The works of Wiryanto Dewobroto

publikasi

Anda tentu juga tahu : apa itu dosen ?. Tentu, yaitu orang yang bekerja sebagai pengajar di perguruan tinggi atau akademi. Jadi kata kuncinya adalah pengajar atau yang kerjanya mengajar, dengan demikian dapat dipahami jika masyarakat awam  menganggap bahwa dosen yang dapat mengajar ke sana ke mari di sejumlah perguruan tinggi yang berbeda-beda adalah dosen yang hebat. Dianggap dosen tersebut ‘laku’ dimana-mana. Anggapan tersebut tentu tidak semuanya salah tetapi juga tidak selalu benar. Tapi kalau asal berpendapat seperti itu, dan menganggap bahwa mengajar kemana-mana adalah suatu kondisi yang ideal bagi seorang dosen maka apa bedanya dengan guru (honorer) , yang terpaksa harus mengajar kesana-kemari untuk sekedar menambah lauk pauk atau periuk nasinya.

Mungkin hanya sedikit masyarakat awam yang tahu bahwa selain mengajar, maka dosen diharapkan juga untuk melakukan kegiatan penelitian dan pengabdian pada masyarakat,  dan menjadikannya itu sebagai tiga tugas pokok seorang dosen yang ideal, yang terkenal dengan sebutan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Riset dan pengkajian yang bermuara pada dihasilkannya karya tulis ilmiah merupakan kegiatan sehari-hari yang menantang, menyenangkan, dan menawarkan tamasya intelektual yang mengasyikkan bagi dosen.
Dedi Supriadi (1997)

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, penulis menyadari bahwa profesinya sebagai dosen yang telah ditekuni saat ini telah menjadi suatu panggilan hidup, atau suatu rahmat yang telah Tuhan berikan. Dengan demikian maka Tri Dharma Perguruan Tinggi  diusahakan selalu.

Selanjutnya halaman ini akan menyajikan daftar tulisan dibuat berdasarkan penelitian atau pemikiran yang telah dilakukan selama ini.

Kemampuan seseorang dalam menuangkan gagasan secara tertulis merupakan representasi dari kualitas intelektualitas-nya, karena melalui tulisan atau karya tulis (dalam bentuk apapun) seseorang mewujudkan pikirannya. Dari tulisan memang akan kelihatan logika berpikir seseorang. Dengan menulis, seseorang belajar berpikir secara eksak dan padat.
Dedi Supriadi (1997)

 Semoga berguna.

Journal Articles
  1. Wiryanto Dewobroto. (2005b). “Analisa Inelastis Portal - Dinding Pengisi dengan Equivalent Diagonal Strut”, Jurnal Teknik Sipil - ITB, Edisi Vol. 12 / 4, Oktober 05, Institut Teknologi Bandung, Bandung (down-load PDF 358 kb)
  2. Wiryanto Dewobroto. (2005a). “Strategi Pembelajaran Era Digital : Usulan Skenario Dalam Menyambut Transformasi UPH Sebagai Kampus Digital”, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun ke-11, No. 056, September 2005, Badan Penelitian dan Pengembangan, DEPDIKNAS, Jakarta (read …)
  3. Hardjasaputra, H., Dewobroto, W., Setiawan, F. (2005). “Proyek Tangki Air dari Semen-Pasir-Bambu di Mesjid Al-Ikhlas, Binong ,Tangerang”, Jurnal Teknik Sipil - UPH, Vol.2 No.1 Januari 2005, Universitas Pelita Harapan, Banten. (down-load PDF 324 kb)
  4. Wiryanto Dewobroto. (2004c). “Perancangan Balok Beton Bertulang dengan SAP2000″, Jurnal Teknik Sipil - UPH, Vol.1 No.2 Juli 2005, Universitas Pelita Harapan, Banten. (down-load PDF 323 kb)
  5. Wiryanto Dewobroto. (2004b). “TINJAUAN TATA CARA PERANCANGAN TORSI TERBARU pada BALOK BETON , Studi Kasus: Struktur Canopy dengan Torsi Keseimbangan”, Jurnal Teknik Sipil - UPH, Vol.1 No.1 Jan.2004, Universitas Pelita Harapan, Banten.
  6. Wiryanto Dewobroto. (2004a). “Lebih Dekat dengan Kampus Uni-Stuttgart di Kota Asal Mercedes Benz”, Majalah PELITA HARAPAN , Volume III/1, Jan.-Maret 04. (read …. or down-load PDF 184 kb)
Presentations / proceedings
  1. Dewobroto, W.,”Workshop SAP2000″, Invited speaker pada Civil Engineering Week 2008 oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil UPH, Lippo Karawaci, 20 Februari 2008
  2. Dewobroto, W., Pentingnya Penguasaan Aplikasi Komputer Rekayasa bagi Sarjana Teknik Sipil, Sekarang dan Masa Depan,  Invited speaker pada Seminar dan Pelatihan SAP2000,  Unisma Bekasi,  23 November 2007 (report)
  3. Wiryanto Dewobroto, Sugeng Wijanto, Toto Ismintarto. (2007). “THE APPLICATION of STM (BASED on ACI 318-02) and FEA
    for THE DESIGN of STRUCTURAL TRANSFER-WALL - Case study : ‘Kota Kasablanka’ Mixed Use Project, Jakarta”, EACEF - The 1st International Conference of European Asian Civil Engineering Forum, Civil Engineering Department, Universitas Pelita Harapan, Lippo Karawaci, Indonesia, 26-27 Sept. 2007,  (down load paper 378 kb) - English version paper
  4. Wiryanto Dewobroto. (2007b). “BLOG : Media Pembelajaran di Era Kampus Digital”, Temu Ilmiah Nasional Dosen Teknik, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara, Jakarta, 29 Agustus 2007 (down-load paper 347 kb)
  5. Wiryanto Dewobroto. (2007a). “STRUKTUR JEMBATAN TERINGAN dan TERKUAT (TERKOKOH) - Studi kasus : Jembatan Model UPH pada KJBI 2005 dan KJI 2006″, seminar “Research and Education in Engineering for Prospected Technology - National Conference on Prospected Technology 2007 (NCPT 2007)”, Universitas Maranatha, 24-25 Agustus 2007, Bandung (down-load paper 199 kb)
  6. Wiryanto Dewobroto .(2006c). “Metode s.t.m untuk Perencanaan Struktur Transfer-Wall Proyek ‘Kota Kasablanka’ Jakarta”, seminar “The 2nd National Civil Engineering Conference”. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Unika Soegijapranata, Semarang, 20 – 21 Desember 2006 (down-load paper PDF 160 kb)
  7. Wiryanto Dewobroto. (2006b). “Ilmu Rekayasa Klasik Sarana Menguasai Program Aplikasi Rekayasa - Studi Kasus: Mekanika Teknik Klasik dan Program SAP2000″, Pembicara Utama dalam Seminar di Pameran Buku Konstruksi Indonesia 2006, R. Sapta Taruna, Gd. Utama Departemen Pekerjaan Umum, Jl. Pattimura 20, Sabtu, 2 Desember 2006 (down-load paper PDF 883 kb dan presentasi 1,620 kb
  8. Beta Patrianto dan Wiryanto Dewobroto. (2006). “Evaluasi Metode Perencanaan Batang Aksial Murni SNI-03-1729-2000 dan AISC-LRFD”, Civil Engineering Conference: Toward Sustainable Civil Engineering Practice , Surabaya, 25-26 Agustus 2006, Universitas Kristen PETRA (down-load PDF)
  9. Ranny Anita dan Wiryanto Dewobroto. (2006).“Strategi Analisis Struktur dengan Kabel Prategang memakai SAP2000”, Civil Engineering Conference: Toward Sustainable Civil Engineering Practice, Surabaya, 25-26 Agustus 2006, Universitas Kriten PETRA (down-load PDF)
  10. Wiryanto Dewobroto, Sahari Besari dan Bambang Suryoatmono. (2006). “Perlunya Pembelajaran Baja Cold-Formed dalam Kurikulum Konstruksi Baja di Indonesia” , prosiding Lokakarya Pengajaran Mekanika Teknik, Konstruksi Beton dan Konstruksi Baja, Jurusan Teknik Sipil, FT Universitas Udayana, Bukit, Jimbaran, Bali (down-load PDF 619 kb)
  11. Wiryanto Dewobroto.(2006a). “Pemrograman sebagai Sarana Pembelajaran Rekayasa”, prosiding Lokakarya Pengajaran Mekanika Teknik, Konstruksi Beton dan Konstruksi Baja, Jurusan Teknik Sipil, FT Universitas Udayana, Bukit, Jimbaran, Bali (down-load PDF 398 kb)
  12. Wiryanto Dewobroto dan Sahari Besari. (2006). “Simulasi Numerik Berbasis Komputer sebagai Solusi Pencegah Bahaya akibat Kegagalan Bangunan”, Presentation and Proceeding at the Seminar Nasional Kegagalan Bangunan, Solusi dan Pencegahannya, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Pelita Harapan, Lippo Karawaci, Rabu 3 Mei 2006 (down-load PDF 771 kb)
  13. Wiryanto Dewobroto. (2005d). “Strategi Penyelesaian Numerik Berbasis Komputer Analisis Lentur Ultimate Penampang Beton (Model Tegangan Parabolik PCA)”, Presentation and Proceeding at the Seminar Nasional Teknologi II, Universitas Teknologi Yogyakarta, 10 December 2005 (down-load PDF 280 kb)
  14. Wiryanto Dewobroto. (2005c). “Masih perlukah mempelajari Mekanika Teknik Klasik dalam Era Serba Komputer ?”, Presentation and Proceeding at the Lokakarya Pengajaran Konstruksi Beton dan Mekanika Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, 13-14 July 2005. (down-load PDF 180 kb)
  15. Wiryanto Dewobroto. (2005b). “Evaluasi Kinerja Struktur Baja Tahan Gempa dengan Analisa Pushover”, Presentation and Proceeding at the Civil Engineering National Conference Sustainability Construction & Structural Engineering Based on Professionalism, Unika Soegijapranata, Semarang, 17-18 Juni 2005 (down-load PDF 784 kb)
  16. Wiryanto Dewobroto. (2005a). “Simulasi Keruntuhan Balok Beton Bertulang Tanpa Sengkang dengan ADINA TM”, Proceeding at the Seminar Nasional Rekayasa Material dan Konstruksi Beton 2005, Jurusan Teknik Sipil – ITENAS, Bandung, Sabtu, 4 June 05. (down-load PDF 453 kb)
  17. Katili, I., Dewobroto, W. (1998). “Analisa Non-linear pada Rangka Batang Ruang dengan Metode Elemen Hingga”, Presentasi dan Prosiding Seminar FTUI Depok : Quality in Research, 4-7 Agustus 1998, ISBN 979-8427-17-3
Books
  1. Wiryanto Dewobroto . (2007). “Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP2000 - EDISI BARU“, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta. 
  2. Wiryanto Dewobroto. (2005). “Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan Visual Basic 6.0 : Analisis dan Desain Penampang Beton Bertulang sesuai SNI 03-2847-2002“, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta
  3. Wiryanto Dewobroto . (2004). “Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP2000“, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.
  4. Wiryanto Dewobroto. (2003). “Aplikasi Sain dan Teknik dengan Visual Basic 6.0“, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.
  5. Dewobroto, W.; Reineck, K.-H. (2002). “Beam with indirect support and loading”, in: Reineck, K.-H. (2002): (Editor): Examples for the Design of Structural Concrete with Strut-and-Tie Models, ACI SP-208 (2002), ACI, Farmington Hills, MI, 145-161.

Pustaka

Dedi Supriadi .(1997). “Isu dan Agenda Pendidikan Tinggi di Indonesia”, Penerbit PT. Rosda Jayaputra Jakarta

115 Comments

115 responses so far ↓

  • ferry // Nopember 30, 2006 at 5:36 pm

    Salam kepada Bapak Wiryanto.

