kuliah MekTek-nya Wiryanto


Ada pertanyaan dari saudari Rini di Denpasar sbb:

Dikirim pada tanggal 2009/02/16 pukul 09:34

Pak wir yang terhormat, saya Rini Denpasar Bali, Saya ingin bertanya kepada Bapak mengenai Mekanika Teknik/Analisis Struktur :

Kenapa kita harus menempatkan sendi gerber pada posisi dimana momennya sama dengan nol?

Ini jadi mengingatkan bahwa rasanya belum pernah kutulis sesuatu di sini dalam peranku sebagai dosen Mekanika Teknik / Analisa Struktur. Meskipun aku menulis banyak hal lain, tetapi pada dasarnya aku adalah dosen untuk mata kuliah Mek-tek lho, yang materinya aku susun dan aku kembangkan sendiri. Tidak mengacu pada buku tertentu tetapi sudah tercampur baur dengan pemahamanku tentang mekanika teknik sendiri.

Mungkin terlalu berani ya kalau menyatakan hal tersebut, bagaimana lagi mekanika teknik adalah ilmu utama di bidang struktur, dan karena sudah banyak yang mengambil keahlian tersebut maka tentu ilmu tersebut sudah banyak yang menguasainya. Karena sudah banyak yang bisa maka tentunya sudah tidak ada yang istimewa lagi. Itu khan berbeda jika aku membahas mengenai metoda Strut-and-tie-model, misalnya. Itu khan masih jarang, bahkan belum masuk pada materi perkuliahan di S1. Betul nggak ?!

Jadi kalau dibilang, pakai materi sendiri, wah tentu banyak yang ingin tahu, kayak apa sih mektek versinya Wiryanto.

Pengin tahu ?

Tentang ilmu mekanika teknik , saya yakin sudah banyak yang merasa ahli. Bahkan setiap perguruan tinggi yang ada jurusan teknik sipilnya pasti ada dosen yang disebut pakar dibidang tersebut. Kalau sampai nggak ada, wah berani banget bikin jurusan teknik sipil, itu khan salah satu core-nya. Sebagai contoh untuk UPH, kalau boleh aku sebut beliau-beliau yang memberi kuliah atau ahli tentang mekanika teknik adalah :

  • Prof. Dr.-Ing. Harianto Hardjasaputra – Lulusan Uni Stuttgart (Jerman) dan ITB (Bandung)
  • Dr.-Ing. Jack Wijayakusuma – Lulusan Uni Stuttgart (Jerman), dan RWTH Aachen (Jerman)
  • Dipl.-Ing. Wirianto Rusli – Lulusan RWTH-Aachen, Jerman
  • Dipl. HE. David Solaiman – Lulusan TU Delft, Belanda
  • aku sendiri, lulusan lokal Indonesia ;)

Banyak khan. Meskipun mayoritas adalah lulusan Jerman, dan hanya aku sendiri yang lulusan lokal, tapi jangan bayangkan bahwa apa-apa yang aku ajarkan adalah style jerman. Aku pakai cara yang aku ketahui sendiri, tapi yang jelas sumbernya bukan buku-buku jerman. Maklum, jermanku lemah. :(

Jadi murid-muridku di UPH, belajar mekanika teknik mendapat pembelajaran dari dua mashab, satu dari kelompok Jerman tadi, dan satu dari kelompok lokal. Mungkin nggak cocok ya disebut “kelompok” lokal, wong anggotanya hanya aku sendiri. :)

Kasihan sebenarnya, tetapi jika lolos, biasanya mereka lebih matang dalam pengetahuan mekanika teknik.

Jika aku perhatikan cara pengajarannya, caranya kadang bisa berbeda, ada yang berlomba-lomba menyajikan berbagai metoda yang ada untuk lulus mata kuliah tersebut dan ada yang tidak terlalu banyak metode yang diberikan. Saya termasuk yang terakhir, mata kuliah yang aku berikan tidak berisi banyak metode perhitungan, bagiku yang disebut dengan mata kuliah mekanika teknik adalah ilmu untuk mempelajari perilaku struktur yang dibebani dengan melihat bagaimana gaya-gaya beban tadi dapat disalurkan ke sistem pondasi , dengan mengetahui gaya-gaya internal di batang-batang struktur, termasuk juga lendutan yang terjadi.

Jadi bagiku, metode perhitungan bukan fokus utama dalam pembelajaran, tapi bagaimana metode tadi digunakan untuk melihat perilaku struktur, yang diperlihatkan pada gambar Bending Momen Diagram atau BMD (untuk portal dan balok), gambar Shear Force Diagram (SFD), gambar Normal Force Diagram (NFD) dan semacamnya itu. Bagiku seorang mahasiswa mungkin ahli untuk menghitung dan mendapatkan nilai numerik dari hitungannya, tetapi jika tidak bisa mengimplementasikan dalam gambar-gambar tadi maka ya tidak akan mendapat nilai baik. Bahkan kalau perlu bisa tidak lulus.

