baut mutu tinggi itu ternyata berbeda-beda, awas !


Dua puluh tiga tahun yang lalu, yaitu saat pertama kali kerja di PT. Wiratman & Asociates (Jakarta), saya sudah terlibat dengan yang namanya baut mutu tinggi. Waktu itu saya perlu mempelajarinya karena diperlukan untuk merencanakan sistem sambungan balok baja untuk atap proyek Thamrin Tower. Saat ini gedungnya diberi nama ATD Plaza, di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat.

Struktur atap yang direncanakan relatif kecil (menurut ukuranku saat ini), masalahnya pada waktu itu adalah karena aku masih fresh graduate sedangkan di sisi lain yaitu engineer in-charge-nya langsung orang Jepang,  Mr. T. Araki namanya. Bayangkan saja, sebagai engineer muda yang baru lulus disuruh merencana secara lengkap struktur baja. Meskipun waktu itu, ketika kuliah di UGM juga telah mengerjakan tugas struktur baja dengan baik, tetapi ketika masuk dunia kerja, koq rasa-rasanya nul putung. Nggak tahu  apa-apa. :(

Bayangkan saja, menggambar struktur baja yang relatif kecil itu saja waktu itu sampai ditolak beberapa kali, dan disuruh merevisinya lagi oleh orang jepang tersebut. Aku ingat sekali, revisinya sampai tujuh kali. Pokoknya stress berat dan bahkan ada pemikiran mau resign saja. Mikir, merencanakan struktur atap saja, yang bagian kecil koq rasa-rasanya ribet dan susah banget gitu. :(

Untung saja, aku ini punya ego yang tinggi, malu kalau dikatakan tidak bisa. Jadi ya, sudah aku ndableg saja, proses tersebut aku jalani. Revisi, kalau alasannya logis , ya sudah revisi aja. Untung drafter yang membantuku juga mendukung. Akhirnya dengan bermodal ndableg, ditambah unsur ketabahan, ditambah kemauan keras untuk belajar lagi maka tugasku di proyek tersebut beres. Aku berhasil merencanakan atap baja pada bangunan tower ATD Plaza tersebut.

Sejak bisa mengatasi stress beratku, maka selanjutnya aku dengan yang namanya struktur baja adalah seakan-akan berkawan. Delapan tahun kemudian, setelah aku ke luar dari PT. W&A aku membantu teman seniorku membuat kantor konsultan sendiri. Itu sekitar tahun 1994 – 1998. Waktu itu aku sekolah S2 di UI dan sekaligus sebagai manager teknik suatu konsultan struktur milik seniorku. Maklum, dia aktif di pekerjaan lain sebagai eksekutif, jadi yang sehari-hari aku yang bertanggung jawab.

Pada masa itu aku mendapatkan proyek bajaku yang terbesar, yaitu bangunan atap clinker-silo diameter 60 m, bebas kolom untuk pabrik semen Kudjang. Pabrik semen tersebut saat ini sudah berganti nama menjadi semen Holcim, lokasinya di Cibinong. Lokasinya terletak di sebelah utara pabrik semen Indosemen Tigaroda. Kantor konsultanku pada waktu itu bekerja membantu PT. L&M system yang merupakan kontraktor pada pabrik semen Kudjang tersebut.

Meskipun hanya diameter 60 m, tetapi struktur baja tersebut luar biasa. Atapnya berbentuk kerucut, di atasnya terpacung lalu ada konstruksi baja berbentuk silinder, kira-kira diameter 20m. Konstruksi silinder diameter tersebut ada beberapa tingkat. Di situ dipasang mesin-mesin clinker, bobotnya beberapa ratus ton.

Masalahnya adalah, bahwa kita yang terlibat di situ belum pernah mengerjakan itu semua. Untung pada waktu itu ada gambar sistem yang hampir sama, atau bahkan sama, karena juga untuk clinker silo diameter 60 m, yang telah dibangun untuk pabrik semen Nusantara, di kota Cilacap.

PT. L&M system pada waktu itu memakainya untuk mengestimasi biaya, juga memperlihatkan kepada kami, siapa tahu itu bisa dicontoh.

Terus terang, sistem yang ada di pabrik semen Nusantara tersebut terlihat rumit.  Tetapi mereka memakainya sebagai rujukan karena memang telah dibangun di Cilacap, dan juga karena desainnya adalah dari Australia. Tahu sendiri khan, kalau dari luar negeri kesannya meyakinkan sekali.

Ketika di tanya apakah desain yang akan dipakai itu sistemnya sama dengan yang di Cilacap, tentu aku tidak dapat dengan segera menjawabnya. Perlu dipikirkan dengan baik. Kenapa, karena dari satu sisi adalah desainnya dari luar negeri dan sudah dibangun. Jadi dianggap layak, tetapi kalau mau dipilih koq akunya sendiri tidak paham, masih bingung dengan gambarnya. Kondisi seperti itu saya yakin juga dialami oleh perencana lain. Untunglah, ego di diriku cukup tinggi, ketika dulu itu berhasil menyelamatkan pada proyek ATD Plaza, maka untuk proyek inipun ternyata juga membantu. Di satu sisi aku tidak memahami sistem yang digunakan oleh konsultan Australia itu, tetapi kalau mengaku tidak bisa rasa-rasanya malu. Maklum, waktu itu aku khan sudah ditunjuk sebagai manajer teknik. Akhirnya aku memakai ideku sendiri, sistem sendiri dan seperti biasa yang sering aku tulis di makalah-makalahku yang lain, bahwa ide yang kubuat itu belum pernah ada saya baca di buku-buku struktur baja. Asli.

Kamu percaya nggak. He, he, kalau nggak percaya ya sudah, tetapi jika kamu mau membaca tulisan-tulisanku. Perhatikan, aku tidak suka copy and paste ide orang lain. Aku bangga dengan pikiran atau ide yang aku buat sendiri. Pada akhir artikel inipun kamu juga akan tahu, bahwa meskipun ini hasil membaca tulisan orang lain tetapi aku ceritakan dengan bumbu. Sampai tahap ini, ini masih bumbunya lho, belum tulisan inti. Ok.

Emangnya ide pak Wir yang dipakai di proyek Semen Kujang itu, lebih baik dari yang digunakan di semen Nusantara (Cilacap) ?

Pertanyaan bagus. Kamu mau bilang, apakah rancanganku nggak kalah dengan rancangan orang Australi. Gitu khan. He, he, inilah bagian yang menarik, yang membuatku percaya diri jika ditanya soal struktur baja. Maklum, ternyata semua itu tidak ada yang sifatnya kebetulan. Kalau kamu mau tahu, ternyata mempertahankan ide suatu rancangan itu ternyata tidak sederhana, pada saat erection-nya saja, waktu itu khan menggunakan mobile crane yang menyewa dari Singapore. Permintaanku ketika mencopot perancah memerlukan metoda pelaksanaan yang tidak murah, tetapi itu semua terobati ketika pencopotan perancah dapat berhasil dengan baik. Atap baja benar-benar free of column untuk bentang 60 m tersebut. Itu dianggap prestasi karena ternyata atap baja yang dipasang di Cilacap, yang buatan atau hasil perancangan orang Australia tersebut ternyata kolom perancah utamanya di tengah-tengah bentang tidak berani dicopot. Di jadikan kolom permanen. Jadi hasil rancanganku lebih baik. itupun baru tahu ketika proyek telah selesai.

Sejak itulah kadang kalau berbicara tentang struktur baja aku lebih percaya pada hasil pemikiranku. Bayangkan saja, pada waktu itu aku baru sekolah S2, belum tamat. Sekarang aku sudah selesai S3, jadi kalau aku percaya diri dengan struktur baja, maka jangan heran ya. He, he, itu karena aku telah menggeluti struktur baja sejak lama.

Saya yakin, jika kamu menyenangi baja, dan terus menggelutinya maka bisa saja lebih baik dariku. Aku sangat yakin itu. Karena orangnya pintar, cerdas, ber IQ 157, tetapi tidak menyenangi baja dan tidak menggelutinya maka jelas belum kompeten dia dengan materi tersebut.

Sejak pengalaman praktis seperti itu, sampai sekarang, aku menikmati menggeluti dunia struktur baja. Jadi bukan karena kebetulan kalau aku sekarang dipercaya oleh UPH untuk menjadi penanggung jawab mata kuliah struktur baja di Jurusan Teknik Sipil-nya.

Jadi meskipun mata kuliah baja baru aku pegang 4 tahun terakhir ini (aku sudah lebih dari 10 tahun di UPH), bukan berarti mata kuliah tersebut dialihkan ke aku karena nggak ada dosennya. Itu memang permintaanku, karena waktu itu ketika aku ditawari mata kuliah tersebut, aku bilang ke Kajur-nya bahwa kalau mata kuliah itu menjadi tanggung jawabku maka materinya akan aku rubah total.

Aku tidak mau memakai materi dari dosen baja yang lama, aku akan membuat sendiri sesuai dengan pemahaman yang aku punyai. Maklum aku belajar tentang baja selama ini adalah otodidak, dari hasil membaca (buku, jurnal, prosiding) dan digabung dengan ngelmu titen (ini bisa untuk apa-apa, banyak hal, aku pelajari dari orang tua di Jogja), dan juga dimatangkan dengan diskusi bersama pakar yang mau diajak diskusi. Jangan lupa juga, aku punya banyak pengalaman mengaplikasikannya.

Jadi intinya, jika kajurnya percaya kompetensi baja yang aku miliki, maka aku akan mengajar (dengan materi yang aku buat sendiri), jika tidak, ya sudah aku nggak jadi ambil.

Untunglah aku diberi kepercayaan, jadilah aku dosen baja. :)

Dengan latar belakang pengalaman seperti di atas, maka tentu dapat dimaklumi mengapa aku bisa dengan mudah menulis tentang materi struktur baja. Tulisanku tentang struktur baja, baru saja saya presentasikan di seminar PT. Krakatau Steel di Hotel Gran Melia tanggal 7 April 2011 kemarin. Seperti biasa, di setiap tulisanku aku selalu menyatakan bahwa itu semua adalah asli dan tidak sekedar copy and paste. Kamu sudah baca belum, jangan sampai ketinggalan download saja di sini, silahkan dibandingkan dengan materi kuliah baja yang telah kamu peroleh. Nggak kalah lho. :)

Itu semua dapat terjadi karena aku mengikuti kata pepatah berikut, “bisa karena biasa”.  Tapi meskipun demikian, yang namanya “percaya diri terhadap struktur baja” adalah tidak sama dengan “bisa semua tentang struktur baja.

