The works of Wiryanto Dewobroto

dampak galian tanah

11 Juli 2009 · & Komentar

Pelajaran tentang galian tanah memang belum tersirat utuh menjadi satu mata kuliah khusus, seperti halnya teknik pondasi. Itu dimungkinkan karena pekerjaan galian tanah seakan-akan dianggap sebagai kasus yang bersifat temporer, yaitu hanya diperlukan semasa kontruksi saja. Oleh karena itu para calon engineer lebih memilih belajar teknik pondasi terkini. Padahal dari informasi yang ada, kegagalan atau kerusakan akibat pekerjaan galian yang sembrono, lebih banyak dijumpai. Tentang hal tersebut, mungkin beritanya relatif kecil di koran, sebagai contoh, tempo hari ketika pembuatan jalan ring-road selatan jakarta, di Kompas diberitakan ada pekerja yang meninggal akibat tertimbun tanah galian. Beritanya kecil, sehingga hanya dibaca sambil lalu, dan seperti biasa di Indonesia, hal tersebut dianggap sebagai musibah. Nasib lagi apes !

Selanjutnya setelah beberapa saat, terlupakan. Alasan klasik yang biasa diketengahkan adalah bahwa kita harus berpikir optimis, lupakan segera masa lalu. Songsong hari esok dengan cerah. :)

Jika cara tersebut yang digunakan, maka dalam satu sisi memang baik, yaitu tetap optimis dan kembali normal lagi, tetapi dari sisi yang lain, kita tidak belajar dari pengalaman yang ada. Bisa-bisa kejadian yang sama terulang lagi, begitu dan begitu seterusnya. Jadi belajar dari pengalaman yang sudah ada dan mensikapi secara bijak (tidak emosi) untuk antisipasi kedepannya adalah saya kira lebih tepat. Alasan itu pulalah yang menjawab mengapa artikel ini perlu ditulis.

Kembali ke kasus gali-menggali !

Tentang pekerjaan galian tanah, memang sebagian besar orang yang awam akan melihat sebagai sesuatu hal yang biasa-biasa, karena ’setiap’ orang bisa mencangkul, maka tentunya bukan sesuatu yang luar biasa. Seperti halnya galian tempat sampah, atau yang lebih dalam lagi adalah membuat sumur. Tentang membuat sumur, mungkin bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya terasa aneh, karena selama ini, memang rasanya belum pernah melihat adanya sumur yang terbuka, atau mungkin karena aku tinggal di kompleks perumahan (?). Kalaupun ada, paling ya sumur bor. Tetapi kalau di Jawa (Jawa-tengah dan sekitarnya), tempatku kecil dulu, maka sumur terbuka adalah suatu hal yang biasa dijumpai.

Pekerjaan gali-menggali dianggap sebagai pekerjaan biasa, bukan bagian teknik yang perlu dipelajari secara mendalam bagi seorang yang ingin terjun di dunia konstruksi. Itu juga didukung oleh fakta, karena kadang-kadang sering dijumpai ggalian tanah sembarang, artinya galian tanpa struktur pelindung khusus dan ternyata sukses. Para kontraktor yang berorientasi pada profit (keuntungan semata) tentu akan melihat bahwa cara ini adalah paling baik karena tidak memerlukan biaya besar (penghematan). :)

Jika hanya mengandalkan pengalaman semata, hanya didasarkan pada tampilan luar semata, maksudnya tanpa dikaitkan dengan pengetahuan tentang kondisi tanah galian maka jelas itu sangat berbahaya. Memang benar, untuk suatu kondisi tanah tertentu, pada kondisi tertentu (misal musim kemarau, di tempat terbuka) kadang-kadang membuat galian terbuka adalah suatu hal gampang. Karena memang ada, kondisi tanah tertentu, yang ketika kering maka tanahnya sangat keras dan susah sekali digali, orang awam melihat sebagai tanah yang kuat, tetapi ketika ada air yang masuk, bisa saja langsung longsor.

Meskipun kasus di atas, kadang-kadang hanya sekali-sekali tetapi intinya bahwa menggali tanah itu perlu dipikirkan matang dampak dan akibatnya, dan ini adalah tugas insinyur sipil, bukan arsitek atau owner. Jadi jika pimpro-nya berlatar belakang ekonom atau arsitek, maka perintah menggali tanpa berkonsultasi dengan ahli (teknik sipil) tentu sebagai sesuatu tindakan yang beresiko tinggi. Dalam arti ini tentu perlu dilihat bahwa yang disebut “galian” adalah galian konstruksi, yang tentunya ukurannya tidak sekedarnya saja.

