beli buku saya di Medan

Sudah ada sepuluh orang yang menyatakan bahwa buku karanganku yang berjudul “Struktur Baja – Perilaku, Analisis & Desain – AISC 2010” yang baru terbit bulan April kemarin, terlalu murah.

Tentang hal itu, tentu saja aku hanya bisa bersyukur bahwa pembaca bukuku ternyata bisa menghargai hasil kerjaku. Bagaimana tidak, dengan harga dasar sebelum ditambah ongkos kirim sebesar Rp 240 ribu tersebut mereka bisa menilai bahwa spesifikasi buku terbitan LUMINA Press jauh di atas spesifikasi buku dengan harga yang sama, yang dijual di toko-toko buku.

Itu bisa terjadi karena LUMINA Press memakai sistem penjualan on-line. Jika buku tersebut dijual di toko buku, tentu harga segitu tidak bisa diberikan. Tahu sendiri bahwa bagi hasil antara toko buku & penerbit adalah 70 : 30. Jadi untuk mendapatkan keuntungan seperti sekarang ini  maka buku tersebut kalau dijual di toko buku harus pasang harga sebesar Rp 560 ribu (itu belum termasuk ongkor kirim lho). Sangat mahal bukan. Padahal dengan harga segitu mahal tersebut pihak penerbitnya sendiri tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Itulah alasannya mengapa aku ngotot tetap pakai cara on-line saja melalui http://lumina-press.com.

Jadi dengan sistem on-line tersebut, buku dapat dijual dengan harga terjangkau dan dianggap relatif murah. Harapannya bahwa buku dapat tersebut ke seluruh Indonesia. Dengan demikian tujuan hidupku untuk disebut sebagai guru dapat menjangaku keseluruh penjuru tanah air. << He, he, sok ideal mode on >> Baca lebih lanjut

ASD dan LRFD, mana yang sebaiknya dipilih

Ternyata sampai hari inipun, masih ada yang memperdebatkan tentang ASD dan LRFD. Masih saja ada yang mempertanyakan, mengapa perlu mempelajari LRFD, karena faktanya ASD masih digunakan pada bagian lain di dunia ini. Jadi kalau begitu, apa yang sebaiknya dilakukan.

Threat ini tercetus menanggapi pertanyaan Juragan Awal di salah satu artikel saya, sebagai berikut :

juragan.sipil – 8 Mei 2015 pada 21:41 

Salam, Pak Wir…

Mungkin saya salah kamar nulis komen ini. Tapi mumpung lagi ingat, mending saya langsung cuap-cuap di sini saja pak. :D

Tentang DAM… saya masih “penasaran” arahnya ke depan bakal seperti apa penerapan metode DAM ini pak?

Soalnya begini. Waktu saya kuliah, saya belajar metode LRFD. Saya kemudian bekerja di konsultan perencana dan ngga menemui masalah yang besar dengan desain dan perencanaan struktur baja dengan metode LRFD.

Lima tahun berikutnya saya masuk ke sisi lain civil engineering, di perusahaan EPC, bagian Engineering Design,… di situ banyak struktur baja berat (non-building).

Dan desain/perencanaanya masih menggunakan ASD! Sampai sekarang. Saya awalnya heran, tapi perlahan-lahan mulai bisa menyesuaikan. Ternyata alasan mereka masih menggunakan ASD antara lain:

  1. Ilmu warisan. Desain struktur yang ada diusahakan mengikuti contoh-contoh perhitungan dan desain dari proyek-proyek sebelumnya. Dan.. kalo ditelusuri… ilmu warisan ini sudah berlangsung selama beberapa dekade. :D :D
  2. Nggak ada waktu buat belajar. Kalaupun para engineer-nya disuruh belajar, leader, pemeriksa, QA/QC, sampai ke client yang tugasnya memberikan approval-pun harus belajar. Masalahnya The Approvers ini kebanyakan diisi oleh orang yang sudah (maaf) berumur, dan mereka cenderung “malas” jika ada metode baru di luar metode yang sudah mereka kuasai secara turun temurun.
  3. Code/Standard LRFD yang mengakomodasi kebutuhan desain struktur baja untuk jenis bangunan di sana sangat minim. Kalaupun ada, ngga ada penjelasan atau pedoman lebih jauh, sehingga kesannya mengambang. Misalnya, di bidang onshore ada beban yang dinamakan Piping Load (dalam kondisi Erection, Test, dan Operating), Thermal Load, Anchor Load (angkur pipa), Friction Load (gesekan pipa dengan baja), dll, yang ngga lazim ditemukan di Code/Standard LRFD. Kalaupun ada spesifikasi yang memberikan pedoman, itu sifatnya khusus, dan tiap spesifikasi bisa beda antara satu klien dengan klien lain.

