Seperti biasa, komentar yang masuk cukup bervariasi. Salah satunya ini.
Sore Mr Wiryanto..boleh numpang nanya.. ?
saya menemukan suatu kasus dimana ada sebuah gedung yang sudah berumur +/-20 tahun, terjadi penurunan/lendutan pada tengah balok tepat di atas entrance (pintu masuknya).
agar pintu tetap bisa digunakan maka setiap kali pintunya seret (pintu kaca) maka mereka (pemilik gedung) membobok sisi bawah balok/bagian yang melendut tersebut sampai sekarang sudah terlihat tulangannya. memang bentang antar kolomnya sangat besar.
Nah, kira2 ada suggest pak ? terlebih lagi ada rencana untuk merubah fasade bangunan tersebut (pakai curtain wall)…
terima kasih
taufik
Suatu kasus yang menarik, apalagi ternyata masalah pak Taufik di atas juga telah dikirim ke milis dan telah banyak mendapat tanggapan, yang umumnya berupa resep “to the point”.
Oleh karena itu saya mencoba memberi suatu pemikiran yang berbeda, saya akan mencoba masuk pada falsafah permasalahan, baru kemudian mencoba mencari solusi. Moga-moga membantu.
Ada balok beton yang berumur 20 tahun melendut, tapi belum runtuh. Meskipun berperilaku daktail, tetapi adanya lendutan tersebut telah menunjukkan bahwa dengan konfigurasi beban yang ada, balok tersebut tidak berfungsi dengan baik. Apabila tidak diperhatikan dengan baik, yaitu dilakukan perawatan dan perbaikan, maka keruntuhan hanya masalah waktu saja. Moga-moga pada saat runtuh nanti, tidak ada orang dibawahnya.
Bagi pengawas bangunan, hal tersebut patut diperhatikan, khususnya bila itu bangunan publik. Pemilik bangunan diberi pengertian. Bila tidak peduli, dan ternyata nanti menimbulkan bencana maka pemilik bangunan tersebut bisa dituntut. Bila karena alasan biaya belum ada, maka minimal perlu dilakukan tindakan-tindakan yang mengurangi resiko timbulnya bencana itu.
Seperti diketahui bahwa lendutan merupakan suatu indikasi ketidak-mampuan suatu struktur bekerja. Beton bertulang merupakan suatu struktur yang unik, meskipun balok pada umumnya bentuknya hanya persegi saja, tetapi kadang-kadang para perencana lupa, bahwa tidak hanya penulangannya memenuhi syarat, tetapi juga perlu memikirkan dimensi penampang yang dipilih, khususnya jika menghadapi bentang yang besar.
Kenapa ?
Karena dalam analisis strukturnya, inersia balok umumnya belum memperhitungkan crack. Adanya crack maka akan timbul redistribusi momen kelapangan. Sehingga ada kemungkinan, momen rencana dengan momen aktual yang terjadi berbeda. Selain itu, dengan bertambahnya waktu, maka beton desak bagian atas dapat mengalami creep, yaitu berdeformasi pada beban konstan dengan bertambahnya waktu. Pengaruh creep dapat dikurangi jika pada bagian desak dipasang tulangan desak yang mencukupi. Konsep yang terakhir ini khan biasanya tidak dipahami oleh engineer muda, yang hanya berpedoman pada perhitungan lentur penampang tunggal, dimana beton desak secara teori nggak perlu penulangan.
Oleh karena itulah, maka pada perencanaan balok bertulang untuk bentang besar maka harus cukup konservatif, pertama-tama haruslah dipilih dimensi yang cukup tinggi (ikuti ratio bentang dibanding tinggi sesuai persyaratan SNI untuk lendutan balok tanpa dihitung secara khusus), selanjutnya pastikan rasio rho tulangan terpasang tidak mepet. Biasanya saya ambil 0.3 – 0.4 rho balance.
Sekarang kembali ke masalah pak Taufik.
Balok melendut, artinya balok gagal terhadap beban yang diberikan (ini beban tetap atau vertkal). Selidiki, beban apa yang bekerja di atas balok tersebut, bisa nggak jika dikurangi, misalnya jika lantai maka beban mati tambahan dari finishing diganti dari ubin ke karpet. Dengan mengurangi beban yang bekerja maka jelas resiko keruntuhan akan berkurang. Mungkin akan lebih gampang kalau diatasnya adalah dinding penuh, karena kalau balok dibawahnya melendut maka dinding akan retak dan membentuk arch (pelengkung) beban disalurkan ke samping. Kalau ternyata, balok tersebut memikul sistem lantai, wah agak pelik juga, apalagi jika itu balok utama yang mendukung lantai.
