MIDAS dan Jurusan Teknik Sipil UPH


Jika kita mau mengamati lebih mendetail, ternyata Jurusan Teknik Sipil sudah banyak terdapat di berbagai Perguruan Tinggi yang menyebut dirinya Universitas. Itu dapat dimaklumi, karena untuk disebut Universitas maka suatu perguruan tinggi harus terdiri dari banyak unsur-unsur fakultas, dan salah satu yang favorit adalah keberadaan Jurusan Teknik Sipil.

Oleh karena itulah, maka ketika Jurusan Teknik Sipil UPH berdiri di tahun 1994 maka diperlukan suatu usaha tertentu agar “laku”. Untunglah, para pendirinya punya selera dan juga didukung komitmen kuat sehingga fasilitas infrastruktur yang dibangun menurutku memang menarik. Kompensasinya tentu akan menyangkut pada biaya, yang kata orang disebutnya mahal. Padahal kalau dibandingkan dengan biaya studi di kampus swasta lainnya, yang sudah dikenal orang banyak, maka sebenarnya tidak terlalu berbeda. Yang jelas, jika anda berkesempatan datang berkunjung ke kampus UPH maka tentu itu dapat dimaklumi.

Sekarang tidak terasa, sudah 18 tahun waktu telah berjalan sejak kampus UPH pertama kali berdiri. Waktu yang disediakan untuk promosi, rasanya sudah lebih dari cukup, orang-orang harusnya sudah bisa melihat kualitas suatu kampus tidak sekedar dari tampilan fisik, tetapi sudah sampai pada tahap kemampuannya untuk memberi pengaruh.

Bagaimanakah dengan keberadaan Jurusan Teknik Sipil di UPH, apakah sudah sampai tahap memberi seperti itu. Padahal disadari sekali bahwa yang namanya Jurusan Teknik Sipil di Indonesia itu jumlahnya ratusan. Jadi kalau hanya sekedar mengandalkan pengaruh berdasarkan jumlah alumni yang dihasilkannya, maka rasa-rasanya janganlah berani memimpikannya. Suatu hal yang mustahal begitu kata Jojon.

Maklum, jumlah mahasiswa di Jurusan Teknik Sipil UPH paling banyak, yang memecahkan rekorpun hanyalah sekitar 35 orang, sedangkan rata-ratanya adalah 20 sampai 25 orang per angkatan. Coba bandingkan saja dengan PTN yang rata-rata di atas 100 orang per angkatan. Kelibas deh. :)

Jadi kalau ditinjau dari segi jumlah, maka jelas-jelas Jurusan Teknik Sipil UPH adalah bukan apa-apanya dibanding kampus yang lain. Kecil !!!  :(

Jumlah murid yang kecil ini pula, maka saya dulu pernah diejek (tapi secara halus) oleh kolega dosen dari perguruan tinggi lain, yang intinya: “hati-hati lho pak, jika muridnya hanya segitu, maka bisa-bisa tutup. Bapak harus mulai sekarang lihat-lihat tempat lain“. Memelas sekali khan. Tapi untunglah, saya ini bekerja tidak sekedar cari duit, tapi memang menikmatinya. Jadi ketika ada komentar seperti itu maka tidak langsung ditanggapi serius, maklum masih ada yang dinikmati. :)

Tentang segi jumlah mahasiswa, ternyata juga berpengaruh pada segi jumlah dosennya juga. Saat ini jumlah dosen tetap di Jurusan Teknik Sipil UPH tidak lebih dari angka sepuluh, yang full-time saja tidak lebih dari empat, satu asisten, satu merangkap birokrasi fakultas dan satu dosen semi full-time. Nggak lebih dari enam. Kecuali itu, jurusan kami di level universitas bukanlah anak emas. Jadi banyak fasilitas yang diajukan, tidak dituruti, maklum selalu dihubungkan dengan jumlah mahasiswa. Saat ini, saya yang katanya disuruh memegang Lab. Mekanika Terapan dan ingin mempunyai sekali UTM (Universal Testing Machine), nggak pernah ada kabar beritanya lagi. Jadi maklumlah, kalau saya sering terlihat ke PUSKIM untuk memakainya. :)

Jadi dengan jumlah (mahasiswa – dosen) yang relatif kecil, juga fasilitas laboratorium yang tidak luar biasa. Hanya bermodal gedung yang bagus. Apakah wajar jika berani menyatakan dirinya sebagai kampus yang mampu memberi pengaruh. Suatu pertanyaan yang tentunya akan susah dijawab, apalagi oleh orang-orang yang levelnya hanya pada kemampuannya dalam  menggalang massa.