Untuk melihat betapa kompleknya mekanisme gaya-gaya yang bekerja pada suatu struktur penahan tanah disekitar galian, maka biasanya dapat dilihat dari bentuk keruntuhan atau kegagalan yang terjadi. Jadi struktur penahan galian yang dipasang harus mengantisipasi tiap-tiap model kegagalan tersebut, sebagaimana terlihat pada gambar berikut.

failureCommon types of Failures in supported excavations
(Kempfert-Gebreselassie 2006)

Adanya kesadaran akan resiko kerusakan di atas maka pada suatu galian konstruksi, meskipun hanya dipakai sesaat, yaitu selama masa pelaksanaan memerlukan perhatian khusus bahkan kadang diperlukan tambahan konstruksi yang khusus. Adanya konstruksi tambahan tersebut jelas berdampak pada biaya konstruksi. Tetapi karena mempertimbangkan resiko dan biaya, maka tentu biaya tersebut tentu dapat dianggap sebagai harga yang memang harus dikeluarkan.

Ada aneka macam strategi dan bentuk dari konstruksi khusus tersebut, seperti misalnya.

retaining_1Common types of wall support schemes
(Kempfert-Gebreselassie 2006)

Nah lho, hanya soal gali menggali saja maka strategi penyelesaiannya bisa beraneka macam. Menguasai dan bisa menerapkan secara tepat pada suatu kondisi galian di suatu proyek adalah tugas ahli geoteknik. Bahkan ini fee-nya bisa lebih besar daripada mendesain pondasi. Kenapa ? Karena dari seorang ahli geoteknik yang mumpuni bahkan dapat diperoleh rekomendasi bahwa suatu galian dapat dilakukan secara aman bahkan tanpa konstruksi tambahan seperti di atas.

Jadi dengan meng-hire ahli geoteknik yang tepat, maka dapat diperoleh suatu penghematan luar biasa.

Bahkan kalaupun masih diperlukan, mereka bisa memberi solusi yang tepat. Setahu saya, untuk dapat memberi suatu solusi yang tepat, maka ahli tersebut perlu melihat kasus per kasus. Lingkungan tempat galian diadakan sangat mempengaruhi, baik kondisi bawah (tanah) maupun kondisi luar (adanya bangunan dan hal-hal lain).

Kompleksitas penyelesaian juga dapat dilihat dari teori gaya-gaya yang bekerja pada struktur penahan galian, karena ternyata besarnya tergantung juga dari kondisi deformasi yang terjadi. Jadi sifatnya sangat dinamik, ini misalnya.

efek_deformasi_
Effect of wall movement on active earth pressure distribution behind a sheet pile
wall (Kempfert-Gebreselassie 2006)

Mengetahui kondisi-kondisi di atas, maka tentunya para insinyur dapat mengetahui bahwa untuk membuat galian konstruksi adalah tidak sembarang, faktor-faktor yang perlu mendapat perhatian dalam hal ini adalah : (1) besar dan dalamnya galian yang ingin dilakukan; (2) pengetahuan lapisan tanah dan jenisnya yang akan digali; (3) kondisi permukaan air tanah yang ada dan mungkin juga faktor-faktor yang dapat menyebabkan kondisi air tanah berubah ; dan (4) akhirnya adalah kondisi di atas permukaan tanah disekitarnya karena ini dapat menjadi beban yang menyebabkan tekanan tanah lateral bertambah.

Faktor-faktor di atas kemudian di deskripsikan secara teoritis untuk dapat dibuatkan penyelesaiannya, sbb:

model
Contoh pemodelan untuk perhitungan struktur penahan galian tanah
(Kempfert-Gebreselassie 2006)

Sederhana bukan bentuk pemodelan struktur penahan galian tanah di atas. Perhatikan GW (ground water) leveling sebagai indikasi ketinggian air tanah, dengan asumsi bahwa dinding galian tersebut tidak bocor. Kalau bocor maka jelas galian tersebut akan tergenang air, artinya pelaksanaan konstruksi tidak dapat dilangsungkan. Kemudian beban-beban di atas permukaan tanah juga diperhitungkan sebagai beban merata.

Seorang calon sarjana teknik sipil yang belajar mekanika tanah dan mau lulus mata kuliah tersebut tentu bisa membuat solusi perhitungan, sesuai contoh soal yang ada. Beres.  Tapi bagi seorang yang bertugas di lapangan sebagai engineer (ahli geoteknik tentunya), maka yang penting adalah dapat mengidentifikasi kondisi lapangan sedemikian sehingga dapat menuangkan dalam bentuk model seperti di atas. Pengetahuan atau kompetensi seperti di atas bahkan lebih penting dari hanya sekedar membuat langkah perhitungannya, dan hal-hal seperti itu tidak dipelajari di sekolahan, kecuali dosennya seorang praktisi yang dapat memberi ilustrasi-ilustrasi khusus yang menarik dan mahasiswa dapat memahaminya.

