kebanggaan mengajar


Bagi orang yang tahu pekerjaanku, yaitu dosen di perguruan tinggi swasta, maka judul di atas tentu dapat dipertanyakan. Kenapa, karena yang namanya dosen khan memang kerjanya mengajar dan itupun dibayar.

Artinya, itu memang tugasnya. Jadi jika tidak mengajar, maka tidak digaji juga. Kalau begitu apa istimewanya mengajar, itu memang suatu keharusan. Konsekuensi pekerjaan gitu lho. Jadi jika sesuatu itu tidak istimewa, mengapa perlu dibangga-banggakan. Iya nggak.

Pemikiran di atas ada betulnya, karena dipikirnya dosen itu kerjanya mengajar saja, dan yang dibayangkan adalah mengajar murid-muridnya di kelas.

Kalau kondisinya seperti itu, maka bisa-bisa tambah tidak dapat dibanggakan lagi. Mengapa, karena jumlah muridku di kelas nggak lebih dari lima puluh, bahkan sering-sering hanya separohnya. Kondisi tersebut tentu sangat timpang dibanding kelas di tempat lain yang muridnya bahkan mencapai angka ratusan. 

Mengajar kelas isi dua lima dengan kelas isi seratus pasti berbeda, yang jumlah muridnya banyak terkesan lebih hebat. Nah beruntunglah jadi dosen di tempat yang banyak muridnya. Jadi kalau hanya mengajar kelas isi dua lima gimana hayo.

Yah begitulah, terus terang saja kelas yang aku ajar memang tidak banyak. Tetapi bagiku kelas sedikit atau banyak, semua aku anggap sama. Kualitas materi tetap harus dijaga, karena kalau berbicara tentang produk pikir, maka jumlah bukan sesuatu yang mutlak menentukan

Ah pak Wir, alasan saja. Emangnya bapak pernah mengajar banyak orang, murid kelas teknik sipil di kampus bapak khan terkenal sedikit. 

Pertanyaan anda ini menohok,  tapi untunglah pertanyaan tersebut kamu ajukan ke aku, kalau ke dosen yang lain, belum tentu bisa menjawabnya. Maklum, aku ini khan tidak hanya seorang pengajar, aku ini adalah seorang penulis. Penulis itu bisa tidak terbatas lho kesempatannya. Karena itu pula, maka aku beberapa kali mendapat kesempatan mengajar tidak hanya pada murid-muridku di kampus, tetapi mengajar pada scope yang lebih luas. Itu pula yang menyebabkan aku menjadi bangga adanya. Jadi mengajar saja bisa menimbulkan suatu kebanggaan bagi yang melakukannya.

Emangnya mengajar siapa pak, koq bangga gitu.

Begini dik, ternyata dari kegiatanku menulis ini ada orang yang tahu bahwa aku mempunyai kompetensi tentang sesuatu yang patut disharingkan kepada yang lain. Kompetensi yang dimaksud dalam hal ini adalah tentang struktur baja. Maklum aku khan dosen struktur baja I, II dan III di Jurusan Teknik Sipil UPH. 

Kebetulan sekali PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk. yang merupakan perusahaan baja terbesar di negeri ini akan mengadakan acara ilmiah yang dihadiri oleh orang-orang yang profesional di bidang ‘baja’. Dalam acara tersebut sekaligus akan diperkenalkan produk-produk baja dari perusahaan mitranya di luar negeri yaitu Nippon Steel Corp. yang mengadakan kerja sama.  

Sebagai perusahaan baja terbesar di Indonesia, dan akan mengadakan acara ilmiah, maka tentunya dapat diharapkan bahwa materi baja yang akan diungkapkan tentu tidak sembarangan bukan. Maklum, yang hadir pastilah bukan orang kemarin sore tentang baja, pastilah orang yang memang profesional menggeluti bidang tersebut. 

Dengan cara berpikir seperti itu, maka tentulah suatu kehormatan ketika ternyata PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk. melayangkan surat permintaan ke aku untuk menjadi salah satu pembicara tamu pada acara tersebut. Jadi ketika itu terjadi, maka langsung tanpa  pikir panjang aku sanggupi. Jadi aku dalam hal ini diminta untuk memberikan presetasi tentang baja (mengajar) pada tamu-tamu undangannya. Apa tidak membanggakan itu.

