check lendutan pada balok beton bertulang


Lama juga saya tidak memegang dashbord WordPress dan menulis artikel, maklum dalam beberapa minggu terakhir ini banyak kegiatan menulis paper yang menyita waktu, misalnya untuk Seminar Internasional EACEF-3 di Yogyakarta (20-23 Sept 2011), juga Seminar Nasional Konteks-5 di Medan (14-15 Okt 2011).

Bisa berpartisipasi aktif dalam temu ilmiah itu asyik lho. Maklum selain bisa menambah wawasan pengetahuan, juga ada kesempatan jalan-jalan gratis atas biaya institusi. Itu khan tugas mulia yang membawa nama institusi, yang bisa meningkatkan kum untuk akreditasi. Yah, begitulah tugas sehari-hari dosen, mengajar, meneliti, menulis dan presentasi (serta jalan-jalan).

Tulisan saya terakhir adalah tentang acara seminar HAKI. Itu diadakan sebelum puasa, disana tempo hari saya bertemu dengan mas Purbo dari Yogyakarta, yang juga tertarik dan mendalami program SAP2000. Beberapa hari kemudian, setelah dari seminar tersebut saya mendapat kiriman buku beliau (et. al.) yang pertama tentang SAP2000. Sampul bukunya lumayan, isinya juga bagus. Nah bagi teman-teman yang tertarik belajar dan ingin menguasai program SAP2000 maka buku itu perlu dikoleksi. Jika anda belum mendapatkan secara jelas informasinya, silahkan kunjungi website beliau di sini.

Trims ya mas Purbo atas kiriman bukunya.

Selanjutnya dari berbagai komentar yang masuk pada blog ini, saya akan mencoba menjawab. Maklum, tidak setiap komentar yang masuk pada blog ini dapat dijawab dengan baik. Jadi seperti yang biasa disarankan pada murid-murid saya, bahwa untuk menjawab soal ujian mulailah dari soal atau pertanyaaan yang paling mudah. Dengan cara yang sama maka saya pilih pertanyaan tersebut seperti ini misalnya :

Submitted on 2011/09/01 at 22:51

Pak Wir, berhubung pembahasan blog ini mengenai beton bertulang, saya jadi ingin tahu nih, kenapa para desainer dalam merancang dimensi balok beton bertulang itu tidak pernah melakukan perhitungan Lendutan ? Kebanyakan para desainer langsung menggunakan Feeling/pengalaman dalam menentukan dimensi ( B dan H ), padahal kan lendutan merupakan hal penting juga, apalagi sejak diberlakukannya metode kekuatan batas ini.

Thanx

Suatu pertanyaan yang menarik. Mengapa, karena yakin yang bertanya di atas sebenarnya telah sedikit banyak mengetahui tentang perencanaan struktur beton. Lihat saja komentarnya “apalagi sejak diberlakukannya metode kekuatan batas“.

Pernyataan yang terakhir tersebut, tentu disampaikan dengan pemahaman bahwa perencanaan berdasarkan kekuatan batas adalah berfokus pada kekuatannya saja dan tidak atau belum memikirkan pengaruh kekakuan penampang baloknya.

Maklum pada kondisi batas, yang paling penting adalah mengetahui kekuatan ultimate yang dapat dihasilkan suatu penampang beton dan perilaku keruntuhannya apakah daktail (under-reinforced section) atau non daktail (over-reinforced section).

Dalam memprediksi kekuatan batas (ultimate) pada penampang dengan keruntuhan daktail, yaitu leleh atau keruntuhan pada tulangan, maka bagian beton yang mengalami tarik akan mengalami retak (crack) sehingga diabaikan pengaruhnya dalam perhitungan. Kondisi tersebut tentu menyebabkan seakan-akan penampang beton menjadi berkurang, atau dengan kata lain momen inersianya akan berkurang dibanding penampang beton yang utuh. Momen inersia penampang beton adalah hal yang penting yang akan mempengaruhi lendutan. Nah dengan cara pikir tersebut, maka teman kita di atas mengajukan pertanyaannya tersebut.