Jelas khan , bahwa yang disebut engineer itu tidak sama dengan sarjana teknik.

Penjelasan tentang teori di atas saya perlu sampaikan untuk memberi gambaran bahwa galian tanah adalah penting untuk diperhatikan, khususnya oleh civil engineer karena jika diabaikan maka bisa-bisa kejadian seperti di Shanghai baru-baru ini, dapat saja terjadi. Lihatlah !

shanghai1_
Terjadi sekitar pukul 5:30am, 27 Juni 2009 pada bangunan yang sedang dibangun di jalan Lianhuanan, distrik Minhang kota Shanghai, China.

Bangunan tersebut roboh bukan karena gempa cina tempo hari, tetapi karena dampak galian tanah. Luar biasa bukan. Ini mungkin baru satu-satunya kasus di dunia yang terekspose dengan jelas. Ini perlu disampaikan untuk menunjukkan bahwa dampak galian tanah tidak bisa diabaikan. Perhatikan hasil analisis ahli cina yang memperkirakan penyebab keruntuhan tersebut dapat terjadi.

id_

  1. An underground garage was being dug on the south side, to a depth of 4.6 meters
  2. The excavated dirt was being piled up on the north side, to a height of 10 meters
  3. The building experienced uneven lateral pressure from south and north
  4. This resulted in a lateral pressure of 3,000 tonnes, which was greater than why the pilings could tolerate.  Thus the building toppled over in the southerly direction.

Sumber : http://sina.com

Ini urut-urutan konstruksi yang diduga menjadi penyebab malapetaka tersebut

sina1
First, the apartment building was constructed

sina2
Then the plan called for an underground garage to be dug out.
The excavated soil was piled up on the other side of the building.

sina3
Heavy rains resulted in water seeping into the ground.

sina4
The building began to shift and the concrete pilings were snapped
due to the uneven lateral pressures.

sina5
The building began to tilt.

sina6
And thus came the eighth wonder of the world.

Kondisi di atas adalah benar-benar terjadi. Kejadian tersebut mungkin bukan yang pertama terjadi, tetapi dengan dunia semakin terbuka maka itu mungkin itu yang pertama-tama dapat diketahui oleh orang di seluruh dunia. Dunia semakin transparan, jadi kalau ada kesalahan sedikitpun langsung ketahuan. Oleh karena itu, agar tidak terjadi kesalahan lagi, belajarlah dari kesalahan yang pernah terjadi.

runtuh1_

runtuh2_

runtuh3_

runtuh4_

runtuh6_

runtuh8_

runtuh9_

Jadi tentunya dapat dipahami bahwa dampak dari pekerjaan galian tanah yang asal-asalan itu bisa luar biasa  !

Kategori: Civil Engineer · engineering · informasi · pendidikan

18 tanggapan so far ↓

  • Husna Azizah // 11 Juli 2009 pada 11:30 | Balas

    info yang bagus

  • Sani // 12 Juli 2009 pada 04:13 | Balas

    Pengalaman Guru yang terbaik
    tidak pengalaman jauh lebih baik
    asal mau belajar dari pengalaman orang lain..

    kegagalan ini dapat di jadikan pelajaran yang berharga..

    salam.

  • badaruddin // 13 Juli 2009 pada 01:57 | Balas

    Mas Wir,

    Minta ijin saya copy untuk saya kirimkan kekawan-kawan kerja saya dilapangan, sehingga bisa menjadi pelajaran dan lebih berhati-hati terhadap pekerjaan galian..

    salam
    badar

    Wir’s responds: Monggo saja, itu khan maksudnya artikel ini dibuat, yaitu untuk dijadikan pembelajaran kita bersama. Bayangkan, China adalah termasuk salah satu negara maju di bidang engineeringnya. Buktinya jembatan Suramadu saja adalah hasil usaha engineer Cina. Meskipun demikian bisa saja terjadi kejadian yang memilukan seperti di atas.

  • parhyang // 13 Juli 2009 pada 05:13 | Balas

    syang hal penentu seperti kekuatan sheet pile ,jaraknya, pile, kedalaman dll. btw, 3000 ton itu dari q+gm.ka ditahan siapa seharusnya, berapa prersen kontribusi berat gedung dan timbunan?? kuat geser pancang dri gedung apa perlu didesain gitu.
    jadi ingat bbrapa tahun lalau sya ngawasin bangunan 4lt kasusnya mirip, tanah longsor satu as (sisi pendek) pancang terlihat 3m dari +-8m pancang tertanam. namun karena tipe suspended dan sloof sdah gedean jadi nga masalah.
    kalo disini kejadiannya as yg sisi panjang, gimana tuh??

  • sudana // 13 Juli 2009 pada 10:08 | Balas

    Kasus kegagalan begini memang perlu untuk di analisa dan disebar luaskan agar jadi bahan pelajaran bersama.