Pemahaman seperti itu aku dapatkan, karena nantipun setelah bekerja, seorang engineer untuk menghitungnya biasanya sudah dibantu oleh program-program komputer. Jadi metode perhitungan manual yang diajarkan di perguruan tinggi bahkan tidak dipakai sama sekali. Engineer menginterprestasikan berdasarkan gambar-gambar tadi. Karena aku kuat dibidang implementasi komputer struktur dan punya jam terbang praktisi yang cukup lama maka meskipun aku lulusan lokal rasanya tidak terlalu minder dibanding mashab jerman tadi. Yah, minimal bisa berdiri sama tinggi, dan duduk sama rendah. Jadi tidak ada yang saling mendominasi di tempatku.

O ya, tentang kompetensiku di bidang analisa struktur (perilaku struktur) mungkin dapat dilihat juga dari lomba-lomba yang kebetulan aku ditugaskan sebagai dosen pembimbingnya, yaitu sebagai berikut :

Jadi dengan latar belakang seperti itu, maka aku ingin menjawab pertanyaan saudara Rini, ttg :

Kenapa kita harus menempatkan sendi gerber pada posisi dimana momennya sama dengan nol?

Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan singkat sebagai berikut bahwa bending momen untuk struktur statis tak tentu dimana pada titik yang momennya sama dengan nol disisipin pin (sendi gerber) maka bending momen tersebut tidak berubah. Tapi jika pada bagian batang yang ada momennya disisipin pin, maka bending momennya akan berubah.

Jika kurang jelas tentang statement-ku di atas maka ada baiknya kita pelajari latar belakang mengapa suatu struktur gerber perlu dibuat. Materi tentang bagaimana menghitung gaya-gaya internal pada struktur gerber rasanya bertebaran dimana-mana, saya nggak mau membahasnya. Sudah kodian. :)

Tetapi latar belakang mengapa suatu struktur gerber perlu dibuat rasanya tidak banyak, kalaupun ada mestinya itu buku-buku barat. Ada nggak sih ya, aku rasanya belum pernah baca. Kalau buku-buku mektek versi bahasa Indonesia khan kebanyakan seperti buku-buku soal penyelesaian. Itu kesannya khan seperti hitung-berhitung, pantas teknik sipil itu diidentikkan sebagai tukang hitung. :(

Ini pemahaman tentang struktur gerber.

Perilaku balok gerber mirip perilaku balok terusan statis tak tentu. Seperti diketahui bahwa balok terusan statis tak tentu adalah balok menerus yang berdiri diatas beberapa perletakan (lebih dari dua). Adanya tumpuan di atas
balok yang menerus menghasilkan momen negatif yang besarnya tergantung dari kekakuan balok tersebut. Momen negatif pada tumpuan akan mengurangi momen positif lapangan dan sebagai hasil akhirnya momen yang timbul lebih kecil dibanding balok biasa diatas dua perletakan. Balok terusan / gerber juga dapat menghasilkan momen negatif pada tumpuan tetapi struktur secara keseluruhan tetap struktur statis tertentu.

Jadi penyelesaian balok gerber lebih sederhana dibanding balok menerus statis tak tentu.

Kecuali itu, balok terusan gerber tidak peka terhadap bahaya penurunan setempat dari pondasi dibanding balok menerus statis tak tentu.

Untuk melihat keunikan balok gerber dibanding dengan balok menerus sederhana, maupun balok menerus statis tertentu, diperlihatkan illustrasi balok-balok tersebut jika diberi dengan beban merata diatasnya dan hasil analisis yang memperlihatkan diagram bending momen yang terjadi.

Jika momen digunakan sebagai indikasi kekuatan dan besarnya lendutan maka dengan bentang balok L dan beban q yang sama, maka dapat diketahui bahwa konstruksi menerus statis tak tentu menghasilkan momen lapangan dan lendutan yang lebih kecil, sehingga penggunaan material lebih ekonomis. Kondisi tersebut akibat terjadinya momen negatif pada tumpuan.

Pada balok menerus gerber salah satu bentang dibikin tidak menerus dengan memberi sambungan berupa pin atau engsel, sehingga momen tidak menerus kebentang disampingnya. Jadi yang dapat diteruskan hanyalah gaya geser
sedangkan momen pada sambungan tersebut adalah nol.

konsep_gerber
Bending Momen dari Berbagai Type Balok Menerus

Pada illustrasi terlihat bahwa jika sambungan pin / engsel diberikan tepat pada titik belok (inflection point) maka besarnya momen negatif tumpuan adalah sama seperti momen balok menerus statis tak tentu. Momen tumpuan
pada balok gerber timbul karena bagian balok BC berperilaku sebagai kantilever. Jika pin atau engsel tidak tepat pada titik belok , misalnya digeser ke arah B maka momen tumpuan B berkurang dan momen lapangan balok CD bertambah, demikian pula sebaliknya. Dengan menempatkan posisi pin/engsel sedemikian maka dapat dihasilkan distribusi momen tumpuan dan lapangan yang paling optimum.

