kepada siapa kita bisa belajar ?


Pertanyaan seperti : “kepada siapa kita bisa belajar“, adalah pertanyaan yang gampang-gampang, tapi susah juga lho. Anda setuju yang mana, gampang dijawab atau susah dijawab.

Saya kira itu pertanyaan yang bersifat relatif bukan. Jika pertanyaan yang sama, saya ajukan kepada anakku yang kebetulan kesulitan untuk suatu mata pelajaran tertentu,  maka dia dapat dengan mudah menjawabnya, yaitu “kepada mama dong”. Maklum, tiap malam dianya masih dibantu mamanya untuk belajar.

Jika pertanyaan yang sama, diajukan kepada mahasiswaku, misalnya. Maka mahasiswa tersebut tentunya akan merujuk pada temannya yang dirasa lebih pintar. Jika itupun ternyata tidak memuaskan maka bisa saja dia langsung bertanya kepada dosennya. Beres bukan.

Bagaimana dengan anda. Saya akan banyak yang mempunyai strategi yang sama, yaitu mencari teman atau kenalan atau tepatnya orang lain yang menguasai ilmu yang dimaksud secara lebih baik. Jika ya, maka anda termasuk orang yang ekstrovet, tidak kenal malu atau yang positip adalah orang yang berani. Tentang hal ini jadi ingat akan pepatah: malu bertanya sesat dijalan. Saya kira pepatah tersebut juga tepat untuk menjawab pertanyaan di atas.

Permasalahan yang dapat dengan mudah diatasi oleh orang ekstrovet di atas, kadang tidak berlaku bagi orang introvet. Biasanya daripada menghubungi orang lain, dia lebih baik pergi agak jauh sedikit ke perpustakaan, yaitu belajar dari membaca buku-buku atau literatur tertulis yang tepat.

Jadi belajar itu bisa diperoleh dari [1] berinteraksi dengan orang yang lebih pandai yang mau berbagi, atau dengan cara [2] membaca literatur-literatur tertulis yang sesuai, yang membahas materi yang ingin dipelajari. Menurut anda, masihkah ada cara lain untuk belajar.

Untuk tingkat pemula, rasa-rasa hanya kedua cara tersebut. Cara yang paling primitif adalah dengan cara berinteraksi dengan orang lain. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan meniru. Itulah mengapa, kalau anda ingin pintar maka banyak-banyaklah bergaul dengan orang pintar. Karena konsepnya meniru, maka proses belajarnya kadang-kadang tidak terasa. Itulah mengapa kita diberi petunjuk oleh orang-orang tua, juga jangan banyak-banyak bergaul dengan orang ‘rusak’, kenapa karena secara sadar atau tidak sadar, bisa-bisa saja anda akan meniru perilaku rusaknya tersebut.

Apabila sudah mempunyai pengetahuan atau ketrampilan dasar, minimal dapat membaca, maka langkah kedua, yaitu belajar dapat dilakukan dengan cara membaca buku atau literatur tertulis yang tepat.

Apabila kedua cara di atas sudah dilakukan secara maksimal, dan ternyata tidak dapat memuaskan maka saya sarankan langkah berikutnya, yaitu [3] belajar dari fenomena alam yang terjadi.

Fenomena alam yang dimaksud bisa berasal dari peristiwa yang bersifat alami, bisa juga dari peristiwa yang non-alami, atau buatan. Penelitian ilmiah yang berupa eksperimental adalah termasuk dalam langkah ini.

Jika digunakan langkah ke tiga ini, maka dapat diharapkan diperoleh suatu kebaruan ilmu pengetahuan, yang bahkan belum pernah ada sebelumnya pada literatur ilmiah. Itulah alasan utama, mengapa mahasiswa doktoral, khususnya dibidang teknis selalu diupayakan untuk membuat penelitian eksperimental. Adapun penelitian numerik baru diakui keberadaannya jika penelitian eksperiment tidak bisa atau susah dilakukan, jika penelitian eksperimental bisa dilakukan, maka penelitian numerik kelasnya dibawah penelitian eksperimental. Maksudnya jika hasil numerik berbeda dengan hasil eksperimental, jika kedua-duanya dianggap dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka yang dipakai adalah yang eksperimental.