Akhirnya, mungkin karena ngga mau pusing, dipakailah metode ASD. Walaupun kalau ngga salah sejak AISC 2005, metode ASD  mulai “dipanggil” lagi ya pak.

Nah… DAM ini nasibnya di dunia EPC seperti apa kira-kira nanti ya?

Padahal ada satu info yang mungkin menarik…
Software yang populer di perusahaan EPC adalah StaadPro (saya ngga paham kenapa harus StaadPro) :D
Dan… sejak versi 2007, StaadPro sudah eksplisit mengakomodasi metode analisis langsung (Direct Analysis). Di pilihan Run-nya bisa kita pilih, salah satunya adalah Perform Direct Analysis. Pengaturannya juga ngga sederhana, seperti yang pak Wir katakan di buku Struktur Baja.

Setelah dapat pencerahan teori DAM dari Pak Wir, saya sepertinya mau ngulik-ngulik lagi Direct Analysis-nya StaadPro dengan berpedoman pada apa yang Pak Wir lakukan pada SAP2000 :)
Kemarin-kemarin belum paham soalnya, pak.. hehe.

Komen saya kayaknya kepanjangan ya pak. Lagi semangatnya coba DAM lagi, setelah sempat ragu dengan masa depannya. :D :D

Terima kasih, pak.
Sukses dan sehat selalu.

Jadi bagaimana kita bersikap tentang hal tersebut.

Baca lebih lanjut

stand buku LUMINA Press

Sepuluh tahun yang lalu ketika menerima tanggung jawab untuk mengajar mata kuliah Struktur Baja, banyak kesulitan yang dihadapi dalam mempersiapkan materinya. Maklum, buku struktur baja yang berbahasa Indonesia, relatif terbatas. Kalaupun ada buku textbook yang dapat digunakan sebagai rujukan maka unit satuannya masih kebanyakan memakai imperial (kips-inch). Ini tentu berbeda dengan mata kuliah struktur beton, yang bahan materinya sudah banyak diulas dan diterbitkan oleh ahli-ahli di Indonesia.

Untunglah, sebagai penganut konsep berpikir positif, dan menghindari kebiasaan suka mengeluh, maka itupun dihadapi. Langkah pertama waktu itu adalah berpikir positif saja. Seperti kita ketahui, mata kuliah struktur baja adalah mata kuliah yang tidak setiap dosen berani mengambil tanggung jawab untuk itu. Ini tentu berbeda dibandingkan mata kuliah matematik dan analisa struktur, yang dosen baru luluspun, jika berprestasi dapat langsung mengampunya. Begitu mudahnya, seperti menjumlah 1+1 = 2. Buku-buku pendukungnya juga relatif standar, sama antara satu buku dengan buku lainnya.

Struktur Baja seperti halnya Struktur Beton dan Struktur Kayu, disinilah aspek rekayasa lebih kental daripada aspek sains-nya. Dalam aspek rekayasa ada unsur seninya, dimana dalam hal ini pengalaman dari pengajarnya menjadi berpengaruh. Tentang hal ini, saya pernah ketemu dalam suatu seminar baja bertaraf internasional yang diselenggarakan di hotel Sari Pan Pasific Jakarta. Tentu saja semua pesertanya adalah ahli-ahli baja, atau orang-orang yang benar-benar tahu tentang struktur baja. Ketika berkenalan dengan orang yang duduk disampingku (waktu itu), dan kemudian tahu gelar dan pekerjaanku sebagai dosen baja, maka pertanyaan berikutnya yang diajukan adalah : “Bapak sudah pernah pegang proyek struktur baja, dimana ?“.

Itu tentu suatu pertanyaan yang menohok tentunya. Ketika tahu gelar akademisku, dan juga pekerjaanku sebagai dosen, ternyata itu tidak membuatnya yakin tentang ilmu struktur bajaku. Pikirnya pasti “ah ini orang teori saja“.