Jadi dengan kata lain, yang bertanya itu tahu tentang teori beton ultimate. Good.

Mari kita jawab.

Suatu perencanaan struktur yang baik adalah dapat mempertimbangkan semua persyaratan perencanaan yang utama, yaitu dari segi kekuatan, kekakuan dan daktilitas. Ke tiga hal tesebut harus dipertimbangkan dengan baik, dan harus dipenuhi. Jika sudah, baru dipikirkan persyaratan yang lain, yang kadang-kadang dapat menentukan untuk dapat dilaksanakan atau tidak. Seperti misalnya segi biaya, dapat dikerjakan dan sebagainya. Meskipun dari segi mekanik tidak terlalu utama, tetapi kalau ternyata mahal sekali khan pasti jadi ragu untuk mewujudkannya.  Yah begitulah yang namanya perencanaan, mendapatkan sisi harmonis dari semua persyaratan yang ada, tetapi jelas dari kaca mata teknik sipil, khususnya teknik struktur maka ketiga persyaratan di atas adalah yang paling utama.

Perencanaan struktur beton dengan cara batas atau ultimate, itu baru menjangkau dari segi kekuatan dan sebagian daktilitas, sebagian yang lain ditentukan oleh persyaratan pendetailan tulangan.  Jadi meskipun pada cara perencanaan tersebut (cara batas) dapat terpenuhi tetapi dari segi kekakuan belum terantisipasi. Jadi betul sekali pernyataaan ”apalagi sejak diberlakukannya metode kekuatan batas“. Perlu evaluasi secara khusus tentang lendutan beton.

Tentang evaluasi lendutan yang diragukan, seperti adanya komentar berikut:

Kebanyakan para desainer langsung menggunakan Feeling/pengalaman dalam menentukan dimensi ( B dan H )

Sebenarnya secara tidak langsung sudah terjawab, yaitu penggunaan feeling dan pengalaman dalam menentukan B dan H. Feeling mungkin subyektif sifatnya, tetapi kalau betul itu ada pengalaman maka jelas cukup efektif.  Maklum teori penampang yang digunakan pada perencanaan struktur beton bertulang belum dapat menjawab secara tuntas semua aspek perencanaan beton. Lihat saja, mengapa pada balok, separo tulangan lapangan (minimum) harus diteruskan sampai ketumpuan . Padahal untuk balok tumpuan sederhana, momen pada tumpuan khan jelas nol (tidak ada), mengapa tulangan pada lapangan yang dihitung berdasarkan momen yang terjadi harus diteruskan separo ke tumpuan. Itu contoh, bagaiman teori tersebut tidak secara tuntas menjelaskannya.

Perlunya tulangan di tumpuan tersebut mula-mula diperoleh berdasarkan syarat pada peraturan, yang didasarkan pada pengalaman atau feeling pakar / penelti top yang pada akhirnya disepakati untuk dijadikan peraturan. Sebelum adanya teori rasional seperti strut-and-tie-model maka hal itu tidak dapat djelaskan dengan baik.

Demikian juga dengan lendutan. Adanya teori kekuatan batas yang mengakomodasi terjadinya retak pada beton tarik menyebabkan lendutan struktur beton yang dianalisa dengan cara elastis linier berdasarkan penampang utuh menjadi tidak valid lagi. Kalaupun selanjutnya ada ide untuk menerapkan penampang tereduksi akibat retak tersebut juga susah, maklum, retak yang terjadi tergantung dari besarnya momen yang dihasilkan. Padahal besarnya momen tergantung dari kekakuan yang kita berikan pada model struktur tersebut. Ini khan serba salah. Intinya adalah mengetahui atau menghitung lendutan beton pada struktur beton yang umumnya struktur statis-tak-tentu (statically indeterminate structures) adalah kompleks.

Jadi perhitungan lendutan pada struktur beton secara tepat adalah lebih susah dibanding perhitungan struktur baja. Bagi engineer, kompleks atau tidaknya tidak boleh menyebabkan masalah lendutan diabaikan. Tetap harus diperhitungkan.

