pentingnya mata-kuliah Kerja Praktek (KP)

Siapa yang jadi dosen di mata kuliah Kerja Praktek ?

Tentang itu, saya coba mengingat-ingat jaman kuliah S1 di UGM dulu. Mata kuliah Kerja Praktek jelas ada, dan setiap mahasiswa diharuskan mengikutinya. Meskipun demikian, ingatnya itu hanya tugas yang harus dikerjakan. Proses asistensi adalah ke engineer di lapangan, kalau di kampus ingatnya hanya ke asisten dosen, mahasiswa senior saja. Tidak ada dosen khusus yang bertanggung-jawab memegang mata kuliah tersebut. Kalaupun ada, saya rasa tugasnya adalah hanya untuk memastikan apakah persyaratan-persyaratan administrasi yang diperlukan oleh mahasiswa dalam menjalankan tugas tersebut, telah terpenuhi. Itu yang saya ingat. Coba benar nggak ya, mungkin sudah berbeda saat ini.

Jadi kalau ditanyakan dosen untuk mata kuliah tersebut, tentunya bingung juga ya. Mungkin istilah yang tepat adalah dosen untuk koordinator KP, begitu ya. Untuk yang bukan di kampus almamater saya, silahkan periksa tempat anda kuliah. Bagaimanapun juga mata kuliah KP adalah wajib dan pasti ada, untuk itu diberikan bobot 2 SKS. Jadi KP adalah mata kuliah wajib di Jurusan Teknik Sipil, kalau tidak ada, wah gawat itu.

Baca lebih lanjut

skripsi itu emangnya penting ?

Saya tertarik untuk membahas tentang skripsi lagi karena masih saja ada pertanyaan sebagai berikut :

Tulisan yang sangat menarik. Pak Wir, saya menangkap argumentasinya sebagai berikut: bagaimana mungkin bisa mengejar perguruan tinggi (PT) luar negeri kalau kita menghapuskan skripsi? (maaf jika saya terlalu menyederhanakan atau salah tangkap)

Yang ingin saya tanyakan: sepertinya banyak (saya tidak tahu persis proporsinya) PT di negara-negara peringkat tinggi (misalnya: australia, usa, uk,…) yang tidak mewajibkan lulus dengan skripsi (by courses?). Apakah ada hubungan antara wajib skripsi dengan kualitas PT? Hubungan kausalitas atau korelasi? Mohon pencerahannya.

Jika tertarik juga untuk membahas dan mendengarkan argumentasi saya, silahkan dilanjut.

Baca lebih lanjut

skripsi akan tidak wajib !

Dunia pendidikan tinggi di Indonesia memang sedang berubah, satu sisi terkesan menuju kebaikan. Itu ditunjukkan dengan usaha pemerintah untuk melakukan evaluasi melalui proses akreditasi. Penyelenggara pendidikan yang dianggap baik maka diberikan nilai A, dibawahnya diberi nilai B dan yang ngepas sekali diberi nilai C.

Jika kurang dari nilai di atas, dianggap dibawah mutu, perlu dibimbing dan diarahkan terus. Jika nggak ada perubahan, maka di-delete. (!??!).

Baca lebih lanjut

pengin gelar seabreg !

Gelar, gelar, gelar. Kayaknya hal itu penting banget bagi orang sini, dengan nambah gelar akan lebih pede dianya. Ini info aku dapat dari facebook temanku. Orang ini luar biasa gelarnya, lihat :

171301_berkley3

Ini sumber beritanya. Silahkan dilacak dulu, nanti dikira hoax :

Dari CV yang disampaikan, terlihat bahwa orang itu memang telah lama malang melintang di dunia pendidikan Indonesia, yaitu sejak 1990 atau berarti hampir 1/4 abad. Kalau begitu mestinya ini orang sudah dikenal banyak orang dari kalangan pendidikan. Nggak tahu kenapa, baru menteri riset dan pendidikan tinggi sekarang yang berani mengkonfirmasi kebenaran dari gelar-gelar tersebut. Maklum ada indikasi bahwa itu semua dilakukan untuk penipuan.

Benar juga kata pepatah, “gitu ya gitu, tapi ya nggak gitu”, mungkin kalau gelarnya hanya dua atau tiga saja, nggak sampai digrebek menteri. Kebangeten sih.