Saya membaca pada milis, bahwa kerusakan seperti itu akan dapat diselesaikan dengan memberi sika carbon (Sika CarboDur® Carbon Fiber Reinforced Polymer Strip) di bawahnya. Memang sih, sika carbon tersebut banyak digunakan untuk perkuatan, khususnya jika akan ada penambahan beban baru. Dengan catatan bahwa strength yang menentukan, bukan stiffnes. Juga perlu dicatat, karena sika dipasangkan pada bagian tarik, maka beton desak tetap menerima tegangan yang sama, sehingga resiko adanya creep masih dapat terjadi. Jadi yang paling efektif perbaikan yang dikerjakan adalah menambah kekakuan balok tersebut.
Ada dua cara yang dapat digunakan, cara aktif dan cara pasif. Aktif adalah dengan memberi eksternal prestresed. Tapi cara ini juga beresiko, apalagi jika mutu beton rendah, maka bisa saja tambah rusak karena adanya gaya internal tambahan pada salah satu sisi penampang. Maka cara yang aman adalah cara pasif, yaitu memberi perkuatan tambahan di bawah balok tersebut.
Agar perkuatan tambahan tersebut dapat bekerja menerima beban-beban yang sedang bekerja, maka proses pemberian lawan lendut dengan mendongkrak (jacking) balok adalah mutlak. Karena jika tidak, maka perkuatan tersebut hanya efektif untuk beban baru tambahan, atau baru efektif jika balok yang lama sudah rusak. Jika tidak diberikan lawan lendut maka dalam perencanaannya maka perkuatan tambahan tersebut harus dihitung mandiri (beton lama tidak bekerja).
Jika beton lama dapat bekerja bersama-sama dengan beton baru atau struktur baja yang baru maka proses jacking (lawan lendut) harus dikerjakan terlebih dahulu. Hati-hati dalam merencanakan pendokrakan, jangan sampai merusak sistem yang ada.
Agar kesatuan antara struktur perkuatan yang baru dengan beton bertulang yang lama cukup baik, maka perkuatan yang umum di pakai adalah memakai beton tembak atau shotcrete atau gunite. Jadi nggak bisa seperti mengecor beton biasa. Lha jadi inget dulu di Padang, waktu mengevaluasi kantor semen padang yang kebakaran. Perbaikan juga pakai itu.
Pakai tambahan profil baja juga bisa, masalah yang utama adalah bagaimana menyatukan keduanya. Ini biasanya problemnya. Jika hanya dihitung mandiri, maka dengan memberi non-shrink-groute di antara profil dan beton sudah cukup, tetapi agar bekerja sebagai komposit maka interfacenya perlu dipikirkan dengan baik.
Tapi ingat, semua itu perlu jacking dulu ya.
Ya saya kira itu ide perbaikannya. Tapi ingat, kondisi di atas perlu dievaluasi dengan benar, karena umumnya harganya bisa lebih mahal dibanding mencor baru lagi. Proses retrofit jelas lebih rumit, mahal. Jadi setiap tindakan yang akan dikerjakan perlu dievaluasi plus dan minusnya dengan baik.








24 tanggapan so far ↓
harjanto // 10 Nopember 2008 pada 17:17 |
ada pintu di tengah balok, pintu itu sekalian aja dibuat jadi struktur penahan balok, jadi balok tidak melendut lagi, misalnya kusen pintu dari besi WF, tinggal penyesuaian aja agar dari segi arsitek tidak terlalu parah.
Willyam // 11 Nopember 2008 pada 06:19 |
Pak Wir, maksudnya crack apa yah…? Kok aku belum pernah dengar waktu belajar Struktur beton bertulang 1 dan 2…?
Jadi keingat crack untuk software bajakan (hehehe…!). Apa ada hubungannya yah…?
James // 11 Nopember 2008 pada 09:11 |
Hahaha, dari milis apa nih #konstruksi yah pak?