    Nama saya Ferry, saya sekarang melakukan tugas kerja praktek di kampus saya. Saya kuliah di STMIK Mikroskil, Medan. Saya mengambil judul “Aplikasi Rekayasa Rekonstruksi” mungkin judul ini sama seperti buku terbitan pak Wiryanto. Mohon maaf yah pak jika sebelumnya belum memberitahukannya kepada Bapak.

    Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas disediakannya journal-journal maupun paper mengenai teknik sipil, karena sangat sulit sekali mencari journal teknik sipil di internet. Mohon petunjuknya yah pak.

    Mohon maaf kalau ada kata-kata yang salah. Terima kasih

  • I Made Mudiasa // Februari 16, 2007 at 2:03 am

    Salam kenal, saya sekarang ada kuliah Teknologi Beton Bertulang semoga referensi buku - buku dari Bapak berguna bagi saya dalam belajar mata kuliah ini.

  • Othep Eky // April 11, 2007 at 6:21 pm

    Salam sejahtera pak Wir…

    jarang banget dosen yang mo memberi atensi seperti bapak… salute d…
    pak aku mo nanya referensi buku2 tentang analisis dan desain beton bertulang yang metodenya paling baik, sistematis, dan paling ndeketi kebenaran (tlg jelasin kelebihannya?)… karena, selama kuliah beton bertulang aku gak pernah bener2 ngerti secara keseluruhan philosofy atupun cara perhitungannya…
    oh ya, thx buat pak wir yg memberi ruang untuk mendownload materi2 civil eng…

    Gbu

  • wir // April 11, 2007 at 11:18 pm

    Salam sejahtera juga untuk anda , Othep.

    Anda sedang belajar di mana nih ?

    Tentang buku-buku yang baik untuk belajar analisis dan desain beton bertulang, rasanya cukup banyak lho. Kamu udah baca bukuku ke-3 belum yaitu Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan VB 6.0 , itu juga bicara tentang analisis penampang beton bertulang lho. Untuk level intermediate lumayan, yaitu bagaimana memanfaatkan pemrograman untuk membikin hitungan-hitungan beton.

    Selama pengalaman di lapangan (konsultan dengan proyek-proyek real) sampai jadi dosen (mengajar struktur beton 1 dan 2) saya merasa mengetahui bahwa buku-buku yang direkomendasikan untuk menguasai ilmu beton bertulang adalah buku-buku berikut:

    Reinforced Concrete Structures
    by Robert Park and Thomas Paulay
    Hardcover: 800 pages
    Publisher: Wiley (January 1, 2001)
    Language: English
    ISBN-10: 0471659177
    ISBN-13: 978-0471659174

    Book Description :
    Sets out basic theory for the behavior of reinforced concrete structural elements and structures in considerable depth. Emphasizes behavior at the ultimate load, and, in particular, aspects of the seismic design of reinforced concrete structures. Based on American practice, but also examines European practice.

    Reinforced Concrete: Mechanics and Design (4th Edition) (Civil Engineering and Engineering Mechanics)
    by James G. MacGregor and James K. Wight
    Hardcover: 1314 pages
    Publisher: Prentice Hall; 4 edition (December 16, 2004)
    Language: English
    ISBN-10: 0131429949
    ISBN-13: 978-0131429949

    Book Description :
    This book explains the theory and practice of reinforced concrete design in a systematic and clear fashion with an abundance of step-by-step worked examples, illustrations, and photographs. This book focuses on preparing readers to make the many judgment decisions required in reinforced concrete design. Coverage includes flexure, torsion, continuous beams, columns, two-way slabs, footing, walls, design for earthquake resistance, and more. For professionals in the field who need a comprehensive reference on concrete structures and the design of reinforced concrete.

    Seismic Design of Reinforced Concrete and Masonry Buildings
    by Thomas Paulay and M. J. N. Priestley
    Hardcover: 768 pages
    Publisher: Wiley-Interscience (March 1992)
    Language: English
    ISBN-10: 0471549150
    ISBN-13: 978-0471549154

    Book Description
    Emphasizes actual structural design, not analysis, of multistory buildings for seismic resistance. Strong emphasis is placed on specific detailing requirements for construction. Fundamental design principles are presented to create buildings that respond to a wide range of potential seismic forces, which are illustrated by numerous detailed examples. The discussion includes the design of reinforced concrete ductile frames, structural walls, dual systems, reinforced masonry structures, buildings with restricted ductility and foundation walls. In addition to the examples, full design calculations are given for three prototype structures.

    Aku yakin jika kamu menguasai teori-teori pada ke tiga buku tersebut dan tahu menempatkan teori-teori tersebut ke pada kondisi aktualnya (real) maka kamu udah jadi expert lho. Saya saja baru menguasai sedikit dari buku-buku tersebut, tetapi meskipun sedikit aku merasa telah menjiwainya. Bayangkan kalau banyak wah sip dong. :)

  • othep // April 12, 2007 at 4:55 pm

    Thx pak wir…
    aku kuliah di sipil trisakti…
    kita pake buku Reinforced Concrete: Mechanics and Design (4th Edition) (Civil Engineering and Engineering Mechanics)
    by James G. MacGregor and James K. Wight

    thx

  • Sarwa // April 25, 2007 at 8:51 am

    Salam hormat,

    Baru kali pertama saya mengakses karya tulis Bapak di web ini.
    Saya sangat respek dan tertarik dengan dedikasi, fokus kajian, yang terutama membahas tentang subtansi ilmu Teknik Sipil dan memberikan sumbangan pemikiran tentang metode pembelajarannya.

    Sebagai dosen saya menungggu info (karya) terbaru. Saya mohon bantuan (sambungan/link) dengan sosok pakar di Indonesia yang menggeluti sub bidang kajian rekayasa forensik (utk beton pasca bakar).

    Atas bantuannya terima kasih

    Sarwa, Tek. Sipil UNIMED, Medan

  • wir // April 25, 2007 at 9:19 am

    Terima kasih pak Sarwa,

    Apakah buku saya SAP2000 Edisi Baru telah beredar di institusi Bapak ?
    Saya berharap bapak membantu mensosialisasikan di kampus tersebut.

    Salam untuk teman-teman dosen di sana dari kami di UPH. Saya berharap civitas akademi UNIMED ada yang hadir dalam konferensi international kami besok tanggal 26-27 September 2007. Info lebih lanjut lihat http://eacef.wordpress.com

    **up-dated Mei 2007**

    O ya ada yang lupa ya, tentang ahli yang menggeluti forensik
    Coba deh hubungi Prof. Dr. Ir. Bambang Soehendro, M.Sc.di Jurusan Teknik Sipil UGM, pernah lihat beliau punya tungku bakar di laboratorium strukturnya khusus untuk bakar-bakar material dan kalau tidak salah beliau juga punya publikasinya. Kecuali beliau, di sana ada juga Dr.-Ing. Ir. Andreas Triwiyono, yang tempo hari sibuk dengan evaluasi bangunan yang kena gempa. Kelihatannya bapak Andreas saat ini juga sedang dalam proses ke Prof juga

  • Hartanto Wibowo // Mei 25, 2007 at 12:39 pm

    Pak Wir,
    Saya ada saran, gimana kalo bukunya Pak Wir yang terbaru jg di-share di sini? Itung2 berbagi gitu… Atau kalau tidak, mungkin yg edisi terdahulu?

    Jika penerbit tidak mengizinkan, mungkin boleh di-upload beberapa bagian saja, jadi yang tertarik dapat langsung beli.

    Hitung2, promosi juga sih, seperti di amazon.com kan juga ada beberapa bagian yang ditampilkan sehingga yang berminat bisa langsung pesan. Hehehe…

    Thanks.
    Salam,
    H. W.

  • wir // Mei 25, 2007 at 2:05 pm

    He, he, he . . .
    tapi ini bukan amazon lho :-

  • Robertus Adithya // Mei 25, 2007 at 4:54 pm

    Pak Wiryanto, perkenalkan nama saya Robertus. Terima kasih karena saya senang dengan adanya website ini, karena dari ini kita dapat belajar banyak.

    Saya saat ini dengan menghadapi tesis untuk program magister di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta jurusan manajemen konstruksi. Saya ingin mengambil judul mengenai kegagalan bangunan dan solusinya.

    Saya mohon adakah saran untuk saya dan juga adakah sumber-sumber ataupun buku / journal yang dapat menjadi referensi saya.

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
    GBU

  • Michael // Mei 26, 2007 at 3:45 am

    Wah, saya sedikit terkejut dan miris jg melihat jawaban/komentar Pak Wir untuk saran dari Sdr. Hartanto:
    **tapi ini bukan amazon lho :-**

    Apalagi setelah saya membaca bahwa Pak Wir juga menganut falsafah hidup seperti di ayat Amsal:

    “Orang yang banyak memberi akan berkelimpahan,
    orang yang suka menolong akan ditolong juga.”
    (Amsal 11:25)

    Jadi terkesan bahwa Pak Wir ingin memberikan secara gratis karya cipta orang lain, tetapi tidak ingin men-share-kan karya sendiri. Padahal kan karya orang lain tersebut juga belum tentu diedarkan secara gratis. Kan sama saja dengan menyosialisasikan pembajakan ? Padahal untuk SAP 2000 saja Pak Wir menganjurkan yang student version agar tidak berperilaku membajak.

    Jadi, saya rasa tidak ada ruginya membagi ilmu, benar kan Pak Wir ?

    Komentar saya ini tidak bertujuan untuk memancing public opinion yang negatif tentang Bapak, tapi mungkin dapat menjadi suatu kritik terbuka untuk kemajuan kita bersama.

    Hidup dunia pendidikan teknik sipil Indonesia!
    Michael - ITS

  • wir // Mei 26, 2007 at 4:10 am

    O begitu ya ?

    Rambut sama-sama hitam (atau ubanan) tetapi pendapat bisa berbeda-beda. Yah itulah manusia mas, mungkin maksudnya baik, tetapi belum tentu baik bagi orang lain, contohnya yang sekarang lagi rame adalah antara pak Amien dan pak SBY.

    Untuk itulah yang penting adalah dari diri sendiri, yaitu harus yakin bahwa apa-apa yang dilakukan adalah yang terbaik, karena yang mengetahui secara detail adalah kita sendiri, pelakunya. Oleh karena kita sendiri jugalah yang akan mempertanggung-jawabkan nanti di bumi maupun di akherat. Penting juga dipahami bahwa memberi saran boleh-boleh saja, tapi namanya juga saran, yang mempertanggung-jawabkan semuanya adalah yang melakukan tindakan itu dan bukan pemberi saran.

    Memang sih, yang ada di sini baru sebagian dari yang saya punya, juga sebagian dari karya saya juga, belum semuanya, yang berkaitan dengan disertasi saya maka harus saya keep terlebih dahulu (sesuai saran promotor). Untuk mendapatkan hikmat apa yang sebaiknya kita kerjakan memang susah memahaminya apalagi orang lain, selain itu menjadi orang itu ya jangan hantam kromo aja sekedar mengikuti apa yang ada di ayat. Harus bijak memahaminya.

    Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. …

    .., ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ..
    .., ada waktu untuk mencari, … , ada waktu untuk membuang; …

    Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, …
    (Pengkotbah 3:1-11)

  • Hartanto Wibowo // Mei 26, 2007 at 4:36 am

    Wah-wah…, mungkin pendapat Pak Wir ada benarnya, Pak Michael juga ada benarnya, terserah pribadi masing-masing deh… hehehe… Saya yakin bahwa semua manusia pasti memikirkan yang terbaik sebelum bertindak :)

    Tapi kalo cuma menampilkan cover depannya bisa gak, Pak ? Supaya ketika hunting di toko buku dapat langsung tahu, kan eye-catching gitu daripada kelamaan nyari… hehehe…

    Saya rasa kalo saran saya yang ini sangat mungkin dipenuhi ya, Pak ? :)

    Thanks.
    Salam,
    H. W.

