label atau status dan harapan yang menyertainya.

Artikelku pada blog ini relatif banyak, dari tahun 2006 sampai sekarang, sudah ada sekitar 830 artikel. Saya kira tidak banyak orang yang mempunyai kebiasaan menulis seperti aku. Maklum, menulis bagiku adalah lebih menarik daripada ngrumpi dengan teman-teman. Meskipun itu kadang juga penting, yaitu untuk mengetahui kabar si anu dan si anu yang lainnya. Dengan jumlah artikel yang begitu banyak, dan konsisten aku tulis tiap minggu atau minimal tiap bulannya, maka blog-ku ini menjadi banyak dikunjungi. Tiap hari tidak kurang dari 500 klik lho. Jadi kalau tujuannya adalah duit, wah pasti lumayan juga ya. Hanya sayang, website yang aku gunakan tipe gratis yang tidak boleh dipasang iklan. Kecuali tentu saja, iklan buku-bukuku saja. :D

Artikel yang aku tulis, adalah tentang hal-hal yang menurutku menarik. Kadang temanya sederhana, tetapi kemudian aku ulas bahwa itu adalah sesuatu yang menarik. Kalau melihat komentar para pembaca, hal-hal yang ternyata membuat itu menarik, itu juga membuat mereka terinspirasi. Jadi caraku memaknai setiap peristiwa, dapat menghibur pembaca.

Baca lebih lanjut

Jurusan Teknik Sipil di Indonesia dengan Peringkat A (versi BAN-PT)

Bagi masyarakat Jawa yang bukan berlatar belakang pedagang, maka yang namanya investasi adalah berupa tanah / rumah dan emas, sebagian lain menganggapnya juga sebagai bentuk investasi adalah pendidikan. Tentang yang terakhir ini, khususnya tentang pendidikan anak, ada juga yang menganggapnya lain, bukan investasi, tetapi adalah kewajiban orang tua.

Yah berbeda cara pandang. Beruntunglah, bagi keluarga besarku, yang namanya pendidikan dianggapnya adalah sebagai investasi. Itulah yang terjadi pada diriku.

Karena yang namanya investasi, maka proses pendidikan yang diambil harus dipikirkan matang. Tidak sekedar telah memperoleh pendidikan saja, tetapi harus dipilih yang sesuai dengan kecocokan bakat dan minat masing-masing agar setelah proses pendidikan selesai akhirnya dapat berkembang dan berbuah. Jadi proses pendidikan di sini tidak sekedar mendapatkan ijazah saja, titik.

Bagi anak-anak muda yang telah mempunyai cita-cita jelas, mau jadi apa kelak, maka bersyukurlah. Raihlah cita-cita tersebut sampai dapat, agar kamunya dapat tersenyum bangga dan dunia akan menjadi suka cita. Anakku yang pertama, sejak SMP sudah tahu apa cita-citanya, yaitu meniru kakeknya. Untuk itu maka dipilihlah SMA yang memungkinkan, meskipun jarak sekolah SMA-nya 10 x dari jarak sekolah ketika SMP dulu. Untunglah semua itu membuahkan hasil. Saat ini dia sedang menempuh bidang studi yang diminatinya, di kota Semarang. Satu atau dua tahun lagi harapannya telah selesai.

Jadi bagi anak-anak muda, mulai bermimpilah sejak awal dan yakini betul “mau jadi apa kamu nantinya”. Jangan sepelekan itu, memang awalnya hanya sekedar idea (abstrak) tetapi lama-lama dan jika dapat diyakini betul, maka hal itu akan menggumpal membentuk materi seperti yang kamu bayangkan. Tentang hal itu, aku tidak sangsi. Ingatlah nats berikut, yang sangat diyakini selama berabad-abad oleh sebagian manusia di bumi ini.

I tell you the truth, you can say to this mountain, ‘May you be lifted up and thrown into the sea,’ and it will happen. But you must really believe it will happen and have no doubt in your heart.
[Mark 11:23]

Paragraf di atas adalah sangat penting, karena awalnya semuanya itu hanya bermula dari keyakinan pada pikiran, keinginan dan mimpi. Itu semua akan mewujud pada suatu harapan yang diyakini dan akhirnya nantipun akan didapat.

Memang sih, untuk mendapatkan keinginan akan sesuatu dan dapat diyakini betul pada diri sendiri, itu memang tidak gampang. Bagi orang lain bisa saja itu ideal, tetapi bagi diri sendiri bisa saja tidak menarik. Nah jika ada pertentangan seperti itu, maka jelas akan sulit juga mewujud. Jadi pendapat orang lain itu hanya sekedar wawasan yang perlu kita pikirkan. Kita tidak boleh menipu diri sendiri, kalau memang tidak menyukai atau menikmatinya.