Saya setuju banget dengan salah satu statement bapak diatas, perkuatan yg dilakukan, harus diberikan pada kondisi awal (kondisi balok sebelum melenduk) agar perkuatan bukan bermanfaat setelah balok tersebut melendut lebih jauh/rusak
Dalam kasus itu, mau diubah facade gedungnya, ada indikasi mo ada pengalihan/peremajaan fungsi gedung, takutnya beban barunya melebihi beban rencana aj
Dalam kasus pak taufik (apalagi bangunan tua yg dibangun 20 tahun lalu), redistribusi momen pasti sudah terjadi, tapi sejauh apa, sulit untuk diketahui
Sisi positifnya, untungnya perilaku baloknya daktail. Tapi tetep aj, klo dsuru masuk si ogahh
harjanto // 11 Nopember 2008 pada 13:29 |
Benar pak Wir, setuju banget ama pendapat Bapak, akan ada momen negatif (yang dulunya momen positif) di tengah bentang balok pada tumpuan, akibat pintu sebagai struktur pendukung.
Maksud saya ini sebagai salah satu ide penyelesaian saja, detailnya perlu diselesaikan oleh structural engineer, misalnya pembesian balok existing harus diketahui, kalau gambar as built drawing ga ada, ya perlu dilakukan pemotretan x ray agar isi besi bisa diketahui, trus dihitung momen2 yg timbul akibat perubahan kerja struktur akibat tumpuan baru ini dan akibat tambahan beban baru (curtain wall), kekurangan pembesian yg terjadi, bisa diatasi dng pemberian CFR Sika pada bagian atas dan bawah balok, demikian juga untuk pondasi, (seperti yg diingatkan oleh Pak Wir), juga harus diperhitungkan beban yg timbul pada kolom WF(sebagai kusen pintu), perlu dibuatkan pondasi baru untuk menahan beban ini.
Dengan berkurangnya bentang balok karena ada tumpuan baru ini, rasanya struktur akan lebih aman.
Ivan // 12 Nopember 2008 pada 19:38 |
Salam sejahtera.
Kasus ini merupakan kasus yang menarik. Akan bisa lebih menarik lagi apabila disertakan data-data yang lengkap mengenai bangunan tersebut. Dengan diberikannya data yang lengkap saya yakin pemberian solusinya akan lebih tepat sasaran.
Pak, apakah saya bisa mendapat informasi tentang bagaimana pemotretan X-Ray apa beton dilakukan? Yang saya ingin ketahui adalah alat apa yang digunakan, hasil apa yang didapatkan, biaya yang diperlukan dan apakah ada teknik lain yang digunakan untuk menganalisa keadaan bangunan tanpa asbuild drawing.
mufti // 13 Nopember 2008 pada 03:57 |
kepada pak wiryanto.. saya mau minta bantuannya mengenai “apa pengaruh sengkang pada sendi plastis”? pada struktur bangunan beton bertulang tentang konsep bangunan tahan gempa.
terima kasih banyak sebelumnya atas bantuannya..
rohmad // 14 Nopember 2008 pada 06:36 |
siang pak Wir,
Moga sehat selalu. Saya ada pertanyaan nih pak, biasanya saya mendesain gedung, tapi sekarang saya mau menganalisa existing building pake sap 2000 atau etabs, kalo untuk tulangan kolom saya asumsikan 1% dari luas bersih penampangnya, tapi kalo untuk balok gmn caranya saya bisa tau itu aman nggaknya? kan nggak mungkin harus membongkar balok yang ada… tolong di bantu ya pak (maklum pak, anak fresh graduate…:) )
makasih
budi // 20 Nopember 2008 pada 04:39 |
maksih ya pak atas semua ilmu yang bapak bagi bagi kami umat teknik sipil,pak kalo balok untuk jembatan kabel prilakunya gimana dan perencanaan disignnya bagaimana?apakah sa dengan jembatan yang lain?
Y.W. // 21 Nopember 2008 pada 04:40 |
Selamat siang pak Wiryanto,
saya ingin tanya pak , bagaimana menghitung Momen lentur ultimit untuk balok T ( balok komposit), jika f’c flens nya berbeda dengan f’c web nya?
dengan kata lain badannya di cor duluan dengan f’c 35 MPA,dan slab lantainya di cor kemudian dengan f’c 20MPa.
sebelumnya saya ucapkan terimakasih..
andrik sugiarto // 23 Nopember 2008 pada 09:33 |
Pak Wir, saya akan mencoba menjawab pertanyaan mas Mufti,
Saya mahasiswa S-1 T.Sipil ITS. Berdasarkan pengetahuan yang saya dapatkan. Pengaruh sengkang pada sendi plastis pada struktur beton bertulang tahan gempa adalah mencegah terjadinya gagal geser pada daerah sendi plastis.
