membuat tulisan ilmiah


Bagi pembaca  yang berlatar belakang mahasiswa di perguruan tinggi,  maka threat berjudul  “membuat tulisan ilmiah”  dapat dipastikan akan mengarah pada cara pembuatan skripsi. Meskipun kadang kala dapat dikaitkan juga dengan pembuatan makalah ilmiah untuk jurnal atau seminar. Tapi saya kira hanya sedikit yang membayangkan bahwa itu juga menyangkut pada cara pembuatan buku-buku teks ilmiah.

Ketidak-percayaan diri untuk sampai pada pembuatan buku didasarkan pada pengalamanku dulu saat masih menjadi mahasiswa. Bayangkan saja, itu tidak hanya saat S1 maupun S2. Pada masa itu, saya berpikir bahwa hanya para pakar senior yang mampu membuat (menulis) buku teks, yang kadar ilmiahnya tidak diragukan para pembacanya.

Cara pikir seperti itu bisa dimaklumi, karena faktanya sewaktu menyelesaikan thesis S2-nya saja dulu memerlukan waktu lama. Bahkan merasakan bahwa membuat tulisan ilmiah merupakan beban berat (bikin stress).

Bayangkan saja, kala itu aku mempunyai sesi khusus untuk secara rutin datang ke kampus UI di Depok. Itu di sela-sela hariku bekerja, maklum waktu itu aku bukanlah seorang dosen, tetapi praktisi yang bekerja untuk membiayai sekolah dan sekaligus  keluarganya. Sekolah lanjut bagiku waktu itu merupakan  alternatif paling logis agar tetap dapat berkarir di bidangnya dan memberi harapan akan ada  peningkatan atau perbaikan dikemudian hari.

Catatan : kondisiku saat ini, tidak akan ada tanpa adanya pemikiran tersebut.

Kalau mengingat masa-masa sekolahku tersebut, aku pernah merasakan bahwa membuat tulisan ilmiah itu suatu momok yang menakutkan. Ini memang dapat dimaklumi karena kalau tulisan ilmiahnya yang berupa thesis,  tidak selesai, maka ijazahnya juga tidak keluar. Alias tidak lulus.  :(

Jika sekarang aku berani membuat tulisan seperti ini, petunjuk bagaimana membuat tulisan ilmiah, padahal dahulu itu sesuatu hal yang menakutkan, maka tentu ada sesuatu yang dapat diandalkan, sehingga membuat tulisan ilmiah menjadi sesuatu yang tidak menakutkan lagi.

Apa itu ?

Dulu saat masih menjadi mahasiswa aku menyatakan bahwa membuat tulisan ilmiah adalah susah, tetapi sekarang setelah menjadi dosen merasa membuat tulisan ilmiah itu relatif gampang, bahkan sampai berani-beraninya berbagi di ranah publik.  Apakah itu berarti menjadi dosen pasti mampu membuat tulisan ilmiah.

Suatu pertanyaan logis, tetapi ternyata jawabannya tidak bisa diberikan secara pasti. Maklum, meskipun tulisan ilmiah merupakan sesuatu yang penting, yang sangat membantu karir seorang dosen, ternyata tidak semua dosen mampu memanfaatkan dengan baik. Tidak semua dosen  mampu membuat tulisan ilmiah seperti yang dimaksud. Kalaupun bisa, maka dianya akan membuat tulisan ilmiah itu seperti kala dulu membuat thesis, yaitu karena adanya paksaan dan dikerjakan dengan perasaan berbeban berat. Tidak banyak dosen yang mampu membuat tulisan ilmiah seperti mengerjakan hobby.

Jadi karena umumnya dosen dituntut berpendidikan tinggi, yang mana umumnya itu menuntut kemampuan untuk membuat tulisan ilmiah (skripsi, thesis dan disertasi maupun presentasinya) maka pada scope yang terbatas dapat dipastikan bahwa pernyataan tersebut benar.

Umumnya seorang dosen banyak dikenal dengan tugasnya mengajar daripada dari tulisan-tulisan ilmiahnya.

Pak Wir, khan dosen itu yang penting mengajar. Jika dia bisa mengajar dibanyak tempat, di mana-mana. Apakah itu bukan menunjukkan sebagai dosen yang hebat.

Wah itu tergantung. Jika dosen tersebut mempunyai keahlian khusus, langka, baik karena latar belakang pendidikan (doktor) maupun karena kepakarannya (profesor) dan juga dibuktikan dengan banyaknya makalah ilmiah yang dibuat, maka pernyataan di atas adalah relevan. Bahkan bisa menimbulkan decak kagum, yaitu bagaimana dianya bisa mengatur waktu dengan baik.

Tetapi jika tidak seperti itu maka pertanyaan anda itu relevan jika disampaikan lima atau sepuluh tahun yang lalu.