  • wir // Mei 26, 2007 at 9:49 am

    Salam mas Hartanto,

    Terima kasih atas pemahaman yang anda berikan.

    Untuk cover buku yg berwarna khan udah lama nongol di :
    http://wiryanto.wordpress.com/2007/03/20/karya-ilmiah-utama-ke-4-april-2007/

    Wah mas Hartanto ini belum menjelajah dengan benar blog ini ya, saya yakin deh, sekali kunjungan nggak tuntas. Juga saudara michael yang telah men-judge saya sbg :

    “terkesan bahwa Pak Wir ingin memberikan secara gratis karya cipta orang lain, tetapi tidak ingin men-share-kan karya sendiri”

    He, he tapi nggak apa-apa koq, kalau sudah semakin mengenal mungkin beda nanti.

  • daisy // Juni 9, 2007 at 11:54 am

    Pak wir,..
    ups…uda lama banget aku g buka blog ini p, k/ kesibukan kampus, jadinya aku belum baca balasannya p’ Wir (makasih) ‘n kayaknya udah dihapus ya p’, he..tapi g pa pa…

    gini p’ ada hal baru yang mo aku tanya lagi, bole ya…
    aku pengen ambil judul skripsi tentang perhitungan Kolom bulat (mungkin program komputer diagram interaksi kolom bulat) selama ini kan adanya kolom persegi kan p ?!

    Menurut bapak gimana ya? Referensinya apa ya ? Katanya kalo mau buat program komputer harus belajar algoritma gitu ya p’?

    Makasih ya p”, aku pengen ajuin ini ke dosen tapi masi belum yakin ..
    gitu aja pa..
    J B U …

  • wir // Juni 9, 2007 at 12:11 pm

    Diagram interaksi kolom bulat. Selama ini kan adanya kolom persegikan !

    Wah ini Daisy ketinggalan, itu di buku karanganku yang ketiga (lihat di http://wiryanto.wordpress.com/2005/12/31/karya-ilmiah-utama-ke-3-2005/ ), saya sudah membuatkannya LENGKAP pakai Visual Basic 6.0, ada CD-nya sekalian.
    Pokoknya kalau baca buku tersebut dijamin puas-puas ! :D

    O ya, ini khan komentarmu yg terakhir
    http://wiryanto.wordpress.com/2007/02/24/tip-tip-menulis-skripsi/#comment-1713

  • daisy // Juni 11, 2007 at 10:49 am

    he,..y maap p’ (emang ngga gaul di sipil), soalnya kemaren ini saya baru beli buku pak yang aplikasi sains dan teknik dengan VB 6.0, jadi belum tahu kalau sudah ada..^__^
    ok deh nanti aku cari bukuny,..
    terus begini pak, TA aku pengen buat program sipil.kalau diagram interaksi kolom sudah ada, gimana kalau diagram interaksi balok ? atau ada mungkin p’ ada usul program lain yang lebih menantang dan belum pernah ada..?
    he..ngga pa-pa kan pak konsultasi gratis sama pak sebelum sama calon dosen pembimbingku soalnya dia agak sedikit killer…
    makasih y pak!
    G B us

  • wir // Juni 11, 2007 at 11:40 am

    “sedikit killer”
    Ah emangnya ada dosen yang killer? Kalau kebetulan beliau ngasih nilai jelek tidak seperti yang diharapkan, itu belum tentu killer lho.

    Aku juga sering gitu, itu di UTS (Ujian Tengah Semester) itu ada yang nilai di atas 80 ada sekitar 30%, tapi yang dibawah 50 ada lebih dari 50%. Mau ngasih baik, tetapi pekerjaan anak-anaknya nggak bunyi itu. Serba salah. Jadi ya begitulah. Tapi itu bukan killer.

    Yang killer itu kalau ngasih nilai 100% padahal mahasiswanya belum tahu apa-apa. Merasa telah pinter, tapi waktu di lapangan, ketemu kasus nyata, gawat itu. Itu namanya baru killer bagi masa depan mahasiswa tersebut.

    Eh omong-omong siapa sih dosennya ? He, he.. :D

  • daisy // Juni 12, 2007 at 8:38 am

    hee..koq jadi curhat ya…
    setuju banget pak..
    emang sih bukan killer cuma aku emang agak segan sama ‘beliau’ soalnya emang tidak terlalu dekat..
    wah pak pasti tahu, dosen Atma Jaya inisialnya ‘YA’ (semoga dia g buka blog ini, he..)
    he.. tahu kan pak? Mau salam ngga pak?
    ngga,dia ngga killer koq, kemaren salah ketik..(ralat)
    Btw pak, kayaknya pertanyaan saya koq belum dijawab ya…he…
    makasih..
    GBus

  • Nanda // Juni 12, 2007 at 9:14 am

    pak wiryanto,perkenalan nama saya nanda,minta makalah tentang perencanaan jalan rel.soalnya saya mahasiswa dari riau yang disi referensi buku masih kurang.please ya pak.thanks.

  • wir // Juni 12, 2007 at 10:59 am

    **daisy**
    hiya deh, untuk murid-nya pak Yoyong dan pak Ade, bolehlah.

    “gimana kalau diagram interaksi balok ? ”
    lho anda tahu nggak yang dimaksud engan diagram iteraksi, itu khan diagram hubungan P-M, sedangkan di balok khan hanya ada M saja. Jadi gimana itu.

    Untuk balok itu, diagram momen kurvature, yah bolehlah itu. Di bukuku udah tak masukkin belum ya. Itu juga gampang (menurutku).

    “yang lebih menantang dan belum pernah ada..?”
    wah itu bagus, orisinil, kalau begitu bukan lagi S1, itu S3 lho. Gimana ?

    **Nanda**
    dokumen pdf ttg “perencanaan jalan rel” aku belum punya.

  • daisy // Juni 13, 2007 at 11:05 am

    YUp.wah aku musti banyak belajar dan baca lagi, baru tanya sama bapak..
    tapi pasti bisa..(maklum ini lagi idealis-idealisnya pak)..
    doain ya pak biar TA nya maksimal…
    Nanti kalau bingung aku tanya pak lagi..
    Trima kasih pak.. ^_^

  • sofiyuddin // Juni 14, 2007 at 8:35 am

    Perkenalkan saya sofiyuddin, baru lulus dari UGM tahun 2004 skr saya bekerja di Kontraktor, saya sering menangani proyek tentang perkuatan struktur beton dengan FRP (Fibre Reinfocement Polymer), mungkin pa wir bisa memberikan bantuan untuk info makalah atau buku2 yang membahas soal itu.

    Terima kasih pak….

  • wir // Juni 14, 2007 at 9:01 am

    Yah saya sering dengar, salah satunya produk SIKA . Di Internet banyak koq dijumpai makalah-makalah yang membahas hal tersebut (dari judul-judulnya aja lho). Karena terus terang saya sendiri belum pernah ngulik secara langsung.

  • Richard // Juni 14, 2007 at 12:18 pm

    Pak wir… klo ga salah merry’01 skripsi nya analisa CFRP kan? carbon fibre reinforcement polymer… bener ga ya? lupa2 inget si… Klo bener mungkin bisa bantu Pak Sofiyuddin

  • wir // Juni 14, 2007 at 12:28 pm

    Betul Richard, aku tahu produk Sika karena aku ingat pak Ben (Dr.Ir. Benjamin Indrawan, dosen UPH) bawa petunjuknya itu.

    Tapi aku sendiri nggak terlalu perhatian, meskipun mungkin diantara ribuan file-file pdf-ku mungkin ada. Nyarinya itu lho, harus buka satu persatu file-file tersebut karena nama file belum tentu cocok dengan isinya. Jadi menurutku nyari di internet bisa lebih gampang, gitu lho penjelasannya.

  • hendrik // Juni 14, 2007 at 1:26 pm

    Untuk sdr. sofiyuddin…
    Mengenai perkuatan struktur dengan FRP (Fibre Reinfocement Polymer) sempat menjadi pembahasan saya pada saat kerja praktek..

    FRP digunakan pada saat untuk menghindari penggunaan grouting untuk perkuatan struktur beton..

    Yang saya ketahui dari produk sika, ada 2 macam.

    1. Sika wrap (down-load file PDF 99 kb), digunakan untuk memberikan perkuatan balok terhadap kuat geser. Jadi sika wrap ditempel dengan lem khusus (Sikadur) sepanjang sisi samping balok, umumnya hanya pada daerah tumpuan. tebalnya hanya 0.131mm

    2. Sika CarboDur Plates (down-load file PDF 105 kb), digunakan untuk memberikan perkuatan lentur terhadap balok. Berupa plat, dengan penampang, lebar 50 mm, tebal ada yang 1.4 mm dan 1.2 mm. Ditempel disepanjang bagian bawah balok

    Untuk lebih jelasnya, brosur2nya sudah saya kirimkan ke pak wir via e-mail (wir: udah saya link ke atas)
    salam

  • daisy // Juni 20, 2007 at 5:52 am

    Pak Wir,..
    Untuk menguasai baja kira-kira referensinya apa ya? Kalau dosen ku selama ini pakai acuan baja yang dari kanada. Ada tidak buku lain yang bisa bapak rekomendasikan…
    Trimakasih ya pak…

  • wir // Juni 20, 2007 at 6:04 am

    kanada dan amerika mirip koq, bahkan ada yang dipakai berdua. Saya juga kebanyakan dari sana koq sedangkan eropa dan inggris nggak terlalu familiar. Padahal katanya juga baik (lebih konservatif). Tapi jepang aja juga banyak ngutip AISC, jadi saya juga ikutan aja.

  • Ageng Fris // Juni 20, 2007 at 1:48 pm

    Pak wir…
    Perkenalkan saya mahasiswa unibraw malang, kapan maen2 k malang Pak?

    saya ingin tanya2 ke bapak. saya sekarang sedang nulis skripsi tentang strut-and-tie model n saya pernah baca di blog bapak, klo g salah bapak pernah ngeluarin buku tentang STM. Saya coba cari d malang belum ada yg jual tuh pak…
    1. Klo boleh minta info kontak person untuk pemesanan buku itu? n brapa harganya? he.he.
    2. STM kan berhubungan dengan trayektori tegangan, bagaimana tjara membuat trayektori n referensi yang bisa digunakan?, seingat saya bapak pernah menyarankan untuk menggunakan ADINA,

    mohon petunjuknya
    sebelumya saya ucapkan trims

  • wir // Juni 20, 2007 at 2:36 pm

    Buku STM berbahasa Indonesia yang nulis Prof. Harianto Hardjasaputra dari UPH juga. Beliau adalah murid langsung dari pencipta STM tersebut yaitu Prof. Jorgh Schlaich dari Uni Stuggart.

    Tulisan saya tentang STM nebeng pada bukunya Prof. Reineck, yang sekarang nerusin STM di negaranya sana, Jerman (Uni Stuttgart).

    Tulisan saya yang terbaru ttg STM adalah yang akan saya presentasikan di EACEF nanti, yaitu perbandingan pemakaian STM dan FEA (Abaqus) utk perencanaan transfer-wall di proyek “Kota Kasablanca”, Jakarta.

    O ya, kalau anda serius mendalami STM maka konferensi internasional EACEF di UPH besok tanggal 26-27 September 2007 , itu wajib hukumnya. Akan datang tiga (3) profesor dari Jerman, salah satunya itu ya Prof. Reineck muridnya pencipta STM dan juga ketua tim perumusan STM di ACI USA. Jadi mulai sekarang nabung gitu.

    Ttg trajektori bisa digunakan program komputer Adina atau Abaqus atau Ansys. Pokoknya program fea yang sekelas itu.