Balok gerber menguntungkan karena penyelesaiannya lebih mudah dibanding balok menerus statis tak tentu, selain itu balok type tersebut tidak peka terhadap penurunan pondasi yang tidak sama (differential settlement).

Sedangkan kelemahan yang timbul adalah salah satu bagian ada yang menjadi struktur utama / induk (pusat kekuatan) dan yang lainnya adalah sekunder / anak (pelengkap). Dalam hal balok gerber ABCD maka balok ABC adalah balok induk dan balok CD adalah balok anak. Jika balok induk runtuh maka balok anak pasti ikut runtuh pula, sedangkan jika balok anak saja yang runtuh maka balok induk tidak terpengaruh.

Jika balok ABC dan CD diganti dengan konstruksi rangka batang maka perilaku lentur akan sama, maka jadilah konstruksi tersebut rangka batang terusan / gerber.

rangka_gerber
Rangka Batang Terusan / Gerber (salah satu contoh)

Untuk analisa pada prinsipnya tidak berlainan dengan balok gerber, dimana dari beberapa truss yang bergabung tersebut ada yang berfungsi sebagai truss induk (main truss) dan truss anak (truss sekunder).

rangka_gerber2

Truss sekunder menumpang pada truss induk, dalam analisanya bagian sekunder harus dihitung terlebih dulu dengan menganggap sebagai truss yang mandiri, pada umumnya bagian yang menumpang pada truss induk dapat dianggap sebagai sambungan sendi , kemudian dicari gaya-gaya reaksi pada truss sekunder tersebut. Gaya-gaya reaksi pada truss sekunder kemudian diubah menjadi gaya-gaya aksi (beban) ke truss induk dan selanjutnya dihitung seperti truss biasa.

rangka_gerber3
Batang Pendel sebagai sambungan dengan Tumpuan Rol

Momen negatif tumpuan pada bagian kantilever yang besar dapat menimbulkan gaya tarik pada pondasi. Tanah pada umumnya lemah terhadap tarik oleh karena itu untuk mengatisipasinya pondasi harus dalam atau diperberat. Cara yang paling bijak agar konstruksi tetap dalam kondisi kesetimbangan maka dibuatlah kantilever yang sama pada sisi yang lain (kantilever kembar), sehingga momennya saling meniadakan. Momen dapat secara efektif diatasi dengan menambah ketinggian struktur, oleh karena itu agar efisien dapat juga dilakukan variasi ketinggian struktur.

rangka_gerber4

Konstruksi simetri menyebabkan gaya reaksi pada pondasi berkurang banyak dan tidak terjadi gaya tarik (dalam praktek gaya un-balance dapat terjadi dan harus diperhitungkan), selain itu memudahkan juga dalam perhitungan
maupun fabrikasi struktur karena sama. Secara sederhana terlihat bahwa konstruksi simetri relatif lebih baik dibanding konstruksi non-simetri.

Insinyur Scotland pada akhir abad 18 telah mengimplementasikan prinsipprinsip di atas dengan membangun konstruksi rangka batang gerber simetri untuk jembatan kereta api Firth of Forth. Dengan bentang terpanjang 1710 ft (± 521 m) pada jaman itu merupakan bentang yang cukup besar dan spektakular, suatu praktek rekayasa konstruksi rangka batang yang jenius. Jembatan masih digunakan sampai sekarang.

forth-bridge

Link tentang jembatan tersebut dapat dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Forth_Bridge_(railway)

Moga-moga ceritaku di atas dapat dianggap sebagai kuliah. Nggak banyak angka-angkanya ya. :)

About these ads

51 thoughts on “kuliah MekTek-nya Wiryanto

  1. Pak wir, saya mahasiswa teknik sipil ITS Surabaya. Menarik Sekali tulisan Bapak, mungkin kalau kuliah mektek diselingi cerita dan filosofi seperti yang bapak tulis mungkin mektek akan menjadi lebih menyenangkan ya? Jadi tidak melulu ngitung saja. Masak kita calon insinyur kok disuruh jadi juru hitung. Kalau metodenya seperti bapak, mungkin tidak bertebaran nilai D dan E ya?.hehe….

    Pak, saya mau tanya, kalau struktur menerus (statis tak tentu) menghasilkan momen di lapangan yang lebih kecil lalu kenapa masih sekarang orang masih pakai balok sederhana di atas 2 tumpuan? kan momen lapangannya lebih besar?apa tidak tambah boros pak penampangnya?atau ada pertimbangan lain pak?

    Sekian Pak, terimakasih..

  2. Waduh.. jadi inget waktu kuliah Pak Wir dulu.. Yang dipentingkan adalah falsafah dibelakangnya, bukan hasil angkanya. Hasil angka bisa digunakan sebagai pembanding agar menjadi lebih mudah memahami falsafah di belakangnya itu, walau bukan itu yang utama.