Saat ini, yang namanya dosen adalah profesi utama, bukan pekerjaan sampingan lagi. Ini serius, sudah banyak institusi pendidikan tinggi yang mampu membayar gaji dosennya relatif cukup baik, yang besarnya bahkan tidak kalah dengan gaji seorang manajer perusahaan swasta.

Jadi karena kebutuhan hidupnya yang tercukupi (meskipun ini relatif) sehingga tidak ada kewajiban dia lagi untuk menambah-nambah asap dapur, maka keputusan mengasong di tempat yang lain tentu perlu dipikirkan matang-matang, tidak semata-mata karena kebutuhan ekonomi.  Kalaupun ada, akan lebih kepada faktor kebanggaan, merasa mendapat pengakuan karena ilmunya.

Kecuali level gaji dosen di institusi-institusi tertentu yang sudah baik, saat ini menjadi dosen juga menarik. Pemerintah saat ini sangat perhatian dengan dosen sebagai suatu profesi yang perlu mendapat dukungan dibanding profesi yang lain. Memang ini belum berlaku bagi semua dosen yang ada, masih terbatas pada dosen-dosen yang dianggap senior. Perhatian yang dimaksud adalah adanya tunjangan profesi bagi dosen-dosen yang telah lulus sertifikasi pendidik. Itu semua didukung oleh adanya undang-undang profesi dosen yang dikeluarkan pemerintah. Coba mana ada profesi lain yang mendapat tunjangan khusus dari pemerintah saat ini.

Jadi saat sekarang ini jangan kaget jika profesi dosen menjadi salah satu tujuan pencari kerja.

Dosen yang telah mendapatkan sertifikasi pendidik dan telah menerima tunjangan profesi dari pemerintah ternyata perlu membuat pertanggung-jawabannya setiap semester atau setiap tahunnya. Jika dari evaluasi tidak menunjukkan kriteria yang diharapkan maka tunjangan profesi bisa dicabut.

Didalam setiap pertanggung-jawabannya tersebut, terdapat tiga ketentuan yang harus dipenuhi oleh seorang dosen dalam setiap semesternya, atau disebut sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi. Jadi produktifitas kegiatannya selama menjadi dosen harus dapat dievaluasi terhadap kriteria  [1] Pendidikan dan pengajaran; [2] Penelitian dan publikasi ilmiah; dan  [3] Pengabdian pada Masyarakat.

Jadi faktor pendidikan dan pengajaran hanya berbobot 1/3 dari keseluruhan beban tanggung jawab yang harus dikerjakan seorang dosen.

Dengan latar belakang pemikiran seperti itu, maka jelas dosen yang mengajar kemana-mana pasti akan dipertanyakan dengan kewajibannya yang lain. Jadi bisa mengajar kemana-mana saat ini tidak relevan dikaitkan dengan istilah dosen profesional. Bahkan tidak mengajar kemana-mana (dosen di satu institusi saja), tetapi kegiatannya terlalu banyak mengajar, akan dipertanyakan.

Dahulu di kampusku bila ada dosen yang mengajar sampai 22 sks per semester, itu biasa, bahkan dibangga-banggakan, tetapi sekarang ketika membuat laporan kegiatan dosen,  yang mengajar lebih dari 15 sks saja telah dipertanyakan.

Yang lainnya itu apa sih pak.

Itu tadi, salah satunya adalah penelitian dan publikasi ilmiah. Itulah mengapa sekarang kemampuan membuat tulisan ilmiah menjadi sesuatu yang sangat penting bagi dosen. Boleh-boleh saja dia membuat penelitian sebanyak mungkin, tetapi kalau itu semua tidak bisa diungkapkan dalam suatu tulisan ilmiah maka jelas nggak berguna. Tidak ada nilainya.

Dengan alasan itu semua maka mempunyai kemampuan membuat tulisan ilmiah adalah sesuatu yang berharga, sama berharganya dengan kompetensi lain yang dapat mendatang uang. Minimal, membuat profesinya sebagai dosen masih diakui.

He, he, masih tertarik untuk belajar membuat tulisan ilmiah . Jika anda masih berkecipung di dunia kampus, baik sebagai mahasiswa maupun dosen, maka pasti deh tulisan ini relevan untuk dibaca.  Lanjut !

Tapi sebelumnya perlu diingatkan lho bahwa tips yang anda baca ini adalah versi Wiryanto, yang ditulis berdasarkan pengalamannya pribadi, bukan hasil studi literatur. Jadi sangat subyektif sifatnya. Jika ternyata ada perbedaan pendapat dengan ahli lain, maka resikonya tidak ditanggung. Anda sebagai pembaca diharapkan bijak untuk memilah, tips mana yang paling cocok dengan kondisi dan latar belakang anda. Maklum, rambut sama-sama hitam, tetapi pendapat bisa bermacam-macam.