Tetapi seperti masalah-masalah engineer pada umumnya, bahwa berdasarkan pengamatan akan struktur-struktur yang sukses dibangun, dapat diketahui bahwa untuk suatu ukuran atau dimensi tertentu, suatu struktur dapat memperlihatkan kinerja yang cukup baik tanpa perlu suatu perhitungan yang rumit. Seperti pemahaman bahwa untuk saluran dengan lebar 0.5 – 1.0 m maka pada umumnya tidak menjadi masalah untuk dilompati oleh orang dewasa, jika lebih dari itu maka hanya orang-orang tertentu yang bisa. Demikian juga dengan struktur balok beton, untulk panjang beton tertentu (L) maka jika digunakan ukuran B dan H tertentu maka umumnya untuk suatu pembebanan yang wajar juga akan aman. Ini khan masalah feeling dan pengalaman bukan.

Bagi orang-orang yang sudah berpengalaman maka hal itu mereka yakini betul, dan memang betul, tanpa perhitungan yang njlimet juga ternyata hasilnya baik. Bagi yang belum pernah memakai memang menjadi diragukan. Koq bisa ya, bagaimana penjelasannya. Padahal hanya pakai feeling dan pengalaman lho.

Nah, disinilah peran code atau peraturan perencanaan. Jadi agar sukses maka selain mengetahui cara rasional perencanaan maka isi code juga harus dipahami.

Ini adalah petunjuk pada code (ACI 318N-05) yang berkaitan dengan lendutan pada balok.

Sangat sederhana bukan. Jadi adanya petunjuk tersebut maka dimensi balok dapat dipilih sedemikian rupa, sehingga selanjutnya tidak perlu dilakukan suatu hitungan khusus terkait dengan lendutan. Ini mungkin yang dilihat oleh penanya di atas, mengapa tidak ada hitungannya.

O ya, meskipun sudah ada petunjuk khusus tetapi berdasarkan pengalaman itu hanya berlaku untuk suatu bentangan tertentu. Jadi jangan dibayangkan dapat digunakan untuk balok beton bertulang biasa untuk bentang sampai 30 m. Yah, saya kelihatannya nggak pernah melihat hal itu, karena untuk balok beton bertulang lebih dari 15 m, maka penggunaan balok beton prategang rasanya perlu menjadi alternatif.

Moga-moga ini membantu memahami, mengapa kejadian yang disampaikan oleh penanya di atas dapat terjadi. Semoga berguna.

29 Komentar

Filed under beton, Civil Engineer, engineering, informasi

29 Respon untuk check lendutan pada balok beton bertulang

  1. Tinn

    Sebelumnya saya berterima kasih sekali atas tanggapan Pak wiryanto.

    Setelah membaca Code yang bapak Lampirkan diatas, saya jadi mengerti dan lebih percaya diri . Awalnya saya kurang percaya dengan Code yang mengatakan bahwa ” Tidak perlu dilakukan perhitungan lendutan jika Table Minimum thickness tersebut di penuhi ” Karena hitungan H ( tinggi balok ) tersebut jika dibandingkan dengan desainer yg sudah berpengalaman, hasilnya sangat berbeda jauh sekali.

    Setelah membaca penjelasan bapak wawasan saya jadi agak bertambah. hehe…

    Terima kasih Pak Wiryanto..

  2. Terima kasih juga pak Wir atas link-nya (koreksi dikit spelling-nya “Purbo” pak, sedikit tambahan juga bahwa buku tsb disusunnya ‘keroyokan’ ber-3 hehehe), kami nunggu juga lho buku SAP bapak yang edisi terbaru, semoga bisa segera terbit juga pak :) Mudah2an nanti bisa ketemu lagi pas seminar EACEF di UAJY, saya lihat topik paper bapak nanti mengenai pengaruh P-delta ya pak.