Ternyata meskipun telah bertahun-tahun menggeluti materi baja, masih banyak saja hal-hal yang aku tidak tahu. Semakin mempelajarinya , maka rasa-rasanya semakin banyak yang aku belum tahu. Itu aku tahu, kalau sedang diskusi dengan orang-orang baja. Kadang-kadang ada juga pendapat atau tepatnya pertanyaan orang tidak dapat aku jawab secara tuntas.

Ini contohnya, ini aku dapat ketika sedang berdiskusi asyik dengan ibu Lanny, pakar jembatan PU. Terus terang aku ini tidak banyak bicara, tidak pintar basa-basi, tetapi ketika berbicara tentang bidang yang menjadi peminatanku yang aku kuasai maka diskusi bisa berlama-lama.

Kebetulan ibu Lanny setiap senin pagi datang ke UPH untuk memberi kuliah Teknik Jembatan. Di sela-sela waktu menunggu perkuliahan, saya sering diskusi tentang baja dengan beliau. Ini salah satu pernyataan beliau yang terlontar: “baut mutu tinggi grade 8.8 (standar Eropa) dengan baut mutu tinggi A325 (standar USA) itu beda lho pak“.

Lho beda bagaimana, baut grade 8.8 khan dianggap setara dengan A325 dan bukan A490, kalau beda dimana. Bu Lanny karena latar belakangnya praktisi mengemukakannya, bedanya adalah pada kepala bautnya pak Wir. Jadi hati-hati.

Yah pendapat pakar memang pendek-pendek. Terus terang apa pengaruhnya terhadap kekuatan struktur, juga mengapa bisa dianggap setara. Bu Lanny tidak menjelaskan lebih lanjut. Mungkin juga pengetahuan beliau hanya didasarkan pengalaman empiris, bahwa secara fisik ke dua baut meskipun dianggap setara adalah tidak sama.

Lalu apa kaitannya dengan perilaku strukturnya. Sampai di sini belum terjawab, bu Lanny juga belum punya jawabannya. Apakah anda mempunyainya.

Sedangkan alasan dianggap setara adalah didasarkan pada kuat leleh dan kuat batas materialnya, ini daftarnya :

Standard Fy Fu
Grade 8.8 92 ksi (634 MPa) 120 ksi (827 MPa)
ASTM A325 660 MPa 830 MPa

Pemahaman atas kesamaan mutu material dari Grade 8.8 dan ASTM A325 itulah yang menyebabkan aku bisa menyatakan bahwa keduanya setara. Tetapi kemudian muncul pernyataan bu Lanny bahwa secara fisik keduanya itu beda, tentu itu menimbulkan pertanyaan. Apa pengaruhnya untuk struktur.  Selama ini di buku-buku tidak ada yang menyinggung bahwa bentuk fisik juga mempengaruhi, tidak ada penjelasan tentang hal itu.

Bayangkan saja, sudah bertahun-tahun berkecipung di dunia baja, ternyata tidak bisa menjawabnya juga. Itulah yang terjadi, intinya kita ini sebagai manusia adalah terbatas, itulah mengapa sampai ada pepatah “ngelmu padi, semakin berisi semakin merunduk”. Masih banyak hal yang kita ini tidak tahu, itulah yang terjadi padaku. Untunglah di satu sisi aku percaya diri untuk mengatakan sesuatu yang aku bisa, tetapi juga tidak malu jika ternyata ada yang aku belum bisa. Mohon dimaklumi ya kalau ada pertanyaan di blog ini aku tidak menjawabnya. Jadi jangan dibayangkan jika aku bisa menulis banyak itu artinya juga bisa menjawab banyak.

Dengan tetap mengingat pernyataan di atas bahwa meskipun secara material baut 8.8 setara dengan A325 tetapi secara fisik keduanya beda. Baut A325 punya kepala baut yang berukuran lebih besar dari baut 8.8. Jadi pesan ibu Lanny, pakailah baut A325 untuk jembatan dan bukan baut grade 8.8.

Ternyata pesan ibu Lanny ada benarnya, yaitu setelah aku membaca artikel karangan Wayne Wallace yang berjudul “You Can’t Tension All Bolts“. Dari artikelnya tersebut aku jadi tahu, meskipun material baut bisa sama mutunya, tetapi kalau ukuran dan bentuk fisik baut berbeda maka kinerjanya dapat berbeda, khususnya terhadap pengaruh pretensioning.

Kamu tahu khan, pretensioning adalah hal yang mutlak untuk baut dengan mekanisme slip-kritis, yang merupakan mekanisme yang diharuskan untuk struktur jembatan karena tahan terhadap fatig. Biasanya untuk gedung cukup mengandalkan mekanisme bearing. Jadi untuk struktur bangunan gedung memang baut mutu tinggi grade 8.8 dan A325 dapat dianggap setara, karena memang tidak di push terhadap pretensioning.

Di sini perbedaan yang utama memakai baut A325 bahwa pretensioning dapat diberikan minimal 70% Fu baut. Sedangkan baut 8.8 kalaupun mau pretensioning maka besarnya maksimum 70%.  Beda sekali khan.

Baut yang diberikan pretensioning lebih dari 70% mempunyai resiko kerusakan, dan ternyata tipe kerusakan yang terjadi tergantung dari bentuk fisik baut itu sendiri. Ini tipe kerusakan yang mungkin terjadi pada baut mutu tinggi yang diberi pretensioning.

Gambar 1. Baut mutu tinggi yang mengalami putus akibat pretensioning

Inilah yang selama ini terlihat pada buku-buku baja tentang baut. Maklum buku-buku baja kita banyak yang mengacu  ke Amerika, yang mana bautnya mengacu pada ASTM A325. Kepala baut yang lebih lebar, dan tebal nut yang lebih membuat bagian yang lemah adalah pada batang baut dan bukan ulirnya. Jadi inilah jawaban mengapa pada spesifikasi baut A325 dan A490 maka pretensioning yang diberikan minimal 70%. Karena bagaimanapun, semakin besar pretensioning maka hasilnya akan lebih baik. Kinerja slip-kritis baut semakin baik. Resiko yang terjadi jika berlebihan paling-paling ya bautnya putus, seperti  Gambar 1 di atas. Jika itu terjadi maka solusinya gampang, ganti baut.

Catatan : tapi hati-hati untuk baut A490 yang lebih getas, baca komentarnya pak Sanny Khow, di sini.

Jika bentuk fisik bautnya ternyata berbeda dengan spesifikasi baut A325 ternyata bisa menghasilkan fenomena kerusakan akibat pretensioning yang berbeda pula, seperti ini bentuk kerusakannya.

Gambar 2. Kerusakan ulir (Stripped Threads)

Kerusakan ulir atau bahasa jawanya adalah “lodok”, jelas akan mengakibatkan kekuatan pretensioning-nya hilang. Ini bisa terjadi jika pretensioning-nya berlebihan (lebih dari 70% Fu). Itulah yang disyaratkan pada baut grade 8.8, yaitu tidak boleh diberi pretensioning lebih dari 70% Fu.

Kerusakan ulir jelas lebih sulit dideteksi dibanding kerusakan akibat baut putus. Kerusakan ulir mengakibatkan kinerja dari sambungan slip kritis (biasa pada jembatan) akan menurun dengan drastis.

Itulah jawaban dari pernyataan ibu Lanny, mengapa untuk baut jembatan harus pakai baut A325 dan bukan baut grade 8.8 saja. He, he, pernyataan engineering judgement-nya bu Lanny, sudah dapat jawabannya. Terus terang, ini ilmu baru juga lho bagiku.

Dari tulisan Wayne Wallace dapat diketahui bahwa baut mutu tinggi ternyata macam-macam, meskipun mungkin mutu bahannya sama tetapi ada yang cocok untuk diberikan pretensioning (untuk baut slip-kritis) ada yang tidak cocok.

Batu mutu tinggi yang cocok untuk mekanisme slip kritis, untuk struktur jembatan atau struktur yang beresiko terhadap fatique  adalah baut yang memenuhi spesikasi berikut :

  • Amerika – ASTM A325, A490 (Imperial atau metric)
  • British – BS 4395
  • Jepang – JIS 1186 (misalnya grade F 10)
  • Australia – AU 1252

Sedangkan baut mutu tinggi yang hanya cocok untuk mekanisme bearing, biasa dipakai pada gedung adalah baut yang memenuhi spesifikasi:

  • BS 3692
  • DIN 931, 933
  • DIN 6914/15
  • BS 4190
  • JIS G4105

Jadi dari beberapa gambar baut mutu tinggi berikut, yang sepintas bentuknya sama, ternyata hanya dua yang dapat digunakan untuk baut jembatan.

 Gambar 3. Macam baut mutu tinggi, tetapi kinerja bisa beda-beda.

Ternyata ngelmu baut, yang di buku-buku baja jarang di singgung, ternyata nggak sederhana. Kondisi ini pula yang mungkin membenarkan dugaanku bahwa konstruksi baja di tanah air ini tidak populer karena ternyata lika-likunya lebih rumit dibanding beton.

.

Ada cukup banyak tulisanku tentang struktur baja di blog ini. Lihat saja daftar berikut, siapa tahu berguna :

About these ads

82 thoughts on “baut mutu tinggi itu ternyata berbeda-beda, awas !

  1. Pak,

    Wah tulisan yg sangat bagus.
    Saya cuma mau comment bahwa idealnya bolt itu di pretension (mungkin dari min pretension sampai 30% more). Dari pengalaman saya di lapangan, kita tidak boleh berpikiran bahwa semakin besar pretensioning semakin baik terutama untuk A490 bolts yang sifatnya sangat getas.

    Jadi gini ceritanya, waktu bolt installation dan inspection, tentu ironworkersnya ngak mau kalau ada bolt yang undertensioned alias waktu di tes masih tetap berputar, karena mereka bakal di cap tidak bekerja dengan baik. Karena ironworkers ini tdk tahu relation antara graph rotation vs tension, mereka akan men-tension secara berlebihan (misal hanya ½ turn mereka bikin full turn); mereka bisa curang, tensioning dulu boltnya baru di mark ½ turn. Karena tension yang dihasilkan tidaklah significant setelah bolt melewati ½ turn (tentu tergangtung L/D ratio dari bolt) tapi bolt itu sudah mendekati maximum elongationnya dan bolt bisa putus.