Tapi untunglah, sejak awal berdiri, kampus UPH tidak sekedar bermodal infrastruktur fisik yang wah, tetapi juga didukung kualitas s.d.m yang mengisinya. Waktu awal-awalnya, kampus ini diisi oleh orang-orang yang berkelas international, dan mereka dibayar secara profesional untuk hanya mengajar dan berada di kampus setiap hari. Nah disinilah yang mungkin terjadi perbedaan dengan kampus-kampus lain yang bertebaran, yang banyak dijumpai di tempat lain di Indonesia. Lihat saja, pasti masih banyak yang berbangga diri dengan dosen yang sibuk mroyek di luar, yang diaganggapnya sebagai suatu keunggulan karena banyak “terpakai.

Lho begitu ya pak. Internasional, bukankah pak Wir ini lulusan dalam negeri saja. Koq bisa ngomong begitu. 

Apa salah, kalau saya ngomong berkelas international tapi sebenarnya hanya lulusan dalam negeri.

Baik, mungkin sebelum menjawab itu , akan dicoba menjelaskan kondisi awal Jurusan Teknik Sipil UPH yang memang begitu, berkelas international, dan bahkan dapat ditunjukkan secara fisik dari dosennya yang  memang lulusan luar negeri (international). Untuk diketahui, jurusan teknik sipil pertama-pertama digawangi oleh bapak Dr.-Ing Harianto Hardjasaputra (sekarang Profesor, S1 lulusan ITB dan S3 lulusan Uni-Stuttgart, Jerman) yang menjadi Dekan FTSP (waktu itu, sekarang dijadikan FDTP) yang membawahi jurusan, adapun yang menjadi ketua jurusan pertama kali adalah bapak Ir. David B. Solaiman, Dipl. HE (S1 lulusan ITB dan S2 lulusan TU-Delft, Belanda), dan bapak Dr. Ir. Jong Herman, M.Eng. (S1 lulusan ITB dan S2 dan S3 dari University of Tokyo, Jepang) selaku sekretaris jurusannya yang pertama kali.

Koq pak Wir bisa di sana ?

Nah itu. Kalau menjawab hal itu, susah dik. Saya juga tidak tahu. Memang kadang-kadang yang namanya kebetulan itu bisa-bisa saja terjadi. Waktu itu tahun 1998, pada bulan Mei baru saja terjadi kerusuhan besar-besaran di Jakarta. Juga sampai terjadi di Mal Karawaci, di dekat kampus. Kondisi itu membuat kuatir banyak orang, juga dosen-dosen di UPH, jadi bagi mereka yang memang punya afiliasi dan memungkinkan, maka pada berpindahlah ke luar negeri. Terjadilah kekosongan. Adapun saat itu, saya baru saja lulus dari program Pascasarjana UI dan mendapatkan gelar S2, di sisi lain karir saya di konsultan kembang-kempis. Maklum, banyak proyek yang dibatalkan keberlanjutannya. Jadi karena situasi seperti itulah, mungkin karena saya dianggap berpotensi atau mungkin juga karena keberuntungan saja, maka saya mendapat tawaran untuk berkarir sebagai dosen di UPH. O ya, ini bukan asal comot, di CV yang saya buat, saya bisa mencantumkan pengalaman bekerja di kampus juga, yaitu sejak jadi asisten mahasiswa di Jogja dulu, juga ketika bekerja di salah satu konsultan di Jakarta, yang mengajar juga di sore hari pada salah satu kampus swasta terkenal. Jadi itu pula yang mungkin dianggap berkelas. Yah maklum, bidang baca-membaca dan belajar memang bidang yang saya bisa nikmati.

