Merdeka !


Peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus baru saja lewat. Gemanya tidak terlalu nyaring, maklum diselingi berita kemacetan Jakarta-Indramayu yang katanya bahkan sampai menembus angka 17 jam. Nggak percaya, baca aja ini. Untunglah aku memutuskan di rumah saja, menunggu sampai malam menjelang lebaran hari pertama, baru pulang mudik.

Selain menghindari macet mudik, kebetulan  tanggal 17 Agustus ini anakku masih harus menghadiri acara penaikan bendera Sang Saka di halaman kantor Walikota Jakarta Selatan. Maklum setelah berbulan-bulan berkonsentrasi belajar untuk mendapatkan SNMPTN, sekarang ini ingin berkumpul lagi dengan teman-temannya di Purna Paskibraka Indonesia. Dengan bangganya dia ingin datang  untuk mengiringi adik-adik yuniornya di Paskibraka wilayah Jakarta Selatan, melaksanakan tugasnya.

Jam 12 siang aku menjemput anakku pulang, suasana jalan-jalan di Jakarta sepi senyap. Meskipun demikian satu dan dua bis Trans-Jakarta melintas, tapi kosong isinya. Jadi nggak kerasa kalau hari kemarin adalah Hari Kemerdekaan, mungkin di kampung-kampung di luar Jakarta akan lebih meriah. Mungkin karena suasana puasa ya, mudah-mudahan.

Suasana hari raya Kemerdekaan Negara mungkin hanya meriah di berita-berita televisi. Banyak cara ingin mengungkapkannya. Ada yang memutar film perang-perangan, sepintas terlihat adegan bagaimana segerombolan orang (mungkin disebutnya para pejuang) sedang mencoba mendobrak satu rumah (berkesan mewah) yang didalamnya ada wanita Indo. Melempari jendela rumah, kesannya ingin menjarah. Terus terang, aku tidak suka adegan seperti itu. Nggak tahu kenapa, aku tidak melihatnya sebagai suatu adengan perjuangan merebut kemerdekaan, tetapi mengingatkan aku kerusuhan Mei beberapa tahun yang lalu.

Masih mending melihat iklan yang ditayangkan ulang oleh salah satu partai pendukung pemerintah saat ini. Isinya ingin mengajak warga negara ini mengisi kemerdekaan, bukan dengan mengangkat senjata tetapi dengan kreativitas dan hasil kerja. Bagus lhah. Tapi kalau dipikir-pikir ini sudah 67 tahun lho merdekanya. Mengapa isi iklan itu hanya berisi ajakan, tidakkah ada hasil mengisi kemerdekaan selama 67 tahun yang dapat dibanggakan, yang menunjukkan inilah hasil kemerdekaan kita.

Menurut bapak bagaimana ?

Yah harusnya kita ini bisa menunjukkan hasil kerja selama kemerdekaan ini. Menunjukkan bahwa kita sudah bisa mandiri, tunjukkan prestasi-prestasi yang telah diperoleh agar dapat menginspirasi warga negara yang lain, yang kebetulan belum menemukan wahana yang tepat untuk berkembang.

Emangnya pak Wir sudah bisa begitu, jangan hanya omong dong pak.

Lho aku ini khan bukan pejabat di pemerintah atau pejabat di kampus. Jadi secara formal aku ini tidak punya kekuasaan untuk dituruti oleh bawahan. Hanya memang, aku ini GURU, yang memungkinkan untuk di GUGU dan di TIRU, terhadap hal-hal yang dianggap orang membawa kebaikan.

Jadi kata kuncinya adalah hal-hal yang dianggap membawa kebaikan. Mungkin di situ yang dapat tampilkan sebagai bentuk kemerdekaan cara berpikirku.

Merdeka dalam cara berpikir, apa maksudnya.

Inilah salah satu keistimewaan guru di tingkat perguruan tinggi. Berbeda sama sekali dengan guru ditingkat menengah. Bagi mereka, materi pembelajaran di kunci, kreativitas hanya diberikan pada strategi pengajaran. Adapun di tingkat perguruan tinggi. Kuncinya hanya di sillabus, adapun materinya boleh dikembangkan sendiri, selama tidak bertentangan dengan silabus. Nah disinilah kita bisa mengisinya berbeda dengan perguruan tinggi yang lain. Berbeda jika dirasa itu lebih baik. Kalau buruk mah rasanya tidak perlu diomongin atau dibangga-banggakan. Bisa memalukan, iya khan.

Contohnya apa pak ?