Pemahaman seperti itulah yang sekarang mendasari pemikiranku selama ini, sehingga bila dimungkinkan untuk melakukan penelitian eksperimental dibanding penelitian numerik. Ini menguntungkan karena sebenarnya penelitian numerik itu lebih ribet, maklum dulu sebelum penelitian disertasi maka maunya adalah penelitian numerik saja.

Ah pak Wir ini, mentang-mentang baru saja mendapat Hibah Bersaing dari Dikti untuk tahun ini, jadi maunya kalau belajar itu dari riset eksperimental saja. Begitu ya pak ?

He, he, koq tahu. Saya kira nggak juga, kalau Hibah Bersaing memang diusahakan, tapi maksud utamanya adalah bukan untuk belajar, lebih dari itu. Begini maksudnya, teman-teman di perguruan tinggi umumnya mengejar untuk memperoleh Hibah Bersaing untuk sekedar menunjukkan bahwa kompetensi ilmiahnya telah diakui. Maklum, untuk mendapatkan Hibah Bersaing itu banyak saingannya. Jadi kalau tidak kompeten, maka susah deh.  :(

Aku kalau mempelajari sesuatu maka ketiga cara tersebut aku gunakan secara sadar maupun tidak sadar. Maklum, sudah menjadi habit. Hanya saja cara pertama, yaitu belajar dari orang lain, gampang-gampang susah. Maklum nggak banyak orang yang mempunyai kompetensi atau peminatan yang sama dengan yang aku geluti. Jadi kalau berinteraksi dengan orang lain yang diharapkan adalah untuk mendapatkan tanggapan. Ini sesuai dengan pepatah “banyak memberi banyak menerima“. Intinya, untuk mendapatkan sesuatu saya harus memberi sesuatu dulu, nggak kosongan. Tanggapan-tanggapan yang masuk itu selanjutnya kadang ada yang langsung mudah dicerna, tetapi banyak juga yang kesannya tidak ada apa-apanya, tetapi kadang dapat menjadi trigger untuk melanjutkan perburuan pengetahuan yang akan dicari. Seru ya.

O jadi masih membaca buku ya pak. Untuk itu kita untung sekali ya pak, di internet telah tersedia banyak buku bagus untuk kita pelajari. Betul khan pak, gratis lagi !

Ah nggak juga. Untuk keperluan pengembangan diri, kadang buku-buku (ebook) yang ada, sudah tidak mencukupi. Khususnya buku-buku terbitan baru agar selalu up-to-dated. Kadang untuk menunggu sampai gratisan-nya keluar itu waktunya terlalu lama. Itulah mengapa, aku sering jalan-jalan ke toko-toko buku. Hanya saja, untuk buku-buku engineering, yang ada di toko-toko buku seperti Gramedia dan semacamnya itu hanya buku-buku teks untuk perguruan tinggi. Maklum buku seperti itu khan banyak yang mencarinya. Untuk buku-buku dengan level profesional, yang membacanya kadang memerlukan kedalaman ilmu tertentu, maka sangat jarang dijumpai di sini. Maklum, biasanya bukunya dicetak dalam jumlah terbatas dan mahal harganya.

Untuk mengatasi hal tersebut, aku baru saja memanfaatkan situs on-line yaitu Amazon. Karena pembayarannya melalui kartu kredit, maka beberapa kali aku sempat ragu-ragu. Maklum sekarang khan berita penipuan di internat sangat gencar. Tetapi ternyata, keinginan untuk mendapatkan buku baru lebih kuat dari ketakutan ditipu, untuk itu sebulan yang lalu saya mengorder dua buku engineering dari Amazon. Lama menunggu, saya pikir udah hilang deh itu duit. Eh, ternyata sore ini kiriman buku dari Amazon dapat dikirim sampai rumah oleh PT. Pos Indonesia (Persero), tidak kurang sesuatu apapun.

Menurutku ini merupakan suatu peningkatan dari PT. Pos Indonesia, tentang hal ini aku jadi ingat, dulu sebelum krisis aku pernah mengorder buku dari AISC, buku baja pada waktu itu. Eh, ternyata buku tersebut waktu itu tidak dikirim ke rumah, tetapi disuruh ambil di kantor Pos pusat, di Pasar Baru, Jakarta Pusat dan perlu menebus dengan biaya tertentu. Saya pikir sekarang juga demikian, ternyata kiriman dari Amazon dapat sampai kerumah secara mulus, tanpa prosedur tetek bengek yang nggak perlu. Itu khan berarti service-nya lebih baik dibanding dulu. Yah, syukurlah moga-moga demikian selanjutnya.