  • Herman Widjaja // Juni 23, 2007 at 4:14 am

    Pak Wiryanto, saat ini saya sedang mempelajari Analisa Non Linier, mohon bantuannya untuk mendapatkan bahannya (FEMA, ATC, LITERATUR) dalam bentuk PDF agar dapat saya dowl load.
    Trimakasih.

  • wir // Juni 23, 2007 at 11:18 am

    silahkan pelajari artikel saya di
    http://wiryanto.wordpress.com/2007/03/16/menghadapi-bahaya-gempa/
    dan ikuti link-nya. Cukup lengkap sih untuk mengenal FEMA dsb-nya.

  • Doddy Indrawan // Juni 24, 2007 at 1:14 pm

    Saya salah satu penggemar Bapak, karena saya suka membaca buku “Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP 2000″ karangan Bapak, mulai dari versi lama hingga versi yang terbaru (cover merah).

    Tapi dari versi lama hingga yang terbaru, Bapak belum mengulas cara rekayasa konstruksi bangunan gedung 3D lengkap, jadi ada gabungan antara desain balok dan baja, dan bagaimana jika ada balok anak di buku Bapak kalau tak salah (karena pada saat menulis ini saya tidak bawa buku bapak) balok anak dibuat tumpuan spring, tapi bapak belum mengulasnya secara jelas jika digabungkan menjadi struktur 3D), tolong kalau ada versi buku yang lebih baru lagi diulas ya Pak…

    Saya salut dengan pak Wiryanto karena suka bagi-bagi ilmu….salut!!! Jempolan!

    Saya lulusan fresh graduate dari universitas di Semarang.

  • Andy Prabowo // Juni 26, 2007 at 4:23 am

    Sorry lho pak wir kalo saya kebanyakan nanya… namanya juga mhs dan bpk kan dosen,hehe…
    oya pak ada yang terlupa kalo di SAP cara mengetahui perilaku join bagaimana??? bisa tidak kita melihat detil joint itu?? oya pak kalo membandingkan EBF dan shear wall dari apanya pak?? variabel yg saya bandingkan apa?? atau saya membandingkan dari hasil desainnya??
    Thanks.

  • wir // Juni 26, 2007 at 11:22 pm

    @Dody:

    konstruksi bangunan gedung 3D lengkap

    Untuk jadi buku maka topik itu rasanya tidak menarik. Kenapa ? Karena terlalu spesifik, yang butuh hanya tertentu aja. Padahal jika jumlah halaman sedikit, nggak tertampung, tetapi jika jumlah halaman banyak, bukunya tebal, mahal, jadi nggak ada yang beli.

    Disebut spesifik karena konfigurasi bangunan gedung bisa bermacam-macam, tergantung proyek, sedangkan isi buku hanya dapat mencakup satu konfigurasi aja. Quantity banyak tetapi qualitity biasa aja, nggak ada yang unik. Jadi cocoknya itu adalah Laporan Perencanaan Struktur suatu Proyek tertentu, untuk diberikan ke owner bukan dibuat jadi buku.

    @Andy:
    Detail joint tidak digambarkan (diinputkan) secara detail dalam SAP. Kalau mau seperti itu, pakai program ABAQUS atau ANSYS atau sejenisnya.
    Perbandingan yang dimaksud, bisa saja drift rasio, yaitu dengan kekakuan tertentu (persyaratan lendutan lateral tertentu terhadap gempa) berapa volume baja atau beton yang diperlukan. Atau dibalik, dengan base-shear yang sama berapa kekakuan lateralnya. Detailnya, tanya dosen anda lha.

  • andri // Juli 18, 2007 at 10:52 am

    Salam kenal Pak ?
    Pak Wir di mana saya bisa dapat buku-buku Bapak ?
    di Gramedia nggak bisa saya temukan ? Apa kebetulan habis, atau saya kurang teliti mencarinya.
    Terima kasih.

  • wir // Juli 18, 2007 at 10:56 am

    anda di kota mana ?

    Kalau jabodetabek mestinya masih banyak ya, kemarin lusa saya main ke Gramedia Mal Metropolitan Bekasi, disana masih ada buku SAP2000 - EDISI BARU sebanyak 12 buah lho.

    Biasanya Gramedia Matraman juga lebih banyak. Kalau anda di daerah, mungkin saja, tempo hari ada kabar di kota Padang, toko bukunya hanya punya stock 5 buah. Jadi ya cepet habis. :)

    Untuk mencarinya, coba pakai komputer data-base-nya, cukup teliti koq, kecuali kalau tinggal satu, di komputer ada, tapi di rak-nya nggak ada. Kata kunci pakai pengarang : Wiryanto Dewobroto. Biasanya kalau saya main ke toko buku, saya chek pakai itu, cocok koq antara komputer dan rak-nya. Jadi tahu kalau habis atau masih ada stock. Kalau bukunya habis, pengarangnya seneng tapi yang akan beli kecewa. He, he, … :D

    Gitu mas.

    Note : kalau buku-buku saya yang lama, udah pada habis sih. Laris, tapi belum kayak pisang goreng, katanya.

  • Khobul // Juli 27, 2007 at 3:37 am

    Salam pak wir..!
    Pak bukunya yang berjudul Aplikasi Rekayasa ….edisi 1 susah lho nyarinya di jogja, mungkin saking larisnya ya?
    Saya ingin pesan harus ke mana ya?
    Saya sudah coba ke kantor cabang penerbitnya di jogja tapi gak ada!
    Kalau buku edisi ke-2 saya dah beli!

    Oh Ya pak ada yang ingin saya tanyakan mengenai pemberian beban di sap.
    Jika kita ingin memberikan beban gravitasi secara manual pada komponen balok dan kolom dalam hal ini beban matinya, apakah koef. 1 pada self weigh multiplier untuk Dead load atau faktor penghitung berat sendiri harus dimatikan? bagaimana jika tidak? apakah beban yang didistribusikan menjadi 2 x berat sendiri sehingga mengakibatkan over load?

    Thank’s ya pak atas arahannya!!!

  • wir // Juli 27, 2007 at 1:09 pm

    sdr Khobul,

    Fungsi koef pada self weight multiplier akan mudah dipahami jika anda membikin suatu studi kasus. Itu ada hubungannya dengan luas penampang dan berat jenis material yang digunakan.

    Coba buat balok sederhana di atas dua perletakan, pakai penampang persegi (buat otomatis) lalu bandingkan dengan hitungan manual bila koef =1 atau koef=0.

    Gitu mas.

    Note: kayaknya dibukuku udah ada contohnya.

  • Hartanto Wibowo // Juli 29, 2007 at 4:15 pm

    Untuk Sdr. Khobul,

    Mungkin untuk lbh praktisnya, jawabannya adalah IYA. Jika Anda memasukkan berat sendiri struktur secara manual (pada suatu load case tertentu), maka Anda harus memberikan nilai self weight multiplier pada dead load sebagai 0 (nol). Hal ini perlu untuk mencegah program menghitung efek berat sendiri secara dobel.
    Mungkin ini dapat sedikit membantu.

    Salam,
    H.W.

  • theli // Agustus 8, 2007 at 6:26 am

    halloooo….pak Wir !!!
    saya theli…pak, saya baru bekerja…
    tempat saya kerja banyak membangun baliho dan bando…juga ada billboard…
    pak wir, saya minta saran-saran dan tata cara perhitungan rangka batang struktur baliho…
    pak Wir!!! tolong kasi tau file PDF yang mana membahas tentang analisa rangka, terutama tentang analisa rangka baliho ….
    please ya pak!!!
    thax pak Wir

  • wir // Agustus 9, 2007 at 12:24 am

    sdr Theli,
    Terus terang saya kaget dengan pertanyaan anda. Akhirnya agar berpikiran positip maka saya perlu tahu baliho atau bando macam mana yang Theli maksud. Mungkin istimewa (tidak sama dengan yang dijalan-jalan).

    Jika baliho atau bando yang ‘biasa’ aja tentunya sebagai Sarjana Teknik Sipil mestinya sudah ‘bisa’. Karena kalau tidak bisa, lalu apa beda kompetensi dengan sarjana yang lain. :(

    Kenapa saya ngomong begini, karena kadang-kandang dalam pengajaran mekanika teknik, pengajaran struktur baja atau pengajaran struktur beton, saya sering memberi illustrasi bagaimana menghitung / mendesain struktur-struktur sederhana.

    Menurut saya, baliho dan bando tergolong struktur-struktur sederhana. Paling-paling anda harus hati-hati mendefinisikan beban angin atau gempa yang akan dipakai.

  • freddy sibarani // Agustus 9, 2007 at 6:11 am

    salam pak wir..
    salam kenal dari saya.
    saya seorang mahasiswa teknik sipil disalah satu PTS dibandung.
    nama saya Freddy.S.
    sekarang ini saya mempunyai kesulitan mengenai judul tugas akhir (skripsi) dibidang konstruksi..
    jika bapak tidak keberatan saya mohon bantuan bapak judul apa yang bisa saya peroleh..
    bebrapa waktu yang lalu yang mempunyai judul dibidang jalan raya dan transportasi tapi ketika di presentasikan kepada dosen beliau tidak setuju, sehingga saya mempunyai keinginan untuk mencoba dibidang yang lain…
    untuk itu saya mohon dengan sangat bantuannya..
    mohon maaf jika permohonan saya ini mengganggu waktu bapak..
    terima kasih atas perhatiaannya…

    wasalam….

  • wir // Agustus 9, 2007 at 6:29 am

    Pertanyaan anda “untuk minta judul” tidak menyelesaikan permasalahan.

    Anda harus mencari penyebab mengapa presentasi anda ditolak oleh dosen anda.

    Apa karena topik tidak sesuai dengan keahlian beliau atau karena permasalahan yang akan anda teliti tidak jelas.

    Jadi menurut saya tidak sekedar judul, yang bisa apa saja asalkan anda bisa menjelaskan alasan-alasan secara logis dan ilmiah secara baik.

    Begitu saran saya.

    Note : kelihatannya anda sudah bertanya hal yang sama sebelumnya, untuk itu silahkan lihat artikel di link yang saya berikan

  • Khobul // Agustus 28, 2007 at 5:10 pm

    Salam pak wir!!

    Thank’s atas penjelasannya, pak! Makasih juga buat sdr. HW yang memberi dukungan.
    Ada lagi loh pak yang ingin saya tanyakan, boleh ya pak? Maaf merepotkan !!

    1. Saya ingin tanya mengenai perbedaan pusat rotasi dan pusat kekakuan. Di SNI 1726 sudah dijelaskan bahwa pusat kekakuan bukan merupakan pusat rotasi mengenai perbedaannya tetapi dari contoh-contoh yang saya dapatkan kebanyakan tetap menggunakan pusat kekakuan (CR) dalam perhitungan struktur. SNI tidak menjabarkan tata cara menghitung pusat rotasi. Dalam peraturan lain misal UBC 94 dipaparkan rumusnya tetapi saya kesulitan memahaminya. Mohon penjelasannya?

    2. Pertimbangan retak dalam perhitungan struktur pada buku (Prof. Wiratman-ITS Press) harus diperhitungkan untuk balok dan kolom. Aplikasinya pada SAP 2000 apakah koef. atau faktor pengalinya dimasukkan di option set modifier-dalam define frame section masing-masing balok / kolom? Terima kasih pak!

  • khobul // September 3, 2007 at 4:53 am

    Siang pak!!
    Maaf pak saya mau meralat isi pertanyaan no 2, maksud saya pada buku nya Rachmat Purwono, dkk. Pak Wiratman yang memberikan pengantarnya. Maaf ya pak Rachmat!

  • saleh // September 5, 2007 at 4:12 am

    Halo pak wir..

    Saya mau tanya pak!

    Saya pernah menghitung struktur bangunan sudah “jadi” awalnya seperti ini pak wir! Ada proyek pembangunan asrama mahasiswa 2 lantai di kota saya. “Proyeknya” Lagi berjalan dan hampir selesai mendekati 75 % dari keseluruhan tersebut. tapi perhitungan stukturnya belum ada, nah..! untuk melengkapi “persyaratan” proyek, saya diminta pihak perencana menghitung strukturnya.

