dagdigdug-nya menunggu UN


Masih adakah yang tidak tahu tentang UN, yaitu Ujian Nasional. Kadang-kadang orang mengenalnya sebagai UAN (Ujian Akhir Nasional), itu lho evaluasi berskala nasional yang dapat menentukan kelulusan siswa-siswi di tingkat SMP dan SMA atau SMK di seluruh Indonesia. Jadi meskipun sekolahnya menyatakan lulus tetapi tidak lolos UN maka si siswa tetap dinyatakan tidak lulus. :(

Jika ada orang yang tidak tahu, pasti deh orang tersebut kuper. Bayangkan di tingkat ranah politikpun, materi UN telah diangkat oleh para politisi bahkan oleh calon presiden tertentu sebagai upaya menarik massa. Mereka mengambil tema  UN karena pasti menganggap bahwa sebagian besar anggota masyarakat berkepentingan banyak dengan hal tersebut.

Si politisi itu betul, karena masyarakat pemilih kita pada umumnya adalah berusia produktif, yang mana anak-anaknya sebagian besar sedang sekolah di tingkat SMP atau SMA. Jadi dapat dipastikan banyak juga orang tua yang merasa dagdigdug dengan hasil UN anak-anaknya.

Dagdigdug yang kebablasan akan berkonotasi ke penyakit jantung, yang timbul karena adanya ketakutan dalam menghadapi UN. Faktor seperti inilah yang mungkin diendus oleh politisi untuk diangkat sebagai agenda kerjanya mendatang jika dipilih yaitu UN akan dihapus, jika beliau terpilih jadi presidennya nanti.

Ah masa pak, UN koq dikaitkan dengan Presiden ?

Whelah, ini serius. Ada koq calon Presiden yang takut tidak suka UN. Ini beritanya.

Betul pak, memang sih banyak anggota masyarakat yang berkepentingan dengan UN, tetapi itu tidak berarti bahwa masyarakatnya tidak suka UN, sehingga jika ada agenda “UN dihapus” maka belum tentu juga masyarakatnya akan memilih. Bisa-bisa itu khan kampanye yang kontra produktif. Betul nggak pak Wir ?

Wah kalimat yang kamu pakai terlalu panjang. Memang sih, banyak anggota masyarakat yang berkepentingan dengan UN. Bagaimanapun itu merupakan kunci menuju masa depan bagi anak-anak anggota keluarganya. Jadi UN harus dicermati dan ditanggapi dengan serius. Tidak bisa main-main dengan UN. Iya khan. Tetapi itu tidak berarti UN sesuatu yang menakutkan. Kalaupun ada berita-berita yang tidak baik, bukan berarti UN gagal. Karena ini berskala nasional maka prosentasi kegagalan yang terjadi perlu dilihat secara nasional pula, jangan dilihat jumlahnya. Juga sifat kegagalan yang terjadi, apakah dari pihak pemerintah pusat, daerahnya atau bahkan dari anak atau sekolahnya. Itu yang perlu dicermati. Kalau ada pernyataan UN dihapus itu khan berarti prosentasi kegagalan yang ada relatif besar, dan semuanya gagal. Benar khan ? Padahal khan tidak seperti itu.

Bapak bisa ngomong begitu, karena nggak ngrasain sih. Coba deh ada anak bapak yang lagi UN, pasti dagdigdug deh, dan pasti akan mendukung calon presiden tersebut. UN itu bikin ngeri lho pak, jangan teori doang pak, perlu pengalaman empiris. Coba kalau ngalamin, jantungan deh pak.  :(

O begitu ya dik. Yang jelas bagi yang hasil UN-nya jelek pasti tidak suka dengan UN, sedangkan yang hasil UN-nya baik pasti dia tidak antipati dengan UN. Jelas orang-orang yang mendapat UN baik pasti tidak berkepentingan dengan agenda MENGHAPUS UJIAN NASIONAL. Betul ?

Yah orang-orang yang sukses UN minimal akan netral terhadap agenda tersebut. Jadi pendukung pasti dari agenda hapus UN hanya berasal dari orang-orang yang anaknya atau saudaranya mendapat hasil UN yang kurang baik. Adakah ini sampai 50% dari anggota masyarakat yang mengikuti UN. Ini perlu dilihat, kalau hanya sedikit prosentasinya maka saya kira itu wajar. Wong namanya saja proses EVALUASI, pasti ada yang lolos dan ada yang tidak lolos. Bahkan kalau lolos semua maka UN tersebut patut dipertanyakan.

Tentang ngalamin sendiri UN, tentu saja tidak, wong saya sudah tua , yaitu diatas usia sekolah SMP dan SMA. :)

Tetapi merasakan dagdigdug-nya UN, maka jangan ditanya lagi. Saya nulis ini khan tidak sekedar karena saya dosen, tetapi merasakan sendiri sebagai orang tua yang menyiapkan anaknya yang tertua dalam menghadapi UN, yaitu di tingkat SMP.

UN memang bikin dagdigdug, oleh karena itu orang tua perlu meluangkan waktu untuk mendukung anak-anaknya untuk menghadapinya. Anak-anak harus dibesarkan hatinya, diberi kesempatan persiapan yang baik untuk menghadapinya dan bukan dengan memberi iming-iming yang menina-bobokan misalnya akan dihapuskannya UN jika memilih calon presiden tertentu. Karena saya ingin anak-anak saya dapat menjadi the winner dan bukan the looser, maka selalu saya motivasi mereka bahwa kita harus berani menghadapi masalah. Kalau mau maju kita harus tangguh. Orang jawa khan punya pameo ” Ngelmu iku kelakone nganti laku”. Jadi jangan takut, kalau kamu persiapkan dengan baik-baik maka UN itu bukan apa-apa. Ayo.

