pelatihan di WIKA tbk ke-2


Enam bulan setelah pelatihan yang pertama kali di PT. WIKA tbk, yaitu di bulan Juli 2009, saya dikontak kembali oleh mbak Farida untuk rencana pelatihan ke-2. Materinya adalah melanjutkan yang pertama dulu.

Mendapat kontak kembali untuk suatu rencana pelatihan ke-2 tentu senang. Itu khan berarti bahwa apa yang tempo hari saya berikan dapat ‘diterima’. Istilah orang-orang yang bekerja di pabrik adalah ada repeat order. Kata mereka, adanya repeat order menunjukkan bahwa barang yang mereka beli ada gunanya, puas, jadi tidak hanya termakan oleh marketing atau iklan saja.

Lho koq bapak samakan dengan produk pabrik, apakah bapak beriklan juga ?

Wah ya enggak dong. Saya tidak punya anggaran untuk itu. Kalau produk pabrik, iklan itu ada anggarannya lho. Bahkan bisa hampir sama dengan biaya produknya. Jadi bisa terjadi, iklannya lebih hebat dari barang yang dijualnya. Dengan demikian, bisa saja orang-orang memakai produk tersebut karena  hanya termakan iklan. Setelah beli, dan memakai barang tersebut, baru ketahuan bahwa apa yang dipersepsikan sebelum beli dan setelah beli ternyata tidak sama. Jika tidak puas khan berarti tidak beli lagi. Tidak ada repeat order.

Sedangkan kalau puas, maka jelaslah ada kecenderungan untuk repeat order. Gitu argumentasinya mengapa aku memakai istilah pabrik tersebut.

Kalau nggak punya anggaran mengapa ada iklan seperti yang dimaksud di atas ?

Begini dik, esensi utama dari iklan adalah mengkomunikasikan sesuatu kepada orang lain, sehingga orang lain mempunyai pemahaman terhadap sesuatu tersebut. Jadi iklan adalah pada dasarnya salah satu media komunikasi, yang mana untuk komunikasi tersebut, agar dapat ditangkap orang dengan berbagai ragam latar belakang dan pemahaman juga pendidikan, maka digunakannya grafis / gambar dan tidak semata-mata karakter huruf atau kata. Tujuannya adalah ini lho, pilih dan beli.

Dengan cara berpikir seperti itu, karena aku juga suka mengkomunikasikan sesuatu via blog ini maka pada sebagian orang ini dianggap sebagai iklan juga. Karena dapat mengkomunikasikan sesuatu yang mungkin diperlukan orang lain.

Benar nggak ?

Inilah bedanya, ahli yang bisa menulis dan tidak bisa menulis.

Yang tidak bisa menuliskan tentang  apa-apa yang pernah dikerjakan atau apa-apa keahliannya, maka informasi tentang keahliannya cenderung hanya dapat diperoleh dari orang-orang yang mengenal atau pernah terlibat dengannya saja. Jadi kecenderungannya, hanya orang-orang disekitarnya saja yang memberi order.

Beruntunglah jika orang-orang disekitarnya tersebut mempunyai jaringan yang tepat untuk mempromosikan keahliannya tersebut. Jadi misalnya, si ahli dapat terikat pada institusi yang punya banyak pekerjaan, maka dianya tentu dapat pekerjaan juga. Jika ternyata keahlian orang tersebut berguna, tentu perusahaannya tersebut juga akan senanguntuk mempromosikan kesuksesan perusahaannya tersebut. Jika demikian maka si ahli juga terikut promosi.

Tetapi jika yang terjadi adalah sebaliknya, jika ternyata institusi ‘kurang’ memakai si ahli, atau merespond, maka bisa-bisa si ahli tersebut tidak bisa berkinerja maksimum, karena dengan demikian si ahli tidak diberi tanggung jawab yang pas. Bahkan jika, lingkungannya tidak mendukung, atau tidak menganggap ahli tersebut ahli, maka bisa-bisa siahli tersebut jadi the looser.