Saya itu kadang-kadang bingung, mengapa sih orang bisa sangat terpana dengan banyak gelar yang digunakan. Jika aku mencoba mengambil sesi waktu 20 atau 30 tahun yang lalu, sewaktu baru mau masuk universitas. Waktu itu pagi-pagi cari koran Kompas yang memuat berita hasil Sipenmaru, dan bisa membaca bahwa namaku disebut sebagai salah satu yang diterima di jurusan teknik sipil di universitas gajahmada. Rasa WOW benar sih. Aku waktu itu nggak membayangkan, bagaimana kalau nggak diterima, dunia rasanya gelap. Untung diterima.

Waktu itu bisa merasa, membayangkan akan mendapat satu gelar saja, rasanya sudah di langit.

Membayangkan suasana waktu itu, kadang mesam-mesem sendiri. Mungkin perasaan seperti itu yang banyak terjadi pada orang-orang Indonesia lainnya ketika melihat foto orang di atas. Jika ya, maka dapat dipastikan banyak orang yang dimaksud belum punya gelar atau baru sedikit dan banyak berharap sekali dengan gelar tersebut. Persis seperti aku, 20 atau 30 tahun yang lalu, nggak punya apa-apa dan banyak berharap sekali dapat mewujudkan mimpinya dengan gelar yang akan diperoleh tersebut.

Emangnya beda pak Wir dengan sekarang ini ?

Beda sekali. Dengan tiga gelar akademis yang aku miliki sekarang ini, rasa-rasanya aku merasa biasa-biasa saja. Daripada aku menyorongkan gelar-gelar yang aku miliki, maka aku lebih bangga menyorongkan namaku yang panjang sekaligus itu, yaitu Wiryanto Dewobroto. Dua potongan nama tersebut yang selalu aku ajukan, jarang aku pakai nama depan saja, atau nama belakang saja. Maklum dua potongan nama itu , rasa-rasanya tidak ada yang menyamai.

Tentang gelar yang aku punyai, semuanya di bidang teknik sipil, itupun khusus di bidang rekayasa struktur. Itu saja yang aku pelajari. Bahkan aku merasa, menguasai itu saja, kayaknya nggak habis-habis. Jadi aku heran sekali, bagaimana bisa ada orang mampu menampilkan berderet-deret gelar, bahkan dari berbagai bidang pengetahuan. Apa bisa ?

Terus terang, dengan pengalamanku menggeluti satu bidang ilmu saja, dan aku merasakan waktu 24 jam yang ada tidak mencukupi, maka aku jadi merasa ragu. Apa bener dia itu bisa menguasai ilmu yang dimaksud, jangan-jangan hanya gelar itu saja tujuannya. Sekedar tampilan luar, tapi kosong dalamnya. Itu pula yang menyebabkan saya agak sinis memandang orang dengan gelar terlalu banyak, kayak orang diatas. Note : malas aku menulis namanya, nggak penting banget. :(

Tentang jual gelar atau ijazah. Aku hanya heran, koq masih ada-ada saja ya orang yang mau menipu secara vulgar seperti itu. Bahkan yang di Bekasi lagi, yaitu dengan diketemukan sekolah tinggi yang berani ngasih ijazah bahkan ketika orangnya baru ambil 8 sks saja. Kenapa aku bilang vulgar, karena nipunya keterlaluan sekali. Maklum, sekarang saja gelar atau ijazah asli sudah sangat “murah harganya”. Murah dalam arti, kalau ada duit pasti bisalah dapat gelar, apalagi gelar di level S2.

Saat ini bukanlah rahasia umum bahwa punya gelar dan IP yang tinggi, maka kinerjanya adalah belum tentu dapat diharapkan sama sebagaimana orang berharap pada 10 atau 20 tahun yang lalu. Memang sih, nggak semua. Tapi ya memang heran juga, sebagai contoh aku ini khan dosen full-time di UPH, dari Senin-Jumat, dari pagi sampai sore. Ngajar dan nggak ngajar pasti ada di kampus. Yah pokoknya begitulah. Sudah begitupun akreditasi jurusan di kampusku adalah B. Masih kalah dengan perguruan tinggi lain yang dapat A. Untuk itu sih aku bisa memaklumi, kalau soal materi yang aku ajarkan, aku sih masih percaya diri. Tetapi kalau soal fasilitas laboratorium maka aku sadar memang di level itu kampusku berhak menyandang akreditasi yang dimaksud. Yang nggak habis pikir adalah ternyata ada kampus lain, yang tempatnya di ruko, dan ramainya hanya sore hari, ternyata juga menyandang akreditasi yang sama. Mikir banget mode ON.

