Ada beberapa mahasiswa UPH yang mengambil program dual-degree, International Civil Engineering Management, kerja sama dengan Hanze University Groningen di Belanda. Pada program tersebut, mahasiswa UPH selama semester 6 dan 7, yaitu satu tahun, belajar di sana (Groningen Belanda). Selain UPH, universitas lain di Indonesia yang melakukan kerja sama dengan Hanze ada beberapa, yaitu Universitas Trisakti (Jakarta), UNPAR (Bandung) dan PETRA (Surabaya).
Program tersebut merupakan opsi lain dari kurikulum pendidikan yang diberikan di Jurusan Teknik Sipil UPH. Disebut opsi, karena pilihan saja, untuk mengikutinya perlu biaya khusus, yang berbeda dengan reguler. Oleh karena itu, tidak pada setiap angkatan ada mahasiswa yang tertarik mengikutinya. Setelah lama kosong, ternyata tahun ini cukup banyak mahasiswa yang tertarik mengikuti program tersebut, salah satunya adalah Ardhika.
Meskipun sudah di negeri keju, Ardhika ketika ada yang mau ditanyakan, ternyata lebih suka tanya dosennya di Indonesia. Coba perhatikan emailnya berikut.
Selamat malam Pak WIr, apa kabar ?Pak, mau nanya nih, kelebihan dari hammering pile itu apa ya ? Soalnya kami dapat project buat bangun underground parking gt. trus musti tentuin metode pondasinya. Jadi perlu tahu keuntungan dan kekurangannya gitu.
Makasih banyak Pak Wir.GBU.regards,
ardyka
Itulah dampak internet, karena tersedia email maka bertanya via email ternyata lebih mudah daripada harus ke dosen barunya di Groningen. Begitu ya Ardhika.
Tetapi adanya email tersebut pada satu sisi lain juga menunjukkan bahwa dosennya Ardhika yang di Indo masih mendapat kepercayaan, meskipun Ardhikanya sudah di Belanda. Nggak kalah gitu. He, he, he GR.
Oleh karena itulah, maka dengan senang hati aku berusaha menjawabnya. Tapi di blog ini aja ya, sekaligus buat teman-teman yang lain yang mungkin memerlukannya, sekaligus kalau ada yang kurang tepat dapat dikoreksi atau menambahi jika ada ahli lain yang membacanya.
Untuk dapat menjawab secara tepat pertanyaan Ardhika, maka perlulah memahami arti istilah hammering pile, apakah itu sama dengan driven pile atau pile driver atau tiang pancang yang biasa kita kenal. Terus terang saya sendiri tidak familier dengan istilah tersebut.
Tidak ada pernyataan jelas yang menyebutkan bahwa hammering pile tidak sama dengan driven pile. Jadi dengan demikian, dianggap keduanya mengacu pada suatu sistem pondasi yang sama, yaitu pondasi yang pemasangannya dengan alat tekan/pukul atau pancang.
Jika mengaitkan istilah hammering pile dengan underground parking, maka itu tentu tidak saja membahas tentang pondasi, tetapi juga bisa dikaitkan dengan retaining wall, itu lho dinding penahan tanah. Padahal jika dinding penahan tanahnya adalah steel sheet pile, maka jelas satu-satunya cara pemasangannya adalah dengan hammer (pemukulan / penekanan).

Pemasangan steel-sheet-pile dengan vibro hammer
Saya kira pemakaian sheet-pile atau sistem penahan tanah kedap air di sana (Belanda) adalah mutlak khususnya untuk proyek underground seperti yang akan dibahas Ardhika. Dari sisi kecepatan maka jelas ini lebih menguntungkan jika dibanding cast-in-situ concreting system, seperti contiguous bore pile atau diaphragm walls. Ke dua sistem tersebut tidak memakai hammer tetapi auger untuk pelaksanaannya.

Pelaksanaan contiguous-bore-pile (Sumber : Land Transport Authority)

Pelaksanaan system diaphragm walls (sumber : Soletanche Bachy)
Bisa juga sih digunakan precast sheet pile, tetapi kalau masalah kekedapan terhadap air, rasanya steel sheet pile lebih baik karena interlocking-nya yang kuat dan presisi, dari besi baja sih buatnya.