    Adanya 2 kubu dosen (Jerman dan lokal) rasanya memang cukup membantu memahami analisa struktur. Sebab pada saat transisi, kita harus mencari persamaan dan masing2 asumsi dari kedua kubu ini, misalnya saat menggambar momen, asumsi bidang momen biasanya adalah area yang tertarik. Namun pada kubu Jerman, bidang momen digambar tergantung pada nilai momen apakah positif atau negatif sesuai dengan rumus dan metode yang dipakai.

    Ya itu sedikit cerita saya mengenai dua kubu struktur di teknik sipil UPH. ;)

  3. Kecuali itu, balok terusan gerber tidak peka terhadap bahaya penurunan setempat dari pondasi dibanding balok menerus statis tak tentu.

    Mungkin perlu pencerahan mengenai resiko paling extrim apa yang mungkin timbul akibat adanya penurunan pondasi pada konstruksi balok gerber.

    Wir’s respond: resiko ekstrim, jika itu tulangan balok beton bertulang yang menerus (balok di atas 3 tumpuan) maka ketika tumpuan tengah turun (besarnya tergantung kekakuan balok, mungkin hanya 1-2 cm) maka pada tumpuan yang semula (ketika tidak ada penurunan) adalah momen negatif (tulangan utama di atas) maka bisa berubah (ketika ada penurunan) menjadi momen positip (tulangan utama di bawah). Jika itu terjadi maka jika tulangan bawah tidak cukup maka struktur bisa retak. Wah kalau ini terjadi maka untuk memperbaikinya bisa mahal dibanding jika dari awal pakai struktur statis tak tentu.

  4. @andrik

    Kalau metodenya seperti bapak, mungkin tidak bertebaran nilai D dan E ya?.hehe….

    Nggak juga, yang diuji khan nggak yang itu, di UPH kita memberi perkuliahan dibantu juga oleh asisten dosen. Asisten dosen membantu pada pendalaman metode-metode analisis. Jadi yang diuji yang itu. Sedangkan saya memberikan roh dibelakang metode-metode tersebut, tentang ceritanya, khususnya jika dikaitkan dengan bidang-bidang lain, misal beton, teknik pondasi, sehingga dapat diketahui betapa pentingnya pemahaman metode tersebut. Jadi kita beri soft dan hard skill.

    Dengan cara tersebut, selain jadi tukang hitung, mahasiswa diharapkan mempunyai motivasi kuat mengapa perlu mengusai ilmu tadi. Bahwa itu ada kaitannya dengan pekerjaannya nanti sebagai engineer.

    Apakah semua bisa ketangkep mahasiswa. Wah untuk menjawab hal ini susah. Ada juga yang timbul motivasinya, tetapi banyak juga yang tidak. Yang jelas, aku berusaha, perkuliahan yang aku berikan tidak untuk mencetak tukang hitung saja.

    Pak, saya mau tanya, kalau struktur menerus (statis tak tentu) menghasilkan momen di lapangan yang lebih kecil lalu kenapa masih sekarang orang masih pakai balok sederhana di atas 2 tumpuan? kan momen lapangannya lebih besar?apa tidak tambah boros pak penampangnya?atau ada pertimbangan lain pak?

    Struktur statis tak tentu, pelaksanaannya relatif sulit dibanding struktur statis tertentu. Meskipun itu kasus per kasus, tetapi intinya membuat struktur kontinyu itu perlu perhatian lebih. Juga karena struktur seperti itu peka terhadap adanya deformasi tumpuan. Jadi kalau sistem pondasinya dalam jangka panjang dapat mengalami penurunan maka struktur atasnya bisa rusak. Kalau struktur statis tertentu nggak seperti itu.

  5. Hallo pak wir.

    masi berhubungan dengan aplikasi balok gerber. Dari sisi BMD, NFD, sama SFD memang gada beda. tapi dari sisi lendutan, apakah masi tetap sama pak? Saya cuma kepikiran klo pake balok menerus statis tertentu, tidak ada perbedaan sudut putar (rotasi) karena memang menerus, tapi klo balok gerber jadinya gmn?

  6. Hallo Richard,

    Lho khan kamu sudah bisa SAP2000, program komputer untuk analisa struktur, tentu itu mudah dijawab bukan.

    Itu jika mengandalkan program, tetapi jika kamu masih ingat dengan mata kuliah Mekrek V yang pernah aku berikan maka tentu tidak perlu bersusah-payah untuk mencari jawabannya. Ingat bahwa yang disebut statis tertentu adalah struktur yang dapat diselesaikan dengan persamaan keseimbangan saja, sedangkan untuk struktur statis tak tentu maka selain persamaan keseimbangan maka kondisi kompatibilitas atau deformasi struktur perlu diperhatikan.