Meskipun tips ini subyektif sifatnya, tetapi telah terbukti. Buktinya tentu saja tulisan ilmiah karyaku. Tertarik, klik saja ini.

Jika anda mau perhatikan tulisan-tulisan yang kubuat, maka baru tahun 2002 ke atas aku mulai menulis. Itu berarti baru setelah lima tahun aku berprofesi sebagai dosen. Sebelumnya aku tidak pernah menulis lho. Terus terang latar belakang dapat diterima di UPH waktu itu adalah selain punya basic pendidikan yang mencukupi bagi seorang dosen, juga karena adanya nilai tambah adanya pengalaman praktis di lapangan. Jadi bukan karena kepakaranku, yang umumnya itu ditunjukkan dengan adanya publikasi ilmiah. Maklum, waktu masuk jadi dosen dulu khan belum punya karya ilmiah yang dapat dibanggakan.

Di satu sisi lain, adanya fenomena seperti yang aku punyai, menunjukkan bahwa kemampuan membuat tulisan ilmiah itu bukan merupakan bakat, tetapi suatu ketrampilan yang dapat dipelajari.  Tentu agar sukses, harus tahu tip dan trik yang positip,  dan harapannya itu dapat dipenuhi sebagian dari tulisanku ini.

Kenapa aku tiba-tiba mulai menulis, padahal latar belakangnya dahulu tidak mendukung adanya pengalaman-pengalaman menulis.

Tentang hal itu, tentu tidak bisa dilepaskan dengan pengalamanku selama tiga bulan di kirim ke Uni Stuttgart, Jerman. Hasil risetku di sana termuat dalam salah satu bab pada buku yang diterbitkan ACI (assosiasi beton Amerika). Sejak itu aku mempunyai kepercayaan diri bahwa aku mampu menulis.

Adanya kepercayaan diri itulah maka selanjutnya produktivas menulisku meningkat tajam, bahkan aku bilang itu tidak terbayangkan sebelumnya. Bahkan kalau aku mau menyebutnya sebagai ngelmu laduni (ngelmu tiban) maka bisa-bisa ada orang yang percaya lho. :)

Adanya kemampuan membuat tulisan ilmiah itu yang mendorong aku untuk berani mengambil program doktoral. Padahal hal seperti itu tidak pernah terbayangkan ketika aku lulus S1 dulu. Bahkan ketika lulus S2 juga tidak membayangkan. Kesannya studi lanjut S3 itu susah sekali.

Bahkan aku berani bersaksi, bahwa aku bisa menyelesaikan disertasi doktoralku itu adalah berkat kemampuanku membuat tulisan ilmiah tersebut. Adapun pengalamanku dahulu, bertahun-tahun di lapangan tidak membantu banyak. Tanpa itu maka aku tentu merasa berbeban berat, sebagaimana aku dulu menyelesaikan tugas akhir di program S1 dan S2.

Tapi mengambil program doktoralnya lama ya pak ?

Betul lima tahun, aku bolak-balik Jakarta – Bandung. Lama ya dik.

Aku mempunyai masa studi di program doktoral yang cukup lama, yaitu lima tahun. Tapi selama itu, aku merasa suasananya tidak seperti jaman aku S1 dan S2 dulu. Itu aku nikmati betul. Itu adalah masa-masa produktifnya aku menulis, coba saja pada masa itu ada tiga buku yang diterbitkan dan beberapa makalah yang disajikan di seminar. Semuanya diselesaikan di dalam masa-masa program doktoralku. Masih sempat-sempatnya bukan. Jelas, jika aku dalam suasana tertekan, maka dapat dipastikan aku tidak akan seproduktif itu.

Pak Wir, mana tips menulis ilmiahnya ?

Wah kamu itu terlalu to the point. Apa yang aku sampaikan di atas itu sebenarnya juga merupakan tips penting. Bahkan paling penting, karena jika anda membaca dan menghayatinya dengan baik, maka anda akan mendapat kesan bahwa “mempunyai kemampuan membuat tulisan ilmiah” adalah sesuatu hal yang menjanjikan bagi karir dan masa depan.

Jika itu anda rasakan, maka jelas motivasi untuk belajar pasti akan meningkat.

Cara ini aku pilih seperti meniru bagaimana seorang tua membesarkan hati anak-anaknya ketika pertama kali akan belajar sesuatu yang baru , yaitu memberi nasehat dengan kata-kata berikut : “Jangan takut nak !

Jadi langkah awal agar sukses membuat makalah ilmiah itu, apapun bentuknya adalah jangan takut. Kenapa begitu, karena resiko paling buruk yang dapat diterima hanyalah tidak dibaca orang.  Jadi mengapa perlu ditakutkan. Ingat, penulis paling top pun tidak bisa menjamin bahwa semua orang pasti mau membaca tulisannya. Maklum baik dan buruk itu khan relatif sifatnya.