Jika ingin contoh, gampang. Pada dasarnya mata kuliah yang aku sampaikan di Jurusan Teknik Sipil UPH adalah mata kuliah baru yang aku susun. Baru di sini adalah itu semua hasil kreasiku, bukan mengadaptasi materi perguruan tinggi lain. Jika ingin melihat isinya, gampang, lihat saja buku-buku yang aku tulis. Sayangnya, buku-buku tersebut sudah habis semua. Tapi intinya, aku tidak sekedar ngomong, ada bukti bahwa aku berani berbeda. Berani dan bebas mengekspresikan diri. Merdeka gitu lho.

Bentuk kemerdekaan yang mungkin dapat ditampilkan adalah apa yang baru saja dibuat oleh mahasiswa bimbingan tugas akhir, tentang struktur baja. Telah menjadi rahasia umum, bahwa materi baja yang diberikan di level S1 di hampir semua perguruan tinggi ternama di Indonesia sekarang mengacu pada materi dari AISC (Amerika). Jadi bagi yang menemukan , materi perkuliahannya masih mengacu pada SNI Baja yang lama, berarti sudah out-of-date. Ketinggalan jaman. Mumpung SNI Baja yang baru, yang mengadopsi AISC 2010, belum keluar secara resmi. Ayo mulai disesuaikan.

Untung materi pembelajaran struktur baja di Jurusan Teknik Sipil UPH telah lama mengadopsi materi LRFD dari AISC. Dari sisi pembelajaran sudah cukup matang, dalam arti asisten yang membantuku sudah bisa mandiri. Tidak harus tergantung aku terus. Berbicara tentang LRFD-AISC dan hari kemerdekaan, rasanya tidak ada yang dapat dibanggakan. Maklum, meskipun ada unsur kebebasan memilih materi dari AISC tetapi ini jelas menunjukkan kita masih tergantung pada referensi dari luar, belum mandiri.

Materi dari AISC sendiri sangat lengkap. Lihat saja buku “Steel Construction Manual AISC 13th Ed” punya ketebalan sampai 2183 halaman. Itu satu buku tentang baja, bayangkan saja. Bisa mengusai sampai tuntas, rasanya sudah cukup untuk menjadi bekal para lulusan S1 tentang kompetensi baja. Memang sih, buku tersebut masih versi lama, versi AISC 2005. Karena sekarang sudah ada AISC 2010 maka mestinya sudah ada edisi ke 14.

Sudah punya belum. Jika belum silahkan download saja di sini, file PDF-nya gede lho sampai 86.4 Mb. Jadi pastikan sambungan koneksi internetnya bagus. Disarankan yang broadband, jangan yang jam-jaman, bisa mahal.

Yah sampai di sini dapat disimpulkan, bahwa pembelajaran struktur baja di jurusan teknik sipil yang paling ideal saat ini adalah yang mengacu pada materi AISC. Maklum materinya yang paling banyak tersedia, di internet maupun di toko buku (buku Segui tempo hari ada di Gramedia). Juga peraturan SNI yang sebentar lagi keluar adalah mengacu AISC 2010. Jika demikian mestinya semua dosen baja mengajar berdasarkan materi AISC itu pula bukan.

Kalau begitu, lalu apa istimewanya dengan materi struktur baja yang pak Wir ajarkan di UPH,  sampai dijadikan materi tulisan di hari kemerdekaan ini. Ada-ada saja bapak ini.

Yah, betul. Semua atau tepatnya, sebagian besar dosen struktur baja memang mengacu pada buku AISC, sebagian besar memakai buku karangan Segui. Sudah punya belum, nanti deh aku up-load khan. Jadi kalau soal itu memang belum kelihatan keistimewaan dengan yang diberikan di Jurusan Teknik Sipil UPH.

Tapi tunggu dulu, perlu ditanyakan apakah materi AISC yang 2183 halaman itu diajarkan semua. Aku ragu lho. Maklum profil yang dipakai di Amerika khan kebanyakan mengacu satuan Imperial, pakai ukuran inchi. Adapun profil yang umum di Indonesia adalah mengacu JIS (Jepang) yang memakai ukuran metrik. Pernyataan ini diamini oleh bapak Ir. Sukanta Saha, Engineering Manager dari PT. Gunung Garuda, produsen baja Indonesia.

Coba saja, materi ini yang terdapat di AISC Steel Manual 13th Ed. apakah juga diberikan. Lihat ini :

Nah ini contoh materi AISC yang mengisi mayoritas buku  manualnya. Apakah ada yang tahu cara memakainya. Tabel inilah yang membuat cara perhitungan baja AISC jadi semudah membalikkan telapak tangan. He, he ini sih hiperbola, tetapi bagi yang sudah tahu bagaimana panjangnya perhitungan AISC maka jika sudah tahu cara memakai tabel ini, maka males deh kembali ke cara manual.

Ayo angkat tangan, yang dosennya mengajarkan pemakaian tabel ini. Hebat !