    Sekalian comment tulisan bapak, di SNI kita juga ada tabel serupa untuk tebal pelat/tinggi balok minimum kan ya pak. Tentang masalah lendutan untuk beton selain dimensi perlu juga diperhatikan kualitas betonnya (terutama kualitas pengerjaannya). Ada contoh kasus bangunan belum lama jadi tapi belum beban penuh/fungsional kok tahu2 sudah ada retak di balok, setelah dicek eh ternyata gara2 mutu betonnya yang ndak sesuai alias jauh dari spek (berdasar hasil uji core case), padahal pelaksananya cukup punya nama… Ada juga kasus lain bangunan keburu diresmikan akhirnya bekisting dibongkar prematur sebelum umurnya, akibatnya baloknya sampai melendut berlebihan (kelihatan melengkung sekali), dan tentu saja jadi retak, walau untung ndak sampai kolaps.

  3. Rahwana

    Pak Wir, tolong perbanyak artikel tentang struktur dong.. <:-) perasaan udah lama pak wir tidak bahas permasalahan struktur, lebih banyak sharing pengalaman pribadi yg tidak berhubungan dengan sipil deh.. he2.. bukannya gak suka sih pak.. tapi lebih jos kalo bahas masalah2 sipil deh.. :-) padahal banyak banget pemahaman2 dasar yang sebenarnya dapat dipahami dengan mudah, tapi karena entah penyampaiannya yang tidak baik atau kalimatnya yang tidak pas, jadi kesannya sulit dimengerti.. ini yang penting untuk dibahas… :-)

    oya pak, untuk design baseplate kolom baja kok tidak ada di SNI baja ya? padahal untuk design2 bagian lainnya ada. kenapa ya pak? apakah memang disengaja? padahal kan baseplate juga termasuk bagian struktur yang penting. kenapa bisa sampai gak dibahas di sni kita ya..
    btw, dimana saya bisa dapat code untuk design base plate dan sambungan2 baja yang lengkap ya pak? termasuk untuk rumus perhitungan tebal rib plate ataupun haunch.

    belum lagi kalau desain2 SRPMK untuk sambungan struktur baja, kayaknya saya yang lulusan teknik sipil kok asing dengan hal tersebut ya… <:-) bisa dibahas pak tentang masalah ini?

    Terima kasih Pak Wir…

  4. wir

    he2.. bukannya gak suka sih pak.. tapi lebih jos kalo bahas masalah2 sipil deh..

    Ya Rahwana, saya bisa memahami anda. Ibarat seorang yang masih berdiri di bawah, maka yang nampak indah hanya lingkungan terdekatnya (bidang teknik sipil), maklum pandangannya terbatas. Tetapi semakin tinggi berdirinya, seperti di menara maka pada posisi tersebut akan dapat melihat bahwa di luar nun jauh di sana (bidang-bidang di luar teknik) ternyata banyak juga hal-hal yang menarik.

    Tentang topik tulisan apa yang akan saya tulis, saya kira tidak perlu saya batasi pada bidang-bidang tertentu saja seperti (teknik sipil), tetapi apa-apa yang dapat menjadi ketertarikan atau ketergugahan saya. Yah, apa sajalah, yang penting dalam tulisan tersebut sebagaimana tulisan saya di bidang teknik, adalah yang terbaik yang ada dalam pemikiran dan keyakinan saya saat itu. Dan seperti halnya tulisan ilmiah pada umumnya, pendapat atau keyakinan pada tulisan tersebut bukanlah suatu kebenaran mutlak, sampai ada bukti lain yang mendukung bahwa tidak seperti itu adanya.

    Bagi seorang penulis, pasti akan sadar bahwa tulisannya pastilah tidak akan memuaskan semua pihak karena memang tujuannya adalah bukan untuk itu, tetapi untuk mengungkapkan pikiran yang ada di benaknya. Jika sepemikiran, yah syukurlah, jika tidak, minimal itu (pemikiran tersebut) dapat diungkapkan.