    Dari pernyataan tersebut kita bisa tahu, bahwa deformasi struktur antara elemen satu dengan elemen yang lainnya pada struktur statis tertentu tidak berpengaruh. Sedangkan statis tak tentu akan berpengaruh. Itu berarti struktur statis tak tentu pada umumnya karena setiap element penyusunanya saling berpengaruh (kontinyu) maka lendutannya relatif lebih kecil dibanding struktur dengan gerber.

    Dengan pemahaman seperti itu maka program SAP2000 tinggal membuktikan kuantitasnya, sedangkan kualitas (perilaku umumnya) telah dipegang. Jadi dengan melihat sepintas, jika ternyata tidak sama antara screen computer dng pemahaman tadi maka itu berarti ada kesalahan yang perlu dicari.

    Intinya kita sebagai engineer tidak dikendalikan oleh komputer, tetapi kitalah yang mengendalikan komputer. Gitu khan. O ya, pemahaman seperti di atas tidak akan mudah diperoleh jika kita hanya mengandalkan ketrampilan memakai komputer. Ngitungnya bisa, tetapi kenapanya itu nggak gampang dipahami. Untuk itulah maka pemahaman mendasar analisa struktur cara klasik akan sangat membantu. Itu lho yang kamu peroleh di kelasku dan kelasnya pak Rusli.

  7. he, he, he,… jadi malu pak.

    Saya belom sampe ngutak ngatik ke SAP si pak. Cuma kepikiran aja pas lagi baca artikel yang bapak tulis. :P.

    Anyhow thanks banget buat jawaban bapak. Jadi merefresh ilmu2 yang uda di dapet dulu. :D

  8. Pak Wir, kalo aplikasi di lapangan pin/engsel pada balok gerber itu seperti apa? mohon penjelasan dalam analisis struktur bagaimana kita mengasumsikan bahwa perletakan tersebut jepit atau sendi?

  9. @reifeldi
    ilmu perilaku manusia adalah psikologi
    ilmu perilaku struktur yang dibebani adalah mektek

    @fayrin
    “bisa karena biasa”, begitu juga dengan mektek

    @Riza
    apapun bentukanya tetapi jika tumpuan tersebut tidak berputar (rotasi = 0 ) dan tidak berpindah tempat (translasi = 0) maka bisa dimodelkan sebagai jepit.

    Jika bisa berotasi (rotasi >< 0 ) tetapi tidak berpindah tempat (translasi = 0) maka bisa disebut sendi.

    Gampang khan, mektek itu. ;)

  10. pak Wir, bagaimana merencanakan pondasi dangkal/pile cap bentuk L, karena areal pembangunan hanya 3,6 x 20 m.

    model 2D seperti ini:
    .______.
    l______l
    l______l
    l______l
    l______l
    L _l

    bangunan ruko 4 lantai dengan rangka beton. menggunakan pondasi L karena sisi kiri kanan sudah ada bangunan ruko yang lain.
    pondasi menggunakan cerucuk panjang 12 m

    antara as kolom dan as tapak terdapat eksentrisitas.

    apakah bisa direncanakan tanpa menggunakan balok penghubung antara tapak kiri dan kanan

    kalau ada kasus yang mirip minta dikirimin contohnya juga Pak.

    Thank you

    tony.united@gmail.com

  11. pak wir, pakabar..
    mau tanya pak
    seberapa besar pengaruh nilai kelangsingan pada struktur kolom beton?
    dan berapa nilai kelangsingan maksimum untuk kolom beton?
    karena ketika menemukan permasalahan mengenai kolom yang sangat tinggi,murni tanpa adanya balok pengaku (tetapi tetap ada sloof) dan balok ring, apakah harus mengikuti aturan kelangsingan, jika mengikuti aturan kelangsingan bukannya kolom akan menjadi sangat besar?
    trimakasih pak wir…

  12. aku rian di medan
    aku mo tanya sma bpk
    klo di lapangan yang lebih sering dipakai dalam mendesign balok prategang dengan analisa ultimate ato elastis??
    trus yang lebih gampang mana pak??
    thx pa wir

  13. Mas Rian, pada saat ini sebagian besar para perancang masih tetap memakai teori elastis. Sangat sulit untuk menyatakan preferensi satu dari yang lainnya. Masing2 mempunyai keuntungan dan kekurangannya. Tetapi, metode apapun yang dipakai untuk disain, yang lain harus dipakai untuk pemeriksaan kembali. Sebagai contoh, pada waktu teori elastis dipakai, adalah umum untuk mengecek kekuatan batas penampang untuk mengetahui apakah ada kekuatan cadangan untuk memikul beban berlebih (overload). Pada waktu teori ultimate yang dipakai, teori elastis dipakai untuk mengetahui apakah penampang ditegangkan berlebihan pada kondisi beban tertentu dan apakah lendutannya berlebihan. Penegangan berlebih (overstressing) tidak disukai karena dapat menimbulkan retak dan rangkak dan pengaruh kelelahan. Kesimpulannya : Jika kita berhubungan dengan tipe dan perbandingan yang baru, mungkin desain elastis saja tidak menghasilkan struktur yang aman pada pembebanan berlebih, sementara itu desain dengan kekuatan batas (ultimate) dengan sendirinya mungkin saja tidak menjamin terhadap kelebihan tegangan yang berlebih pada beban kerja.