Syukurlah jika ada dosen yang mengajarkan ini. Terus terang, perhitungan cara manual dengan tabel tersebut membuat desain lebih mudah dan bahkan efektif khususnya untuk menemukan profil yang paling optimal. Bahkan dapat bersaing dengan program komputer sekalipun.

Hanya sayang, tabel seperti itu terbatas untuk profil-profil Amerika (AISC). Untuk profil JIS yang pakai metrik, tabel seperti itu belum ada. Eh, tunggu dulu, mungkin perkataanku ini terlalu dini, mungkin saja sudah ada orang Indonesia yang membuatnya. Tolong dong angkat tangan.

Jika belum ada. Nah disinilah keistimewaan Jurusan Teknik Sipil UPH karena telah merdeka dari keterbelengguan dari keterbatasan tabel tersebut. Saya bersama-sama dengan mahasiswa teknik sipil UPH yang punya kompetensi pemrograman, yaitu Yeltsin Tan, telah berhasil menciptakan tabel serupa khusus untuk profil Indonesia. Bentuknya nggak kalah lho. Lihat ini.

Nah inilah materi struktur baja asli produk Jurusan Teknik Sipil UPH. Meskipun pada satu sisi masih tergantung dari referensi luar (AISC) tetapi pada sisi lain kita di UPH sudah mencoba untuk mandiri.

Saat ini, materi tersebut sudah saya tawarkan ke PUSKIM agar dapat dilakukan kerja sama publikasi dan pada saat yang sama sedang menjalani taraf pengujian.

Inilah salah bentuk kemerdekaan riset mengenai struktur baja di Universitas Pelita Harapan di bawah arahanku selama ini. Semoga suatu saat dapat menjadi sumbangan berarti bagi kemajuan perencanaan struktur baja di Indonesia.

Semoga Tuhan berkenan. Merdeka !

About these ads

16 thoughts on “Merdeka !

  1. design bajanya segui ketemu di sini

    http://uploading.com/files/bd9d451c

    buku hollow sections

    http://www.4shared.com/office/-35tY0ph/Hollow_sections_in_structural_.htm

    mmmh, soal mudik lebaran…
    wah, sy punya pengalaman khusus yg ga terlupakan.
    masak sy yg punya karcis KA sampai2 ga bisa masuk ke gerbong,
    karena penuhnya org didalam. kapok deh, mending ga ikut2an arus mudik.
    ga tau deh apa bisa ilmu manajemen transportasi utk solusi arus mudik ini.
    O ya jadi penasaran nanti gimana pak Jokowi membenahi macet di Jakarta :-) bisa ga ya?

    Salut Pak, materi TA mas Yeltsin Tan menurut sy baik sekali.
    Mengena, sesuai dgn tingkatan S-1, dan berguna ke depannya.

    • Thanks Mazon. Semoga ini menjadi salah satu upaya Jurusan Teknik Sipil UPH yang berguna nanti bagi komunitas struktur baja berbahasa Indonesia.

  2. Hi

    This mail is from HR Department of Gupshup Technology-India, we are a social media organization.Mentioned below is our company profile(www.gupshup.me)-
    GupShup is a social messaging service that enables users to share their short messages, privately with friends, or publicly with all.
    We are looking out for energetic & dynamic young social media enthusiast who are active on various social media platforms(Experience in writing blog will be preferred).
    One is expected to engage with our online users on the Jakarta based communities for which needs fluent Bahasa speaking, reading & writing.Job Location -Jakarta.
    Send us your current active blog links to hr@webaroo.com

    HR
    Webaroo

    • @Juragan,
      Cara paling sederhana untuk melakukan verifikasi adalah dibandingkan. Mahasiswa saya memakai program komputer yang khusus dibuat untuk menguji kurva yang dibuat. Tentu saja sebelumnya, program tersebut juga perlu diuji, caranya adalah dengan menyelesaian hitungan-hitungan manual yang teruji. Kira-kira begitu pak. Sederhana, tetapi melelahkan juga, itulah mengapa perlu mahasiswa dan dijadikan skripsi. Maklum, suatu kerja keras. :)

      Catatan : saya berkunjung ke link yang dimaksud, tetapi grafiknya tidak muncul (tidak ada). Meskipun sudah di klik juga. :(

  3. AISC Steel Construction Manual 13th punya saya lebih gede filenya pak Wir sampe 120MB tebal 2181 halaman.ada yang beda gak ya??? :)

  4. apa karya di atas yang pak Wir sempat janjikan di artikel sebelumnya tentang TA mahasiswa UPH tentang tabel baja versi Indonesia ?
    kapan diseminarkannya Pak ?
    Sukses Selalu dan terus menginspirasi Pak Wir.

  5. Ping balik: my study | blitza85

  6. Ping balik: resensi buku baja | The works of Wiryanto Dewobroto

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s