    Takutnya kesalahan ironworkers ini systematic, jadi nanti kalau ada additional load, misalnya angin, gempa, atau beban yg lain, bolt bolt yg sudah overtensioned ini putus. Ini kejadian yg real yg ditakuti terjadi di proyek saya. Pada suatu hari kita temukan 8 bolts putus, bayangkan tower yg lagi dibikin belum ada loadingnya. Bayangkang kalau sudah loaded. Semoga tidak terjadi.

    Nanti saya kirim graph dari rotation vs tension.

  2. Makasih P.Wir tentang info barunya, sekedar berbagi komentar tentang baut mutu tinggi. Menurut saya cukup susah juga mendapatkan pre-tension baut mutu tinggi pada kenyataan di lapangan, sebabnya biasanya indicator untuk pretension mayoritas ditentukan dengan alat yang disebut ‘Torque wrench’ atau pengencang yang ada indikator torsinya. Jadi pretension harus diukur dengan momen torsi yang terlihat pada alat torsi yang nilainya telah ditentukan oleh perencana sebelumnya.

    Nah…., masalahnya rumus umum untuk menentukan besaran indikator torsi agak-agak aneh (setidaknya menurut saya) yaitu T = N* k*d, dimana T= Torsi yang diperlukan untuk mendapatkan gaya pre-tension, N = gaya pre-tension yang diinginkan (min 70% ASTM), d = diameter baut dan k=konstanta torsi. Masalah besarnya ada pada nilai konstantan ‘k’ yang range-nya cukup besar, nilai ini bisa jadi hanya masalah engineering judgement yang sangat bervariasi sehingga bisa mendapatkan hasil yang sangat berbeda. Hasilnya bila nilai torsi tidak ditentukan dengan tepat, besar kemungkinan baut tidak mencapai pre-tension yang diinginkan atau sebaliknya baut melampaui pre-tension sehingga terjadi elongasi berlebihan/baut diambang putus sebelum beban bekerja.

    konstanta torsi ‘k’ pada literatur yang saya ketahui sangat terpengaruh oleh banyak faktor, mis : temperatur, kelicinan permukaan baut, humiditas, jenis baut, jarak ulir dll. Yang menjadi catatan, faktor2 tersebut sangat tergantung kondisi lapangan bukan parameter pasti saat perencanaan (nah loh..). Jadi….., baut mutu tinggi yang saya sudah rencanakan kuat friksinya itu betulkah kondisinya di lapangan sesuai dengan yang saya inginkan???? jangan-jangan…!!!

    Mohon pencerahannya P.wir (sebagai pakar konstruksi baja) atas masalah tersebut.

    trims : Denny (praktisi baja)

    • @Denny,
      Uraian yang anda sampaikan bagi saya cukup asing. Bahkan terkesan rumit, pakai engineering judgement lagi. Rumus yang anda sampaikan itu nggak ada di AISC, jadi dari mana ya. Kalaupun yang ada di AISC adalah konstanta friksi yang itu untuk memperkirakan kapasitas slip-kritis.

      Tentang pemberian pre-tensioned yang benar, pak Denny bisa melihat artikel saya yang ini :

      http://wiryanto.wordpress.com/2011/02/12/high-strength-bolts-installation-calibrated-wrench/

      Btw, tapi terima kasih sekali atas masukan anda. Ini dapat menjadi gambaran bahwa pemahaman tentang pemberian pretensioning yang benar pada baut mutu tinggi ternyata belum tersosialisasi dengan baik.

      Dengan latar belakang pemikiran yang disampaikan bapak Denny, bisa-bisa pemberian pretensioning yang telah dikerjakan selama ini menjadi tidak optimal. Maklum, besarnya pretensioning hanya didasarkan pada rumus yang salah satu komponennya adalah memakai engineering judgement.

      Ingat penggunaan Torque-wrench tidak dapat dijadikan patokan terhadap besarnya pretensioning, bahkan AISC secara tegas-tegas menyatakan bahwa alat itu harus dikalibrasi sesaat sebelum dipakai. Jadi dengan hanya memakai rumus, maka jelas prosedur kalibrasinya tidak ada. Kalau begitu siapa yang menjamin bahwa pretensioning-nya cukup. Kalau kelebihan sih untuk A325 nggak apa-apa, kalau kurang. Wah gawat, mekanismenya bukan slip-kritis tetapi bearing. Memang sih, nggak lansung rubuh, tetapi kalau sampai fatiq, maka umur jembatan akan sangat berkurang secara cepat. Cepat rusak gitu lho.

      • P. Wir,
        Terima kasih atas pencerahannya, maklum masih belajar terus nih pak meskipun sudah kerja tapi perasaan masih banyak ngga taunya. :)

        Maaf saya salah quote seharusnya min pretension 70% itu dari AISC.

        Ada pertanyaan lagi pak mengenai dimensi baut 8.8 dengan A.325 yang disebutkan berbeda, boleh diinfo pak referensinya dari mana? karena saya coba bandingkan dari googling di internet perbandingan dimensi antara 8.8 dan A.325 sepertinya sama termasuk juga dimensi nutnya.
        (http://www.portlandbolt.com/products/bolts/structural_bolts.html) dengan (www.nsb.com.sg/catalogue/F8THOTDI.pdf)

        “Itulah yang disyaratkan pada baut grade 8.8, yaitu tidak boleh diberi pretensioning lebih dari 70% Fu.”

        dari penjelasan bapak diatas bisakah juga saya mendapat referensinya kalau baut 8.8 max pretension = 70% Fu.

        Terima kasih sekali lagi atas pencerahannya, senang bisa membaca artikel bapak, menambah pengetahuan!! :)

        Wir’s responds: ini link-nya pak
        http://www.appliedbolting.com/pdf/you_cannot_tension_all_bolts.pdf

  3. Hi Denny,
    Inspection torque yang anda mau itu sebenarnya hanya bisa di dapat dari testing. Bisa lihat di salah satu tulisan pak Wir ‘Bolts installation – calibrated wrench – 12 Februari 2011′ dengan mengunakan alat Skidmore Wilhelm.

    • Hi juga P. Sanny,

      Iya pak sekarang saya mengerti intinya akurasi pretension yang kita rencanakan dan besarnya momen pengencangan torsi HARUS..!! divalidasi menggunakan alat Skidmore Wilhelm.

      Masalahnya lagi pak untuk ukuran project2 jembatan skala menengah (warren truss) di Indonesia susah sekali mendapatkan alat yang “Biayanya” cukup mahal tersebut, apalagi didaerah2 luar jawa. Sehingga para erektor hanya mengandalkan alat “calibrated wrench” untuk memeriksa kekencangan baut..!!

      saya jadi khawatir, bagaimana pretension baut yang parameternya tergantung dari banyak faktor tersebut bisa dipenuhi dilapangan?? Kalau menggunakan metode pengencangan Turn-off-nut apakah masih perlu validasi juga dengan alat semacam skidmore tersebut??

      Mohon pencerahan juga P. Sanny

      Terima kasih.

    • Betul pak Sanny, saya paham.

      Kebetulan saat ini saya sedang melakukan penelitian dengan salah satu mahasiswa S2 dengan dukungan Mr. Peter Szigetkozi, meneliti parameter-parameter yang terkait atau menentukan besarnya torque pada wrench dan tension yang terjadi pada bolt, termasuk berapa putaran nut yang terjadi sehingga bisa dikaitkan dengan metode turn-of-nut.

      Faktor k itu khan penyederhanaan yang berasal dari parameter-parameter tersebut, padahal parameternya sendiri cukup banyak. Jadi pantes perlu engineering judgement. :)

      Betul juga kata bu Lanny Hidayat (pakar jembatan PU), penelitian tentang baut mutu tinggi dan juga yang memahaminya ternyata tidak banyak. Untuk itu, kami menawarkan kepada teman-teman praktisi yang mempunyai masalah tentang baut dan perlu penyelesaian ilmiah maka itu bisa ditawarkan kepada kami (saya dan mahasiswa teknik sipil uph) untuk dijadikan tema penelitian kami. Siapa tahu win-win. :)

  4. Karena untuk slip critical itu yang kita mau adalah clamping force (alias tensionnya), tapi kalau dilapangan kita test bolt bukan test terhadap tension tapi testing nya terhadap torque.

    Kenapa torque, karena torque itu adalah gaya yg kita butuhkan untuk memutar baut, kita ngak bisa ngukur tensionnya.

    • Berbagi info : Betul Pak Sanny, kebetulan proyek saya jenis high rise building dengan composite system dan banyak menggunakan HSFG Bolts A325 di steel structure nya, dimana banyak kita pakai di splice beam dan kolom. Untuk aplikasi pengetesan bolt kita menyiapkan skidmore wrench di lapangan untuk pengecekan secara random. Yang kita perhatikan adalah Torque Value, dimana ada batas minimum dan maksimumnya, dan dapat mengontrol shear wrench nya yang kita pakai still ok. Yang kita perhatikan juga adalah ukuran panjang dari baut tersebut dan kondisi baut harus bebas dari rusty karena hal-hal ini dapat berpengaruh ke torque value. salam

  5. membaca artikel yang bapak tulis, menggugah semangat saya untuk lebih percaya diri, dan jangan ragu dengan ide yang ada di benak sediri, selama punya keyakinan dan dasar ilmu yang kuat untuk terus belajar mengatasi segala kesulitan yang ada dihadapan kita. hasil yang membanggakanpun akan tercipta dan tidak kalah dengan ide2 ahli dari luar negeri sekalipun,

    terimakasih pak “dimana ada kemauan disitu ada jalan”

  6. Salam Pak Wir,
    Memang kalau sudah membaca blog Pak Wir rasanya selalu ada pencerahan.
    Saya mau bertanya Pak, tapi agak sedikit menyimpang dari topik baut mutu tinggi. Pada struktur baja gable frame sering ditemui adanya haunched beam, yang jadi pertanyaan saya kapan haunched beam ini mesti didesain dan bagaimana menentukan panjang/dimensi haunch ini?

    Terimakasih Pak.

    • Pertanyaan tentang haunch beam, he, he, beararti belum tuntas membaca tulisan-tulisan saya. Pertanyaan anda tentang baja, maka sebaiknya baca terlebih dahulu tulisan saya tentang hal itu yang tempo hari saya presentasikan kepada tamu-tamu PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk, yang datang di seminar baja di hotel Gran Melia. Saya banyak menulis, salah satunya tentang haunch beam, yang saya sebut sebagai “tapered section”. Dimana tulisannya ? Ya, silahkan dibuka-buka dulu, belum lama koq yaitu setelah 4 April 2011 ini.