  14. Ping balik: pertanyaan yang sangat susah di jawab « The works of Wiryanto Dewobroto

  15. pak wir,,saya mhsiswa baru tknik sipil.
    sebenarnya saya kurang menegerti mengenai pembahasan mengenai statika itu sebenarnya apa? lalu kemudian kelas kami diber tugas menulis essai sebanyak2nya tentang statika,garis pengaruh dan balok gerber. kan saya jadi bingung sendiri pak. karena selama pengajaran di dlam kelas,hanya menghitung2 saja yg dibuat.
    mohon bantuannya y pak mengenai penjelasan tentang statika,garis pengaruh dan balok gerber.
    terima kasih.

  16. He..he..he..

    Jadi inget waktu jaman kuliah dulu
    Mektek I (Dulu di kampus saya namanya Mekanika Rekayasa), dosennya ganti di tengah jalan (masih di semester yg sama). Dosen yg pertama, tau2 langsung main angka, hitung2 nggak jelas, tanpa ada penjelasan konsepnya itu apa dsb… alhasil, sampai 4 kali pertemuan, saya masih belum ngerti definisi dari tumpuan itu apa (lha dosen saya itu cuma ngomong: ini jepit, ini sendi, ini rol, tanpa ba-bi-bu penjelasannya), trus tau2 kok udah ada gambar BMD, NFD, SFD, itu gambar apaan, dapatnya darimana? gitu batinku….

    Untunglah, dosennya ganti. Trus giliran mau melanjutkan materi dosen sebelumnya, dia tanya dulu apa yg sudah kita pahami. Dosen pengganti tsb kaget, ternyata 80% mahasiswa seangkatan masih belum tau apa2, ha..ha.ha.. akhirnya, dengan terpaksa dosen pengganti tsb mengulangi lagi dari materi awal, bener2 dari nol… dan untungnya lagi, dosen kali ini enak menjelaskannya. Dia jabarkan dulu filosofi dari masing2 tumpuan, filosofi apa itu gaya2 dalam, bagaimana kok bisa muncul gambar2 BMD dkk

    Akhirnya, saya yang tadinya neg banget sama mektek (gara2 dosen pertama yang bikin saya ilfil dan paranoid sama mektek), berbalik jadi jatuh cinta sama mektek (setelah tahu filosofinya). Malah, akhirnya saya juga jadi asisten dosen untuk Mektek I dan Mektek III (Cremona dkk), he.he..he…

    Jadi intinya, kalo gak tau filosofinya, memang gak salah kalo engineer itu disebut tukang ngitung!!! Begitu dia dihadapkan pada masalah yang berbeda, pusinglah dia…. lain dengan yg menguasai filosofinya, mau kasusnya dipelintir kayak apa juga dia akan dengan kreatif mencari solusinya….. Saya jadi inget dengan teman seangkatan. Memang dulu nilainya bagus2. Tapi ternyata dia cuma sekedar “memuaskan” dosen, hanya pinter ngitung, untuk kasus2 yang kebetulan dikeluarkan dosen ybs… tapi jujur aja, anaknya nggak kreatif (mohon maaf), dan setahu saya, sampe sekarang masih ttp sebagai “tukang ngitung”….

    Saya salut banget dengan metode pengajarannnya Pak Wir. Betul itu pak, lebih baik calon engineer2 harus lebih diperbanyak aja pendalaman filosofisnya. nggak perlu lah, diajarin kasus2 numerikal yang njelimet, toh itu bisa diselesaikan komputer nantinya…. mudah2an metode pak wir ini bisa menyebar ke kampus2 lain…. karena saya dulu pernah mengalami, (lupa mektek berapa), ada dosen kami yang malah seperti ngajar kalkulus, sampai integral pangkat berapa gitu, dan matrik 15×15 kalo gak salah…. lha ngerjain itu secara manual ya mana tahaan… toh akhirnya ada komputer yg akan ngitung iterasinya….

    gitu aja.

  17. Pak,Wir..Mohon bantuannya nih.
    Saat kita Menganalisa struktur tentunya kita sering berhubungan dgn asumsi perletakan.Pertanyaan saya pak:
    1.Kapan kita mengasumsikan perletakan tersebut sendi:jepit dan roll pak?

    2.Kalau sampai terjadi salah asumsi perletakan kira2 apa efeknya secara konstruksi di lapangan.

    terima kasih.

