih, jd maap yah klo prtanyaannya mendasar bgt. .
kt dosen saya kalo buat jembatan rangka baja, hindari sebanyak mungkin batang tekan, bukan begitu?
krn batang tekan mempunyai faktor tekuk, jd berpengaruh sama panjang batangnya. .
kalo iyah, untuk jembatan lantai bawah, batang atasnya kan menerima gaya tekan (bener ga sih? sampai sekarang saya masih suka ragu nentuin batang tekan ama tarik,heheh. . ) brarti jembatan lantai bawah lebih boros donk daripd jembatan lantai atas. .
wir // Mei 17, 2008 pada 11:30 am
Kenal kembali Ucen,
Apakah batang tekan berarti lebih boros dibanding batang tarik. Ah nggak seperti itu Ucen, coba pelajari diagram tegangan-regangan dari material baja. Disebutkan disitu bahwa kuat tekan dan tariknya khan sama bukan. Itu jelas beda dengan beton, yang kuat tariknya tinggal 10% dari kuat tekan.
jadi material baja mempunyai kekuatan yang sama dari segi bahan.
Kondisi tersebut menyebabkan untuk tekan dihasilkan ukuran penampang yang lebih kecil. Lha ukuran penampang yang kecil akan menimbulkan efek lain yaitu kelangsingan. Jadi bukan dari bahan material tetapi dari geometri. Jadi kalau terlalu langsing akan menimbulkan masalah stabilitas yaitu tekuk. Ini dari segi kekakuan.
Jadi kuat tarik dan tekuk di atas adalah dua hal yang berbeda, yang satu bahan (material), sedang yang satunya lagi penampang (geometri).
Agar kondisi geometri tidak dominan maka dipasangkanlah bracing-bracing sedemikian sehingga panjang batang tidak langsing dan fenomena tekuk tidak dominan. Ini tugas engineer. Dengan demikian tidak ada masalah lagi.
Jadi selama anda bisa mengatasi hal tersebut nggak ada masalah tentang deck atas atau bawah. Jadi bukan itu masalah utama orang menentukan posisi deck.
O ya saya tambahkan lagi, untuk baja yang menerima gaya tarik maka sistem sambungan akan lebih rumit dibanding sistem desak. Bahkan jika anda pakai sambungan end-plate maka untuk desak secara teoritis nggak perlu baut. Bandingkan dengan tarik, perlu baut khan.
apa seperti itu dapat disebut lebih irit.
economatic // Mei 17, 2008 pada 1:23 pm
Bagus banget artikelnya, tapi di lapangan kok masih banyak jembatan yang umurnya pendek langsung mau roboh. Itu karena salah rancangan atau salah baca gambar?
Salam kenal http://economatic.wordpress.com/
juraganindoor // Mei 17, 2008 pada 1:49 pm
maaf, Pak! Saya nggak ngerti jembatan. tapi dari contoh gambar diatas, Saya nggak nemu yang namanya jembatan tol rajamandala (diatas sungai citarum). jembatan panjang banget, nggak ada kabel yang ngikat, nggak kelihatan (karena dari atas) penyangga bawah….. itu gimana teorinya sama bikinnya?
yanti // Mei 17, 2008 pada 11:22 pm
thanks pak wir atas tulisannya.. sudah lama nggak main kesini..
..
benny // Mei 18, 2008 pada 3:51 am
pak wir,
mo nanya dikit masalah jembatan.
menurut pak wir, untuk daerah oprit jembatan, kalo memakai perkerasan kaku boleh ga?
trims n Gbu
iqbal // Mei 18, 2008 pada 5:37 am
jembatan gantung terbalik??? dengan deck diatas??? ada lohhh…. coba dilihat di bukunya TY Lin dan Burns “design of prestressed concrete structure”. kalo ga salah sih….
satya sembiring // Mei 18, 2008 pada 9:53 am
penjelasan yg sangat simple dan mudah di mengerti saya bukan orang T Sipil tapi dengan contoh dengan waktu singkat saya jadi mengerti type kedua jenis jembatan ini.