Oleh karena itulah maka aku membuat makalah khusus untuk itu. Sangat istimewa aku pikir, karena terus terang apa yang aku tulis pada makalah tersebut rasa-rasanya aku belum pernah melihatnya pernah ditulis dalam bahasa Indonesia dan dipresentasikan. Ketika acaranya berlangsung, yaitu hari Kamis tanggal 7 April 2011 kemarin, bahkan aku melihat makalahku itu paling tebal sendiri. Tahu berapa tebalnya makalah tersebut. 

Empat puluh sembilan halaman. Paling tebal lho dibanding pembicara-pembicara yang lain. Kalau tidak percaya, nanti deh aku up-load dan buktikan sendiri.

Ini dokumentasi ketika aku sedang mengajar.

Gambar 1. Aku (berdiri) dan pengajar yang lain (duduk).

Pada Gambar 1, yaitu ketika aku sedang asyik memberikan pengajaran, nampak para pakar lain yang telah selesai memberikan materinya. Duduk di sebelah kiri adalah Prof. Iswandi Imran (guru besar teknik sipil dari ITB, Bandung), yang tengah adalah Mr. Satoh dari Nippon Steel Corp. (Jepang) , adapun yang paling kanan adalah penerjemahnya.

Gambar 2. Di panggung membawakan materi pengajaran tentang baja

Gambar 3. Asyik mengajar, sampai nggak tahu kalau di foto

Gambar 4. Serius menyimak pertanyaan para peserta

Gambar 5. Para peserta seminar baja di Hotel Gran Melia Jakarta

Ketika berkesempatan duduk di depan tersebut, dan melihat kesekeliling, terlihat sekitar 180-200 undangan. Tidak terlihat mahasiswa, jadi semua yang hadirin adalah profesional yang bergelut dibidang baja. Jadi tidak sia-sialah aku menulis makalah siang-malam bahkan sampai setebal 49 halaman, adapun judulnya adalah:

Prospek dan Kendala pada Pemakaian Material Baja
untuk Konstruksi Bangunan di Indonesia

Download PDF (10.3 Mb)

Gambar 6. Kenang-kenangan dari panitia (PT. Krakatau Steel Tbk.)

Ketika setelah selesai presentasi, ketika ada acara makan siang, baru tahu kalau ternyata banyak teman-teman profesional baja dari Jakarta dan Bandung yang hadir. Senangnya lagi, teman-teman profesional tersebut mengucapkan selamat atas materi yang aku sampaikan. Atas itu semua, maka jerih payahku menulis makalah tersebut terobati sudah. Puas. :)

Ini name tag kenang-kenangan, karena mengajarlah maka name tag-nya beda.

Gambar 7. Name tag khusus bagi pengajar di ruang  tersebut

.

Artikel lain yang terkait

About these ads

32 thoughts on “kebanggaan mengajar

  1. Pak wiryanto,saya ek dari brawijaya malang .maaf menyimpang dari postingan,mau tanya tentang kji 2011.gimana kabarnya,denger denger pindah ke polban bandung.bulan nya kapan.temen temen uda prepare dan gak sabar ikutan kji taun ini.

    • Wah Eka, kamu bersemangat sekali. Aku juga mendengar rumor seperti itu yaitu bahwa KJI 2011 akan dipindahkan. Tapi kemananya, aku belum dapat kepastiannya. Ke Bandung, wah boleh juga nich, jadi kalau nanti diminta jadi juri lagi, bisa-bisa nostaliga ke sana lagi. Ok deh Eka, toh untuk proposalnya khan nggak ada bedanya apakah pelaksanaannya di Bandung atau di mana begitu. Jadi yang penting bikin saja persiapannya dengan baik. Tempo hari proposal dari tempatmu banyak sekali, coba tidak ada quota batasan bahwa satu universitas hanya satu, maka bisa-bisa pesertanya yang ikut dari tempatmu semua nanti. :)

  2. Makalahnya bagus sekali, pak! :-)
    Bahasan-nya berbobot dan bahasa-nya enak dibaca.

    Lalu, dari Nippon Steel sendiri mereka mem-presentasikan apa?
    Ada hal baru dari Jepang? Mungkin Bapak bisa sharing juga ke kami.