Dari gambar juga terlihat bahwa steel-sheet-pile yang dipasang dengan hammer, mempunyai ketebalan yang relatif tipis, dan karena tidak ada tanah yang dibor ke luar jika memakai auger (mesin bor) maka jelas proyek yang memakai hammer relatif lebih bersih. Ini tentu faktor penting jika proyek yang dilaksanakan berada di daerah perkotaan atau ramai. Hal-hal seperti ini juga penting lho dipikirkan dan tidak hanya berkaitan dengan kekuatan dan kekakuan. Otomatis biaya yang diperlukan untuk pembersihan relatif lebih kecil.
Bising. Ini salah satu kelemahan jika digunakan metode pelaksanaan yang memakai hammer, yaitu relatif lebih bising. Apalagi jika memakai diesel hammer tipe impact. Nggak bisa tidur lho. Bayangin jika proyeknya dekat dengan tempat ibadah, misalnya mesjid. Jelas nggak bisa dilakukan pelaksanaan pada hari jumat, tahu khan.
Dalam perkembangannya, dibuat berbagai macam tipe hammer, selain terjadi peningkatan dari sisi efisiensi pemancangan, tetapi kebisingan yang dihasilkan berkurang. Type-type hammer yang ada sekarang antara lain adalah:
- impacting hammer (hidrolik atau diesel)
- vibrating hammer
- pressing device
Sistem yang terakhir memberikan tingkat kebisingan yang rendah. Tapi tentu kapasitasnya atau daya tekan yang dapat diberikan lebih rendah dari yang lain. Sistem ini juga efektif digunakan pada tanah yang terpadatkan, baik clay, sand atau gravel. Juga jika tidak mau terjadi getaran yang merusak kepada bangunan-bangunan disekitarnya.
Kita tadi telah membahas hammer untuk retaining wall. Selanjutnya kita akan membahas hammer pada pondasi. Pondasi dalam yang tidak memakai hammer , adalah pondasi tiang bor, untuk pelaksanaannya memakai auger atau mesin bor. Ini bentuk salah satu mesin bor yang cukup modern dari Hammer & Steel.
Selanjutnya, sistem pondasi dalam yang memakai hammer kita sebut tiang pancang, sedangkan yang pakai bor, kita sebut tiang bor saja. Untuk membahas perbedaan antara kedua jenis tersebut tentu perlu dipandang dari sudut mana dulu. Jika dari segi pelaksanaannnya maka perbedaan kira-kira sama jika diterapkan pada struktur retaining wall, misal dari segi kebisingan, getaran.
Jika dari sisi kekuatannya, maka tiang pancang dapat digolongkan sebagai displacement pile, dimana rekatan pada sepanjang tiang cukup efektif untuk diperhitungkan, sedangkan tiang bor termasuk sebagai non-displacement pile, rekatan disekeliling tiang kurang efektif. Bayangkan saja jika anda memasang paku pada kayu, bandingkan jika langsung di palu atau dibuat lobang dengan bor terlebih dahulu. Beda khan. Ya seperti itulah prinsipnya.
Jadi tiang pancang dapat secara efektif memanfaatkan end-bearing dan friksi, tentu saja ini tergantung dari jenis tanahnya bukan. Sedangkan tiang bor maka kekuatan utama didasarkan pada end-bearing. Jadi kalau tanah keras sangat jauh di bawah tanah atau bahkan tidak ada sama sekali tanah kerasnya (SPT > 40) sehingga hanya bisa memanfaatkan kekuatan lekat (friksi) tanah maka jelas sistem pondasi yang dapat digunakan adalah tiang pancang. Kalau memaksa memakai tiang bor, bisa-bisa hilang itu pondasinya masuk ke bawah karena berat sendirinya.
Sistem pondasi tiang pancang mempunyai keterbatasan, baik akibat dimensi tiangnya agar dapat diangkat, maupun kemampuan alat pancang itu sendiri dalam memancang tiang. Oleh karena itu pondasi tiang pancang ukuran dan kapasitasnya terbatas. Sehingga jika diperlukan suatu tiang pondasi dengan kapasitas besar maka dipilihlah pondasi tiang bor, karena kalau memakai tiang pancang diperlukan banyak tiang pancang sehingga pile-cap-nya juga besar (luas).