    • Kalau support yang direncanakan dengan yang terjadi di lapangan berbeda, maka akan berbahaya sekali. Force di elemen akan sangat berbeda dan dapat menyebabkan failure.
      Untuk pertanyaan 1, agak susah untuk dijawab. Tergantung dari strukturnya. Tapi jangan sekali2 meng-asumsi roller pada struktur, terutama pada rangka batang (kalo untuk beam sih ga apa2). Jika di lapangan support tersebut tidak berperilaku sebagai roller tapi berperilaku sebagai pin, maka force pada member akan berubah.
      Kalo menurut saya pribadi, saya lebih sering meng-asumsi pin support daripada fixed atau roller. Tapi kalo lebih detail tentu harus dilihat case by case.

  18. “Kapan kita mengasumsikan perletakan … ”

    hubungannya batasan translasi yg bakal terjadi (prediksi) kalo keadaan yg jelasnya baru bisa diketahui saat sudah dilaksanakan dan dibandingkan dgn asumsi awal tadi, hub translasi dan rotasi 3 arah.
    kalo sambungan dilihat hub M-rot nya yg terjadi, dan kemudian kembali masukkan nilai tersebut ke model untuk mengetahui distribusi gaya yg sebenarnya terjadi, muter khan kayak gangsing :) asumsi ya asumsi jangan kejauhan, margin 10%~20% cukup reliable katanya.

    Hal lain asumsi yg biasa pd mendesain balok anak dgn type sambungan geser (simple conn) apakah momen ujungnya benar2 nul?? gak gitu sya pikir keadaan sesungguhnya wiremesh yg menerus bakalan menahan rotasi (tension thd lengan momen) bakalan lebih besar lagi jika didesain monolit dgn dipasangnya shear conn… tidak sesuai namun kategori menguntungkan.
    – just an opinion.

  19. assalamualaikum….

    pa, saya seorang mahasiswa di bidang, design engineering, tapi dalam perhitungan konstruksi saya agak kewalahan, namun saya lebih senang dengan metoda grafis,,,
    apakah dalam lapangan nanti hitungannya sudah benar?
    nb: saya butuh buku2 tentang konstruksi, ada pendapat buat referensi buku yang bagus…

    trims…
    wassalamualaikum…

  20. assalamualaikum….

    pa Wir,,,

    saya mhsswa desgn engineering,…
    saya ingin mendalami ilmu mektek,…

    referensi buku yang bagus apa pa?

    trims…
    wass….

    • Ilmu mektek adalah salah satu ilmu yang diperlukan dalam dunia konstruksi. Jadi kalau diminta tentang buku-buku konstruksi wah bisa banyak sekali, tergantung konstruksi apa, dan mau ditinjau dari apanya, design atau manajemennya, atau K3 atau apa.

      Buku mektek untuk pemula carilah buku-buku karangan R.C. HIBBELER. Buku karangannya banyak, silahkan di-search di Google. Jika sudah ok, maka bisa beralih ke buku-buku yang lebih ‘dalam’.

      Moga-moga berguna.

  21. perhitunganya mana? trus kalo ada rangka batang majemuk tumpuannya 2 sendi sama rol saling tegak dan ada jaraknyaditambah ada gaya luar, gmn ngitungnya ya?

  22. Dear Pak Wiri,

    Pak, sya maw nny..
    Mnrt bapak hal yg plg penting dlm mempelajari sesuatu adalah latar belakangnya.
    sy ingin tao ap latar belakang dari suatu struktur yg didesain menggunakan Strut and Tie..

    thx.

  23. pa salam kenal..
    saya anna mahasiswa teknik sipil di Universitas Lambung Mangkurat, Kal-Sel.
    saya mau nanya, tentang konsolidasi pada area yang sekelilingnya terdapat bangunan berisi mesin generator berkapasitas besar..
    bagaimana pengaruhnya pa???
    saya tidak punya referensinya..
    terimakasih sebelumnya.

  24. Pak Wir, kapan lagi nich terbit buku barunya. Sudah dua tahun belum ada karya baru. Karena di Indonesia belum ada yg nulis buku baja berdasarkan AISC, bagaimana kalau bapak yg memulainya?

    • Buku baja berdasarkan AISC adalah salah satu rencana kami mendatang. Materinya sudah mulai terkumpul banyak, sebagai introduction jangan lupa baca makalah saya di Seminar Krakatau Steel di April 2011 kemarin (lihat daftar publikasi saya). Ada lima puluh halaman, rasanya itu cocok sebagai Bab I. He, he, mungkin mau kasih tambahan atau komentar membangun. Silah baca dulu ya.

    • statis tak tentu adalah struktur stabil yang tidak bisa atau tidak cukup diselesaikan dengan persamaan keseimbangan belaka, dia memerlukan penyelesaian yang berdasarkan kompatibilitas lendutan (deformasi).