Jika anda sudah tidak punya masalah dengan rasa takut ketika menulis, maka masuklah pada langkah ke dua, yaitu buatlah kegiatan menulis itu sebagai suatu upaya pemenuhan kepuasan pribadi. Hobby.

Jika anda punya hobby menulis, maka anda akan mendapatkan kepuasan sewaktu menulis tersebut. Faktor kepuasan ini menjadi penting saat nanti menerima fakta bahwa tidak semua tulisan yang kita anggap terbaik, juga diterima baik oleh orang lain. Jadi bisa saja kita merasa bahwa tulisan kita ini sudah baik sekali, eh ternyata ketika disampaikan kepada penerbit atau seminar, ternyata ditolak. Itu bisa terjadi lho.

Jadi jika anda tidak punya rasa takut dengan menulis, bahkan menjadikannya hobby yang dinikmati, maka ketika anda menerima kenyataan tulisan anda dikatakan buruk (tidak diterima) maka anda akan tetap produktif. Jika demikian yang terjadi, maka karena banyak tulisan yang dihasilkan diharapkan ada satu atau dua tulisan yang akhirnya dapat diakui oleh orang lain. Ingat pepatah, bisa karena biasa. Betul nggak, apalagi kalau mau terus belajar. Yah, seperti membaca tip dan trik yang saya buat ini.

Membuat tulisan ilmiah tentu berbeda dari sekedar menulis. Jadi sebelum melangkah lebih lanjut, ada baiknya kita membahas apa itu tulisan ilmiah, dan apa bedanya dengan tulisan biasa.

Penjelasan apa itu tulisan ilmiah dan apa bedanya dengan tulisan biasa, memang tidak gampang. Coba saja kamu baca tulisan-tulisanku di blog ini, apakah ini tulisannya ilmiah atau tidak. Pasti akan terjadi silang pendapat. Tetapi jika aku menyebut diriku seorang penulis karena aku punya blog ini, pasti semua orang akan mengamini. Jika ada yang meragukan bahwa aku bukan seorang penulis maka dapat dipastikan dianya sendiri yang diragukan, karena dapat dianggap gaptek. Maklum di jaman sekarang ini, tulisan pendek sms via handphone bisa bikin heboh seantero negeri. Iya khan :) .

Jadi tulisan ilmiah adalah tulisan yang dibuat orang untuk keperluan ilmiah. Jadi bukan sekedar untuk alat komunikasi, atau mengungkapkan perasaan seseorang, atau sebagai alat dokumentasi saja. Oleh karena itu, dengan definisi seperti itu maka aku tidak keberatan jika tulisan-tulisan di blog-ku ini tidak disebut tulisan ilmiah, meskipun kebenarannya dapat diuji secara ilmiah (isinya tidak diragukan lagi, tentu saja menurut kaca mata pribadiku). Maklum, aku menulis di blog ini adalah untuk mengungkapkan pikiran. Meskipun dalam hal ini pikiran yang aku punyai kebanyakan juga didasarkan pada fakta-fakta ilmiah.

Jadi dari situ dapat disimpulkan bahwa yang disebut tulisan ilmiah adalah tidak dapat dilihat dari sekedar isinya saja. Kalau hanya isinya saja yang bersifat ilmiah dan berguna bagi pembaca maka cukup disebut sebagai tulisan bermutu, dan tidak bisa langsung disebut sebagai tulisan ilmiah.

Jadi kalau begitu apa yang harus diperhatikan untuk membuat suatu tulisan ilmiah.

<<<< Pertama >>>>. Tentu saja isi tulisannya harus ilmiah. Jika tidak ilmiah maka jelas-jelas tidak bisa disebut tulisan ilmiah. Istilah ilmiah umumnya adalah sesuatu yang dapat dikaitkan dengan nalar dan logika serta bersifat konsisten. Ilmiah juga dikaitkan dengan adanya penyebutan teori-teori terdahulu yang terkait dengan uraian yang disampaikan, baik itu yang mendukung maupun yang menentang. Tidak masalah itu, dan yang penting lagi bahwa teori itu tentunya telah termuat terlebih dahulu pada publikasi ilmiah yang ada. Itulah mengapa ciri-ciri utama tulisan ilmiah adalah adanya daftar pustaka yang digunakan.

<<<<< Kedua >>>>>. Tulisan ilmiah harus ditulis mengikuti format tulisan yang tertentu. Tidak bisa suka-suka sendiri, seperti ketika menulis untuk mengungkapkan perasaan hati. Tidak seperti itu.