Pondasi tiang bor ber diameter besar
Dengan alasan itu pula (bebannya besar) maka pondasi tiang bor dipakai pada proyek jembatan Suramadu yang menghubungkan Jawa-Madura. Adapun tekniknya cukup baru juga yang mengadopsi peraturan Cina, yaitu memakai grouting pada dasar pondasi.
O ya, kadang-kadang diperlukan juga suatu pondasi dengan kemirangan, ini biasa dipakai di pelabuhan, sedangkan di proyek gedung sangat jarang. Jika itu diperlukan maka hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara pemancangan (pakai hammer).

Hammer untuk pemancangan miring.
Saya kira itu dulu cerita tentang hammering.
Ada juga beberapa link yang terkait, jika ingin tahu lebih banyak tentang pondasi tiang :
- Pile Foundation Design: A Student Guide
- FHWA Pile Driving Inspector’s Tutorial
- FHWA Pile Foundation Design Example
- Design of Pile Foundations
Jadi apakah pondasi tiang pancang atau pondasi tiang bor, kesemuanya memerlukan teknologi bantu khusus buatan barat (Eropa atau Amerika).
Tetapi jangan salah, tiada akar rotanpun jadi, di Asia, kalau tidak salah dari Thailand, saya menemukan ‘teknologi‘ padat karya untuk hammering pile yang cukup menarik.
Ini cocok dengan prinsip gotong royong lho. Lihat saja :









45 tanggapan so far ↓
ivan // 13 September 2008 pada 08:53 |
Luar biasa pak jawabannya. Sangat jelas, disertai dengan gambar2 dan link sehingga jawabannya semakin jelas.
Bravo pak wir
ivan // 13 September 2008 pada 08:58 |
Maaf pak, menurut saya ini ada sedikit kesalahan karena sepengetahuan saya Ardyka sendiri adalah angkatan 2006 sehingga program ini diambil pada semester 5 dan 6
Ardyka // 13 September 2008 pada 12:51 |
Saya dan ivan juga mendapat tugas yang sama Pak Wir. Hehe..
Terima kasih banyak pak
wir // 13 September 2008 pada 13:53 |
@ivan dan ardyka
Tugas yang sama ? Berarti kamu berdua di Groningen ?
O iya. Ivan khan dari Petra, yang sama-sama punya program dual-degree dengan Hanze University. Bikin dong reportase kamu di sana, pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan pendidikan teknik sipil. Siapa tahu memberi banyak pencerahan teman-teman di tanah air.
Note: kalau kirim foto, jangan lupa selipkan dirimu, biar tidak dikira nyomot di internet.
Panji Utomo // 13 September 2008 pada 16:52 |
Selamat Malam dan salam sejahtera Pak Wir.
Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih karena artikelnya yang bagus dan gambarnya yang juga bagus. Saya baru kali ini melihat gambar tiang pancang yang dipancang miring.
Saya ingin menambahkan sedikit. Untuk pondasi tiang, sebaiknya dilakukan pada Nspt maksimal <40. Pertimbangannya, jika tanah terlalu keras, maka tiangnya bisa rusak akibat pukulan hammernya.
Sedangkan untuk sheetpile, cara memasukkannya dengan cara digetar (seperti gambar yang bapak berikan). Dan digunakan pada tanah yang lunak dan jenuh air (jika tidak jenuh dan rigid, maka dapat digunakan soldier pile). Dan setau saya, Nspt yang dapat ditembus sheet pile itu maksimal 20.
Cara pemasangan tiang pancang akan memberikan kekuatan yang berbeda. Tapi saya tidak tau apakah selisihnya jauh apa tidak. Apakah Pak Wir punya referensi ttg perbedaannya?
Sekian tambahannya. Semoga bermanfaat untuk Pak Wir dan muridnya. Jika ada salah, mohon dikoreksi.
Terima Kasih
Jerry // 14 September 2008 pada 15:56 |
Halo Pak Wir,
Penjelasannya lengkap sekali.. Tetap semangat berkarya, okk..