Suatu contoh yang sangat menarik dapat ditunjukkan oleh ibu menteri keuangan kita, Sri Mulyani. Di sini khan ternyata banyak musuhnya, meskipun demikian karena dia ahli dan dapat mengkomunikasikan keahliannya. Lihat saja debat kemarin di DPR, dia dapat menjawab semua pertanyaan dengan penuh percaya diri, dan akhirnya sayapun tidak melihat ada yang salah dari apa-apa yang dilakukannya. Karena acara tersebut diberitakan besar-bearan di TV maka itu semua menjadi iklan besar bagi dia. Buktinya, sekarang dia ditawari oleh orang luar yang mengapresiasikan keahliannya. Ternyata orang luar yang dimaksud adalah tempat ibu menteri tersebut pernah bekerja juga, itu khan repeat order juga.

Betul khan. By the way, saya mengucapkan selamat kepada ibu Menteri. Selamat berkarya untuk  kebaikan dunia.

Jadi mengkomunikasikan keahliannya, dan membuktikannya sehingga dapat terjadi repeat order adalah penting juga.

Kembali ke topik.

Jadi sekali lagi, menajamkan keahlian adalah keharusan, tetapi mengkomunikasikan ke luar juga penting.

Jadi kalau begitu apa yang bapak tulis ini juga dalam rangka itu ?

Bisa ya bisa tidak. Mungkin yang tepat adalah sambil menyelam minum air. Terus terang dik, menulis bagi saya adalah suatu hobby, sekaligus sebagai reflesksi balik dari apa-apa yang baru saya kerjakan. Apa sih yang makna yang dapat saya ambil dari topik yang saya tulis tersebut. Bagaimanapun dengan menulis, maka kita dipaksa untuk mengingat kembali apa-apa yang baru saya kita kerjakan. Ini yang dimaksud kilas balik, selanjutnya dapat dievaluasi sehingga dapat diambil yang baik, dan dibuang yang tidak baik. Jadi itu khan sarana yang bagus untuk pengembangan diri.

Kecuali itu, dengan menuliskan di blog, yang dapat diakses cepat juga dapat dijadikan portofolio, atau dokumensi terhadap saya pribadi, bahkan juga orang lain yang mungkin sesuai dengan apa yang sedang dicari / dipikirkan. Karena pada dasarnya apa-apa yang saya tulis adalah apa-apa yang saya anggap baik, maka ini merupakan upaya saya untuk memberi kebaikan kepada yang lain (yang membutuhkan tentunya).

Emangnya ada yang enggak suka dengan tulisan bapak ?

Yah, apa itu perlu dipikirkan ?

Pasti ada-ada saja yang tidak suda, dan itu tidak perlu dipikirkan atau diabaikan saja.

Bagaimanapun untuk menyampaikan yang baik-baik secara sadar atau tidak sadar pasti akan diungkapkan mana yang tidak baik. Jadi jika ada orang-orang yang berkepentingan dengan yang tidak baik (menurut kaca mata penulis) maka itulah mereka yang beraksi, yaitu bikin argumentasi bahwa yang disebut tidak baik, dari kaca mata saya, sebetulanya adalah baik, begitu katanya.

Eh koq jadi cerita lain, baik kita kembali ke pelatihan. Akhirnya rencana pelatihan yang aku ceritakan di depan dapat berlangsung lancar, dua hari yaitu hari Kamis dan Jumat yang lalu. Ini sedikit dokumentasinya.

Ini modul pelatihan dua hari yang aku buat. Ternyata ketika digandakan oleh pihak WIKA diberi sampul yang menarik. Jadi seperti buku baruku. Wah hebat benar.

O ya, isi materi di atas tidak sama dengan bukuku yang telah diterbitkan lho. Beda. Kapan-kapan deh akan aku tulis ulang untuk dapat dipublikasikan secara luas. Wah kalau digabung dengan materi tahun lalu di Wika juga, bisa-bisa sudah cukup tebal.