Format tulisan yang dipilih tentu disesuaikan dengan “kepada siapa tulisan ilmiah itu ditujukan“. Jika tulisan ilmiah itu adalah berupa skripsi-thesis-atau-disertasi sekalipun, yang mana diterima atau tidak tulisan ilmiah itu adalah didasarkan pada keputusan bersama dosen pembimbing – dosen penguji – birokrasi kampus, maka jelas format yang dipilih adalah yang memenuhi kriteria-kriteria mereka tersebut. Biasanya itu berupa kesamaan tampilan fisik luar, yaitu warna sampul, penempatan logo, batas margin tulisan, ukuran kertas, spasi, jenis dan ukuran hurus dan sebagainya. Sedangkan secara isi harus selaras atau tepatnya mendapat persetujuan bahkan dukungan dari dosen pembimbingnya, dan tentu saja sesuai dengan kriteria pemahaman dari dosen penguji. Jika tidak, bisa-bisa mendapat debatan /sanggahan dari mereka, yang jika tidak disiapkan dengan benar, bisa-bisa menjadi batu sandungan. Itu khan beresiko untuk tidak lulus.

Jika tulisan itu berupa makalah ilmiah untuk seminar call for paper, maka banyaknya interaksi pribadi dengan evaluator tidak seperti yang terjadi pada pembuatan skripsi/thesis atau disertasi. Biasanya yang penting diperhatikan adalah bahwa tulisan telah mengikuti format yang umumnya telah dibuat atau disiapkan dalam bentuk template file pengolah kata, umumnya ms-words.

<<<<Ketiga>>>. Tema tulisan harus sesuai dengan forum ilmiah yang dituju.

Forum ilmiah yang dituju umumnya terkait erat dengan latar belakang pendidikan penulis dan peserta temu ilmiah. Anda tentu bisa membayangkan bahwa kata HAKI bagi seorang insinyur struktur di Indonesia mempunyai pengertian yang berbeda dengan ahli hukum. HAKI bagi insinyur struktur diartikan sebagai Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia, sedangkan bagi ahli hukum diartikan sebagai HAk Kekayaan Intelektual. Dua arti yang sangat berbeda.

Oleh karena itu, secara umum dapat dikatakan bahwa tulisan ilmiah ditulis dan ditujukan oleh orang-orang dengan bidang keilmuan yang sejenis. Meskipun ini tentu saja tidak mutklak, seperti misalnya material kayu. Materi ini bisa ditulis baik oleh orang teknik sipil, yang membahas kayu untuk aplikasi engineering, maupun orang dengan latar belakang ilmu kehutanan,yaitu misalnya tentang aspek mendapatkan mutu kayu yang baik, yang dapat diaplikasikan di bidang teknik sipil.  Contoh yang lain, adalah anda sebaiknya tidak membuat tulisan ilmiah tentang “penanaman padi unggul” pada forum “ilmiah teknik sipil”, meskipun anda adalah sarjana di bidang teknik sipil.

Karena definisi tulisan ilmiah adalah tulisan yang ditujukan untuk keperluan ilmiah, maka tentu akan kesulitan menemukan tulisan ilmiah di koran-koran harian biasa. Maklum, koran harian khan tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan informasi apa adanya, tanpa argumentasi yang panjang lebar dari penulisnya.

Pada suatu kasus-kasus tertentu, bahkan perlu ditelaah lagi forum ilmiah apa yang paling tepat dengan tema yang ditulis. Meskipun bidangnya sama-sama teknik sipil, tetapi misalnya makalah tentang Direct Analysis Method (AISC 2010) jelas tidak tepat jika dikirimkan ke jurnal Geoteknik, tetapi yang cocok adalah ke jurnal Struktur. Meskipun di Indonesia saat ini jurnal teknik yang ada masih dalam level yang relatif umum, seperti Jurnal Teknik Sipil. Di luar negeri, jurnal sudah lebih spesifik, misalnya ASCE Structural Engineering, dll. Jadi disini menyangkut spesialisasi ilmiah yang digeluti, meskipun sama-sama sarjana teknik sipil, tetapi bidangnya adalah teknik struktur, yang membahas bukan beton tetapi baja. Itupuan lebih banyak menyangkut pada sistem sambungannya.

<<<<Keempat>>>> Topik atau judul tulisan ilmiah yang dibuat.

Setelah mengetahui kepada siapa tulisan akan ditujukan, kalangan akademik yang terbatas (skripsi-thesis-disertasi), presentasi pada forum ilmiah (lokal, nasional maupun internasional) atau publikasi dalam bentuk jurnal (terakreditasi atau non-terakreditasi atau bahkan internasional) maka itu semua akan menentukan topik dan judul tulisan ilmiah yang dapat dipilih.