    • Komentar anda membuat saya tersanjung. Terima kasih, jadi ingin menulis lagi nih ye.

      Dari Nippon Steel saya mendapatkan dua makalah atau tepatnya presentasinya (Mr. Yoshiaki Sato dan Mr. Tomataka Fujiwara). Ada hal yang baru, jelas kita belum ada. Hanya sayang, materinya bolehnya hanya untuk perkuliahan saya saja, karena ketika tempo hari saya minta ijin untuk di share ke blog. Beliau tidak berkenan dengan alasan itu hak ciptanya Nippon Steel Corp. Jadi ya gimana ya mas, saya harus menghormati permintaannya tersebut.

      Yah meskipun makalah dari Nippon tidak bisa saya up-load, tetapi mungkin saya bisa memberi gambaran tentang perkembangan baja di jepang. Di sana, konstruksi bangunan populer menggunakan material baja dan kayu. Adapun beton tidak atau kalah populer. Itu mungkin kaitannya dengan gempa. Di sana juga diceritakan telah digunakan baja khusus yang memang dicipta untuk konstruksi tahan gempa. Ini aku juga baru dengar. Baja tersebut hanya dibuat oleh enam pabrik baja di dunia. Dari enam perusahaan baja tersebut, salah satunya adalah Krakatau Steel. Artinya apa, artinya pabrik KS itu hebat. Baja tersebut tidak dijual di negeri kita lho, tapi yang buat di sini. Apa nggak hebat itu. Juga diungkap disana, kolom untuk bangunan tahan gempa adalah kolom hollow kotak. Nggak pakai bentuk I atau WF seperti yang banyak dijumpai di sini. Intinya, perkembangan baja di sini ketinggalan. Out-of-dated gitu lho.

      • Ya, pak. Kita harus menghormati permintaan mereka tersebut.
        (Untung, tulisan2nya pak Wir nggak di-hak cipta-in ya.. hehehe… atau mungkin sudah?)

        “Kolom untuk bangunan tahan gempa adalah kolom hollow kotak”. Hmm… menarik nih…

      • dilihat dari geometrinya memang momen inersia profil hollow kotak lebih stabil (thd arah x dan y) dibanding profil I dan WF ya Pak.. hmm, jadi teringat film Extreme Engineering – Tokyo Sky City

  3. Ping balik: baut mutu tinggi itu ternyata berbeda-beda, awas ! | The works of Wiryanto Dewobroto

  4. Pak Wir,
    Saya termasuk orang yang kecewa…. Kecewa berat… karena nggak bisa hadir di acara tersebut…, saya tau ada acara itu kalo ngga salah 3 hari sebelum hari H… jadi udah ngga sempat daftar, ngatur waktu, dan minta ijin…. :'(
    Kekecewaan itu sedikit “terbayar” karena Pak Wir sudah sharing di sini..
    Tapi,.. tetap kecewa pak… :'( :D :D

    Semoga sukses dan sehat selalu, Pak Wir.
    Salam

    • Iwal, semoga lain kali jika ada seminar seperti itu kamu dapat ikut. Terus terang berbicara itu kalau di depan peserta yang antusias, maka segala jerih payah yang dikeluarkan sewaktu membuat persiapannya akan terbayarkan. Lega dan puas , begitu istilahnya. :)

  5. “Yah begitulah, terus terang saja kelas yang aku ajar memang tidak banyak. Tetapi bagiku kelas sedikit atau banyak, semua aku anggap sama. Kualitas materi tetap harus dijaga, karena kalau berbicara tentang produk pikir, maka jumlah bukan sesuatu yang mutlak menentukan”.

    <————–Setuju Pak dengan statement ini. Apalagi kalo yg diajarin juga punya respon yg luar biasa, tambah semangat deh ngajarnya:), malah jadi lebih giat lagi buat m'baca referensi-referansi yang baru biar gak ketinggalan.