O, saya kira kita bisa berlanjut dengan progress jurusan ya.

Dengan latar belakang orang-orang seperti itu, meskipun kecil tapi memang dari awalnya mempunyai keyakinan bahwa mereka mampu mandiri, tidak tergantung orang lain, maka rasa-rasanya keinginan untuk dapat memberi pengaruh adalah  sesuatu yang wajar, bukan diawang-awang, dan semacamnya itu.

Strategi yang digunakan adalah mandiri. Setiap dosen tetap yang ada, diminta untuk berkonsentrasi pada bidang yang menjadi peminatannya, untuk selanjutnya diminta untuk mengembangkan diri dan kompetensinya. Itu bisa kami lakukan dengan baik karena kami bisa berkonsentrasi, maklum tidak ada permasalahan dari segi finansial. Konsentrasi yang dilakukanpun juga masih mengacu pada anjuran yang diterapkan Dikti, yaitu melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi dengan baik.

O ya, adanya seminar dengan tamu dari New Zealand, dengan jumlah peserta sekitar 100 orang kemarin adalah salah satu bukti itu.

Tetapi tentu saja tidak seperti itu saja. Dari diri dosen-dosennya juga berusaha secara mandiri meningkatkan diri. Bahkan kalau ada materi kuliah yang khas dan istimewa maka bisa dijadikan muatan lokal yang bagi jurusan. Seperti ini misalnya, disadari bahwa ketrampilan mengoperasikan komputer bagi mahasiswa adalah suatu nilai tambah. Oleh karena itu ketika aku masuk pertama kali di UPH, aku ditawari untuk mengasuh mata kuliah yang berkaitan dengan komputer teknik sipil.

Maklum, waktu itu aku dosen baru, juga merasa punya pengalaman kuat di bidang komputer, baik sebagai seorang pemrogram maupun pengguna program-program rekayasa teknik. Oleh karena itu, dan juga merasa bahwa tawaran yang disampaikan jurusan adalah suatu kehormatan maka aku menyanggupinya. Mata kuliah yang dimaksud diberi nama Komputer Rekayasa Struktur (2 sks).

Waktu itu karena aku terbiasanya dengaan program-program CSI dari Berkeley, yaitu SAP2000 dan ETABS, maka itulah yang aku pilih.

Lagi-lagi mandiri, atau mungkin juga karena ego, atau juga karena memang belum ada materi yang aku dapat. Maka aku menyusun sendiri materi yang kupakai untuk pengajaran di kelas.

Pada waktu aku menyusun materi tersebut, aku berpikir bahwa materi tentang pemakaian program SAP2000 atau ETABS telah banyak diberikan orang dalam bentuk kursus-kursus lepas. Belum ada yang dijadikan materi perkuliahan. Banyak yang menganggap sepele, wah materi seperti itu nggak perlu jadi materi kelas, cukup kursus singkat saja. Beres. Banyak yang melirik sebelah mata.

Aku banyak mendengar hal itu. Tapi untung, aku dibesarkan bukan dari kampus saja, tapi lama memegang tanggung jawab sebagai engineer untuk mendesain struktur-struktur, jadi aku paham betul cara memakai SAP2000 dan semacamnya. Jadi ketika ada yang bilang, bahwa belajar program seperti itu dapat sambil lalu saja, yaitu ditambahkan jadi kursus-kursus singkat. Maka aku meragukannya. Maklum, pada waktu itu aku pernah ikut juga kursus serupa. Tapi menurutku itu sih bukan kursus rekayasa, tapi belajar jadi operator program.

Atas dasar itulah, maka aku tetap mantap memegang mata kuliah baru tersebut, yaitu Komputer Rekayasa Struktur (2 sks). Nah disinilah, mulai ada perbedaan dengan jurusan-jurusan teknik sipil di tempat lain. Coba pelajari silabusnya yang ada, apakah di tempat lain juga ada. Kalau ada, lihat materinya, apa yang diajarkannya. Takutnya, yang diberikan cuma mengajarinya jadi operator program.

Lho emangnya Bapak juga tidak mengajari hal itu ?

