Tawuran, oh . . . tawuran !


Sering kita mendengar berita tentang tawuran. Minggu-minggu ini bahkan semakin intens beritanya. Maklum, korban telah berjatuhan, sampai ada yang meninggal pula.

Kalau membaca berita-berita di koran, semua pejabat atau pemimpin negeri ini kelihatannya telah banyak memberi komentar. Bapak JK, yang mantan wakil presidenpun berkesempatan meluangkan pikiran untuk memberikan komentar atau tanggapan, seperti misalnya bahwa tawuran disebabkan siswa yang tak lagi menghormati  gurunya. Berita yang lain disebutkan bahkan Mendikbud sendiri telah mendatangi pelaku tawuran yang tertangkap, yang didakwa membunuh. Menurut Mendikbud, pelakunya bahkan menyatakan puas telah berhasil membunuh. Ngeri juga. Anggota DPR kelihatannya juga telah memberi tanggapan, juga yang lain-lain, sampai ada wacana bahwa untuk mengatasinya maka para siswa akan diberi pelajaran tambahan yang berkaitan agama. Jadi kalau tahu ilmu agama maka diharapkan tawuran akan berkurang. Orang Indonesia memang banyak ide, begitu bukan.

Beres dong pak kalau begitu ?

Apanya yang beres, tawuran itu. Ho, .. ho, .. ho, .. kelihatannya tak semudah itu lho. Aku belum melihat suatu solusi yang jelas, tegas dan mantap untuk mengatasinya. Masih sekedar wacana, kalaupun ada solusi, kelihatannya tidak masuk pada pokok masalah.

Ah pak Wir, emangnya bapak ada ide ?

Ide, wah kalau ide saja saya bapak, nggak kalah lha dengan bapak-bapak pemimpin negeri ini. Tetapi apakah ide itu solusi tentu tidak gampang menjawabnya. Untuk scope kecil aku punya pengalaman, ini tidak sekedar ide tapi solusi langsung ke masalah. Maklum ini terkait dengan keputusan orang tua terhadap anaknya yang sekolah.

Maksud Bapak ?

Gini dik, sebagai orang tua yang punya anak sedang sekolah, maka memikirkan adanya tawuran sekolah adalah sesuatu yang sangat penting. Tahu sendiri khan, bahkan mereka yang jadi korban itu sebenarnya anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Bukan pelaku tawuran itu sendiri. Jadi korban karena mereka ada disana pada saat ada tawuran. Jadi korban salah sasaran. Jadi kalau punya anak belajar di sekolah yang sering tawuran, maka untuk jadi korban khan besar sekali resikonya.

Nah kebetulan, tiga tahun lebih yang lalu, anakku pernah pada kondisi seperti itu. Jadi murid di sekolah yang sering terlibat tawuran itu. Maklum dari Bekasi masuk Jakarta, kena penjatahan atau kuota masuk 5%. Jadilah masuk di SMA tersebut. Waktu itu issue sering terjadinya tawuran sudah terdengar, bahkan ada laporan dari anak sendiri bahwa tawuran itu memang terjadi. Berarti jika dari dulu sudah sering tawuran, maka ini bukan omong kosong.

Lalu bagaimana pak ?

Ya jelas dong. Karena ini menyangkut anak sendiri maka harus cari ide dan melakukan tindakan yang nyata, tidak sekedar ide lagi. Kebetulan sempat juga ikut rapat orang tua murid, kalau melihat rapat-rapat yang diselenggarakan aku sih terkesan dengan prinsip yang dipegang kepala sekolahnya. Bagus deh, cukup tegas. Bahkan waktu itu sudah ada wacana akan ada pelatihan bersama dua sekolah yang sering tawuran tersebut dengan meminta bantuan militer untuk pembinaannya. Argumentasinya waktu itu, jika  murid kedua sekolah itu berkesempatan untuk berkumpul bersama, saling mengenal maka tentunya tawuran dapat di atasi.

Cukup berhasil pak ?

Kalau pertanyaan itu khan jelas sudah terjawab bukan. Itu lho yang baru saja ada jatuh korban karena tawuran lagi. Berarti ide di atas nggak berhasil !

Anak Bapak masih sekolah di sana lagi ?

Nah ini yang aku akan ceritakan. Berdasarkan kekuatiran akan keselamatan anakku,  maka aku berupaya mencari solusi akibat terjadinya tawuran tersebut. Sebagai peneliti, langkah pertama yang aku lakukan adalah mempelajari bagaimana tawuran itu terjadi.