    Proficiat Sir buat prestasi yg diraih. Prestasi di sini menurut saya karna momen, isi materi pengajaran dan bobot dari peserta yg hadir dalam acara ini. Walaupun hanya mengenal Bapak lewat blog ini, tapi rasanya ikut bangga sekali heheheheehe… :)

    regards

    R-Son

    • Trims R-Son, semoga memberi inspirasi bagi anda dan juga anak-anak muda yang lain agar dapat berbuat lebih baik lagi. Jika itu terjadi, maka Indonesia jaya tinggal menunggu waktunya saja. Dari impian akan segera menjadi kenyataan. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.

  6. Ping balik: studi banding, lagi-lagi studi banding ! | The works of Wiryanto Dewobroto

  7. nice articles, just want to add comment @ p.18

    “Dikaitkan dengan pemodelan sebagai struktur garis (1D) untuk struktur baja yang dianalisis dengan SAP (structural analysis program), maka perlu diperhatikan hal-hal berikut: … Opsi P-Delta(big) yang bisa digunakan untuk analisis gedung bertingkat tinggi belum tentu bisa mengevaluasi pengaruh P-delta (small) akibat adanya kelangsingan elemen struktur …”

    sudah bisa software keluaran skrg (SAP,STAAD,GTSTRUDL,RISA) walo caranya masih explicit namun pendekatan sudah cukup baik (Chen) terutama untuk sway frames, kalo yg jenis braced kelihatan belum perlu adjust manually dan banyak di benchmark/validate lagi.

    • sudah bisa software keluaran skrg

      Percaya atau tidak, yang jelas pernyataan saya di atas, diamini juga oleh AISC (2010) code baja terbaru. Kenapa AISC, karena kasus p-delta (small) banyak dijumpai pada elemen baja karena langsing.

      Pernyataan itu dikeluarkan karena AISC (2010) telah memakai Direct Analysis Method, suatu cara analisis stabilitas tanpa pakai faktor tekuk (K), tetapi mengandalkan program komputer analisa struktur orde-2.

      Karena ada keraguan seperti yang saya nyatakan di atas maka disarankan pemakai program tersebut melakukan verifikasi tersendiri terhadap program yang dipakainya. Info tentang itu silahkan baca Comm.C2. halaman 275 dari AISC 2010 tersebut. Pada code tersebut juga telah disediakan kasus benchmark untuk pengujian.

      Kebetulan saya sedang menyiapkan makalah untuk seminar HAKI 2011 untuk bulan Juli besok, moga-moga mendapat kesempatan mempresentasikan di depan teman-teman. Pada presentasi tersebut saya mencoba mengenalkan Direct Analysis Method tadi.

      • Dear Sir,

        melihat penjelasan di atas, apakah tulisan ini berkaitan dengan thread “imperfection” yg baru-baru ini di tulis Pak?

        Regards

        R-Son

        Komentar tanggapan : betul dik.

  8. explicit dgn loads&properties untuk pendekatan big delta dan adjust member untuk pendekatan small delta.

    thanks rujukan AISC yg newest nya, sya versi sebelumnya yg di Appendix.
    “These errors can occur both with second-order computer analysis programs and with the B1 and B2 amplifiers”
    which methods have good approximation, are these for general cases?

    sebenarnya saya lebih ke report oriented dripada codes oriented masalahnya bukan di pernyataan tapi di penjelasan dan rujukannya.

    Mengenai presentasi “metode desain langsung orde kedua” akan menjadi paper dalam bahasa Indonesia yg pertama yang saya baca. Itu kalo memungkinkan dgn di publish di blog ini or web sumbernya. kemungkinan ngga bisa datang saya non member, just individual.

  9. pemodelan dengan cara eksplisit, maupun memberikan notional load itu tidak terkait dengan pendekatan small delta, tetapi itu adalah untuk menciptakan efek destabilizing untuk memulai menghitung small delta. Jadi dalam hal ini komputernya harus sudah bisa menghitung efek p delta (besar dan kecil).

    Efek destabilizing dihasilkan oleh adanya initial imperfection akibat out-off-plumbness maupun out-off-straightness pada element batang yang ditinjau, juga akibat pengaruh distribusi inelastis akibat tegangan sisa.