Misalnya saja, topik dan judul tulisan ilmiah yang berkaitan dengan Direct Analysis Method (AISC 2010) untuk makalah ilmiah yang dipresentasikan atau dipublikasikan di Indonesia mungkin masih relevan dan cukup menarik. Mengapa, karena materi tersebut memang cukup baru untuk ilmuwan kita. Itu ditandai belum banyaknya makalah nasional yang menulis topik tersebut. Tetapi jika topik dan judul tulisan ilmiah yang sama akan disampaikan di forum internasional, maka jelas materi tersebut bukan sesuatu yang menarik lagi karena sudah sangat banyak penelitian dan makalah yang membahas hal tersebut. Kecuali tentu jika kita bisa memberikan kebaruan pada materi tersebut.

Kebaruan yang dimaksud tentu tergantung dari kepiawaian penulis. Semakin kreatif maka tentu topik dan judul yang sama masih bisa tetap relevan, seperti misalnya : “Aplikasi Direct Analysis Method pada perancangan struktur menara Indonesia, menara tertinggi di Asia Tenggara”. He, he, misalnya. Adanya objek menara membuat tulisan yang meskipun memakai topik yang sama (Direct Analysis Method), yang mungkin sudah banyak diungkapkan di kancah internasional, mendapatkan kebaruan.

Jadi intinya, dari topik dan judul tulisannya saja, kita bisa tahu apakah materi tulisan ilmiah kita ini relevan untuk disampaikan pada forum ilmiah tersebut atau tidak. Tahap ini tentu tidak terlalu kaku, dalam perjalannya tentu bisa kita ubah lagi kalau ternyata ada judul lain yang lebih menggigit dan relevan dengan tulisan yang telah dibuat. Maklum kadang-kadang di awalnya kita bersemangat sekali untuk memulai, tetapi ternyata dalam perjalanannya, ketika menulis, ada hal-hal yang ternyat tidak dapat kita penuhi, mungkin alatnya tidak tersedia, atau ternyata tidak ada laboratorium yang mampu. Jika kondisinya seperti itu, maka tulisan kita perlu redefinisi ulang, diubah agar judul dan isi tetap konsisten. Ini yang paling penting.

Pada tahap ini dengan mengetahui topik dan judul tulisan yang akan dibuat maka kita sudah mulai memfokuskan pikiran. Menentukan topik dan judul tulisan merupakan upaya ringkas kita sendiri  dalam mendeskripsikan “apa-apa” yang akan ditulis.

Tahap ini kelihatannya sepele, tapi sebenarnya tidak sepele. Ini tahap penting, karena sekali diungkapkan maka sudah dapat terbayang apa-apa saja yang diperlukan untuk melengkapi penulisan ini. Dari judul atau topik yang dipilih pada umumnya akan diketahui juga bobot tulisan yang akan dibuat.

Bagi yang sering melakukan penelitian dan penulisan. Proses menentukan topik atau judul kadang dapat berjalan dengan sendirinya. Seakan-akan otomatis sifatnya. Biasanya itu dimulai dari adanya  ketertarikan, contohnya saja sepert artikel yang saya tulis ini. Selanjutnya dari adanya ketertarikan dibuatkan pertanyaan-pertanyaan “apa pentingnya”. Jika masih saja tertarik, maka akhirnya seperti ini hasil tulisannya.

Bagi yang masih awal, maka menentukan topik dan judul suatu karya tulis ilmiah adalah sesuatu yang sangat berat. Langkah awal untuk memulai hanya ada dua cara. Silahkan pilih mana yang memungkinkan. Nggak harus dua-duanya dilakukan, jika yang ke dua anda pilih maka yang pertama kadang bahkan tidak diperlukan. Cara kedua cocok bagi orang introvet seperti aku, sedangkan yang pertama adalah bagi orang ekstrovet. Tapi kalau yang pertama anda pilih, maka yang kedua rasa-rasanya perlu tetap anda lakukan. Maklum, penelitian ilmiah tidak bisa hanya mengandalkan sumber lesan saja. Sumber lesan hanya berguna sebagai petunjuk awal, utuk memulai melangkah.

Pertama adalah berdiskusi dengan orang yang telah banyak meneliti. Tentu orang yang dimaksud dari awalnya mempunyai ketertarikan pada bidang yang memang kamu tertarik untuk penelitian tersebut. Seperti misalnya, aku tertarik dengan soal-soal struktur, baik baja, beton maupun kayu. Numerik juga iya. Jadi kalau kamu ngomong penelitian tentang hal-hal itu maka aku bisa membantu banyak, tetapi kalau kamu menanyakan bidang manajemen konstruksi misalnya, maka jelas aku tidak punya kosa kata banyak tentang hal itu. Kalaupun bisa bantu tentu hal-hal yang umum saja.

Kedua, banyak-banyaklah membaca jurnal-jurnal ilmiah yang terkait dengan tema yang ingin kamu teliti. Ada pepatah bahwa untuk dapat menulis, maka mulailah dengan membaca. Pepatah itu benar adanya. Tanpa membaca saya yakin tulisan yang dibuat tidak akan berbobot.