Betul, ada juga sih. Tapi fokusnya adalah falsafah dibelakang setiap keputusan menggunakan program SAP2000 itu. Menurutku itulah yang penting, mata kuliah Komputer Rekayasa Struktur mencoba menyimpulkan atau tepat meng-amini materi-materi yang telah diberikan sebelumnya, khususnya materi di mata kuliah Analisa Struktur yang merupakan materi mayor di teknik sipil.

Ah, hanya gitu. Lalu apa kaitannya dengan pengaruh jurusan teknik sipil UPH  bagi orang lain pak ?

Yah kamu ini. Selalu ingin mencari bukti tentang apa-apa yang tersurat, nggak mau membaca atau memikirkan apa yang tersirat. Untuk menjawab hal itu, pertama-tama tentu perlu melihat apa sih pengertian pengaruh itu. Ini bukan masalah kekuasaan lho. Tapi ini berkaitan dengan wacana berpikir. Ingat pikiran itu adalah awal mula dari tindakan, jadi kalau sampai terpengaruhi, wah itu luar biasa. Orang-orang kampus dalam hal ini mempunyai kesempatan luas untuk membuat pengaruh, dari proses pendidikan dan pengajaran mereka secara langsung dapat mempengaruhi anak muridnya, sedangkan dari proses penelitian dan publikasinya mereka dapat memberi pengaruh kepada orang di luar kampus.

Nah berdasarkan materi yang aku kembangkan pada mata kuliah Komputer Rekayasa Struktur tersebut maka ketika itu kemudian aku tuliskan jadi buku dan aku publikasikan ke luar, maka disitulah proses pengaruh mulai bekerja. Jadi tidak heran jika kamu cari di Google, tentang SAP2000 maka salah satu karyatulisku tentulah ditampilkan. Selanjutnya berapa besar pengaruhnya bagi orang lain, nah itu bagian anda untuk mengevaluasinya sendiri.

Lalu apakah Bapak juga mendapatkan dukungan dari representatif SAP2000 ?

Nah ini yang mungkin perlu diungkapkan. Bagi orang yang normal, ketika ada orang yang memberi apresiasi positip bagi produknya, maka tentunya akan berterima kasih. Tetapi yang ini tidak, ketika aku menulis buku SAP2000 pertama kali, dan mencoba mencari dukungan dari representative-nya, maka yang aku dapat adalah semacam ancaman. Yah, mungkin tidak seekstrim itu, tapi  aku merasakan seperti itu. Itu terjadi karena dianggapnya materi yang aku tulis itu nantinya adalah hanya sekedar terjemahan dari materi yang mereka punya.

Kesan inilah yang membuatku tertantang untuk tetap menuliskannya, maklum ini khan seakan-akan menganggap rendah kualitas penulis, betul khan. Langkah pertama yang aku pegang adalah penggunaan software student version. Ini penting agar tidak ada tuntutan hukum, karena memang itu legal. Kedua adalah menulis sesuatu secara bermutu, bukan sekedar terjemahan. Untuk itu bahkan aku perlu mendapatkan opini dari pembaca ahli. Untunglah aku didukung oleh Prof. Dr. Ir Wiratman Wangsadinata yang berkenan memberi kata penghatar buku tersebut.

Akhirnya bagaimana dengan buku tersebut pak.

Yah terbit dengan lancar, dicetak dua kali, total yang beredar di pasaran ada sekitar 5000 eksp. Saat ini masih banyak orang yang meminta, oleh karena itu sudah aku pikirkan untuk cetak ulang secara mandiri dengan sedikit tambahan bab, mungkin tentang pushover atau D.A.M pada steel structure. Yah pokoknya sudah ada pemikiran untuk dicetak ulang.

Program SAP2000-nya di Jurusan Teknik Sipil legal ya pak ?

Nah inilah masalahnya, seperti aku ceritain di atas, bahwa jurusan sipil kami bukanlah anak emas. Banyak yang terkait duit nggak mendapatkan perhatian. Atau mungkin karena akunya nggak pinter merayu, karena aku lihat yang lain ada yang mendapat dukungan bagus di lab-nya.