    Adapun keraguan perhitungan terhadap efek p-delta (big atau small) lebih kepada kondisi natural formula di dalam komputer itu sendiri. Untuk itu kita harus memahami formula kekakuan yang mendasari program tersebut dibuat. Umumnya kita khan pakai element Frame (element 1D pada program SAP2000 sebagai contoh). Formula tersebut didasarkan oleh dua nodal dan satu element penghubung. Pada formula tersebut DOF (degree of freedom) yang ditinjau adalah pada nodal (ada 6 dof). Di situlah semua formula kekakua program tersebut diproses. Adapun nilai-nilai di antara, yaitu di element diperoleh dari interpolasi.

    Prinsip dari perhitungan yang memperhitungkan efek p-delta adalah dapat memasukkan pengaruh deformasi untuk hasil analisis. Non linier geometri tingkat rendah. Efek p-delta besar adalah pengaruh deformasi pada ujung element, di element Frame di ujung element otomatis sudah ada nodal, jadi deformasi langsung diperoleh, sedangkan efek p-delta kecil adalah pengaruh deformasi pada tengah atau di dalam element. Sedangkan di antara element khan jika hanya pakai pemodelan standar untuk Element memang tidak ada nodal, maka deformasi diperoleh dari cara interpolasi atau semacamnya secara tidak langsung. Itulah yang menimbulkan ketidak-telitian.

    Jadi yang menyebabkan ketidak telitian tersebut bukan explicit atau semacamnya tersebut tetapi cara interpolasi atau semacamnya yang tidak langsung tersebut, yaitu bagaimana algoritma yang dipakai oleh program. Itulah yang harus dievaluasi terlebih dahulu oleh engineer sehingga dia tahu bagaimana strategi mengatasinya.

    Penelitian yang saya buat, yang akan saya presetasikan di EACEF-3 di Yogya nanti, memberi petunjuk bahwa permasalahan itu dapat diatasi dengan membagi model element. Jumlah pembagian atau menjadi berapa segment, itu tergantung dari mode buckling-nya. Jika buckling orde pertama, yaitu cembung satu puncak (seperti rumus euler) maka dibagi dua saja sudah cukup teliti untuk memasukkan pengaruh p-delta kecil.

    Ketidak telitian efek p-delta kecil antara 5 -15 prosen, hanya signifikan pada elemen struktur yang lansing, itu umumnya hanya dijumpai pada baja atau kayu, untuk beton yang dominan adalah p-delta besar karena umumnya elementnya stocky (gendut). Karena orang kita lebih banyak berkiprah di beton maka itu tidak menjadi masalah, yah 5 – 15 prosen, cincai dah. Tapi bagi orang baja, he, he, sekarang saya sedang dipihak itu, maka itu perlu diwaspadai.

    Mungkin begitu dulu pak Parhyang.

  10. “…., itu tergantung dari mode buckling-nya. Jika buckling orde pertama, …”
    acuannya buckling modes ya, bukan column curvature? sya sndri biasa adjust member 4

    dan mengenai benchmark AISC dri rujukan yg diberikan p.276 (kenapa cuman 2cases ya?) sya pikir software yg sdh disebut capable selama ada pembangkit deflection member (strong/weak axes), sya hanya quick review & hasilnya :
    for C2.2
    M_mid=42.58kN.m(-0.98%)
    Delta_mid=8.10mm(-1.34%)
    for C2.3
    M_base=95.49kN.m(-1.76%)
    Delta_tip=64.99mm(-2.42%)

    dari hasil diatas terlihat dpat capture mslah small delta (local)

    permasalahan adalah pd jenis model C2.2 jika tidak ada gaya lintang sebagai pembangkit defleksi maka ngga bakalan sesuai hasilnya thd pendekatan geometric imperfection. seperti yg diawal sya sdh sebutkan terlihat ini perlu adjust manually pda kasus braced frames.

    okey pak Wir, mkasih tambahan penjelasannya diatas, salam.

    • Second order analysis, yaitu P-D dan P-d, sangat tergantung dari besarnya P jadi untuk memakai uji benchmark pada AISC (2010) tersebut perlu dicoba dalam beberapa nilai P, dengan P maks = P buckling.

      Uji benchmark memang diberikan dua saja untuk kasus-kasus umum, tetapi AISC juga menyarankan acuan untuk kasus benchmark jika diperlukan.