ini baru namanya dosen
hehehe
joe // Mei 18, 2008 pada 12:33 pm
bisa minta modul tentang jembatan yang versi lengkap, top abisss buat skripsi juga. gimana seh jadi ahli mekanika struktur kaya bapak juga………….itu klobapa mau juga ngasih sehhhhh, buat nolong yang lagi buntu bahan nehhh, maaf pak klo kaya nya ga sopan
Jerry Atmaja // Mei 26, 2008 pada 3:15 pm
Pak Wir, apa kabar? Saya sekarang kerja di kontraktor pondasi. Nama perusahaannya PT. Masterpancang Pondasi. Perusahaan baru sih, lagi mulai berkembang. Kebetulan kemarin saya pergi ke daerah Pacitan via Solo dan menemukan hal yang menarik di jalan..
http://www.box.net/shared/i4p435u8cs
ini foto Jembatan Kedawung yang ada di jalur Solo - Pacitan. Saat ini sedang mengalami masalah penurunan pondasi pada kedua pier di tengah bentang. Sehingga saat ini hanya boleh dilewati 1 jalur saja. Menurut supir mobil rental, hal ini terjadi karena akibat sungai Bengawan Solo yang meluap beberapa waktu yang lalu (lupa tepatnya :p). Sungai di bawah jembatan ini terhubung ke bengawan solo.
Mungkin bisa jadi bahan buat blog ni pak.
Salam,
Jerry
erwin4rch // Mei 27, 2008 pada 4:26 am
Thx Pak Wir for updating our knowledge.
Keep on writing…
nailul // Mei 30, 2008 pada 4:28 am
pak, ada literatur ttg jembatan steel box girder?
ucen // Mei 31, 2008 pada 2:31 pm
wah. . iyah jg ya. . hmm brarti yang dmaksudkan dosen saya mungkin boros dimensi x yah pak?? hehehe. . iyah setuju bgt, kalo masalah kelangsingan/dimensi yang kecil bisa diatasi ama bracing, tapi kalo tarik juga ribet di sambungan yah. . huhuhu. . teknik sipil memang menarik yah. . hehehe
makasih yah pak atas penjelasannya . . makasi jg udah bikin saya makin tertarik ama struktur. . hehehe. . biarpun masi rada takut mu ngambil T.A struktur. . keep on writing pak!!!
adin // Juni 24, 2008 pada 4:48 am
selamat siang pak wir n pengunjung setia blok ini;
saya pernah mendesain jembatan lengkung beton seperti yang ada di gambar diatas, ( Tugas akhir) dengan bantuan program SAP untuk mencari analisisnya dan didesain dengan cara manual, untuk beban hidup saya menggunakan beban berjalan sesuai dengan yang ada dibuku p’wir,
Setelah saya melihat hasil output SAPnya ternyata perilaku balok induk dibawah lantai jembatan sama dengan perilaku kolom yaitu memiliki gaya aksial dan momen yang cukup besar, pertanyaan saya boleh g balok tersebut kita rencanakan seperti kita merencanakan kolom (diagram Mn vs Pn) atau memang harus direncanakan dengan pendekatan kolom ?
termakasih n nuwuun…
wir // Juni 24, 2008 pada 11:34 am
sdr Adin,
Berbicara tentang jembatan lengkung beton, jika tumpuan bawahnya terpisah dari pondasi. Seperti foto jembatan di jawa tengah (tumpuan sendi rol) , maka tanpa dihitungpun dapat diketahui bahwa pelengkung atas dominan aksial tekan, sedangkan balok utama selain ada lentur juga ada gaya aksial, tapi tarik.
Jadi karena gayanya tarik maka perlu perhatian khusus yaitu detail penulangannya yang harus continuous.
Pada prinsipnya pakai diagram interaksi bisa juga, tetapi yang memasukkan parameter tarik, umumnya khan hanya tekan dan lentur.
Jika gaya tariknya besar, sebaiknya pakai prestressed, kenapa karena kalau reinforced concrete biasa, terhadap beban tari dapat mengalami retak sehingga harus di check lebar retaknya, jika tidak dan betonnya retak cukup besar, jangka panjangnya ditambah dengan faktor creep dan shrinkage maka cenderung bertambah lebar retaknya. Bisa-bisa karat, wah gawat kalau udah begitu. Untuk amannya ya PC tadi. Jika dikasih PC maka prestressed yang diberikan harus lebih besar dari gaya tarik yang terjadi sehingga pada beton selalu ada dalam kondisi tekan.
Jadi untuk mendesain, selain melihat gaya-gaya juga penting melihat karakter strukturnya. Begitu Adin.
Tinggalkan Komentar