    Nasehat: jadi kalau ada threat yang nggak cocok, abaikan saja. :)

  5. Tambahan pengetahuan terimakasih informasinya

  6. Rahwana

    ahaha…, bukan begitu, pak wir… <:-) tentunya saya juga menyenangi hal2 di luar sipil… (bahkan kalau mau jujur, minat saya untuk sipil lebih rendah daripada minat saya ke bidang lain.he2.. tapi karena sudah terjun di dunia sipil ya mau gak mau saya harus mendalaminya.. :-) ). kalo untuk hal2 di luar sipil saya bisa mendapatkannya di blog lain juga, bukan? :-) jadi ketika saya mengatakan blog bapak akan lebih jos jika membahas masalah sipil bukan berarti saya tidak menyenangi hal2 di luar sipil.. jangan berburuk sangka dulu.. :-) saya mengatakan seperti itu karena saya yakin banyak penyimak blog bapak yang lebih menginginkan tulisan bertema sipil daripada bertema lainnya… itu karena bapak memang terkenal akan ilmu sipilnya, bukan ilmu lainnya… bukan berarti juga tulisan bapak untuk tema non-sipil tidak bagus (saya tidak mengatakannya), tapi ya itu, banyak orang yang mengunjungi blog bapak karena haus akan pengetahuan sipil, bukan pengetahuan lainnya.. :-) terima kasih, Pak Wir..

    • robert

      saya suka baca artikel sipil pak Wir, juga suka baca pandangan kehidupan nya. namanya disajikan kalau ngak enak ngak dimakan, untuk mengatakan ngak enak ya mungkin bisa sekedar info.

      Mr. wir is not robot he will write civil n life as he wishes, its his choice and we can choose not to read, there are so many others nice engineering blog in the net, maybe better than mr. Wir’s if we want to read about civil all the times, sometime the lesson of life of great engineer is what we r really after in order to be a great engineer.

      hehehe thanks for your nice writing Mr. Wir, greatly appreciated your time to present us with all the nice writings, don’t forget to still share your view of life.

      • wir

        Terima kasih Robert atas apresiasinya.

        Tentang tulisan yang dianggap terbaikpun kadang tidak bisa diterima oleh setiap orang, lihat saja apa yang ingin Tuhan tulis di kitab suci. Apakah itu dapat diterima semua orang, khan hanya yang menerimanya saja bahwa tulisan tersebut merupakan firman Tuhan. Bagi yang lain, bisa saja itu dianggap tulisan biasa bahkan harus dihindari.

        Semoga semua perbuatan yang kita telah dan akan lakukan, dapat membawa damai dan sejahtera bagi sesama kita.

  7. vincenth

    Pak wir, sy mau bertanya tetapi ini tdk ada kaitannya dg artikel di atas. Apa yg di maksud dgn “incremental dynamic analysis”? Apa bedanya dgn pushover analisis?

    Mengenai buku sap karangan bapak, apakah emang skg sudah tdk diterbitkan lagi ya?? Sy sdh mengecek, tpi di smua toko buku di surabaya tdk tersedia…klo bsa diterbikan lgi dong, soalnya mnurut sy isinya sangat bagus untuk di jadikan pegangan mengenai sap, selain itu tdak ada buku berbahasa indonesia yg membahas mengenasi sap selengkap itu…tentunya itu sangat membantu kami yg berkecimpung di dunia teknik sipil.

    makasih Pak wir…

  8. herykus

    iya ..bener pak wir…disurabaya susah cari buku sap nya pak wir….

  9. Arie Febry Fardheny

    Menurut Pendapat Saya Masalah lendutan ini di teori memang kesannya tidak dihitung jika merujuk pada SNI Tabel 8 yang menjelaskan profil yang didesain tanpa lendutan yang perlu dihitung, namun ada tabel rujukan Lendutan Maks di Tabel 9 sebagai lanjutannya. dalam pembuatan desain (nota desain) konstruksi, lendutan juga salah satu item yang harus ditampilkan dalam catatan desain engineer.

    • wir

      Kalau hanya sekedar ada hasil hitungan lendutan, maka dengan digunakannya program komputer untuk analisa struktur maka tentu akan diperoleh hasil lendutan strukturnya. Tetapi apakah hasilnya tersebut adalah benar-benar representatif kondisi nyata, maka tentu perlu dipertanyakan. Kenapa ?

      Pertama, jelas untuk perhitungan lendutan, maka pemberian faktor beban harus diabaikan. Beban-beban yang diberikan adalah beban kerja (tanpa beban faktor).