Yah udahlah, nggak usah iri, setiap orang punya rejekinya masing-masing. Tetapi yang jelas aku berusaha maksimal, dan terbaik. Itu saja.

Jadi untuk mengantisipasi legalitas software yang aku gunakan, maka aku mengandalkan student version. Jurusan teknik sipil UPH terus terang tidak mempunyai software rekayasa asli yang berlisensi. Miskin deh dibanding kampus tempat teman-teman yang lain.

Minder ya pak.

Lho kamu koq tanya itu, kalau minder maka aku nggak perlu menulis sepanjang ini. Ingat dik, yang namanya penulis, itu nggak mengenal minder. Seorang penulis yang baik, dia bisa melihat sesuatu dari segala sudut dan melihat sisi positipnya. Jadi yang dikembangkan atau tepat yang ditulis adalah sisi positipnya. Yang jelek nggak perlu dibesar-besarkan. Kalau tadi ada yang terkesan inferior, tentang tidak adanya dukungan dari atas, itu semua karena juga ego penulisnya. Maklum dik, saya ini tipe penulis yang pantang merengek-rengek atau bahkan meminta-minta. Jadi kalau nggak disetujui, ya sudah. Masih bisa hidup koq. Maklum berusaha menghayati benar apa itu yang disebut mandiri. Ingat ini bukan sombong lho, ini hanya suatu bentuk kepercayaan diri yang didasari oleh visi dan misi (lihat di pojok kanan atas) dan juga merasa bahwa kehidupannya adalah bukan karena pikirannya sendiri, tetapi oleh karena lingkungan pergaulan dan kebetulan-kebetulan yang ditemui, yang diyakini betul itu diberikan dari atas.

Tulisan bapak ini panjang banget, tapi nggak nyambung dengan judul tulisan ini.

Wah thanks, mengingatkan. Adanya komentar di atas berarti Bapak atau Ibu atau Saudara berkenan membaca tulisan ini yang memang panjang lebar. Maklum, latar belakang yang mendasarinya memang sangat banyak, itu saja masih belum dituliskan semua.  Bayangkan saja, jika aku tuliskan masa-masa transformasinya ketika S3 dulu, atau tentang pemrograman komputer yang saat ini sedang mencoba membuat buku tabel baja versi indonesia untuk mengantisipasi peraturan baja yang terbaru, wah seru lho.

Saya hanya mencoba menceritakan jurusan teknik sipil UPH dan pengaruh yang dibuatnya, khususnya yang berkaitan dengan materi Komputer Rekayasa Struktur, yang merupakan salah satu kontent lokal jurusan tersebut yang ternyata ketika dijadikan buku mendapat sambutan hangat bagi masyarakat teknik sipil di Indonesia. Yang jelas, itu adalah topik pertanyaan di blog ini, atau di FB, tentang buku SAP2000 yang sudah habis.

Ternyata pengaruhnya tidak hanya sampai di situ saja. Fakta bahwa Jurusan Teknik Sipil UPH hanya memakai software versi student, dan belum didukung sofware berlisensi profesional, ternyata dianggap sebagai suatu peluang. Ini khan luar biasa, biasanya orang kebanyakan akan melihat itu sebagai suatu kelemahan. Nah, pihak yang bisa melihat itu adalah Bapak Dr. Ir. FX Supartono, DEA., direktur utama dan pendiri PT. Partono Fondas Engineering Consultant yang sudah terkenal dengan proyek-proyek jembatannya di Indonesia, yang saat ini telah mengembangkan diri dan menjadi representative dan SOLE DISTRIBUTOR IN INDONESIA untuk software engineering di bidang teknik sipil yang sedang tumbuh dan bertumbuh yaitu MIDAS buatan negara Korea.

Sudah pernah mendengar nama program tersebut belum. Kalau belum maka software tersebut mempunyai fungsi yang mirip dengan program SAP2000 dan ETABS, atau SAFE. Seperti itu, tetapi lebih baik karena juga punya versi yang mirip dengan yang dipunyai ABAQUS atau ANSYS, juga untuk tanah. Pokoknya hebat, sebagai gambaran program tersebut akan dipakai juga untuk mendesain jembatan selat sunda, Burj Kalifa yang di Dubai pun juga di analisis ulang dengan program tersebut, maklum kontraktornya khan dari Korea.