Menerima plakat bahwa pelatihan telah berlangsung sukses selama dua hari full-time. He, he, ini tenggorokan masih kering, ngomong dari pukul 8 pagi sampai 5 sore, tentang SAP2000. Bayangkan. :)


Seperti biasa, berfoto bersama dengan engineer-engineer WIKA, ada yang datang dari Medan, Kalimantan dsb-nya.

Semoga dapat berjumpa kembali.

.

.

.

.

Cerita-cerita di blog  ini  tentang pelatihan yang pernah aku lakukan :

About these ads

9 gagasan untuk “pelatihan di WIKA tbk ke-2

  1. Salam,
    Saya aditya dari Samarinda,, pak wir, bagaimana kalau modul2 pelatihan yang pernah pak wir adakan, di publish supaya kami dapat belajar,
    Terima kasih

  2. Wah, laris manis nih Pak Wir, dapet repeat order terus… jadi pingin hehehe… bisa-bisa nanti bapak jadi “Authorized Trainer” SAP 2000 Indonesia :)

    Sukses terus ya pak…

  3. salam pak Wiryanto,

    modulnya ini di share tidak pak?

    sepertinya modulnya lebih menarik daripada analisa gempa dengan response spektrum di buku sap2000 bapak. saya download tutorial tentang response spectrum dari csi berkeleys jg masih bingung saat akan design resultnya.

  4. @Aditya dan R. Pramono
    Modul belum di-sharingkan karena masih mengikuti bahasa lesan, yaitu masih diperlukan kehadiran penulisnya untuk bisa memahami secara tuntas.

    @Purbo
    Trims dukungannya. Repeat order sih bukan tujuannya, hanya nilai tambah, yang penting adalah interaksi dengan para praktisi, untuk mendapat masukan dan juga respond untuk pengembangan lebih lanjut.

    O ya, juga untuk memenuhi tridharma perguruan tinggi yaitu pengabdian pada masyarakat. Jadi sebagai dosen tidak hanya berkutat dengan pengajaran di internal kampus saja.

    Sekaligus refreshing juga lho. :)

  5. @Pak Wir: Terima kasih pak Wir, pelatihannya membuka wawasan baru dan memantapkan saya yang belajar otodidak dan sesempatnya ini. Mudah2an bisa rutin sesuai rencana. Mohon maaf kemarin saya ngambil foto penyerahan plakatnya terlalu jauh :D

    @Purbo: Po, coba lihat yang sebelah kanan pak Wir persis hehe..

    @Pak Wir: Pak numpang komen untuk Purbo ya, kebetulan dia temen kuliah dan mentor saya dulu :D

  6. salam kenal dari saya pak,

    saya setuju dengan bapak kalau penulis harus tetap hadir dalam pembahasan agar tuntas, hanya menambah dikit pak, bagaimana jika di buat forum diskusi dengan kawan2 yang ingin belajar SAP pak, atau STAAD juga (jika bapak berkenan)

    saya suka dengan STAAD namun juga belajar SAP sedikit2… di harapkan dengan adanya forum diskusi SAP tersebut kita bisa bertukar pikiran dengan kawan2 dan bapak ikut berperan disana…

    Terima kasih pak, hanya sedikit usulan dari saya… hehe…

    • Forum memang lebih ke arah diskusi, ngobrol, sedangkan blog lebih kearah komentar terhadap topik yang disajikan.

      Forum menjadi milik bersama, semua peserta mempunyai sumbangan yang sama, sedangkan blog lebih bersifat personal khususnya yang menyajikan topik.

      Jadi kelihatannya memang berbeda, karena kalau di forum maka saya akan seperti yang lain. Forum akan lebih cocok jika pesertanya satu level yang sama. Jika searah, maka medium blog akan lebih cocok.

  7. Ping-balik: workshop SAP2000 di UPH – 2011 | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s