Penjelasannya begini :
Pada struktur beton yang direncanakan memikul beban gempa, maka momen maksimum (akibat beban gempa) terjadi pada ujung2 hubungan balok kolom. Momen2 inilah yang memungkinkan terjadinya sendi plastis. Sendi plastis terjadi karena tulangan pada ujung balok sudah tidak mampu lagi menahan gaya gempa (Momen nominal telah terlampau oleh momen ultimate akibat gaya gempa). Karena sudah tidak mampu lagi menahan momen ultimate tadi, maka struktur akan meneruskan momen tadi dalam bentuk rotasi. Hal inilah yang menjadi dasar perencanaan sengkang.
Berbeda dengan struktur beton biasa, pada struktur beton bertulang tahan gempa. Khususnya pada balok perencanaan tulangan geser tidak didasarkan pada gaya geser hasil analisa struktur. Gaya geser direncanakan berdasar dari Mpr yang dihitung dari mengalikan Momen nominal (Mn) pada ujung2 balok dari tulangan terpasang dengan 1,25 (ini karena fy dari tulangan tersebut sudah ditingkatkan 1,25 kali).
Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan geser dibuat lebih kuat dari pada lenturnya. Itu berarti gagal lentur akan mendahului gagal geser. (Ingat ! Gagal lentur = tidak tiba2 dan ada peringatan dengan lendutan/deformasi, sedangkan gagal geser = tiba2,cepat dan tidak ada peringatan lebih dahulu, sehingga lebih berbahaya).
Kembali ke pengaruh sengkang, setelah didapatkan Mpr, maka selanjutnya dicari gaya geser rencana (Ve) berdasarkan pada Mpr tadi. Sebagai mana kita ketahui bahwa balok telah mengalami sendi plastis, maka untuk mencari gaya geser rencana bisa dilakukan dengan statika sederhana (balok di atas 2 tumpuan). Tumpuan dalam hal ini adalah sendi plastis tadi (Lihat Gambar 41 SNI-03-2847-2002 )
Setelah didapatkan gaya geser rencana (Ve), maka dapat diketahui kebutuhan sengkang yang diperlukan. Sehingga, akan didapatkan sengkang yang lebih berat (rapat) dari pada gedung yang tidak direncanakan sebagai struktur tahan gempa.
Jadi kesimpulannya pengaruh sengkang pada sendi plastis adalah menghindarkan struktur tersebut dari gagal akibat gaya geser. Untuk lebih jelas Mas Mufti bisa membaca SNI-03-2847-2002 pasal 23.3(3) atau Buku PERENCANAAN
STRUKTUR BETON BERTULANG
TAHAN GEMPA karangan Prof. Rachmat Purwono.
Selain itu, dari penelitian didapatkan bahwa pemberian sengkang yang cukup pada daerah sendi plastis akan memberikan ketahanan struktur untuk tidak segera gagal pada saat menerima beban gempa. Karena sengkang dapat memberikan efek pengekangan pada beton. Inti beton yang dipasangi sengkang yang cukup seolah2 seperti ‘dipeluk’ agar tidak mudah keluar dan hancur pada saat terkena beban gempa berlebih. Dengan begitu struktur akan bertahan dan tidak segera runtuh.
Intinya dari kedua penjelasan tadi, manfaat yang didapatkan adalah penghuni gedung masih mempunyai waktu untuk menyelamatkan diri ketika terjadi gempa. Hal ini sedah sesuai dengan falsafah dasar dari perencanaan struktur tahan gempa yaitu pada gempa kuat struktur boleh mengalami
kerusakan, tetapi tidak boleh runtuh dapat mencegah jatuhnya korban manusia.(SNI-1726-2002)
Sekian mas…Semoga bermanfaat.
Wah..ga kerasa ya,tulisan saya panjang sekali..Mas Mufti bingung ya? yah..maklum lah, kan saya juga masih mahasiswa, belum jadi engineer. Masih belajar nulis. Jadi belum bisa menuangkan ide dengan baik dalam tulisan seperti punya Pak Wir.hehe..
Kalau mas masih bingung kita bisa berdiskusi lagi. Saya bs di hubungi di andrik.themanager@yahoo.com.