      Kedua, meskipun hal di atas sudah diberikan, tetapi parameter EI yang diberikan perlu dievaluasi. Parameter E, yaitu modulus elastis beton sangat tergantung dari mutu bahan. Untuk mendapatkan E yang tepat adalah tidak mudah. Pada peraturan itu diantisipasi memakai cara pendekatan, yaitu fungsi berat beton dan juga fc. Padahal tiap batch beton bisa saja fc-nya bervariasi. Selain itu, I diperoleh dari penampang beton. Pada suatu kondisi momen tertentu, penampang tersebut sudah mengalami retak, sehingga tentu nilai yang diberikan bervariasi tergantung konfigurasi struktur dan beban di atasnya. Apalagi jika itu struktur statis tak tentu, ingat beton itu monolith dan umumnya adalah struktur jenis itu. Jadi mendapatkan parameter E dan I yang tepat saja adalah tidak mudah. Catatan : resiko retak atau reduksi inersia diatasi dengan penampang yang tulangan tariknya antara 0.3 – 0.5 rho balance (nilai ini judgement pribadi, meskipun belum dilakukan peneltian yang mendalam, mungkin ada pendapat senior yang lain).

      Ketiga, kalaupun dua parameter pertama dapat diantisipasi, maka perlu juga diperhatikan, bahwa material beton adalah material yang dipengaruhi oleh waktu, yaitu creep atau rayap. Itu tergantung pada beban tetap yang bekerja. Catatan : resiko lendutan creep dapat dikurangi dengan memberikan tulangan ganda (tulangan tekan).

      Ke tiga parameter di atas sangat menentukan besarnya lendutan yang dihasilkan. Jadi kalau ngotot akan dihitung lendutannya tentu faktor ketidak pastiannya cukup besar, lebih besar dibanding struktur baja. Itulah mengapa code menetapkan langkah pertama perencanaan beton adalah menetapkan atau membatasi dimenasi beton bertulang sesuai persyaratan pada tabel di atas, karena itu ditepati maka masalah lendutan resikonya menjadi berkurang.

      Jadi kalau hanya sekedar hitungan, tanpa memperhitungkan ke tiga parameter di atas, maka itu namanya hanya hitung-hitungan saja. Sekedar ada di laporan. Setahu saya, sebagian besar perencana struktur bangunan bertingkat mengadopsi perilaku yang diamati sdr Tinn di atas karena tahu untuk hitungan yang benar adalah tidak gampang. Sedangkan untuk struktur jembatan, karena memenuhi persyaratan dimensi tidak mudah, yang beresiko tinggi balok yang terlalu tinggi maka untuk bentang tertentu dipilih struktur beton prategang. Nah, ini struktur yang aman terhadap lendutan.

      O ya, program ADAPT kalau tidak salah sudah mempunyai opsi untuk perhitungan lendutan secara baik. Mungkin ada yang pengalaman dengan hal ini ?

  10. iffansyah

    pak wir mohon info :
    kalo mau melakukan peninggian dermaga / penambahan struktur baru diatas dermaga lama bagaimana caranya ? apa saja yang perlu dievaluasi dan bagaimana cara mengevaluasinya ?
    terima kasih sebelumnya pak,,,,

  11. senopati

    selamat siang pak wir..say sangat kagum dengan ulasan bapak, walau saya mahasiswa arsitektur namun dengan postingan bapak saya jadi lebih banyak ilmu dibidang konstruksi, namun mungkin karena awamnya saya terhadap hitungan sipil jadi mungkin saya ada beberpa pertanyaan yang ingin saya ajukan, terlebih terhadap baja karena saya ada studi kasus desain port mal dengan menggunakan baja
    1. bagaimana menentukan ukuran atau jenis baja yang digunakan untuk jark bentangan tertentu seperti 8 atau 10m, karena kalau untuk perhitungan besar kolom dengan beton saya bisa menghitungnya, namun untuk baja saya belum tahu?
    2. berpa bentang maksimal baja bila akan digunakan sebagai balok lantai dengan beban bergerak manusia?
    3. kalau untuk kantilever baja, berapa jarak maksimalnya?karena saya lihat di project statoil bulding, bentangannya bisa sampai 20meter dengan core bangunan sebagai tumpuan(kalau tidak salah hehehe), kalau sudah begitu teknik apa yang digunakan agar dengan jarak sejauh itu bisa diaplikasikan..
    4. bisakah balo prategang digabungkan dengan balok baja