      Pernyataan anda “adjust manually” sangat mengambang dan bisa membuat bingung. Apanya yang di-adjust, kalau tidak tahu falsafahnya maka itu proses seperti trial-and-error serta hanya mengandalkan faktor kebetulan belaka. Seorang tukang dapat dengan mudah melakukannya, tetapi bagi seorang engineer, mereka perlu belajar dasar-dasar terorinya dengan harapan agar cara berpikirnya tidak seperti tukang.

  11. ada beberapa hal utama perlu diperhatikan dlm analisa desain langsung diantaranya adalah pengaruh orde kedua akibat gaya aktual dan ketidak sempurnaan geometri. dalam hal ini sya membicarakan bareng, jadi terkesan bercampur. sya terbiasa tidak memecah satu masalah yg ada keterkaitannya.

    yg saya maksud berbeda pada kasus kolom tanpa gaya lintang jenis braced frames adalah point terakhir, perlu explicit diterapkan sendiri (manual) ngga auto seperti sway frames.

    penjelasannya mungkin cukup sederhana,
    kasus C2.2 dihilangkan gaya lateral meratanya, maka momen sekunder akan selalu nol berapapun nilai P axial nya. padahal jika dimodelkan dgn actual geometric imperfections pasti tidak seperti itu. pertanyaannya bagaimana pendekatan lain agar terwakilkan? apakah ini dapat dikerjakan auto oleh program? setahu saya belum. makanya sya katakan perlu “adjust manually” mengenai konsistensi jawabanya iya ‘coz theoritical background sdah jelas sperti yg disampaikan Kim&Chen

    • Saya agak bingung dengan penjelasan anda tentang DAM (Direct Analysis Method) di atas yang bahkan cukup hanya : “perlu explicit diterapkan sendiri (manual) nggak auto seperti sway frames”.

      Pertama-tama sebelum anda mencoba mengungkapkan pendapat anda di atas apakah anda sudah mencoba mengaplikasikan sendiri metode DAM dan membandingkan dengan metoda lama. Karena jika anda telah mencoba membandingkan sendiri maka akan tahu bahwa strategi explicit tidak selalu perlu dilakukan untuk mengaplikasikan DAM. Memang cara itu bisa dikerjakan, tetapi jelas tidak praktis. Cara eksplisit adalah memodelkan secara aktual initial imperfection dari elemen, yang berupa out-off-plumbness atau out-off-straightness, cara ini hanya biasa dikerjakan untuk penelitian.

      Agar penjelasan anda tidak membingungkan pembaca yang lain, ada baiknya saya merangkumkan konsep DAM (Direct Analysis Method) yang sekarang menjadi cara utama analisa stabilitas pada AISC 2010 (yang terbaru).

      Cara DAM adalah metode analisis stabilitas berbasis komputer untuk mengantisipasi strategi perencanaan struktur baja yang lama yang mengandalkan digunakannya faktor K (faktor tekuk) dan faktor B1 dan B2 yaitu magnification faktor untuk memperhitungkan efect P-delta.

      Jadi yang diubah dalam DAM adalah cara mendapatkan kuat perlu (Mu atau Pu). Sedangkan untuk mendapatkan kuat nominal tidak ada perubahan kecuali hanya memasukkan nilai K=1 untuk parameter yang memerlukan rumus KL/r.

      Jadi sebenarnya tidak terlalu total perubahannya, meskipun demikian kalau orang tidak tahu pasti akan membingungkan, mengapa. Umumnya tekuk elemen hanya ditentukan oleh faktor KL/r, E dan A, padahal ternyata bukan itu yang utama. Itu hanya cocok digunakan dengan kurva kapasitas tekuk yang ada selama ini. Itu dibuat agar perencana dapat menganalisis dengan tool yang ada saat itu yaitu kalkulator.

      Adanya komputer maka cara pendekatan tersebut tidak cocok maka mereka menuju persoalan yang utama, bahwa yang namanya tekuk itu sangat terkait dengan [1] cacat bawaan fisik (initial imperfection) dan [2] distribusi inelastis pada penampang akibat tegangan sisa. dan terakhir tentu saja[3] kondisi batas penampang seperti yielding, frakture dsb.