    Jadi ingat kasus jembatan roboh di Surabaya yang juga pernah dimuat di blog ini, tapi sampai sekarang rasanya masih belum ada penjelasan teknis yg lengkap mengenai sebab kegagalannya, padahal kejadiannya sudah cukup lama.

  • stephanus // 14 Juli 2009 pada 07:03 | Balas

    saya sangat prihatin dengan gambar di atas.

    sebagai seorang geoteknik memang hal tersebut seharusnya bisa di hindari, yaitu bila kontruksi tersebut dapat di analisa dengan baik. melihat hal tersebut tanah yang berada disekitar bangunan tersebut menggalami deformasi yang sangat besar

    MUNGKIN yang di analisa adalah cuma kelongsoran saja dengan data tanah yang di ambil pada musim kemarau, hal ini sangat berbeda bila para meter tanah yang digunakan pada musim hujan selain itu juga memang pada mekanika tanah sendiri kurang diberikan pengertian tentang Unsaturated dan Saturated Soil Behavior.

    Tentu, maaf untuk s1 saja mungkin belum mampu untuk menjawab kasus tersebut di atas mengingat pelajaran mektan yang diberikan masih hanya sebatas pada dasar dasar saja.

  • civil // 14 Juli 2009 pada 16:09 | Balas

    * design of sheet pile walls

  • Sam // 14 Juli 2009 pada 17:31 | Balas

    Sayang skali kejadian seperti ini harus terjadi.
    Kalo diliat dari gambar2nya, kliatannya masalahnya bukan cuma akibat galian tanah. Gedung ini sepertinya didesain untuk mampu berdiri di atas dukungan pile group saja. Mekanisme keruntuhannya disebabkan kegagalan di kelompok pile fondasi tersebut. Gedung ini mengalami overturning akibat bobot yang tidak sentris dari bangunan atas, kemudian terjadi overstressing di pile hingga terjadi kegagalan tiba-tiba.

  • sewa mobil // 16 Juli 2009 pada 04:04 | Balas

    dilihat dari gambar maka moment terberat yang menyangga beban 1/5 dari panjang penyangga. harus diperkuat lagi tuh. he…he… ( sok tau ) :D

  • Bisnis // 16 Juli 2009 pada 06:59 | Balas

    artikel yang mantabs apa mungkin tendernya harganya kurang besar dan banyak di makan pimpro kali ya jadi kwalitas kurang standard thanks salam kenal

  • Rezkycell's Blog // 17 Juli 2009 pada 08:17 | Balas

    [...] dampak galian tanah Pelajaran tentang galian tanah memang belum tersirat utuh menjadi satu mata kuliah khusus, seperti halnya teknik [...] [...]

  • Pranowo // 18 Juli 2009 pada 08:52 | Balas

    Yang menurut saya bisa dipetik dari kejadian tersebut…”Jngan terlalu cepat menhambil keputusan tanpa melakukan analisa yang matang dan melibatkan orang yang berkompeten”

  • Andy Prabowo // 19 Juli 2009 pada 11:31 | Balas

    sungguh ironis.. apa kbr nya para geotechnic engineer d china neh?? pasti “kebakaran jenggot” deh.. hehehe..
    ngomong2 mslh galian ada yg tau soal sistem caison (mohon maaf kalo slh tulis “caison”)??

  • andi aswar // 25 Juli 2009 pada 04:16 | Balas

    sy sebagai pemula.. dapat belajar banyak dari para senior. info yang menakjubkan. thanks

  • dian mh // 31 Agustus 2009 pada 03:17 | Balas

    saya jg ijin mengcopy artikel ini ya Pak, untuk saya kirim k teman2 di lapangan agar menjadi pelajaran tentang dampak galian tanah

    Wir’s responds : monggo-monggo, syukurlah kalau berguna. :)

  • Black Hawk // 20 September 2009 pada 19:49 | Balas

    wow … info ni memang bagus … hairan nampak bangunan tu jatuh :~

    http://hipfiles.com – engine cari file

  • ratmin // 28 Oktober 2009 pada 04:55 | Balas

    Terima kasih pak Wir, infonya. Apalagi di tempat kami bekerja kondisi tanahnya berpasir dan ada pengaruh pasang surut air juga. Saya juga minta izin mengcopynya karena sangat berguna untuk kami di daerah dalam pelaksanaan pekerjaan (Kab. Ketapang, Kalbar)

  • RapidShare Search // 29 Oktober 2009 pada 09:20 | Balas

    Jadi ingat kasus jembatan roboh di Surabaya yang juga pernah dimuat di blog ini, tapi sampai sekarang rasanya masih belum ada penjelasan teknis yg lengkap mengenai sebab kegagalannya, padahal kejadiannya sudah cukup lama.

Tinggalkan sebuah Komentar