Ya sudahlah, itu mungkin rejekinya kampus itu. Tentang status kampus, bagaimanapun juga itu penting bagi kesinambungan kerjaku sebagai dosen. Gimana tidak, dengan jadi dosen maka aku punya waktu banyak untuk menulis. Itu khan hobbyku. Kerja tetapi tidak terasa kerja.

Kembali ke gelar. Aku pernah ditanya, mengapa buku-buku yang aku tulis, tidak pernah dipasang gelar yang aku miliki. Beliaunya bilang, itu gelar kalau dipasang maka bukunya akan banyak yang membeli. Ini orang memang seperti kebanyakan orang Indonesia, kemampuan orang memang dilihat dari gelar yang dimiliki. Nggak salah sih, tetapi aku nggak memandang seperti itu terlalu berlebih-lebih. Bahkan aku merasa dengan menampilkan banyak gelar, maka nama personalku jadi terganggu. Jadi yang lebih penting adalah nama personal yang dimaksud. Ini memang berisiko, tetapi kalau produk yang dihasilkan bagus, maka pelan tapi pasti tanpa gelarpun maka nama orang itu akan menjadi brand name. Jaminan mutu.

Jadi yang paling penting adalah bahwa dengan gelar yang banyak, maka hasil kerjanya akan semakin baik. Jika hasil kerjanya konsisten baik, maka nama pribadi orang itu sudah mencukupi untuk menjadi jaminan orang untuk mempercayai dan menghormati. Bukan gelarnya. Toh buku-buku yang aku tulis tanpa gelarpun banyak yang nyari. Geer mode ON.

Kamis 4 Juni 2015 – POLSRI Palembang

Nggak tahu kenapa, teman-teman dosen yang menggeluti ilmu struktur beton kesannya lebih pede presentasi kesana kemari akan ilmunya itu dibanding yang menggeluti ilmu struktur baja. Padahal pengalamanku tentang keduanya, ilmu struktur beton itu relatif mudah. Itu ilmu pertama yang aku kuasai ketika bekerja di PT. W&A Jakarta. Pada jaman tersebut, setahuku semua yang bekerja di kantor konsultan tersebut bisa menguasainya dengan baik. Kondisi berbeda dengan ilmu struktur baja, hanya beberapa saja mau (berani) menangani. Itu sebenarnya yang menimbulkan kegairahanku untuk menggelutinya, dan bertahun-tahun kemudian jadilah bukuku tentangnya. Ini tanggapan pembaca tentang buku yang aku maksud.

Bagaimana tidak, berbicara tentang ilmu struktur baja maka mau tidak mau akan ketemu dengan problem stabilitas, seperti tekuk lokal atau tekuk torsi lateral dan semacamnya.  Padahal fenomena seperti itu tidak bisa terdeteksi dengan mudah, bahkan dengan program SAP2000 sekalipun. Kalau memikirkan struktur baja, pasti mau tidak mau juga akan memikirkan apa itu yang namanya pertambatan lateral atau bracing, atau juga sistem sambungan. Antara model struktur yang dianalisi dan gambar akhir harus konsisten, bahkan dengan strategi erection-nya pula. Intinya, ilmu struktur baja itu relatif lebih kompleks.

Baca lebih lanjut

hanggar roboh, ada apa ?

Nggak tahu kenapa, yang namanya musibah adanya bangunan yang runtuh sebenarnya banyak terjadi di Indonesia. Meskipun demikian, apa yang menjadi penyebabnya jarang ada yang membahasnya. Jika musibah itu terjadi, biasanya dijadikan kasus tertutup, kalaupun ada yang dituntut maka yang dijadikan kambing hitam adalah adanya dugaan korupsi. Kesannya kalau korupsi maka mutunya pasti jatuh. Karena nggak bermutu maka wajar saja kalau runtuh.

Baca lebih lanjut