Kebetulan saya ada literatur yang mendukung penjelasan di atas..
wir // 24 Nopember 2008 pada 08:29 |
@Y.W
Materi tentang balok komposit cukup menarik. Rasanya saya dapat mendown-load bukunya, yaitu:
“Composite Structure of Steel and Concrete 3rd”, karangan R.P. Johnson, di blog ini juga. Tapi dimana ya, koq lupa. Tapi ada koq.
Buku terbitan tahun 2004 tersebut menurut pendapat saya cukup up-to-dated dan lengkap. Silahkan deh dibaca.
@mufti dan andrik.
“Pengaruh sengkang pada sendi plastik”.
Prinsipnya bahwa pada RC-frame dapat didesain sesuai konsep strong-column-weak-beam untuk mengantisipasi gaya gempa. Artinya kegagalan lentur akan terjadi pada balok terlebih dahulu dan bukan pada kolom. Kegagalan yang dimaksud disini adalah bahwa akibat lentur maka tulangan pada balok mengalami leleh terlebih dahulu. Jadi jelas, kegagalan disini bukan berarti baloknya rontok, tetapi sudah leleh saja maka dianggap gagal. Karena kegagalan tersebut adalah karena leleh, yaitu baja tulangan berdeformasi pada beban konstan. Deformasi akibat lentur tersebut mengakibatkan bagian yang gagal tadi berotasi.
Balok yang dapat berotasi pada saat gagal tersebut disebut sebagai balok daktail, dan itu hanya terjadi jika penampangnya didesain sebagai penampang under-reinforced, keruntuhan dimulai dari tarik (yaitu tulangan) dan bukan betonnya.
Pada kondisi tersebut, bagian beton yang mengalami tarik diabaikan. Beton tarik mengalami crack. Sedangkan beton tekan, tidak mengalami crack (utuh).
Pada kondisi gempa, untuk bangunan gempa, momen yang menyebabkan balok tersebut berotasi arahnya bisa bolak-balik, sehingga beton dapat mengalami tarik pada dua sisi. Jadi jika beton yang mengami crack tadi, ketika terjadi beban bolak-balik (gempa) dan tidak ditahan oleh sesuatu maka dapat jatuh keluar . Disitulah peran tulangan sengkang, yaitu mempertahankan beton yang mengalami crack pada saat terjadi momen bolak-balik. Oleh karena itulah maka kerapatan tulangan sengkang juga menjadi faktor penting dan tidak hanya luasan tulangan sengkang yang dipasang.
O ya, meskipun retak, tetapi jika tertahan oleh sengkang maka beton tersebut masih dapat menerima gaya geser.
Menurut saya disitulah pentingnya sengkang pada sendi plastik.
nivho // 24 Nopember 2008 pada 10:07 |
salam kenal
saya pengen tau banyak ttg lendutan, karena saya ambil judul tugas akhir ttg itu, apa ada yang bisa membantu? klo ada tlng infonya ya
nivho_del_cielo@yahoo.com
tx b4
kirana // 24 Nopember 2008 pada 16:33 |
syallom pak Wir dan engineer lainnya…
Pak, saya ingin bertanya tentang skripsi saya mengenai pelat dua arah..
saya mempunyai konsep skripsi saya dengan membandingkan suatu struktur plat dua arah pada studi kasus bangunan tingkat 3 ( rumah susun ) dengan cara menghitung perencanaan dengan PBI 71 ( dalam hal ini pelat bertumpu pada balok) dan salah satunya saya hitung menggunak prinsip DDM ( pelat tanpa balok )..
dengan catatan dalam studi kasus tersebut masuk pada batasan2 DDM
Apakah konsep saya bisa diangkat menjadi bahan untuk skripsi saya??
Mohon advicenya..
terima kasih
GBU
hendy // 24 Nopember 2008 pada 18:45 |
Syalom pAK WIR..
pertama-tama perkenalkan saya Hendy, mahasiswa semester 9 teknik sipil undip.
begini Pak, sehubungan dengan tugas akhir yang sedang saya kerjakan mengenai komparasi antara critical path method dan line of balance dalam penjadwalan proyek maka, saya mohon bantuannya apakah bapak mempunyai rujukan referensi mengenai metode line of balance.
Saya harapkan sekali bantuan Bapak.
Terima kasih.
Andreas Herjuno // 4 Desember 2008 pada 07:35 |
Syalom…
Mohon penjelasan pak Wir mengenai,
1. apa yang dimaksud dengan non-shrink-groute apakah hal itu semacam joint sealant untuk mengantisipasi retakan?