Adapun peluang yang dimaksud oleh bapak FX. Supartono adalah menawarkan kerja sama intelektual dengan jurusan teknik sipil UPH, khususnya untuk mendukung bisnis beliau berkaitan software MIDAS agar masyarakat teknik sipil di Indonesia mendapatkan keuntungan dalam memanfaatkan keunggulan teknologi yang dimilikinya tersebut. Untuk itu pihaknya, selaku sole distributor indonesia yang resmi akan memberikan software khusus berlisensi untuk digunakan di lingkungan Jurusan Teknik Sipil UPH. Saat ini yang dijanjikan adalah 10 lisensi, dan sedang dicoba untuk dikembangkan sampai 25 untuk mewadahi untuk digunakan di kelas. Software ini berbeda dengan trial software yang mempunyai usia yang terbatas, yaitu 90 hari untuk type Gen/midas, 60 hari untuk midas GTS dan 30 hari untuk midas FEA. Adapun software yang akan diberikan itu waktunya tidak terbatas.

Di Indonesia, jurusan teknik sipil yang mendapat kesempatan seperti itu masih sangat sedikit. Sebagai gambaran, Midas Korea telah secara langsung memberi bantuan hibah serupa ke kampus ITB, Bandung. Itu saja. Saya kira, jurusan lain tidak boleh iri, maklum ITB yang memang sudah dikenal oleh dunia international. :)

Selanjutnya, kesempatan diberikan kepada sole distributor Indonesia untuk memberikan ke kampus lain, yang dianggap berpotensi untuk bersama-sama berkiprah di dunia komputer rekayasa, khususnya memakai MIDAS. Adapun kampus berikutnya yang diberi hibah adalah Jurusan Teknik Sipil UI, di Depok. Ini juga dapat dimaklumi, karena Dr. FX Supartono adalah juga dosen senior di kampus tersebut.

O ya, perlu diketahui juga bahwa software MIDAS sebenarnya telah cukup lama beredar di Indonesia, kalau tidak salah kampus ITB, Unpar, Maranatha, ketiganya di Bandung telah membeli terlebih dahulu. Adapun di Jakarta adalah kampus Untar. Jadi mestinya, sudah banyak ahli-ahlinya dari kampus tersebut.

Tapi ya seperti  kata pepatah “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak“, meskipun sebenarnya sudah banyak ahli-ahli Midas di kampus lain, dan di UPH belum, tapi ternyata Jurusan Teknik Sipil UPH yang mendapat tawaran tersebut. Ini khan juga menunjukkan bahwa sole distributornya terpengaruh. Jadi kami adalah PTS pertama yang diberi kesempatan tersebut setelah UI. Padahal seperti yang saya kemukakan di depan, yang namanya jurusan teknik sipil di Indonesia itu banyak lho. Tetapi mengapa UPH yang dipilih, itu yang perlu ditanyakan.

Untuk melihat potensi software Midas tersebut maka ada baiknya kita lihat dulu ya katalognya.

Aplikasi di bangunan tinggi:

Aplikasi di industri:

Saya kira itu baru sebagian kecil bagaimana program MIDAS dapat digunakan dalam aplikasi rekayasa teknik sipil.  Fasilitas atau opsi-opsi lain yang tersedia pada program tersebut adalah:

Opsi yang tersedia untuk mechanical dapat dibandingkan dengan program ABAQUS atau Ansys, dalam kasus ini program yang disediakan oleh CSI (keluarga SAP dan ETABS) tidak memilikinya. Ini merupakan kelebihan dari Midas.