Itu menunjukkan bahwa mengajar struktur baja, yang materinya didapat hanya dari sekolahan saja, kesannya tidak afdol. Maklum yang namanya bidang rekayasa praktis, seperti struktur baja memang banyak hal yang jarang diceritakan pada buku-buku. Apalagi buku-buku berbahasa Indonesia, yang cenderung isinya adalah soal-penyelesaian. Itulah mengapa, ahli struktur baja cenderung disebut tukang baja, karena hanya bisa bekerja menghasilkan struktur baja tanpa bisa menyuarakan bagaimana keahliannya itu.

Berpikir positif yang aku maksud terkait adanya permasalahan-permasalahan di atas, adalah meyakinkan diriku bahwa aku ditunjuk jadi dosen di mata kuliah Struktur Baja adalah untuk mengatasi masalah tersebut. Tiadanya materi unggulan sebelumnya, memberiku kesempatan untuk menjadikan mata kuliah yang aku ampu akan bisa menjadi unggulan, khususnya di Jurusan Teknik Sipil UPH. Maklum, waktu itu dari semua dosen tetap di UPH, yang berani mengambil inisiatif untuk memegang mata kuliah itu, hanya aku saja. Maklum dosennya memang terbatas, ini tentu berbeda dari perguruan tinggi lain, yang dosennya mencapai puluhan.

Keterbatasan dosen yang menguasai struktur baja di UPH, ternyata memberikan hikmat. Pihak institusi percaya penuh pada setiap tindakan yang aku ambil. Maklum nggak ada lainnya. Jadi sebenarnya, tidak ada yang peduli dengan segala materi perkuliahan yang akan aku berikan, tentunya selama tidak ada complaint dari mahasiswa. He, he, itu enaknya bekerja sebagai dosen, apalagi kalau hanya sekedar untuk mencari sesuap nasi.

Tetapi seperti biasa, hati kecilku tidak mau menerima, ego-ku relatif tinggi. Mungkin bagi yang mengenal aku secara dekat, akan tahu. Meskipun aku terlihat relatif low-profile, tetapi pada satu sisi egoku relatif tinggi, suka-suka sendiri (kata lain daripada malu jika dianggap sebagai mengekor saja). Itu pula sebenarnya yang mengantarku untuk menulis buku. Aku ingat sekali, buku pertamaku adalah Visual Basic. Itu aku tulis karena mata kuliah yang aku pegang, yaitu Bahasa Pemrograman, aku isi dengan bahasa pemrograman tersebut. Nah pada suatu event pertemuan dosen, ketua jurusan pada waktu itu (lebih dari sepuluh tahun yang lalu) pernah melontarkan keraguan dengan pemakaian bahasa tersebut. “Bukankah bahasa pemrograman untuk teknik sipil adalah Fortran dan bukan Basic“. Itu mungkin pertanyaan biasa, tetapi karena aku dosen pengajarnya dan disampaikan di floor, maka itu seperti tamparan keras bagiku. Agak emosi rasanya pada waktu itu, padahal waktu itu aku masih junior, ketika menjelaskannya. Untungnya dosen senior UPH, Dr.-Ing Harianto (belum Prof waktu itu) menenangkannya. Kejadian itu membuatku “panas”, dan karena ingin selalu berpikir positif, maka “panas” itu aku jadikan enerji untuk menulis buku. Ini bukunya. Ketika buku itu jadi, efeknya luar biasa, sejak itu tidak ada lagi yang mempertanyakan atau meragukan akan apa yang aku sampaikan. Itulah sebabnya aku selalu menulis. :D

Saat ini semua materi kuliah yang aku ajarkan di UPH telah ada bukunya. Ini semua adalah untuk menuruti egoku, yaitu “suka-suka sendiri”. Meskipun kesannya bebas, tetapi aku bertanggung jawab, yaitu mempublikasikan materi yang aku ajarkan dalam bentuk buku agar dapat diketahui publik bahwa kebebasan yang aku maksud itu aku perlukan agar keterbatasan yang ada dapat diselesaikan.