He, he, itu memang teori atau motivasi yang selalu aku hembuskan ke anakku. Meskipun demikian ketika kemarin UN tingkat SMP ditunda dari jam 9.00 pagi jadi ke jam 16.00 sore, bikin dagdigdug juga.

Jadi kemarin sore, Sabtu tanggal 20 Juni 2009, bersama istri menuju kesekolahan anakku di SMP Marsudirini Kemang, Bekasi, dengan maksud untuk melihat hasil UN. Jam 15.00 sudah berkumpul disana bersama orang tua murid. Ternyata disana sudah menunggu banyak orang, dan panitia sekolah sudah menyediakan tempat duduk. Banyak orang tua murid resah, karena ternyata pada jam segitu, hasil UN masih ditunggu kedatangannya dari Bandung. Seru juga. :)

Panitia sekolah tersebut ternyata pintar juga, mungkin pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya kalau menunggu itu khan bikin resah, maka mereka menyediakan seperangkat band yang dapat dimainkan oleh anak-anak murid untuk menghibur. Kreatif, betul-betul kreatif. Jadi menunggunya tidak bosan.

pengisi-acara_

Ini anak-anak sekolah SMP Marsudirini Kemang, Bekasi, teman anaku yang sedang bermain band. Bayangin, dalam suasana tegang menunggu berita UN dari Bandung yang sedang dijalan, maka mereka masih bisa dengan santai menyanyikan lagu dan musik menghibur orang-orang tua mereka yang sedang menunggu di sekolah tersebut.

Lho itu yang baru saja ikut UN pak ?

Betul. Itulah calon pemimpin masa depan, yang melaksanakan UN saja nggak punya rasa takut, tetapi mengapa yang tua-tua meributkan akan menghapus UN. Bingung aku.

Akhirnya UN yang ditunggu-tunggu oleh orang tua, murid, dan guru-guru SMP Marsudirini tiba juga. Untuk mencegah kesmrawutan maka para murid disuruh duduk dihalaman dalam sekolah. Ini suasananya tersebut.

menunggu

Suasana menunggu seperti ini seru juga. Ada sekitar 280 lebih murid-murid peserta UN yang menunggu hasilnya, orang tuanya disitu juga dagdigdug , takut nggak takut tapi dagdigdug juga. Ada banyak juga yang komat-kamit, mungkin berdoa begitu. Kalau saya, waktu itu sudah berserah saja. Gimana lagi, ujian sudah usai, tinggal menunggu hasilnya, jadi apapun hasilnya harus diterima apa adanya, harus disyukuri gitu lho.

pembagian_

Setelah duduk teratur, sesuai dengan urutan kelas maka berita kelulusan dalam bentuk surat tertutup dibagikan ke anak-anak. Lihatlah ekspresi mereka.

Setelah amplop tertutup dibagi merata, lalu dengan aba-aba suster dibukalah isinya untuk dibaca, lulus atau tidak.

kelulusan

Suasana gembira setelah mereka pada membuka amplop yang diberikan oleh para guru mereka.

Ternyata hasilnya luar biasa dari sejumlah murid tersebut hanya satu saja yang tidak lulus, bahkan rata-rata UN-nya adalah istimewa karena di atas 8 koma sekian. Luar biasa. Bahkan untuk UN Math-nya ada 32 orang murid yang nilainya sempurna alias 10. Ini anak-anaknya:

prestasi_

Jadi anak-anak yang berdiri diantara murid-murid yang sedang duduk itu adalah anak-anak yang math-nya dapat nilai 10 (sempurna). Profisiat ya. Ternyata hebat-hebat juga anak-anak Marsudirini Bekasi, meskipun sekolahnya di pinggiran kota tetapi dari hasil UN jadi ketahuan bahwa anak-anaknya luar biasa pula.

Jadi UN juga suatu sarana untuk menghilangkan status sekolah favorit di kota dan dengan yang bersekolah di desa. UN menjadi sarana pemerdekaan bagi kesamaan kompetensi. Jadi sekarang tidak perlu takut lagi disebut sekolah pinggiran, bisa-bisa prestasinya lebih baik dari yang di dalam kota. :)

Sekolah pinggiran mana takut. Lihat hasil UN-nya, gitu lho.

Eh, ternyata meskipun sekolah anakku di pinggiran (Bekasi) tetapi ternyata statusnya adalah :

spanduk

O pantas, akreditasinya saja A+

Note : Puji syukur kehadiran Tuhan, ternyata dari 32 anak yang berdiri pada foto di atas tersebut,  ada nama anakku yang disebut juga untuk berdiri. Luar biasa.  :)

About these ads

9 gagasan untuk “dagdigdug-nya menunggu UN

  1. Ping-balik: cari sekolah sma « The works of Wiryanto Dewobroto

  2. Ping-balik: MA Hapus Ujian Nasional « The works of Wiryanto Dewobroto

  3. Ping-balik: pendampingan anak « The works of Wiryanto Dewobroto

  4. Ping-balik: babak baru dalam kehidupan | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s