Hanya ingin menambahkan sedikit:
Tiang pancang miring /batter pile/raked pile selain umum digunakan untuk dermaga, juga sering digunakan pada pondasi abutment dari jembatan beton. Kemiringan dari pondasi bervariasi tergantung dari kebutuhan gaya lateral. Umumnya 1:10 – 1:8.
Mengenai pemancangan sheet pile, umumnya memang N-SPT yang bisa ditembus oleh vibro hammer nilainya berkisar di angka 20-30. Untuk meningkatkan kemampuan vibro hammer, dapat pula dikombinasikan dengan water jetting. Sehingga pemancangan tetap dapat dilakukan meskipun tanah yang dipancang tidak jenuh air/rigid.
Demikian tambahannya, mohon dikoreksi jika ada kesalahan. Terima kasih banyak, Pak Wir. Sukses selalu.
Panji Utomo // 15 September 2008 pada 04:13 |
Selamat siang Pak Wir.
Saya ingin menambahkan lagi nih. Saya tuh suka bingung, kenapa untuk jembatan umumnya digunakan pondasi borpile. Dari segi pemasangan kan susah, harus dibor, pasang cassing, mengecornya jg susah, menyediakan beton untuk pengecoran jg susah, (jumlahnya kan besar skali),belum lagi perawatannya. Menurut saya, lebih simple pancang d. Tinggal bawa dan pancang aja, mutu beton juga dijamin oleh pabrik, lebih simpel d.
Lalu dijelaskan oleh kontraktor Suramadu saat kuliah umum di kampus. Katanya, borpile unggul di kekuatan, karena dimensinya bisa sangat besar, dan dapat dibuat presisi posisinya. Benar juga ya, saya baru terpikir jika memancang di laut itu susah untuk presisi.
Yah, tapi semua jenis pondasi. jika dibuat di laut, tetep aja susah ya pelaksanaannya. hehehehe.
Mengenai kategori tiang bor yang Bapak sampaikan, saya juga baru tahu. Hehehehe. Untung ada blog ini, jadi pengetahuan terupdate.
Mengenai tiang pancang, dapat dianalisa besar pukulan, terhadap masuknya tiang pancang, dan kekuatannya denga program Microwave.
Kepada Mas Jerry, terima kasih atas sharingnya. Mau sharing juga nih sedikit. Jika tanahnya bagus, n keras. maka untuk jembatan dapat digunakan pondasi dangkal yang dibuat miring. Besar kemiringannya saya tidak tahu. Mungkin saja sama seperti kemiringan pondasi tiang pancang yang anda sampaikan.
Demikian tambahannya. Mohon koreksinya jika ada kesalahan. Terima kasih Pak Wir.
victor // 15 September 2008 pada 07:34 |
pak Wir, saya mau tanya bagaimana cara mencari daya dukung tiang dari hasil N SPT ?
nailul // 16 September 2008 pada 03:19 |
pak wir tolong dibahas juga ttg steel box girder bridge
SYAFI UDIN // 16 September 2008 pada 05:26 |
PAK WIR SAYA MINTA TOLONG CARANYA MENGHITUNG DAYA DUKUNG TIANG PANCANG WAKTU PELAKSANAAN DENGAN HAMMER JACK,TRIMS
Hardi // 19 September 2008 pada 03:26 |
Pak Wir,
Apakah Bapak tahu supplier atau kontraktor yang dapat menyewakan steel sheet pile?
terima kasih.
Hardi
Adriansyah // 25 September 2008 pada 09:50 |
Pak Wir yth,
ikut nimbrung Pak Wir, …kalau hasil sondir baru menemukan tanah keras sedalam 14 s/d 15 m dengan tekanan N-SPT sekitar 150, kira-kira sistim pondasi apa yang cocok? Minipile,bore pile,hammer pile atau strauss-pile?
Terimakasih Pak Wir,
Adriansyah
helmy darjanto // 29 Oktober 2008 pada 17:06 |
Halo pak Wir, masih ingat saya? Untuk menghitung kuat dukung fondasi tiang (pancang dan bor) berdasarkan nilai N-SPT adalah:
Tiang pancang (tanah lempung)
Qult = alpha * C * As + 9 * C * Ap
dimana
alpha = faktor adhesi (ambil dari API Code)
C = nilai kohesi = 2/3 * N (t/m^2)
As = luas selimut tiang (m^2)
Ap = luas penampang tiang (m^2)
Tiang bor (tanah lempung), sama spt tiang pancang hanya untuk nilai alpha (faktor adhesi) digunakan kurva Kulhawy ‘84 / Reese ‘88.