Mau tahu bagaimana Amazon mengiri buku tersebut ke rumah dan apa buku yang aku pesan. Lihatlah foto-fotonya berikut.

Gambar 1. Karung plastik sebagai pembungkus utama buku kiriman dari Amazon

Nggak ngira ya kalau isinya itu buku. Tetapi menurutku cara ini praktis, khususnya terlihat besar, mudah diangkat khususnya selama dalam perjalanan dari USA ke Indonesia. Coba kalau bungkusnya terlalu ketat, seukuran buku, maka ketika diangkut-angkut, berpindah-pindah dari satu moda pengiriman ke pengiriman yang lain bisa-bisa tercecer. Ukuran buku khan relatif kecil, jadi bisa saja nyangkut ke kantong kiriman yang lain.

Gambar 2. Inilah paket buku dari Amazon

Kantong di atas terlihat terbongkar, mungkin itu pembukaan pada waktu pengecheckan bea cukai. Tetapi yang jelas kiriman buku dari Amazon yang aku terima dalam kondisi baik, tidak rusak. Jadi lain waktu kalau ada buku yang baik, maka berani lagi pesen order.

Adapun buku yang aku pesan khusus dari Amazon adalah buku berikut. Perpustakaan anda sudah punya atau belum, ini buku yang aku maksud.

Gambar 3. Buku asli kiriman dari Amazon

Itulah buku karangannya Bazant (kiri) dan Ziemian (kanan). Bagi teman-teman yang menggeluti struktur beton maka buku-buku tersebut mungkin tidak banyak dikenal, tetapi bagi yang senang menggeluti struktur baja maka keberadaan buku-buku tersebut sangat membantu. Maklum belum ada buku berbahasa Indonesia yang mempunyai bobot sama atau bahkan mendekati kedua buku tersebut. Ingat, belum ada. Bahkan yang berbahasa Inggris-pun rasa-rasanya sulit untuk menyamai keduanya, yang kiri itu setebal 1011 halaman, sedangkan yang kanan itu sekitar 1078 halaman juga. Jadi berbobot betul.

Dari kedua buku yang berbobot itulah maka aku akan belajar. Selamat malam.

About these ads

24 thoughts on “kepada siapa kita bisa belajar ?

  1. saya pernah baca2 sekilas buku Bazant&Cedolin (edisi lama), rasanya agak2 susah dipahami deh.. hehe mungkin lebih tepat saya nya yg harus belajar lebih serius lagi. :D waktu kuliah stabilitas dulu saya lebih suka bukunya Chen&Liu : Structural stability theory and implementation, lebih sederhana. kl buku Bazant&Cedolin mungkin cocoknya utk yg advanced seperti pak wir ini.. hehe

    buku Guide to Stability Design Criteria for Metal Structures udah edisi 6 ya? wah, perkembangan ttg stabilitas pasti sudah jauh, sayangnya kurikulum di kampus mentok di stabilitas balok-kolom doang, paling tambahannya portal dan cuma 1 semester. :( pantas saja ketika belajar detailing baja jd terasa berat, lah dasarnya banyak dari stabilitas.. :(

    oh iya, saya jd ingat dulu waktu di kantor pernah baca buku Chen&Atsuta : Theory of Beam-Columns vol.1 dan 2, 2 buku tebal khusus membahas balok-kolom! :D dan saya gak bisa memahami penjelasan detil nya.. hehehe maklum, saat itu mentalnya masih engineer banget : ikuti code aja.. hehehe

    regards,
    Rp

    • Wah bagus itu pak Robby, masih muda sudah membaca buku-buku advance. Yakin deh, nanti “buah-buahnya” akan semakin berbobot. Amin.