    Saya menghitung menggunakan SAP2000 dengan 3 D, dengan bentuk sama persis strukturnya. Setelah dihitung hasilnya ada dimensi balok tidak memenuhi strandart (0/S) SAP2000, ukuran dimensi balok tersebut 25/30 cm panjang balok tersebut 8 meter ditengahnya ada balok anak dengan dimensi yang sama. Beban yang saya ambil untuk dinding 250 kg/m’ dengan ketinggian 4 m, beban trapesium plat lantai + penggantung + keramik 350 kg/m2 beban hidup 250 kg / m2, kekuatan reduksi sesuai SKSNI. Kombinasi beban 1.2 DL + 1.6 LL. Dengan kualitas beton saya anggap hanya memakai K 125 karena pihak kontraktor tidak ada test uji beton.

    Yang jadi pertanyaan saya. Ternyata di lapangan bangunan itu masih berdiri kokoh tanpa ada mengalami retak, kalau saya perhatikan balok hanya mengalami lendutan di tengah persis di perpotongan balok ada sekitas 1 cm -1.5 cm, apakah sap 2000 terlalu “hati-hati” didalam mendesign perhitungan sehingga struktur yang masih “relatif” aman tapi sap 2000 menganggap tidak aman karna melihat fakta di lapangan bangunan masih berdiri kokoh tanpa ada retak.

    Padahal bangunan tersebut pada saat diresmikan oleh pihak pemda banyak yang masuk kedalam bangunan tersebut dalam arti beban hidup 250 kg/m2 sudah terpenuhi.

    pak Wir saya minta tanggapannya tentang kasus ini terima kasih banyak pak…..

  • wir // September 5, 2007 at 6:09 am

    Sdr Saleh,

    Sebelum menjawab pertanyaan anda secara detail, marilah kita mencoba mengingat kembali kejadian gempa yang baru saya melanda kota Yogyakarta tempo hari.

    Banyakkah korban yang berjatuhan ? Mengapa itu bisa terjadi ?

    Itu bisa terjadi karena pelaku yang membangun rumah-rumah yang hancur tersebut mempunyai keyakinan yang sama dengan pendapat anda. “Ternyata yang nggak ada hitungan-nyapun ternyata tidak apa-apa, tidak ada yang retak !. Jadi program SAP2000-nya yang nggak bisa dipercaya”.

    Pendapat yang sama juga ada pada pelaku-pelaku kontruksi tradisionil. Para tukang-tukang, bahkan pemborong-pemborong bangunan. Karena pengalamannya dengan keberhasilannya membangun, maka untuk selanjutnya mereka membangun dengan feeling (tanpa hitungan). Asumsinya, toh selama ini tetap berdiri, bahkan untuk yang di Yogyakarta tersebut sudah banyak yang berdiri puluhan tahun dan aman-aman saja. Sampai kejadian itu terjadi.

    Jadi kalau begitu kita ngitung untuk apa pak, jika nggak retak ! (tampang lugu). Kalau begitu structural engineer nggak penting ya. (tampang sinis).

    Hal-hal seperti itu pulalah yang kadang-kadang membuat saya menolak untuk menghitung rumah tinggal, atau bangunan sederhana lainnya.

    Masalahnya sebenarnya sederhana. Gimana pak Wir ?

    Begini. Kita mengetahui bahwa elemen-elemen pendukung bangunan pada dasarnya mempunyai kekuatan atau ketahanan tertentu. Misalnya, merubuhkan tembok dengan tangan telanjang, susah bukan ! Padahal rumah atau bangunan asrama pada umumnya banyak terdiri dari tembok-tembok pemisah. Jadi keberadaannya tentu saja akan menyumbang kekuatan bangunan tersebut khususnya terhadap pembebanan vertikal (dalam skala tertentu juga horizontal).

    Selanjutnya ketika anda menganalisanya dengan program SAP2000 maka tentunya anda akan mencoba menangkap model struktur dari bangunan real tersebut bukan. Bagaimana sekarang model struktur yang anda buat. Anda bilang sekarang dinding sebagai beban, apa betul seperti itu. Akibat strategi pelaksanaan maka bisa saja dinding bukan sebagai beban tetapi sebagai penahan beban. Jika dinding dipasang, baru kemudian balok beton dipasang diatasnya, maka jelas dinding itu bukan beban tetapi tumpuan bagi balok.

    Padahal pemodelan di SAP2000 tidak menganggap sebagai tumpuan, dianggapnya sebagai portal.

    Cara pemodelan dan pelaksanaan yang berbeda tersebut jelas akan menghasilkan keluaran program SAP2000 yang tidak valid untuk mengevaluasi bangunan yang anda bilang aman tersebut.

    Juga untuk struktur-struktur sederhana, karena mungkin ukurannya yang relatif tidak berbentang lebar, juga bebannya relatif ringan. Maka dengan memakai detail yang relatif minimumpun akan tetap dihasilkan kemampuan yang memadai (nggak perlu hitungan civil engineer). Bahkan untuk beban-beban yang standar, karena bebannya yang ringan maka nggak perlu struktur betonpun bangunan tersebut sebenarnya bisa berdiri (pakai tembok batu bata), maka jika ada struktur betonnya pasti akan lebih baik.

    Yang terakhir, jika ternyata struktur real dalam kenyataan bisa berdiri dengan baik, sedangkan hasil analisis saudara menyatakan seharusnya rusak, maka jelas bahwa pemodelan struktur yang anda gunakan untuk mengevaluasi struktur real tersebut belum tepat. :(

    Anda perlu belajar lagi dong. :D

  • badaruddin // September 5, 2007 at 11:29 am

    Pak Saleh,

    Sedikit menambahkan, perlu anda ketahui bahwa pada saat design penampang struktur ada faktor safety yang anda maksudkan yaitu :

    1.kombinasi pembebanan beban mati anda kalikan 1.2 sementara beban hidup anda kalikan 1.6, pada saat peresmian apakah beban yang terjadi melapaui kombinasi pembebanan ini?

    2. nilai kuat karakteristik beton yang anda gunakan merupakan asumsi yang anda buat sendiri yang nilainya belum tentu demikian bisa jadi lebih besar.

    3. Saat menghitung kapasitas momen serta geser dari beton nilai kuat tekan karakteristiknya dikalikan dengan faktor reduksi.

    Jadi saya setuju dengan mas wir, bahwa perlu belajar lagi dalam memodelkan struktur.

  • saleh // September 6, 2007 at 8:59 am

    terima kasih atas tanggapannya pak wir..jadi saya bisa sedikit menjelaskan kepada pihak yang meminta perhitungan struktur nya kepada saya..

    kenapa saya mengemukakan ini kepada bapak, dilatar belakangi ketidak “percayaan” orang yang meminta perhitungan struktur itu kepada saya..

    mereka mengatakan dalam hitungan saya tidak aman, ternyata dilapangan aman…seperti itu..karena pihak kontraktor dan konsultan perencana nya terus melanjutkan pekerjaan proyek pembangunan tersebut.

    sekedar menambahkan selama pekerjaan proyek asrama tersebut saya selalu memantau karena kekhawatiran saya terhadap bangunan itu sekalian melihat kejadian selanjutnya..

    kalau perkerjaan dinding yang seperti bapak kemukakan itu. semua dindingnya dikerjakan setelah bangunan strukturnya selesai dikerjakan ( seluruh kolom + balok ) sehingga saya berasumsi dinding itu sebagai beban bukan sebagai struktur dan model yang saya kerjakan 3 D itu sesuai bentuk model strukturnya yaitu kolom balok dan ringbalk dan tanggapan pak badaruddin sebenarnya sudah terpenuhi semua misalnya pekerjaan nya, juga saya melihat sendiri dilapangan campurannya tidak terlalu diperhatikan oleh pihak kontraktor dan tidak ada uji kekuatan beton. sebenarnya didalam sap 2000 ketika saya mendisign dengan kekuatan beton diatas K 125 juga gagal.dan kekuatan reduksinya sesuai standart SKSNI.dan beban hidup saat peresmian itu menurut saya sudah terpenuhi jumlah maklum yang meresmikan langsung gubernur tentu bayak sekali kan yang mendampingi nya.

    yah…saya sedikit bisa menerima penjelasan pak wir…mungkin program sap 2000 menghitung seaman-aman mungkin sehingga kejadian di jogja bisa sedikit di hindari trims….

  • wir // September 6, 2007 at 10:52 am

    sdr Saleh,

    Saya merasakan, pasti anda penasaran sekali (dan mungkin malu banget) sudah menghitung tidak kuat koq ternyata di lapangan kuat. Lho, gimana itu, sudah pakai program SAP2000 sekalipun koq hasilnya nggak dipercaya (bilangnya nggak kuat, eh ternyata kuat).

    Yah, tidak apa-apa mas Saleh. Saya kira ini suatu pengalaman yang sangat berharga untuk melengkapi keahlian anda dalam structural engineering. Jika anda tetap mau menekuni bidang tersebut, saya yakin anda akan lebih matang.

    Tapi mengapa koq bisa ya. Apa yang salah dalam kasus tersebut ?

    Pertama-tama, kita harus tahu bahwa program SAP2000 melakukan perhitungan dalam batasan elastik-linier. Program tersebut tidak dapat secara langsung memberikan beban-beban yang menyebabkan runtuh.

    Selain itu, karena anda menghitung sekaligus dalam 3D maka bisa saja bahwa bagian yang anda indikasikan tidak kuat tadi memang dalam kenyataan tidak kuat. Karena tidak kuat maka retak (tidak terlihat secara visual). Retak menyebabkan kekakuan berkurang sehingga gaya-gaya dipindahkan ke elemen lain yang tidak retak. Kondisi tersebut menghasilkan yang disebut redistribusi momen.

    Redistribusi momen adalah sesuatu yang wajar dan bahkan diperbolehkan dilakukan, menurut ACI-318 atau SNI-2002 untuk reinforced concrete bahkan bisa dilakukan redistribusi sampai 30% dari nilai momen yang asli. Redistribusi momen memindahkan sebagian momen tumpuan ke lapangan. Apa itu yang terjadi dengan kasus anda, coba amati lagi apakah bagian potongan balok yang tidak masuk adalah momen negatif atau momen positip. Jika momen negatif yang tidak masuk maka yang membuat struktur tersebut tetap bertahan adalan terjadinya momen redistribusi tersebut.

    Ingat, redistribusi itu dikerjakan manual. Program SAP tidak dapat secara otomatis. Untuk melihat perilaku tersebut, coba lihat : pada bagian yang menurut anda tidak kuat tersebut anda release momennya (jadi pin) masih stabil nggak. Anda lihat momen berpindah kemana. Balok yang lain didekatnya bagaimana.

    Pengalaman menunjukan, bahwa untuk pembebanan vertikal maka elemen-elemen yang langsung kelihatan jika nggak kuat adalah struktur kantilever, kolom langsing dan bentang panjang ( > 12 m utk rc beam) simple beam. Untuk bentang pendek-pendek yaitu 3 - 4 m bahkan 6 m, kadang-kadang akibat ukuran struktur relatif besar dapat terjadi efek arching yang kadang tidak diperhitungkan dalam perencanaan yang menambah kekuatan struktur tersebut.

    Akhirnya apa yang dapat disimpulkan. Bahwa pemodelan struktur adalah sesuatu yang sifatnya advance. Bagaimana menginteprestasikan perilaku struktur, mengambil parameter-parameter yang signifikan untuk di analisis adalah sangat penting dan tidak gampang. Pada tahap ini, meskipun sudah tersedia komputer canggih maka tidak serta merta didapat solusinya. Bagaimanapun komputer hanya sekedar tool, hasil akhirnya adalah yang memakaianya (engineer-nya). Itu pula yang mendasari ditulisnya buku-buku saya tentang SAP2000.