Tiang pancang (pasir)
Meyerhoff
Qult = 0.2 * N * As + 40 * N * Ap
dimana:
N = nilai N-SPT
40 N < 1600 t/m^2
N ujung diambil = (N1+N2)/2
N1 = nilai rata2 N – 10 D ke atas ujung tiang
N2 = nilai rata2 N – 4 D di bawah ujung tiang
Tiang bor (pasir)
Qult = 0.2 N As + 7-13 N Ap
dimana:
7-13 N < = 400 t/m^2 (Reese + Wright ‘77)
Semoga bermanfaat. Ini saya mengetik sambil sedikit mengantuk kalau ada salah akan saya revisi hehehe…
Salam
Helmy Darjanto
Sekretaris HATTI Jatim
helmy darjanto // 30 Oktober 2008 pada 11:50 |
Definisi SPT (Standard Penetration Test) adalah pengujian kekuatan atau perlawanan tanah terhadap penetrasi sebuah tabung belah baja di dalam lubang bor.
Penetrasi dilakukan dengan menjatuhkan palu seberat 63.5 kg dengan tinggi jatuh 760 mm pada sebuah bantalan. Jumlah pukulan (N) yang diperlukan hingga diperoleh penetrasi sebesar 300 mm disebut perlawanan penetrasi SPT atau nilai N-SPT.
Definisi ini saya jelaskan karena hati2 dengan ungkapan ‘tekanan N-SPT’, ungkapan ini tidak umum akan tetapi yang umum adalah nilai N-SPT.
Nilai N-SPT = 150, biasanya para geoteknik cukup menyatakan > 60 artinya begitu N > 60 penetrasi dihentikan kmd dilanjutkan pengeboran kembali karena jk pemukulan dilakukan melebihi 60 agar memenuhi penetrasi 300 mm maka tabung belah baja nya akan cepat rusak dan juga dalam perhitungan untuk tip pile ada pembatasan nilai N (lihat perhitungan kuat dukung menggunakan nilai N).
Nilai N mencapai 150 maka pemancangan dengan teknik hammer sdh pasti tidak bisa menembus, artinya tiang nya akan rusak dulu, biasanya teknik bor yang dipakai, karena mata bor nya bisa terbuat dari material dengan kekerasan tinggi.
Semoga bermanfaat….
helmy darjanto // 31 Oktober 2008 pada 05:15 |
Benar pak Wiryanto, kita ketemu saat seminar di UPH. Kalau masih sering di Bandung, mampir ke ITB Press, boleh beli
… buku fondasi dinamis/mesin & dinamika tanah karya Masyhur (bukan Mansyur) Irsyam bersama Andhika Sahadewa dan saya. Masih langka (di Indonesia) judul buku spt itu lo …
Salam
HD
Victor // 3 Nopember 2008 pada 05:12 |
Apakah ada teman-teman yang mempunyai API Code?
adrimen sihotang // 1 Desember 2008 pada 08:40 |
Apa kbr pak Wir…Pengalaman sy begini nih pak :
Sy mengerjakan proyek pondasi salah satu perusahaan semen di NAD dengan tiang pancang CSP dia 500 mm, tipe hammer K.45. Panjang tiang pancang yg didesign sebesar 30 mtr dengan asumsi mengharapkan daya dukung tiang berdasarkan friction. Tetapi pada saat pelaksanaan pemancangan, pd kedalaman 7 – 8 mtr tinggi ram stroke piston telah mencapai level G (sdh tinggi banget lho pak), tetapi penetrasi tiang masih 5-7 cm/blow. Mohon tanggapannya…..Trim’s
mulyadi // 5 Januari 2009 pada 08:36 |
mohon bantuan manual book untuk diesel hammer MH ( Mitsubishi) saya punya alatnya tapi tidak punya manual book untuk perhitungan Ring ram stroke, tolong yg lain kalo punya diemail ya. penting soal proyeknya mau jalan.
hade // 7 Januari 2009 pada 03:32 |
@mulyadi
Umumnya perhitungan kuat dukung fondasi tiang pancang (saat pemancangan/dinamis) menggunakan formula modified hilley & enr, dan kobe.
