mengapa Struktur Kayu harus dihapus ?

Saya kemarin mengunggah draft Kurikulum Inti Minimum yang akan dijadikan acuan seluruh Jurusan Teknik Sipil di Indonesia, yang disusun BMPTTSSI. Tanggapan saya terbatas pada mata kuliah yang dikuasai, yaitu Struktur Beton, Struktur Baja dan Struktur Kayu.

Dari ke-3 mata kuliah tersebut masalahnya adalah

  • bobot SKS mata kuliah Struktur Beton (6 sks) lebih besar dari mata kuliah Struktur Baja (5 sks), mengapa berbeda. Apakah itu berarti materi kulah struktur beton lebih berat (banyak) dibandingkan Struktur Baja.
  • mata kuliah Struktur Kayu menjadi tidak wajib, artinya bisa dihilangkan .

Definisi kurikulum inti minimum, adalah mata kuliah wajib yang harus diberikan pada level S1. Oleh sebab itu adanya pertanyaan berikut :

Rahmi Karolina : Mohon maaf pak Wiryanto Dewobroto mata kuliah struktur kayu di kurikulum masih memungkinkan untuk masuk ke muatan lokal kan pak?

Mengacu pada definisi di atas, tentu saja pertanyaan itu dapat dijawab, bisa. Hanya saja itu tergantung dari kebijakan perguruan tinggi yang menyelenggarakannya. Kalaupun tidak ada, nggak masalah. Begitu kata banyak orang yang tergabung di BMPTTSSI.

Baca lebih lanjut

tanggapan – Kurikulum Inti Teknik Sipil 2015

Jokowi mencanangkan bahwa Indonesia perlu mencetak ribuan Insinyur untuk memperkuat kemandirian bangsa. Karena jelas, agar Indonesia itu sejahtera maka tidak hanya politikus saja yang dibutuhkan, tetapi juga pelaku-pelaku pembangunan itu sendiri, yaitu para insinyur. Keduanya harus seimbang, karena tanpa keputusan penting para politikus tersebut, mana ada jembatan Suramadu itu. Hanya memang, kalau sudah diputuskan, dan tidak ditindak-lanjuti oleh para insinyur maka jelas itu juga tidak akan mungkin terwujud.

Baca lebih lanjut

Penelitian dan Skripsi

Menulis dengan topik : peneliti atau penelitian, ternyata bisa menjadi bacaan yang menarik. Ini misalnya : https://wiryanto.wordpress.com/2016/03/19/peneliti-yang-dipenjara/ . Selama dua atau tiga setelah dipublikasikan, dengan dibantu jaringan di Facebook maka ternyata artikel tersebut menjadi bacaan populer selama beberapa hari. Dari catatan statistik yang diberikan WordPress, artikel tersebut dibaca lebih dari 1500 orang perhari, bahkan ada satu hari bisa diakses sampai sampai 2000 orang.

statistik

Apakah itu berarti, di Indonesia itu banyak penelitinya. Atau bisa juga terbalik logikanya, yaitu karena itu (peneliti) makluk langka maka banyak yang ingin tahu kabarnya.😀

Baca lebih lanjut

peneliti yang dipenjara

Judul yang memelas, dan jarang ditemukan. Ini aku tulis karena membaca berita-berita berikut :

Sebagai seorang yang kadangkala menyandang sebutan peneliti maka tentu gerah dan bertanya-tanya. Seperti apa sih yang ditelitinya, kog bisa-bisanya masuk penjara.

Bagi awampun, yang namanya masuk penjara tentu sesuatu yang tidak mau dirasakan. Padahal yang namanya peneliti, selama tidak mengotak-atik wilayah norma kepatutan atau SARA serta pencurian rahasia negara atau perusahaan maka tentunya ada kesan jauh dari risiko seperti itu. Beda memang dengan yang namanya pejabat publik, yang punya akses menentukan dan mengelola anggaran negara, maka tentu penjara adalah risiko bila dalam mengelolanya bisa diindikasikan sebagai tindak pidana korupsi.

Oleh sebab itu wajar jika hal itu kita bahas, minimal mendapatkan pemahaman apakah benar seorang peneliti itu riskan masuk penjara, dan bagaimana atau apa-apa yang harus dihindari agar terhindar dari risiko masuk penjara tersebut.

Baca lebih lanjut

mengajar di UGM

Tiga kata, UGM. Semua orang Indonesia yang pernah sekolah dengan baik tentunya akan tahu, apa arti judul di atas. Bagaimanapun juga, tanpa harus pasang baliho di jalan-jalan, maka jika dinyatakan bahwa UGM adalah satu dari lima perguruan tinggi T.O.P di Indonesia, tentunya tidak ada yang protes. Betul khan.

Oleh sebab itu, ketika aku mendapatkan undangan untuk datang mengajar adik-adik mahasiswa Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan UGM. Maka tentu saja situasinya seperti pucuk dicinta ulam tiba, apalagi bisa digunakan bersama-sama menengok keluarga di Yogyakarta.

Materinya apa pak Wir ?

Nah ini. Kalau aku perhatikan, biasanya yang diminta hadir untuk memberi kuliah tamu di kampus adalah para pejabat negara, atau pimpinan proyek. Jadi yang dipresentasikan tentu saja dokumentasi tentang apa, dan bagaimana proyek yang mereka kerjakan. Semakin besar dan terkenalnya proyek, maka semakin bagus. Sedangkan aku adalah jelas bukan pejabat negara, atau juga pejabat kampus, apalagi pimpinan proyek. Oleh sebab itu tentu saja tidak ada informasi tentang proyek yang dapat aku banggakan.

Lho jadi mengapa Bapak diundang ?

Itulah, aku yakin itu bukan karena aku seorang dosen, atau karena bergelar doktor teknik sipil. Bukan itu pastinya. Maklum, kalau hanya itu di UGM sendiri sangat banyak yang memenuhi kriteria bahkan lebih. Dengan demikian tentunya tidak perlu mengeluarkan anggaran untuk transportasinya.

Jadi atas alasan apa, aku diundang ke sana.

Setelah aku renungkan maka aku yakin sekali, mereka mengundangku karena salah satunya adalah blog ini, juga karena aku suka menulis buku-buku tentang teknik sipil. Jadi jelasnya adalah karena aku seorang dosen yang bergelar doktor dan juga seorang penulis. Itu alasan utama aku diundang memberi kuliah di sana. Betul khan.

Terus terang, karena sebutan penulislah aku mempunyai kepercayaan diri untuk memenuhi undangan ke kampus T.O.P tersebut. Karena kalau hanya status dosen atau doktor saja, wah mungkin bikin aku berkeringat dingin juga.

Koq bisa begitu pak ?

Baca lebih lanjut

muridku memberi kabar

Kebahagiaan seorang guru adalah apabila mendapat kabar dari muridnya yang sukses. Apalagi jika di dalam kabar tersebut, tersurat secara jelas bahwa saya adalah gurunya, atau lebih tepat lagi bahwa sang murid yang sukses menyatakan terima kasih atas petunjuk atau peran serta dari sang guru di masa lalu. Wah tersanjung banget itu.

Adapun ini saya tulis bukan maksud untuk menyombongkan bahwa saya guru yang hebat. Konsep seperti itu jelas, suatu promosi yang buruk. Saya nggak perlu itu, toh buku-buku yang saya tulis, semuanya habis ludes.  . . . .lho apa hubungannya ya.😀

Baca lebih lanjut