Tawuran umumnya terjadi pada sekolah-sekolah tertentu saja. Tentang ini, kalau mau jujur sebenarnya sudah dapat dipetakan. Solusinya seharusnya spesifik, pada sekolah-sekolah itu saja. Bagi para orang tua yang mau menyekolahkan anak, peta sekolah-sekolah yang rawan terjadinya tawuran harus diketahui. Lebih baik mencegah dari pada mengobati.

Lho kenapa bapak menyekolah anaknya di sekolah yang sering tawuran itu ?

Itulah, karena pada saat itu, saya tidak tahu. Maklum, informasi seperti itu rasanya tidak akan ditemui secara tertulis, maklum yang menulisnya mungkin takut jika dituntut dianggap pencemaran nama baik.  Kita ini khan bangsa yang mengenal pepatah “buruk rupa cermin dibelah”. Jadi kalau ngomong “buruk” (meskipun itu adalah kenyataan), bisa-bisa “dibelah”. Jadi carilah informasi seperti itu dari mulut ke mulut. Kadang-kadang, yang namanya issue, mengandung kebenaran juga lho.

Nah karena waktu itu anakku sudah masuk di sekolah seperti  itu, maka aku harus cari solusinya.  Berdasarkan informasi dari sekolah-sekolah yang sering tawuran, dan juga masukan anakku yang katanya terikut juga gank yang ada disekolahnya, maka aku mencoba mempelajarinya. Logikaku menyimpulkan, tawuran itu bisa menjadi budaya karena ada tiga unsur utama yang menyebabkannya, yaitu [1] lokasi sekolah, [2] level atau kelas murid-muridnya dan [3] unsur pimpinan atau guru-guru sekolah.

Aku bilang tiga hal, karena itu saling mempengaruhi. Bayangkan saja, ketika dilangsungkan rapat orang tua murid, dikatakan bahwa gank anak-anak dilarang keberadaannya di sekolah tersebut. Tetapi kenyataannya, menurut anakku hal itu tetap ada. Saya suruh untuk melapor, takut katanya. Keberadaan gank sekolah itu menurutku sangat berpengaruh terhadap intensitas tawuran, maklum gank itu dapat menjadi semacam pengikat untuk terjadi kesetia-kawanan antar murid. Semcam roh kebangsaan gitu lho. Jadi kalau ada satu murid yang mengalami masalah, maka dapat dengan cepat teman-teman yang tergabung akan membantu. Satu sisi baik, tetapi akibatnya ya begitu itu. Bisa menjadi tidak baik.

Dari ke tiga unsur penyebab tawuran itu, unsur yang paling susah diatasi adalah unsur ke 2, level atau kelas murid-muridnya. Karena alasan itu pula, maka langkah yang aku tempuh adalah mengubah kondisi anakku. Ini yang paling gampang, untuk itu aku minta pindah anakku. Tentang pindah ini tentu tidak segampang omongan yang aku sampaikan, ada pengorbanan baik dari sisi anakku maupun orang tuanya. Maklum, untuk pindah di sekolah favorit harus dapat lulus test (ini sisi anakku) dan biaya yang tidak sedikit (sisi orang tua). Yang jelas, keputusanku saat itu adalah benar, anakku dapat melewati masa-masa SMA secara mengesankan dan dapat melanjutkan ke perguruan tinggi.

Syukurlah pak Wir, tapi adakah masukkan untuk mengatasi tawuran tersebut menurut bapak ?

Aku ya, wah saya kira nggak gampang itu. Langkah pertama tentu dari unsur pimpinan, jadi seperti komentar dari bapak JK, beliau sangat pragmatis. Aku juga setuju hal itu. Jadikan dulu gurunya ditakuti. Tapi masalahnya, istilah guru ditakuti khan tidak baik. Para guru juga tidak mau disebut seperti itu. Tapi dari konteks tawuran saya kira benar. Takut disini bukan dalam arti kekerasan. Saya sangat yakin, jika pimpinan sekolah mampu menegakkan peraturan jika ada  ada sekolahnya yang tawuran kemudian di keluarkan, maka saya sangat yakin  tawuran akan reda dengan sendirinya. Masalahnya apakah sekolah sekarang berani melakukan hal itu. Maklum, murid-muridnya itu juga banyak anak pejabat. Nah para guru khan takut kalau kena intervensi.  Ini biasa dijadikan alasan sekolah negeri, sedangkan sekolah yang swasta merasa takut, jika muridnya dikeluarkan maka dari mana gajinya datang.