Data yang diperlukan adalah: berat hammer, tinggi jatuh hammer, kalendering (set), efisiensi alat.
Hati2 penggunaan diesel hammer krn sdh tdk diproduk lg shg solusi kanibal sering mmenjadi masalah terhadap nilai kalenderingnya khususnya pd tanah lunak (false set). False set : 10 pukulan sdh 100 pukulan.
Mudah2an bermanfaat.
mulyadi // 7 Januari 2009 pada 06:02 |
kang hade..
Emang sekarang sistem apa yang digunakan untuk pemancangan tiang pancang besar (dia 30 mm keatas )selain menggunakan diesel hammer?
hade // 7 Januari 2009 pada 07:30 |
mas mul…
Saat ini sdh banyak yang menggunakan alat pancang jenis hydraulic hammer. Ketinggian jatuh hammer bisa diatur, dan berat hammer jg bs disetel hingga 8-10 ton.
Sdh bnyak kasus false set akibat penggunaan diesel hammer….
hade // 7 Januari 2009 pada 07:38 |
“Hati2 penggunaan diesel hammer krn sdh tdk diproduk lg shg solusi kanibal sering mmenjadi masalah terhadap nilai kalenderingnya khususnya pd tanah lunak (false set). False set : 10 pukulan sdh 100 pukulan”
Ralat:
False set: 10 pukulan hasil kalenderingnya lebih kecil dr 2.5 cm akan tetapi reboundnya besar–dampaknya kuat dukung tiang jd rendah krn nilai rebound adalah pembagi. Pada tanah lunak hal ini disebabkan efisiensi alat turun. Di lapangan umumnya setelah alat diesel hammer bekerja di atas 100 pukulan, efisiensinya drop…
mulyadi // 8 Januari 2009 pada 07:33 |
terima kasih, pak hade
penggunaan hidraulic hanya terbatas, untuk wilayah tertentu aja. dan biaya mibilisasinya terlalu mahal karena untuk mencapai daya dukung pada tiang besar misal tiang dia 40 cm yang mempunyai daya dukung izin 75 ton, apabila menggunakan faktor keamanan 3 maka tekanan hidraulic yang dibutuhkan lebih dari 225 ton, apa ada hidraulic yang mampu menekan s.d 225 ton atau lebih?
apa sama dengan jack in? soalnya kami mempunya alat jack in (Tekan s.d 80 ton saja)
atau yang dimaksud oleh pak hade hidraulic hammer cara kerjanya dipukul seperti diesel hammer?
apabila pak hade mempunyai jenis HIdrauic Hammer mohon di bantu seperti apa alatnya… tks. alamat email ada di atas tks
alat yang kami miliki seperti ini
http://mulyadibjlpile.wordpress.com/2008/12/27/cari-tiang-pancang-di-samarinda-balikapan-kaltim-kalimantan-timur-kalimantan-selatan-minipile-spundpile-pipa-diesel-hammer-drop-hammer-jack-in-tekan/
hade // 8 Januari 2009 pada 10:19 |
mas mul ysh….
benar hydraulic hammer cara kerjanya spt diesel hammer, bedanya dg diesel hammer adalh penggeraknya menggunakan prinsip hidrollik shg beban & tinggi jatuh hammer dapat diatur disesuaikan dg kuat dukung tiang & dimensi tiang (jk menggunakan diesel hammer, untuk pemmancangan misal large pile dia. 40 cm maka digunakan diesel hammer mitsubishi M45)
hydraulic hammer berbeda dg injection system atau jack in meskipun sama2 menggunakan sistem hidrolis, — jack in ditekan, sedangkan hydr hammer mirip diesel hammer —ditumbuk)
mudah2an bermanfaat.
arie // 10 Januari 2009 pada 02:17 |
Pak wir untuk menentukan type vibro hammer, berdasarkan faktor apa saja?