      Itulah maka faktor K yang selama ini mensimulasi semua masalah tersebut dibongkar total dan dihasilkan DAM. Strategi DAM adalah sebagai berikut:

      [1] semua analisis DAM hanya berlaku pada kondisi batas, hanya untuk mencari hubungan antara Mu <= phi Mn, yaitu check kekuatan. Tidak berlaku untuk kondisi beban kerja.

      [2]digunakan program komputer yang mempunyai kemampuan second-order analysis tentu saja ini harus sukses melewati benchmark AISC.

      [3] memodelkan initial imperfection dengan dua cara yaitu notional load atau boleh dengan eksplisit. Jadi tidak harus eksplisit.

      [4] pengaruh distribusi inelastis dimodelkan dengan reduksi kekakuan. Tetapi untuk reduksi kekakuan lentur boleh memakai notional load yang ditambahkan ke item 3.

      Ke empat strategi tersebut dapat terbukti mampu menggantikan ketiga faktor K, B1 dan B2 yang sebelumnya membuat ribet hitungan cara lama.

      Itulah prinsip DAM yang relatif lebih sederhana karena bisa langsung menghitung kapasitas penampang, itulah mengapa disebut direct analysis method.

      Mau tahu lebih detail tentang DAM, makalahnya sudah saya submitt ke HAKI untuk seminar 26-27 Juli 2011 moga-moga diberi kesempatan untuk dipresentasikan. Semoga.

  12. salam pak Wir,
    menyimak obrolan diatas, ternyata menarik untuk ditunggu makalah Pak Wir tentang DAM tersebut. kira2 nanti setelah di seminarkan, makalahnya di upload di blog ini gak pak? hehe…maklum mahasiswa suka yang gratisan…

    oya pak Wir, iseng-iseng saya coba simulasikan benchmark dalam AISC 2011 gambar C-C2.4 dengan ETABS v9.7 (bajakan…hehe), dan hasilnya Sbb:
    single element P-DELTA analysis:
    DELTA: 0,583 in
    Mu : 419,4 kip in

    analisis P-DELTA dan P-delta :
    DELTA: 2,193 in
    Mu :1385 kip in (0,64%)

    apa dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa ETABS versi ini memiliki kemampuan second order analysis yang ditetapkan AISC 2011?? untuk benchmark problem case 1 dan case 2 pun demikian. setelah saya simulasikan dengan ETABS v9.6 ini, hasilnya tidak berbeda jauh (selisihnya tidak sampai 1%) dengan variasi gaya aksial yang diberikan. berbeda dengan program SAP2000 V 14 yang hasilnya sangat berbeda.
    terima kasih pak. Gbu.

    • Penelitian saya menunjukkan bahwa SAP2000 ver 7.4 (release 2000) mempunyai kapabilitas yang sama dengan ver 14 (release 2009). Artinya infrastruktur untuk pengaplikasikan DAM sudah ok.

      Selanjutnya saya aplikasikan pada perancangan struktur sesungguhnya, yaitu struktur yang mempunyai P-delta effect. Hasilnya saya bandingkan antara metode KL/r dan DAM yang lebih sederhana, ketelitiannya mendekati. Jadi kita perlu mempelajari metode DAM yang telah menjadi metode resmi AISC (2010) untuk analisa stabilitas struktur.

      • o gitu y pak. saya sepertinya kurang teliti menggunakan SAP2000-nya.
        iya, pak saya juga lihat perhitungan stabilitas struktur dengan DAM pada AISC 2005 sangat panjang dan ribet, harus tahu dl faktor K, B1 trus B2…kemudian d hitung amplified moment dan axial load.

        terima kasih pak buat tanggappannya.

  13. @ary
    yang kamu sebutkan itu bukan DAM tetapi metode yang lama, yang di AISC (2010) disebut sebagai Efective Length Method (ELM), yaitu digunakannya K > 1 (sway) atau K<=1 (brace).

    Cara DAM adalah memakai K=1 dan B1 dan B2 langsung dihitung oleh komputer. Jadi hasilnya langsung (direct) dipakai sebagai Mu. Gitu mas Ary.

  14. Ping balik: kebanggaan mengajar | Sufa Parquet Wood Flooring - Parquet Lantai Kayu Terbaik

  15. Ping balik: kebanggaan mengajar | Wood Flooring - Parquet Lantai Kayu Terbaik

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s