Saya kira ketakutan-ketakutan seperti itulah mengapa pak JK sampai berpendapat bahwa murid sekarang tidak takut sama gurunya lagi. Buah simalakama ya, jadi langkah yang paling mudah ya seperti yang saya lakukan, jika dunia luar tidak bisa diubah, ya sudah kita saja yang berubah. Beres. :)

About these ads

6 gagasan untuk “Tawuran, oh . . . tawuran !

  1. Pak Wir,
    saya alumni SMU 6 tahun 1997-2000. Ada beberapa hal yang mungkin jarang diungkap oleh media antara lain:

    1. budaya ‘tawuran’ itu tidak mutlak. Ada sekolah yang tadinya tidak pernah tawuran tapi kemudian menjadi sering tawuran. Kasusnya ada di Pondok Labu. Sebaliknya juga ada, ada sekolah yang tadinya sering tawuran tapi kemudian tidak pernah tawuran;

    2. bahkan mitos-mitos yang mempersubur tawuran, itu juga tidak mutlak bahkan ngaco. Misalnya, mitos budaya tawuran musuh bebuyutan 70 vs 6 yang beredar sekarang adalah sangat tidak benar. Saya sampai nanya ke kawan-kawan saya yang dulu tawuran, dan juga bertanya pada kawan-kawan alumni 70 dan semua juga bilang, tidak ada itu warisan atau tradisi 70 memusuhi SMU 6 dan sebaliknya 6 memusuhi SMU 70. Mitos2 itu baru ada akhir-akhir ini;

    Begitu juga dengan mitos wilayah teritori di mana anak SMU 6 dilarang menginjak wilayah kekuasaan 70 dan anak SMU 70 dilarang menginjak wilayah kekuasaan SMU 6 seperti yang diberitakan oleh media massa kemarin adalah tidak benar. Mitos itu pastilah masih baru karena lima tahun lalu pun belum ada.

    3. bahwa media massa berulangkali menyatakan ‘tradisi’ dan ‘budaya’ itu malah justru menyuburkan mitos-mitos yang salah. Pengelola SMU 6 sudah berkali-kali meminta agar menghilangkan kata ‘tradisi’ karena selain ‘tradisi’ atau ‘warisan’ itu sebenarnya tidak ada, penggunaan itu, bila dibaca oleh anak 70 dan anak 6 yang masih sekolah saat ini, yang tak tahu benar sejarah persahabatan 70 dan 6, malah akan menyangka bahwa mereka adalah sesungguhnya musuh bebuyutan.

    • @kunderemp:
      Saya kira yang anda sampaikan tidak salah. Juga adalah fakta bahwa pelakunya adalah segelintiran saja dari siswa sekolah itu. Itulah mengapa saya katakan perlu ketegasan. Tawuran –> dikeluarkan dari sekolah !

      Tentu saja hal itu ditinjau dari segi kebijakan pendidikan di sini, akan menimbulkan kontroversi. Koq tega banget, apa lalu fungsi pendidikan. Dianggapnya guru otomatis bisa mengubah seseorang menjadi baik.

      Maklum saya bisa berpendapat itu karena berargumentasi bahwa yang bisa merubah diri seseorang itu adalah orang itu sendiri. Adapun guru dan teman-teman lain disekitarnya hanya sekedar memberi nasehat atau pemicu untuk menimbulkan kesadaran diri untuk berubah.

      Jadi jika di tahap itu nggak bisa, maka faktor ketakutan untuk dikeluarkan dari sekolah itu yang dikedepankan. Jika itupun tidak takut, bagus lah. Itu berarti masuk ke ranah pidana, toh sudah bukan murid sekolah itu lagi. Hanya maklum saja, apakah polisi juga bisa tegas. Kalau kemudian, pelakunya kemudian dibebaskan karena merasa kasihan karena masih muda. Ya sudah, itulah yang terjadi sekarang ini.

  2. sebenarnya untuk mengubah sifat tidak baik itu,, adalah dengan mengubah karakter setiap orang nya..
    yaitu:
    “banggalah karena kita dihormati”‘
    jangan
    “bangga karena ditakuti”

  3. Ping-balik: my study | blitza85

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s