      Bukunya Bazant & Cedolin memang lebih banyak illustrasi matematikanya, tetapi dipenjelesannya bagus lho. Buku tersebut memuat latar belakang mengapa suatu rumus diberikan, jadi semacam sejarah bagaimana suatu formulasi digunakan. Jelaslah dibuku-buku teks hal itu jarang ditemui. Tapi memang betul sih, itu buku optional, yaitu jika yang dasar-dasar sudah menguasai maka membaca buku tersebut jadi tahu maksudnya. Jadi jika bukunya Bazant & Cedoling dijadikan langkah awal mempelajari stabilitas maka bisa-bisa yang mau belajar jadi “takut”. :)

      Bukunya Ziemian rasanya cocok untuk para engineer, terlihat lebih praktis untuk diaplikasikan. Buku tersebut memberikan latar belakang juga dari teori-teori yang biasa ada di code. Untuk kantor konsultan rekayasa bidang struktur baja maka buku ini rasanya mutlak ada, tentunya jika ingin kompetensinya lebih dari sekadar tukang. Buku tersebut rasanya dapat mendukung usaha-usaha yang memerlukan kreatifitas dan inovasi yang ada.

    • @Fahrizi
      Suatu pendapat yang penuh optimisme, dan umumnya ini disitir oleh para penguasa atau pemimpin suatu negeri sehingga menina bobokan suatu bangsa. Ini juga yang terjadi pada diri kita, sebagian besar. Sangat cocok dikombinasikan dengan rasa patriotisme.

      Catatan : argumentasi di atas adalah didasarkan pada pemikiran bahwa suatu negara yang maju (kaya) maka penduduknya harus pandai. Nah untuk pandai, kalau langkah pertama dan kedua diterapkan, itu khan yang dilakukan sekolah-sekolah yang baik, yaitu mengumpulkan orang pandai untuk mengajarkan kepandaiannya kepada orang-orang muda penerus bangsa. Itu khan butuh biaya atau modal yang tidak sedikit, apalagi kalau sampai mengirimkan orang ke luar negeri untuk sekolah, atau beli buku dari luar negeri yang mahal. Jadi daripada duit keluar untuk itu (rakyat) maka pemimpin-pemimpin tadi lebih baik menerapkan strategi ke tiga. Kita bisa pandai koq dengan belajar dari alam, dan bla-bla-bla. Modal orasi yang menggugah saja. Duitnya bisa untuk yang lain, mobil-mobil mewah kek dan sebagainya. Nah jadi jika komentarnya sdr Farizi itu diterima dengan keyakinan penuh oleh anak-anak muda kita, nah waktunyalah yang akan membuktikan.

      Pendapat sdr Fahrizi pada dasarnya adalah tidak salah, karena itu memang dapat dilakukan oleh orang yang telah mempunyai “dasar-dasar pengetahuan” dan telah mencapai suatu kondisi tertentu. Tepatnya itu adalah untuk tahap pengembangan.

      Tetapi jika langkah pertama dan ke dua tidak dilakukan, maka jelas pengembangan peningkatan kompetensi manusia terhadap ilmu pengetahuan tidak akan bisa mencapai suatu kondisi yang berdampak positip bagi bangsa tersebut.

      Lihatlah negara cina, bagaimana mereka menerapkan langkah pertama, yaitu bertemu orang-orang yang lebih pintar dengan cara mengirim anak-anak muda berprestasi untuk bersekolah di luar negeri. Indikasi banyaknya anak-anak muda china yang berhasil meraih Ph.D dari luar negeri merupakan suatu pengakuan bahwa kemampuan akademisnya akan diakui oleh orang pandai dari negeri seberang.

      Pada langkah ke dua, adalah pengadaan buku. Adanya buku-buku yang ditulis oleh orang-orang yang pandai, dalam hal ini bisa juga oleh lulusan-lulusan Ph.D tersebut akan menyebabkan pengetahuan yang baik tersebut tersebar. Tentang hal ini, ketika saya di Chendu dulu, dapat melihat bagaimana engineer-engineer China yang tidak dapat berbahasa Inggris dapat bekerja dengan baik karena tersedia buku steel handbook yang lengkap yang berbahasa China. Tentu ini yg membuat adalah orang pandai Cina yang telah menuntu ilmu baja di luar negeri tersebut, yang mengalih-bahasakan dari Inggris ke China dan akhirnya menyebarkan ilmu tersebut melalui publikasi.