    mungkin smetara hanya itu pertanyaan saya pak, terima kasih atas perhatiannya

  12. senopati

    ohya pak satu lagi, bangimana menentukan ukuran space frame untuk atap dengan bentang lebar?adakah perhitungan secara sederhana atau memang sudah ada secara fabrikasi utnuk jarak bentangan tertentu? sekali lagi sya ucapkan terima kasih pak atas ilmunya selama ini hehehe..sebnarnya masih banyak yang ingin saya tanyakan, tapi belum ketemu email bapak hehehe..

  13. Hermawan HS

    Pak Wir, bisakah bila tabel ACI tersebut diatas di terjemahkan dalam bahasa indonesia berserta dengan keterangan yang lengkap mengenai yang di maksud dalam code2 yang ada di tabel tersebut jadi kita lebih paham terhadap kondisi2 yang ada pada tabel sehingga di saat kita mendesain tidak sampai terjadi kesalahan, penentuan dimensi balok.

  14. Ping-balik: HUT ke-2 ! « The Web Logs of Purbo

  15. Pak, sy mau tanya tentang stiffner untuk wf 150×75 bentang 9,5m, saya hitung stiffner mampu menahan lendutan=0 pada jarak 40 cm. Nah yang hendak saya tanyakan, apakah nanti pada prakteknya, lendutan titik tempat stiffner dipasang apakah benar2 0?, saya khawatir wf akan runtuh. ( ini perbaikan pak karena adanya kesalahan perencanaan dahulunya. ), trimakasih sebelumnya untuk balasannya.

  16. Sy memakai fasilitas excel “goal seek” pada nilai L untuk mencari lendutan =0 pada rumus lendutan, dengan Iy adalah Inersia gabungan dari WF+stiffner sehingga ditemukan L=40cm. stiffner yg sy gunakan adalah stiffner vertikal.kl begitu sebaiknya menggunakan apa pak untuk menyelesaikan masalah WF yang sudah terpasang & melendut? terimakasih.

    • wir

      Lho koq Iy, apakah ini masang WF-nya pada sumbu lemah. Jika sumbu kuat khan tentu yang menentukan Ix.

      Tentang WF+stiffner, mungkin yang anda maksud WF+coverplate. Stiffner umumnya mengacup pada pelat yang dipasang pada badan untuk menahan tekuk lokal. Kalau cover plate dipasang pada sayap pada suatu panjang tertentu dengan maksud meningkat Inersia lentur.

      JIka stiffner yang anda maksud adalah cover plate, bisa saja terjadi tapi untuk mengantasipiasi lendutan maka perlu dilakukan jacking terlebih dahulu. Karena kalau tidak maka cover plate hanya akan mengantisipasi beban tambahan dan bukannya lendutan yang telah terjadi.

      Moga-moga membantu.

      • Terimakasih pak atas respon cepatnya, sehingga saya bisa mengkoreksi diri bahwa ternyata selama ini saya salah meletakkan nilai Inersia (X jadi Y -> 5ql^3/384EIy seharusnya 5ql^3/384EIx ) sehingga hasil desain saya cenderung berdimensi besar(over). Barangkali sempat bisakah bapak mengulas tentang beberapa stiffner diatas termasuk cara perhitungan dan cara jackingnya? sebab selama ini sy mencari literatur tentang hal tersebut tidak ada yg membahas secara detail. sekali lagi terimakasih.