  7. Hi Yudi, sedikit comment ttg bolt torque

    K value adalah coefficient of friction atau sebagian orang bilang ‘nut factor’

    maximum torque biasanya hanya untuk membatasi nilai k value, artinya kalau torque dari suatu sistem melebihi maximum torque maka sistem itu harus di berikan lubrikasi.
    Dari pengalaman saya nilai k itu biasanya di batasi 0.25.

    maximum torque ini tidak ada hubunganya sama maximum tension, karena tidak ada dalam literatur how much tension is overtensioned. Biasanya kita tahu kalau overtensioned ketika boltnya patah. untuk tdk overtensioned ada toleransi dari turn of the nut.
    Misalnya kakau half turn, toleransi half turn plus 30 to 45 degree.

    Kalau suatu sistem di beri lubrikasi maka nilai torque yang lama tdk valid lagi. Nilai torque yang baru harus di test lagi untuk sistem yang telah dilubrikasi.

  8. http://www.appliedbolting.com
    http://www.lejeunebolt.com

    pak Wir, ini info buat yang mau lebih dekat dengan HS bolts. Di Indo biasanya pakai HS bolt dari mana? apakah ada pabrik di Indo, atau apakah dari China atau Jepang?

    Ini juga ada tulisan yang sangat bagus dari Wayne Wallace:
    http://www.appliedbolting.com/pdf/Coated_Bolts_and_Overtapping.pdf

    Kalau kita serius mau bikin jembatan selat sunda, harus ada orang Indo yang jadi ahli HS bolts.

    • Pak Sanny, jangan under estimated lho. Menurut bu Lanny, yang pakar jembatan PU, beliau menginformasikan bahwa pabrik baut yang di Surabaya adalah salah satu pabrik baut terbesar di dunia lho. Jangan-jangan baut yang pak Sanny pakai, produk pabrik tersebut. Hanya saja mungkin saja merk-nya sudah tidak ada nama Indo. Maklum nama itu khan belum ada nilai jualnya. Baru nama Bali yang laku di luar negeri. He, he, . . . Tapi terus terang, saya belum pernah ke sana.

      Tentang hal itu (terbesar di dunia) saya pada waktu itu juga heran, bahwa ternyata Indonesia juga bisa (terbesar yang lain selain dari korupsi dan munafiknya).

      Selanjutnya keheranan tersebut sebagian terjawab, yaitu ketika PT. Krakatau Steel ternyata juga begitu. Pabrik Krakatau steel tersebut ternyata satu dari lima pabrik baja di dunia yang memproduksi baja khusus tahan gempa untuk komunitas konstruksi Jepang. Produk baja dengan formulasi khusus yang dikembangkan di Jepang, dan tidak dijual di Indonesia.

  9. Pak Wir,
    Ada satu orang senior saya dari inggris. Dia ini dulu lama sempat kerja sama bukaka di jakarta, kerja sama adiknya pak Jusuf kalla. Jadi sebenarnya Indonesia ngak kalah juga dalam hal welding. Dia ini ahli weldingnya kita.
    Saya dengar bukaka besar juga, waktu dia di sana sebelum krismon, berarti sebelum pak Jusuf kalla jadi wapres.

    • Jadi sebenarnya Indonesia ngak kalah juga dalam hal welding.

      He, he, mungkin kita ini di Indo disebutnya low profile. Sebenarnya bisa, tapi nggak omong-omong. Atau mungkin dibalik, ngapain omong-omong kalau nggak ada duitnya, atau bisa juga, kalau sudah dapat duitnya diem. :)

      Buktinya, Krakatau yang supply baja mutu tertentu ke Jepang dan tidak ketempat lain. Baru ngaku kemarin ketika sama-sama ada kerja sama dengan Jepang, dan mungkin tidak akan diketahui oleh orang lain kalau nggak ada yang memperhatikan seperti aku ini, karena mungkin wartawan awam nggak dong. Juga tentang baut mutu tinggi yang pabriknya ternyata ada di Surabaya, yang kata bu Lanny, yang sudah ke sana sebagai salah satu terbesar di dunia.

      Kalau saya boleh omong, ternyata di Indonesia ini ada gap, ada orang-orang yang ahli, yang sanggup menerima kerjaan bertaraf international, tetapi juga ada golongan tertentu, yang orang banyak menganggap dia ahli, tapi sebenarnya dia nggak ngeh kondisi aktual. Tahunya hanya dari teori (rajin baca buku) atau dari pengalaman lokal dia. :)

      Itulah gunanya saling sharing, saling kunjung-mengunjungi dan memiliki jaringan di dunia maya yang tak terbatas seperti blog ini. Ternyata dari kemampuan tulis menulis ini saya bisa kontak dengan anda, bisa dengan pak Peter Szigetkozi, ekspatriat PT. Waagner Biro yang ahli baut asli dari eropa, dengan Mr. S. Kanki, ekspatriat PT. CHC yang ahli las juga dari Jepang.

      Dengan semangat win-win, saling memberi, saya selalu sampaikan kepada para ahli tersebut, mari pak, bapak punya fakta, saya punya cerita. Mari kita sama-sama memberi bagi bangsa, untuk menunjukkan bahwa kita ada. Itulah teman-teman yang dapat saya ceritakan di blog ini.

      Meskipun ada juga yang nggak seperti itu, ada juga yang jaga gengsi namanya ditulis di blog ini. Maunya yang nulis wartawan. Ada yang seperti itu lho, dianggapnya saya ini numpang nama besarnya. Intinya jangan tulis namanya di blog ini. Saya sih kalau dapat orang seperti itu, nggak komentar, diam, tapi langsung buka komputer, buka login dan semua tulisan yang menyangkut namanya saya delete. Saya lupakan saja nama orang dan kegiatan yang melibatkannya. Ketemu orang seperti itu sebel juga, tetapi dalam hati tertawa juga, sombong juga dia dikiranya namanya sudah sangat signifikan dengan jabatan atau posisinya itu, padahal kalau mau dibandingkan dengan orang lainnya yang lebih hebat, belum ada apa-apanya lho. :)

  10. Pak Wir,

    percaya atau tidak, kalau nulis disini berarti saya belajar, fakta lain yang saya sharing itu adalah hal sampingan. kalau kita coba bilang apa yang dalam pikiran kita ke dalam tulisan maka itu adalah cara belajar yang sangat efektif.

    saya anggap saya sidekick nya pak Wir aja. pak Wir yang tulis saya yang comment :), karena saya kurang artikulatif, pak Wir kelasnya masih jauh di atas. dengan begini saya bisa menghubungkan hal hal yang teoritis dengan pelaksanaan di lapangan. saya juga jadi makin mikir, dan makin cari tahu yang lebih dalam.

    • Nulis adalah pembelajaran efektif. Betul sekali kesimpulan anda. Banyak orang mengira saya sekarang punya kemampuan menulis karena saya sudah doktor. Padahal, kalau saya boleh bersaksi. Saya bisa meraih doktor karena saya bisa menulis. Tentang mengapa perlu waktu lima tahu, dan bukan 3.5 tahun seperti mereka yang katanya lulus cepat adalah karena mereka tidak dapat menikmati prosesnya, sedangkan saya memang menikmati proses mengambil doktor tersebut, seperti misalnya kerja hanya dua hari saja, selebihnya bisa untuk menulis. Toh kalau sudah lulus, akhirnya hanya menulis saja seperti sekarang ini. Kalau yang lain, tujuan mengambil doktor adalah mendapatkan jabatan birokrasi, jadi Kajur, Dekan dan semacamnya, lalu lupa menulis. Yah, setiap orang memang beda-beda tujuan hidupnya. Betul khan pak Sanny.

  11. Pak Wir,

    saya mau tanya, begini ceritanya, kita pasang baut mutu tinggi A490Metric, di sebagian tempat ada konflik karena ada stiffener dibelakang sambungan itu.

    karena ini ada konflik jadi bautnya harus di tension dari headnya. kalau pakai washer biasa (4mm) ngak bisa. solusinya biar bautnya ngak kena stiffener platenya yaitu kita harus pakai thick washer (8mm) supaya panjang baut jadi berkurang dan baut tidak konflik sama stiffener platenya.

    Nah masalahnya kontraktornya kehabisan thick washer 8mm, dan di special provision project kami melarang pengunaan multiple washers

    “Multiple washers with a combined thickness of 8 mm or larger do not satisfy this requirement”

    setahu saya alasan kenapa multiple washers di larang adalah kita membuat ‘celah’ di antara washer washer ini sehingga air bisa masuk dan bisa berkarat.

    pertanyaan saya, apakah ada alasan structural yang lain yang bapak bisa terpikir? terima kasih

    • Pak Sanny, saya belum pernah ketemu kasus anda. Mungkin ada teman yang tahu silahkan bisa dibantu.

      Hanya saja memang baut A490 khan memang lebih riskan berkaitan dengan korosi. Baut tipe tersebut khan nggak boleh juga di galvanish.

      • Pak Wir, buat informasi aja, baut yang dipakai di coated pakai geomet.
        sebenarnya geomet ini adalah galvanish juga. Geomet ini adalah kombinasi zinc dan aluminium.

        Ini dari wikipedia tentang galvanization.
        Galvanization (or galvanisation) is the process of applying a protective metallic coating to an underlying piece of metal, in order to prevent rusting.

        cuman dalam proses geomet ini tdk diperbolehkan ‘Acid pickling’ jadi mengeliminasi resiko hydrogen embrittlement yang membuat baut jadi getas.

        Ini dari wikipedia juga
        Hydrogen embrittlement is the process by which various metals, most importantly high-strength steel, become brittle and fracture following exposure to hydrogen

  12. @Sanny Khow,
    Wah nambah ilmu baru.

    Di Indo sini yang namanya lapis galvanish tahunya pasti mengarah hot-dip galvanish, yang memang pakai Acid pickling. Sedangkan pemberian lapisan zinc dan aluminium, ya disebutnya sebagai coating atau pengecatan.

    Memang sih kalau dipikir-pikir dunia baja itu sangat luas. Tempo hari saya merasa ilmu saya sudah cukup pede untuk mengajar baja. Eh, hari ini ketemu kedatangan tamu Mr. Okagawa dari Nippon Steel yang berkena bertukar informasi tentang perkembangan konstruksi baja yang dikerjakan perusahaannya. Wah luar biasa, ketemu yang namanya “super long-span technology” yang dipakai di kota Oita, juga NS Trusses, termasuk juga baja untuk Taipei 101. Ada lagi hybrid structures (wood+steel), ada lagi vibration control and seismic isolation devices yang mereka produksi dan juga. Banyak lagi seperti NS eco-pile.