Jika semula buku-buku yang aku tulis hanya sekedar pertanggung-jawaban publik akan kebebasan yang aku pilih, tetapi dalam perjalanan waktu semakin terlihat bahwa apresiasi masyarakat terhadap peranku sebagai penulis ternyata lebih meriah daripada sebagai dosen. Bisa-bisa aku menyebut diri sebagai penulis yang numpang hidup sebagai dosen. :)

Kepercayaan orang terhadap tulisanku kelihatannya semakin meningkat. Pada bukuku yang terbaru, yaitu “Struktur Baja – Perilaku, Analisis & Desain – AISC 2010“, bahkan orang-orang mau membayar jauh hari sebelum buku itu diterbitkan. Hebatnya lagi, banyak perusahaan yang mau menanamkan modalnya sebagai sponsor untuk membiayai pencetakan buku tersebut. Jika tanpa kepercayaan orang terhadap karyaku, maka itu semua tidak akan terjadi. Coba perhatikan :

slip-JNE

Gambar 1. Slip pengiriman JNE untuk buku pra-order

Lihat begitu banyak bukti slip pengiriman buku praorder yang diterima. Itu juga menjadi bukti nyata, kepercayaan dari pembaca akan kualitas materi yang aku tuliskan. Kalaupun ada yang  tidak sempurna dari buku terbitanku, biasanya datang dari pihak percetakan, seperti saat ini yaitu telah dijumpai beberapa halaman kosong pada bukuku. Tetapi jika itu terjadi, silahkan saja laporkan pada LUMINA, nanti akan diganti.

Baca lebih lanjut

sistem on-line semakin mewabah, juga di dunia pendidikan

Dunia internet ini memang luar biasa. Bagaimana tidak, internet memberikan perubahan besar dalam cara berkomunikasi dan transaksi, dimana-mana. Meskipun demikian saya juga yakin, dalam bertransaksi memakai media internet (on-line) maka kesuksesannya tergantung dari tingkat kepercayaan yang dapat diberikan.

Yup betul, kata kuncinya adalah kepercayaan. Tentang hal itu, boleh juga aku bercerita bahwa sampai hari inipun, transaksi on-line yang pernah aku lakukan hanya beberapa saja. Kalau nggak salah baru dua saja, yaitu membeli buku-buku di situs Amazon.com dan CRCPress.com. Itupun hanya buku-buku yang menurutku dipabean atau di bea cukai tidak mesti disukai oleh setiap orang. Jadi di luar kondisi itu aku belum merasa aman atau percaya untuk melakukannya. :D

Bagaimana suatu kepercayaan dibentuk, ada baiknya baca ceritaku berikut.

Baca lebih lanjut

respons pembaca buku Struktur Baja

Menulis itu gampang, setiap orang yang mengaku diri sarjana pasti malu jika dianggap tidak bisa menulis. Apalagi yang punya gelar lebih, pastilah lebih biasa untuk menulis. Jika banyak menulis, dan kemudian dikumpulkan tentu bisa dirangkum menjadi buku. Tapi pada kenyataannya mungkin tidak sesederhana itu. Maklum, bisa membuat buku masih saja bisa membuat orang berdecak. Wah . . . . Profesor apalagi, . . .

Jaman sekarang, apalagi dengan adanya sertifikasi dosen, dimana dosen dan profesor diberi tunjangan dari pemerintah. Salah satu tolok ukur kinerjanya adalah produk tulis. Bahkan seorang profesor adalah wajib hukumnya untuk setiap tiga tahun sekali harus membuat buku. Kalau tidak, maka bisa-bisa tunjangannya akan dicabut. Nah profesor di Indonesia khan sudah banyak. Adanya kebijakan tersebut tentu akan dihasilkan banyak buku. Jadi dengan asumsi di atas, dan fakta adanya tunjangan untuk produktifitas profesor, maka buku-buku ilmu pengetahuan tentu semakin banyak. Jadi kalau akupun juga membuat buku, lalu apanya yang menarik. Maklum, tidak ada bedanya dengan profesor-profesor yang memang kewajibannya itu. Baca lebih lanjut

usul untuk buku berikutnya

Buku Struktur Baja belum selesai didistribusikan keseluruh pembaca. Mohon sabar ya teman-teman, maklum pihak LUMINA dengan konsep pra-order ini agak kewalahan menanganinya. Pertama adalah karena bukunya hardcover yang lebih berat dibanding buku sebelumnya.  Kedua, konsep pra-order ternyata diminati banyak orang, sampai hari ini saya intip sudah lebih dari 300 pemesan. Itu kira-kira 25% dari total jumlah buku yang dicetak. Bayangkan saja, jika kedua hal tersebut terjadi bersamaan, yaitu berat dan jumlahnya banyak, maka dapat dimaklumi jika pihak LUMINA-nya dapat kehabisan tenaga. :D

Perlu istirahat . . . . . itu juga berarti pengiriman bukunya istirahat juga. :(

Baca lebih lanjut

buku STRUKTUR BAJA-nya telah jadi !

Hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu, maklum ada info dari kemarin bahwa buku Struktur Baja – Perilaku, Analisis & Desain – AISC 2010 akan dikirimkan dari percetakan. Akhirnya, siang ini LUMINA Press.mengirim foto mengenai buku yang aku maksud. Pimpinannya aku telpon : bagaimana kualitas buku yang dicetak. Beliau menyatakan bahwa untuk jacket cover yang berwarna biru dengan hotprint pada judulnya, cukup memuaskan. Ini fotonya : IMG-20150418-WA0010

Ini fotonya mungkin kurang bagus, tetapi kata direktur LUMINA Press : sangat mantap. Bahkan sempat terlontar kalimat : Wah itu harga bukunya terlalu murah pak Wir. Itu lho yang Rp 240 ribu. Apalagi yang telah berhasil membeli dengan cara pra-oder, yang hanya Rp 200 ribu ditambah ongkos kirim. Murah banget itu. Kalau moto copi, jelas nggak dapet buku semewah itu.

Jika jacket buku yang bewarna biru tersebut dibuka. maka akan terlihat sampul hardcover linen dengan tulisan yang lebih sederhana. Nah disini, Pak Direktur LUMINA Press agak kecewa melihat cetakan judul di sampul linen tersebut. Maklum, sampul linennya khan seperti kulit jeruk, jadi hasil cetakannya juga terkesan totol-totol. Mungkin memang cetak di linen seperti itu.

Ini sampul buku linen yang aku maksud, yaitu jika jacket cover dicopot. IMG-20150418-WA0011

Kecuali dari cetak yang agak totol-totol, tidak ada yang kurang, begitu reportase dari direktur LUMINA Press. Yah ini pengalaman pertama memakai sampul buku linen.

Yang penting namaku tercetak dengan benar. Jadi meskipun sedikit totol-totol, tetapi tentunya sangat jarang ada nama dosen teknik sipil yang dapat tercetak seperti itu. Bagaimanapun juga itu menurutku cukup istimewa, dan meskipun pada buku tersebut tidak ada gelar pada nama penulis yang ditampilkan, tetapi yakin sekali buku tersebut akan tetap laku.

Jika halaman pertama buku tersebut dibuka maka terlihatlah portofolio pemberi sponsor utama, yaitu PT. Gistama Intisemesta yang cukup elegant, disampul belakang buku yang hardcover tersebut. IMG-20150418-WA0006

Karena ada sponsor itulah maka buku-bukuku dapat tercetak pada kondisi yang terbaik yang bisa diakses di negeri ini. Mutu bukuku tidak hanya pada isi tetapi juga tampilan fisik. Seperti kecap maka semuanya harus No.1.

Pengiriman pertama dari buku-buku tersebut adalah kepada para pra-order, yang telah percaya dan sabar menunggu sampai buku tersebut selesai dicetak. Hampir dua bulan kesabaran menunggunya. Jumlah pra-order yang telah masuk ada sekitar 300 exp. Banyak juga ya. O ya ada masukan dari LUMINA Press bahwa harga pra-order masih sesuai janji di website-nya yaitu sampai tanggal 20 April ini. Jadi bagi yang belum sempat pra-order silahkan langsung ke http://lumina-press.com mumpung masih ada discount. Yakin deh, kalaupun anda foto copy sendiri, maka mutunya jelas nggak akan ngejar. Murah sekali harga segitu. Ini kata direktur LUMINA Press lho. Yang jelas kita tetap komitmen memegang harga yang telah dinyatakan jauh hari sebelumnya, untuk harga standar adalah Rp 240 ribu. Bagi para dosen stuktur baja, inilah buku struktur baja yang paling siap dengan kedatangan SNI baja yang terbaru. Unit satuannya sudah SI (Satuan International). Format penulisan sudah mengikuti isi AISC 2010 yang merupakan rujukan utama dari SNI baja kita.  Baca lebih lanjut