Adapun yang versi bridge itu yang mungkin sebanding dengan SAP2000. Tetapi ada pengalaman yang menarik  yang diketahui, yaitu ketika teman-teman di PTW sedang mempejalari perilaku jembatan sunda, pertama kali digunakan program SAP2000, maklum itu memang dimilikinya selama ini. Tetapi mereka pada kesulitan, selanjutnya ketika dicoba dengan Midas, maka masalah yang sulit di program SAP tersebut dapat dengan mudah dicari penyelesaiannya. Akhirnya sejak itu pula, maka aku mulai mencari tahu, seperti apa sih Midas itu. Jadi ketika ada tawaran dari bapak Supartono ini maka kesannya seperti pucuk dicinta, ulam tiba. :)

Jadi jika nanti benar-benar dapat diperoleh lisensi program tersebut sesuai jumlah murid di kelas, maka tentu saja akan digunakan sebagai program komputer menggantikan program SAP2000 versi Student yang selama ini dipakai. Jika itu terlaksana, maka tentu Jurusan Teknik Sipil UPH tidak dianggap “miskin” lagi, maklum software-nya berlisensi dan asli dari Midas representative-nya di Indonesia, yaitu PT. Partono Fondas.

Jika sudah demikian adanya, maka keinginan Jurusan Teknik Sipil UPH, meskipun jumlah murid dan dosennya relatif kecil tapi berani dan mampu untuk memberi pengaruh yang baik bagi komunitas teknik sipil di Indonesia. Ingat, langkah panjang untuk keliling dunia, tentunya harus dimulai dari langkah pendek pelakunya. Tapi pepatah tersebut rasa-rasanya tidak harus dituruti, maklum langkah Midas ternyata sudah kemana-mana, lihat saja peta berikut”

Peta diatas menunjukkan bahwa program Midas ternyata sudah mendunia terlebih dahulu, jadi kalau begitu kelihatannya suatu saat produk Jurusan Teknik Sipil UPH juga bisa turut mendunia. Ingatlah pepatah berikut, kita dapat mengetahui dan mengenal dengan baik siapa orang tersebut dengan mengetahui siapa teman-temannya. Oleh karena itu untuk mengetahui bagaimana jurusan kami, lihatlah siapa-siapa teman-teman kami.

Untuk menutup artikel saya kali ini, ada baiknya saya sampaikan dokumentasi photo atas adanya kerja sama antara Jurusan Teknik Sipil UPH dengan Sole Distributor Indonesia untuk MIDAS yang berlangsung di kantor PT. Partono Fondas divisi MIDAS IT sebagai berikut.

Dari kiri ke kanan: bapak Ir. Yanus Supartono (Manager PT. Partono Fondas), ibu Anna Brigita (Marketing Executive – Midas IT divisi PT. Partono Fondas), bapak Dr.Ir.  FX. Supartono (Direktur dan pendiri PT. Partono Fondas, yang sekaligus sole distributor Midas Indonesia), disebelah kanannya adalah bapak Andreas D. Jukardi (Direktur FDTP – UPH), kemudian Dr.-Ing. Jack Widjajakusuma. (Ketua Jurusan Teknik Sipil UPH) dan penulis, dosen tetap di UPH.

O ya, jangan lupa pada bulan Juli awal tahun ini (2012) kami (UPH) akan meresmikan kerja sama tersebut dalam suatu seminar terbuka yang mengambil tema Computer Aided Analysis dan Design di kampus UPH Lippo Karawaci. Jadi jangan dilupakan ya agendanya. Jika Agustus adalah seminar HAKI maka Juli awal adalah seminar di Kampus UPH Karawaci.

Semoga ini menjadi awal untuk mewujudkan sesuatu hal yang besar, yang tidak saja berguna bagi pelaku-pelakunya tetapi diharapkan juga berguna bagi masyarakat luas di Indonesia, untuk akhirnya bermakna bagi kemuliaan nama-Nya di surga. Amin.

19 thoughts on “MIDAS dan Jurusan Teknik Sipil UPH

  1. Loh setahu saya ilmu Tehnik Sipil sangat diperlukan di masyarakat. Saya sendiri dulu pernah bercita-cita ingin masuk ke jurusan Tehnik Sipil, tetapi pada akhirnya terdampar ke jurusan komunikasi.

    Info bagus, trims ya, selamat dan sukses selalu untuk Anda.