Ini sangat penting, terkait jika proses pendidikan akan dijadikan sebagai bagian dari investasi, dan bukan sekedar tanggung jawab orang tua, bahwa sudah memberikan pendidikan layak. Maklum, meskipun proses pendidikan sudah diberikan, tetapi ternyata si anak sendiri tidak cocok, hanya sekedar dapat ijazah, maka tentu kedepannya tidak bisa berbuah. Kalaupun berbuah tidak sebanyak jika orangnya tersebut menikmatinya. Jadi memilih pendidikan apa yang akan ditempuh dan dapat menikmati bidang tersebut, adalah hal yang sangat penting.

Tentang bagaimana memilih itu, maka ada baiknya mempelajari pengalamanku, begini ceritanya.

Baca lebih lanjut

lumina-press di Seminar HAKI 2015

Minggu depan ini, tepatnya di hari Selasa dan Rabu tanggal 25 – 26 Agustus 2015 di Jakarta akan berlangsung perhelatan besar ilmiah bagi komunitas teknik sipil, yang diselenggarakan oleh HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia).

seminar-HAKI

Informasi lengkap, silahkan di-download sendiri brosurnya, PDF (3 Mb).

Event di atas biasanya diadakan setahun sekali, dan waktu serta tempatnya hampir selalu sama, yaitu sekitar bulan Agustus bertempat di hotel Borobudur, Jakarta. Oleh sebab itu, acara ini juga sering digunakan sebagai ajang reuni atau bertemu. Para pesertanya sendiri banyak yang datang dari luar Jakarta. Tidak heran jika event ini merupakan acara dengan peserta terbesar bagi komunitas teknik sipil, kekhususan konstruksi. Jadi jika tidak ada halangan, maka aku juga berencana untuk datang menghadirinya.

Ketika aku bercerita tentang keberadaan seminar HAKI di atas, penerbit bukuku, yaitu LUMINA Press, senang dan bahkan berbinar-binar mendengarnya. Bayangkan saja, pada acara tersebut akan hadir sekitar 500 – 700 peserta dengan latar belakang teknik sipil, kekhususan konstruksi atau struktur. Menurutnya, itu acara tepat sekali untuk dijadikan ajang promosi buku terbitannya.

Baca lebih lanjut

pentingnya mata-kuliah Kerja Praktek (KP)

Siapa yang jadi dosen di mata kuliah Kerja Praktek ?

Tentang itu, saya coba mengingat-ingat jaman kuliah S1 di UGM dulu. Mata kuliah Kerja Praktek jelas ada, dan setiap mahasiswa diharuskan mengikutinya. Meskipun demikian, ingatnya itu hanya tugas yang harus dikerjakan. Proses asistensi adalah ke engineer di lapangan, kalau di kampus ingatnya hanya ke asisten dosen, mahasiswa senior saja. Tidak ada dosen khusus yang bertanggung-jawab memegang mata kuliah tersebut. Kalaupun ada, saya rasa tugasnya adalah hanya untuk memastikan apakah persyaratan-persyaratan administrasi yang diperlukan oleh mahasiswa dalam menjalankan tugas tersebut, telah terpenuhi. Itu yang saya ingat. Coba benar nggak ya, mungkin sudah berbeda saat ini.

Jadi kalau ditanyakan dosen untuk mata kuliah tersebut, tentunya bingung juga ya. Mungkin istilah yang tepat adalah dosen untuk koordinator KP, begitu ya. Untuk yang bukan di kampus almamater saya, silahkan periksa tempat anda kuliah. Bagaimanapun juga mata kuliah KP adalah wajib dan pasti ada, untuk itu diberikan bobot 2 SKS. Jadi KP adalah mata kuliah wajib di Jurusan Teknik Sipil, kalau tidak ada, wah gawat itu.

Baca lebih lanjut

skripsi itu emangnya penting ?

Saya tertarik untuk membahas tentang skripsi lagi karena masih saja ada pertanyaan sebagai berikut :

Tulisan yang sangat menarik. Pak Wir, saya menangkap argumentasinya sebagai berikut: bagaimana mungkin bisa mengejar perguruan tinggi (PT) luar negeri kalau kita menghapuskan skripsi? (maaf jika saya terlalu menyederhanakan atau salah tangkap)

Yang ingin saya tanyakan: sepertinya banyak (saya tidak tahu persis proporsinya) PT di negara-negara peringkat tinggi (misalnya: australia, usa, uk,…) yang tidak mewajibkan lulus dengan skripsi (by courses?). Apakah ada hubungan antara wajib skripsi dengan kualitas PT? Hubungan kausalitas atau korelasi? Mohon pencerahannya.

Jika tertarik juga untuk membahas dan mendengarkan argumentasi saya, silahkan dilanjut.

Baca lebih lanjut