Untuk mancang sheet pile W500 A 1000
mulyadi // 10 Januari 2009 pada 05:36 |
terimakasih atas bantunya pak hade…
apakan di indonesia hidraulic hammer sudah digunakan? proyek mana ? ada yg punya documentasinya… mohon bantuaan lagi
hatur nuhun
mulyadi // 10 Januari 2009 pada 07:17 |
@ Pak arie
alatnya sy punya.. kavasitas 7,5 ton, kalo pak arie ada proyek di kaltim, bisa saya bantu..
katsu // 6 Februari 2009 pada 05:42 |
bgini pakapa dampak bagi penduduk yang tinggal di lingkungan proyek pembangunan gedung yang menggunakan alat perancang diesel hammer?apakah ada data-data penduduk akibat kebisingan kebisingan alat tersebut?terus apa langkah-langkah penanggulangannyayang dilakukan agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar
acha // 7 Februari 2009 pada 06:28 |
pak, sy adl dosen baru d politeknik bengkalis.
br tmt kuliah pak, mash S-1…
saat ini mhssw sdng ngrjain T. Akhir ny tntng pondasi…
sy mo brtny tntng perhitungan pile cap, daya dukung tanh dng SPT, group pile …
perencanaan kolom dan jmbtn beton…
ad g’ pak buku ny…
mohon solussi ny y, pak…!!!
acha // 7 Februari 2009 pada 06:47 |
sy mmang sudh blajar tntng materi tsb.
tp mnurut sy, materi yg di ajr kurang jlas dan msh bnyk kkurangn ny …
jg cattn sy kurng lngkp…
jelskn y pak sedetail mngkn …
pntng, pak
ad g’ bhn yg bpk pny?
sy kuliah d USU, pak…
mhn infrms ny y, pak…!!!
acha // 7 Februari 2009 pada 06:51 |
sy mo nany lg pak…
bpk pny software ETABS?
klw ad, bs d download g’ pak…
hade // 7 Februari 2009 pada 08:00 |
@acha
nanti sy emailkan materi fondasi dalam spt yg acha inginkan. silakan posting email mu ya….
Salam
HD
acha // 7 Februari 2009 pada 08:05 |
pak, sy mo nany tntng perhitungn atw analisa untuk beton konvensional dan precast…?
ap perbedaan ny dalam desain dll…
d tungg infrms ny, pak…!!!
acha // 7 Februari 2009 pada 08:15 |
ok, pak…
saya minta maaf kalau saya ada kekurangan…
mohon d maklumi …
acha // 7 Februari 2009 pada 08:18 |
email saya :
ahmadsyah_putra_riau@yahoo.com
acha // 7 Februari 2009 pada 08:20 |
terima kasih, pak hade.
acha // 7 Februari 2009 pada 08:56 |
pak, saya mo nanya lagi…
tentang penggunaan serat fiber sebagai tulangan beton…
apakah sudah ada penelitian yg berkaitan dengan hal tersebut…
mohon informasinya…!!!!
wir // 7 Februari 2009 pada 10:15 |
@Acha
Wah Acha, kelihatannya kamu ini tipe orang yang cepat berkembang, tidak mudah menyerah. Ada juga lho ketika aku kasih komentar, lalu sakit hati. Mutung.
Tentang serat fiber, saat ini ada beberapa mahasiswa Jurusan Teknik Sipil UPH, dibawah arahan prof Harianto Hardjasaputra sedang banyak melakukan penelitian tersebut. Ada yang pakai baja, ada pakai serat alam (dari karung goni, atau dari serat bambu), ada juga yang dari kemasan alumunium (serta alumunium). Pokoknya menarik. O ya, kalau tidak salah, mereka nanti akan juga presentasi di seminar KONTEKS3 (unjuk gigi).
Tentang beton berserat fiber itu tidak untuk menggantikan tulangan beton. Beda fungsi, kalau tulangan beton adalah tulangan dalam artian makro, sedang serat adalah tulangan dalam arti mikro, yaitu hanya meningkatkan kuat tarik beton. Efeknya misalnya kekuatan geser meningkat atau daya tahan retak lebih baik. Tapi kalau untuk balok ya harus tetap pakai tulangan, kalau tidak yang namanya bukan beton bertulang.