    Salam kompak:
    Obyektif Cyber Magazine
    (obyektif.com)

  2. kemarin saya coba download free trial-nya pak. Kok kelihatannya instalernya relatif kecil jika dibanding dengan fasilitas yang ada didalamnya. Kelihatannya juga lebih “maknyus” tampilannya, Layak dijadikan buku pak wir ~.^ ..

  3. Nice info pak.

    Sebagai gambaran, di ITB (kampus S1 saya) di tahun 2003-2007 juga belum ada kelas seperti pemrograman (mudah2an sekarang sudah ada), kecuali Bahasa-C. Saya juga belajar otodidak tentang SAP, ETABS, StaadPro, dll. Awalnya, saya belajar jadi “operator” lewat senior, atau dari himpunan yang mengadakan kursus gratis bagi anggotanya (disini, saya merasa beruntung kuliah di ITB).

    Selanjutnya, karena keinginan saya yang kuat tentang konsep2 struktur, saya mencari senior2 yang kuat secara konsep dan pengetahuan program, termasuk bertanya ke dosen, pak Made (Kajur sipil sekarang), karena secara konsep, bagi saya beliau sangat luar biasa.

  4. sangat brmnfaat bgt info nya pak Wir…
    untung bpk membuat artikel ini, jd sy dpt info yg brguna…
    sbgai mhasiswa sipil, sy sgt brminat dg ini. dan akan sy coba info kan ini k dosen sipil sy dikampus agar dimasukkan dlm mata kuliah studio perancangan….krna hnya sap dan Etabs yg skrg diajarkan.

    thanks n best regards’

    iksan

  5. postingan yang sangat menarik :)
    sangat bermanfaat.. ^_^
    keep posting yaa..

    ingin barang bekas lebih bermanfaat ?
    kunjungi website kami, dan mari kita beramal bersama.. :)

  6. Wah ini info yang sangat bagus… ini pertama kali saya komentar di artikel2 bapak,, meskipun saya sering membaca artikel2 yang lain.
    Tulisan ini, malah memberi motivasi kepada saya, saya Mahasiswa angkatan 2008 Teknik Sipil Gunadarma, jumlah mahasiswa perangkatan di sini pun berkisar 20 orang.. memang tahun 2011-2012 ini mencapai 50 lebih.
    Saya juga sempat berkenalan dengan mahasiswa2 teknik sipil UPH di Atmajaya Jogjakarta, waktu itu dalam rangka final lomba gedung tahan gempa dengan etabs., tapi yang saya ingat namanya hanya Sherly.. Jika melihat mahasiswa2 UPH, rasanya sangat jauh istilah TUTUP terjadi..

    Saya sangat tertarik dengan struktur,, bahkan skripsi saya mengangkat tema struktur, tepatnya perencanaan struktur jembatan.
    Pertanyaan saya: ketika saya hendak mengambil thesis, apakah menarik dunia struktur di angkat menjadi thesis? Sejauh mana MIDAS dapat membantu saya dalam thesis?

    Terimakasih Atas perhatian Bapak,

  7. jembatan suramadu dulu juga pakai midas pak, kebetulan saya dari sby dan mengikuti kerja praktek disana. Memang dari segi desain, program ini memiliki keunggulan daripada software sejenisnya, terutama dari segi pembebanan, begitu detailnya midas memberikan konfigurasi pembebanan. download aja di 4shared pak, sudah ada tuh

    • Wah menarik tuh bung eko, nama file nya apa bung. Soalnya rame tuh yang nongol pas diketik midas, hehheehehe maaf ni males meriksanya satu-satu.. Oh ya versinya yang lengkap ndak.. Maklum pecinta software bajakan..
      Oh ya Makasih ni pak wir, blog anda ini seperti ”jembatan penghubungnya ilmu sipil”.

  8. Makasi Bpk. untuk artikel yg sudah ditulis untuk dibaca oleh kami semua yang mencintai jurusan Teknik sipil, satu pertanyaan buat bapak, kira” untuk mndapatkan software MIDAS CIVIL itu gimana ya? soal yg ada di internet cm yg trial sj. thanks!!

  9. Ping balik: seminar UPH – Oktober 2012 | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s