    Terus terang, sampai sekarangpun, saya terus belajar tentang pemodelan struktur yang baik. Jadi jangan malu dengan kejadian tersebut. Anda harusnya bersyukur, bagaimana jika sebaliknya. Misalnya anda merasa bahwa struktur telah kuat (karena dihitung dengan program SAP2000) tetapi dalam kenyataannya tidak dan sebagai akibatnya jatuh korban jiwa. Kalau sudah seperti itu sih, tidak hanya malu tetapi akan menimbulkan ketakutan. Iya khan. Berarti anda masih disayang Tuhan, dilindungi dari hal-hal yang buruk. Anda harus mensyukurinya.
    Amin.

  • Donald Essen // September 7, 2007 at 12:45 am

    Saya mau tambah komen juga nih untuk pak Saleh

    Dari uraian pak Saleh saya sudah tahu SAP pasti (O/S) karena bentang balok bapak cukup besar 8m namun dimensi balok hanya 25/30 cm dengan beban standar..biasanya minimal tinggi balok kita ambil L/12 = 65 cm (kalo beban cukup besar LL>=300 kg/m2) atau kalo berani L/16=50 cm (asumsi LL <300 kg/m2).

    Nah yang mau saya komen adalah pengertian O/S itu. Namanya saja design diatur oleh Code yang dibuat manusia yang biasanya diperoleh berdasarkan hasil eksperimen dan hasil kesepakatan para code regulatornya. U/ kasus ini O/S lentur di ACI sebelum 2002 dibatasi rasio tul max 0.75 rho balanced dan ACI-2002 dst dibatasi oleh tensile steel strain 0.004…secara teoretis dengan teori lentur pasti tensile strainnya u/ balok 25/30 yang pak Saleh gunakan harusnya lebih kecil dari 0.004 sehingga O/S di SAPnya.

    Argumen yang dapat diberikan tentunya yaitu bahwa batas2 jumlah tulangan maksimum yang dilakukan ini merupakan code definition namun realitanya …we never know (hanya YME yang tahu)..bisa lebih kuat bisa juga tidak kuat tapi satu hal yang pasti, code sudah dilanggar dan yang perlu dipertanyakan apa konsekuensi kita melanggar code..satu hal yang pasti code sudah memperingatkan kalau kita mendesain sehingga O/S maka dalam kasus ini secara teori keruntuhan yang akan terjadi adalah keruntuhan tekan yang tidak diinginkan dan kapan keruntuhan itu bisa terjadi (krna overload, gempa atau yang lain)

    ya berdoa saja itu tidak akan terjadi.

  • Donny B Tampubolon // September 7, 2007 at 1:52 am

    Dear Pa Wir,

    Kalau saya tetap mengkontrol tulangan lentur, tulangan aksial dan tulangan geser dengan gaya-gaya dalam yang terjadi..(sebaiknya per elemen batang)….cape dehh. :(
    Sepertinya Live Load untuk menghitung tulangan lentur balok dapat direduksi seperti dalam peraturan pembebanan kita, karena efek “Papan Catur” pembebanan.
    Karena dalam modelisasi struktur, “Papan catur” pembebanan ini jarang dilakukan, umumnya beban lantai diberikan pada seluruh area pelat..padahal kenyataannya beban jarang terjadi pada seluruh permukaan pelat.

    Untuk Concrete structure, tinggi balok biasanya 1/10 - 1/12 bentang balok dan lebar balok biasanya 1/2-1/3 tinggi balok.

    Untuk rumah tinggal, biasanya dinding bata dibawah balok juga memberikan topangan disepanjang bentang balok. Sehingga dilapangan tidak ada retak, karena mungkin..kita tidak memasukkan adanya dinding bata tersebut dalam modelisasi struktur kita. :)

    Syallom..

  • Robby Permata // September 7, 2007 at 10:25 am

    saya jadi ingat, P Herry Vaza (direktur Bintek Bina Marga PU) pernah bilang (kira2 begini ) :

    jembatan yang runtuh sudah pasti ada yang salah dalam konstruksinya, tp bukan berarti jembatan yang masih berdiri itu konstruksinya pasti benar..

    (karena beliau di Bina Marga maka contohnya ya jembatan..)

    ya itu lah gunanya ada code.. jika mau beradu ilmu tentang berapa kekuatan teoritis suatu struktur bisa gak selesai2, masih ada hal2 yang mempengaruhi kekuatan namun belum termodelkan secara matematis oleh para engineer dengan baik.

    Namun para engineer telah menyepakati suatu standar dan sudah ada kekuatan hukumnya, jadi itulah pegangan yang kita pakai.. code sendiri masih bersifat fleksibel, artinya mengijinkan pendekatan selain yang ada di code tsb. asal rasional dan bisa dibuktikan validitasnya.

    Bahwa apakah jika tidak mengikuti code maka runtuh, jawabannya : kita tidak bisa memastikan.. semoga saja tidak..

    warm regards
    -Rp-

  • daisy // September 11, 2007 at 12:11 pm

    shalom p’ Wir…(=^-^=)

    P’ , aku lagi nyari judul buat TA dan aku tertarik dengan Analisis pushover.. apa bener kalau Pushover itu terlalu sulit untuk S1.
    Rencananya aku ingin ambil judul “Analisis Nonlinier Pushover pada Gedung Struktur Dinding Geser Pelat Baja (SPSW)

    Saran bapak apa? Apa yang paling harus dibaca dan dipelajari?
    Dan Pak untuk mendapatkan referensi ATC 40 dan FEMA 356 bagaimana pak? Bisa saya download dari bapak?
    makasih pak..GBU

    Wir’s responds:
    “terlalu sulit untuk S1″, ya sebenarnya itu relatif. Kalau pembimbingnya OK, kenapa tidak.

    Masalahnya, analisa struktur yang dipelajari dari semester 1 - 6 kayaknya tidak mendukung pemahaman tentang Push-Over tersebut. Karena itu merupakan bagian advance dari perencanaan struktur tahan gempa. Jadi mungkin hanya mata kuliah itu aja yang terkait.

    Pada level dosennya sendrii, saya kira tidak banyak yang memahami / menggeluti masalah tersebut. Saya kira dosen-dosen di institusi yang rutin menyumbang publikasi tentang itu hanya ITB dan PETRA surabaya, yang lain kelihatannya hanya sekali-sekali, termasuk saya di UPH. :)

    Judul kamu kelihatan hebat, saya aja baru mencoba yang portal, belum sampai dinding geser apalagi pakai baja, yang berarti stabilitas yang tentunya menentukan.

    Mungkin kalau sekedar asal membuat, asal running sih boleh aja, tapi kalau menyatakan bahwa itu benar. Wah agak rumit juga.

    Untuk level skripsi S1 sebenarnya yang diperlukan adalah dapat memahami masalah, membuat penyelesaian dan mengetahui apakah penyelesaian tsb sudah benar atau belum. Itu saja.

  • Eri Iwan P // September 12, 2007 at 5:33 am

    @ daisy

    Sedikit ngasih masukan ya, kalo emang mau buat skripsi tentang “Pushover Analysis”.
    Daisy tampaknya perlu untuk memahami dulu tentang perilaku & data2 materialnya (dalam hal ini baja atau juga beton jika didesain secara komposit) dari perilaku elastis, plastis sampai fracture. (lihat juga di Code AISC, AISI).
    Karena nanti dalam analysis pushover semua data2 di atas kita yang menentukan, dalam software emang terkadang ada yang default tapi apakah sudah sesuai dengan yang kita kehendaki/rencanakan atau sesuai dengan code/peraturan yang ada.
    Kalo untuk referensi textbooks struktur baja ada beberapa yang mungkin perlu daisy lihat, al:
    1. Steel Structures Controlling Behavior Through Design, by Robert E. Englekirk, John Wiley & Sons, 1994.
    2. Ductile Design of Steel Structures, by Bruneau, M., Uang, C.-M. & Whittaker, A., McGraw-Hill, 1997.
    Maaf yach ga punya softcopynya, jadi ga ada linknya, he..

    Tambahan materi lainnya bisa daisy lihat di
    http://www.steeltips.org/steeltips/index.php
    disitu ada publikasi mengenai desain & perilaku SPSW, kalo ga salah ditulis sama Albohassan Astaneh. (Bisa didownload kok filenya.. :-) )

    Tentang prosedur Pushover dari FEMA daisy bisa cek link downloadnya di:
    http://www.fema.gov/plan/prevent/earthquake/publications.shtm
    cukup banyak Guides, Recommendations tentang cara-cara analysis dan desain struktur.
    Kalo saran saya Download & pelajari FEMA 440 “Improvement of Nonlinear Static Seismic Analysis Procedures”
    State-of-the-Art resource captures the latest advances in nonlinear static analysis. This report sets the stage for future improvements to FEMA 356 or the ATC report, Seismic Evaluation and Retrofit of Concrete Buildings (ATC-40).
    Atau kalo mo download linknya langsung:
    http://www.fema.gov/plan/prevent/earthquake/pdf/fema-440.pdf
    http://www.fema.gov/plan/prevent/earthquake/pdf/fema-356.pdf

    Selamat belajar ya, semoga sukses.

    Btw, dulu waktu skripsi pernah juga lho mo ngambil topik analysis dinamik SPSW, dah konsultasi ke dosen2 & dapat masukan2 dari dosen akhirnya topiknya diubah dikit, he.. Ngerasa berat waktu itu, jadinya analysis mengenai portal bajanya aja tanpa shear wallnya.

  • Daisy // September 12, 2007 at 6:00 am

    Maaf pak mau tanya lagi dan kali ini agak merepotkan
    Saya mo tanya untuk buku Pak yang “Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP 2000 edisi baru” hal 308
    tentang response spektrum gempa . Data tabel hubungan Ta dan Sa/g itu nilainya didapat dari mana pak?
    Makasih sbelumnya..

  • Robby Permata // September 13, 2007 at 7:17 am

    ikut komentar nih, buat daisy :

    kalo push over portal, asal pembatasan masalahnya bisa disederhanakan harusnya sudah layak untuk jadi topik TA S1. Lain cerita kalo memang pemodelan elemen sampai memperhitungkan hal yang advanced seperti misalnya panjang sendi plastis dihitung pake cara yang aneh2, moment-curvature penampang ada studi sendiri,dll.

    kalo masalah SPSW (Steel Plate Shear Wall), memang belum banyak referensi sih, tapi kalo di ITB ada mbahnya riset struktur baja, yaitu Dr. Muslinang Moestopo (saya yakin di kampus lain juga ada mbah-mbah yang lain, tapi kl yang saya kenal ya beliau ini). Beliau juga banyak memberikan ke mahasiswa berbagai literatur tentang struktur baja tahan gempa untuk berbagai tipe (MF, CBF, EBG, SPSW, dll.).

    jadi kalo memang kesulitan literatur, coba cari aja d perpustakaan TA, tesis di Sipil ITB. Temen saya yang baru wisuda ada yang mengambil topik tesis SPSW kok.. Kalo masalah paper terkait, kayaknya udah ada d blog ini deh (atau belum ya? saking banyaknya yang bisa di download d sini saya jadi lupa)..

    warm regards
    -Rp-

  • wi2n // September 15, 2007 at 4:23 pm

    pak Wir…thx u/ publikasi karya ilmiah atau buku2nya..

    Saya cm mo izin u/ bisa menjadikannya sebagai ide menentukan judul skripsi yang akan saya buat di semster mendatang…boleh ga pak?

    Saya udah pusing n bingung cz kebanyakan maunya tp tidak tahu mana yang harus di prioritaskan…at least semakin banyak referensi, semakin mudah bagi saya menentukan judul/tema skripsi saya..oya pak, mohon bimbingannya juga..trimz..

    Wir’s comments : monggo-monggo aja !