Ok.
acha // 8 Februari 2009 pada 05:58 |
pak, saya mau nanya lagi,
tentang ampas tebu sebagai campuran beton…
pernah nggak UPH melakukan penelitian seperti itu atau …
ada nggak hasil penelitian yang baru yang dilakukan UPH untuk meningkatkan mutu beton….
atau ada nggak judul yang bagus untuk penelitian tentang meningkatkan mutu beton…
acha // 8 Februari 2009 pada 06:01 |
pak, punya nggak video pelaksanaan konstruksi beton untuk skyscraper dengan menggunakan precast?
mulyadi // 9 Februari 2009 pada 00:21 |
@acha
saya punya perhitungan untuk preestress untuk tiang pancang. nanti saya email.
salam pak wir.
mulyadi // 11 Februari 2009 pada 06:48 |
Salam Pak Wir.
Saya Mulyadi dari samarinda, kerja di kontraktor Pemancangan di kaltim.
sy punya masalah dengan hasil pemancangan minipile, setelah di test PDA, selalu sambungan yang menjadi masalah yang isinya ” sambungan terjadi kerusakan” atau ” sambungan kurang sempurna” padahal dalam pekerkerjaan kami bennar-benar memperhatikan.
yang saya tanyakan apakah hasil PDA tersebut betul-betul bisa mengetahui kerusakan tiang pada sambungan? apakah ada test lain untuk mengetahui keutuhan tiang? kalo kalibrasi alat biasanya jangka waktunya berapa lama? soalnya saya liat kalibrasi alat PDA yang digunakan sudah lebih satu tahun yang lalu. mohon bantuannya,
terima kasih pak wir
HaDe // 21 Maret 2009 pada 03:55 |
@Mulyadi
Pengalaman saya, hampir semua produk tiang mini bermasalah pada sambungan. Mulai dari tebal plat sambungan, mutu plat, tidak adanya throat pada plat sambungan shg pengelasan dg prinsip butt weld tidak bisa dilaksanakan. Belum lagi permasalahan pengelasan angker dg plat sambung, sehingga memang kelemahannya pada sambungan.
Utk mengetahui integritas/keutuhan tiang umumnya cukup menggunakan Pile/Sonic Integrity Test (PIT/SIT), prinsipnya adalah perambatan gelombang. jika ada kerusakan gelombang ada yang dipantulkan kembali shg adanya gap atau kerusakan pada tiang dpt dideteksi.
Semoga ada manfaat….
dedi // 19 Mei 2009 pada 06:52 |
P’Wir salam kenal,
Dalam pelaksanaan pemancangan spun piles dia.40cm, saya menggunakan hydraulic hammer kapasitas ramp weight=3 ton, ramp stroke=1.2m, trus di gedung sebelah proyek yang berjarak 17m, timbul getaran yang lumayan bikin khawatir pemilik gedung, sebaiknya solusi u/ mengurangi getaran yang timbul seperti apa ya? seberapa efektif ya kalo dibuatkan saluran/galian tanah sebagai usaha mereduksi getaran?
makasih pak..
Nuryadi // 12 Juni 2009 pada 04:14 |
Pak Wiryanto, perkenalkan nama saya Nuryadi, background pendidikan saya teknik sipil, namun telah pensiun dari PLN tahun lalu. Saat ini masih diminta untuk membantu PLN Jasa Manajemen Konstruksi, sebuah unit PLN yang relatif baru yang bertugas melakukan supervisi konstruksi pada proyek-proyek PLN.
Saya tertarik akan berbagai informasi dan ulasan tentang dunia teknik sipil di blog bapak dan mudah2an akan banyak membawa manfaat bagi siapapun khususnya mereka yang bergerak di dunia teknik sipil.
Pada kesempatan ini saya mau mohon ijin kepada bapak untuk mengambil gambar atau tulisan yang saya perlukan untuk keperluan knowledge sharing dengan para supervisor PLN dilapangan yang mengawasi proyek-proyek PLN khususnya pada proyek akselerasi 10.000 MW yang mungkin juga bapak sudah ketahui melalui berbagi media masa. Untuk itu saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setulus tulusnya kepada bapak.
Salam Nuryadi