    Bisa-bisa nggak pede lagi ngaku ‘guru’ baja. :)

  13. itulah yang membuat kita keep going. masih banyak yang kita tidak tahu. dan biasanya proyek proyek mercusuar bisa membuat masalah masalah baru.

    di proyek ini ada dua keunikan dari segi baut mutu tinggi.
    1. A490 yang dipakai di ‘metallic coated’. mungkin mereka pakai istilah ini buat membedakan hot dip galvanish dengan metallic coated yang lain. tapi sebenarnya ini proses galvanization juga.
    2. A490 yang di pakai adalah metric fasteners, yang pertama di north amerika yang mengunakan satuan metric untuk proyek jembatan. biasanya mereka pakai inch series. saya ngak tahu kenapa mereka harus pakai metric series tapi bukan inch series? I will find out

    • Beberapa hari yang lalu saya sempat menanyakan kepada orang department of transportation, kenapa tidak pakai inch series ?

      Seperti yang kita ketahui bahwa di negeri paman sam, mereka pakai satuan english units, yaitu inch, foot, yard dsbnya. Tapi the rest of the world pakai satuan metric, maka dalam 10 tahun terakhir mereka mencoba membuat semua proyeknya memakai sistem metric. ha ha ha. Saya juga kebagian bingung dengan sistem yang beda beda ini. karena waktu dulu kuliah di unpar pakai sistem metric, setelah kuliah lagi di california pakai sistem english. Hal yang lucu karena di semua universitas disini diajarin pakai sistem english tapi drawings-nya harus pakai metric, maka waktu dulu jaman desain jembatan, kita ngitungnya pakai english lalu hasilnya di konversi ke metric.

      Ternyata usaha dari department of transportation untuk merubah sistem dari english ke metric tidak bisa jalan, karena di boikot sama industri yang hanya familiar sama sistem english. Maka baliklah kita memakai sistem english. Sedangkan proyek jembatan ini sudah selesai didesain mengunakan sistem metric dan gambar-gambarnya udah jadi, speknya sudah jadi dan tender sudah jalan.

      Itulah jadinya kenapa baut mutu tinggi A490M (metric) yang di pakai, tapi baut jenis ini literaturnya sangat minim. Maka karena proyek ini, mereka bikin test-test untuk menentukan parameter-parameter baut A490M yang akan digunakan

  14. Pak Wir,
    Saya mau share beberapa lesson learned dari proyek ini khususnya ttg baut mutu tinggi A490M. Tulisan ini bukan berarti saya mengerti semua hal ini dengan jelas atau sok tahu, tapi tulisan ini lebih untuk membuka open discussion dari sesama praktisi sipil di tanah air. Comments dan pertanyaan pertanyaan biasanya akan menambah wawasan kita.

    1. Nut Oversize Allowance for M27 and M30.

    Pencegahan korosi, degradasi dan kegagalan dari baut mutu tinggi adalah hal yg fundamental dari suatu sistem sambungan.

    Hal yang utama untuk mencegah kegagalan baut mutu tinggi adalah pemilihan, proses dan aplikasi dari metallic coatings. Metallic coatings ini didesain untuk memperpanjang umur baut mutu tinggi itu. Karena pemberian metallic coating itu sendiri akan merubah standard dari thread dimensions. (thread = ulir) maka sering kontraktor mengalami kesulitan dalam pemasangan nut ke bolt nya. Kontraktor maunya sistem yang kita spesifikasikan harus bisa di ‘freely assemble 100% of the time’. Maka pertanyaan yang harus di jawab adalah berapa banyak ukuran nut yang harus di oversize untuk mengakomodasi metallic coating itu agar sistem kita bisa ‘freely assemble 100% of the time’ TANPA mempegaruhi kekuatan sistem nut dan bolt kita. Untuk tidak merubah ukuran dari bolt thread kita maka yang akan di modifikasi HANYA nutnya saja.

    Dalam eksperimen yang dilakukan di ambil tiga oversize allowance but nut yaitu 0.203mm (0.008 in), 0.305mm (0.012in), dan 0.457mm (0.018in).

    0.203mm oversize tidak lulus dalam eksperimen karena tidak bisa mengaransi 100% free assembly.

    0.305mm dan 0.457mm oversize lulus dalam segala test, antara lain
    pull strength test, rocap test, hardness, proof load. Untuk memaximalkan ease of installation di proyek ini dipakai 0.457mm oversize allowance for nuts.

  15. 2. Ketebalan coatings dan thread fit

    Biasanya coating industry lebih mementingkan untuk memenuhi kriteria minimum ketebalan coating karena dianggap lebih kritikal, daripada membatasi batas maximum dari coating tersebut. Ini harus diperhatikan buat fasteners dengan ‘tight thread tolerances’. Batas minimum – maximum untuk grade 3 coatings adalah 8 sampai 12 micron.

    Satu temuan dari test yang dilakukan untuk nut coating adalah DIP SPIN proses jauh lebih baik dari proses proses yang lain seperti spray. Proses dip spin memberikan produk yang selalu di atas 8 micron.

  16. 3. Rotational capacity test dari A490 dan A490M

    Nut rotation untuk panjang baut antara 4x diameter dan 8x diameter dan diatas 8x diameter untuk di rotasi sebesar 360 derajat dan 420 derajat sebenarnya adalah kriteria untuk menguji baut A325. Jadi sebenarnya perlu untuk di buat suatu aturan yang lebih realistic untuk mengurangi rotasi nut untuk baut A490, karena kalau rotasi yang besar seperti itu biasanya baut A490 sudah berada di daerah plastic.

    Baut yang dipakai di proyek ini bisa lulus test yang ketat ini karena dipakainya sistem geomet coating yang selain bisa mencegah korosi juga bisa menjadi lubrikasi yang baik. Ini adalah penyebab utama kenapa baut A490 dan A490M pengunaannya masih sangat terbatas karena tidak ada konsistensi dari baut mutu tinggi ini untuk bisa lulus uji Rotational capacity (terutama yang uncoated atau yang mengunakan coating dengan cara yang lain). Perlunya dibuat sebuah kriteria yang baru yang mana bisa memenuhi tujuan dari rotational capacity test ini di samping itu mempromosikan pengunaan baut A490/A490M di mana pengunaan baut jenis ini memberikan keuntungan terhadap pengunaan baut A325.

  17. 4. Installed angles of rotation.

    Biasanya waktu field installations, installed angles of rotation akan melebihi targetnya; atau dengan kata lain installed tension akan melebihi required tension, karena dua faktor:

    a. pengalaman dari lapangan menunjukkan bahwa snug position (kira kira 15% dari installtion tension) biasanya di lampaui oleh tukang besi kecuali kalau kita mengunakan ‘pressure regulated pneumatic wrench’. tapi alat ini membutukan waktu yang jauh lebih lama di banding dengan ‘air gun’

    b. adanya -0 degree to +30 degree toleransi untuk nut rotation.

    Mungkin ada yang bertanya kok baut aja detail banget. karena baut yang dipakai mungkin harganya bisa lebih dari 200 miliar rupiah, dan harus di order jauh hari sebelum pemasangan. jadi kalau sampai salah, proyek jadi molor dan biaya untuk menganti bautnya jadi dua kali lipat.

  18. @pak Sanny,

    Catatan pengalaman anda tentang pemakaian baut mutu tinggi A490M sangat menarik. Terus terang tipe tersebut jarang digunakan di Indonesia, tetapi saya jumpai baut mutu tinggi yang setara itu yaitu Grade 10.9s digunakan pada proyek jembatan Suramadu, yaitu jembatan Cable-stayednya.

    Saya buka-buka design-drawingnya, mereka sebagian besar memakai baut mutu tinggi diameter M30 Grade 10.9s sampai panjang 240 mm (top flange), 150 mm (bottom flange) dan 100 mm untuk web. O ya, penampangnya steel box girder. Adapun pre-grip force-nya adalah 360 kN.
    Jika dipelajari Fy dan Fu bolt tersebut maka Grade 10.9s adalah setara dengan ASTM A490.

    Di gambar tidak ada penjelasan sama sekali tentang coating yang digunakan. Mestinya nggak pakai hot-dip galvanish khan.

    Karena mutu baut yang digunakan adalah sama dengan yang digunakan pak Sanny di California tersebut, maka mestinya tingkat kesulitan yang dijumpai mestinya hampir sama ya, tetapi terus terang sampai detik ini saya tidak mendengar macam-macam tentang pemasangan baut tersebut. Memang sih, kebetulan bagian yang memakai itu adalah kontraktor dari Cina, dan karena kita tidak tahu, maka bisa saja tidak menjadi masalah karena manut saja dengan apa yang dikerjakan mereka. :)

    Tapi karena coating baut tipe tersebut menyangkut masa depan, wah bagaimana ya kenyataannya. Teman-teman engineer yang kemarin terlibat langsung di Suramadu mungkin ada yang bisa cerita.

    Omong-omong tentang baut.

    Di perguruan tinggi di Indonesia rasa-rasanya saya belum pernah ada yang meneliti tentang perbautan. Wah pengalaman anda itu bisa dijadikan thesis atau bahkan disertasi lho pak Sanny. Kebetulan saat ini saya sedang membimbing salah satu mahasiswa S2 di Jakarta, saya arahkan juga ke baut mutu tinggi.

    Langkah pertama adalah penelitian tentang metode pengencangan baut, faktor-faktor yang mempengaruhi. Nggak ada yang baru sih, tetapi yang penting saya mau mendapatkan data-data primer dari baut produk dalam negeri. Alat bantu Skidmore Wilhem dipinjem dari pak Peter. He, he link-and-match ceritanya.

    Langkah kedua saya akan menyelidiki perilaku baut mutu tinggi jika diberi filler epoxy. Kelihatannya ini belum ada di Indonesia yang melakukannya, tapi sudah berhasil diaplikasikan di Eropa. Ini lagi diusahakan. Pak Sanny punya masukan atau info adanya baut mutu tinggi dan epoxy.

    Begitu pak Sanny, sebelumnya tidak lupa diucapkan banyak terima kasih atas sharing pengalaman anda di bidang perbautan.

  19. Pak Wir,

    Saya jujur saja ini bukan hanya pengalaman saya. Ini adalah pengalaman kolektif yang ada di proyek ini.
    Mungkin bedanya kita sama orang lain, kalau orang lain ngak pingin tahu, tapi kalau kita sudah ngerjain proyek kayak gini, pingin tau apa yang bisa dipelajari untuk tambah ilmu kita. kebetulan ada satu orang
    di proyek saya ini yang sangat mudah ditukar pikiran ttg baut.
    Sebenarnya saya ini lebih fasih ttg jembatan dari beton.