  • indira // September 27, 2007 at 5:25 am

    siang pak,..

    sebelumnya saya minta maaf kalo saya mengganggu bapak..dan saya mau memperkenalkan diri saya dulu…
    nama saya indira, saya mahasiswa S1 teknik sipil UI… semester ini saya telah mengajukan program studi seminar untuk skripsi saya.. tetapi sampai detik ini saya belum mendapat judul untuk skripsi saya.. saya berminat untuk mengambil bahan atau segala apapun yang berhubungan dengan dermaga…

    yang mau saya tanyakan, menurut pendapat bapak sebaiknya saya mengambil judul atau bahan apa yang berhubungan dengan dermaga?

    dan saran bapak apa?

    saya telah membaca beberapa buku tentang pembangunan dermaga, dan saya merasa saya tertarik pada strukturnya ,..menurut pemdapat bapak sebaiknya saya membahas struktur apa? terimakasih sebelumnya pak…

    gbu

  • eko cahyadi // Oktober 6, 2007 at 6:54 pm

    ass..
    pak maaf sebelumnya, saya mengganggu bapak.saya mau menanyakan tentang kuda-kuda smartruss,kebetulan saya mengambil judul skripsi tersebut,yang saya ingin saya tanyakan adalah :
    1. apakah ada peraturan yang mengatur tentang pembebanan pada kuda-kuda baja ringan smartruss seperti baja konvensional yang diatur dalam PBI.
    2. berapa Bj smartruss,fy dan nilai fc nya
    tolong bantu saya ya pak,sebelumnya saya ucapkan banyak2 terima kasih……..

    Wir’s comments : pembebanan ? Mestinya sama saja khan, kecuali berat sendiri struktur mungkin lebih ringan. Struktur kuda-kuda smartruss termasuk dalam kategori baja cold-formed. Tentang itu, silahkan baca makalah saya , lihat pustaka acuannya.

    O ya jika belum bisa di down-load maka datang lagi awal bulan

  • abe // Oktober 17, 2007 at 1:51 pm

    Malam pak, perkenalkan nama saya abe….
    saya mahasiswa di jogja, saya mau nanya nih pak…

    1. Apa perbedaan antara V1(mode 1) ragam pertama hasil perhitungan menurut pasal 7.2.4 SNI-1726-2002 dengan V1 ragam pertama menurut pasal 7.1.3 (persamaan 13) SNI-1726-2002.

    2. Perhitungannya V1(mode 1) dan V1 pasal 7.1.3 sudah saya hitung tapi perbedaannya sangat besar… apakah sama V1(mode1) dan V1 pasal 7.1.3 itu hasilnya sama?

    3. Jika V1(mode 1) dan V1 pasal 7.1.3 berbeda… yang mana yang harus saya pakai?

    Terima kasih ya pak…

  • Donald Essenst // Oktober 18, 2007 at 1:01 am

    Saya bantu ya pak buat Abe

    Saya bingung deh baca code gempa kita..bahasanya ruwet…disederhanakan saja ya(ini juga dipake semua konsultan struktur terutama di PT. Wiratman) ..

    1. Hitung dulu V = C.I.Wt/R .
    2. Lakukan analisis dinamik sedemikian sampe kontribusi massa mencapai 90% (pasal 7.2.1). Lalu plot kurva story shear-nya dan ambil nilai base shear-nya (base shear = story shear lantai paling bawahnya)
    3. Hitung faktor skala 0.8 V/Vbase >= 1
    V dari langkah 1 dan Vbase dari langkah 2
    4. Kalikan faktor skala pada plot story shear ke langkah 2 sehingga didapat kaya gambar P4 di SNI 1726
    5. Trus sesuai pasal 7.2.4 bisa distatik ekivalenkan tapi kalau saya sih langsung aja di ETABS-nya di response spectrum analysisnya ada scale factor..ya tinggal diisi saja.

    Untuk point 2 dan 3 — V1(mode 1) gak benar kalau kamu run cuma ngisi satu mode karena harusnya gak akan dapat 90% partisipasi massa pada arah translasi. Jadi harus diisi berapa mode sampe MPFnya min 90% trus liat base shearnya dan hitung faktor skalanya sesuai langkah 3.

  • isran // Oktober 18, 2007 at 6:27 am

    Salam Pak Wir..

    Maaf pak, saya sedang kesulitan dalam mencari referensi tentang pelat beton, kebetulan skripsi membahas tentang pelat dengan judul “KAJIAN NUMERIK DAN EKSPERIMETAL SKALA KECIL DI LABORATORIUM TENTANG PELAT BETON TERTUMPU SEDEHANA”..

    Saya kuliah di universitas tanjungpura program studi teknik sipil konsentrasi bidang struktur.. Dimana pak saya bisa mengakses teori2 serta pembahasan tentang pelat beton…
    Tolong arahannya…

    Sebelumnya terima kasih pak.

  • indraghi // Nopember 20, 2007 at 4:53 pm

    salam kenal
    saya mahasiwa sipil 2004
    kebetulan saya tertarik dengan kubah beton bulat (spherical concrete dome) untuk Tugas Akhir. khususnya untuk meminimalisasi tegangan tariknya. Kira-kira parameter apa saja yang dapat mengurangi tegangan tariknya ? selain yang sudah saya dapat dari literatur yaitu sudut kelengkungan terhadap bidang datar, yang dapat menghilangkan tegangan tarik.

    Wir’s responds : Untuk bisa menjawab pertanyaan anda, maka tentunya perlu mengerti perilaku struktur ‘kubah beton bulat’ tersebut.

    Caranya bagaimana ?

    Ya tentu saja pakai ‘analisa struktur’, misalnya memakai program analisa struktur SAP2000. Agar dapat memodelkan struktur dengan baik maka anda perlu memahami pemakaian element SHELL. Dengan melakukan analisis pada pemodelan tersebut, anda akan memahami respond struktur tersebut terhadap berbagai pembebanan, misal akibat berat sendiri struktur, beban terpusat, atau beban merata sebagian dan lain-lain. Selain itu juga dapat meninjau berbagai bentuk tumpuan yang akan anda tempatkan dibawah kubah tersebut. Tumpuan menerus, atau pada beberapa titik.

    Jika pada setiap parameter yang anda tinjau anda amati, perbedaan satu dengan yang lainnya, dan dapat dibandingkan bahkan dicari hubungan parameter tersebut dengan hal-hal yang dianggap penting diteliti. Maka akhirnya anda akan memahami : parameter apa saja yang mempengaruhi tegangan tarik pada dome tersebut. Proses tersebut umum disebut analisis parametrik, itu yang umum digunakan dalam penelitian dengan F.E.M.

  • indraghi // Nopember 22, 2007 at 3:51 am

    terima kasih atas sarannya..

  • Sofan // Nopember 23, 2007 at 6:32 am

    Salam pak Wir,
    Nama saya Sofan, saya kerja di EPC kontraktor di salah satu BUMN jasa konstruksi. Sebelumnya sih kerja di BUMN juga tapi kebanyakan kerja proyek jalan dan irigasi, di kantor baru ini saya disuruh ngerjain dermaga tipe jetty.
    Bingung juga sih karena belum pernah. ada sih referensi (buku-nya pak Bambang Tri, Pelabuhan) tapi untuk perencanaan, bukan metode pekerjaan.

    Minta tolong ya pak Wir, kl ada e-book or referensi lainnya tentang metode kerja pelaksanaan pek. jetty, tolong di share ya pak….

    Trim ya pak.
    Btw blog-nya keren abis.

    Wir’s responds : Salam kenal juga pak Andi Sopan, eh pak Sofan (emailnya sama sih, jadi mana yang betul) yang banyak berpengalaman di BUMN. Saya nyoba cari yang anda maksud. Baru sempat ngelihat koleksi yang tempo hari diberi oleh mas Donny Tampubolon (trim ya mas Donny, ternyata yang anda beri banyak sekali dan nggak bisa semuanya ke up-load).

    Piling Handbook 8th Edition
    Arcelor RPS - Arcelor Group
    361 halaman down-load PDF 4246 kb

    Moga-moga cocok ya.

  • Barry Made // Nopember 24, 2007 at 12:23 am

    maaf Pak…saya mahasiswa salah satu PTN jurusan Arsitektur di Semarang, mau tanya ada g artikelnya bapak atau referensi buku tentang hubungan atau kasus lift dengan struktur bangunan, atau mungkin bapak pernah dengar berita tentang kasus tersebut? terima kasih banyak buat jawabannya.

    Wir’s reponds : maksudnya lift setelah dipakai begitu dan interaksinya begitu terhadap manusia, misalnya menimbulkan kecelakaan ? atau apa. Kalau soal-soal gitu nggak ada pak di blog ini.

    Tapi kalau pengaruh penempatan lift terhadap kekuatan bangunan terhadap bahaya gempa. Wah itu baru menarik pak.

  • harman // Nopember 24, 2007 at 6:40 am

    syalom…
    pa, saya ingin tanya, apakah sap 2000 itu, kalo pengisian beban secara manual, dimana tentang kekakuan struktur tersebut….
    seperti beban partisi

    Wir’s responds : saya tidak mengerti pertanyaanmu itu. Kecuali berat sendiri struktur, rasanya beban tidak mempengaruhi perhitungan kekakuannya lho.

    Atau maksudmu waktu memperhitungkan pembebanan dari suatu partisi, bagaimana pengaruh kekakuan partisi tersebut. Apa begitu. Yah, itulah mas namanya pemodelan struktur, prinsipnya anda harus membatasi apa-apa yang utama dan apa-apa yang tidak utama yang dapat diabaikan.

    Jadi misalnya ada balok portal, diantaranya ada batu bata. Bagaimana strategi anda dalam menganalisisnya, apakah diabaikan atau dimasukkan. Jika dimasukkan bagaimana memodelkan materialnya, karena jelas, beton bertulang mempunyai perilaku yang berbeda dengan batu bata tersebut. Nggak gampang, karena material batu bata nggak reliable selain itu nggak ductile. jadi strateginya batu-bata diabaikan dan dianggap hanya memperhitungkan portal beton bertulang saja.

    Ya boleh-boleh aja.

    Tapi hati-hati misalnya terhadap efek gempa, portal yang diisi partisi tembok penuh akan mempunyai perilaku yang berbeda dengan portal kosong.

  • Yulie // Nopember 24, 2007 at 11:05 am

    Dear Pak Wir..

    Hello Pak Wir..Saya Yuli mahasiswi semester akhir teknik sipil di Yogyakarta..Saya butuh bantuan bapak..

    Saya menemui kesulitan dalam tugas akhit saya merancang ulang sebuah gedung 11 lantai. Pada saat saya membandingkan antara massa gedung dari perhitungan manual dengan massa gedung dari ETABS tiap lantai yang seharusnya kurang dari 10%, tetapi pada lantai 6-11, perbandingan tersebut lebih dari 10%.

    Saya tidak tahu bagaimana cara merubah perbandingan tersebut menjadi kurang dari 10%. Apakah ada yang salah dalam perancangan gedung saya ini? Dan bagaimana solusinya?

    Saya mohon bantuan dari bapak.. Atas bantuannya saya ucapkan terimakasih banyak..
    Sukses selalu dan GBU..

    Wir’s comments : Sdri Yuli yang mahasiswi akhir di Yogya. Tentang massa gedung, ETABS menghitungnya dari massa yang anda sendiri telah definisikan, atau berat sendiri struktur. Kalau yang anda definisikan mungkin anda sadar, tetapi kalau yang otomatis mungkin anda nggak sadar kalau itu beda, misal ukuran kolom atau wall atau baloknya berbeda.

    Jadi strateginya, coba matiin option massa dari berat sendirinya. Lalu chek ulang, masih ada bedanya nggak. Lalu bandingkan jika option tersebut dihidupkan lagi. Dari situ akan ketahuan sumber perbedaan tersebut. Cocokan dengan yang lain. Karena bisa saja perhitungan manual perhitungan massa dari strukturnya nggak terlalu teliti. gitu.