Berkaitan dengan pepatah di atas, aku selalu menyatakan bahwa produktifitasku menulis memang baru-baru saja, yaitu setelah lima tahun lebih menjadi dosen. Padahal aku menjadi dosen ini juga sudah tidak muda, yaitu setelah sepuluh tahun lebih di dunia praktis. Pada masa-masa itu aku tidak pernah menulis. Lalu mengapa bisa menulis, bahkan banyak lagi. Kadang-kadang memang aku juga bertanya-tanya, koq bisa ya. Tetapi ketika aku pulang ke rumah, melihat rak-rak bukuku. Aku baru sadar, bahwa selama ini banyaknya koleksi buku yang aku punya merupakan salah satu jawabannya. Memang sih, jika tidak ada kegiatan maka aku sukanya adalah membaca buku. Itu aku jadikan kegemaran, hobby, jadi tidak terasa itu menambah wawasan berpikirku selama ini. Setelah itu dilakukan bertahun-tahun maka saat-saat sekarang tinggal memetik hasilnya. Menulis.

<<< Ke lima  >>>> Studi literatur.

Setelah menemukan topik dan judul suatu tulisan ilmiah maka langkah selanjutnya adalah menulis abstrak. Ini seperti yang aku telah sampaikan pada artikel “Tip-tip menulis skripsi” yang ada pada blog ini (lihat daftar tulisanku di bawah). Ketika dapat menulis abstrak maka tentunya sudah mempunyai gambaran secara cukup lengkap seperti apa isi tulisan ilmiah tersebut.

Gambaran lengkap isi tulisan tersebut bisa saja telah kita punyai berdasarkan pengetahuan kita yang ada, baik dengan apa yang telah kita baca atau kita temui. Tetapi kadang-kadang pengetahuan atau tepatnya persepsi kita terhadap topik atau judul tersebut bisa terbatas atau kurang up-to-dated lagi. Oleh karena ini maka sebelum menyusun abstrak ada baiknya kita melakukan penelusuran literatur terkait dengan topik dan judul tersebut. Kita baca pendapat-pendapat orang lain dan mempelajari apa kelebihan dan kekurangan dari topik tersebut, baik yang akan kita bahas dibanding punya orang lain.

Penelurusan literatur yang baik untuk tulisan ilmiah adalah yang dari jurnal-jurnal ilmiah. Untuk itu mengkoleksi jurnal-jurnal ilmiah yang terkait dengan topik dan judul adalah sangat penting. Bisa mengetahui tulisan yang akan kita bikin tersebut cocoknya akan dikirim ke jurnal ilmiah mana merupakan suatu pengetahuan yang penting. Demikian juga sebaliknya, jika tidak mengetahui jurnal mana yang baik untuk tulisan kita, maka dapat diartikan juga penulisnya belum pernah membaca jurnal yang terkait dengan tulisan tersebut. Padahal salah satu gampang menunjukkan bahwa artikel atau tulisan kita itu ilmiah adalah jika didukung oleh rujukan ke jurnal-jurnal ilmiah yang bermutu. Itulah mengapa ada syarat bahwa untuk bisa diangkat profesor maka seorang lektor-kepala harus dapat menunjukkan bahwa tulisannya dimuat di salah satu jurnal international  yang bereputasi. Bukan pada lamanya mengajar dsb-nya.

Pengalamanku dulu ketika menyusun disertasi, adalah gunakan jurnal international bereputasi dalam lima tahun terakhir. Itu disebut up-to-dated.

Mutu suatu karya ilmiah juga dapat ditentukan dari bagaimana penulisnya dapat mengakaitkan pernyataan atau tulisannya dengan rujukan ilmiah yang digunakan.  Sedangkan orang awam dapat melihat mutu suatu karya ilmiah dari mana makalah tersebut diterbitkannya.

Tentang hal ini maka para ilmuwan yang bersekolah di luar negeri mendapat keuntungan dibanding ilmuwan yang bersekolah di dalam negeri. Pertama-tama adalah bahwa jurnal ilmiah yang bereputasi international masih dimiliki oleh negeri lain. Setahu saya di Indonesia, khusus untuk bidang teknik sipil, belum ada jurnal yang bereputasi international. Kalaupun yang berbahasa Inggris memang ada, tetapi yang telah mendapat pengakuan international rasa-rasanya belum ada.

Jadi bagi ilmuwan yang bersekolah di luar negeri, dan kebetulan memakai bahasa yang biasa digunakan oleh jurnal-jurnal bereputasi tersebut, sekaligus dosen-dosen yang biasa mengisi jurnal tersebut maka potensi mereka untuk dapat mengirimkan hasil penelitian bersama dosennya untuk diterima di jurnal tersebut tentu akan semakin besar.