2. Seingat saya jika struktur komposit yang digunakan pada jembatan diperlukan adanya shear conector apakah bisa dikatagorikan sebagai penanganan terhadap interface antara balok baja & Balok beton?
Thanks
wir // 4 Desember 2008 pada 10:04 |
@Andreas,
non-shrink-groute adalah pasta semen untuk grouting yang ditambah bahan admixture sehingga tidak mengalami kembang susut. Intinya dapat mengisi celah sehingga diperoleh bidang tumpu yang merata. Fungsinya tidak sama dengan shear connector, dan ini bukan membuat jadi komposit. Beda !
kirana // 4 Desember 2008 pada 17:04 |
syallom pak Wir dan engineer lainnya…
Pak, saya ingin bertanya tentang skripsi saya mengenai pelat dua arah..
saya mempunyai konsep skripsi saya dengan membandingkan suatu struktur plat dua arah pada studi kasus bangunan tingkat 3 ( rumah susun ) dengan cara menghitung perencanaan dengan PBI 71 ( dalam hal ini pelat bertumpu pada balok) dan salah satunya saya hitung menggunak prinsip DDM ( pelat tanpa balok )..
dengan catatan dalam studi kasus tersebut masuk pada batasan2 DDM
Apakah konsep saya bisa diangkat menjadi bahan untuk skripsi saya??
Mohon advicenya..
terima kasih
GBU
wir // 5 Desember 2008 pada 00:57 |
@Kirana
Kelihatannya pertanyaan yang sama telah kamu ulang lebih dari tiga kali. Terus terang saya tidak menjawabnya karena membaca suratmu juga ditujukan ke engineer yang lain.
Jadi saya mencoba memberi kesempatan kepada yang lain. Tapi karena sampai hari ini belum ada yang memberi respon, maka saya coba untuk menjawabnya.
Dua metode yang kamu pakai, yaitu cara perencanaan pelat PBI-71 dan cara DDM adalah cara perencanaan pelat yang dikhususkan terhadap beban gravitasi saja.
Perbedaannya, jika di PBI-71 perhitungan penulangan baloknya terpisah. Pelat direncanakan secara lokal, diangap sebagai beban saja ke balok. Balok direncanakan nanti, sehingga dapat diperhitungkan terhadap berbagai kombinasi beban yang ada (gravitasi dan lateral).
Konsep di atas sangat cocok untuk perencanaan struktur gedung memakai konsep frame. Dimana pelat (dan balok anak) hanya memikul gravitasi, sedangkan balok induk dan kolom (frame 3D) akan memikul beban gravitas dan lateral (gempa). Cara ini banyak dipakai di Indonesia.
Sedangkan cara perencanaan DDM, dalam perencanaannya maka dapat diperoleh desain pelat sekaligus balok. Jadi pelat dan balok (jika ada) diperhitungkan sekaligus interaksinya dalam memikul beban gravitasi. Kelebihan cara DDM adalah bisa menghitung pelat, tanpa atau dengan balok. Sedangkan cara PBI-71 khan baloknya harus kuat (tinggi).
Kelemahan cara DDM adalah jika sistem penahan lateral dari struktur juga mengandalkan frame, anda harus memisahkan pengaruh gravitasi dan lateral. Ini yang tidak gampang. Perlu judgement khusus. Kecuali secara khusus anda menempatkan sistem struktur penahan lateral, misalnya shear-wall atau frame tepi yang kaku.
Jadi jika anda ingin membahas skripsi kamu dengan studi kasus bangunan tingkat 3 (rumah susun) maka kamu harus memakainya secara komprehensif karena sistem strukturnya jelas berbeda (nggak bisa sama). Jelasnya, kamu harus bikin dua desain yang terpisah, hasil akhir baru dibandingkan, misalnya akan ditinjau ekonomis mana dsb. Jika kamu hanya membahas pelat-nya saja jelas tidak bisa dibandingkan.
kirana // 6 Desember 2008 pada 01:21 |
Terima kasih,saya ucapkan..
Saya mohon maaf jika saya terus mengulang pertanyaan saya..
Hingga saat ini saya tetap masih bersikukuh dengan dosen pembimbing saya perihal bisa atau tidaknya saya meanganalisa menggunakan 2 metode tersebut dalam studi kasus bangunan yang sama.Namun, dosen saya tetap bersikukuh bahwa 2 metode tersebut dapat digunakan mengingat pada studi kasus tersebut tidak terdapat balok anak. Saya yang menginginkan membuat 2 desain dengan2 metode tsb, terpaksa STUCK di perdebatan itu mulai dari awal saya bertanya pada blog ini.