      Coba kita simak dengan strategi yang dipakai bangsa ini. Tidak ada upaya massal untuk mengirim anak-anak muda Indonesia ke luar negeri. Kalaupun ada relatif kecil jumlahnya. Juga mereka ketika tidak pulang, orang-orang kita selalu berkeluh-kesah mengapa tidak pulang, tidak cinta negeri. Tetapi ketika ada yang pulang, suasana kerja baru yang harusnya diberikan kepada mereka tidak didukung. Kembali ke suana yang lama. Akhirnya apa. Gelar PhD yang mereka peroleh hanya diperuntukan untuk mengejar jabatan birokrasi. Baik di perguruan tinggi maupun pemerintahan. Seakan-akan ada hubungan langsung bahwa seorang mendapat gelar tertinggi akademisi pasti selaras atau mendukung untuk menjadi pejabat birokrasi. Jelas kondisi ini tidak bisa dipastikan, tetapi tugas utama untuk mengembangkan ilmu dan teknologi menjadi tidak berjalan dengan baik.

      Dalam jangka waktu dekat, pengabaian ke dua langkah awal untuk belajar tersebut memang tidak terasa. Tetapi setelah berpuluh-puluh tahun kemudian lihat saja, kondisi negara kita dengan negara-negara tetangga. Kita ini dikaruniai alam yang berlimpah dari mereka, tetapi mengapa kita sampai mengirim TKI, dan menemui masalah-masalah dan juga mengapa orang yang sejahtera di negeri ini hanya segelintir, Itulah yang terjadi.

      Tentang cerita adanya seorang yang pergi menyepi, di atas gunung dan kemudian katanya mendapatkan pencerahan dan menjadi orang bijak. Itu bisa saja terjadi, tetapi umumnya hanya terkait dengan hal-hal immateriil, seperti kasih, ketentraman dan sebagainya.

      Jadi intinya jangan terbuai dengan pesan yang diberikan sdr Fahrizi, untuk bisa belajar dan meningkatkan kompetensi maka kita harus bekerja keras dan juga modal. “Jer basuki mawa bea”. Itu pula yang mendasari mengapa saya mau mengeluarkan uang jutaan hanya untuk membeli ke dua buku tersebut. Itu adalah investasi untuk bisa belajar dengan lebih baik.

      O ya, Blog yang saya tulis ini adalah salah satu upaya untuk mengumpulkan sharing-sharing pada langkah no.1 dan juga menuliskannya agar bisa tersebar secara luas, yaitu langkah no.2. Jika kedua langkah tersebut dapat memberi bekal yang lebih baik, maka saya yakin langkah terakhir, yaitu ketika berinterakasi dengan alam maka panca-indera anda akan tergetar untuk menjadikannya ilmu pengetahuan baru. Semoga.

  2. Pak Wir
    Saya juga punya buku Bazant edisi ebook. Isinya memang luar biasa.Walaupun saya pada dasarnya belum terlalu memahaminya secara penuh :-(.
    Pun waktu baca artikel pak wir tentang Permanent Deflection, saya sempat utak-atik buku ini lho.

    • . . . waktu baca artikel pak wir tentang . . . , saya sempat utak-atik buku ini lho.

      Syukurlah, jadi tulisan-tulisan saya itu mampu menjadi “trigger” anda untuk belajar lebih dalam lagi. Semoga itu dapat juga berlaku bagi anak-anak muda Indonesia yang lain.

      Terus terang, saya adalah salah satu yang meyakini bahwa dengan merubah mindset seseorang maka masa depannya akan dapat berubah. Langkah itu khan cukup real jika salah satu harapannya adalah dapat merubah dunia. He, he, maklum itu bisa dilakukan tanpa modal, hanya cukup menulis hal-hal yang baik. Iya khan.

  3. Iya betul sekali pak, mindset seseorang tidak bisa dipaksa berubah dengan sengaja. tetapi, berubah dengan pencerahan yang diperolehnya sendiri (ini disebut hidayah). Salah satu caranya ya dengan membaca (entah itu buku, kitab suci, koran, artikel di internet, atau hanya berupa surat).
    Itu menurut saya pak …

    Oya jadi bagaimana tanggapan pak wir mengenai http://wiryanto.wordpress.com/2010/04/08/permanent-deflection-karena-terkena-hantaman-benda/ (setelah membaca buku Bazant).
    maaf kalau terkesan tidak sopan …

  4. cm mo share website download buku civil engineering gratis:

    http://www.avaxhome.ws

    Pilih kategori ebook n elearning, di bagian architecture banyak tersedia buku civil engineering internasional.

    Semoga bermanfaat.