  • Adi // Nopember 24, 2007 at 4:12 pm

    salam kenal pak wir.
    saya seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di sebuah PTS.
    saya mo bertanya tentang cara memasukkan beban gempa dinamis dengan respons spectrum di sap 2000 versi 11.
    mohon bapak bisa menjelaskan sedikit, step-step memasukkan beban gempa ini.
    terima kasih..

  • yusuf // Nopember 26, 2007 at 2:57 pm

    Salam Hormat,
    Sudah sering saya mengakses karya tulis Bapak, khususnya yang berkaitan dengan bidang struktur. Saya sangat kagum kepada Anda yang memiliki dedikasi tinggi dalam bidang baja dan beton.

    Saya tertarik dengan jurnal Bapak mengenai analisa pushover pada struktur gedung beton bertulang beraturan dan menjadikannya topik skripsi saya. Saya menanyakan hal ini kepada Bapak karena saya yakin anda sangat menguasai topik yang sedang saya pelajari tersebut.

    Dalam pengerjaan skripsi saya ini saya menemui beberapa kesulitan, diantaranya :

    1. Untuk input data momen-kurvatur dan momen-rotasi pada SAP2000, apakah ada software yang dapat digunakan untuk perhitungannya? jika ada mohon bantuan bapak

    2. Bagaimana urutan proses input data secara rinci untuk analisa pushover dalam SAP2000

    3. Untuk kriteria kinerja apakah boleh jika saya hanya menggunakan batasan ultimit menurut SNI 1726-2002. Jika ada, saya mohon Bapak untuk bersedia memberikan sumber pustaka tentang kriteria menurut peraturan yang lain tsb.

    Jika tidak keberatan, tolong petunjuk Bapak dikirim ke alamat email saya.

    Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih.

    Yusuf, Teknik Sipil UNEJ, Jember
    Email: yusuf.hartoyo@yahoo.co.id

    Wir’s responds : saudara Yusuf, salam kenal dan salam sejahtera bagi anda. Tentang push-over untuk gedung beton bertulang terus terang saya belum pernah melakukannya. Mungkin anda membaca makalah bapak Yosafat dari Universitas Maranatha. Silahkan kontak beliau, blog-nya ada di blog-roll saya. Bapak Yosafat sudah berulang kali melakukan pushover yang anda maksud. Semoga sukses skripsi anda. Salam.

  • Sofan // Nopember 27, 2007 at 6:45 am

    Makasih banyak ya pak wir atas kiriman pdf-nya.
    Meski saya bekerja di bidang Sipil, saya bukan structural engineer (cuma pelaksana biasa aja), dan saya selalu merasa main-course-nya Teknik Sipil itu adalah Structural Engineer, sedangkan jurusan2 lainnya (MK, Keairan, dan Transportasi) hanya catatan kakinya aja…heheheh

    Out Of Topic dikit ya pak….
    Gara2 serial Prison Break yg lagi naik daun, jabatan Structural Engineer jadi kelihatan ‘sexy‘ banget deh, bahkan adik saya lagsung manteb pindah cita2 masuk jurusan Sipil ITS.

  • yulie // Nopember 28, 2007 at 8:29 am

    terima kasih banyak ya pak wir atas saran-sarannya. God Bless You..

  • donaldessenst // Nopember 29, 2007 at 1:33 am

    @ Sofan
    Ada juga penggemar TV serial disini.

    Buat yang gak tau film seri Prison Break ini tokoh utamanya bernama Michael Scofield, di film ini dia adalah seorang Structural Engineer, abangnya Lincoln Burrows bekerja pada suatu organisasi yang disebut “the Company” yang ternyata menjebak abangnya melakukan pembunuhan yang sebetulnya tidak terjadi.

    Tahu abangnya akan dihukum mati Michael Scofield terus melakukan rencana pembebasan dari penjara. Pokoknya keren sekali lah si Scofield ini makanya pak Sofan bilang structural engineer terlihat “sexy” walau gak jelas karena Wentworth Miller pemeran Scofield yang sexy atau bagaimana cara si Scofield mengeluarkan abangnya dari penjara dengan menggunakan ilmu structural engineering yang sexy? Yang rada beruntung adalah penjara tempat abangnya di penjara dia yang desain. Salah satu yang keren itu waktu dia udah ngerencanain untuk nembus beton tebelnya kira2 50 cm mengunakan prinsip Fracture Mechanics (waktu nonton itu saya jadi penasaran apa itu fracture mechanics).

    Tapi itu semua di season 1 sekarang udah season 3 jadi structural engineering-nya udah mulai berkurang.

  • jafar // Desember 1, 2007 at 4:54 pm

    Salam sejahtera..!
    perkenalkan Pak Wir.!, saya pengunjung baru blog anda,TWO THUMBS UP buat anda Pak…..!!! Blog bapak sangat membantu saya.

    saya mahasiwa alih jenjang teknik sipil di PTN di surabaya, gini pak !,saya berencana mengambil TA tentang jembatan prategang, namun saya kesulitan memperoleh “Bridge Design Code-nya”,kalopun ada kebanyakan berupa ftcpy-an, kurang bisa d baca Pak.! dan satu lagi Pak apa ada diagram interaksi ACI (SI) yang terbaru dlm pdf. soalnya saya dpt yg versi lama yaitu prosentase max tulangannya 8%, kalo nggak salah yg terbaru rho max-nya 6%, mungkin Pak Wir punya dalam format pdf-nya biar dpt saya dwnload.

    sebelumnya maaf pak bila yang saya minta sudah ada d blog bapak,soalnya saya belum menjelajah semua blog bapak .Terima kasih banyak

    Best regards
    “jafar”

    Wir’s respond : senior-senior anda sudah banyak yang sharing materi-materi tersebut mulai dari AISC, ACI atau AHSTHO. Karena yang ngasih pada berjibun dan belum sempat di tata. Silahkan di lihat-lihat sendiri. Saya yakin sehari nggak cukup deh. Jadi memang harus berkali-kali ke blog ini. :mrgreen:

  • Andri // Desember 13, 2007 at 3:39 am

    pak saya mau nanya buku aplikasi sains dan teknik dengan visual basic 6.0 bisa saya dapatkan dimana? di gramedia udah gak ada stok

  • wir // Desember 13, 2007 at 3:49 am

    to Andri
    Itu buku tahun 2003, kelihatannya udah lama habis, meskipun udah sempat dicetak ulang. Jadi total jendral sudah ada sekitar 6000 eksemplar di masyarakat.

    Sebagai gambaran, buku saya ke-4 terbitan awal tahun ini saja (2007) di toko buku Gramedia Mall Metropolitan Bekasi ternyata udah habis. Stock kosong.

    Gitu mas Andri.

  • Andri // Desember 17, 2007 at 7:47 am

    makasih ya pak sblmnya…., apa gak ada niat di cetak lgi pak…., mungkin msh bnyk jg yang minat pak….makasih pak atas infonya

  • Edy Indriantoro // Desember 29, 2007 at 12:24 pm

    halo pak saya kesusahan cari buku bapak yang mengenai VB. saya udah cari di gramedia udah gak ada. oh ya saya mahasiswa teknik sipil unikom sekarang saya sedang nyusun skripsi . buku bapak akan saya jadikan referensi

    Wir’s responds: saya kemarin baru maen ke Gramedia Matraman, masih ada itu buku saya ttg VB yang pertama kali lagi. Masih ada 10 kalau nggak salah. Cepat aja hubungi toko buku tersebut. Ok.

  • eko cahyadi // Januari 4, 2008 at 7:53 am

    pak wir,,
    saya mau menanyakan bagaimana cara mendownload makalah bapak tentang baja smartruss itu,tanggal 6 oktober 2007 kemaren saya pernah mengirim e mail ke bapak,trus bapak balas download makalah saya,jika tidak bisa coba datang bulan depan,.,tolong saya ya pak.,thx b4

    Wir’s responds: saya coba down-load, nggak ada masalah tuh. Tapi yang jelas saya belum pernah bikin makalah tentang smartruss, yang ada tentang baja coldformed. Beda lho.

  • eko cahyadi // Januari 4, 2008 at 4:50 pm

    pak..di makalah bapak tu di bilang kalo baja coldformed tu termasuk baja ringan..terus di skripsi saya kalau smartruss tu di buat dari BHP Steel Lysagh Asia…di makalah itu juga di katakan bahwa telah ada terdapat produk baja coldformed pada PT. BHP Steel lysagh Asia berupa smartruss..
    pak saya mau tanya apa perbedaan nya baja coldformed itu dengan baja ringan smartruss??
    makasih ya pak sebelumnya..

    wir’s respond: smartruss adalah salah satu merk dagang yang memanfaatkan profil baja coldformed. Ciri-cirinya bahwa tipe tersebut belum terakomodasi pada peraturan baja kita. Jadi kalau anda merencanakan pakai peraturan baja kita, itu nggak benar. Kita belum punya peraturannya. Gitu lho.

  • angga // Januari 5, 2008 at 12:57 pm

    Pak wir, saya mau nanya tentang kolom beton bertulang. Sebenrnya pak, pd kolom yg bukan pd sudut2 ruangan pd gedung itu berlaku beban uniaksial saja atau bisa berperilaku beban biaksial?
    Setahu saya untuk di sudut2 gedung emang beban nya biaksial (sejauh yg sy baca dari literatur). Bisa gak ya klo kita hitung jika pembebanan beban uniaksial pd kolom di pojok ruangan tsb?
    Saya sedang menganalisis tentang hubungan beban nominal pd kolom dg momen yang dpt dipikulnya untuk kolom2 pada pojok dan di tengah2 ruangan yg menempel di dinding. Dari parameter2 yg kita temukan tentunya kita dptkan suatu diagram interaksi kolom.
    Sekarang sy kendalanya di situ saja, pak. terima kasih utk jawabannya.

    Wir’s responds: untuk yang menerima momen dari dua arah berbeda, tetap hitung dengan uniaksial untuk setiap arahnya, selanjutnya di super-posisikan. Toh tulangan yang dekat grs netral khan tidak terlalu berpengaruh, untuk momen maka tulangan yang dominan adalah serat terluar, gitu. Aksialnya toh sama khan untuk dua-duanya. Itu cara sederhana dan umumnya cukup memuaskan khususnya untuk beban tetap.

  • eko cahyadi // Januari 6, 2008 at 4:18 am

    jadi kalo saya mau menghitung baja smartruss itu sebaiknya menggunakan peraturan apa pak,,kan smartruss termasuk tipe baja coldformed..kalo baja coldformed tu di hitung dengan apa pak?

    Wir’s responds: baca dengan baik kembali makalah yang saya sampaikan di lokakarya Universitas Udayana, dari situ dapat menjadi pijakan awal, kemana sebaiknya anda menuju.

  • angga // Januari 7, 2008 at 4:27 am

    Terimakasih buat jawabannya, pakwir. Cuma saya pernah mendengar katanya kolom yg berada di tengah2 yg menempel pd dinding sebenarnya menerima beban biaksial. Untuk memudahkan perhitungannya maka dihitung sebagai beban uniaksial.
    Apakah benar demikian, pak? Kok bisa?

    Dari jawaban yg bpk berikan, berarti utk kolom2 di pojok, dihitung sbg beban uniaksial saja khan, pak?

    Sebenarnya saya sdg mengerjakan skripsi saya yg menjurus kpd perhitungan analisis kolom bentuk L (siku) pada pojok ruangan. Pada seminar proposal, saya menjelaskan pd dosen penguji bahwa utk perhitungan kolom di pojok ruangan cukup pembebanan yg terjadi adalah beban uniaksial. Tapi beliau bersikeras bahwa pembebanan nya adalah biaksial, dan saya diharuskn utk membuat diagram interaksi kolom dengan pembebanan biaksial. Sekarang saya sgt bingung,