    Kelihatanya baut yang dipakai di suramadu hampir sama dengan yang dipakai di proyek ini, yang paling banyak kita pakai adalah diameter 27mm dan 30mm dengan panjang 180mm sampai 300mm. Minimum bolt tensionnya juga hampir sama, cuma di proyek ini di patok di 334 kN (untuk diameter 27mm) dan 408 kN (untuk diameter 30mm). Somehow ini lebih tinggi dari yang di berikan sama RCSC 2004.

    Biasanya di gambar tidak bisa dilihat baut yang pakai macam apa dan apa coatingsnya, kita harus lihat di special provisionnya jembatan suramadu.

    Nah ini dia yang namanya ilmu sipil ini, ilmu rekayasa. Karena suramadu itu adalah jembatan yg “hybrid’, tiang pakai beton, deck pakai baja dan relatif lebar decknya kecil. Desain jembatan kayak gini mungkin kita bisa aja pakai baut mutu tinggi yang standar yang uncoated (black bolt) asalkan jumlahnya ngak terlalu BANYAK.

    Jadi bisa dibuat dalam special provisionnya yang mana karena bautnya ngak terlalu banyak maka setiap 30 tahun (bisa juga setiap 50 tahun)
    bautnya harus diganti. persoalan selesai kita ngak perlu mikirin tentang coating, korosi dll.

    MUNGKIN juga karena baut nya ngak terlalu banyak, maka perusahaan china itu bisa pakai dracomet coating (beda sama geomet)
    dan mengambil resiko semua ukuran baut dan nut nya standar tapi tidak bisa di garansi ’100 % assembly free of the time’
    jadi kalau mereka bikin 100 mungkin 75 bisa dipakai.

    Ini sudah ke manajemen proyek, saya ngak tahu yang di Suramadu itu duitnya dari mana, apakah yang memberikan pinjaman mereka juga yang mengerjakannya (?) yang disini karena owner, kontraktor dan desainernya adalah tiga kubu dengan interest yang berbeda beda, maka kontraktornya akan memprotect interest mereka yang mana bautnya harus dengan mudah bisa di pasang. jadilah research ttg NUT ALLOWANCE (overtapped nut). Ownernya maunya geomet bukan dacromet (pernah nonton film Erin Brockovich). Sebenarnya dacromet ini lebih ada literaturenya dari pada geomet tapi dacromet coating ini mengandung hexavalent chromium yang beracun.

    Nanti saya teruskan lagi, maklum saya disini harus ngurusin anak juga, harus ke pasar dll :)

  20. Pak Wir,

    Langkah nomor satu adalah wajib, supaya anak bimbinganya bisa paham karateristik dari baut mutu tinggi. seperti ada kata orang orang materials bahwa ‘one test worth a thousand opinions’

    filler epoxy itu buat apa? buat coating ya, apa kayak epoxy dowel tapi bukan dowel yang dipakai melainkan baut mutu tinggi?

    • Langkah nomor satu adalah wajib

      Betul dan seperti biasa, hasilnya nanti saya tuliskan jadikan makalah untuk dipresentasikan di Konteks-5 di USU, Medan, bulan Oktober 2011 nanti.

      Tentang filler epoxy, ini memang belum banyak yang melirik. Maklum pelaksanaan di lapangan adalah tidak praktis dan cukup sulit. Idenya adalah bahwa adanya perbedaan mekanisme slip kritis dan mekanisme tumpu adalah karena adanya celah antara lubang baut dan bautnya. Ini khan untuk toleransi pelaksanaan. Ingat adanya standard hole, atau oversized hole. Adanya gap itu pula maka untuk berpindah dari mekanisme slip kritis ke tumpu dibutuhkan fenomena slip. Jika slip-nya hanya sekali seperti yang terjadi pada beban statik gedung maka perilaku sambungan dengan mekanisme tumpu tidak menjadi permasalahan yang utama. Tetapi jika slip-nya bolak-balik, seperti yang terjadi di konstruksi jembatan maka resiko terjadinya fatig akan terjadi.

      Dengan latar belakang permasalahan seperti itu kita mencoba menghilangkan gap atau sesuatu yang dapat menghasilkan faktor slip tersebut. Caranya adalah dengan mengisi celah (yang kecil itu) dengan epoxy. Kita ingin tahu bagaimana dampaknya.

      Tentang ide itu, banyak teman-teman jembatan yang meragukan hasilnya.
      Nah disinilah gunanya peneliti, iya khan. Itulah yang tempo hari saya tawarkan kepada seorang mahasiswa S2 yang tertarik untuk meminta saya menjadi pembimbingnya. Moga-moga ada hasil yang positip.

      Note : ketika membaca salah satu prosiding tentang teknologi sambungan di Eropa sekitar tahun 90-an, ternyata ide saya sudah ada yang mengaplikasikan dan hasilnya positip. Jika berhasil, penelitian mahasiswa saya ini mungkin yang pertama dilakukan di Indo.

  21. Pak,

    Saya agak bingung, setahu saya jika slip critical connection itu ngak boleh slip. karena kalau connection itu slip berarti itu sudah gagal (atau menjadi bearing connection), karena baut kita sudah di tension sampai yield. jadi sudah ngak bisa lagi menerima gaya yang lain yang lebih besar dari kekuatan bearing kita.

    Wir’s responds: pernyataan untuk sambungan slip critical connection yang gagal jika mengalami slip adalah sudah benar. Tetapi karena baut sudah di tension sampai yied lalu nggak bisa menerima gaya lebih besar dari bearing ini agak membingungkan. Untuk sambungan pelat tebal memang mekanisme bearing memberi kapasitas sambungan yang paling besar, tetapi itu tidak tergantung dengan besarnya gaya tension baut yang diberikan. Ingat perilaku bearing dapat terjadi tanpa ada gaya tension pada baut.

    Ini saya kutip dari atas “Tetapi jika slip-nya bolak-balik, seperti yang terjadi di konstruksi jembatan maka resiko terjadinya fatig akan terjadi.”
    apa maksud bapak “Tetapi jika tegangannya bolak balik….

    Wir’s responds: sebenarnya yang ditakutkan terjadinya fatiq pada jembatan adalah bukan karena tegangan bolak-baliknya, tetapi terjadinya slip yang bolak-balik yang menghasilkan efek ketukan. Karena kalau pakai sambungan las atau slip-critical yang tidak mengalami slip maka adanya tegangan bolak-balik adalah tidak masalah. Juga hanya berlaku jika sistem sambungannya adalah sambungan geser, jika sambungannya end-plate yang nggak ada slip-nya maka itu nggak masalah.

    • Pak Wir,

      ini saya baru lebih paham ttg bearing connection dan slip critical. Ini ada kutipan dari RCSC

      If non-pretensioned bolts are used in the type of joint that places the
      bolts in shear, load is transferred by shear in the bolts and bearing
      stress in the connected material. At the ultimate limit state, failure
      will occur by shear failure of the bolts, by bearing failure of the
      connected material or by failure of the member itself.

      On the other hand, if pretensioned bolts are used in such a joint, the frictional
      force that develops between the connected plies will initially transfer
      the load. Until the frictional force is exceeded, there is no shear in
      the bolts and no bearing stress in the connected components. Further
      increase of load places the bolts into shear and against the connected
      material in bearing, just as was the case when non-pretensioned bolts
      were used. Since it is known that the pretension in bolts will have been
      dissipated by the time bolt shear failure takes place (Kulak et al.,
      1987; p. 49), the ultimate limit state of a pretensioned bolted joint is
      the same as an otherwise identical joint that uses nonpretensioned
      bolts.

      dengan kata lain, karena the ultimate limit state of a pretensioned bolted joint is
      the same as an otherwise identical joint that uses nonpretensioned bolts; maka slip critical joint selalu ditension sampai yield untuk memaximalkan clamping force.

  22. Saya tadi pergi mandi, lalu tulisan ke sent sama anak saya yang tiga tahun :)

    Pak, somehow saya agak mikir juga ttg hipotesis yang bapak tulis di atas ttg filling bolt holes sama epoxy. apa pengertian saya ttg slip critical connection yang masih kurang. Kok saya pikir agak kurang relevan untuk mengisi bolt holesnya dengan epoxy, karena slip critical ini kan adalah fungsi dari clamping force dari baut dan slip resistance dari plate kita.

    Oh mungkin maksud bapak adalah, dengan mengisi bolt holes itu dengan penuh akan memperbesar slip resistance capacity dari sistem kita.

    Wir’s responds: pengisian bolt holes dengan epoxy tidak memperbesar slip resitance capacity tetapi mengubah perilaku slip yang terjadi. Minimal dapat memperlihatkan keruntuhan bearing tanpa ada slip, itu esensinya. Jadi baut dengan epoxy lebih tahan fatiq meskipun mungkin terjadi pengurangan gaya tension di baut.

    Jadi tujuan utama penelitian itu adalah tidak untuk mencari tahu berapa tambahan kekuatan bautnya pak, meskipun mungkin jika yang dominan adalah kekuatan pelat maka adanya penambahan efek dimensi baut akan menambah sedikit. Tetapi jika yang menentukan kuat geser baut, maka jelas itu tidak bertambah.

    Seru khan pak Sanny, saya ketemu dengan orang yang sering pakai bautpun juga belum paham dengan penjelasan saya. Itulah mengapa hasil eksperimental itu nantinya penting.

    • Wah, kalau gitu nanti di share disini ya pak hasilnya. Saya jadi baca baca lagi tentang slip critical :)

    • Ikut nimbrung diskusi lagi P. Wir, :)

      Berarti pengujian ini lebih kepada ketahanan fatig (2 arah) pada sambungan baut tipe friksi ya pak?. Prilaku tersebut diharapkan dari terisinya “gap” antara “bolt shank” dan pelat sambung dengan epoxy khusus tadi , betul begitu pak?

      kalau betul begitu, berarti kualitas material epoxy juga minimum harus setara dengan pelat sambung sehingga tegangan dapat ditransfer secara baik oleh filler.

      (mungkin hampir semacam mengisi gap pada sambungan paku keling sehingga lubang terisi penuh oleh alat sambung)

      • Salam pak Denny,
        Wah masih mengikuti rencana riset yang saya ceritakan di atas ya pak. He, he, memang menarik sih pak, itu riset saya bersama mahasiswa bimbingan saya di level S2 di salah satu PTS di Jakarta.