      • maaf salah tulis harusnya 5ql^4/EIy dan 5ql^4/EIx

  17. wir

    @Pramono,
    Untuk memahami “mengapa perlu jacking” untuk memasang perkuatan pada struktur yang telah jadi adalah sebagai berikut :

    Bahwa suatu elemen struktur hanya akan bekerja setelah mengalami deformasi. Jadi bisa dikatakan bahwa tanpa ada deformasi yang terjadi maka tidak akan ada gaya. Deformasi ini tentu saja tidak perlu harus kasat mata. Jadi meskipun sepintas diam, tidak ada perubahan tetapi sebenarnya mengalami deformasi. Adapun deformasi itu macam-macam, tergantung sumber penyebabnya. JIka aksial, maka akan linier merata, jika momen lentur maka akan terjadi gradien (rotasi maupun tegangannya). Jadi sebenarnya antara deformasi dan tegangan itu adalah satu adanya, dihubungkan oleh besaran yang kita namakan modulus elastis, yaitu jika hubungan deformasi dan tegangan berada satu jalur yang sama jika dilakukan pengurangan beban. Jalur tersebut dapat berupa garis linier yang akhirnya disebut kondisi elastis-linier atau bisa juga elastis-non-linier jika tidak berupa garis lurus. Ingat rumus: tegangan adalah regangan kali modulus elastis.

    Berdasarkan konsep atau pemahaman diatas, maka untuk suatu struktur yang sudah berdiri, kemudian ketika diberi pembebanan mengalami lendutan yang signifikan, itu menunjukan bahwa struktur tersebut tidak kuat menahan beban tadi. Ketika ada usaha untuk memberikan perkuatan, maka tentu perlu dilihat bagian mana yang tidak kuat tadi. Di sinilah perlunya ilmu structural analysis atau engineering mechanic. Jadi kalau itu balok dan dari beban diatasnya ketahuan bahwa yang menyebabkannya adalah momen lentur di lapangan misalnya, maka tentu perkuatan adalah untuk menahan lentur dalam hal ini kalau baja adalah dengan meningkatkan momen inersia penampang balok.

    Ingat untuk meningkatkan momen inersia maka yang efektif adalah menambah luasan daerah “flange”. Tepi-tepi luar, tapi karena bagian atas sudah dibebani tentu akan kesulitan untuk memasang pada bagian atas. Jadi dengan demikian hanya bagian bawah saja. Disinilah maka terlihat ada usaha engineer memasang pelat tambahan, yang umumnya disebut sebut cover plate dan bukan stiffneer namanya. Stiffner cenderung dipasangkan pada web, yaitu untuk mencegah tekuk lokal, dan umumnya terbatas, yaitu pada suatu titik, sedangkan cover plate bisa panjang, sesuai dengan bidang momen dan sedikit keluar untuk transisinya..

    Tapi ingat jika konsep perkuatan tersebut dipasangkan pada bagian yang telah melendut. Adanya lendutan menunjukkan bahwa pada bagian balok tersebut “telah mengalami” tegangan lentur. Artinya, jika kita pasangkan pada struktur yang telah melendut, maka jelas cover-plate tadi tidak akan berdeformasi , kecuali jika ada tambahan beban baru. Nah sekarang maunya apa, jika cover plate memang sengaja dipasang untuk mengantisipasi beban tambahan agar tidak bertambah lendutan maka itu dapat dilakukan tanpa melakukan JACKING.

    Tapi kalau cover-plate dipasang untuk mengantisipasi beban yang telah dipasang diatas balok, yang ternyata tidak kuat itu (adanya lendtuan), maka langkah pertama adalah menghilangkan pengaruh beban tersebut terlebih dahulu, yaitu ditopang dan dikembalikan pada posisi semula. Inilah maksud jacking tersebut. Tentu waktu jacking perlu dipelajari gaya reaksi yang dihasilkan. Jangan-jangan jika itu dilakukan di lantai atas, maka ketika jacking bisa-bisa balok di bawahnya menjadi rusak. Maunya perbaikan, tetapi bahkan bertambah rusak yang lain. Jadi mengapa itu tidak banyak yang membahas, ya karena kasusnya umumnya case per-case, tidak bisa general.

    Begitu filosofi jacking yang aku maksud.

  18. Ping-balik: check lendutan pada balok beton bertulang | Wood Flooring - Parquet Lantai Kayu Terbaik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s