  5. Pak wir, Mohon maaf kalo yang saya sampaikan melenceng dari topik yang sedang di bicarakan.
    Saya sedang menangani sebuah proyek jembatan, dimana terjadi kesalahan pengecoran mutu beton Klas B dikerjakan dengan Klass C.
    Beberapa desainer kami menyatakan secara hitungan desain masih cukup kuat dan stabil.
    akan tetapi ada salah seorang desainer yang menambahkan perlunya dilakukan coating menggunakan material e-glass dan beton tahan api untuk membuat umur structure lebih lama.
    yang ingin kami tanyakan adalah : seperti apakah material yang dapat memperpanjang umur beton tersebut?adakah material selain e-glas?mengingat harganya yg cukup mahal?
    Dan seperti apakah penanganan secara desain yang seharusnya?(bila tanpa Coating e-glas?
    Terimakasih atas waktu dan Blognya yang bisa menampung uneg-uneg kami untuk masalah dunia kunstruksi.

    • Sdr Faisal,
      Dalam perencanaan struktur beton maka ada beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan, umumnya adalah pertimbangan kekuatan, kekakuan dan daktiiltas.

      Perencanaan berdasar ultimate strength design adalah mengeksplorasi masalah kekuatan struktur dan pola keruntuhan yang daktail. Kata kuncinya adalah tulangan dalam kondisi under-reinforced. Kemungkin desainer yang menyatakan secara desain masih cukup kuat dan stabil adalah mengevaluasi berdasarkan hal ini. Suatu penampang under-reinforced yang mensyaratkan keruntuhan terjadi pada tulangannya menyebabkan kekuatan beton tidak terlalu signifikan menyumbang kekuatan ultimate penampang.

      Tetapi mutu beton yang lebih rendah menyebabkan modulus elastisitas beton berkurang, hal ini akan menyebabkan kekakuan penampang terpengaruh. Lendutan yang terjadi bisa lebih tinggi. Tetapi tentu perlu juga di check apakah memang demikian halnya. Biasanya karena penampang beton cukup besar ini tidak terlalu signifikan, maklum lendutan pada konstruksi beton menghitungkan juga tidak sederhana, jadi umumnya diabaikan karena telah dipilih ukuran yang sesuai code saja. O ya, ini dilakukan dalam evaluasi persyaratan layan.

      Itu tadi ditinjau dari sisi kekuatan dan semacamnya. Ada juga struktur beton ditinjau dari sisi durabilitas, ketahanannya terhadap lingkungan yang memang menuntut hal tersebut. Apakah ini memang dipersyaratkan di spesifikasi. Memang sih beton dengan mutu yang lebih tinggi mempunyai tingkat durabilitas yang lebih baik. Maklum beton yang lebih tinggi umumnya mempunyai tingkat kepadatan yang lebih baik. Hanya saja jika memang dimaksudkan untuk mendapatkan durabilitas yang lebih baik misalnya dari lingkugan alkali maka langkah yang lebih pasti adalah adanya ketentuan semen yang digunakan, atau adanya addiitive dan semacamnya. Tentang hal ini ada baiknya konsultasi dengan ahli teknologi beton.

      O ya, dalam lingkungan standar dan keretakan beton yang terjaga (pada kondisi ultimate beton tarik pasti mengalami retak) maka rasa-rasanya umur beton tak terbatas (maksudnya tidak dibatasi). Jadi langkah pertama adalah perlu diselidiki terlebih dahulu apakah ingkungan tempat dibangunnya konstruksi tersebut memang dikategorikan berbahaya atau tidak.

  6. Waah… mauu bukunya.. :D
    Setuju dengan tulisan di atas, pak Wir. Saya juga akhir-akhir ini lebih sering buka-buka buku lagi.. :)
    Ada juga cara lain sebagai trigger buat belajar… yaitu.. nulis di blog. :)
    Walopun blognya sederhana, tapi kadang ada yang bertanya atau berkomentar yang “merangsang” kita untuk membalas komentar tersebut… di saat itulah kami jadi semangat buat “belajar” lagi.. :D

  7. Ping balik: kepada siapa kita bisa belajar ? | Sufa Parquet Wood Flooring - Parquet Lantai Kayu Terbaik

  8. Ping balik: kepada siapa kita bisa belajar ? | kepada siapa kita bisa belajar ? - kepada siapa kita bisa belajar ? - kepada siapa kita bisa belajar ? = kepada siapa kita bisa belajar ?

  9. Ping balik: kepada siapa kita bisa belajar ? | Wood Flooring - Parquet Lantai Kayu Terbaik

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s