Jadi menurut Pak Wir, seperti yang saya inginkan, harus membuat 2 desain yang berbeda baru dibandingkan,
Karena maksud dari skripsi saya bahwa jika bangunan gedung yang telah didesain menggunakan balok menggunakan metode PBBI 71, saya desain menggunakan metode DDM tanpa balok itu bisa atau tidak?
Maaf jika merepotkan,
MOhon advice kembali pak,karena saya bingung harus bertanya pada siapa,
GBU
wir // 6 Desember 2008 pada 08:47 |
@kirana
Coba baca lagi dengan baik batasan pemakaian DDM. Selama asumsi yang anda pakai hanya untuk perencanaan terhadap beban tetap (gravitasi), maka anda dapat dengan mudah membandingkan keduanya. Tetapi jika ada pengaruh gaya lateral, bagaimana ?
ACI secara jelas mensyaratkan DDM untuk gravitasi, jadi perlu sistem struktur penahan lateral tersendiri. Jika struktur lantai ingin dimasukkan juga pengaruh gaya lateral (gempa) maka ACI menyediakan metode yang mirip tetapi lebih lengkap yaitu Portal Equivalent. Cara-cara mirip, tetapi momen-momen rencana dihasilkan dari analisa struktur yang mana dapat dengan mudah digabung dengan pengaruh gempa.
Jadi kalau memaksa, ya bisa saja, Tapi itu khan nggak valid. Setiap metode ada batasan . Wong program SAP2000 yang canggih aja nggak bisa dipakai untuk setiap kasus. Itu bukan masalah bagaimana cara pemodelan atau trik sebangsanya. Memang itu adalah keterbatasannya.
Itulah alasan kenapa engineer perlu belajar terus, meskipun sudah doktor sekalipun.
Andreas Herjuno // 6 Desember 2008 pada 12:53 |
Syalom…
Saya ingin bertanya mengenai pondasi mesin genset, sistem dan material peredam yang cocok kareana saya mempunyai kasus gedung power house ikut bergetar jika genset beroperasi sehingga Kondisi Lapangan seperti ini :
1. Gedung PH berdiri diatas timbunan tanah yang baru dipadatkan dengan ketinggian +/-2.5 m dari tanah asli.
2. Dasar pondasi hanya diberi lapisan pasir +/- 10 cm.
Mohon bantuan penjelasannya, sehingga kedepannya dapat diantisipasi mengenai desain & pelaksanaan dilapangan.
Thank. GBU
wir // 6 Desember 2008 pada 22:48 |
@Andreas Herjuno,
Getaran bangunan atau vibrasi, ini kaitannya dengan kenyamanan, tapi bila berlebihan bisa-bisa masuk ke fatique. Jadi harus diatasi dengan baik.
Prinsip utama untuk mengatasi vibrasi, bagi orang-orang struktur biasanya hanya mengandalkan fenomena alam (fisika). Tentu beda dengan orang-orang mesin yang umumnya mengandalkan device (alat) khusus.
Bagi orang struktur maka umumnya digunakan cara (1) lekatkan atau tempelkan sumber vibrasi tersebut pada objek yang ber-massa besar dan kaku, dan ini yang penting yaitu pisahkan sumber vibrasi tersebut dengan bangunan struktur yang lain, beri siar dilatasi misalnya.
Berdasarkan tiga konsep di atas maka dapat dikembangkan sistem pondasi yang khusus untuk genset misal dibawah genset di pasang blok pondasi yang cukup besar, yang dipisahkan terhadap pelat atau struktur bangunan penutupnya. Agar lebih kaku, di bawah blog dipasang pondasi tiang, tetapi jika tanah cukup bagus (tegangan tanah tidak masalah) maka lebih baik dipisahkan dan antara tanah dan blok pondasi dipasang peredam, misalnya lapisan ijuk. Cara ini pernah aku kerjakan dan hasilnya cukup bagus.
mufti // 10 Desember 2008 pada 03:55 |
kepada mas andrik sugiarto dan pak wir saya ucapkan banyak – banyak terima kasih atas bantuannya
heztyra // 20 Februari 2009 pada 12:15 |
http://griyatawang.com
tempat berbagi mengenai teknik sipil