        Apa yang saya tulis di atas adalah sebelum riset berjalan, dan hari ini riset tersebut telah selesai dilaksanakan. Pengujiannya sendiri dilaksanakan di balai Bahan Bangunan Puslitbang Puskim, Bandung. Hasilnya patut disyukuri, bahwa hipotesis yang diajukan semua dapat terbukti. Sampel sambungan yang diuji tarik, mengalami keruntuhan pada geser baut. Pada kesemua keruntuhan tersebut tidak menunjukkan adanya slip.

        Pengujian yang kami lakukan hanya sampai di situ, untuk pengujian fatig kami belum dapat melakukannya. Maklum, alatnya belum ada. Tetapi karena tidak ada slip maka dapat diyakin sekali bahwa sistem ini pada beban berlebih (melebihi kapasitas slip kritis) akan lebih tahan terhadap fatiq.

        Hal yang mungkin nanti dapat dipatentkan adalah cara memberikan epoxy mutu tinggi tersebut pada celah. Ini kelihatannya cukup istimewa. Ada paper serupa dari Delft, tapi cara pemberian epoxy berbeda dengan kami.

        Ini kedepannya kelihatannya sangat baik untuk dikembangkan pada jembatan-jembatan baja di Indonesia. Saat ini mahasiswa bimbingan saya dalam tahap penulisan, untuk mengejar kelulusan S2-nya. Moga-moga nantinya bisa dipublikasikan dengan baik. Mohon dukungannya.

  23. Pak Wir,

    Tadi saya lihat lihat sambungan baut mutu tinggi di proyek saya. Epoxy yg bapak maksud nanti di isi dari mana, karena bolt holesnya sudah ketutup sama washer atau nut atau head. untuk diameter 27mm dan 30mm bolt holes diameternya di tambah 3mm. kalau bapak mau lihat fotonya bisa saya taq di fb.

    • Hallo pak Sanny, itulah tantangan ke dua yang perlu diteliti.

      Tahap pertama adalah mendapatkan data empiris apakah penambahan epoxy tersebut cukup signifikan mempengaruhi perilaku baut ketika dibebani atau tidak. Meskipun secara teori akan berpengaruh, tetapi fakta aktualnya tentu perlu dicari tahu.

      Saat ini saya memakai epoxy khusus, yaitu ketika dicampur dengan ukuran yang tepat viskositasnya mirip dengan oli. Tetapi ketika telah mengeras jadi seperti kaca.

      Publikasi untuk kasus yang sama pernah dilakukan di Belanda, mereka membuat lobang khusus selanjutnya epoxy jenis yang sama tersebut disuntikkan dengan tekanan. Mereka berhasil. Adapun yang sedang saya kerjakan besama-sama anak S2-struktur sebagai thesis ini belum pada tahap itu. Penelitian tersebut sekaligus menguji pemahaman saya tentang perilaku slip pada baut. Jika ini berhasil, meskipun tidak ada penambahan kekuatan, maklum saya desain kegagalan akan terjadi pada baut (geser) tetapi ini akan menambah pemahaman akan perilaku keruntuhan baut mutu tinggi.

      Jika ini berhasil, maka banyaknya kegagalan akibat slip kritis tidak bekerja dengan baik pada beberapa jembatan baja di pantura, bisa dikurangi, jika ini dapat diaplikasikan dengan baik.

      • Hati hati waktu aplikasi epoxynya jangan rembes ke faying surfacesnya. nanti bisa berubah slip coeff.

  24. Semoga usaha pak Wir & team ini menghasilkan temuan berarti dalam sambungan baut mutu tinggi.

    Kelihatannya hal ini tergantung atas kehandalan epoxy khusus yang dipergunakan.
    Pengisian epoxy pada celah antara baut dan plate cukup sulit, dan celah itu sendiri, relatif juga amat sempit.
    Bilamana slip kritis terjadi, tentunya gaya yg mengakibatkannya akan tersalur ke epoxy khusus itu.
    Bilamana epoxy (yg relatif pada area yg sedikit) mampu menahan gaya tersebut tanpa ada kegagalan, sehingga terjadi bearing connection, berarti epoxy ini memberikan kontribusi yang amat besar pada sambungan baut ini.

    Anyway, semoga berhasil.

  25. Ping balik: baut mutu tinggi itu ternyata berbeda-beda, awas ! | Sufa Parquet Wood Flooring - Parquet Lantai Kayu Terbaik

  26. Salam Pak wir,
    Saya cukup mengerti dengan penjelasan pak wir. Menurut yang saya tangkap dari penjelasan pada wir, kemungkinan filler yang akan diberikan ada pada celah antara shank dan bolt hole atau sepanjang grip, sehingga ketika mencapai mekanisme tumpu, slip/deformasi yang terjadi akibat adanya celah ini akan hilang. Sehingga dapatlah mekanisme tumpu tanpa adanya slip.
    Akan tetapi, yang saya masih bingung adalah bagaimana kita mengetahui kalau sambungan yang kita desain sudah mengalami mekanisme tumpu (tanpa adanya slip), dimana seperti kita ketahui slip yang terjadi antara baut dan lubangnya merupakan limit state of bearing-type. Apakah ada alat yang bisa menguji tegangan geser dan tarik secara langsung sehingga ketika Available Tensile Strength tercukupi alat bisa dihentikan (sebelum mencapai tension and shear rupture). Mohon penjelasannya pak wir untuk kasus ini.

    Untuk Pak Sanny Khow :
    Saya setuju dengan pendapat pak Sanny, selain mengurangi Mean Slip Coefficient, penggunaan filler pada bagian yang disambung ketika terlalu banyak surface yang difiller (dua atau lebih bagian pada surface) akan mengurangi slip resistance sebesar 15% (Lihat faktor filler : hf dari 1.0 ke 0.85).

    • slip yang terjadi antara baut dan lubangnya merupakan limit state of bearing-type

      Bukan pak, itu limit state dari mekanisme slip-kritis. Selanjutnya mekanisme bearing baru dimulai. O ya, perilaku tersebut hanya berlaku untuk sambungan pelat tebal hot-rolled , yaitu bahwa kapasitas sambungan dengan mekanisme slip kritis pasti lebih kecil dari kapasitas sambungan dengan mekanisme bearing.

      Itu pula yang mendasari perencanaan-perencanaan yang tidak mempedulikan adanya slip, maka mereka cukup mendesainnya sebagai sambungan dengan mekanisme tumpu. Itu pula yang mensyaratkan bahwa untuk sambungan dengan mekanisme slip kritis tetapi direncanakan juga mekanisme tumpunya.

      O ya, sambungan dengan mekanisme slip kritis hanya bisa diaplikasikan pada sambungan dengan pelat baja yang tebal (hot-rolled) oleh karena itu sistem ini tidak bisa diaplikasikan pada baja tipis (cold-formed). Itu betul jika digunakan baut dengan konfigurasi standar. Jika kita pakai baut dengan konfigurasi tertentu, maka perilaku slip-kritis bisa kita aplikasikan pada pelat tipis. Itu salah satu hasil temuan disertasi saya. Jadi saya bisa ngomong banyak tentang baut adalah karena tempo hari ngulak-ulik baut dibawah bimbingan prof Sahari dan diuji oleh beberapa pakar akademisi yang sebagian besar dari ITB dan juga Unpar.

      Tentang tegangan geser dan tarik, sebenarnya nggak ada interaksi yang terjadi. Pada mekanisme slip kritis yang ada adalah tarik pada baut. Tapi bautnya sendiri karena belum slip maka posisinya tidak “kena” langsung dengan pelat sambungan. Gaya-gaya pelat sambungan dialihkan melalui friksi permukaan sambungan. Ketika gaya yang terjadi lebih besar dari gaya friksi yang dihasilkan pretensioned baut maka kekuatan slip-kritis langsung hilang, lalu digantikan oleh mekanisme tumpu yang mampu menghasilkan perilaku yang daktail.

      Ke dua mekanisme, slip-kritis dan tumpu dari luar tidak terlalu kelihatan bedanya, kecuali adanya slip. Kalau bebannya satu arah maka jelas tidak akan terlihat, tapi ketika terjadi beban bolak-balik maka slip yang terjadi juga bolak-balik. Inilah yang menghasilkan fenomena fatiq jika itu terjadi dengan frekuensi yang besar.

  27. “slip yang terjadi antara baut dan lubangnya merupakan limit state of bearing-type”
    maaf pak salah ketik, hehe ya itu maksud saya setelah terjadi slip maka mekanisme yang terjadi beralih ke mekanisme tumpu.

    “Ketika gaya yang terjadi lebih besar dari gaya friksi yang dihasilkan pretensioned baut maka kekuatan slip-kritis langsung hilang, lalu digantikan oleh mekanisme tumpu yang mampu menghasilkan perilaku yang daktail”

    Apa ini berarti jika
    Tension force > Clamping force/pretensioned force (dalam hal ini gaya friksi yang dihasilkan) maka mekanisme slip kritis berakhir.
    Atau dengan kata lain, indikator yang digunakan dalam mendeskripsikan “mekanisme tumpu tanpa adanya slip” adalah gaya pretensioned nya kurang dari minimum yang dibutuhkan untuk masing-masing ukuran (setelah dikenai gaya tarik).
    Jadi dengan skidmore wilhem diketahui gaya torsi minimum yang diperlukan, kemudian model sambungan ditension sampai keruntuhan geser terjadi, maka dapatlah keruntuhan mekanisme tumpu tanpa adanya slip.

    Wah ide bagus pak, hehe

    • P Gomari, jujur saja saya agak bingung membaca komentar bapak arahnya kemana ya? tumpu atau friksi…? atau campur-campur dua-duanya?

      • Selamat pagi Pak Denny,
        Semoga anda dalam keadaan sehat …

        Untuk memahami komentar saya diatas, anda harus merujuk ke tanggapan Pak Wir terhadap komentar Pak Sanny Khow berikut ini :

        “pengisian bolt holes dengan epoxy tidak memperbesar slip resitance capacity tetapi mengubah perilaku slip yang terjadi. Minimal dapat memperlihatkan keruntuhan bearing tanpa ada slip, itu esensinya.”