Mungkin ada juga teman-teman senior di dalam negeri yang tidak terima dengan pendapat di atas, karena mungkin pengalamannya membuktikan tidak seperti itu, yaitu bahwa meskipun produk dalam negeri bisa saja mengisi jurnal international bereputasi tersebut. Ok, jika itu ada maka itu adalah istimewa namanya. Tapi saya yakin itu tidak banyak.

Pengalaman saya dulu ketika menjadi peneliti tamu di University of Stuttgart di Jerman menunjukkan bahwa meskipun dulunya saya tidak punya pengalaman menulis, tetapi karena dapat berinteraksi dengan baik  dengan Prof. K.H Reineck, yang kebetulan sedang menyusun materi Strut-and-Tiem Model untuk ACI maka dengan mengikuti dan melaksanakan dengan baik petunjuk-petunjuk beliau maka makalah saya dapat menjadi salah satu Chapter di buku beliau yang diterbitkan secara international oleh ACI Amerika.

Dewobroto, W.; Reineck, K. – H. (2002): Example 5: Beam with indirect support and loading. p. 145 – 161 in: Examples for the design of structural concrete with strut-and-tie models. Reineck, K. – H. (Editor). Special Publication SP 208 of ACI. 2002

Itu jelas bukan faktor saya, tetapi faktor Profesornya. Jadi tidak heranlah jika lulusan luar negeri dapat masuk jurnal international, yang istimewa itu adalah jika lulusan luar negeri tersebut ketika sudah kembali ke Indonesia masih saja  tetap aktif berproduksi di jurnal international. Nah itu baru dikasih jempol, berarti dari dalam dirinya potensi kepenulisan ilmiah tetap ada . Apalagi jika kemudian , murid-murid bimbingannya bisa.  Berarti beliau bisa menyemaikan ilmunya secara lebih luas. Orang-orang seperti inilah yang sebenarnya patut diberi gelar Profesor.

.

<<< ini mestinya masih ada lho yang akan di tulis >>>

.

.

.

Ternyata aku sudah banyak sekali membuat tulisan dengan tema menulis, lihat saja artikel-artikel berikut. Siapa tahu dari salah satunya anda terinspirasi untuk jadi penulis juga. Ini lho artikel yang lain yang terkait dengan kegiatan tulis menulis :

About these ads

19 thoughts on “membuat tulisan ilmiah

  1. Tulisan yang sangat menarik Pak Wir, kebetulan sekarang masih semester 6 dan bentar lagi mau nulis tugas Akhir.
    pak Wir, ada gak referensi khusus yang membahasa Tata cara menulis karya ilmiah gitu?

    Oh ya Pak, mengenai paragraf terakhir tulisan Bapak di atas. Itu gimana sih Pak prosedurnya kalau misalnya saya punya tulisan dan saya ingin tulisan itu diterbitkan di Jurnal yang bersifat internasialnya misal ACI atau AISC.
    Sekian pak, terima kasih

  2. Pak gimana bagi waktu sama kehidupan rumah tangga ya, apakah Ibunya ngak cemburu bapak di depan komputer terus? :)

  3. Saya suka dan setuju sekali dengan pernyataan Pak Wir: “Kegiatan menulis itu sebagai suatu upaya pemenuhan kepuasan pribadi. Hobby.”. Kebetulan saya juga memiliki hobby menulis paper untuk seminar setelah lulus S2, dan hobby ini sangat menunjang pekerjaan saya di kantor walaupun bukan berprofesi sebagai dosen.

    Untuk mendukung tulisan Pak Wir ini, buat teman-teman atau rekan-rekan bila ada yang berminat mengikuti LOMBA KARYA TULIS IMLIAH TERKAIT KONSTRUKSI silahkan klik http://www.pu.go.id/publik/ind/event/ki_11/?Cont=c00405, untuk juara I akan menerima hadiah langsung dari Bapak Menteri Pekerjaan Umum saat upacara Hari Bhakti Pekerjaan Umum, sungguh suatu pengalaman yang membanggakan. Saya pernah menjadi juara I pada lomba tersebut tahun 2009 dan 2010, sehingga saya ingin berbagi pengalaman ini dengan teman-teman atau rekan-rekan sekalian.

    Sukses selalu!

    • Trims pak Deni atas infonya. Jadi tertarik ini, apalagi di sana ada persyatan yang pernah juara lomba beberapa kali gitu katanya nggak boleh ikut lagi. Jadi nggak disaingin oleh pak Deni gitu yang berturut-turut juara terus. :).

      • Sama-sama Pak Wir. Kebetulan saja kemarin menang karena pas ada topik menarik dan data yang mendukung untuk diajukan sebagai tulisan. Sebetulnya tahun 2008 saya ikut juga, tapi tidak dapat peringkat karena peserta lainnya kelas berat, untuk peringkat 1 diperoleh Prof Wiratman :) .

        Selamat lomba Pak Wir…

  4. Ping balik: membuat tulisan ilmiah « ayundabangkit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s