  25. thngsss ya pa;;ni aku mahasiswa USTJ jayapura mau naya;; gimana cranya supaya saya bisa memiliki buku SAP seperti karangan bapa diatas…….ok makasi,,,,,

  26. pak wir, saya mau tanya. saya sering sekali mendengar istilah kompatibilitas. nah skrg, apa ya bedanya kompatibilitas lendutan dengan kompabilitas regangan?contohnya seperti apa kira2?
    terima kasih pak wir

    • sdr Damar,
      kompatibilitas lendutan banyak dipergunakan untuk penyelesaian struktur statik tak tentu. Silahkan baca buku-buku yang berkaitan dengan hal itu, .

      kompatibilitas regangan banyak dipergunakan untuk menghitung kuat penampang pada kondisi ultimate, yang mana kondisi tegangannya sudah tidak linier. Silahkan baca buku saya tentang “aplikasi rekayasa konstruksi dengan visual basic 6.0″ disitu banyak program komputer tentang kuat penampang yang saya buat berdasarkan konsep itu. Terus terang saya belum pernah membaca buku lain yang membahas hal serupa yang berbahasa Indonesia. Tetapi maklum, karena tidak banyak yang suka dengan isi materi tersebut maka buku tersebut hanya dicetak satu kali. Moga-moga anda bisa memperolehnya.

  27. Kalo bisa dikasih liat pak wir, contoh gambar model struktur perletakannya dilapangan, biar mahasiswanya tau ngitungnya juga tau model strukturnya…

    • Momen area tidak untuk menghitung struktur statis tak tentu, tetapi untuk menghitung deformasi. Meskipun demikian dengan formulasi momen area dapat disusun metode Clayperon atau dikenal juga sebagai persamaan tiga momen. Nah metode itulah yang digunakan untuk menghitung sistem struktur statis tak tentu, khusunya balok menerus. Untuk balok menerus dua tumpuan, maka rumus ini lebih cepat dari metode cross.

  28. @kartiko
    metode momen area, metode conjugate beam, metode unit load merupakan materi standar mata kuliah analisa struktur (mekanika teknik) di jurusan teknik sipil. Setiap buku yang membahas hal tersebut pasti sebagian besar mencantumkannya, misal bukunya HIbbeler (ada sebagian yang dapat di download di internet). Apakah anda berlatar belakang pendidikan teknik sipil ?

  29. malam pak wir,
    saya mahasiswa tingkat akhir yang sebentar lagi akan menyusun tugas akhir. Saya ingin mengambil mengenai steel box girder. Bisa tolong bapak jelaskan bagimana steel box girder itu, perilaku strukturnya, pada kondisi seperti apa kita sebaiknya menggunakan steel box girder tersebut.

    Terima kasih pak, akan senang sekali kalau pertanyaan saya ini bisa terjawabkan oleh bapak :) :)

    • perilaku box girder mempunyai ketahanan tinggi terhadap lateral torsional buckling, jadi jika pelat-pelat penyusun dapat mengatasi local buckling, sehingga keruntuhan yielding yang menentukan maka bentuk ini adalah penampang yang paling efisien dengan lateral bracing yang minimum, bahkan tidak diperlukan. Contoh pemakaian adalah untuk crane girder.

      Penampang tersebut mempunyai ketahanan torsi yang paling tingg, sehingga banyak dipakai untuk konstruksi balok melengkung.

    • filosofinya sederhana, jika statis tertentu maka bisa menghitung gaya-gaya tanpa harus tahu bentuk deformasi struktur, maka kalau statis tak tentu informasi itu diperlukan. Bahkan kalau sudah memahaminya maka dengan mengetahui bentuk deformasi akan diperoleh gambaran kira-kira distribusi gaya-gaya atau momennya kayak apa. Itu sangat penting digunakan untuk mengetahui suatu hasil komputer benar atau salah. Kita bisa seperti dukun, tahu tanpa harus mengalaminya. :D

    • balok gerber, dimana pada bentangnya ada pin. Itu bisa dilakukan dengan membagi menjadi segmen. Jadi selain di tumpuan, maka yang ada pin dibagi pada segmen terpisah. Setelah itu dilakukan release d.o.f yang di ujung pin tersebut.

      untuk dapat mengerjakan itu, maka syaratnya anda harus paham masalah d.o.f di program SAP maklum program tersebut adalah 3D padahal untuk balok gerber cukup 2D. Untuk memahami d.o.f yang dimaksud di buku saya ada penjelasannya secara lengkap. Hanya memang, contoh balok gerber memang tidak ada, tetapi contoh no. 4.1.1. tentang “Rangka – Peletakan Pendel” kelihatannya dapat digunakan untuk memahami tentang release.

  30. selamat malam pak wir, begini pak saya menemukan masalah pada soal dalil tiga momen clapayron, dalam perkuliahan kami hanya mempelajari dan mengetahui cara mencari sudut rotasi belahan akibat beban dan momen pada struktur 2 sendi, namun saya d hadapkan pada struktru jepit sendi, bagaimana cara mencarinya pak, mohon bantuannya pak , terima kasih banyak !

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s