        Seperti anda lihat, point penting yang menjadi perhatian saya adalah “keruntuhan bearing tanpa adanya slip (warna merah)”.
        Berdasarkan pemahaman yang saya punyai, hal tersebut tentu saja kontroversial (seperti berlakunya Hukum Relativitas Einstein hehe). Yang saya pahami adalah bahwa suatu sambungan ketika slip mulai terjadi (dari kondisi Slip Kritis),maka mekanisme yang terjadi berubah ke mekanisme tumpu. Hal ini berarti pada saat sambungan dalam mekanisme tumpu, slip sedang terjadi sehingga mendesak pelat/profil,sehingga keruntuhan tumpu yang mungkin terjadi adalah seperti berikut ini:

        Maka, menanggapi pernyataan Pak Wir yang dapat dikatakan kontroversial itu (karena tidak adanya slip yang terjadi), maka indikator seperti apa yang harus dipakai untuk membedakan sambungan dalam mekanisme Slip Kritis atau dalam mekanisme tumpu???Maka berdasarkan yang saya tangkap dari penjelasan Pak Wir,maka indikator yang digunakan adalah gaya pretensioned nya. Bahwa gaya pretensioned minimum yang diperlukan baut untuk masih berada dalam mekanisme slip kritis yaitu 70% dari tegangan tarik (tension strength) Lihat Table J3.1 untuk lebih jelas.

        Ketika gaya tarik pada struktur terjadi melebihi kapasitas slip kritis minimum-nya maka beralihlah ke mekanisme tumpu (ingat dengan pemberian filler yang dimaksudkan Pak Wir maka slip kemudian tidak terjadi,karena tidak ada celah), dengan terus memperbesar gaya tarik, keruntuhan tumpu pun mulai terjadi. Nah mengenai hasil yang diperoleh apakah sama dengan gambar yang saya tampilkan diatas, saya tidak tahu. Mudah-mudahan Pak Wir dan Mahasiswa S2-nya berkenan memperlihatkan kepada kita semua, bagaimana keruntuhan yang terjadi itu.

        CMIIW…

    • O kalau gambar seperti itu, kami tidak perlu copy and paste dari internet lho. Lab mekanika rekayasa di tempat kami , ada beberapa bangkai hasil pengujian sampai runtuh sistem sambungan baut yang menunjukkan mekanisme tumpu, semuanya hasil penelitian empiris kami sendiri. Meskipun untuk pengujiannya kami masih memanfaatkan lab uji di UNPAR dan PUSKIM, semuanya di Bandung.

      • Itu sekedar untuk melengkapi saja Pak Wir,,,
        Mohon maaf kalau merasa terganggu, ini dikarenakan kemungkinan tidak semua orang berkesempatan melakukan penelitian dan melihat pola-pola keruntuhan yang terjadi. Jadi dengan gambar ini moga saja cukup sebagai penambah informasi.

  28. @MUHAMMAD GHOMARI dan teman-teman lainnya

    Jangan kuatir, nanti pada waktunya pasti akan saya sampaikan hasilnya. Maklum itu perlu diujikan dulu di sidang thesis S2 mahasiswa bimbingan saya terlebih dahulu. Juga kelihatannya punya bobot untuk dituliskan di jurnal terakreditasi terlebih dahulu, baru nanti ke blog ini. Maklum dosen, jadi cari kum juga.

    Tentang kontroversial yang anda sampaikan, terima kasih, berarti topiknya cukup menarik perhatian. Maklum, menulis makalah yang membuat menarik orang itu kadang-kadang sukar lho.

    O ya, ini saya sedang menulis tentang struktur kaca. Kontroversial nggak sih. **bertanya-tanya mode on**

    Moga-moga bisa di presentasikan diseminar nasional nantinya. Struktur kaca siapa yang pernah desain. Bila belum ada, berarti ini sangat kontroversial ya.

  29. Wah menarik sekali Pak Wir,,,
    Ini saja baru tahu karena baca paper nya Pak Harianto Hardjasaputra di Seminar HAKI tentang Struktur Kaca (tuh ada diblognya Pak Wir), walaupun hanya sekilasnya saja (tidak sampai tahap desain),tapi sudah membuka ruang bagi para peneliti seperti Pak Wir supaya ikut nimbrung mengembangkan teknologi terbaru ini,,, setuju deh pak Wir
    Salute buat Pak Wir
    http://wiryanto.files.wordpress.com/2010/08/07-harianto-hardjasaputra-paper.pdf

  30. Membaca tulisan Sdr. Ghomari pada tgl. 22 Agustus, ada hal yg saya rasa mirip dengan yg saya tulis tgl. 4 Juni yg lalu.
    Bila slip kritis terjadi maka tinggal tergantung pada kekuatan/kemampuan filler pengisinya untuk menyalurkan gaya yg bekerja sehingga terjadi bearing connection.
    Kalaupun filler pengisi berhasil menyalurkan gaya tersebut, juga harus dipikirkan cara pelaksanaannya di lapangan.
    Pengisian celah yg sempit ini dengan sempurna bisa sangat sulit bila dilakukan di lapangan.

  31. Ping balik: baut mutu tinggi itu ternyata berbeda-beda, awas ! | Wood Flooring - Parquet Lantai Kayu Terbaik

  32. Pak Wir,
    Setelah sy baca artikel Bapak mengenai baut 8.8 dan A325, timbul pertanyaan mengenai perhitungan baut tersebut Pak. Selama ini saya menghitung baut dengan panduan dari Buku T. Segui yg edisi ke-4 yg mengacu ke AISC dimana diperuntukkan untuk baut A325. Bila hitungan tersebut digunakan untuk menghitung baut 8.8 apakah masih relevan dipakai? Takutnya dengan baut yang berbeda tersebut maka penggunaan rumusnya pun berbedak. Atau lebih baik memakai dari perhitungan BS yg sudah langsung memakai baut 8.8(yg notabene sy belum familiar dg code ini)?
    Mohon petunjuknya Pak Wir, Terima kasih.

    Damar BL

    • Jika mengikuti diskusi di atas, dapat dipahami bahwa dari segi material, yaitu fy dan fu maka kedua macam baut (8.8 atau A325) dapat dianggap setara. Itu berarti untuk perencanaan kekuatan non-slip-kritis maka keduanya dapat dianggap sama juga. Metode yang ada di buku Segui tetap dapat dipakai, juga jawaban soal ujian yang saya buat juga sama. Non-slip-kritis itu berarti kekuatan yang mengandalkan tumpu baut.

      Adapun perbedaan adalah pada saat initian prestressing, jika A325 adalah min 0.7 fu sedangkan yang 8.8 maks 0.7 fu. Ini tentu berpengaruh pada perencanaan baut yang mengandalkan mekanisme slip-kritis yang umumnya hanya diharuskan untuk konstruksi jembatan karena mampu mengantisipasi permasalahan fatigue.

      A325 terlihat lebih andal dalam menghasilkan pretensioining, maklum mampu dikencangkan maksimum. Kalau baut jelek, langsung putus. Adapun yang 8.8 kalau terjadi kerusakan akibat pengencangan tidak terlihat karena bisa terjadi kerusakan di drat. Ini beresiko.

      Tentu saja informasi ini berdasarkan penelitian pada tulisan di atas. Bagaimana kondisi aktual di Indonesia. Itu perlu penelitian, ada yang tertarik ?

      Jika ada dan perlu bimbingan, silahkan, dengan senang hati.

  33. Selamat pagi pak,
    Saya sudah baca keseluruhan tapi belum nemu inti dari pengencangan baut A325 itu harus berapa untuk masing masing ukuran baut.
    Dalam ASTM Table J3.1 & J3.1M (kips dan kN) yang artinya tidak bisa langsung diterapkan untuk satuan yang ada di torque wrench (Nm, kgfm, lbfft, lbfin)
    Apakah saya bisa dapat tabel konfersi yang sudah jadi. Masalahnya diatas hanya ada rumus T = N* k*d yang mungkin hasilnya tidak seakurat alat Skidmore-Wilhem.
    Trims,
    Tri. S

  34. Pak Wir,

    saya mhon info mengenai baut yang akan saya pakai untuk jembatan, mohon referensinya, untuk baut A490,A325 DAN F10T, trimakasih atas perhatiannya

  35. saya senang membaca artikel serta komen diatas-terima kasih buat semuanya.
    info untuk bolt manufacturer lokal selain yang terbesar yang pernah saya kunjungi di Surabaya PT. Timur Megah juga PT. Garuda Metalindo / PT. Indo Seiki di Tangerang ( tapi sepertinya kedua pabrik diatas lebih fokus untuk pekerjaan otomotif industri saja) atau PT. Y and T Fastener International Batam ( http://www.yandtfastener.com )

  36. Menarik sekali materinya pak, tapi saya mau tanya pak, alasan mengapa spesifikasi2 tersebut cocok untuk mekanisme slip kritis atau tumpu. dasarnya apa pak? apakah dari mechanical propertiesnya atau gimana pak? mohon bimbingannya…. Trims ^__^

    • pada dasarnya semua baut harus mampu bekerja dengan mekanisme tumpu. Itu pada prinsipnya, adapun baut yang diharapkan bekerja dengan mekanisme slip kritis hanya baut mutu tinggi saja atau baut yang mampu menerima prategang.

  37. oh gitu pak. Klo baut mutu tinggi dan baut mutu rendah perbedaannya dari apa ya selain dari mutu dan komposisi material nya. (maaf ya pak tanya terus, baru mulai belajar baut pak)

    • jika keduanya sama-sama bermutu (dapat dipercaya untuk menghasilkan kinerja sesusuai spesifikasi teknisnya) maka perbedaannya bahwa selain kekuatannya (daya dukungnya yang rendah) untuk “baut mutu rendah”, maka baut mutu tersebut hanya boleh digunakan dengan mekanisme tumpu. Adapun “baut mutu tinggi” untuk perencanaannya dapat digunakan baik pada mekanisme “tumpu” maupun pada mekanisme “slip kritis”.

  38. kenapa yang sering digunakan baut A325 untuk struktur pak? sedangkan baut A490 tensile strenghtnya lebih besar dan komposisi materialnya lebih tahan terhadap korosi menurut astm, dan pertimbangannya kita menggunakan A325 dengan A490 apa pak?
    terima kasih

  39. Terima kasih pak , Artikel nya sangat bagus kebutulan kemarin saya juga baru selesai uji tensile baut A325 di BPPT Serpong, saya lagi butuh weigth chart untuk baut A325 kira-kira saya bisa download dimana ya pak
    mohon bantuan nya klo ada bisa di emailkan ke email saya
    khairul89amri@gmail.com
    TQ

    • jelas ada, yaitu baut mutu tinggi dengan pemasangan dengan pengencangan khusus. Selanjutnya kekuatan baut harus direncanakan berdasarkan mekanisme slip-kritis, sehingga dalam bekerjanya tidak terjadi slip. Memang sih, mekanisme tersebut mempunyai kekuatan yang lebih rendah dari mekanisme tumpu, tetapi hanya mekanisme slip-kritis yang tahan terhadap beban dinamis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s